[Vignette] On Seollal

[FFPOST] On Seollal

elfxotic12152  present

an abstract film with Rocker Jung Joon-Young & Amy the OC

It’s so abstract even the writer didn’t know which genre this fic is belong to, but obviously contains Romance |  Vignette (2.300 Ws) | PG-13 (for cigarette & beer use)

.

Kok, Seoul-nya berubah?

.

Joonyoung menggaruk selangkangannya yang gatal. Matanya mengerjap begitu cahaya yang membutakan merasuk. Kebiasaannya bangun siang memang tidak baik, tapi siapa peduli? Di gedung ini—atau setidaknya di unit apartemen ini—dia rajanya. Mau dia bangun siang, bangun malam, atau tidak tidur sama sekali, ya, terserah. Dan yang paling menyenangkan soal ini, tidak ada yang memarahinya karena kebiasaan-kebiasaan tidak baik itu. Tentu saja, dia, ‘kan, tinggal sendiri.

Lama ia di dalam kamar mandi, berusaha menyelesaikan bisnisnya dengan cepat. Tangannya bergerak cepat saat menggosok giginya. Begitu tes ia lakukan, dan hasilnya adalah mulutnya sudah harum, ia keluar kamar mandi dengan senyum lemas, namun riang.

Lampu kuning di dalam kulkas menyala ketika kedua pintu gandanya dibuka. Mata joonyoung bergerak cepat, menyusuri isi kulkas. Tidak lama, lalu ia tutup pintu kulkas ketika menemukan pertama makanan yang akan memasuki lambungnya. Persisnya, minuman. Setengah botol alkohol murah mungkin cocok untuk mengawali harinya. Dengan sepotong, atau dua potong buah, dan sarapannya lengkap.

Joonyoung setengah melempar sebutir anggur ke dalam mulutnya setelah tiga teguk alkohol, ketika ia sadar Seoul tidak seperti biasanya. Kunyahannya berhenti agar indranya bisa menangkap lebih jelas apa yang sebetulnya berbeda.

Ada yang berubah.

Ia berdiri, melempar tubuhnya ke atas untuk melepaskan diri dari pelukkan sofa. Tirai yang kira-kira sudah dua minggu tidak disentuh, ia buka lebar-lebar untuk melihat jalan raya di depan gedung apartemennya. Tidak perlu berdetik-detik untuk tahu apa yang janggal dari Seoul hari ini.

Tidak ada rombongan ribut kendaraan yang membuat udara pagi bising.

Kenapa, ya? Apa karena ranking Street Fighter-ku nomor satu terus untuk tiga minggu berturut-turut, ya? Mereka takut dengaku, ya?

Hanya memikirkan itu saja membuat Joonyoung cekikikan sendiri. Lalu ia kembali duduk di sofa, duduk di sana layaknya raja dengan tangan direntangkan lebar-lebar, dan kaki dinaikkan di atas lutut yang lainnya. Lalu ia mendengar, segalanya hening.

Tidak ada omelan berisik ibu-ibu dari unit sebelah.

Tidak ada suara berdebum langkah kaki dari pegawai muda yang kesiangan dari unit di atasnya.

Tidak ada suara vacuum cleaner, tidak ada suara pembaca berita, tidak ada suara apapun kecuali mesin cucinya.

Segera Joonyoung bangkit dan memakai sepatunya. Hal ini cukup aneh hingga membuatnya berniat keluar rumah, dan memeriksa tetangganya. Jangan-jangan, ada alien datang waktu aku tidur, lalu semua tetanggaku diculik. Kepalanya menjulur dari pintu apartemennya, dan ia mendapati bahwa lift di ujung lorong tidak sibuk naik-turun seperti biasanya.

“Oh? Joonyoung!”

Kepala Joonyoung menengok dengan kecepatan LTE begitu ia dengar ada yang memanggil. Dari beberapa unit di sebelah kanannya, Kakek Youngpil baru keluar dari apartemennya. Kakek itu sedang mengunci pintu, dan ada koper besar di dekat kakinya.

“Oh, iya. Selamat pagi, kek,” Joonyoung menyapa, tidak merasa canggung untuk melakukannya. Kakek ini berbeda di matanya. Di mata Joonyoung, Kakek Youngpil itu seperti Master Roshi di Dragon Ball, kecuali Master Roshi itu kakek-kakek cabul, Kakek Youngpil itu setia sekali dengan istrinya yang sudah pergi.

“Kok, kamu masih di sini? Tidak pulang?” Kakek Youngpil menarik kopernya, kemudian berdiri tepat di depan apartemen Joonyoung.

“Ini, ‘kan, rumahku. Aku harus pulang kemana lagi?”

Kakek Youngpil tertawa. “Ke kampungmu, maksudnya. Dasar bocah,” kakek itu memukul pelan kepala Joonyoung. Sementara itu Joonyoung diam saja.

“Sudah, aku duluan, ya. Keburu tertinggal kereta.”

Kakek Youngpil kemudian pergi menuju lift di kiri Joonyoung, meninggalkan dia melongo seperti orang bodoh.

Pulang kampung? Untuk apa?

Joonyoung keluar dari apartemennya. Sunyi di gedung ini membuatnya takut bahkan untuk menaiki lift. Tapi dia bersyukur masih bisa sampai di lantai dasar dengan selamat. Di bawah, melainkan tiga gadis yang suka bergosip, Joonyoung hanya melihat satu orang di resepsionis.

“Hei—,” Joonyoung mengintip name tag gadis itu, “—Hwayoung.” Senyuman yang ia tahu bisa membunuh banyak gadis ia lontarkan secara cuma-cuma. Dengan sok keren, ia menyandarkan tubuhnya ke depan. “Hari ini… kamu saja yang berjaga?”

Gadis itu tersenyum malu-malu, lalu dengan suara hampir hilang ia menjawab, “Hmm… iya.”

“Kenapa? Yang lain kalah cantik darimu, makanya malu masuk kerja, ya?”

Gadis itu hanya tersenyum malu-malu lagi, mendengar pick-up line cheesy Joonyoung yang terkenal. Lalu dengan suara hampir hilang lagi ia menjawab, “Tidak. Orang-orang pulang kampung.”

“Pulang kampung untuk apa?”

“Ini Seollal, ‘kan?”

Seollal itu apa?”

Gadis itu menatap Joonyoung tidak percaya. “Kamu tidak tahu Seollal itu apa?” Saat Joonyoung menggeleng tidak peduli, gadis itu menjelaskan.

Seollal itu, ‘kan, tiga hari dalam tahun Cina untuk memperingati Tahun Baru Cina. ‘Kok, kamu tidak pulang kampung?”

Joonyoung menggeleng kepalanya, sambil menutup mata untuk menambah efek dramatis, lengkap dengan jari telunjuk digoyangkan. “Kalau kamu tidak bilang ‘oppa‘, aku tidak mau jawab.”

Oppa—,” gadis itu menatap tangannya yang terus-terusan bergerak di atas meja resepsionis, malu untuk mengangkat pandangannya untuk bertemu dengan mata playboy kelas kakap di depannya, “—tidak pulang kampung?”

“Buat apa aku pulang kampung, kalau di sini ada gadis cantik sepertimu?” Joonyoung melempar pick-up line-nya lagi, kali ini sambil mengedipkan sebelah matanya saat gadis itu menatap dirinya kaget.

“Aku duluan, ya.” Joonyoung pamit secara sok keren, lalu keluar ke jalanan.

Di luar dingin. Joonyoung sempat menyesal kenapa hanya keluar mengenakan hoodie dan sweatpants, juga sandal murahan. Tapi toh dia tetap berjalan-jalan beberapa blok dari gedung apartemen tempat dia tinggal.

Banyak tempat yang tutup. Restoran tempat dia biasa makan kalguksu tutup, begitu juga tempat dia biasa makan ramyeon porsi jumbo. Tempat laundry, tempat reparasi mobil, semuanya tutup. Hanya convenience store biasa yang tidak tutup, jadi Joonyoung pikir lebih baik mengunjungi convenience store daripada tidak sama sekali.

Di dalam sepi sekali. Penjaga kasirnya tidur, sama sekali tidak menyangka bahkan ada yang mau mengunjungi tempat seperti ini di hari libur yang damai. Matahari sudah hampir di titik tertinggi hariannya, tapi tidak seperti biasa, barang-barang di tiap-tiap rak masih banyak, seperti tidak ada yang menyentuh. Joonyoung bahkan sampai ragu tempat ini buka, sampai di bersiul rendah. Penjaga kasirnya langsung terbangun dari tidur siangnya, dan dengan tergagap menyapa Joonyoung, “Selamat datang!”

Joonyoung hanya melempar senyum kecil yang sangat tidak tulus untuk si kasir, lalu menyusuri gang-gang kecil di antara banyak rak tinggi. Tidak ada satu hal pun yang menarik perhatiannya. Reaksi paling baik yang bisa ia tunjukkan adalah mengangkat alis tinggi-tinggi dan membentuk bibir menjadi huruf ‘o’ ketika melihat harga ramyeon cup jumbo rasa super pedas kesukaannya turun setengah harga. Juga senyuman kecil dan gelengan senang kepalanya waktu melihat ada bir kalengan dingin di freezer. Dua benda itu dan sebungkus rokok murah yang dipajang di kasir lah yang ia beli.

“Terima kasih atas kunjungannya,” si kasir memberikan kalimat wajibnya, tapi tidak satu huruf pun masuk telinga Joonyoung. Malahan, cowok yang sekarang terlihat sebelas-dua belas dengan gelandangan itu langsung pergi ke meja yang menempel di jendela toko yang memanjang. Di situ, dia duduk dan membuka ramyeon cup-nya. Ah, iya, air panasnya belum. Lalu dia berdiri lagi, dan menghampiri si kasir untuk meminta air panas.

Setelah jumlah air panas yang masuk ke dalam cup-nya sudah cukup, Joonyoung menunggu. Tangannya ia gunakan untuk bertumpu di kursi bundar kecil yang ia duduki, diposisikan di tengah-tengah pahanya yang terbuka, sementara kedua telapak kakinya ia tenggerkan di ring-kecil-entah-apa-namanya yang ada di penyangga kursi. Senandung rendah dari lagu ‘Twinkle, Twinkle, Little Star‘ keluar dari tenggorokannya—harusnya terdengar menyenangkan, tapi malah seperti backsound untuk film ‘Friday the 13th‘ karena suaranya yang rendah.

Begitu sudah tiga menit lewat beberapa detik ia lalui, ramyeon-nya sudah matang. Buru-buru ia buka penutup cup-nya, lalu tanpa menunggu uap yang berebut keluar menghilang, ia sumpit banyak-banyak ramyeon di dalamnya. Saat panas, dan pedas menyentuh lidahnya secara bergilir, ia membuka mulut, dan meniup dari dalam sambil berbunyi, “Hoooh, hoooh.” Tangan kurusnya meraih bir kalengan yang untungnya sampai sekarang masih dingin, dan membuka penutupnya cepat-cepat. Begitu ia tenggak minuman itu, harus ia akui bahwa rasa aneh pedasnya ramyeon, dan rasa pahit-manis-menusuknya bir yang ia rasakan secara bersamaan itu lebih baik daripada membiarkan lidahnya melepuh.

Setelah belajar dari pengalaman, Joonyoung mulai meniup ramyeon di sumpitnya terlebih dulu sebelum memasukkannya ke dalam mulut. Satu sumpit besar ramyeon dalam mulutnya ternyata membutuhkan cukup banyak waktu untuk dikunyah, jadi ia letakkan sumpitnya di dalam cup, dan tangannya ia jadikan tumpuan di kursinya lagi. Tatapannya masih lurus ke jalanan di luar, dan masih memikirkan soal Seollal ini.

Ramyeon cup, bir kalengan, rokok. Pantas saja orang bilang dunia akan hancur.”

Joonyoung menengokkan kepalanya saat mendengar suara genit dari sampingnya berkomentar pedas. Saat ia melihat sosok yang mengomentari cara hidupnya, tidak dapat Joonyoung sangkal bahwa ada getaran kecil dalam hati kecilnya yang harusnya sekarang sudah berdebu.

“Ha?” Joonyoung memang tidak mengerti maksud gadis itu, tapi delapan puluh lima persen alasan dia berkata ‘ha’ adalah gadis itu sendiri. Gadis itu bicara padanya dengan sikap tak acuh yang aneh. Dia sedang memakan choco pie isi marshmallow. Rambut hitamnya yang bukan karena dicat menginformasikan bahwa gadis itu orang asia. Sementara fitur wajahnya tidak dapat Joonyoung lihat, karena saat ia memandang gadis itu, ia sedang melihat jalanan.

“Para pemuda adalah yang membangun negara, atau malah menjatuhkannya. Kamu tahu, ‘kan, kalau rokok itu tidak mungkin membangun negara?”

Joonyoung masih sibuk mengunyah ramyeon dalam mulutnya sebelum menjawab. Sengaja ia berlama-lama. Pikirannya sama berdebunya dengan hatinya. Biasanya gadis-gadis cantik mudah terpikat dengannya, karena dia yang mendominasi dalam percakapan pendek-pendek penuh rayuan itu. Tapi ini pertama kalinya dia bertemu dengan gadis yang mendominasi percakapan.

“Jadi, aku pemuda?” Joonyoung mengalihkan pembicaraan mereka.

“Memangnya kau apa? Anak-anak?” Gadis itu menengok. Matanya yang mirip sekali dengan mata Joonyoung membuat laki-laki itu yakin bahwa dia orang asia—miring, membulat, dan berkantung tebal meskipun ia yakin itu bukan akibat begadang semalam suntuk. Alisnya lurus, tidak terlalu dekat maupun terlalu jauh dengan matanya. Hidungnya kecil, dan tinggi, tapi tidak membuat Joonyoung memikirkan hidung orang Italia. Gadis itu cantik—cantik itu gadis itu sendiri.

“Bisa dibilang aku laki-laki sejati dengan muka bayi, sih.” Coba kita lihat bagaimana reaksi dia.

“Cih. Tambah parah—tua-tua hidupnya sok seperti anak muda.”

“Hiaha biwang ahu kua?” Joonyoung menjawab setelah sesumpit ramyeon ia masukkan ke mulutnya.

“Makannya ditelan dulu, ya, kek. Nanti bisa-bisa mati tersedak.” Gadis itu lalu berdiri, dan begitu melewati Joonyoung, ia tepuk pundaknya pelan. Saat gadis itu melewati pintu toko, dan berjalan di depan Joonyoung, laki-laki itu sangat yakin gadis itu baru saja melempar pandangan genit yang, bukan hanya menggoda, tapi juga menyepelekan. Maka Joonyoung tahu apa yang harus ia lakukan.

Dengan tangan kirinya, ia genggam bir kalengan juga ramyeon cup-nya, tidak peduli bisa atau tidak, pokoknya harus bisa. Dengan tangan satunya lagi, ia gapai sebungkus rokok yang ada di atas meja, lalu ia selundupkan ke dalam kantong di bagian perut hoodie-nya. Begitu ia yakin tidak ada yang tertinggal, ia susul gadis itu keluar. Hanya dalam beberapa langkah, lalu posisi mereka sudah sejajar.

“Oh? Kau mengikutiku?” gadis itu mendelik ke arah Joonyoung, pura-pura kaget. Padahal dari dalam kerlingan matanya, Joonyoung bisa melihat bahwa persis itu yang gadis itu mau.

“Iya, tidak pantas kalau gadis cantik sepertimu jalan sendiri.”

“Menurutmu lebih baik gadis cantik jalan bersama gelandangan daripada jalan sendirian?”

Ish, sudah terima saja.” Joonyoung kesal juga dengan sikap gadis ini, tapi justru itu. Justru itu yang membuat tekadnya untuk menemani gadis itu di Seoul yang sepi ini bertambah besar. Saat tidak ada yang berniat untuk melanjutkan, Joonyoung memasukkan sisa ramyeon dalam cup yang ada dalam genggamannya ke dalam mulutnya, lalu menenggak kuahnya hingga habis. Setelah tidak ada setetes pun kuah yang tertinggal, Joonyoung buang cup itu di tempat sampah di samping halte bis yang ternyata adalah tempat tujuan gadis itu.

Mereka berdua duduk bersampingan dengan jarak yang cukup untuk diduduki satu laki-laki lagi. Meskipun besi tempat duduknya cukup dingin, Joonyoung tidak protes seperti yang sering dia lakukan. Dia hanya fokus ke bagaimana cara gadis itu memperhatikan kanan dan kiri, memeriksa apakah ada bus yang datang.

Joonyoung menyesap isi kaleng bir di tangannya yang sudah tidak dingin, lalu bagai di kartun-kartun, pertanyaan muncul di benaknya. “Oh, iya. Kamu tidak pulang kampung?”

Gadis itu menoleh ke arahnya. Jantung Joonyoung berhenti selama empat detak saat mata mereka bertemu pandang. Aneh. Iya, memang aneh. Belum pernah Joonyoung bertemu gadis yang bisa membuatnya seperti ini, dan dia kira bahkan tidak ada. Tapi gadis ini bukan hanya membuatnya seperti ini—gadis itu memengaruhinya dalam banyak cara meskipun ini baru pertama kalinya mereka bertemu.

“Pulang kampung? Untuk?”

Saat gadis itu menjawab, mata Joonyoung berkerdip dan melihat ke arah lainnya. “Tidak tahu,” lalu ia menenggak birnya lagi. Meski Joonyoung yakin jawabannya sama sekali tidak masuk akal, tidak berani ia membuka mulut maupun melihat ke arah gadis itu untuk mencari reaksinya.

“Maksudku,” Joonyoung akhirnya membuka mulutnya, kepalanya agak terdorong ke belakang saat memikirkan penjelasan yang masuk akal, “Tetangga satu lantaiku pergi semua, katanya, sih, karena Seollal.”

Seollal itu apa?”

“Kamu juga tidak tahu? Tuh, ‘kan, berarti wajar ada orang Korea yang tidak tahu.” Joonyoung bicara pada dirinya sendiri sambil menenggak birnya lagi.

“Siapa bilang aku orang Korea?”

Joonyoung menengok terkejut. Orang Jepang, ya? Apa Cina? “Tuh, ‘kan, begini jadinya. Sepertinya kita harus berkenalan, deh,” Joonyoung menggunakan kesempatan ini untuk menyebar pesonanya lagi. Gestur tubuhnya berubah, kali ini kedua tangannya ia lebarkan, ditaruh di sandaran bangku, salah satu kakinya berada di atas lutut yang lainnya. Sementara itu, si gadis hanya menatap aspal jalanan dan tertawa.

“Joonyoung, Jung.” Joonyoung memperkenalkan dirinya secara resmi. Tidak ada jabatan tangan, tidak ada bungkukkan sembilan puluh derajat untuk satu sama lain, hanya kaleng bir yang ia lambaikan secara kasual untuk gadis itu, meski itu bukan berarti ia menawarkan gadis itu birnya.

“Amy, Hsu.” Cina, ya? Ketika gadis itu memberi tahu namanya, saat itulah mata mereka bertemu lagi. Dan sama seperti sebelumnya, jantung Joonyoung berhenti selama empat detak.

“Untuk apa ke Korea?”

“Rahasia.”

Joonyoung tertawa—atau lebih tepatnya menghembuskan napas tidak percaya. Tepat saat ia sedang memikirkan cara untuk mengorek informasi soal gadis itu lebih dalam lagi, bus yang rupanya gadis itu tunggu datang.

Amy berdiri, dan di pintu masuk bus itu, dia berhenti. “Sampai ketemu lagi.”

Bus pergi meninggalkan Joonyoung dan bir kalengannya yang sedikit lagi habis. Dia tertawa di bangku besi yang sekarang tidak lagi dingin di bawah pantatnya.

Sampai bertemu lagi, Amy. Dan kita pasti akan bertemu lagi, entah bagaimana, entah dimana.

FIN.

Apa sih Junyong? Apa? Apa maumu, dek? Sumpah muka dia di mv yang sympathy itu minta di simpatiin banget. BTW ini ada hubungannya sama yang di Song of Dawn, jadi kalo ada yang masih inget mungkin ngeh nama cewenya sama. Yep udah, ah.

Harus pergi—ppyong!

Zyan

2 thoughts on “[Vignette] On Seollal”

  1. HAAI. kembali denganku lagi HAHA semoga ga bosen :’) MAU NANGIS HUHU kenapa ff-nya ga pernah ada yang mengecewakan sih : “) SUKA BANGET SAMA GAYANYA JOONYOUNG DISINI HAHA sok cool banget sih. tapi emang cool sih. genit hu, matanya jelalatan. tapi kusuka♡ BUTUH SEQUEL HUHU pengen tau kalo mereka beneran ketemu lg gimana: “) harus happy ending ya, trus ceweknya sok jual mahal gitu #udahrequestaja #padahalgadayangmaubikininsequel hehe udah itu aja maaf bawel, tengs ff nya mangat yaw! lopyu.

    Suka

    1. Asalkan ada Junyong mah, apa aja jadi bahagia gitu ya, dasar tuyul menggemaskan itu orang. AKU JUGA SUKA DIA GIMANA DONG. Emang ya, dia itu imej slengean nya itu yang bikin hati ini tertarik;(

      Tunggu aja ya, aku juga gatau ini kapan sequel keluar. Emang mau ada sih, tapi gatau kapan, aku terlanjur kepincut drama drama;;(( Makasih yaa~

      Zyan

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s