[EX’ACT] Lucky One

lucky one

EXO 3rd Album EX’ACT tracklist series by Liana D. S.

#1. Lucky One

EXO Chen (Subject 21) and Sehun (Subject 94)

Surrealistic Sci-Fi, Friendship, LuckyOne!AU, Oneshot, General

.

Lama terjebak dalam Kamar Putih, Subjek 21 dan Subjek 94 berhasil menyadari betapa statis keseluruhan dimensi yang mengelilingi mereka karena mereka termasuk ‘Yang Beruntung’.

***

Semula, 21 hanya memiliki sedikit informasi tentang dirinya sendiri. Pokoknya, dia adalah Subjek—‘hewan coba’—bernomor seri 21 dengan kelainan tubuh tak diketahui yang menyebabkannya harus menerima injeksi obat setiap hari. Selain dia, dalam Kamar Putih, ada delapan Subjek penerima obat yang sama, nomor mereka tertera pada kerah baju yang seragam nyaris seluruhnya. Tidak ada rasa penasaran, tidak ada keinginan mengubah dinamika waktu, aktivitas serta komunikasi pun dibatasi. Alhasil, pergerakan masa jadi hampa makna …

… tetapi akhirnya 21, dengan mekanisme yang abstrak, merasakan kehampaan itu. Siapa sesungguhnya dia, mengapa delapan orang itu bersama-sama dengannya hidup secara monoton di Kamar Putih, mengapa ada sesak yang mengganjal dadanya, mengapa satu kebutuhannya seakan tak terpenuhi—berbagai pertanyaan senada gila-gilaan memutari otaknya, meski ia tampak diam dan tak berpikir jauh. Realita mulai terdistorsi setiap ia berkedip, digit-digit biner mengambang di udara, menutup sebagian lapang pandangnya. Petugas-petugas Kamar Putih menyuntikkan lebih banyak larutan hitam dalam suplai cairannya, menghilangkan beberapa kunang-kunang biner—sementara. Efek farmaka tersebut memendek dan setelah lepas dari pengaruh si obat, kemunculan kunang-kunang tadi malah menghebat. Ranjang, seperempat bagian lantai, bingkai jendela, bahkan selang infus yang menusuk punggung telapak 94 di ranjang seberang kini berubah jadi anyaman angka.

94?

Bukan. Nama bocah jangkung pucat di sana bukan 94. 21 pernah menyaksikannya mendorong sekuat tenaga seorang tentara bermasker hitam—hah?—di suatu aksi unjuk rasa—apa pula ini?—bersama seseorang yang memanggil nama asli si Subjek. Siapa anak itu, 21 hampir saja ingat ….

Sebuah dorongan memaksa 21 melingkarkan telapaknya pada pergelangan tangan 94. Si jangkung menatap nanar pemuda yang lebih pendek, seakan bertanya ‘ada apa?’ tanpa repot membuang tenaga. Secara teknis, manik cokelat gelap 94 tidak memuat apa-apa, ganjilnya 21 melihat sesuatu yang berbeda pada mata itu.

Sebuah kenyataan, bukan kesemuan. Semesta luas, bukan Kamar Putih. Manusia, bukan Subjek.

Lari dari sini.

… adalah hal pertama yang terpikirkan oleh 21 begitu menangkap sekelumit ‘kelainan’ pada kawan sekamarnya. Memang ia belum dapat mengambil kesimpulan yang terang dari potongan-potongan acak dalam kepekatan iris 94, namun satu yang pasti: Kamar Putih beserta semua petugasnya adalah bahaya bagi para Subjek. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun terjebak, detak jantung 21 meningkat, semburan adrenalin mendesirkan darahnya lebih cepat, menyiapkan diri untuk bergerak.

“Ayo.”

Sebelum sempat mencerna arti kata ini, 94 diseret oleh 21, lurus menuju pintu keluar Kamar Putih. Sayang, pintu itu dibuka dari luar oleh salah seorang petugas yang langsung mendorong kuat-kuat 21 dan 94 hingga mereka terjerembab. Ketika jatuh, 21 dihampiri bayangan-bayangan mirip mimpi. Dia dulu—mungkin?—pernah jatuh juga di lain lokasi, dengan 94 di dekatnya berkelahi melawan pria bermasker hitam—lagi-lagi, siapa?—hingga pakaiannya koyak. Duh. Di mana kiranya itu terjadi? Kapan? Mengapa?

Petugas Kamar Putih menendang 21 dan 94 yang masih tersungkur, sebuah perintah bisu agar mereka mau kembali ke ranjang dan melakukan pengaturan gelombang otak rutin sebagaimana biasa. 21 bergeming; ia yakin keluar dari Kamar Putih adalah hal paling benar untuk dilakukan. Bersikeras lari, 21 berusaha mengabaikan nyeri di sikunya akibat kejatuhan yang keras sebelum ini, tetapi karena tubuhnya tak stabil, dengan mudah ia didorong lagi oleh petugas Kamar Putih.

Kepala si petugas, omong-omong, ikut-ikutan tampak biner seperti pintu kamar di baliknya.

Tak disangka, kaca-kaca pada jendela Kamar Putih pecah bersamaan, beberapa serpihannya menghujani 21 dan 94 hingga mereka harus melindungi wajah dengan lengan. Saat memalingkan muka ke sisi, 21 tidak sengaja bertemu pandang dengan 12 yang belum beranjak dari tempat tidurnya. Kembali 21 merasakan dorongan tak terkendali untuk melarikan diri, otot kakinya ‘digerakkan’ oleh tatapan mengintimidasi satu-satunya Subjek yang tidak berupaya melindungi diri dari hujan serpihan kaca itu. Ketika lampu-lampu Kamar Putih mati-menyala tak teratur, 88 menarik 10 turun dari ranjang, 01 menepis tangan petugas Kamar Putih yang coba menahannya dan meraih tangan 99, sementara 61 dan 04 mendahului semuanya berbelok ke koridor, keluar dari Kamar Putih. Sekadar hipotesis, barangkali Subjek-Subjek lain telah sadar pula seperti 21, penuh maupun setengah penuh, bahwa mereka tidak seharusnya berada di semesta ini dan terpicu untuk mencari jalan keluar. Tebakan alternatifnya, Subjek 12 yang tetap di tempat justru menjadi Subjek teraktif yang mempengaruhi Subjek lain agar bisa bebas; 21 ingat betul sensasi disengat listrik yang menjalari kakinya ketika menatap Subjek 12 sebelum ini.

Tapi … yah, kebenaran belum menjadi prioritas para Subjek sekarang.

“Ayo, 21!”

Oh. 94 menggunakan penekanan dalam nada suaranya, terdengar panik, tidak cuma ‘ingin pergi’. Penting dicatat bahwa semua Subjek wajarnya tidak merasa; andai bisa pun, mereka akan gagal mengekspresikannya, misalnya 21 yang intonasi bicaranya masih datar ketika mengajak 94 pergi beberapa menit lalu. Ketegangan 94 menular pada orang yang telapaknya ia genggam, intens, dan karenanya 21 buru-buru menegakkan tubuh. Sebentar kemudian, derap langkah mereka menggema di koridor bangunan—apa ini? gedung riset? fasilitas penelitian rekayasa genetika ilegal?—dan berpadu dengan keletak-keletok cepat sepatu para petugas Kamar Putih.

“Kau tiba-tiba cemas,” ungkap 21 di sela engahan, “Apa kau melihat bintik-bintik biner yang janggal di udara tadi?”

“Ya, lebih banyak dari kemarin dan itu meresahkan,” –Ternyata memang bukan hanya aku, 21 membatin, terkejut—“Ditambah lagi, penglihatanku sekarang mampu menembus tubuh para petugas Kamar saat kau menyentuhku. Fuh, kau tak akan percaya apa yang kutemukan.”

Lucu mendapati serangkaian nada naik-turun yang ‘hidup’ dalam kalimat 94 barusan. Samar melintas sosok tanpa nama yang persis 94 di benak 21, bicara sok keren padahal cadel, di suatu masa yang jauh. Kenangan ini—jika benar adalah kenangan—mengukir kurva tipis di bibir 21, signifikan menunjukkan perubahan dalam jiwanya.

“Apa yang kaulihat?”

“Tubuh petugas, Kamar Putih, dan jendela-jendelanya kurasa adalah semacam tirai angka yang memisahkan kita dari dimensi tempat tinggal kita yang asli. Waktu kau memegangku, wajah salah seorang petugas jadi berlubang dan aku melihat lorong gelap menyerupai labirin melalui lubang itu.”

Labirin?

Tap!

“Awas!” 21 menyeret 94 ke balik sebuah pintu. Bayang-bayang panjang dan keletak-keletok mengancam sudah cukup untuk memperingatkan 21 akan bahaya sebelum benar-benar mewujud. Benar saja; petugas yang nyaris memergoki 21 dan 94 itu berjalan menyusuri koridor yang sebelumnya mereka berdua lewati. Beruntung, para Subjek sudah melangkah jauh dari pintu, mengamankan diri ke koridor yang lebih sepi.

“Labirin apa yang kaumaksud tadi, 94?”

21 dan 94 tengah bersandar ke dinding yang separuh lebihnya telah menjadi bilangan-bilangan biner di mata mereka. Sebisa mungkin keduanya mengatur napas supaya tidak kedengaran gemanya oleh petugas selagi bertukar informasi.

“Kukira kau tahu,” 94 mengedikkan bahu, ”Kita bertiga—bersembilan—rasanya pernah masuk bersamaan—atau tersesat bersamaan?—dalam labirin itu, entah kapan. Menurutmu, apakah labirin itu dimensi yang harusnya kita tempati?”

Gelengan berulang diterima 94.

“Labirin tidak layak huni. Andai kau menyebutkan lokasi yang lebih ‘rumahan’, aku akan mengiyakan pertanyaanmu.”

“Ya maaf kalau penglihatanku tidak rasional. Kau sendiri cuma menemukan tirai biner di sekelilingmu yang tidak mengarah ke satu dimensi khusus, kan? Petunjuk yang berguna sekali.” dengus 94, menyisipkan sindiran, membuat 21 memicing jengkel padanya.

“Ingatan yang melintasi benakku lebih normal dari sebuah labirin, tahu!”

Mata 94 membola; suara 21 kurang keras! Ya, saking pelannya 21 bicara, bunyi langkah beberapa petugas yang awalnya terkesan menjauhi mereka kini jadi mendekat. Sialnya, di sekitar situ, tidak ada pintu atau belokan untuk tempat sembunyi, sehingga mereka terpaksa harus lari kencang-kencang. Biar begitu, 94 sempat memarahi rekan larinya tanpa takut paru-parunya kehabisan cadangan oksigen.

“Tidak usah teriak-teriak, Bodoh! Kita jadi dikejar banyak petugas gara-gara suara cemprengmu!”

“Kau sendiri teriak-teriak, jangan menasihatiku!” 21 menoleh ke belakang; sosok-sosok yang membelakangi cahaya di lorong itu tampak menakutkan, “Gila, lari mereka cepat sekali!”

Namun, penglihatan 21 dan 94 jadi lebih fokus tak lama setelahnya, sehingga mereka mengetahui bahwa alih-alih rapat diikuti petugas Kamar Putih, yang mengekori mereka adalah 88 dan 10. Barulah di belakang dua Subjek ini, tiga atau empat petugas Kamar Putih melangkah lebar-lebar demi memangkas jarak, siap meringkus tawanan mereka kembali. Sadar kecepatan berlarinya mulai melambat dan ada dua belokan di depan, 94 berteriak keras pada salah seorang Subjek.

“Kai, kau ke kanan, aku ke kiri!”

Tanpa menunggu jawaban orang yang dipanggilnya, 94 menggandeng 21 dan mempercepat larinya. Mereka berhenti setelah dua kali belokan ke kiri dan memasuki sebuah ruangan kosong. 21 membekap 94 yang masih tersengal-sengal begitu menangkap bunyi sepatu yang khas di luar dan mengajaknya bersembunyi ke bawah meja biner. Seorang petugas membuka pintu ruangan itu, tetapi ada ledakan di ujung lorong yang mengalihkan perhatiannya. Pintu tertutup lagi dan 21 menurunkan tangannya dari mulut 94.

“Kau menyebut sebuah nama!” bisik 21 sepelan-pelannya—kendati girang setengah mati—pada sang rekan yang megap-megap, “Siapa, kaubilang?”

“Siapa apanya, aku hampir mati kaubekap!”

“Iya, iya, aku minta maaf. Nah, jadi siapa yang kaupanggil tadi?”

“Aku tidak ingat memanggil seseorang.”

“Kau memanggil salah satu dari 88 dan 10 dengan nama asli mereka, ingat-ingat lagi! Itu bisa menjadi kunci keluarnya kita dari dimensi ini!”

Alis terangkat 94 bertukar dengan kernyitan bingung. Apa benar yang dikatakan 21 itu? 94 bisa saja menyebut sebuah nama akibat refleks, yang berarti nama itu berasal dari alam bawah sadarnya dan, tentu saja, tidak bisa digali secara sadar. Masalahnya, jika memori berarti penting untuk pulang, maka 94 harus ingat nama itu bagaimana pun caranya. Siapa? Siapa?

“Kau juga mendengarnya tadi, kan?” 94 mendesis, kepalanya terasa berdenyut selagi berjuang mengingat, “Sebutkan satu huruf tentang nama itu, kek, buat membantuku.”

21 dengan mantap membuka mulut, hendak mengeluarkan satu nama, tetapi sial, dia sendiri lupa apa yang didengarnya! Giliran ia yang berusaha memutar ulang peristiwa lima menit lalu, tetapi dalam prosesnya, ia terpaksa menyetop 94 yang mengerang kesakitan.

“Sudah, sudah, cukup,” Satu telapak 21 mendarat lembut di kepala 94, sementara tangannya yang lain berada di bahu si pemuda jangkung, “Maaf memaksamu, 94. Sepertinya sesuatu dalam dimensi ini punya mekanisme yang melenyapkan kenyataan dari pikiran kita. Kau tidak apa-apa?”

Rasa bersalah yang tergambar di wajah 21 menyebabkan 94 batal mengomel. Tidak pernah didapatinya raut pengertian yang bernilai itu dalam Kamar Putih lantaran para Subjek dikekang secara emosional, sedangkan petugas sepertinya tidak dirancang buat berinteraksi dengan makhluk hidup. Ekspresi setipis apa pun adalah angin segar dalam kehidupan nol perasaan yang 94 jalani selama ini.

“Aku baik,” ujarnya kemudian, menurunkan telapak 21 perlahan dari kepalanya, “Kita tidak mungkin terus-terusan lari tanpa arah, 21. Kita harus tahu dulu di mana pintu keluar. Pasti ada ruang pusat atau semacamnya yang bisa memberi kita informasi ini sekaligus menyebarkannya pada semua Subjek.”

“Kita asing sama sekali dengan segala hal di luar Kamar Putih, harus jadi orang yang sangat beruntung untuk menemukan ruang yang demikian serbaada,” –21 punya poin di situ— “Usulku, bagaimana jika kita berusaha ‘menyibak’ tirai biner yang menyelimuti dimensi ini? Kau bilang bisa melihat menembusnya, bukan?”

“Sedikit.”

“Bagus. Tidak perlu terburu-buru, kita bisa merenungkan apa kuncinya sambil jalan.”

Optimisme 21 ini amat cerah hingga sanggup memancing cengiran kekanakan 94.

“Sambil menghindari petugas, maksudmu.”

“Tepat.”

Membuka pintu dengan hati-hati, 21 melongok ke koridor, memastikan situasi terkendali, baru melambaikan telapaknya agar 94 bergerak. Berjalan seraya mengatur tekanan kaki pada lantai supaya tidak berisik, 94 mengemukakan temuan-temuan apa saja yang dilihatnya melalui lubang-lubang tirai biner. Ada aksi unjuk rasa yang menyapa 21 di Kamar Putih, labirin hitam yang setelah diamati lekat-lekat ternyata buntu, penjara-penjara berjejer dengan masing-masing satu tahanan di dalamnya—beragam betul dimensi yang mengintip dari celah-celah ini! Mereka yakin pernah menyambangi semua dunia itu, tetapi mengapa dan kapannya belum bisa terjawab. Yang mana dimensi tempat tinggal mereka sesungguhnya pun masih merupakan misteri.

“Tunggu.”

21 menahan 94 sebelum mereka menikung. Ada keletak-keletok berbahaya itu lagi, mengiringi suara napas berat 61 yang disusul jeritan 04. Pucat pasi, 21 memberanikan diri menengok dari sisi dinding untuk mencari tahu apa yang terjadi. Di ujung tikungan, petugas Kamar Putih yang semula menangkap 04 mendadak lemas dan jatuh terduduk, jadi 61 dan 04 memanfaatkan kesempatan itu untuk bergegas pergi. Menduga kedua temannya akan dikejar kembali, 21 kaget ketika menyaksikan kepala si petugas Kamar Putih meledak.

Meledak.

“Bagaimana bisa?” 94, yang juga melihat peristiwa ajaib tadi, terheran, “Apa itu artinya dia mati? Apa petugas-petugas ternyata robot yang bisa dinonaktifkan? 61 dan 04 ada di hadapannya, kita bisa menyusul mereka melewati dia atau tidak?”

“Amannya,” 21 memutuskan, “hindari petugas itu dan belok kanan. Subjek 61 dan 04 bisa kita cari nanti.”

Karena petugas Kamar Putih yang meledak tadi belum tentu tidak berbahaya, 94 setuju untuk berbelok ke kanan. “Jangan buang nyawa yang sudah kupercayakan padamu.” ucapnya diserius-seriuskan pada 21 yang tersenyum geli. Namun, terlalu cepat untuk merasa lega: tak sampai tiga belokan, 21 dan 94 terpaksa mengerem langkah karena dihadang seorang petugas Kamar Putih dari kiri.

“Tidak usah minta maaf. Salahku mempercayakan nyawaku padamu, 21.” decak 94. Ia nyaris berbalik dan mencari jalan lain jika tidak mendengar ketukan sepatu petugas di lorong yang akan ditujunya. Terjepit 21 dan 94 di antara petugas-petugas Kamar Putih; brankar dan larutan hitam berkonsentrasi tinggi seketika menghantui mereka lagi. 21 tidak mau ‘pulang’ ke sana dan 94, ia yakin, pasti sependapat.

Tangan si petugas terulur, hendak meraih kerah baju 21 dan 94.

Aku, 94, dan semua Subjek tidak akan kembali ke Kamar Putih, 21 mendengungkan pernyataan ini keras-keras sembari memikirkan cara meloloskan diri, Tidak akan. Tidak akan.

Tiba-tiba, sebagian dinding biner di koridor tersebut lenyap digantikan tembok tinggi labirin kelam; dimensi lain di belakang tirai membuka kian lebar. Si petugas tumbang begitu saja, sekujur tubuhnya terselubungi loncatan-loncatan energi berwarna biru—listrik, entah bersumber dari mana. Dari 21-kah? Atau 94? Atau mekanisme khusus penghancuran sendiri dalam dimensi ini?

“21, lihat!” tunjuk 94 pada pintu di ujung koridor yang dikelilingi campuran bilangan biner dan labirin abu, “Aku lihat Suho di belakang pintu itu—ah, dia bersama 99, keluar! Ayo, susul mereka!”

Su—hah?

“94, kau menyebut nama lagi—ish, abaikan! Ke mana 99 pergi?”

Tanpa basa-basi, 94 menarik 21 mengikuti 01 dan 99 yang baru ia lihat meninggalkan persembunyian. Bangunan itu tampak amat rusak sekarang: dindingnya yang masih biner tinggal sepersekian, termakan dinding kelabu labirin. Kepala setiap petugas yang mereka temui meledak, tidak lagi menimbulkan bahaya—pertanda para Subjek telah memasuki fase akhir dari pemecahan misteri dimensi ini. 21 dan 94 berada pada ambang keputusasaan juga harapan; sedikit lagi, kisah mereka akan menjadi jelas. Unjuk rasa. Serikat Pekerja. Mimpi. Tahanan. Penjara. Berpuluh kosakata masa lampau sudah muncul di benak, tetapi belum terangkai menjadi satu kalimat utuh yang koheren.

99, 01, 10, 04, 21, 61, 88, 94, kalian mendengarku?

“12!” seru 21 dan 94 berbarengan, lega seakan sudah menemukan jalan keluar sungguhan. Keduanya lantas bertukar pandang—’12 bisa bertelepati? Lintas kepala? Keren!’, kurang lebih begitu yang mereka katakan—sebelum menghentikan langkah demi menyimak apa yang akan 12 sampaikan.

Aku, Subjek 12, sudah mendapatkan kembali ingatanku mengenai hal-hal pokok keberadaan kita di sini. Kalian kini bisa mengabaikan keberadaan petugas Kamar Putih, bilangan biner, dan dimensi kacau yang kalian lihat; semua itu palsu, sama seperti raga kita dalam dimensi yang tinggal menunggu hancur ini.

Sebagai permulaan, kita sesungguhnya adalah pemuka-pemuka Serikat Pekerja Bawah Tanah yang dipenjara oleh polisi-polisi pemihak para Bangsawan akibat perlawanan kita yang terus-menerus. Mereka menahan kita dalam sel yang sangat efektif, yaitu Penjara Mimpi. Tubuh asli kita dikurung dalam sebuah ruangan dan pengendali gelombang otak dipasangkan pada kita setelah kita ‘ditidurkan’, menimbulkan mimpi berlapis-lapis dan kita dikunci di mimpi yang terdalam. Teknologi mereka sanggup mengatur hal terkecil hingga kita tidak mampu lagi membedakan realita dan khayalan. Selain itu, kita juga tidak berniat keluar dari mimpi ini karena injeksi farmaka tertentu yang menekan fungsi psikis normal kita.

Tapi kita adalah ‘Yang Beruntung’. Ada tekad kuat dan memori yang tidak bisa dihapus oleh mesin mereka. Kita belum sepenuhnya mengalami malfungsi, karenanya kalian dapat mengingat sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan sebelum dipenjara atau melihat dimensi berbeda dalam bangunan putih ini—yang sebetulnya merupakan lapisan berikutnya dari Penjara Mimpi kita. Ingatan dan tekad kita telah berhasil menjebol lapis pertama, tetapi masih ada lagi dimensi yang harus kita tembus supaya dapat terbangun di dunia nyata dan melanjutkan pemberontakan melawan para Bangsawan.

Rahasia untuk menembus lapis-lapis mimpi ini adalah berusaha menggenapi ingatan kita dan tidak berputus asa. Ada ribuan data yang terserak pada dimensi berikutnya untuk dihubung-hubungkan satu dengan lainnya. Misalnya, saat ini, aku belum dapat mengingat namaku sendiri dan kalian semua biarpun dapat mengingat perlawanan Serikat Pekerja—barangkali kalian memiliki potongan yang berbeda.

Hanya dengan saling melengkapi memori kita, dinding ini dapat kita runtuhkan.

Bersama.

Kata terakhir 12 menguap seiring dengan memudarnya seluruh warna putih dan bilangan biner di sekeliling 21 dan 94. Sebagai gantinya, muncul labirin raksasa, lapis kedua Penjara Mimpi, dan entah masih ada berapa dimensi lagi yang menunggu untuk dirobohkan. Kalau sukses bangun, mereka mesti kabur dari penjara fisik di mana mereka ditahan, kemudian menyusun ulang rencana-rencana—21 ingat secuil di antaranya adalah perekrutan pekerja di luar Serikat sebagai tenaga bantuan—menjatuhkan rezim kaum atasan. Rintangan demi memenangkan perang ini demikian kompleks dan bertumpuk …

… namun 94 masih bisa tersenyum miring, angkuh.

“Bodoh, para polisi itu. Mau dikurung berapa banyak tembok tebal pun, kita pasti akan meruntuhkannya sebagai ‘Yang Beruntung’. Benar, Chen?”

Menerapkan salah satu premis yang dimuat penjelasan 12, 21—Chen—merasa bahwa kawan kecilnya yang percaya diri itu tidak salah-salah amat, biar mereka berada dalam situasi sulit rawan frustrasi macam sekarang. Iseng, ia menyentil dahi 94 sebelum berjalan santai menelusuri labirin untuk mencari petunjuk penggenap ingatannya.

“Sehun, panggil aku ‘Kakak’. Kau itu masih bocah, tahu.”

Lucky One © S.M. Entertainment


.

.

.

basically my interpretation of the MV. tumben SM njadiin duo pendek SooBaek center plotline. nyadar gak? di MV Lucky One Kyungsoo has control over everything dan ketika semua larinya pasang2an, dia gak lari dan sendirian. how cool is that? >< dan Baek di Monster. DON’T EVEN ASK.

dan mengapa tidak ada tulisan fin, krn bersambung di Monster ahahaha

ini ga tau ya bakal kelar kapan krn kesibukanku ga mengizinkan. trs aku berencana bikin tracklist fic ini sesuai urutan bias. (PAS SEMBILAN LHO TRACKNYA UHUIII). nomer 1 jelas siapa. 2 juga jelas siapa *tunjuk yg cina jangan sampe lolos*. dan seterusnya. chen looks better here than in monster. iya garang tapi ga ada yg spesial dan bikin ‘aish ganteng banget’ gitu, ga kyk di sini ehe. malah di comeback ini fokusku salah ke baeksoo dan, tentu saja, Yang Mulia Kaisar.

sorry klo ga maksimal, and thanks for reading!

17 thoughts on “[EX’ACT] Lucky One”

  1. ye aku first!
    ye aku first!

    ini otakku mendadak berpikir keras, semua memori hapalanku hilang sejenak tergantikan dengan kumpulan kosa kata baru dari fic kakak, yang bikin saya sama bingungnya sama 21 dan 94.

    Lalu saya baru sadar dimenit kedua kalau ini emang bener-bener sama, seperti apa yang aku liat di mv-nya. Dan penggabarannya keren banget, aduhaii~~ macam baca novel terjemahan. Gaya bahasanya mengingatkanku pada Gaston Leruox, yang sama-sama bikin kepala saya pusing.

    Nice, fic thor. Tak tunggu lanjutanya. Saya tipe-tipe setia kok :3

    Suka

    1. mian bikin kamu pusing uhuhuhu kubantuin ngambilin memori hapalannya ya biar ga ilang.
      but thanks udah mau baca! aku sangat nyaman di genre memusingkan ini soalnya, trs mv2 exo tuh kebanyakan juga bernuansa surealisme dan penuh simbol so yeah. trs mengapa scenenya sama bgt dgn mv, krn ini adalah penjelasan mv kalo menurut aku tapi diformat dlm ff ehehe.
      sekali lagi makasih sdh baca!

      Suka

  2. Hai kaliana~ ^^
    long time no see yaa lama kayanya aku gak pernah baca karya kakak lagi dan kebetulan lagi lewat sini yasudah aku eksekusi sampai kepalaku ikut pusing habis baca ini :”D hehe

    mengingat exo baru kambel ya kusuka sekali konsepnya so Maze Runner chorom ottoke dan ff ini juga asdfghjkl mengingatkanku akan maze runner juga 😂

    kak, mungkin saking lamanya gak ‘menjamah’ exo, aku pusing sama nomor” ituloh ampe mikir “Ini suho bukan? apa baekhyun? wah yg ini pasti kai” dan seterusnya 😂 hahaha

    aku suka! bahasanya kakak makin wah yaa huhu good job 👍 tapi di beberapa paragraf ada yg bikin gak mudeng hehe lupakan pokoknya aku suka! 😘

    kutunggu lanjutannya kalau aku ada waktu luang pasti aku sempetin mampir ^^

    semangat!

    Suka

    1. halo julia ^^ lagi lewat ya ehe.
      duh maaf ya emang aku itu kadang bawaannya pingin mengelaborasi (? elah susah) diksi tapi jadinya malah ga mudeng, padahal mestinya ya kita bikin fiksi itu yg mudah. atau bawaan genre kali ya kadang surealisme itu bikin kaki pembaca ga napak tanah. *lah
      dan nomer.
      HAHAHA YA esem mang ga bisa pisahin exo dari angka sejujurnya aku pun ga hapal jadinya bolak balik ngecek mv hahaha.
      lain kali aku bikin fiksi yg gampang dimengerti dah. makasih sdh mampir ya!😄

      Suka

  3. halooo kak lianaaa. ih sukaaa interpretasinya deh, bikin mikir bacanya. dan apa? unjuk rasa? serikat pekerja? doh kan jadi inget si kak ron ngomongin satpol pp muluk HAHAHA.

    Anyway itu akhirnya mereka inget nama masing-masing yah? ga dijelasin fasenya gtu? tetiba inget abis pidatonya D.O? hihi aku juga suka comeback kali ini pake mereka berdua, biar ada variasi aja gitu, ga kai mulu sehun mulu wkwkwk. lain kali pake chen xiumin ahahah. ditunggu lanjutan interpretasinya di monster kak! semangat juga buat real-lifenya! much of loves! ♥♥♥ keep writing~~~~

    Suka

    1. hah kak ron tuh emang ada aja idenya maksudku jongdae dan geng pengajian malam jumat itu kan wadaheaven sekalee😄
      terus ya, soal pidato kyungsoo, itu sedikit plothole. eh apa itu sesungguhnya plothole yg lebar duh entah. sebenernya aku sdh coba menghindarkan plothole ini dgn cara menjelaskan di awal bahwa cara si jongdae melihat realita sedikit berubah, tapi kyknya tetep lobang ya ceritanya. ya sdh. buat ‘Monster’ kuusahakan spy ga plothole hehe thankies pertanyaan kritisnya dan keep writing too!

      Suka

  4. Rider baru disini, salam kenal..
    Critanya beneran dilanjutin??? Habisnya penasaran, masih nanggung bgt.. Alurnya aku suka, walo agak sedikit jelimet tp so far aku faham bgt maksudya.. Dirunggu next nya.. Fighting..

    Suka

  5. KYAAAAAAAHAAAAAAAA!!! AKHIRNYA AKU BALIK LAGI KE SINI UNTUK TINGGALIN KOMEN ATAU BISA DIBILANG MERUSUH😄 /disepak yang punya lapak/

    DEMI YA KAK LIANA, INI FF SERU!!! GAK JAUH BEDA SAMA FF MITOLOGI YUNANI VERSI KAK LIANA😄 HEHEHE. /matiin caps dulu biar gak jebol dan memutarkan mata/

    Favorite kak!!! Ciyus aku gak boong ♥♥♥
    Ajari aku shenpai bikin Scifi beginian :””), mana bahasanya sangat mendukung genre sekali lagi duh kak ajari akuuuuuu wkwkwkwk.
    UWOOOH DAN BAKALAN ADA LANJUTANNYAKAH KAK? AKU MENUNGGUNYA WKWK.

    Keep writing as always Kak Lianaaaa, kumencintaimu❤ /disepak/
    Maaf kak, Ber kalau komen hanya bisa merusuhi saja, EHEEE. /pyong/

    Suka

    1. iyaaaa tapi lanjutannya masih macet ber… huks sedih bgt padahal track monster gilirannya yixing jadinya yah… yah gitu masih wb, kerja track lain dulu huahuaaa
      thankseu udah mampir btw, ini sebenernya lebih sureal daripada sci-fi, kalo sci-fi bukan ke aku bergurunya hehe. anyways, aku seneng kalo kamu seneng ^^ keep writing too! ngerusuh di lapakku yg sering ya!!!

      Disukai oleh 1 orang

  6. Cerita2 kak Lian bkin muter otak dh. Ga beda jauh sma karya myth lainnya. Rada ga ngerti si sm binner apa gitu,trus no subject yg tmbh mudengin,krn ga disebutin nama2nya. Tp itu yg bkin greget. Apalg smua punya kemampuan yg beda dan WAHH bngt.
    Pengolahan kata kak Lian always keren dh,ga diragukan lg. Dan ditunggu bagian Baekhyun,ya kak! *ga tahn pen liat perfom dia disni/sma kya mv nya ituuuu
    fighting,kak! ^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s