[Vignette] White Shadow

White Shadow

WHITE SHADOW

 by Joonisa

Cast EXO Kim Jongin, BTS Jungkook as Kim Jungkook (support cast)

Length Oneshot (1.991 word count)

Genre Family, Fantasy, Angst, Slice of life

Rating General

Ada harga yang harus dibayar untuk setiap nyawa. Jongin tahu itu.

.

I always want to protect you

So that even the small things won’t tire you out

Jongin meletakkan seikat bunga ke atas pusara milik ibunya. Selama beberapa saat ia termenung, menatap makam sang ibu dalam diam. Jongin kerap kali ke tempat itu setiap ia merindukan sang ibu, namun kali ini kedatangannya memiliki maksud berbeda. Jongin yang baru beberapa bulan dilantik menjadi direktur utama sebuah bank, menjadi tersangka kasus korupsi yang sama sekali tidak pernah ia lakukan.

Bagaikan mendapat petir di siang bolong, petugas inspeksi dari kepolisian langsung menyita seluruh barang yang ada di ruang kerjanya dan tiba-tiba semua bukti menuju ke arahnya. Seluruh bukti itu tentu saja direkayasa, namun yang mengetahui semua itu hanyalah seorang Jongin yang idealis. Jongin tidak pernah mau menerima suap ataupun perjanjian menyimpang untuk pihak tertentu, oleh karena itu banyak pihak yang ingin menjatuhkannya.

“Ibu, rasanya aku mau bunuh diri saja. Boleh tidak?” bisik Jongin seraya menitikkan air mata.

“Waktumu tinggal sepuluh menit, saudara Kim Jongin!”

Ia tahu petugas kepolisian sedang mengawasinya dalam radius kurang dari sepuluh meter, namun ia tidak mengacuhkannya. Tangannya yang dibelenggu oleh borgol ia gunakan untuk mengelap air matanya yang terus berjatuhan.

“Ibu, Jungkook besok wisuda. Dia hanya memiliki aku sebagai kakaknya tapi aku justru menjadi orang yang hina di matanya sekarang.”

Lutut Jongin melemah. Ia terduduk di samping makam sang ibu dengan tangis yang bertambah keras seolah beban hidup beratus-ratus kilogram telah menindih pundaknya.

“Ibu… seandainya pada waktu itu ibu tidak menyelamatkanku, ibu mungkin masih hidup sekarang. Lebih baik aku yang mati, bu!”

Jongin kembali menangis. Air mata tak dirasanya keluar begitu deras sampai kantung matanya membengkak. Semakin lama ia menangis, rasa sesak di dadanya semakin bertambah. Meskipun kasus ini bukan salahnya sama sekali, namun masuk penjara dianggap Jongin sebagai aib yang amat memalukan.

“Seandainya nyawa kita bisa ditukar, aku mau menukarnya, bu. LEBIH BAIK IBU YANG HIDUP DAN AKU YANG MATI!”

Teriakan Jongin membahana sampai terdengar oleh langit yang berbalas dengan sebuah petir super dahsyat. Petir itu mengeluarkan cahaya putih yang begitu terang sampai-sampai terasa menusuk mata Jongin. Jongin terjatuh ke tanah, matanya tak lagi sanggup membuka karena menahan silau yang berada di luar batas toleransi matanya.

“Arrgghhh!!!”

.

.

Jongin terbangun saat rintik air mengenai wajahnya. Mulanya satu rintik, lama-lama ada belasan bahkan puluhan rintik mengenai wajah dan tubuhnya. Hujan lebat membuat Jongin cepat-cepat bangun lantas mencari tempat berteduh di depan sebuah pertokoan yang sedang tutup. Jongin menatap bingung sekelilingnya karena ia terbangun di tempat yang berbeda, namun matanya tiba-tiba membelalak saat tatapannya tertuju ke arah halte bus.

“Anak itu… kenapa begitu mirip denganku?”

Jongin melihat seorang anak berseragam SMA yang tengah menunggu kedatangan bus. Ia seorang diri di sana sambil menutup kedua matanya seolah tengah menikmati alunan merdu nan alami dari rintik hujan yang membasahi bumi. Jongin sudah maju selangkah ingin menghampiri anak itu, namun sekelompok anak berjumlah empat orang tiba-tiba menghampiri halte bus dan menyapa anak yang mirip Jongin tersebut.

“Hei, Kim Jongin, kau punya uang? Aku haus.” Ucap anak laki-laki yang tubuhnya sedikit lebih besar dan berpakaian sekolah dengan acak-acakan. Jongin yang berada tidak jauh dari halte dapat mendengar dengan jelas kalau anak yang mirip dengannya itu bernama serupa dengannya.

“Kenapa nama anak itu sama denganku?” gumam Jongin retoris. Di tengah kebingungannya, ia mendapati selebaran yang tiba-tiba mendarat tepat di depan kakinya. Jongin mengambil selebaran itu dengan jantung yang berdegup sangat kencang.

RESTORAN AYAM TERMURAH DI SEOUL. BUKA 2 APRIL 2005.

SEGERA DATANG KARENA ADA HARGA SPESIAL SAAT OPENING!!!

“2005? Sekarang tahun 2005?”

Jongin kembali menatap anak yang mirip dengannya tadi. Anak itu saat ini tengah didorong-dorong bahunya oleh sekelompok anak-anak lainnya. Tanpa keraguan sedikit pun, Jongin yakin kalau anak itu adalah dirinya. Anak itu adalah dirinya sewaktu kelas dua SMA, sewaktu Jongin berusia delapan belas tahun.

Namun yang membuat Jongin bingung, kenapa ia bisa kembali ke masa lalu tepat di tahun kematian ibunya. Tempat dan waktunya pun sangat tepat. Ibunya meninggal saat akan menyelamatkan Jongin yang –

“Kubilang belikan aku soju dan rokok! Cepat!” Teriak anak berbadan paling besar, lalu ia meninju wajah Jongin muda. Jongin muda sama sekali tidak memberikan perlawanan, namun ia juga bergeming dari tempatnya berdiri.

“Ta – tapi kita belum cukup umur untuk membeli soju. Lagipula, ini masih siang dan aku masih pakai seragam.” Ucap Jongin muda sedikit tergagap.

“Lalu kenapa, HAH? Memangnya itu urusanku?”

Jongin yang melihat kejadian itu dari tempatnya berteduh mengepalkan tangannya. Ia sungguh mengerti kenapa Jongin muda tidak melawan pada saat itu. Tidak lain dan tidak bukan karena pesan ibunya pada waktu itu.

“Jongin, kita dari keluarga pas-pasan dan kita juga tidak memilliki backing pejabat atau orang hebat. Kalau temanmu berbuat jahat padamu, tahanlah, jangan melawan. Kalau kau tidak tahan, larilah meskipun kau akan diperlakukan seperti itu keesokan harinya. Mengerti?”

“Kalau aku melawan, apa yang akan terjadi?”

Ibu Jongin mengusap kepala Jongin dengan penuh kasih sayang.

“Kau akan terluka lebih dalam.”

Terluka lebih dalam, kata-kata itu yang membuat Jongin mematuhi kata-kata ibunya. Waktu menerima nasihat itu, Jongin belum mengerti terluka lebih dalam seperti apa yang dimaksud oleh ibunya. Seiring berjalannya waktu, ia mengerti kenapa ia tidak boleh melawan. Sebabnya adalah karena empat anak yang selalu menganiaya dirinya adalah anak orang ternama di Seoul. Kalau ia melawan, bukan hanya Jongin yang akan dipenjara, namun ibu dan adiknya juga akan menanggung akibatnya.

Jongin sudah berniat akan mendekati dan membalas anak-anak yang tengah menganiaya Jongin muda itu. Namun sekelebat kejadian masa lalu terlintas di kepalanya, yang membuat dada Jongin tiba-tiba terasa nyeri. Memoar itu terlalu kuat sehingga imajinya terasa begitu nyata.

“Astaga! Itu Jongin! Jongiiin!!!”

Jongin masa depan melihat ibunya di seberang jalan yang sedang menenteng kantong belanjaan tengah berteriak-teriak memanggil namanya sambil berlari menuju ke tempat penyeberangan. Saat itu lampunya masih hijau, namun begitu sang ibu sampai di sana, lampu penyeberangan berubah menjadi merah.

“Jongin!!! Hei anak-anak berandalan, kalian tidak punya hati ya? Kenapa harus Jongin? Hei!!!”

Jongin masa depan ingat betul kalau ia melihat ibunya berteriak panik di seberang jalan. Bahkan ia masih bisa merasakan bau anyir darah yang keluar dari hidung dan bibirnya, pandangan mata yang mengabur, dan kepalanya yang berdenyut gila-gilaan pada saat itu. Ibunya tiba-tiba berlari menerobos karena melihat Jongin dianiaya di halte bus tanpa ada satu orang pun yang menolong.

BRAKKK!!!

Pada saat yang bersamaan, sebuah truk melaju ke arah ibu Jongin dengan kecepatan tinggi. Kecelakaan pun tak terelakkan dan ibu Jongin tewas di tempat sementara pengemudi truk melarikan diri.

“IBUUU!!!”

Jongin masa depan menutup mata. Air mata yang sejak tadi terasa menusuk-nusuk bola matanya mulai berdesakan keluar. Ia bahkan masih gemetar saat mengingat kembali bagaimana kecelakaan tragis itu merenggut nyawa ibunya. Saat ia membuka mata, bayangan ibu yang terasa begitu nyata untuknya tadi berangsur-angsur hilang. Jongin beralih menatap ke halte bus dan pemandangannya masih sama seperti tadi, Jongin muda tengah dikeroyok anak-anak berandalan kaya.

Tidak ada waktu bagi Jongin untuk memikirkan kenapa ia bisa kembali ke masa lalu. Ia harus melakukan sesuatu selagi diberi kesempatan bisa kembali ke masa lalu. Sembari menggertakkan gigi, Jongin berlari ke arah Jongin muda yang sudah tersungkur di aspal. Keempat penganiaya itu masih saja menginjak-injak tubuh Jongin muda meskipun Jongin muda sudah meneriakkan kata ampun berulang kali. Dengan emosi yang terbakar, Jongin yang berasal dari masa depan menendang satu persatu gerombolan penganiaya itu. Keempat anak itu menatap Jongin marah, namun nyali mereka langsung ciut saat Jongin masa depan mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang masih diborgol.

“Pa – paman, jangan i-ikut campur urusan ka – kami!” ucap salah satu anak yang gemetaran tapi masih berlagak menantang.

“Kau yang jangan ikut campur! Aku ini buronan! Lihat, tanganku saja masih diborgol!” balas Jongin dengan matanya yang menyalang, menyaratkan emosinya yang tak terbendung lagi.

“Bu – bu – buronan?”

“Iya. Aku ada urusan dengan Jongin! Pergi kalian semua! Dasar sampah!”

Keempat anak itu pun lari pontang-panting ketakutan mendengar ancaman Jongin masa depan. Setelah anak-anak itu pergi, Jongin masa depan menatap Jongin muda yang juga tengah menatapnya. Dua orang Jongin, orang yang sama dari masa yang berbeda, saling menatap dalam diam selama beberapa saat di bawah guyuran hujan lebat sebelum akhirnya Jongin masa depan mengulurkan kedua tangannya.

“Bangunlah.”

Tampak ragu, Jongin muda tak langsung menyambut uluran tangan itu. Alisnya mengernyit, entah karena bingung atau karena menahan air hujan agar tidak masuk ke matanya atau bisa jadi keduanya.

“Paman siapa?”

“Aku Kim– “

Jongin masa depan sudah ingin mengatakan kalau ia adalah anak itu sebelas tahun yang akan datang, namun sebelum ia mengatakan hal itu, ia melihat truk yang dulu menabrak ibunya tengah melaju ke arah mereka dari kejauhan. Dari seberang jalan, Jongin masa depan melihat ibunya yang berjalan menggunakan payung tanpa melihat ke seberang jalan karena tidak ada keributan yang menarik perhatiannya. Jongin pun berubah pikiran saat sebuah ide melintas di otaknya.

“Bangunlah dulu, baru akan kujawab.”

Jongin muda menerima uluran tangan itu. Namun saat Jongin muda baru saja dalam posisi berdiri dan tubuhnya belum seimbang, Jongin masa depan mendorongnya dengan keras sampai Jongin muda terguling-guling ke tengah jalan.

BRAKKK!!!

Truk yang melaju dengan kecepatan tinggi itu pun menabrak Jongin muda hingga Jongin muda tewas di tempat bersimbah darah, sementara truk itu melarikan diri dari tempat kejadian. Atensi ibu Jongin pun akhirnya tertuju ke jalan karena suara keras yang ditimbulkan oleh tabrakan itu.

“Astaga! Ya Tuhan! Jongin! JONGIIIN!!!”

Melempar payung dan kantong belanjaan ke sembarang arah, sang ibu berlari ke tengah jalan bersama orang-orang sekitar tempat kejadian yang mulai mengerumuni jasad Jongin muda. Jongin masa depan kembali ke tempat persembunyiannya, berteduh di depan toko yang sedang tutup.

“Kalau masa lalu berubah, masa depan juga akan berubah, bukan?” tanya Jongin retoris.

Tiba-tiba sebuah petir yang dahsyat datang menyambar dan cahaya putih yang dikeluarkannya terlalu menyilaukan hingga terasa menusuk mata. Jongin tak sanggup membuka matanya lagi dan seluruh tubuhnya tiba-tiba terasa sakit. Jongin mengerang lalu berteriak sekuat tenaga karena rasa sakit yang luar biasa. Cahaya putih itu tiba-tiba memudar, berangsur-angsur hilang.

Lalu semuanya menjadi gelap.

.

.

Seoul, 2016

Jungkook meletakkan seikat bunga lili di atas sebuah pusara. Ia membungkuk untuk memberikan penghormatan selama beberapa saat, lalu tersenyum ke arah pusara itu.

“Kak Jongin, hari ini aku wisuda. Aku mendapat nilai terbaik di jurusanku dan aku sudah diterima bekerja di sebuah bank yang keren. Minggu depan aku sudah mulai kerja.”

Air mata mulai meleleh dari sudut mata Jungkook. Kakaknya, Kim Jongin, yang meninggal tahun 2005 saat ia SMP adalah kakak satu-satunya bagi Jungkook. Jongin menjadi panutan bagi Jungkook karena ayah mereka sudah tiada saat Jungkook berusia satu tahun dan Jonginlah yang selalu membantunya belajar.

“Ibu sudah kusuruh untuk berhenti bekerja tapi ibu tidak mau, kak. Ibu keras kepala juga ternyata, sama seperti kakak!” Jungkook melirik wanita paruh baya yang berdiri di sebelahnya sembari tersenyum usil.

“Kata siapa kakakmu keras kepala? Kakakmu bahkan lebih penurut daripada dirimu, tahu!” wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu mencubit keras perut Jungkook, membuat Jungkook menggelinjang kesakitan.

“Ampun, bu! Aku hanya bercanda!”

Dari kejauhan, Jongin yang sudah kembali dari masa lalu mengembangkan senyum di wajahnya. Pun pusara yang dulu diukir dengan nama ibunya kini telah berganti menjadi namanya sendiri, tidak ada satu kesedihan pun menyinggahi hatinya saat ini. Mati tanpa penyesalan dan melihat malaikatnya bahagia hingga saat ini, itulah yang diinginkan Jongin sejak dulu.

“Beratnya perjuangan ibu membesarkan kami berdua seorang diri pun rasanya belum cukup walau telah dibayar dengan nyawaku sendiri.”

“Tapi justru lebih baik ibumu mati daripada susah-susah membesarkan dua anak laki-laki seorang diri, bukan?” tanya seseorang bertubuh tinggi, besar, dan berpakaian putih dengan stempel ‘Penghuni Alam Kubur’ pada dahinya yang berdiri di sebelah Jongin.

“Justru lebih kasihan kalau ibu melihatku dipenjara dari akhirat sana. Nanti beliau sedih dan terluka. Benar ‘kan?”

“Terserahmu sajalah! Kembali sana ke tempatmu, tidak usah terlalu lama terbawa perasaan!”

Memaksakan tersenyum, Jongin menuruti perintah orang tadi dengan berat hati.

.

.

As your guardian, I will block the stiff wind

Even though people turn their backs to you

If I could become the person

Who can wipe your tears on tiring day

It will be paradise

 

Even though I lost my everlasting life, the reason to my happiness

You are my eternity Eternally Love

Exo – Angel

END

 

a/n:

Jadi ceritanya ini ff yang dilombakan di suatu tempat. Tapi karena gagal in final round *halah bahasanya*😄 jadinya ffnya dikembalikan ke masing2 author untuk dipublish di mana saja boleh.

17 thoughts on “[Vignette] White Shadow”

  1. hiyaaaaa baru kali ini baca ff orang pengen balik ke masa lalu buat membunuh dirinya sendiri. jongin gila wkwkw. tapi dia sayang banget sama jungkuk sampe kaya gitu huhu. mudah-mudahan pas kerja nasib jungkuk ga kayak jongin dah nanti dia pengen mati jugak /eh/ /bikinplotsendiriitumah/ xD
    Oke deh segitu aja kaknis ocehan gak mutuku. karena apa sih yang perlu dibenerin dari ff ini? udah kece begini kok. mungkin pas lomba kurang beruntung aja. keep writing yaaaa ^^

    Suka

  2. Aku nangis dari awal Jongin teriak-teriak dikuburan ibunya hiks hiks. Pengorbanan Jongin buat ibunya duh super sekali. Bagus kak fiksinya, jadi mengingatkan akan pengorbanan orang tua huhuhu nangis /lagi/
    -Maul

    Suka

  3. Uuhh… kusedih bacanya kak /hiks
    Sekarang emang masih ada gitu ya, orang baik2 eh dijebak biar masuk bui padahal gasalah paapa /jongin setrong kau nak puk puk
    Ini pesan moralnya dapet plus ngehibur juga kusuka pokoknyaaa.. palagi liat jungkook jadi adeknya jongin. Kupikir hubungan mereka nggak kek gitu tapi ternyata cocok2 aja sih hehe 😄
    Udah sih kak segini aja cuap2 akuh
    Oh iya, salken kak, aku washfa 98’s ^^/

    Suka

  4. Daebak! Keren abis kak…
    Jongin sayang banget sama keluarganya huwaaaaaaa~
    Aku bingung mau komen apalagi wkwkwk aduh pokoknya ceritanya ini udah pas banget, keren juga, bahasanya bagus, apalagi ya apalagi /digetok/

    Oke deh kak aku gatau mau bilang apalagi wkwkwk keep writing kak!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s