[Oneshot] Stalker of Granite Gang

[FFPOST] Stalker of Granite Gang

elfxotic12152  present

a horror movie with Ravi Kim of VIXX starring
many english speaking idols

Horror, Thriller, a glimpse of!Sport |  Oneshot (3.661Ws) | Teen

.

Selasa, 17 November, 14:13

“Hey, hey, hey, guys. Kalian tahu si bau sampah itu kan?”
“Kenapa dia?”
“Kalian harus tahu. Oh my God, kemarin dia memang mengorek-ngorek sampah!”
Ew, menjijikan.”

“GONGCHAN, GONGCHAN, AMBIL BOLANYA!”
“Bola diambil oleh Gongchan dari tim merah, dia berlari menuju post tiga, kemudian empat, kemudian—DASAR, BODOH! Mengapa embernya kautendang? Kau yang bereskan airnya.”

Di antara semua hiruk-pikuk itu, Ravi hanya diam, dan bergumam pelan mengikuti alunan nada yang keluar lewat earphone-nya. Ia bukannya masa bodoh—dia cuman menghemat energi, kok. Pasalnya pukul lima tepat setelah sekolah berakhir nanti, akan ada pertandingan dengan tim dari Sekolah Grossmont atau apalah itu. Juga, dia tidak ingin sekolah mereka kalah dengan cabang sekolah yang masih dalam satu naungan itu. Jika mereka kalah lagi, entah sudah untuk ke berapa kalinya mereka kalah dari Grossmont.

Wonshik, atau yang di sekolah barunya ini lebih sering disapa Ravi, sebenarnya belum berapa lama menjadi salah satu siswa Granite Hills. Tapi baru beberapa hari sesudah kehadirannya di sana, sang pelatih tim futbol mereka, Mr. Beasley, sadar sekali laki-laki itu patut diikutkan ke dalam tim sekolah mereka secepat mungkin. Maka hanya berselang beberapa hari sesudah keikut sertaannya dalam permainan percobaannya, Ravi sudah menerima loker pribadi untuknya di dalam ruang tunggu tim  dengan seragam futbol bertuliskan ‘RAVI K.’ di bagian belakangnya.

Karena ekspetasi tinggi telah diterimanya, maka tidak ada salahnya ia berusaha sebaik mungkin untuk permainan serius pertamanya. Ia tahu ia bisa mengandalkan Aron, tapi ia juga tidak bisa hanya terus-menerus mengumpan untuk teman setimnya itu. Ia juga harus bersinar.

***

Selasa, 17 November, 18:18

“Ravi, hey, Ravi.” Dari belakangnya, Ravi mendengar suara Peniel memanggil namanya agak keras, khawatir tidak terdengar lantaran anggota tim lainnya bersorak keras-keras. Tahu lah, jika tim baru saja memenangkan pertandingan apapun, tidak peduli sekecil atau sebesar apapun, pasti perayaannya besar.

“Ya?”

Sudah ada Peniel yang menatapnya dari bingkai pintu masuk ruang tunggu Tim Granite Gang. Quarterback andalan timnya itu tidak langsung menyampaikan alasannya memanggil salah satu junior itu, tetapi malah menyuruh Ravi mengganti pakaiannya, sementara dirinya sendiri menuju salah satu bangku kayu, dan duduk di titik yang paling dekat dengan lokernya. Ia hanya berujar bahwa ia ingin bicara berdua saja.

“Hey,” panggilnya lagi saat sedang menaruh helmnya kembali di lokernya, dan melepas shoulder pads yang masih dikenakan. Ravi heran juga—dari tadi seniornya melakukan apa saja, hingga ruang ganti sudah sepi begini ia baru mulai menanggalkan pengamannya?

“Ya?” Ravi mengalihkan perhatiannya dari keringat yang masih melumuri seluruh tubuhnya.

“Lemparanmu tadi, pada babak kedua, terlalu kuat. Hampir terlepas dari tangan Aron—kau lihat juga, ‘kan? Dan saat Mark memberimu dari garis tengah, seharusnya kau menuju bagian tengah saja langsung—Mark tahu cara melempar ke bagian tengah. Mengerti?”

Ravi menatap dadanya yang telanjang, malu lantaran tidak tahu hal sesederhana itu, juga karena telah meremehkan kemampuan bermain temannya. “Ya,” ia hanya berujar pelan.

“Tapi, kau cukup bagus hari ini. Empat minggu lagi ada games dengan Diego Valley, jadi kau jangan lupa rajin-rajin berlatih. Kau mau, ‘kan, dimainkan lagi?”

“Ya, terima kasih.”

Ravi menuju bagian shower, dimana kemudian ia membilas seluruh bagian tubuhnya. Air panas yang mengucur deras dari pancuran di atasnya, kemudian menyentuh kulitnya. Kasar rasanya, tapi kemudian, pelan-pelan Ravi jadi menikmati itu. Lama ia menikmati mandinya, hingga ia mendengar suara loker dibanting keras-keras.

“Peniel?” ia berteriak agak keras agar deru air tidak mengalahkan suaranya. Ia juga tidak yakin, apakah teriakannya yang kurang keras, atau Peniel yang tidak dengar, karena tidak ada sahutan yang terdengar setelah Ravi menunggu dua menit. Setelah tidak lagi tertarik mendengar jawaban dari siapapun di luar sana, ia melanjutkan mandinya.

Kakinya melangkah ringan keluar dari area mandi, sementara handuk ia usap-usapkan di atas rambut biru langitnya, berusaha membuatnya kering. Setelah mendongak dan penglihatannya menyapu seluruh ruang tunggu, ia tidak terkejut di sini hanya ada dirinya saja. Jadi, ia lekas menuju lokernya dan mengganti pakaiannya—ia sudah ditunggu oleh rekan timnya di pesta.

Ia membuka loker, mencari pakaian yang seharusnya sudah ada di luar—seingatnya satu stel pakaian kasual itu sudah ia taruh di bangku sebelum ia mandi. Tapi nyatanya ia menemukan pakaiannya di dalam lokernya—ia juga menemukan note kecil.

Aku akan memilikimu, Wonshik.

Begitu yang Ravi baca dari tulisan di atas kertas kecil itu. Ah, pikirnya, paling hanya fans yang tadi menonton pertandingan. Atau mungkin senior yang tidak suka aku masuk tim.

Lekas ia taruh note itu di atas bangku di belakangnya. Setelah ia menaruh pakaiannya bersama note itu, ia berniat membereskan lokernya sedikit. Dengan jelas, terlihat di hadapannya seragam futbol dengan nama ‘RAVI K.’ tercetak besar-besar di bagian belakang seragam itu. Dengan tidak sadar, ia sedikit tersenyum lantaran rasa bangga menyelusup.

Tunggu dulu.

Lalu ia berbalik dengan wajah bingung, dan mencari-cari note tadi dengan gusar.

Kenapa ada yang tahu nama Koreaku?

Wajar saja dirinya bingung. Dari sejak ia memperkenalkan dirinya di depan kelas pada hari pertamanya, hingga hari ini, tidak pernah sedikitpun ia membicarakan nama ‘Wonshik’-nya. Jadi siapa yang menulis ini?

Ah, biar. Paling ada yang mengintip berkasku di kantor guru.

Dengan sedikit terburu-buru, ia berpakaian, dan membereskan seluruh perlengkapannya, lalu mematikan lampu-lampu. Ia menenteng skateboard dan ranselnya, sementara ia menyambar kunci yang ada di atas konter dengan tangan kiri. Ia memang sadar ia harus bertanggung jawab atas ruang tunggu, karena ia yang paling terakhir keluar dari sana. Jadi ia dengan hati-hati mengunci pintu ruang tunggu itu, dan mengeceknya beberapa kali hingga yakin, dan meninggalkan ruang tunggu itu.

Tapi, yang ia tidak sadari adalah, dari dalam ada yang menyalakan lampu-lampunya lagi.

***

Rabu, 18 November, 01:13

Ravi sejujurnya tidak terlalu berpartisipasi dalam pesta yang baru saja ia datangi. Ia cukup datang, memesan semangkuk mac and cheese, juga sebotol alkohol—ia sudah bukan anak di bawah umur—dan menonton teman-temannya bercumbu dengan kekasih masing-masing. Selebihnya, ia cukup memasang earphone di kedua belah telinganya, dan mendengar lagu apapun yang diputar oleh stasiun radio kesukaannya.

Ketika lagu remix milik Cavalier sedang diputar, teman-temannya memutuskan untuk mengakhiri kegiatan mereka, dan pulang. Tapi tidak dengan Ravi. Ia memang keluar dari bar itu, tapi ia menuju sekolah lagi—kunci rumahnya tertinggal. Sebagai satu-satunya yang akan tidur di rumahnya untuk malam ini, ia harus kembali mengambil kuncinya yang tertinggal.

“Siapa yang menyalakan lampunya?” gumamnya untuk diri sendiri ketika pintu ruang tunggu sudah terbuka lagi. Padahal ia sudah mematikan lampunya sebelum keluar. Ah, tapi toh ia ke sini bukan untuk mempermasalahkan lampu yang belum mati—ia harus mencari kuncinya.

Ia mencari di bawah bangku-bangku, di dekat lokernya, di atas konter—kalau-kalau ia menjatuhkan kuncinya saat mengambil kunci pintu ruang tunggu—juga di dekat area mandi. Ia tidak menemukannya dimanapun hingga ia membuka lokernya, dan menemukan barang yang ia cari persis di depan wajahnya. Di samping kunci itu, ia juga menemukan note kecil—lagi.

Aku sudah menemukanmu, Wonshik. HIHIHIHIHI

Tidak bisa dipungkiri, Ravi sedikit merinding membaca lima ‘hi’ di akhir pesan aneh itu. Tapi, lagi-lagi ia tidak acuh. Ia malah langsung mengunci lokernya, lantas mengantungi dua kunci—kunci lokernya, dan kunci rumah—dan menggenggam kunci ruang tunggu. Kemudian, ia berjalan ke bagian belakang—dekat toilet—untuk mematikan lampu-lampu yang masih menyala.

Tetapi, saat jaraknya dan saklar lampu hanya tinggal lima langkah, lampu-lampu yang menerangi area mandi dan toilet mati dengan sendirinya. Bagus kalau begitu, pikirnya, aku tidak usah repot-repot mematikan lampu. Kemudian, ia langsung menuju pintu keluar, dan mengambil skateboard serta ranselnya yang ia letakkan di dekat pintu keluar.

Ia pikir ia bisa langsung pulang dan tidur untuk enam jam ke depan, dan langsung pergi sekolah—mungkin akan agak telat, karena malam ini ia minum banyak sekali alkohol. Nyatanya, begitu ia hampir melangkah keluar dari ruang tunggu, lampu-lampu yang tadinya ingin ia matikan, menyala lagi.

God, apa lagi, sih.

Ketika ia mulai melangkah lagi menuju saklar yang sekarang tahu-tahu menjadi musuhnya, lampu-lampu di atas kepalanya padam lagi secara tiba-tiba.

Tuh, ‘kan. Masa bodoh lah.

Wonshik.”

Huh?

Ravi baru saja mendengar nama Koreanya disebut di negara asing ini oleh seorang gadis—sepertinya, sih, gadis dinilai dari suaranya—sedangkan mereka berada di ruang tunggu yang seharusnya hanya untuk pria. Wajar saja ‘huh’ kecil adalah hal pertama yang ia pikirkan. Kemudian, setelah ia bisa mengumpulkan akalnya, “Ada orang?”

BRUKBRUK

Bukannya suara yang menjawabnya, bunyi yang Ravi dengar adalah pintu di banting hingga terbuka—atau tertutup—keras-keras. Ia melangkah untuk memasuki lorong toilet, hanya untuk melihat bahwa tujuh pintu toilet telah diukir—atau lebih tepatnya dirusak—sedemikian rupa hingga di tiap pintu terdapat satu huruf, yang jika dibaca secara utuh, akan menyebut namanya. Wonshik.

What the… Ok, seriously, kau membenciku atau apa?” Ravi mulai tidak sabar. Ia belum juga genap satu semester berada di sekolah ini, dan sudah ada yang menerornya? Sangat tidak indah.

Ia melangkah menuju area loker lagi, dan merasa jengkel ketika menemukan fakta bahwa ia benar-benar sendiri di situ. “Oh, ayolah, kau sebegitu pengecutnya, hingga dengan junior tidak berani?” katanya, mencoba untuk menyulut kemarahan si bully, hingga mungkin saja ia ingin menunjukkan wajahnya.

Wonshik.”

“Ayolah. Sekarang kau berpura-pura jadi seorang gadis. Sempurna sekali.”

Ia bertambah kesal hanya karena tidak ada tanda-tanda bahwa ia dengan seseorang di sini. Tapi kekesalannya tidak bertahan. Karena tidak lama kemudian,  jawaban datang. “Aku memang perempuan, tampan. HIHIHI.”

Lagi-lagi Ravi merinding mendengarnya. Ketika akhirnya ia memutuskan untuk keluar, dan menyelesaikan persoalan pintu-pintu toilet itu besok pagi, pintu keluar sudah tertutup rapat-rapat, juga terkunci. Padahal, ‘kan, ia yang memegang kunci. Siapa?

WHUSH

Ravi mendengar ada yang berlari di antara loker-loker. Karena itu, ia beranjak untuk melihat apakah ia benar sendirian atau tidak. Ia memang sendirian, tapi ada sesuatu yang menggenang di lorong loker keempat. Dirinya tidak yakin, apakah ia harus lari, memaksa pintu agar terbuka, dan langsung pulang, atau melihat apakah hal aneh yang ia lihat di depan matanya itu. Toh, akhirnya pilihan-pilihan itu tidak penting, karena ia lebih memilih untuk memuaskan rasa ingin tahunya.

Ia mendekati genangan kehitaman di depannya. Masih tidak jelas juga hal apakah itu, hingga jaraknya hanya tinggal setengah meter. Amis, pikir Ravi. Begitu ia sentuh, substansi yang ternyata tergolong  likuida itu terasa sangat kental, hampir seperti madu. Ini pasti darah.

Yang ia tidak habis pikir, darah sebanyak ini dari mana asalnya?

Saat ia angkat kepalanya, ia dapat melihat tidak hanya di depannya saja ada darah. Banyak tetesan darah di hadapannya, yang jejaknya menuju lorong kelima area loker. Ravi tidak biasanya ditemani perasaan penasaran seperti ini, tapi kali ini sepertinya ia cukup penasaran untuk menengok sebentar apa yang menyebabkan genangan, dan jejak darah ini.

Ia melangkah hati-hati, takut jika memang ada sesuatu di balik loker. Ketika ia dapat melihat semuanya dengan jelas, tidak ada makhluk hidup apapun yang mungkin menyebabkan darah menggenang sebegitu banyak. Tapi ada sesuatu berbentuk tangan tanpa ada sambungan menuju lengan. Bukan hanya itu, ada onggokan benda yang ia sendiri tidak yakin itu apa. Dengan sangat diam-diam, ia mendekati dua benda itu.

Itu memang tangan. Setelah Ravi cukup dekat dengan objek pertama yang ia kira tangan, ia sangat yakin itu memang tangan. Jika baru beberapa detik yang lalu ia pikir, ah, hanya properti saja, ia tidak begitu yakin tentang asumsinya sekarang. Tangan itu terlihat sangat realistis. Tidak terlihat cukup natural hanya karena tangan itu terpotong di bagian pergelangan, sedang ia sendiri baru pertama kali melihat tangan terpisah dari bagian tubuh lainnya.

Puas mengamati lekuk tangan-yang-entah-asli-atau-palsu di hadapannya, Ravi mendongak, menatap ke arah objek yang satu lagi. Hal itu agak sedikit bulat bentuknya, dengan banyak serabut panjang di bagian yang menghadap ke arah Ravi. Ia juga masih tidak yakin apakah itu lantaran berada di bawah bayang-bayang loker yang menjulang tinggi.

Sedetik setelah kulit tangannya dapat meraba serabut  yang menyelubungi benda berbentuk bola itu, ia terkesima. Rambut? Tapi, pikirnya, mana bisa ada rambut ditempelkan di bola seperti ini. Paling Aron hanya iseng. Si brengsek itu, memang, ya.

Ravi tertawa dalam hati untuk beberapa saat. Lalu berpikir tentang hal aneh.

Kalau di film horror, kan, biasanya ada kepala yang lepas dari lehernya. Jangan-jangan…

Kelewat cepat, Ravi membalik bola itu, memastikan ada apa di bagian lain yang tidak menghadap dirinya. Yang ia lihat membuatnya terjengkang—bayangan wajahnya tahu-tahu saja ada di bola yang ternyata cermin itu.

Hanya cermin ternyata, pikirnya setengah lega. Jadi, benar-benar hanya Aron ternyata.

Tangannya bergerak, hendak mengangkat cermin itu. Saat sedang sibuk mengawasi pantulan dirinya, tiba-tiba sesuatu yang aneh terlihat. Ravi sendiri tidak yakin apa yang dilihatnya. Tampaknya ada seseorang di belakangnya yang—

Apa yang—

—sedang sibuk menjilati pipi kirinya.

Ew!” Ia menjerit dan mengusap pipi kirinya dengan jijik.

Tapi… tidak ada apa-apa.

“Apaan, sih? Bagaimana cara Aron—,”

Bukan Aron, tampan.”

‘Hah’ cepat Ravi lontarkan, sementara kepalanya menengok cepat-cepat mencoba menatap cermin di tangannya. Seakan semua omong kosong itu belum cukup untuknya, ada pantulan gadis yang tadi menjilatinya, sedang mencoba merobek kaus tipis yang ia kenakan dengan giginya. Gigi-gigi itu tampak tajam, dan tidak normal untuk manusia.

“PERGI KAU! PERGI!” Ravi mendorong-dorong udara kosong di dekat pundak kirinya dengan perasaan takut yang amat sangat menggantung di pikirannya. Ia tahu menghempas brutal tanpa arah seperti itu tidak ada gunanya—tapi mau apa lagi?

Ravi tidak tahu sudah berapa pukulan ia luncurkan selama beberapa menit yang berjalan amat lambat itu. Dia hanya tahu, setelah akhirnya ia lemas karena shock, makhluk yang berusaha menelanjanginya itu sudah tidak ada di sana. Tidak perlu melihat sekelilingnya, ia langsung saja pergi tanpa skateboard-nya yang entah ada dimana.

Perjalanan pulangnya normal. Justru karena ia berlari membabi-buta karena takut makhluk itu mengejarnya, orang-orang memandangnya seperti orang aneh. Di jalan memang tidak ada apa-apa, tidak seperti di film-film horor dimana pemeran utama masih saja dikejar hantu padahal sudah pergi meninggalkan ‘sarang’ hantu itu.

Di rumahnya, ia nyaris mematahkan kunci pintu depan saking hebat tangannya bergetar karena takut. Ravi sudah tidak peduli lagi sekarang ia harus merapikan tasnya sebelum tidur, atau memastikan snapback-nya berada di gantungan dekat pintu, yang penting pintu depan sudah dikuncinya. Ravi bukan anak religius seperti Aron atau keponakan Choi Siwon yang dia lupa namanya siapa, tapi kali ini dia tidak bisa mengusir makhluk yang tidak dikenalnya itu dengan kekuatannya sendiri. Maka kali ini ia berdoa,

”Ya Tuhan, jangan biarkan makhluk aneh itu menapakkan kaki kotornya di rumahku.”

***

Rabu, 18 November, 01:26

Ravi tidak bisa tidur. Haha, padahal biasanya insomnia bukan teman dekatnya. Meski selimut memeluknya lebih rapat dari biasanya, sekujur tubuhnya hampir kaku karena rasa takut. Heater yang ada di pojok ruangan juga tidak membantu sama sekali. Justru suara bisingnya memperburuk rasa gugup yang mencokol hati laki-laki itu. Alih-alih mematikan heater sialannya, Ravi berbalik memunggungi alat itu, menghadap ke arah kiri dimana ia bertatapan dengan dinding.

Dia tidak tahu makhluk itu bisa menerobos masuk ke rumah atau tidak, hingga ada yang mengelus punggungnya lembut—seperti rumput laut bergesekan dengan kakinya saat ia berenang di lepas pantai California bersama teman-temannya musim panas yang lalu. Degup jantungnya berderu, hingga rasa-rasanya ia bisa mendengarnya. Matanya menutup, jelas-jelas menolak untuk menerima pemandangan apapun. Untuk menengok atau tidak menengok, Ravi bingung harus memilih yang mana. Lalu tepat ketika deru jantungnya mereda, ia membuka matanya perlahan, dan melihat ada muka yang sama dengan yang dilihatnya di ruang ganti.

Di dinding ada muka wanita gila itu.

DI DINDINGKU ADA MUKA!

ADA MUKA!!!

Mukanya…

Mukanya…

MUKANYA KELUAR DARI DINDING!

Ravi tidak bisa lagi menahan histeria dalam dirinya begitu lidah yang panjangnya tidak normal keluar dari telinga wanita itu, mencoba menjilat pipinya yang tidak berjarak sampai sepuluh inci.

“Sial, sial. Pergi, kamu! PERGI!” Ravi mulai menendang dinding di depannya, yang berakhir membuat dirinya terjatuh dari tempat tidur. Ia buka matanya perlahan, dan hanya bintang merah-kuning-putih yang dapat dilihatnya. Saat bintang-bintang itu hilang, ia lihat di bawah kasur wanita dengan telinga berlidah itu merangkak.

“Aku. Akan. Memilikimu. Wonshik. HIHIHI!”

Kalimatnya yang diserukan dan dibaca terputus-putus membuat rambut-rambut kecil di tengkuknya menegang, dan tulang punggungnya serasa seperti baru disiram air es. Ia bangkit dengan gegabah, dan menabrak pintu yang belum dibukanya. Ia lari. Lari seperti dikejar fullback tim lawan saat ia sedang berusaha mengoper bola futbol ke Peniel. Lari seperti dikejar hantu—well, dia memang sedang dikejar hantu.

Ravi tidak tahu harus kemana, tapi langkahnya dengan pasti membimbingnya menuju sekolah, dan memasuki ruang ganti timnya. Logikanya membujuknya  untuk berpikir, kalau dia datang dari sana, ya, kembalikan saja ke sana. Meskipun tidak berani ia intip sedetik pun ke belakangnya untuk memastikan apakah makhluk gila itu mengikutinya, ia terus berlari.

Di dalam gelap. Ia membuka pintu, masuk, lalu menutup pintunya, mendorongnya dengan kekuatan yang selama ini ia gunakan saat berlatih di lapangan. Sesuatu yang amat kuat mendorong dari luar, hendak masuk. Dengan tangan gemetaran, ia merogoh saku-sakunya, mencari-cari kunci yang tadi ia kantongi.

“Dapat.” Besi-besi dingin serentetan kunci ia temukan di kantongnya. Gemetarnya semakin besar, dan dorongan dari balik pintu semakin kuat. “Shit, shit, shit,” ia menyumpah saat kuncinya jatuh. Mati-matian ia berusaha menggapai kuncinya. Pintu sedikit terbuka saat Ravi menunduk, dan dari ekor matanya ia melihat lidah-lidah yang tadi keluar dari telinga makhluk itu sedang menjilati pahanya.

“PERGI!” Dengan punggungnya, ia dorong pintu kuat-kuat. Dengan kunci yang sudah di tangan, ia kunci dan setelah kunci berbunyi ‘klik’ dua kali, ia langsung menjauhi pintu dan menatap pintu putih itu bergetar-getar sendiri seperti kerasukan. Napasnya yang menderu merupakan satu-satunya suara sekarang. Pintu sudah tidak lagi bergetar-getar. Lalu dari luar ia mendengar sesuatu.

Wonshik. Wonshik. Wonshik.

Lalu suara itu hilang.

Suara itu hilang, tepat sebelum dari bawah pintu ada tangan menjijikan yang memaksa masuk. Tangan itu tidak cukup kurus untuk bisa melewati celah kecil antara pintu dan lantai, tapi tangan itu memaksa, membuat kulit-kulit tangannya tergores parah, dan terkelupas, membuat darah dan lendir hitam entah dari mana menetes kemana-mana.

Ravi memandang tangan itu menggapai-gapai ke arahnya dengan pandangan takut, dan dengan sedikit terpeleset mencoba untuk bangkit. Ia lari menjauh dari pintu, dan sampai di bagian toilet yang pintunya masih bertuliskan namanya.

Bagaimana ini, bagaimana ini. Kalimat itu terus bergaung dalam benaknya, lebih seperti aksi untuk mengatasi paniknya daripada memikirkan cara untuk mengatasi semua kegilaan ini. Ia bisa lihat tangan itu sudah tidak berusaha menyakiti dirinya sendiri, tapi kenop pintu bergetar hebat. Ravi membeku mengawasi apa yang akan terjadi, enggan untuk berkedip sekalipun. Tepat sebelum matanya ingin menutup, kenop pintu terlepas.

Apa itu—

Dari lubang tempat tadinya kenop terpasang, sebuah bola mata merah menatap Ravi balik.

Wonshik!”

Shit, shit,” Ravi berlari ke area loker, berusaha mencari apapun yang bisa dugunakan untuk memukul, menghancurkan, mematahkan makhluk itu. Sesuatu yang kuat—seperti thigh pad. Ia buka loker siapapun yang sekarang ada di depannya, mengambil benda pipih dan kuat itu.

Wonshik,” makhluk itu masih menyebut namanya, dan dari jauh bisa Ravi dengar suara kaki diseret. Ia mundur beberapa langkah pelan-pelan, berusaha untuk menghindari makhluk itu lagi.

Hening.

Hanya itu.

Tidak ada suara kaki diseret.

Tidak ada suara napasnya.

Lalu—

Wonshik.”

—ada yang berbisik dari belakangnya.

“AHHH, SIAL, SIAL. MATI KAMU, MATI!”

Ravi mengayunkan tangan kanannya yang memegang thigh pad ke belakang, memukul makhluk itu tepat di muka. Makhluk itu tidak terlempar ke belakang, tapi jatuh berpegang pada celana Ravi. Jijik dengan lendir yang keluar dari luka di tangan makhluk itu karena pintu yang tadi, Ravi memukul kepala makhluk itu dengan bagian pipih thigh pad, membuat ubun-ubunnya melesak ke dalam. Makhluk itu sudah tidak lagi berpegangan pada celananya, dia tergeletak lemah di lantai. Ravi mengambil kesempatan itu untuk menanamkan thigh pad yang ternyata milik Mark di kerongkongan makhluk itu, membuatnya termegap-megap seperti tercekik.

“Wonshik,” makhluk itu sekali lagi menyebut namanya. Tapi kali ini berbeda. Tubuh di depannya sudah tidak lagi menyerupai mayat yang sudah membusuk berhari-hari dengan lendir lengket dan darah yang keluar dari tangannya. Sekarang ada gadis cantik tidur di sana, dengan thigh pad menancap di kerongkongannya, menatap Ravi dengan mata besarnya yang cantik nan merana, dengan sebelah tangan berusaha menjangkau laki-laki itu. “Kenapa?” gadis itu bertanya, sebelum akhirnya tidak bergerak.

Ravi terdiam.

Darah dimana-mana. Lendir lengket berwarna putih kekuningan menempel di celana Ravi. Peluh membanjiri badannya. Tatapannya kosong, terarah ke lantai dingin ruang ganti.

Tadi itu apa?

Hanya itu yang terlintas di hatinya yang masih terpukul. Ia duduk termangu, sebelum ada yang menepuk pundak kanannya pelan.

“Ya?” reflek, Ravi menoleh, hanya untuk menemukan makhluk itu telah kembali lagi.

Ada sepasang mata menatapnya tajam.

Ada lidah keluar dari kedua telinganya.

“AAAH!” mulut Ravi terbuka, berteriak, dan lidah besar, berlendir, menjijikan itu masuk ke mulutnya.

Dan Ravi menjerit, dan menjerit.

***

Rabu, 16 Desember, 18:54

Joe membuka lokernya di ruang ganti tim futbol sekolahnya. Dari dalam, dia keluarkan handuk putih bersih, lalu bersamaan dengan dibantingnya pintu itu, ia mengelap peluhnya yang membanjir. Malam ini Granite Gang menang lagi. Bisa dibilang salah satu faktor kemenangan sekolah mereka adalah dirinya. Meskipun baru beberapa hari pindah, Joe beruntung dirinya bisa langsung dimasukkan ke dalam tim ini.

Keberuntungannya ini katanya karena orang bernama Ravi atau siapa lah itu, yang katanya tiba-tiba saja pindah tanpa alasan apapun. Ada yang bilang karena di-bully, ada yang bilang karena anak itu menghamili salah satu anggota cheerleader. Apapun alasannya, Joe cukup berterima kasih dengan kepindahannya itu, yang secara otomatis membuat posisi halfback kosong. Dengan sedikit talenta, Joe berhasil merebut posisi itu.

Ruang ganti sudah kosong ketika dia sudah cukup kering dari peluh. Shoulder pad, pelindung dada, pelindung lutut, semuanya ia lepas satu persatu sebelum memasuki bagian shower. Joe menuju bagian shower, dimana kemudian ia membilas seluruh bagian tubuhnya. Air panas yang mengucur deras dari pancuran di atasnya, kemudian menyentuh kulitnya. Kasar rasanya, tapi kemudian, pelan-pelan Joe jadi menikmati itu. Lama ia menikmati mandinya, hingga ia mendengar suara loker dibanting keras-keras.

“Halo?” ia berteriak agak keras agar deru air tidak mengalahkan suaranya. Ia juga tidak yakin, apakah teriakannya yang kurang keras, atau memang tidak terdengar, karena tidak ada sahutan yang terdengar setelah Joe menunggu dua menit. Setelah tidak lagi tertarik mendengar jawaban dari siapapun di luar sana, ia melanjutkan mandinya.

Kakinya melangkah ringan keluar dari area mandi, sementara handuk ia usap-usapkan di atas rambut pink mudanya, berusaha membuatnya kering. Setelah mendongak dan penglihatannya menyapu seluruh ruang tunggu, ia tidak terkejut di sini hanya ada dirinya saja. Jadi, ia lekas menuju lokernya dan mengganti pakaiannya—ia sudah ditunggu oleh rekan timnya di pesta.

Ia membuka loker, mencari pakaian yang seharusnya sudah ada di luar—seingatnya satu stel pakaian kasual itu sudah ia taruh di bangku sebelum ia mandi. Tapi nyatanya ia menemukan pakaiannya di dalam lokernya—ia juga menemukan note kecil.

Aku akan memilikimu, Byunghun.

FIN.

Biar kujelasin—ravi dikuntit hantu cewe yang demen sama halfback kekorea-koreaan. Pas ravi nya pindah, l.joe gantiin dia, terus dia dikuntit hantu yang sama juga.

Harus pergi banget—ppyong!

Zyan

9 thoughts on “[Oneshot] Stalker of Granite Gang”

  1. Temen aku jg ada yg distalkerin hantu cwe,tp jarang nakut2in gitu,ga kaya Ravi yg sampe pindah!! Baca ini pas malem,ga kuat dipause aja ampe skarang baru berani dikelarin/itujugaditempatrame/horrornya kerasa bngt ka!! Gila ga kebayang bentuk hantunya ancur gitu,pants aja Ravi stres.
    Part 2 trakhir ada L.joe yg diikutin kunti(?) kyaaaa! setannya elit,highclass demennya!!

    Suka

    1. Wanjay, dikuntit hantu… Kok antara kasian sama horor

      Iya, ini aku yang nulis aja suka gakuat sendiri kalo mau ngelanjutin nulis malem-malem, nulisnya siang mulu karna gaberani;;; Emang itu hantunya demennya anak futbol ke korea-koreaan, seleranya yah:”)

      Makasih yaa udah mampir~
      Zyan

      Suka

  2. Kirain cuma ravi yang ditaksir sampai alam ghaib gitu ternyata hantu nya suka oppa oppa korea yang lain juga, wah ternyata gak cuma kita yang suka oppa:”) How to be that ghost? Aku mau juga liat l joe mandi😂 /istigfarpuasa/. Untung aku baca nya siang kalo malem kelar hidup

    Suka

    1. Jadi hantu nya cuma naksir halfback yang kekorea korean? kalo korea bagian yang lain enggak? wadu jadi hantu aja picky-an😂😂

      Suka

      1. Mungkin sebenernya hantu ini pemilih, tapi sebetulnya dia hanya mendambakan oppa-oppa saja kok, cem kita-kita:””””) #saveoppa #iwantoppa #puasa

        Makasih yaa udah mampir~
        Zyan

        Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s