[IFK Movie Request] Flawless

flawless

Requested by snqxoals808

Casts Kim Wooshin [UP10TION], Bambam [GOT7], Kim Mony [Yeni’s OC] Genre Fantasy, family Rating PG-13 Duration Oneshot

© 2016 namtaegenic

:::::

Ia sekarang jadi kakak yang paling keren sedunia!”

:::::

Kriteria kakak yang sempurna menurut Kim Mony (dan ia yakin itulah yang seluruh gadis di muka bumi inginkan seandainya mereka punya kakak laki-laki) adalah:

  • Mau menemani adiknya berbelanja atau ke mana pun ia mau.
  • Memasak dan membuatkan sesuatu untuk Mony.
  • Menyisihkan uang sakunya untuk Mony.
  • Mengusir semua orang yang mengganggu adiknya (kalau bisa membalas perbuatan mereka).
  • Mengutamakan Mony sebelum teman-teman dan kekasihnya (kalau ia punya).
  • Tidak memberikan Mony julukan seperti Jorok, Jelek, dan sebagainya.

Dan dari semua kriteria di atas, tidak ada satu pun yang Wooshin penuhi—Mony bertanya-tanya. Wooshin pasti akan:

  • Melontarkan seribu satu alasan kenapa ia tidak bisa menemani Mony berbelanja, lalu pura-pura kena diare sehingga tidak bisa melewatkan lima menit tanpa harus mondar-mandir ke toilet—atau penyakit-penyakit lainnya tiap kali Mony minta antarkan ke suatu tempat (oh tolonglah, kalau Mony bisa dan diizinkan mengemudi, tak perlulah ia repot-repot meminta Wooshin).
  • Merespons dengan, “masak, masak, memangnya Kak Wooshin ibu-ibu. Sudah sana, kau saja yang bikinkan Kak Wooshin sesuatu. Jangan lama ya, soalnya sebentar lagi Kak Wooshin mau pergi.”
  • Terang-terangan bilang ‘tidak’ soal uang. Meskipun Mony bilang ia hanya ingin meminjam, dan nyatanya Mony selalu mengembalikan utang, ditambah cokelat almond sebagai bunganya, biarpun Wooshin tidak meminta—ia tetap bilang tidak.
  • Mengatai Mony cengeng, diganggu begitu saja langsung mengadu, dan mengusir adiknya itu dari kamarnya dengan alasan tidak penting seperti, “aduh, kau sih, berisik. Kakak jadi harus putar ulang lagunya.”
  • Buddies before sister. Forever. Mony tidak akan bisa mengambil waktunya sedikit pun jika Wooshin sudah main dengan teman-teman sekolahnya di Markas sampai malam.
  • Memanggil Mony dengan ‘Eh, Jorok!’

Kalau sudah begitu, Mony hanya bisa menelan bulat-bulat rasa jengkel tanpa perlu mendapat saran tambahan dari orang tua mereka bahwa Wooshin sedang berada pada usia di mana ia lebih percaya teman-teman ketimbang keluarga sendiri. Berpikir untuk membalas dendam, Mony kerap kali mengayuh sepeda ke rumah Bambam, teman sekolahnya yang tinggal tak jauh dari blok rumahnya. Ia banyak melakukan hal di sana—mengerjakan PR, menonton DVD sebuah serial secara maraton sampai sore, atau sekedar mengajak Bambam mengelilingi kompleks demi membunuh kebosanan. Bambam—di lain pihak—mengidam-idamkan seorang kakak laki-laki seperti Wooshin. Pemuda itu pernah menyapanya sekali atau dua ketika Bambam mampir ke rumah Mony, tapi untuk mengobrol dengan Wooshin, Bambam harus berusaha mencari topik yang cerdas, bandel, dan—kalau kata Mony, cowok banget. Bambam sudah berusaha memenuhi spasi kosong di kepalanya dengan pengetahuan soal olahraga, otomotif, teknologi, game, dan lain-lain.

Sementara Mony berpendapat bahwa Bambam tidak berkarakter karena mendambakan kakak yang tidak berkarakter seperti Wooshin.

Bambam menyodorkan sekotak cokelat kacang almond pada Mony. Itu cokelat seminggu sekalinya Bambam, dan Mony hafal betul bilamana Bambam mendapat cokelat itu. Entah ia membelinya, entah dibelikan—karena Bambam tidak terlalu suka mengeluarkan uang.

“Menurutku Kak Wooshin baik,” Bambam berkomentar sembari membuka bungkus timah, kemudian memasukkan cokelatnya ke dalam mulut. Mony menggeleng, menyatakan ketidaksetujuan. “Kau lebih baik, dia mana pernah memberiku cokelat mewah seperti ini.”

Bambam baru akan menjawab lagi, ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lantas Mony bangkit dan membersihkan remah cokelat dari jumpsuit-nya. “Aku pulang dulu. Terima kasih cokelatnya ya, Bamy. Ketemu lagi nanti.” Mony melambaikan tangan dan melangkah keluar rumah Bambam.

:::::

Gedoran keras menghantam-hantam pintu kamar Wooshin. Mony sudah tidak sabar lagi. Kalau detik ini ia tidak mendapatkan jawaban mengenai hal ini, ia akan benar-benar meledak. Pintu dibuka dan kepala Wooshin muncul dari baliknya, masih mengantuk.

“Eh, Jorok! Kau nggak punya sopan san—“

“SIAPA YANG MENEMPELKAN BEKAS PERMEN KARET DI DUDUKAN SEPEDAKU?!”

Wooshin bengong sejenak, mengumpulkan kesadarannya sejak terbangun dari mimpi, lantas ia terkekeh, membuat Mony benar-benar naik pitam. Ia nyaris menjungkalkan Wooshin ketika mendorong pintu kamar kakaknya itu dengan kasar. Lantas, dikendalikan oleh emosi yang merajalela, Mony menunjuk-nunjuk wajah Wooshin.

“KUHARAP KAK WOOSHIN TIDAK PERNAH JADI KAKAKKU!!! SELAMANYA!!!”

Tidak ada yang bersuara. Hanya semilir angin ganjil yang tiba-tiba menggoyangkan ujung tirai kamar Wooshin. Wajah Mony masih merah padam. Tapi Wooshin tiba-tiba menaiki tempat tidurnya, dan membuka birai jendela. Ia menoleh sebentar pada Mony dengan air muka yang tidak terbaca, lantas Wooshin keluar ke taman belakang melewati jendela tersebut.

“BAGUS!!! KABUR SAJA SANA! KABUR!!!”

:::::

Mony mengira, Wooshin bermalam di rumah temannya. Pemuda itu baru pulang pagi-pagi sekali, mengenakan baju yang sama sekali berbeda dari ketika ia kabur dari kamarnya, dan menyapa Mony dengan ramah—yang disambut dengan dengusan Kau-Belum-Kumaafkan dari Mony.

Lantas, tanpa disangka-sangka, Wooshin menepuk kepala Mony dan berjongkok hingga tingginya sejajar dengan bangku yang diduduki Mony.

“Kenapa cemberut?” tanyanya.

“Aku akan terus cemberut kalau Kak Wooshin belum membersihkan bekas permen karet di sepedaku!”

Wooshin tertawa merdu sekali, rasa-rasanya Mony belum pernah mendengar tawa Wooshin serenyah itu.

“Kak Wooshin punya ide yang lebih baik. Bagaimana kalau sepulang sekolah nanti, Mony ikut Kak Wooshin cari sepeda baru? Yang paling baru, yang paling bermerek, yang paling mutakhir.”

Mony tercengang sampai lupa bagaimana cara mengunyah roti dengan benar. Ia menatap Wooshin tak percaya. Namun yang didapatinya hanyalah seulas senyuman yang menempel manis di sana. Wooshin belum pernah seperti ini, dan Mony tidak bisa lebih terkejut lagi ketika Wooshin bangkit dan kembali menepuk puncak kepalanya.

“Nanti Kak Wooshin jemput pakai mobil Ayah. Kita cari sepeda, lalu belanja—Mony mau baju baru? Sepatu lari baru?—lalu kita makan. Apa saja yang Mony mau, Kak Wooshin yang traktir.

Apakah Mony kemarin tertabrak mobil ketika main dengan Bambam lantas ia sekarang berada di surga? Eh, tapi tidak mungkin ia mati bersama Wooshin. Jadi ini pasti mimpi indah yang menjadi nyata. Dan Mony tersenyum sumringah.

Wooshin melangkah menjauh ke arah kamarnya, lalu beberapa saat kemudian ia berputar dan tersenyum ramah. “Sampai jumpa pulang sekolah nanti, Mony-Bee!”

MONY-BEE!!!

:::::

Sore itu Mony tak hentinya tersenyum. Ayah dan ibu sampai menanyakan sebabnya, dan yang dapat gadis itu lontarkan sebagai jawaban hanyalah seringai lebar. Hari ini Kak Wooshin-nya seperti ibu peri. Ia membelikan Mony sepeda baru, baju baru, sepatu lari yang baru, boneka (BONEKA!!!) dan mereka makan apa pun yang Mony tunjuk. Rasanya seperti menang hadiah utama sebuah kuis lantas ia mendapatkan kakak impiannya.

Mimpi indah itu tetap berlanjut keesokan harinya, ketika pagi-pagi sebelum sekolah, Mony mendapati Wooshin sedang berada di sebelah ibu mereka, pemuda itu mengenakan apron biru bertuliskan Kakak Terbaik dan ia melambaikan tangan berbalut sarung tangan wol pada Mony.

“Sarapan sebentar lagi siap, Mony-Candy (MONY-CANDY!!!), ketemu di meja makan lima menit lagi!” Wooshin melemparkan senyuman ramahnya yang menggelitik. Mony langsung bergerak mempersiapkan semuanya sebelum pergi sekolah, demi menyisakan lebih banyak waktu untuk menikmati masa-masa dengan kakaknya itu. Mony-Candy sudah duduk manis di meja sekitar empat setengah menit kemudian.

Setumpuk panekuk dengan secangkir besar madu tuang siap di atas meja, lengkap dengan susu cokelat favorit Mony. Kedua mata gadis itu nyaris berlinang saking senangnya. Wooshin menghidangkan dua tumpuk panekuk dan menuangkan madu. Ia menyodorkan sendok dan garpu yang tampaknya sudah dipoles. “Selamat menikmati, Mony-Candy!”

Mony sarapan dengan rakus. Panekuk buatan Kak Wooshin tiada tara lezatnya. Mony meneguk habis susu cokelat di gelasnya dan mengelap mulutnya yang berlepotan madu dan susu. Dengan sigap Wooshin mengambil tisu dan membersihkan tangan dan sekitar bibir adiknya. Ia tersenyum manis.

“Nah, Kakak antar sekolah?”

“Apakah Bambam boleh ikut?”

Wooshin tampak berpikir sejenak, lantas mengangguk. Ia melepaskan apronnya, dan Mony melonjak-lonjak menelepon rumah Bambam agar pemuda itu bersiap-siap karena kakak Mony yang superbaik akan segera mengantar mereka ke sekolah.

“Kak Wooshin yakin tidak akan terlambat ke sekolah?” tanya Bambam ketika ia sudah duduk manis di jok belakang. Wooshin berada di sekolah yang berbeda dengan keduanya, ia lebih memilih menimba ilmu di sekolah kejuruan.

“Benar juga, Kak Wooshin bisa terlambat, lho!” Mony mengingatkan. Menepuk puncak kepala Mony, Wooshin tersenyum. “Tenang saja, Kak Wooshin tidak pernah terlambat!”

Mobil melaju tenang dan mengantar Mony dan Bambam dengan aman sampai ke sekolah mereka. Mony melambaikan tangan, lantas berbinar-binar menatap Bambam.

“Apa?” tanya Bambam menautkan alis.

“Bagaimana pendapatmu mengenai Kak Wooshin yang sekarang? Ternyata kemarahanku waktu itu padanya sangat berbekas, eh? Ia sekarang jadi kakak yang paling keren sedunia!”

Bambam membiarkan Mony terus berkoar membangga-banggakan kakaknya, sementara pemuda itu sendiri terdiam, mengingat selintas kejadian beberapa menit yang lalu di mobil ketika ia menanyakan apakah Wooshin tidak akan terlambat ke sekolahnya.

Kak Wooshin-nya Mony yang superbaik itu—

“Bambam, menunggu apa sih?”

—dengan tajam memelototinya lewat spion depan.

:::::

“Ini uang saku untuk Mony. Sengaja Kak Wooshin sisihkan dari uang bulanan dari Ibu. Dipakai, ya!”

Mony memandangi lembaran uang yang kini berpindah ke tangannya itu dengan takjub. Itu uang jajan Wooshin. Ia mendapatkan beberapa persen dari uang jajan Wooshin dan Mony hampir-hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Lantas ia memandang kakaknya yang masih tersenyum.

“Serius, nih?”

Wooshin mengangguk dan mengusak rambut Mony yang diekor kuda. “Selalu.”

“Asyik! Aku mau traktir Bambam macaroon di toko kue seberang sekolah!” lalu, tanpa meminta persetujuan Wooshin lagi, Mony berjingkrak-jingkrak menghampiri Bambam yang sedang mengobrol dengan salah seorang teman sekelas mereka. Anak itu langsung memberikan ruang untuk Mony dan Bambam—dan mengayuh sepedanya.

“Dari mana uang sebanyak itu?” tanya Bambam ketika Mony mengibas-ngibaskan pemberian Wooshin di depan hidung Bambam.

“Dari kakakku yang superbaik, dong! Ayo, Bambam! Kutraktir makan macaroon di sana! Ayo! Nanti pulang dengan kami lagi! Kak Wooshin jemput pakai mobil lagi, lho!”

Bambam memberikan Mony tarikan miring dari bibirnya. “Serius deh, kakakmu nggak pernah sekolah, ya? Waktunya luang sekali sampai-sampai bisa mengayomimu sepanjang hari.”

Dahi Mony mengernyit, tidak suka dengan respons Bambam terhadap kebaikan hati kakaknya. Gadis itu bersedekap dan mendengus.

“Benar nih, tidak mau macaroon?”

Bambam membuang muka.

“Oh, ya sudah. Jatahmu untuk kakakku saja!”

“Ya sudah!” balas Bambam.

“YA SUDAH!” Mony berseru kesal. Ia berbalik arah dan menghentak-hentakkan kakinya ke arah mobil, dan tampak berbicara dengan Wooshin sambil meledak-ledak. Wooshin tertawa, mengusak kembali kepala adiknya. Lantas, pandangannya kembali bersirobok dengan Bambam. Dari kejauhan, Bambam bisa melihat ekspresinya.

Wooshin tidak lagi memelototinya.

Wooshin tersenyum.

Penuh kemenangan.

:::::

 

“Dia bukan kakakku?” Mony mengulangi pernyataan Bambam dalam bentuk pertanyaan. Gadis itu menemui Bambam di teras rumahnya dengan mengenakan jumpsuit denim favoritnya. Bambam memaksa ingin bertemu pada hari Minggu itu, berdalih hendak meminta maaf, dan berakhir dengan mengambil risiko dimusuhi Mony seumur hidup ketika ia menyatakan pendapatnya. Kebetulan saat itu, Wooshin sedang ke perpustakaan umum.

“Dia aneh. Kak Wooshin-mu, aneh. Dia tidak suka padaku.”

Mony tertawa sarkastis.

“Kalau orang tidak suka padamu, lantas kaubilang aneh? Jadi kalau aku tidak suka padamu juga, kau mau bilang aku aneh? Dasar aneh!”

“Aku yakin kau nggak ngerti, Mony. Aku bukan orang yang gampang memercayai sesuatu yang tidak masuk akal dan beraroma mistis. Tapi aku percaya pada instingku. Kakakmu yang asli mungkin berada di suatu tempat, dan digantikan oleh yang lain.”

Mony memandang Bambam dengan tatapan paling meremehkan yang bisa ia lakukan seraya bersedekap. Seumur hidupnya, belum pernah ia merasa dikhianati seperti ini oleh tetangga sekaligus sahabatnya sendiri. Wooshin sudah berbaik hati memberikan tumpangan padanya, tapi tampaknya semua yang berada di luar kebiasaan, adalah aneh bagi Bambam. Beberapa orang memang tidak pernah tahu caranya berterima kasih.

“Bambam,” ujar Mony setelah tarikan napas kesekian. “Kuharap ini terakhir kalinya kita membicarakan soal Kak Wooshin dan prasangka tololmu yang tidak beralasan itu. Karena kalau aku sampai mendengar hal ini lagi darimu, aku tidak yakin kita bisa … kau tahu … berteman lagi.”

Bambam mengangkat wajah dan menatap Mony nanar. Ia tidak percaya bahwa setelah bertahun-tahun makan cokelat dari kotak yang sama, Mony sanggup mengatakan hal itu padanya berdasarkan alasan sentimental yang mengabaikan akal sehat.

“Oke! Karena kita sudah bermusuhan sekarang, kukatakan sekali lagi; dia bukan kakakmu!”

Darah yang menggelegak di dalam tubuhnya menggerakkan tangan Mony untuk mendorong Bambam hingga jatuh. Memblok gerakan Bambam, gadis itu mencengkeram kerah baju sahabatnya itu. Mony mencengkeram dan menjambak rambut Bambam. Sementara Bambam berusaha melepaskannya tanpa bermaksud untuk membalas gadis itu. Adegan itu berlangsung hingga setengah menit, ketika tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram kedua bahu Mony dan menjauhkan gadis itu dari perkelahian.

“Ka-Kak Wooshin!” Mony membeliak. Namun Wooshin tidak sedang memandangnya. Ia memandang Bambam. Lalu dengan satu kali detak jantung, kepalan tinju Wooshin sukses menghajar Bambam tepat di sisi kiri wajahnya. Bambam tersungkur mencium rumput, meringkuk dan mengerang memegangi sudut bibirnya yang mengucurkan darah segar. Tempat di mana tulang pipinya bermuara kini berwarna merah kebiruan. Mony menyaksikan semuanya dengan mata membelalak. Jantungnya berdegup kencang. Ia beberapa kali lihat Bambam berkelahi. Tapi tidak pernah melihat Bambam dengan mudah ditumbangkan seperti ini.

“Bam—“

“Kau tidak apa-apa?” suara Wooshin memotong ucapan Mony sekaligus menghalangi langkah gadis itu untuk menghampiri Bambam. Mony menggeleng ketika tatapan mereka bertemu. Wooshin memicing sejenak, lantas tersenyum, tampak lega. Alisnya tidak bertaut lagi. Berada di bawah sorot mata Wooshin yang demikian, Mony tidak sanggup melakukan apa pun. Ia hanya balas menatap, lidahnya kelu. Wooshin membingkaikan kedua tangannya ke wajah Mony.

“Mony, maafkan Kak Wooshin, ya. Kakak cuma takut kau terluka. Mony paham, kan?”

Mony mengangguk tolol. Wajah kesakitan Bambam samar-samar membayanginya. Pemuda itu langsung pergi ketika ia berhasil bangkit—meninggalkan dua kakak beradik itu.

“Ayo!” Wooshin mengulurkan tangannya dan Mony menyambutnya. “Kak Wooshin akan bawa Mony ke suatu tempat. Tempat yang keren. Yang sempurna. Mony pasti suka.”

Tentu, Mony pasti suka. Sejak awal ia selalu menyukai perbaharuan yang dibawa Wooshin padanya. Jadi apa pun yang terjadi, Mony tidak akan bisa menolak pemberian Wooshin.

Bagaimanapun, tidak ada yang bisa membodohi Mony hingga seratus persen. Begitu pintu mobil ditutup, Mony menatap ke luar jendela. Lantas diliriknya Wooshin diam-diam.

Usai menghajar Bambam tadi, Wooshin sempat memicing padanya. Cuma sebentar, sepersekian detik, mungkin, sebelum kemudian ia tersenyum ramah dan penuh kekhawatiran. Ketika itu, Mony menemukan sesuatu yang lain di sorot mata Wooshin. Sesuatu yang ganjil. Aneh, kuat, dan tidak ingin mendapatkan perlawanan.

Sesuatu yang memerintah.

Dan untuk sepersekian detik tadi, Mony tiba-tiba yakin bahwa—

“Sabuk pengamannya jangan lupa, Mony-Candy!”

—bahwa Bambam mungkin benar.

:::::

Mony tidak ingat kapan pertama kali deru mobil ini menakutinya. Kendaraan itu membawa mereka sejauh mungkin dari rumah, begitu cepatnya, sehingga Mony lupa bagaimana caranya bernapas. Wooshin mengemudi dengan tenang, memelesat, dan pasti. Sorot matanya dingin. Dielakkannya kendaraan-kendaraan yang dianggapnya menghalangi mereka. Di pertigaan, Wooshin membanting stir ke arah kiri, Mony menggigit lidah terlalu keras saking ketakutannya.

Mereka tiba di jalan yang lengang dan sepi. Terlalu lengang, hingga terkesan ganjil. Beberapa toko tutup di siang hari, dan tidak ada pepohonan. Mony belum pernah berada di tempat ini, dan ia berharap tidak akan pernah.

“Nah, Mony,” ujar Wooshin, tersenyum lebar. “Mengertilah bahwa terkadang kita terlalu baik untuk berada di suatu tempat.”

Mony baru saja hendak menanyakan maksud dari ucapan kakaknya itu, ketika tiba-tiba sebuah lingkaran perak terbentuk sempurna di hadapan mereka, tak jauh dari mulut mobil. Mony terkesima. Lingkaran itu berkilauan diterpa cahaya entah dari mana, dan sesuatu seperti kabut berputar lamban di permukaannya. Wooshin keluar, dan memberi isyarat agar Mony mengikutinya. Membanting pintu mobil, Mony mengekor.

“Tapi Kak Wooshin selalu punya tempat untuk kita berdua.” Wooshin meraih tangan Mony yang berkeringat. Gadis itu lantas terkesiap. Tangan kakaknya tak lagi hangat. Tangan itu kini seperti susunan tulang dan sendi berbalut keramik—dingin dan membekukan.

Dan menakutkan.

“Mo-Mony—Mony rasa kita tidak perlu ….”

“Oh ya, kita perlu.” Telunjuk Wooshin melayang ke arah lingkaran tersebut. Di sana, terdapat pantulan adegan-adegan di mana Mony kerap adu mulut dengan Wooshin, bertengkar, saling melempar barang, saling mengunci musuhnya di kamar mandi, dan sebagainya. Lantas di dalam sana, Mony menangis. Di sisi lain, Wooshin dimarahi oleh ibu.

“Lihat? Betapa kau tidak akan menginginkan hal-hal tersebut terjadi lagi?”

Lingkaran tersebut masih memutarkan dokumenter. Di sana, Mony sedang mengadakan pesta ulangtahun. Semua teman-temannya diundang. Mereka bersenang-senang, sampai Wooshin datang, mencolek krim kue ulangtahun Mony banyak-banyak, dan menaruhnya di pipi gadis itu. Waktu itu, Mony berteriak dan pergi dengan langkah menghentak-hentak.

Pemutaran beralih pada adegan terakhir, di mana Mony memarahi Wooshin yang sudah menempel bekas permen karet ke dudukan sepedanya. Terdengar jelas suara Mony ketika ia marah besar, dan meneriakkan kata-kata itu—bahwa ia tidak ingin punya kakak seperti Wooshin.

“Mony tidak akan berbahagia memilikinya.”

Mony menoleh ke arah Wooshin. Tunggu dulu, memilikinya? Memiliki siapa?

Pandangan Mony kembali ke lingkaran. Film tadi sudah selesai. Berganti dengan pantulan yang lebih nyata. Mony terkesiap. Di sana ada Wooshin. Tidak hanya satu. Tapi tiga.

“Mony lebih bahagia dengan kami, ya, kan?”

Kami?” Mony membeo. Wooshin di sebelahnya terkekeh. Lantas telapak tangannya melambai ke arah Wooshin pertama, yang mengenakan jaket denim.

“Perkenalkan, itu Wooshin si Kaya-Raya. Ia yang membelikan Mony sepeda dan baju baru.”

Mony menelan ludah. Wooshin di sebelahnya melanjutkan.

“Yang berbaju putih itu, Wooshin si Koki. Mony suka sekali dengan panekuk madu buatannya. Yang ketiga, adalah Wooshin si Baik Hati. Siapa yang mengantar jemput Mony dan menyisihkan uang sakunya untuk Mony? Dialah Wooshin-nya! Hore!”

Ketiga Wooshin di dalam lingkaran memberikan hormat secara pongah. Lantas Mony menahan napas. Genggaman Wooshin makin erat alih-allih mengendur. Perlahan, Mony menoleh, mencari mata siapa pun yang ada di sebelahnya saat ini. Satu-satunya Wooshin yang belum memperkenalkan diri.

Bertemu pandang, tanpa dijelaskan pun Mony sudah tahu. Sorot mata yang dingin itu. Senyuman ganjil itu.

Lantas Mony teringat daftar kakak idaman miliknya. Oh, Mony benar-benar naif. Bagaimana mungkin ia tidak menyadari semua kebetulan yang terjadi. Bagaimana para Wooshin ini benar-benar memenuhi kriteria kakak terbaik versinya sendiri.

“Dan aku adalah—“ Wooshin terakhir menaikkan alis. “Wooshin si Penjaga.”

Mony tidak tahu apa yang tiba-tiba merasukinya sehingga punya kekuatan untuk menyentakkan tangannya dari genggaman Wooshin si Penjaga. Gadis itu menatap Wooshin dengan bengis.

“Maksudmu, Wooshin si Tukang Pukul!” ia memekik, membuat Wooshin si Penjaga tertawa keras dan mengangguk setuju. “Yah, sebutan itu juga boleh.”

“MANA KAKAKKU!!!” Mony menerjang Wooshin si Penjaga, tanpa perlawanan balik. Bergeser sedikit dari tempatnya berdiri Wooshin si Penjaga menghela napas. “Sudah dapat kakak yang sempurna, masih saja mencari yang asli. Bukankah itu namanya serakah, Mony-Candy?”

“Kembalikan kakakku! KEMBALIKAN!!!”

“Harap diingat siapa yang menginginkan kakakmu untuk enyah. Siapa? Hm?” Wooshin si Penjaga terbahak membahana. “Kau, Sayangku.”

Lalu, tanpa membiarkan Mony bertingkah lebih jauh lagi, Wooshin si Penjaga menarik tangannya dengan kuat hingga Mony tidak sanggup memberontak lagi. “Kita harus lekas pergi meninggalkan kota ini. Portal Saudara tidak bisa menunggu lama.”

“Tidak secepat itu!”

Baik Mony maupun Wooshin si Penjaga menoleh ke belakang. Di sana, Bambam sudah berdiri dengan gagah berani. Wajahnya masih lebam-lebam, memang. Tapi hanya dirinyalah yang kehadirannya membuat Mony menarik napas lega untuk yang pertama kalinya sejak melihat Portal itu.

“Lepaskan gadis itu.”

Wooshin menyipitkan mata. “Aku seharusnya menyudahimu sejak tadi. Ayo, Mony!”

Wooshin menyeret Mony, bergegas masuk ke dalam portal. Mony merasakan sebuah terpaan seperti angin ganjil yang terkombinasi dengan panas yang menyengat kulitnya. Pandangannya membiru, lantas diserang cahaya berlebihan. Perutnya bergolak, seakan ia baru saja melakukan roll depan seratus kali di atas matras.

Yang Mony ingat hanyalah sosok Bambam yang mengejar mereka dan meraih kaki kirinya.

:::::

Mony yakin ia sedang bermimpi. Di mimpinya itu, Wooshin mengajaknya masuk menembus sebuah portal berwarna biru bernama Portal Saudara. Di dalam portal, mereka bertemu dengan tiga Wooshin lainnya, masing-masing memiliki nama—Wooshin si Kaya-raya, Wooshin si Koki, dan Wooshin si Baik Hati. Wooshin di samping Mony mengaku sebagai Wooshin si Penjaga, meskipun ia sudah memukul sahabat baik Mony sendiri.

Di mimpi itu juga ada Bambam, lengkap dengan luka lebam di tulang pipi dan sudut bibirnya. Ia ikut masuk dengan mencengkeram kaki Mony.

Di dalam mimpi buruk, semuanya terasa runyam dan kau tidak akan punya kesempatan berbuat sesuatu, kecuali kau terbangun dari tidurmu.

Tapi ini bukan mimpi—bahkan bukan mimpi buruk. Ini nyata, dan Mony tidak bisa melakukan apa pun untuk lari dari sini. Ia dan Bambam terjebak di portal antah-berantah.

Wooshin si Kaya-Raya membungkuk dan tersenyum ramah pada Mony. “Ada apa dengan wajah cemberut itu, Mony-Bee? Sepedanya enak? Oh lihat! Kau pakai baju yang Kak Wooshin belikan, senangnya!” ucapannya membuat Mony memandang bajunya sendiri. Oh ya, betapa bodoh dirinya. Kakaknya yang asli mana mau melakukan ini.

Wooshin si Koki membuka mulut untuk bicara. “Nanti Kak Wooshin buatkan panekuk spesial untuk Mony. Atau Mony mau makan steak?”

“Setelahnya, kita akan pergi naik bianglala. Di sini ada pasar malam yang tidak pernah tutup!” Wooshin si baik hati tersenyum hangat—yang jika Mony perhatikan lagi, senyuman hangat mereka hanyalah bentuk mutasi ganjil dari seringai menyeramkan. Semua Wooshin di sini menyeramkan.

“Kak Wooshin yang asli bisa karate. Aku sudah memberitahunya mengenai ini. Setibanya ia di sini, kalian semua akan lenyap!”

Wooshin si Penjaga terbahak-bahak, seakan Bambam baru saja melontarkan lawakan segar yang sangat menggelitik. “Bisa kalian jelaskan pada setan kecil ini? Aku tidak bisa bicara banyak sambil tertawa.”

“Bambam yang baik,” Wooshin si Baik Hati memandang Bambam dengan ekspresi mengasihani. “Tepat setelah kalian masuk ke sini, kami telah menyihir portal ini ke dalam mode selektif. Hanya saudara sempurna seperti kamilah yang bisa masuk ke sini.”

Lutut Mony gemetar. Ia memandang Bambam, tapi pemuda itu sedang memandang portal. Mengekori pandangan Bambam, Mony menangkap deretan tombol bergambar angka di sisi kanan bingkai portal, seperti angka-angka di elevator. Tidak ada keterangan pada angka tersebut. Tapi Bambam tahu, satu angka pun akan sangat berarti.

Lantas ia menggenggam tangan Mony. Jemarinya mencoba meraih angka-angka tersebut.

“Kuperingatkan kau—“

“PEGANGAN YANG ERAT, MONY!”

Klik. Klasssshhh!

Mony dan Bambam terseret arus berwarna biru, terguncang ke segala arah, dan terjatuh dengan sukses di rerumputan. Mony berkedip beberapa kali untuk menghilangkan rasa pusing yang menyerang, sementara di sisinya, Bambam sudah berdiri. Mereka memindai tempat di mana mereka jatuh itu. Berbeda dari yang tadi, tempat ini lebih hijau. Mereka sedang berada di bukit, dan di bawah mereka ada sungai yang mengalir tenang. Langit juga lebih cerah.

“Baru saja mau diperingatkan, kalian sudah main pergi.”

Mony dan Bambam lekas menoleh ke arah sumber suara. Di sana ada Wooshin—entahlah, seperti itu Wooshin si Baik Hati, karena ia tersenyum lembut sekaligus meresahkan. Ia bersedekap. “Lihat perbukitan yang tenteram ini? Ini daerah kekuasaanku. Hore!” ia bertepuk tangan.

“SIAPA KAU SEBENARNYA?!” Mony tidak tahan lagi. Jika tidak ingat mereka sedang berada di dalam masalah besar, ia pasti sudah menyambar Wooshin si Baik Hati dan menjungkalkannya.

Wooshin si Baik Hati memasang wajah cemberut dan sedih. “Mony kok bicaranya seperti itu ….” Lantas ia menghela napas, dan mengangkat alisnya.

“Baiklah kalau begitu, biar kuterangkan. Kami sebenarnya adalah …” ia memberikan jeda, lantas tersenyum riang. “Peri baik hati yang akan menggantikan kakakmu yang menyebalkan itu! Hore!”

Mony muak dengan senyuman palsu yang senantiasa tersungging di wajah Wooshin si Baik Hati.

“Jadi, Mony mesti menurut dengan Kakak. Karena kalau tidak ….” wajah Wooshin si Baik Hati tiba-tiba menggelap, dan ia terlihat lebih menyeramkan dari pada Wooshin si Penjaga. “Mony juga mesti dienyahkan karena tidak tahu terima kasih.”

“Di sini rupanya kalian! Ah berengsek sekali kau Bambam, dunia macam apa ini? Kenapa si Jorok itu pakai baju bagus?”

Hening diisi dengan Mony dan Bambam yang perlahan memutar pandangan mereka ke arah sumber suara. Jantung Mony mencelus, kali ini terkejut sekaligus lega. Bambam membelalak dan tampak ingin berteriak.

“KAK WOOSHIN!!!” mereka berteriak bersamaan, lantas berlari tunggang langgang menghampiri Wooshin yang asli yang sedang berkacak pinggang dan mengatur napas karena kelelahan. “Jangan peluk-peluk! JANGAN. PELUK. PELUK. Kau dengar nggak, sih, Mony? Kau itu bau—lho, kau kok wangi? Kau mandi, ya?”

Tanpa memedulikan segala umpatan dan ejekan Wooshin, Mony memeluk pinggang kakaknya itu erat-erat dan menangis sekencang-kencangnya.

Jika kalian pikir Wooshin si Baik Hati akan menyerah, kalian salah besar. Seiring dengan semakin menggelap aura baik hatinya, Wooshin si Baik hati lantas menghimpun seluruh kemarahannya yang terakumulasi menjadi sebuah kekuatan aneh. Bukit itu tak lagi hijau, tapi berwarna kecoklatan dan keruh, lama-kelamaan berubah menjadi lumpur isap. Kaki-kaki mereka terperosok ke dalamnya, dan mereka menjerit-jerit.

Sebuah pusaran tak dikenal lantas menggulingkan dan melontarkan mereka ke tempat lain. Wooshin, Mony, dan Bambam terjatuh menghantam rerumputan hutan. Akar-akar tebal menyambut mereka dan siap memberikan luka dan lebam di sekujur tubuh. Ketiganya mengerang, sebelum menyadari bahwa mereka tak lagi di perbukitan.

“Seharusnya bisa kuhajar Wooshin palsu sialan tadi, seandainya kalian tidak mempraktekkan drama keluarga di sana!” Wooshin mengumpat. Tertatih akibat benturan pada akar pohon tadi, Wooshin berdiri. Pandangannya berkelana. Hutan ini memiliki pepohonan yang tinggi dan menyeramkan.

“Wooshin si Baik Hati terkadang memang sedikit kasar,” ujar salah satu Wooshin lain yang tiba-tiba sudah muncul di hadapan mereka. Bambam dan Mony langsung memasang posisi siaga akan serangan lain, sementara Wooshin malah bersedekap.

“Jadi kalian ada empat? Dan semuanya punya selera pakaian yang sama?” tanyanya. “Jika ingin memalsukan diriku, bisakah setidaknya kalian memperbaiki selera pakaian kalian? Sweater itu, ya Tuhan, buruk sekali. Sebagai seseorang yang dirinya dibajak, aku sangat malu.”

Pidato singkat Wooshin yang tidak relevan namun sangat berbahaya itu jelas membuat keempat Wooshin tersebut saling pandang dengan napas memburu dan alis bertaut tidak senang.

“Tapi untuk skala tiruan yang buruk, kalian cukup tampan.”

“DIAM KAU, KEPARAT!!!” Sebuah kekuatan tak kasatmata melemparkan Wooshin jauh ke belakang, hingga pemuda itu menghantam sebuah pohon besar. Wooshin ambruk, dan menggeliat kesakitan di tanah. Mony menjerit dan hendak berlari menghampiri kakaknya, ketika kekuatan asing tersebut malah menariknya ke arah keempat Wooshin palsu. Mony meronta-ronta. Di hadapannya, Bambam sudah berada dalam sihir apa pun yang membuatnya membeku.

Wooshin si Penjaga mencengkeram bahu Mony hingga gadis itu mengerang kesakitan. “Semua ini tidak akan terjadi jika kau bisa jadi adik yang manis, Mony.”

“Ikutlah dengan kami. Kau menginginkan kakak yang sempurna, bukan?”

Air mata Mony mengucur deras, sedih sekaligus kesakitan oleh cengkeraman di bahunya. Tidak ada lagi hal yang bisa dimintanya mengenai hal ini kecuali adalah agar kakaknya kembali. Ia tidak menginginkan sepeda dan baju baru, ia tidak ingin uang, ia tidak keberatan jalan kaki ke sekolah, ia rela dikatai jorok setiap menit, asalkan semua itu bisa membuat kakaknya kembali.

“Baiklah, baik,” di antara sedu-sedannya, Mony mengangguk-angguk. “Bawa saja aku, tapi lepaskan kakakku dan Bambam. Akulah yang bersalah. Aku tidak menyadari bahwa selama ini aku sudah punya kakak yang sempurna. Aku membuang kakak sempurnaku begitu saja.”

Entah apakah mata Mony dikaburkan oleh bulir air, ataukah ada sesuatu yang membuat para Wooshin itu tampak sedikit—entahlah—kurang jelas. Mereka mendadak seperti hologram yang sedang mencari sinyal agar eksistensi mereka menjadi sedikit lebih jelas.

“Tidak,” kata Wooshin si Penjaga.

“Oh, tidak,” timpal Wooshin si Baik Hati. Dan beberapa kata tidak yang bersahut-sahutan lantas memenuhi hutan itu, makin lama makin kencang, seiring dengan semakin mengaburnya hologram mereka.

Tiba-tiba saja sebuah kubah cahaya berwarna biru menaungi keseluruhan hutan. Kubah tersebut bergetar, makin lama makin kuat, hingga terasa seperti gempa yang dialiri arus listrik ringan. Di hadapan mereka, portal itu muncul. Sinar di dalam portal tidak lagi berwarna biru, tapi berkedip-kedip samar antar putih dan hitam. Sejumlah gambar terpampang di sana bagaikan putaran lembar dokumenter hitam putih. Gambar-gambar itu membuat Mony, Bambam, dan Wooshin tercengang penuh kengerian.

Gempa di bawah kubah cahaya biru semakin kuat. Portal tersebut mulai mengeluarkan asap biru. Yang mungkin akan mereka ingat ketika siuman adalah, portal beserta seisi hutan—

“MONY!!!”

—meledak.

:::::

Ketiganya terbangun tepat di halaman rumah Mony dalam keadaan tidak baik-baik saja. Wooshin, Bambam, dan Mony menderita luka-luka di lutut, telapak tangan, siku, bahkan wajah. Sementara itu, sekujur tubuh mereka berdenyar-denyar oleh rasa ngilu. Ketiganya membiarkan diri mereka berguling sejenak di rumput halaman rumah Mony yang terasa seratus kali lebih nyaman ketimbang di dimensi di balik portal tadi, mengatur napas, dan berusaha bangkit.

“Mony, kau tidak apa-apa?” Wooshin buru-buru mengecek keadaan adiknya. Pemeriksaan tersebut tidak selesai, karena Mony langsung menyambar dan memeluk kakaknya dengan erat. Ia menangis, keras, lantang, dan sejadi-jadinya. Memilih untuk tidak besar mulut, Wooshin mengelus puncak kepala Mony hingga ke ikatan ekor kudanya yang berantakan. Ia menepuk-nepuk bahu adiknya itu dengan penuh syukur. Suatu kelembutan dan kehangatan luar biasa yang Mony yakin belum pernah diberikan oleh keempat Wooshin di balik portal tadi.

Bambam tersenyum, ikut bahagia. Lantas Wooshin melepaskan Mony.

“Bagaimana bisa dimensi itu meledak dan menghilang?” tanyanya, baik kepada Mony maupun Bambam. Keduanya mengangkat bahu, tapi Bambam berspekulasi bahwa dimensi manipulasi itu hanya bisa dimusnahkan oleh atmosfer lain. Atmosfer persaudaraan yang sesungguhnya. Dan Mony melakukannya dengan baik ketika gadis itu mengakui kesalahannya.

Wooshin mengangguk-angguk. Mereka membiarkan hening menyergap, merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sebelum portal meledak tadi, mereka melihat kilasan-kilasan film dokumenter di layar portal yang berkedip-kedip. Di sana ada seorang anak laki-laki yang melempar seorang gadis dengan buku, dan marah-marah padanya. Gadis yang tampak beberapa tahun lebih tua itu lantas pergi. Pada adegan berikutnya, anak laki-laki itu didatangi oleh seorang gadis serupa, yang baik hati, dan membuat anak laki-laki itu tertawa setiap saat.

Slide berikutnya, seorang wanita tua tampak sedang berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah wanita yang sangat mirip dengannya—kembar. Lantas, saudara kembarnya pergi. Adegan berikutnya, si wanita sudah tergantung di jaring yang dipasang di pohon. Di bawahnya—sementara ia menangis minta dilepaskan—terdapat empat orang wanita yang wajahnya serupa dengannya.

Mony, Wooshin, dan Bambam, disuguhi adegan-adegan lain yang tampaknya bertema sama—perpecahan antarsaudara. Siapa keempat makhluk itu, tidak ada yang tahu. Tapi kini mereka mengerti kenapa portal tersebut dinamakan Portal Saudara.

Masih bergidik membayangkan nasib orang-orang yang terperangkap di dalam persaudaraan palsu di dalam portal itu, Wooshin berujar. “Tanpa bermaksud menyanjung diriku sendiri, dari mana kau bisa mengatakan hal-hal tadi pada keempat diriku yang palsu? Kau tahu, kalimat aku tidak menyadari bahwa selama ini aku sudah punya kakak yang sempurna. Aku membuang kakak sempurnaku begitu saja.

Mony tersenyum.

“Salah satu Wooshin Tiruan tadi mengatakan bahwa tepat setelah kami masuk portal, benda itu sudah disihir agar menjadi selektif.” Mony berdeham. “Hanya saudara sempurna saja yang bisa menembusnya.”

“Ah, begitu.” Wooshin tersenyum lembut.

“Lagi pula, aku tidak menginginkan Kak Wooshin yang lainnya. Aku sudah punya satu Kak Wooshin.”

Wooshin ber-haha-hehe salah tingkah, lantas menggaruk tengkuknya. Kini giliran Bambam yang angkat bicara. “Jadi, kapan Kak Wooshin akan mengakui semuanya?”

Wooshin langsung memandang Bambam dengan waspada. Sahabat adiknya itu jelas sedang terbawa suasana dan mulut Bambam berbahaya sekali jika sedang demikian. Semuanya akan terbongkar.

“Tahu tidak, tahu tidak,” Bambam memulai, mengabaikan pelototan Wooshin. “Coklat Eclairs yang selama ini kita makan berdua itu, yang kaukira milikku, itu sebenarnya diberikan Kak Wooshin untukmu, Mon.”

“Bambam, mulutmu!” Wooshin bergerak hendak menekap mulut Bambam, tapi pemuda itu dengan gesit menghindar dan melanjutkan pembongkaran rahasia besar-besaran ini.

“Kak Wooshin memberikannya padaku lantas berpesan, bahwa aku harus membagi cokelat ini denganmu, tapi tidak boleh banyak-banyak. Ia takut kau sakit gigi dan jadi gendut. Soalnya kau tidak suka jadi gendut, dan teman-teman akan mengejekmu.”

“Oh, Bambam, kau memang payah!” Wooshin mendesis dengan wajah merona. Sementara Mony tampak menyimak.

Dan sementara Bambam berceloteh soal betapa selama ini Wooshin melakukan apa pun untuk adiknya secara bergerilya, Mony hanya menanggapinya dengan tawa, menertawakan kakaknya yang mengomel dan merutuki Bambam yang tidak bisa diajak bekerjasama. Mereka tidak juga beranjak dari rerumputan sore itu. Biar saja kebahagiaan mereka mengucapkan sampai jumpa lagi pada matahari sore yang akan pulang ke peraduannya lebih dulu. Ketiganya ingin berada di sini lebih lama lagi, membicarakan kejadian menyeramkan tadi, hingga mereka dapat melupakannya.

FIN.

Namtaenote:

Kelar jugaaa! Yeni, maaf kalo OC-nya atau tokoh-tokohnya jadi out of chara dari ekspektasinya Yeni. Terima kasih sudah rikues! ^^

 

9 thoughts on “[IFK Movie Request] Flawless”

  1. Yaampun ini padahal puanjang buanget tapi gak kerasa saking asik alurnya huhu 🙊 Haduh ini kok keren sekali sih kaeci. Aku bacanya ngga mau berenti sebelum bener bener end, habisnya bikin penasaran polll. Bahkan biasanya aku gak suka fantasy, tapi iniiiiiiiiii 🙈😿 keren lah pokoknya!
    Keep writing, kaeci!^^
    ((Btw ini hyeon yang barusan ganti pen-name))

    Suka

  2. DEMI APA DEMI APA DEMIA APA???? INI SUPERDUPERKEREN KAAAAAAKK!!! AND FYI…… masa aku sampe nangis??!! (nangis pas puasa batal gak???) 😱

    Parah banget ini fic nya udah kece luar biasa! Mony-bee….. mony-candy…. sukses bikin aku ngakak 😂 aku nunggu fantasy nya dan WAH! bener2 ga terduga fantasy nya jadi kaya gitu….. iya kaya kece gitu 😘

    Kak ucin suka marah2, gak mau mony deketin karna mony jorok; gapapa ko. Mony lebih sayaaaaaaaang kak ucin yg apa adanya (yah walaupun kadang pengen kak ucin yg baik). Tapi gak mau kalo yg baiknya pura2. Kak ucin udah baik dengan caranya sendiri ko. Dan mony suka. Mony sayang kak uciiinn 😚 ← pengakuan dari kim mony

    Intinya aku suka banget banget sama fic nya kak 💞 gak nyesel rikues ke kaeci. Dan ini ga ooc menurutku. Penggambaran mony nya pas. Kak ucin nya juga. Dan ada bamy (aku suka kakak pake Bamy buat nama panggilannya 😆). Paket lengkap banget pokoknya. LIKE LIKE KIKE!! 👍

    Suka

  3. YAAMPUN KAECII INI PLOTNYA SUBHANALLAH SEKALIII. DAT PORTAL SAUDARA HUHUUU, KOK KEPIKIRAN SIH? :))))

    kaeci ini panjang, tapi nabil ga bosen lhoo bacanya. si wooshin gitu yaa diem-diem ehem ehem yuhuuu. kalau aja nabil punya kaka cowo hihi :))) karakternya si bambam yaampunnn lucu aneedddd❤ pokonyaa sukaa bangettt kaeci❤

    Suka

  4. Ka eciiiiiiii, ini bangus lhooo bagusss. Meskipun panjang, tapi ga berasa gitu baca nya. 😃

    Terus terus, walau ini fantasy, aku kadang suka pgn kaya gini. Nukerin kakak aku yg judes sangat dengan yang lain.

    Tapi tapi, aku sayang dia walau judes haha.

    Ka ecii, ini bagus lho. Bener deh. Pesannya dapet banget. 😆😆😆😆

    Suka

  5. Keren Kaak, pesannya nyampe bgt. Emang kita harus bersyukur yaa sama apa yang kita punya, apa yg kita kira baik belum tentu baik🙂
    aku suka Bamy di sini, karakternya lucu gitu.
    Fantasy nya keren…

    Suka

  6. Mengharukan ka ecii!! Walopun ga punya kaka,tp kdang jg suka ngayal pngen punya kaka yg sempurna kya kriteria Mony
    /kayanya ade aku jg prnah mkir kya gitu dh,soalnyaakunyacuek/tp mskipn gitu Wooshin perhatian bngt pake caranya sendiri(meskipn caranya aneh*via Bambam)
    aku belajar jg ah,jd kakak yg baik kya Usin! Great job,ka !!

    Suka

  7. Ga nyangka bisa kayak gini but sweeet sekaleeh. Kakak sempurna ya emang kayak gitu (+ganteng, biar bisa dipamerin), tapi kenyataanya kalau ga mau minjemin duit ya kita yang minjemin duit ke dia /? /apaitu/ Sayangnya aku gak punya kakak tapi-gapapa-sih-masih-ada-oppa-korea.

    Sebenernya aku ga suka baca ff panjang cuma karena aku suka cara penulisannya ini jadi menarik banget hehe aku suka aku suka

    Keep writing kak^^
    -Saras ’00

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s