It’s Ok, That’s Love (Chapter 1 ; Waiting for You)

It's OK, That's Love

Title: It’s Ok, That’s Love ( Chapter 1 : Waiting For You )

Scriptwriter: Veeronicha

Twitter: @Veeronicha_EnG

Duration: Chapter

Genre: Romance, Angst, Hurt, Family.

Rating: PG

Main Cast:

  • Min Yoongi (Suga BTS)
  • Kim Sohyun (Aktris)
  • Kim Seokjin (Jin BTS)
  • Kim Taehyung (V BTS)
  • Kim Namjoon (Rapmons)
  • Hong Jisoo (Joshua Seventeen)

Back Song: BTS –  For You

            Hallo, ketemu lagi dengan Vee.. apa kabar? Ah, semoga kalian tetap tertarik dengan fanfiction yang Vee share di sini ya.. Oh ya, jika dari kalian ada yang pernah baca fanfiction ini di Wattpad Vee, vee memang sudah pernah mempostingnya. Dan agar Vee lebih semangat nulis fanfiction ini, Vee sengaja share di Indonesia Fanfiction. Okeh, Vee ga akan berlama-lama. Happy Reading ?!!😀

++

   Berkali-kali gadis yang hampir menginjak umur tujuh belas tahun itu mendesah resah. Ia melihat kembali layar handphone miliknya yang tidak ada satupun notifikasi dari kekasihnya. Dua menit berlalu, Sohyun kembali mengulang kegiatannya. Menatap layar handphonenya yang kosong tanpa satupun notifikasi.

Keterlaluan.

Dua jam terhitung dari jam tujuh malam ia telah menunggu kekasihnya. Bahkan ia sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan kekasihnya. Akankah Yoongi datang? Akankah Yoongi memenuhi permintaan Sohyun? Akankah lelaki itu akan menemaninya dan bersedia menepis rasa rindunya?

Namun apa yang di dapatkannya? Malam semakin larut tetapi lelaki itu seakan tidak akan menampakkan batang hidungnya.

Sohyun berdecak lalu tersenyum masam ketika ingatannya mengulang kembali perkataan Yoongi yang mengatakan jika Sohyun adalah satu-satunya hal terindah untuk Yoongi. Satu-satunya anugrah terbesar yang Tuhan berikan padanya. Lelaki itu sungguh pintar memikat hatinya kala itu

Ia menengok ke kiri, di mana kakak lelakinya yang bernama Kim Seokjin itu tersenyum-senyum dengan drama yang tersuguh melalui televisi di depannya. Ia mendesah, lalu menengok ke kanan di mana Namjoon yang juga merupakan kakak ke duanya sedang asyik bermain handphonenya, tidak lama kemudian ia mengamati Taehyung yang sedang mengamati ikan peliharaannya. Oppa terakhir dan juga satu-satunya orang terlahir kembar sebelum Sohyun dilahirkan. Taehyung terlihat sedang mengamati ikan peliharaannya, bukan hal yang mengejutkan lagi jika Taehyung oppa-nya melakukan hal aneh seperti itu. Tidak seperti Jisoo kembaran lelaki itu, Jisoo lebih normal dibandingkan Taehyung. Ia memutar bola mata jengah, otakya kembali kepada permasalahan utama. Semua orang. Ah, tidak. Semua oppanya terlihat sangat menikmati hidupnya.

Sedangkan Sohyun?

Ia bahkan rela membuang waktu demi menunggu kekasih bodohnya itu. Sohyun menggeleng keras, bukan Yoongi yang bodoh. Tetapi Sohyun. Ia rela melakukan apapun untuk lelaki tua itu. Astaga!

“Aaarrggghhh!!! Jinja!!!” Serunya frustasi. Ia mengacak-ngacak rambutnya yang telah ia rapikan. Sohyun melompat turun dari sofa berjalan menuju jendela ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang tengah. Mengamati gerbang yang

Ia berbalik, menemukan ke tiga oppanya menatapnya heran. “Jangan di tunggu.” Saran Seokjin yang mengetahui tingkah Sohyun yang berubah menggila karena teman dekatnya.

“Jangan menunggu Yoongi di saat liburan seperti ini Sohyun-ah. Yoongi pasti disibukkan dengan mengaransemen lagu baru.” Lanjut Namjoon.

“Oh! Pelase oppa!!” serunya frustasi dengan menjatuhkan tubuhnya disofa yang ia beberapa saat yang lalu ia tempati bersama Seokjin.

“Bisakah kau tidak berteriak?!” Kini Taehyung menatap tajam Sohyun. Lalu kembali menatap aquarium yang berisi banyak ikan miliknya. “Kedamaian dunia ikanku bisa terganggu karenamu.” Gerutu Taehyung yang mendapatkan tatapan tajam dari Namjoo.

Tanpa memperdulikan perkataan Taehyung, Sohyun meraih bantal yang berada tidak jauh darinya. “Aaaaaahhhhhhhhhh!!! Menyebalkan!! Menyebalkaaaaannnnnn!!!!!” jerit Sohyun tertahan oleh bantal yang ia tekan pada wajahnya. Tiba-tiba sesuatu yang dingin ia rasakan dipermukaan kulit tangannya. Ia menggeser bantal dari wajahnya dan menengadah Wajah damai Jisoo sedang menatapnya penuh senyum. Seulas senyum damai yang juga dimilikinya dan Seokjin oppanya. “Dinginkan dulu hatimu Sohyun-ah.” Kata Jisoo.

Tidak menerima minuman dari Jisoo, Sohyun malah menunduk. Dalam hatinya menjerit pilu, rasa rindu bercampur gelisah menghentak-hentak jantungnya. Sedangkan akal sehat yang Sohyun miliki tidak cukup kuat untuk menghilangkan semua itu. “Aku merindukannya. Sungguh aku merindukannya.” Kata Seohyun berbisik lirih. Jisoo memilih duduk dan menepuk-nepuk pelan bahu adiknya. Tanpa Sohyun sadari setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. “Aku tahu aku begitu egois. Ku akui aku gadis yang sangat egois. Memaksa Yoongi oppa kemari hanya untuk bertemu sesaat. Bahkan aku mengetahui dia sedang disibukkan dengan banyak pekerjaan.” Ia menangkup kan ke dua telapak tangannya ke mukanya. Tangisnya pecah seiring dengan ia menyadari ke egoisannya. “Tetapi mengapa,”

Sohyun menghirup napas lalu kembali melanjutkan, “Tetapi mengapa rasa ini seakan terus memburuku, oppa? Mengapa rindu ini selalu memaksa akal sehatku untuk harus bertemu dengannya?” Seokjin, Namjoon, Jisoo juga Taehyung tidak berkata apapun, mereka tetap menunggu Sohyun hingga selesai berbicara. “Aku mencintainya, aku mencintai Min Yoongi. Tetapi aku juga tidak ingin jika rasa ini mengikatnya. Aku tidak mau jika Yoongi oppa menjauhiku hanya karena aku mengikatnya.” Isak tangis Sohyun semakin menjadi.

Namjoon mendekat. Ia menghela napas pelan, tidak hanya Namjoon, Seok Jin juga melakukan hal serupa. Menatap Sohyun teduh bercampur khawatir. Mereka semua tahu Sohyun baru kali ini merasakan cinta. Tidak heran jika Sohyun selalu ingin diperhatikan oleh Yoongi, cinta pertamanya.

“Kau tahu perbedaan usiamu dengan usia Yoongi?”

Pertanyaan Seokjin berhasil mengalihkan tangis Sohyun berganti menatap Seokjin heran. Tentu Sohyun heran, ia atau bahkan semua orang pun tahu selisih mereka tidak bisa dibilang sedikit. Enam tahun selisih perbedaan mereka. Lalu Sohyun hanya mengangguk.

Seokjin menghela napas. Seperti beharap jika kalimat berikutnya dapat membuat Sohyun mengerti. “Cinta Yoongi kepadamu, tidak seperti cintamu kepadanya.” Seokjin berjeda sejenak. “Ah, begini maksudku. Cara pria dewasa dengan pria yang baru mengenal cinta seusiamu mungkin akan jauh berbeda. Jika Yoongi mementingkan dirinya, selalu sibuk dengan pekerjaan, dan hanya sedikit waktu untuk menemanimu,” Seokjin memiringkan kepalanya. “Yah, mungkin itu cara Yoongi mencintaimu. Dia lebih matang Sohyun. Dia tahu mana yang harus didahulukan dan tidak.”

Sohyun memandang satu persatu ke tiga oppanya yang lain. Dimulai dari Namjoon, di sampingnya Jisoo lalu Taehyung. Anggukan dari semua oppanya telah sedikit membuatnya merasa tenang. “Kau yakin dengan itu oppa?”

Namjoon mengangguk. “Aku kenal dekat dengannya Sohyun-ah. Dia satu-satunya member yang paling acuh jika bertemu dengan wanita asing.” Yakinnya. Melirik Taehyung sedikit mencibirnya melewati tatapan mata.

Merasa di ejek, Taehyung pun tidak ragu untuk membalas tatapan mata Namjoon. “Apa kau melihatku seperti itu?!” serunya tidak terima.

“Astaga, kalian!” Seokjin memutar bola matanya malas. Tidak di backstage, di dorm, bahkan di rumah pun Namjoon dan Taehyung masih bisa-bisanya ribut. Tidak apa jika tidak terjadi apapu, namun sekarang Sohyun masih dalam keadaan genting.

“Jangan menangis.” Ucap Jisoo dan Taehyung bersamaan setelah beberapa saat Taehyung menetralkan raut wajahnya. Memegang telapak tangan Sohyun dan mengusapnya lembut. Bermaksud untuk menenangkan.

Seokjin tersenyum tenang. Meyakinkan Sohyun bahwa semua akan baik-baik saja. “Bukankah masih ada hari esok?” ia mengerling memberi isyarat kepada Sohyun. Lalu mengangkat bahu acuh, “Kau bisa meminta dan melakukan apapun setelah ini sebagai hukuman untuk Yoongi. Dan aku yakin Yoongi akan memenuhinya,”

“Mengapa?” tanya Sohyun tidak mengerti.

“Karena dia mencintaimu.”

Satu kalimat sederhana yang keluar dari bibir Taehyung berhasil semakin meenangkannya.  Jisoo bangkit lalu memeluk tubuh Sohyun agar bangkit dari duduknya di sofa, menuntun gadis kecilnya agar segera ke kamar. “Tidurlah, ini sudah terlalu larut.” Sohyun menurut seraya sedikit menoleh ke tiga oppanya yang masih berada di sofa.

“Mimpi indah gadis cantikku..” kata Taehyung melambaikan tanganya. Yang membuat Sohyun terkekeh geli karena Sohyun sempat melihat Namjoon yang memukul pelan kepala Taehyung oppa-nya. Sohyun tidak akan pernah menanyakan mengapa Namjoon dan Taehyung selalu bertengkar, karena mungkin umur mereka yang saling berdekatan. Tetapi Sohyun tau, mereka sering bertengkar, tetapi mereka juga sering bersama jika mereka sedang merencanakan sesuatu.

Langkah Jisoo berhenti tepat di depan pintu kamar Sohyun. Gadis itu menunduk, pandangannya terarah pada telapak tangannya yang ragu untuk melepaskan diri dari tangan Jisoo. Baru beberapa menit yang lalu ke empat oppanya menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Baru beberapa saat yang lalu Taehyung mengatakan jika Yoongi benar mencintanya tetapi rasa itu kembali. Rasa rindu, perih, kecewa dan ingin marah kembali memenuhi rongga hatinya.

“Semua akan baik-baik saja Sohyun.” Jisoo tidak lelahnya meyakinkan. Lelaki itu mengacak pelan surai hitam adiknya dengan sayang.

Sohyun menghembuskan napas pelan lalu mendongak. “Yah, semuanya akan baik-baik saja.” Katanya. Tetapi, air mata itu menetes tanpa disadarinya. Mengetahui itu Jisoo langsung merengkuh tubuh mungil Sohyun.

Napas Sohyun tercekat, ia menengadah, mencari kedamaian lalu mencoba melupakan sosok Yoongi malam ini. Ya, hanya malam ini Sohyun ingin melupakan keburukan lelaki itu. Tetapi semakin ia ingin melupakan, semakin muncul rasa itu. Sohyun melepaskan pelukan Jisoo, tidak berani menatap Jisoo. “Aku membencinya.” Lirih Sohyun yang berhasil membuat Jisoo tercenung. Tidak akan mengira adiknya akan mengatakan hal seperti itu untuk Yoongi.

“Aku membenci Min Yoongi.” Ulang Sohyun sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya.

========                                TBC                           ========

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s