[BEHIND THE SCENE] #8: Reconciliation

original

a movie by Jung Sangneul

Behind The Scene

EXO : Unbreakable Group

Genre : Friendship, Sad, Tragedy, Canon

Duration : multichapter

Rating : PG – 15

Disclaimer : Fanfiction ini dibuat dari perspektif saya sebagai pengamat, bukan sebagai fangirl. Mohon maaf apabila saya menyinggung perasaan sebagian pembaca. Cerita di dalam serial ini hanya opini saya, bukan berarti faktanya begitu. Tidak berniat menjelekkan nama baik siapa pun, hanya mencoba mengemukakan pendapat perihal keadaan saat ini.

Summary :

Kita memiliki kisah sendiri-sendiri. Sekeping memori tersembunyi yang diam-diam menyatukan kita lagi. Memberi arti dari kisah persahabatan yang murni.

***

Previously: Betrayer | Song Was Pray | After | Before | We’ll Be Alright | Our Feeling [1] | Our Feeling [2]

Reconciliation

Telah genap berlalu dua tahun bagi Luhan dan Kris, serta setahun setengah bagi Tao. Perpisahan itu terkadang masih membayang-bayangi jiwa ketiganya—terlebih, bagi pihak Luhan dan Kris tidak pernah tahu alasan Tao keluar secara spesifik, begitu pula sebaliknya. Maka sejak saat itulah, mereka tidak pernah memiliki komunikasi yang baik.

Meski satu kewarganegaraan, tapi perpecahan yang dilakukan beda jalur membuat ketiganya harus menjalani takdir yang berbeda. Luhan dan Kris memilih tetap bertahan dengan agensi Cina yang terkadang mempertemukan mereka dalam satu frame saat interview. Kendati lagu-lagu Luhan lebih banyak dan pekerjaannya jauh lebih menggunung dikarenakan fans-nya yang meledak, tapi mereka tetap berteman akrab tanpa unsur kedengkian. Setidaknya, kelihatannya begitu.

Sementara, Tao? Ia berakhir di agensi yang ia bangun dengan rekan-rekannya sendiri di Amerika sana, tepatnya Los Angeles. Lagu-lagunya juga laris dinikmati, begitu pun video musik yang merambah jutaan penonton karena out of the box dan beradu dengan aktris-aktris papan atas internasional. Tao seperti kepompong yang baru saja menetas menjadi kupu-kupu, terbang begitu tingginya mendaki tangga popularitas. Tanpa EXO, tanpa SM Entertainment.

Dengan nasibnya sendiri-sendiri, mereka berpijak dengan nyaman di bumi. Tidak ada masalah yang diperbesar lagi, semua drama menyedihkan itu seperti berakhir begitu saja. Dan, itu semua bukan mimpi buruk semata. Mereka memang pergi, fans harus menerima bahwa ketiganya takkan kembali. Meski rumor-rumor sinting perihal kembali itu santer terdengar di sana-sini.

Media membual. Media memang gila, namun segila itulah memberitakan kembalinya EXO dengan formasi sembilan orang, meluncurkan full album ketiga mereka, setelah XOXO dan EXODUS yang mendapat begitu banyak apresiasi dengan jumlah pembelian mencapai milyaran kopi.

“Kira-kira, mereka lihat tidak, ya?” tanya Lay hari itu, ketika EXO baru saja selesai shooting untuk video musik lagu mereka.

Album kali ini terbagi menjadi dua cabang—masing-masing cabang berisi dua bahasa seperti biasa. Satu cabang bertajuk lagu yang lebih ceria, sementara yang satunya lebih menggambarkan sisi gelapnya.

Yang diajak bicara oleh Lay—anggota M, mengangkat bahu pertanda tidak tahu, atau mungkin tidak berpikir sampai ke sana.

“Mereka siapa?” tanya Xiumin, “Kalau fans pasti lihat, lah. Sasaeng fans juga pasti lihat dan siap mengejar kita. Anti-fans apalagi, sudah siap dengan segala hujatan. Jangan sampai kita dibilang plagiat kali ini.” Ia merebahkan kepalanya di sofa.

“Bukan, Hyung, bukan mereka semua,” sahut Chen. “Jangan pura-pura tidak tahu.”

“Aku memang tidak tahu.”

Lay menghela napas panjang. “Kurasa, ini waktunya kita memaafkan semuanya.”

“Memaafkan apa?” Yang menyahut bukan Chen ataupun Xiumin, melainkan suara dari luar. Kedengarannya, Kai.

“Ha, Jongin! Akhirnya kau pulang juga. Ponselmu berisik sekali dari tadi. Lihat, panggilan dari Krystal semua,” sahut Xiumin, ia menunjuk-nunjukkan layar ponsel Kai pada pemiliknya.

Kai segera menarik ponselnya dari tangan Xiumin. “Maaf, Hyung. Aku lupa bilang hari ini kita sibuk.”

“Duh, enak ya, punya pacar. Ditinggal sebentar, ada yang mencari. Ada apa sedikit, ada yang bertanya,” seloroh Xiumin, nada-nadanya dibuat.

Kai nyengir pelan sambil menggaruk tengkuknya. Salah tingkah hubungannya dengan Krystal disinggung-singgung lagi.

“Bukannya malah ribet, ya?” kali ini yang menyahut pasti Baekhyun, suaranya khas sekali. Lelaki itu datang dengan sisa member, terdengar dari ribut-ribut yang mereka ciptakan sejak dari luar.

“Sudah selesai semua?” tanya Lay, mengalihkan pembicaraan.

“Sudah. Huh, lelah sekali,” Sehun menempati sofa di sebelah Xiumin, bersandar pada bahu hyung-nya itu.

“Duh, Sehun, berat tahu!”

“Hei, kalian mau merayakan comeback kali ini dengan apa?” Suho memecah keramaian itu, membuat yang lain segera mengalihkan atensi mendengar kata ‘perayaan’.

“Main kembang api!” ya ampun, ini jelas dari Chanyeol.

“Nonton bioskop!”

“Makan-makan saja,” ini pastilah Xiumin.

“Karaoke!”

Suho tersenyum mendengar permintaan mereka yang macam-macam. Kemudian memutuskan menyimpulkan, “Kita bisa berbagi makanan di kantor agensi waktu perilisan MV. Setelahnya, kita nonton bersama MV-nya. Bagaimana?”

Untuk kali pertama, kesembilan orang itu bisa mengatakan satu “setuju”. Maka, malam itu, pembicaraan utama terpaksa tertunda sejenak.

***

            “Lu, ponselmu bunyi, tuh!”

Lao Gao berseru sambil melepas headphone yang tegak terpakai oleh lelaki duapuluh enam tahun itu. Sebagai manajer, ia tahu betul, lelaki itu masih akan terus nge-game jika tidak dipaksa berhenti. Aktivitasnya ketika sedang kosong seperti saat ini. Memang dasarnya Luhan tidak bisa diam kecuali kalau sudah terserang penyakit lamanya—apnea tidur.

“Duh, paling apa, sih,” gerutu Luhan sambil mem-pause game-nya.

“Nanti kau menyesal kalau tidak membacanya,” sahut Lao Gao tenang.

Dan, akhirnya Luhan memang terpaku beberapa detik. Manajernya itu hanya tersenyum kecil melihatnya, tahu betul kalau pesan itu dari seseorang yang sempat dirindui Luhan. Sekian detik setelahnya, Luhan sudah melesat meninggalkan laptopnya, memilih membacanya di lain tempat. Sendirian. Dan, Lao Gao tahu, ini berarti ia mendapat keuntungan ganda untuk memopoli si laptop. Ia nyengir lebar.

 

Annyeong, Hyung.

Apa kabar? Dengar tidak, tentang comeback kami dengan album baru? Album penuh, bukan mini album seperti Overdose. Aku dengar tentang lagu-lagu Hyung juga variety show pribadi itu. Apa judulnya? “Hey, Are You Luhan?”, ya? Berharap kesuksesan untuk kita semua, Hyung. Satu lagi, kapan bisa bertemu lagi? Rindu.

 

Hanya ada sekitar tiga member yang masih aktif mengirim pesan padanya sesudah kepergiannya waktu itu. Dan mereka adalah Lay, Suho, serta Xiumin. Suho yang kelihatannya paling tidak respek justru paling sering menanyakan kabar dan menonton video musiknya. Namun, pesan ini bukan dari ketiganya.

Pesan ini dari seseorang yang Luhan cari ketika landing di Korea Selatan beberapa bulan yang lalu, yang ia tidak berani ketikkan pesan atau sekadar tanya kabar, hanya karena rasa bersalah yang masih menggerogoti hatinya. Dia adalah seseorang yang matanya kosong ketika mendapati grup menyisakan sembilan orang. Orang yang menggenggam erat-erat tangannya di stage terakhir, seolah berbisik, “Jangan pergi, kumohon.”

Orang yang terisak di pelukannya ketika ia memutuskan memang harus pergi selamanya.

 

Se…hun?

 

            Ia hanya mampu mengetik itu saja, dengan aksara hangeul yang tersedia di ponselnya untuk berbagai keperluan. Dan, Luhan membeku menerima jawabannya. Hanya tiga kata, tapi mampu membangkitkan segala kenangan lawas yang ia kubur lekat-lekat.

 

Iya, ini aku.

***

            Tao hampir lupa ia punya handphone. Selama ini, apa-apa diurusi oleh agensinya, segala kontrak dan tetek bengeknya. Ia hanya tinggal berangkat, bersiap-siap, bercakap dengan lawan main di video musiknya, kemudian melakukan take. Semuanya lancar seperti air yang mengalir deras.

Tapi, tidak banyak yang tahu, bahwa selama ini ia mengalami pergulatan batin. Di sela-sela kecemerlangan karier yang terlihat bagai bintang berpijar, ia memendam penyesalan yang dalam. Bukan menyesal karena memilih menuruti sang ayah dan berkarier di L.A alih-alih di Tiongkok, tapi lebih kepada menyesal harus meninggalkan Korea Selatan dengan segala macam drama busuk itu.

Di mata fans internasional EXO, ia pasti seakan merangkak-rangkak seperti ulat kehilangan kaki. Di mata K-fans, ia seperti pecundang yang akhirnya meraih popularitas hanya karena uang dan harta kekayaan. Hanya karena kebetulan punya relasi. Ia punya banyak sekali haters, kadang terasa tak sebanding dengan fans-nya. Di saat-saat terpuruk dengan eksistensi diri sendiri, Tao selalu teringat ucapan Baekhyun dulu.

            “Memang kaubisa apa, Tao-ya? Kalau hanya mengandalkan dance dan vokalmu yang payah, kau tidak akan laku di dunia hiburan luar! Selama ini, siapa juga yang membiayaimu? Agensi ini, ‘kan?!”

Kata-kata itu seringkali terngiang di malamnya yang dingin, dan membuatnya berakhir mengumpati Baekhyun yang kepalang sinis waktu itu. Tapi, menit selanjutnya, ia tahu sebagian kecil ini juga salahnya sendiri mengambil keputusan terlalu dini. Salahnya sendiri terlalu mengobral janji sampai berucap hal-hal seperti “will never leave the stage”. Salahnya sendiri men-judge Kris sebagai pengkhianat. Salahnya. Salahnya.

 

Tring.

 

Ponsel yang acapkali tak ia akui keberadaannya—bahkan sempat hilang beberapa hari dan ternyata ada di saku celananya yang digantung—berbunyi. Menandakan pesan masuk melalui aplikasi chat yang ia unduh sejak lama. Tanpa banyak kata, ia membuka kuncinya. Terenyak ketika mendapati nama yang muncul di sana.

Nama yang bolak-balik menyapa ruang chat, namun tak pernah ia balasi pesannya. Nama yang masih setia bertanya mengenai kabarnya, seakan tidak punya dendam apa-apa atas keputusan kekanakan yang dulu ia ambil. Nama yang selalu bilang semuanya akan baik-baik saja, dan menganggap dirinya baik-baik saja meski dimonopoli agensi.

Kali ini, dengan menegarkan hati, dibukanya pesan itu, yang jelas langsung membuat tanda “read” di ponsel si pengirim. Si pengirim yang ada di belahan bumi bagian sana langsung tersenyum penuh syukur melihatnya.

 

Tao-ya, apa kabar? Kuharap selalu baik-baik saja. Dengar tidak tentang comeback kami? Aku dengar tentangmu yang sudah sampai berduet dengan Wiz Khalifa. Semoga selalu sukses, ya. Dan, semoga kita bisa bertemu lagi, suatu hari nanti.

 

Jemari Tao gemetar mengetikkan jawabannya. Singkat, mewakili hatinya yang tersentuh dengan pesan-pesan yang penuh tanpa balasan apa pun. Dan, balasannya kali ini berhasil membuat si pengirim mengucap syukur untuk kali kedua.

 

Yixing-Ge, aku sungguh merindukan kalian. Kalian semua.

***

“Lay Hyung,” Kai mendekat ketika mengucapkannya, membuat gerakan Lay memotong-motong pizza jadi terhenti. Dua kotak pizza ini akan dimakan bersama-sama sambil menonton video musik yang akan dirilis pada pukul dua belas malam ini.

“Ya?” sahut Lay. Menyempatkan tersenyum kemudian melanjutkan kegiatannya. Meletakkan pizza yang telah tercerabut dari kotak di piring. Supaya tidak rebutan, Lay pikir akan lebih baik kalau setiap member dapat porsinya masing-masing. Meski tidak menutup kemungkinan Baekhyun dan Chanyeol akan saling ambil topping, atau Xiumin masih lapar dan minta setengah jatah Chen.

“Maksudnya Hyung kemarin apa, sih?”

Lay berhenti, mengerutkan kening. “Maksud yang mana?”

“Yang Hyung bilang kemarin. Memaafkan apa? Siapa? Apa ada member yang membuat masalah baru?” tanya Kai berturut-turut. Rupanya dia belum lupa soal itu.

“Suho yang akan membicarakannya nanti. Kau tunggu saja, ya.”

“Hei, apakah makanannya sudah siap?” Kyungsoo mendekat, dan pembicaraan mereka buyar.

“Sudah, kok. Aku tadi dapat satu porsi duluan,” sahut Kai, berniat menggoda.

“Dasar curang. Kalau begitu kau hanya dapat setengah porsi setelah ini.”

Ya! Perutku itu muat banyak, kalau makan dua saja kurang, Hyung. Aku bisa habis satu kotak, loh!”

“Beli saja sendiri sana.” Kyungsoo sudah mengusung piring-piring yang ditata Lay, sementara Kai tertawa-tawa di belakangnya. Lay hanya geleng-geleng kepala melihatnya.

Setelah selesai meletakkan pizza ke piring-piring, diperiksanya ponsel. Tapi, yang ia temui malah ponsel Chen yang berbunyi. Layarnya menyala, menampakkan satu pesan. Ekspresi Lay berubah ketika membaca nama pengirimnya. Orang yang pertama kali mengundurkan diri, seakan membuat rantai perpecahan sedari awal. Orang yang dihujat mentah-mentah namun tetap bisu dalam gemingnya.

 

Aku juga ingin bertemu kalian untuk minta maaf. Sekali saja.

 

Membaca isi pesannya, Lay tersenyum lega. Entah ke mana lagi grup ini akan dibawa, ia ikuti, asalkan dendam dan permusuhan itu berakhir. Ia tidak tahu seperti apa nasibnya di grup ini, tapi apa pun yang terjadi, apa pun yang nantinya terjadi, ia tahu semua bukan atas kehendak penuh perseorangan. Pasti ada campur tangan agensi dan orang eksternal. Dan, satu pernyataan Suho malam ini akan meminimalisir terjadinya konflik internal apabila memang cobaan menghadang lagi setelah ini.

Bukankah tidak ada yang bisa memprediksi masa depan?

***

            Video musik selesai terputar. Baekhyun masih tertawa terpingkal-pingkal karena Kai yang berjoget sendirian di tengah ruangan di lagu ‘Lucky One’. Sementara Suho masih kesal karena mukanya tidak bisa terlihat segarang Baekhyun di video musik ‘Monster’, padahal ia sudah berusaha keras.

Malam beranjak pergi, menjadi dini hari. Sudah pukul dua ketika masing-masing member sudah akan beranjak dan izin mengistirahatkan diri. Namun, atas isyarat Lay, Suho menahan kesemuanya.

“Aku mau membicarakan sesuatu.”

Serta-merta semua anggota duduk lagi. Sehun memilih tidur-tiduran di lantai dengan Kai, sementara hyung-hyung mereka masih duduk di sofa dan di lantai. Suho berdeham sejenak, kemudian menghela napas sebelum memulai ucapannya.

“Sudah berlalu agak lama sejak kita menjadi grup beranggotakan sembilan orang, bukan duabelas lagi. Yah, terlepas dari fans yang masih selalu menganggap kita satu dengan duabelas anggota,” mulainya perlahan.

Mendengar permulaan yang dibahas, Kai dan Sehun pelan-pelan mengangkat tubuhnya dari lantai, bersiap mendengarkan dengan lebih serius.

“Sembilan juga bukan jumlah yang sedikit. Kita tetap banyak. Maka dari itu, harus meningkatkan rasa saling pengertian supaya tetap terjalin keakraban di antara kita. Keakraban itu bukan hanya diharapkan fans dari kita bersembilan, tapi juga dari semuanya. Berduabelas.”

“Tapi, Hyung,” Baekhyun sudah siap-siap memotong ketika Chanyeol menyela, “Dengarkan dulu, Baek. Nanti ada waktunya kau bicara.” Tumben juga dia bisa bersikap bijak; mungkin tadi itu alterego-nya.

“Aku tidak mungkin bisa mengembalikan kita utuh seperti dulu lagi, untuk fans. Karena sedikit banyak, keluarnya tiga orang member itu dipengaruhi oleh keputusan agensi,” sambung Suho. Ia berhenti untuk mendapati bahwa beberapa pasang mata agak terkejut, dan sisanya hanya mengembuskan napas kasar atas kenangan yang terburai ke permukaan. Kemudian, ia melanjutkan, “Manajer yang memberitahuku, bahwa kontrak Luhan dan Kris sebetulnya sudah habis. Sementara untuk Tao, kemungkinan agensi mendukung keputusannya untuk keluar lebih karena susah mempertahankan member yang berasal dari luar negeri. Ini permainan agensi. Monopoli mereka adalah kita.”

Ekspresi terenyak membingkai wajah beberapa member, namun Suho harus tetap melanjutkan tutur katanya.

“Maka dari itu, bukankah akan sangat bodoh jika kita termakan hasutan agensi? Kita bukanlah fans yang labil dan mudah tergoyahkan. Kita paham dinamika dunia entertainment sekarang, bukan lagi bocah baru debut yang gampang diiming-imingi popularitas dan kekayaan. Pastinya, tidak ada gunanya kita membenci mereka. Justru menumpuki beban di hati kita karena ternyata mereka yang keluar bisa lebih tenar dibanding kita sendiri. Mereka bisa mendapat penghargaan-penghargaan, mendaki tangga kepopuleran dengan usaha masing-masing.”

“Dan, faktanya, mereka merindukan kita juga,” kali ini Lay yang menyahut. Tidak tahan lagi. “Aku sebagai satu-satunya member asli Tiongkok yang tersisa, selalu menanggung beban itu bersama mereka yang keluar. Kalian tidak merasakan judge yang menyakitkan itu, mengatakan bahwa sebaiknya agensi tidak pernah merekrut orang-orang sepertiku. Padahal, mereka tidak tahu bahwa kenyataannya agensi yang terlalu pandai membuat cerita juga adalah duri di dalam daging. Itu bukan salah Kris, Luhan, atau Tao.”

Suho diam.

“Dan, kalian harus tahu, kalau keegoisan kita sudah dimulai sejak Luhan dan Kris keluar dari grup. Seakan-akan grup ini hanya alat untuk mencari uang, bukan lagi untuk menjalin pertemanan. Kalian mengacuhkan Tao, kalian sadar tidak? Dia memilih keluar bukan hanya karena ayahnya atau apalah itu, tapi juga karena tidak nyaman lagi dengan kita waktu itu.”

Kyungsoo menghela napas panjang, sebelum andil bicara, “Lantas, bagaimana kita memperbaiki semuanya? Mungkin, aku juga salah satu yang terlalu abai dengan persoalan pertemanan di grup ini. Maaf.”

“A-aku juga. Mungkin, Tao tidak nyaman dengan kata-kataku yang terlalu jahat kedengarannya saat mendengar rencananya untuk keluar. Aku tidak memikirkan efeknya,” timpal Baekhyun. Matanya menerawang, sedikit-banyak merasa bersalah jua.

Satu per satu mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sampai akhirnya Suho menengahi dengan berbicara lagi.

“Kita bisa memperbaikinya. Kita bisa bertemu lagi dengan merencanakan waktunya. Mungkin setelah promosi album selesai? Kapan pun itu, asalkan kita sudah selesai membersihkan hati dari dengki dan permusuhan waktu itu. Sehingga tidak ada beban apa pun, tidak ada intrik apa pun saat kita bertatap muka dengan mereka lagi.”

Pembicaraan dini hari itu selesai pukul tiga. Masing-masing kepala dipenuhi kesimpulan-kesimpulan dan penyesalan. Masing-masing kepala akhirnya mengistirahatkan pikiran dan memilih jatuh tertidur dengan mimpi. Mimpi bahwa mereka tetap berduabelas, meski terpisah jarak. Karena tidak ada yang bisa menghancurkan EXO dan slogannya: We Are One.

***

            Kenangan-kenangan indah, lucu, konyol, hingga mengharukan yang mereka punyai di benak masing-masing akhirnya bisa menyatukan mereka lagi. Duabelas orang yang dulu seringkali dijuluki “alien buatan SME” bisa menapak ruangan yang sama, dengan ekspresi yang berbeda-beda.

Hyung!”

“Ya ampun, kau tambah tinggi, ya.”

“Ternyata lebih tampan dibanding kelihatannya, kalian semua.”

“Wah, botakmu licin sekali, ya, Ge.

Sehun harus memeluk Luhan selama sepuluh menit dengan air mata yang berlinang. Ada kerinduan yang akhirnya disusut oleh pelukan ini. Ada luka-luka lampau yang terobati ketika Luhan bilang, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” berulang kali.

Baekhyun harus berkali-kali minta maaf pada Tao hingga lelaki itu malu sendiri. Sementara yang lain bercanda-canda nonformal dengan Kris. Beberapa bahkan mencoba menyentuh kepalanya dan berkomentar macam-macam.

“Kapan itu bisa tumbuh rambut lagi, Ge?

Kris tertawa kecil sambil menjawab, “Terserah kepalaku saja, sih, mau kapan menumbuhkannya.” dengan santainya, dan member hanya melotot mendengarnya.

Tentunya, suasana meriah semakin terasa ketika makanan di restoran yang dipesan private itu datang satu per satu. Dan untuk lebih meramaikannya, Lay sudah menyiapkan paket nostalgia, berupa video-video ketika mereka masih bersama-sama. Mulai dari video musik album MAMA, XOXO, Growl, Miracle in December, sampai Overdose. Ditambah dengan kompilasi FMV dan video ketika mereka mengikuti variety show di Tiongkok maupun Korea Selatan.

Tawa-tawa tetap tercetak melegakan. Satu sama lain saling melempar canda dan melupakan apa pun yang telah terjadi di masa lalu.

Suho menutupnya dengan pidato panjang, membuat semuanya serentak menguap tanda bosan mendengarkannya.

“Intinya, kita sudah sepakat untuk melupakan semua masalah yang pernah terjadi di belakang. Tidak ada lagi dendam, permusuhan, apalagi kedengkian. Tidak ada lagi cap “pengkhianat” atau “pembohong”. Semuanya selesai. Kita tetap keluarga.”

Luhan menyela ucapan Lay, “Selebrasi, yuk.”

Melihat tangan Luhan ditelungkupkan di meja, mereka semua segera tahu maksudnya. Maisng-masing ikut meletakkan tangan di atas tangan di bawahnya. Kemudian, dalam sedetik, mereka berseru, “We Are One! EXO, saranghaja!”

Dan, diam-diam, Luhan menahan air mata yang hampir meleleh di sudut matanya. Ia lihat Tao sudah menyusut air mata yang hampir keluar. Banyak sekali kebahagiaan melihat mereka semua lagi, dan ia tidak sanggup menanggungnya. Kenangan yang meluncur membentuk satu kekuatan utuh yang mereka yakin tak mampu diutak-atik agensi lagi. Karena pertemuan ini pun agensi tidak akan tahu. Mereka yakin.

“Aku berharap, kita bisa lebih sering saling menemui seperti ini. Dan, tentunya juga berkomunikasi terus,” ucap Tao, akhirnya.

Sesi reuni itu ditutup dengan foto bersama. Foto itu dicetak berkali-kali, sehingga masing-masing member mendapat setidaknya sepuluh lembar foto yang langsung saja dipajang di mana-mana: dompet, lemari, dipigura, sampai diselipkan di photobook album.

Hari itu akan jadi pembentuk kedewasaan masing-masing, sehingga apa pun yang terjadi di kemudian hari, mereka bukan lagi bocah labil seperti saat kali pertama debut.

 

—fin.

Author’s note:

  • Percayalah, ini part yang paling menguras emosi, meski ditulis hanya dalam waktu dua jam. Saya sangat terbayang apabila mereka betul saling memaafkan, dan saya yakin, mereka sebijak itu. Mereka bukan anak-anak lagi.
  • Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah menyempatkan membaca dan mengomentari (ataupun yang siders) serial Behind The Scene. Part ini menjadi tanda bahwa Behind The Scene telah selesai, dan saya telah sukses menjadi fans semua pihak dengan netral, sebagai penulis.
  • Maafkan semua kekurangan dalam riset atau apa pun. Belakangan, saya akhirnya berhasil mencintai EXO secara penuh lagi (and I’m an EXO-L now!!), mendengarkan musik mereka dengan baik tanpa memikirkan personal yang menyanyikannya. Terlepas dari segala masalah yang mereka hadapi, mereka itu talented dan layak disukai.
  • Terakhiiiir, apabila ke depannya ada kejutan yang lagi-lagi disiapkan agensi dari EXO ini, percayalah, kalau semua keputusan member selalu bergantung pada agensi. Jadi, jangan dengan mudahnya keluar fandom atau men-judge mereka secara personal. Karena, yah, itulah dunia entertainment di Korsel. Kalian cuma bisa manut aja sebagai Lastly, sampai jumpa di fiksi-fiksiku yang lainnya, love ya!

Jung Sangneul

31 thoughts on “[BEHIND THE SCENE] #8: Reconciliation”

  1. Wah ternyata seriesnya sudah selesai.
    Bener deh kebayang kalau mereka bener-bener ketemu dan apa yang kakak tulis ternyata nyata rasanya senang banget!

    Aku pun suka gaya nulisnya yang bener-bener buat aku terhayut dalam setiap rangkaian kata yang dibaca. Pokoknya suka!:3

    Suka

    1. Haii hvirus (eh gimana manggilnya ya hehe). Iyaa serialnya akhirnya selesai juga setelah dianggurin berbulan-bulan. Pastinya begitu, dan aku juga berharap mereka sudah saling memaafkan (meski mungkin enggak ketemu seperti disini, at least uda ngga dendam-dendaman lagi lah). Makasih udah menyempatkan baca dan komentar yaa❤

      Disukai oleh 1 orang

      1. Iya kak, tapi agak aneh juga ketika aku baru baca 1-3 lalu loncat kesini tp ttp seneng karena happy ending:3

        Btw, panggil tob aja^^

        Suka

      2. Soalnya keburu baca yang ini wkwk
        Dan… hais niswa! Aku tob, 98line:’))))))) /merasa sedih ternyata niswa lebih muda/ /tapi jangan manggil kak, plis/ :”””””)

        Suka

  2. Dan sekali lagi nangis luar biasa. Dalam hati aku percaya ini akan terjadi atau bahkan udah? Tiap hari aku juga percaya kalau mereka ber-12 akan kembali satu panggung sebagai EXO. Suka sedih lihat grup rookie kayak Seventeen yg membernya banyak gitu.
    Sakit juga kadang kalau ada yg bilang “ini bukan murni keluarga atau pertemanan. Berhenti jadi fans picik.” Karena beberapa boygroup Barat yg dulu aku sukai pun begitu. Hanya satu yg kembali utuh setelah personilnya keluar.
    Astaga kok malah curhat ya. Daebak..

    Suka

    1. Mudah-mudahan udah, kalaupun
      kronologinya tidak seperti yang aku
      paparkan. Aku jugaa, aku selalu percaya
      mereka masih utuh, orang yang bilang gitu
      sebenernya cuma udah capek berharap.
      Tapi kan ngga ada yg ga mungkin ((at least
      bagiku dan beberapa fans lain)). Makasih
      sudah baca dan komentar yaa ^^

      Suka

  3. well, ini bikin aku nangis bawang(deres sih sbnernya), jarang nemuin ff yang isinya gak ngejudge perihal keluarnya 3 gege itu. suka sama cara penulisanmu, dan lagi diselipin humor juga, aku lagi nangis tiba” dipaksa buat ketawa sama tingkah mereka. semoga mereka emang gak ada dendam satu sama lain, kasihan juga lihat berita tao baru” ini. tapi entah kapan bisa lihat mereka bareng lagi. semangat ya nulis ff lainnya. btw, sebenarnya baru aja lihat ff buatanmu ini, mau lanjut lihat series yang lainnya dulu ya..🙂

    Suka

    1. Haloo rannisaHan. bisa panggil apa ya? salam kenal, Niswa dari garis 99.

      First of all, makasih udah nyempetin baca tulisanku yang sok tau banget huhu dan secondly makasih udah komentar. Hehe iyaa karena aku benci judging (sumpah di-judge itu gaenak) so yeah, begitulah aku memperlakukan tiga mantan ini ehehe.

      Suka

  4. sebenernya nggak sengaja log in wp dan ngecek notif, terus inget ff ini pas partnya bang botak dan betapa semangatnya gue nebak tokoh ‘aku’ di situ. terus ngeklik deh, baca ulang deh, ngeklik nama author deh, nemu yang ini deh, dibaca deh, senyum2 dari awal sampe akhir deh, hehe…
    kenapa senyum? karena dari pas td baca ulang yg bang botak gue udah ngerasa plotnya bakal ke arah sini, walaupun gak semenye-menye bayanganku wkwkwk…
    kemudian gue berharap kalo sebenernya exo dan dbsk udah melakukan ini sebelumnya tanpa terendus media. i’m not an exo-l nor cassie, tp gue termasuk yg nikmatin karya mereka juga update info tentang mereka. bukan maksut apa-apa, tp mereka ya paling keren pas full team, bukan jalan sendiri2.
    GOD bisa kumpul lagi dan comeback after a long long time hiatus. sechskies juga akhirnya ttd kontrak sama YG. so gue yakin(atau meyakinkan diri sendiri, gue gatau), bukan gamungkin dbsk dan exo bisa gitu juga (walaupun kayaknya syusyah selama ada SM–“)

    *btw ini maap ini nyampah banget panjangnya._.

    Suka

    1. Haii shingichan :)) aku gatau kamu baca part 1 yang kris itu, apa mungkin kamu belum komen? karena aku nggak familiar dengan id-mu atau mungkin aku yang lupa hehe.
      Harapanku ga sejauh mereka bisa comeback dan berkarya bareng ko, cukup saling memaafkan aja uda kelar. soalnya cuma gara-gara agensi kehidupan pertemanan mereka ikut hancur berantakan, kan sayang banget ;-; Daan makasih udah nyempetin baca ini yaah, sama sekali nggak nyampah kok😉

      Suka

      1. gue ngomen kok, cuma emang itu ff terakhir yang gue komentarin, abis itu setaun lebih gapernah nyentuh akun wp ini, terus entah nasib ato gimana ini jadi ff pertama yang gue komen lagi wkwkwk…
        yaiyasih, mereka udah damai secara personal udah sujud syukurTT rasanya pengen nyumpahin agensinya, tapi sumber bias disitu semua TT xD

        Suka

  5. Niswaaaa……aku sepotttt.
    Minggu depan baru aku komen. Maafkan diriku..:D Aku gak mau baca sekilas doang. tapi ini keburu malam. hehe. Aku resapi dulu di rumah.🙂

    Suka

  6. Hai Niswa…..
    akhirnya Yue bisa duduk anteng sambil nulis komen ini. Tapi bingung mau ngomong apa.

    Pertama-tama, biarkan Yue memeluk Luhan selama sepuluh menit dengan air mata yang berlinang /kemudian digampar oleh Sehun/
    hahahaha.
    Kedua, komen ini ditulis tanpa air mata, karena nangisnya udah kemarin pas fanficnya tak download buat di baca di rumah.

    Yue seneng banget kamu tidak mengakhiri serial BTS ini dengan sad ending, Niswa, karena sudah cukuplah di dunia nyata saja EXO-L dibikin sedih, di dunia fanfic, gak pa2 dong kalo kita berdelusi dengan indahnya para member EXO berkumpul kembali.
    Wes, pokok e Yue lega. EXO sudah dewasa, kita para fansnya juga semakin dewasa dengan memaklumi bagaimana kehidupan dunia hiburan.
    Dan, Yue sangat menikmati alurnya. Rasanya semacam kayak baca drabble mix.
    lastly, BTS ini Canon terbaik yang pernah Yue baca. semoga kedepannya harapan terselubung (?) yang tertuang dalam seri terakhir BTS ini bisa terwujud.

    Keep writing, Niswa.🙂
    Karya2mu selalu kutunggu.🙂
    #ehmheyyouehmasihdigantung😄

    Suka

    1. Yampun kaaak pake nangis segala duh pukpukpuk.
      hihi iyaa semoga EXO memang betul berakhir seperti ini. Makasiih sudah baca dan komentar.

      Dan, hey you sudah berjalan lancar. Tinggal publish publish ajaa, siap-siap baca serial panjang-panjang yah! hehehehehe.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Huaaaa…..beneran udah siap di publish???? Yeeeyyy……
        Gak pa2 panjang2, Nis. Yue suka kok baca cerita yang panjangnya gak ketulungan. hahahahaha.

        Suka

  7. hi niswa
    ffnya bagus, sebenernya aku bacanya langsung yang ini tanpa baca yang sebelumnya tapi tetep ya ‘kerasa’
    well bisa dibilang aku ga terlalu ngebias exo, cuman ya kalo ada lagu yang suka ya didenger *ga ada yang tanya
    pas baca ff ini entah kenapa langsung keinget sama bias, aku cassie ot5 dan sumpah pas baca ini nyeseknya bukan main
    kita tau ‘sedikit’ gimana dunia entertaiment di sana
    skandal artis dibuat untuk nutupin skalndal pemerintah dan
    kalo ada grub yang ‘pecah’ jangan pernah percaya apa yang kalian denger di awal-awal | kita ga pernah tau, bisa jadi itu hanya skrip agensi semata |
    heh kok malah curhat ya, mian mian. lagi baper nih
    btw ff-mu keren saeng | aku 98′ line

    Suka

    1. Hai Kak Yose, makasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. Waah cassie ya? iya sama-sama 3 yang keluar yah, dan lebih nyesek karena sisanya exo msh banyak sedangkan dbsk… ah yasudahlah.
      Iya di sini aku juga menjabarkan hal seperti yg kakak katakan di chapter2 awal. Jadi semua yg dilakukan mereka itu skrip manajemen. Hihi ngga papa kok curhat dan baper juga. salam kenal ya kaak, Niswa 99line🙂

      Suka

      1. hahaha tinggal 2 dan itupun ya sudahlah…
        yang terbaik aja deh buat exo
        harapan semua fans ‘korban’ sm.ent. : ” seenggaknya mereka ketemuan dan masih temenan di luar sana ”
        salam kenal juga niswa

        Suka

  8. dedeeeeeeekkk..tanggung jawab aku nangis 😭😭😭😭
    Ini ngena ngt secara aku tuh tetep nganggep mereka berduabelaz. Omaygat.. aku mewek bombay.. boleh di reblog ga sih? Aduh post juga dong di oa aku dek.. plis ini mah parah.. tanggungjwab kmu 😭😭😭
    Syedih gila.. aku bisa bayangin haru birunya saat mereka ketemuan gitu 😭😭😭 aigo..kusyedih

    Makacih ya dek setidaknya ini vitamin buat exo-l macem aku 😚😚😚 lope lope buat niswa

    Suka

    1. Halo kakdelssss. Boleeeh boleh banget di-reblog atau post di mkf (tapi ini 3080 kata kalo gasalah, cukup ga? kalo ga cukup ya reblog doang bisanya ehe). Kita sama kaak, aku juga masih anggep mereka berduabelas :””)

      makasihh udah baca dan berkenan meninggalkan jejak ya kaaak❤ nomu nomu sarangheyo :*

      Suka

  9. SUMPAH. FANFIC TERDAEBAK YANG PERNAH GUA BACA. GAK ADA FF SEBAPER INIII. AUTHOR BERHASIL BAWA KITA KE BAPERNYA EXO. DAN KEREN BANGETTTT. GAK ADA KURANGNYAAAAA. AUTHOR BERHASIL BUAT GUA NANGISSS.

    Suka

  10. KA NISWA AKU GAKUAT LIAT FF INI KA TOLONG AKU KA :’ KAKA BERHASIL MEMBAWA READERS NANGIS GULING GULING GAJELAS KA :” AKU MASIH NGANGGEP MEREKA 12 ORANG SELAMANYA :’ KENAPA AKU KEBAYANG BENERAN KLO MEREKA KETEMU KAYA GINI :” ASTAGA FFNYA BAPER POKOKNYA :” GOMAWO KARENA TELAH MEMBUAT DIRIKU NANGIS GULING GULING :’

    *CAPSLOOK JEBOL* LANJUT TERUS KA NISWA KARYANYA.

    Suka

    1. Haloo anjeli salam kenal yaa🙂
      Hehe iyaah kita exo-l #12squad yah hehehe. silakan dibayangin tapi bapernya jan lama-lama yha. life must go on wkwk. Makasih udah baca dan berkomentar❤

      Suka

  11. Aaahhhh gimana dong airmata aku belum berhenti TT… keren thor. Aku suka ff nya.. menguras emosi. TT
    Sekiann aku mau lanjt baper hikss
    Sukses terus buat authornya!!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s