[Oneshot] My Stupid Best Friend

my stupid bestfriend

Title: My Stupid Best Friend

Scriptwriter: nchuhae

Cast(s): Aku, Lee Donghae, dan kekasihnya

Genre: Friendship, (mild) romance

Rating: PG-13

Duration: Oneshot

***

Namanya Lee Donghae. Dan aku membencinya.

Kami tumbuh bersama. Kau tahu video klip Taylor Swift di mana ada dua sahabat berdekatan rumah dan kemudian saling jatuh cinta? Kisahku dan Donghae hampir mirip dengan kisah dua orang di video klip itu.

Kami belajar di sekolah yang sama, mengambil program ekstrakurikuler yang hampir selalu sama, dan juga tumbuh di lingkungan yang sama. Rumah kami bersisian, jendela kamarku dan kamarnya bersebelahan hingga apapun yang Donghae lakukan di sana—selama dia tidak menutup tirai—bisa aku ketahui dengan mudah. Hal yang sama berlaku sebaliknya. Sebelum orang tua kami mempercayakan kami untuk memegang sebuah benda bernama telepon genggam, kami selalu saling berteriak dari kamar masing-masing jika ingin mengobrol. Setiap malam sebelum tidur, kami bertukar pesan dengan menuliskan ucapan selamat tidur di atas kertas putih berukuran sedang. Seperti yang aku bilang, mirip video klip Taylor Swift.

Bedanya, jika pada akhirnya perasaan si Taylor terhadap sahabatnya itu terbalas saat mereka mengikuti prom night, perasaanku kepada Donghae tidak juga terbalas bahkan setelah kami lulus kuliah. Aku tidak menyalahkan Donghae untuk ini semua. Kenyataannya, aku memang tidak pernah menyatakan rasa sukaku, lalu apa alasannya hingga dia harus tahu bahwa diam-diam aku menyimpan keinginan untuk bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat baginya? Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk tiba-tiba muncul di hadapannya sambil mengenakan gaun putih panjang, berjalan mendekat sambil tersenyum dan membuka lipatan kertas bertuliskan I Love You, berharap dia akan tersenyum sambil merogoh saku jas untuk meraih selembar kertas berisi tulisan I Love You Too. Rasanya terlalu konyol. Lagipula, hidupku tidak seindah itu untuk bisa disamakan dengan sebuah cerita rekaan nan klise.

Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa aku membencinya. Singkat saja: dia bodoh. Bukannya bodoh secara akademik. Well, dia memang tidak terlalu menonjol untuk urusan pelajaran. Dia bisa diterima di universitas pun berkat prestasinya yang beberapa kali meraih juara kontes tari modern selama kami sekolah, bukan karena menyisihkan ribuan peserta lain yang mengikuti tes masuk universitas. Kebodohan Donghae yang sesungguhnya terlihat dari kehidupan asmaranya yang selalu berakhir memprihatinkan, berbanding terbalik dengan kariernya yang mulus.

Aku sudah menyebutkan kalau dia sering menjuarai lomba tari, bukan? Berbeda denganku yang mengambil kuliah tari hanya karena ingin, Donghae benar-benar berbakat di bidang ini. Potensinya sudah mulai  terlihat sejak kecil, tapi prestasi terbesarnya adalah ketika tahun kedua di universitas dia memenangkan audisi untuk menjadi penari latar seorang diva dunia. Selama setahun lebih Donghae cuti kuliah demi mengiringi diva berkulit eksotis itu tur keliling dunia. Ketika kembali, semua orang memujanya. Dia jadi orang paling terkenal sekampus. Tentu saja aku ikut senang dengan pencapaiannya itu, apalagi setelahnya dia jadi dipermudah untuk menyelesaikan sejumlah urusan kampus hingga akhirnya bisa lulus bersamaan denganku.

Lepas kuliah, dia mengajakku mendirikan sebuah sekolah tari. Dengan modal yang dia peroleh dari tabungannya selama bertahun-tahun, kami menyewa satu lantai di sebuah gedung bertingkat empat yang terletak di jantung kota Seoul. Mudah saja membuat tempat ini terkenal dan dipenuhi pendaftar. Ada banyak orang tua yang begitu ingin menjadikan anaknya artis terkenal, karena itu mengikutkan mereka dalam kursus tari adalah batu loncatan yang sering dipakai. Ditambah status Donghae sebagai seorang penari berlevel internasional, rasanya bukan sebuah kejutan jika di tahun ketiga kami sudah memiliki gedung sekolah kami sendiri.

Memasuki usia 27, Donghae sudah berada di puncak kariernya. Impian untuk menikah pun jadi begitu wajar untuk mulai dia upayakan agar terealisasi. Dan saat itu, wanita-wanita mulai berdatangan kepadanya. Donghae yang selama belasan tahun bisa kuhubungi kapan saja, mendadak jadi terlalu sibuk menemani kekasihnya.

Itulah alasan awalku membencinya. Dia bodoh, bukan? Atau apa semua pria memang seperti itu? Kenapa mereka selalu mencari di tempat yang jauh tanpa sadar kalau di samping mereka ada seseorang yang menunggu dengan penuh harap?

“Hei, Jelek, kau melamun?”

Aku menoleh, mendapati Donghae duduk di sampingku dengan keringat membanjir di permukaan tubuhnya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding kaca di belakang kami, sementara kakinya direntangkan untuk melancarkan peredaran darah.

Aku memutar tubuh sedikit, meraih tas punggung Donghae dan mengambil sebuah handuk putih kecil dari dalam benda berwarna biru gelap itu. Berbalik, aku berniat mengangsurkan handuk itu kepada Donghae yang tampaknya sudah terlebih dahulu mengelap keringatnya dengan ujung baju kaos yang dia kenakan.

Alih-alih memberinya handuk, aku memberinya sebotol air mineral yang sudah sejak tadi aku pegang. Donghae mengambil botol itu dan langsung meneguk isinya.

Aku memperhatikannya dari samping. Air dari dalam botol itu tidak semuanya berakhir ke dalam saluran metabolismenya. Sebagian meleleh di sudut bibir, jatuh membasahi dagu dan mengalir menuju lehernya yang ditekuk ke atas. Keringat yang sebelumnya sudah sempat dia basuh kembali muncul dalam bentuk bulir-bulir kecil yang membuat kulit putihnya terlihat mengilap. Bodoh! Bahkan untuk minum dengan benar saja dia tidak bisa.

Dia baru saja selesai latihan. Biasanya setelah semua siswa pulang, dia akan tetap tinggal di tempat ini selama sejam atau lebih. Sudah menjadi kebiasaannya melatih beberapa gerakan setiap hari demi menjaga tubuhnya tetap luwes. Kadang-kadang, dia juga melatih beberapa gerakan baru yang cukup sulit, mengombinasikannya dengan gerakan lain yang lebih familiar, untuk kemudian diajarkannya kepada para siswa. Kalau aku, sudah menjadi kebiasaanku juga untuk tinggal di tempat ini sampai larut malam demi menemani dia melakukan hobinya itu. Dia bisa menari sampai tubuhnya benar-benar lelah kalau tidak ada yang mengingatkannya untuk beristirahat.

Aku melemparkan handuk kecil yang tadi ingin kuberikan kepadanya. Benda itu mendarat di dadanya, lalu mengikuti aturan gravitasi dan sampai ke pangkuannya. “Lap keringatmu, Bodoh!”

Dia menjulurkan lidahnya dan tersenyum jahil kepadaku, lalu menyeka sisa air yang mengalir dari sudut bibirnya dengan handuk yang kuberikan. Lihat, kan? Dia memang betul-betul bodoh. Handuk itu untuk mengelap keringat, bukannya sisa air minum. Itu saja tidak dia pahami.

“Apa yang kau lamunkan?” tanyanya lagi.

“Kapan aku melamun?” aku balik bertanya, tidak terima dengan pertanyaannya yang sok tahu itu.

“Tadi, saat aku menari.”

Oh, jadi dia sadar kalau tadi pikiranku melayang tidak jelas?

“Kau sedang jatuh cinta, ya?”

“Apa semua orang yang sedang melamun kau anggap sedang jatuh cinta?”

Dia mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaanku. Aku yakin dia melakukan itu karena tidak tahu harus menjawab apa. Sudah kubilang, dia itu bodoh. Kadang dia berbicara tanpa tahu apa yang dibicarakannya.

Donghae lalu sibuk menyeka keringat di tubuhnya, membuat aku tidak punya pilihan selain kembali mempperhatikannya. Meski sudah tidak sebanyak sebelumnya, tapi itu masih cukup untuk membuat wajahnya berkilau di bawah sinar lampu yang menerangi ruangan ini. Sialan, kenapa dia terlihat begitu seksi bahkan dengan baju lusuh dan rambut berantakan seperti itu?

“Hei, Jelek, kau sedang jatuh cinta, kan?” tanyanya lagi setelah kegiatan lap-mengelapnya selesai.

Oh iya, panggilan itu. Kalian tidak salah, dia memang memanggilku dengan julukan yang mengecilkan hati seperti itu. Donghae bilang, itu panggilan sayang, tanda bahwa keakraban kami sudah sampai pada taraf di mana kekurangan masing-masing menjadi hal yang justru semakin merekatkan hubungan kami. Alasan yang menggelikan, bukan? Sekali lagi kubilang, dia itu bodoh.

“Aku sedang memikirkan lomba yang akan kita ikuti dua bulan lagi,” dustaku.

“Ada apa dengan lomba itu?”

“Beberapa anak sepertinya akan kesulitan jika gerakannya seperti tadi,” ujarku, mengacu pada gerakan yang baru saja dipraktikkan Donghae. Dia membuat gerakan itu memang untuk diajarkan kepada beberapa siswa yang akan menjadi utusan sekolah untuk mengikuti lomba di salah satu stasiun televisi. “Taemin dan Jongin mungkin akan mampu melakukannya dengan mudah, tapi aku tidak yakin Taeyong dan Jeno mampu. Mereka masih harus banyak berlatih, sementara waktunya tidak banyak lagi.”

Dia mengangguk-angguk pelan, mempertimbangkan perkataanku. Lihat kan perbedaan aku dengan dia. Aku pandai. Aku bisa dengan mudah mencari alasan untuk menutupi perasaanku.

Donghae menarikku ke dalam pelukannya tidak lama kemudian. Lengan kokohnya memerangkap leherku hingga kepalaku seperti terkepit olehnya. Dengan satu tangannya yang bebas, dia mengacak-acak rambutku seenaknya, mengabaikan serangkaian protes yang aku sampaikan karena kebiasaannya yang satu ini selalu berhasil merusak penampilanku. Seharusnya dia tahu seberapa banyak waktu yang aku habiskan di depan cermin tadi sore untuk menata rambut ini agar terlihat sedikit lebih rapi dan bisa menarik perhatiannya.

“Kau memang yang terbaik!” pujinya.

“Lepaskan aku, Bodoh,” protesku lagi, yang kali ini berhasil dikabulkan olehnya.

Aku membenarkan posisi dudukku. Sambil memperhatikan pantulan bayanganku pada cermin yang dipasang di sisi ruangan, aku merapikan rambutku yang sudah terlihat seperti singa.

“Aku akan mendiskusikannya lagi besok dengan mereka,” ujar Donghae.

Aku bergumam, memilih untuk lebih fokus pada rambutku daripada urusan tari.

Donghae mengembuskan napas panjang. “Entah apa jadinya aku tanpamu,” ujarnya lagi, kali ini terdengar jauh lebih serius. “Tempat ini tidak akan sebesar sekarang kalau bukan karenamu.”

Aku menoleh, mendapati dia di sebelahku sedang duduk bersila menatapku dengan matanya yang selalu memancarkan sinar kekanakan. Pria itu juga tidak lupa menyunggingkan senyum bodohnya yang entah kenapa mempesona itu.

Sekolah ini adalah mimpi kami sejak dulu. Awalnya, semua hanya obrolan pengisi makan siang dari dua orang siswa sekolah menengah yang kebetulan sama-sama suka menari, tapi kemudian obrolan setengah bercanda itu berubah menjadi sesuatu yang seolah wajib terwujud ketika kami sudah memasuki bangku kuliah.

“Kau diterima di sini juga?” katanya sewaktu kami bertemu saat masa orientasi mahasiswa baru. Aku masih ingat matanya yang melebar serta senyum sumringah yang mendadak terbit di wajahnya ketika pagi itu mendapati aku berdiri di antara jejeran mahasiswa yang terkena hukuman karena datang terlambat, sama seperti dirinya.

Aku hanya tersenyum tipis sambil mengangguk untuk menjawabnya, lalu kembali fokus menyelesaikan hukuman sit-up yang diberikan salah seorang sunbae. Sampai sekarang dia masih tidak tahu bahwa seminggu sebelum pertemuan itu, aku bertengkar hebat dengan kedua orang tuaku setelah mereka mengetahui aku menolak tawaran beasiswa untuk kuliah kedokteran di salah satu universitas terkenal demi bisa kuliah di jurusan seni tari, jurusan yang sama dengannya.

Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukainya, juga tidak tahu kenapa rasa suka ini selalu berhasil membuat aku begitu ingin berlama-lama dengannya. Seolah, hariku sudah tidak bisa lagi lengkap tanpa senyum kekanakan dan suara tawanya yang aneh itu. Aku hanya tahu bahwa untuk bersamanya, aku bersedia melakukan banyak hal.

“Kau langsung pulang setelah ini?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Dia menggeleng pelan. “Aku ada janji nonton dengan Nana.”

Aku mengangguk mendengar jawabannya.

Nana. Aku juga membenci pemilik nama itu. Bukannya aku iri pada wajah cantik dan kepribadiannya yang bisa dengan mudah menarik perhatian, aku hanya iri karena dia mendapatkan perhatian Donghae lebih dari yang aku dapatkan. Padahal kalau saja rasa suka bisa diukur dengan jelas, aku yakin rasa sukaku jauh lebih banyak dibanding miliknya

Berbeda dengan rasa benciku terhadap Donghae, yang kurasakan terhadap Nana bisa serta merta menghilang kapan saja hubungannya dengan Donghae berakhir.

Diam-diam kau pasti sudah mencelaku, dalam hati mengutuki betapa gampangnya aku membenci seseorang hanya karena dia kebetulan menjalin hubungan spesial dengan orang yang kusukai. Tunggu saja sampai akhirnya kau ada di posisiku. Kau pasti akan mengerti kalau perasaan tidak suka itu datang begitu alami dan sulit ditolak.

“Hei, bagaimana menurutmu?” tanya Donghae.

“Apanya?” aku balik bertanya, bingung.

“Nana,” dia menyebutkan nama itu lagi, “apakah menurutmu dia wanita yang tepat?”

Aku menaikkan alisku dan menatap Donghae dengan sorot bertanya, menunggu dia memberi kelanjutan atas pertanyaannya. Tapi ketika beberapa detik berlalu dan dia hanya mematung sambil memasang tampang kekanakannya yang menggemaskan menyebalkan itu, aku tahu bahwa kata tepat yang dimaksudnya mengacu pada itu.

Donghae bukan seperti tipikal pria kebanyakan yang  terkadang bisa dengan mudahnya mengumbar rasa cinta dan menjalin hubungan tanpa tujuan dengan wanita mana saja yang menarik perhatiannya. Pria itu selalu berkata padaku, bahwa setiap wanita yang dekat dengannya adalah wanita yang ingin dia nikahi. Masuk akal, memang.  Sepanjang aku mengenalnya, dia tidak pernah terlihat menjalin hubungan serius dengan wanita sampai dia sudah cukup dewasa dan mapan untuk berumah tangga.

“Aku sudah memberitahu orang tuaku, dan mereka bilang mereka menyukai Nana. Tapi aku tidak bisa melamarnya kalau belum mendengar pendapatmu.”

Sebegitu berartikah pendapatku?

“Kalian bersepupu, jadi kupikir kau mengenalnya sedikit lebih baik daripada aku.”

Oh, jadi karena alasan itu.

“Menurutmu apa yang membedakan dia dengan wanita-wanitamu sebelumnya?” tanyaku.

Donghae terlihat menautkan alisnya. “Entahlah. Aku hanya merasa cocok dengannya.”

“Kau juga merasa cocok dengan wanita lain sebelum Nana,” balasku acuh.

Itulah salah satu kekurangan Donghae. Dia terlalu baik, mengganggap semua wanita itu layak berada di sampingnya. Dan jangan lupa, dia bodoh. Kepercayaan yang dia berikan kepada wanita-wanita itu sudah mencapai taraf tidak wajar hingga akhirnya mereka menyakiti Donghae dengan sebuah perselingkuhan.

“Tapi aku yakin Nana tidak akan meninggalkanku,” ujarnya membela diri.

“Kau selalu mengatakan ini setiap kali berkencan.”

“YA!” protesnya.

“Kenapa?” tanyaku, tak mau kalah.

“Kau membuatku terlihat seolah tidak memiliki standar.”

“Memang tidak, kan?” aku menggodanya lagi. Rasanya menyenangkan sekali melihat dia kebingungan seperti ini.

Donghae itu punya standar yang sangat jelas untuk mengukur wanita mana saja yang layak diperistri olehnya. Selama wanita itu perhatian dan pandai memasak, maka dia sudah memenuhi kriteria. Menurut Donghae, wanita yang perhatian dan pandai memasak itu sangat pantas dijadikan istri karena sudah pasti dia akan memperlakukan suaminya dengan baik.

Wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya memang adalah wanita perhatian dan bisa menghasilkan makanan lezat yang selalu membuat Donghae merasa lapar. Tentu saja, selalu ada bonus embel-embel lain yang menyertai dua kriteria utama itu. Jessica Jung si desainer yang mempesona, Sandara Park si koki pastry yang cantik, Im Yoona si aktris yang tidak kalah cantik, Min Sunye si aktivis yang keibuan, Nam Jihyun si guru sekolah dasar yang imut serta penuh aegyo, dan sekarang ada Im Jinah si model yang seksi.

Aku bertanya-tanya apakah akan tiba masa di mana namaku berada di jajaran wanita-wanita itu dan menjadi yang akhirnya terpilih untuk dia nikahi. Aku memang payah dalam urusan memasak, tapi kalau soal perhatian, sepertinya tidak ada yang mengalahkan perhatianku kepadanya.

“Kau yakin ingin menikahi Nana bukan karena dia seksi?”

Donghae tergelak mendengar pertanyaanku, seolah itu adalah hal paling konyol yang pernah disampaikan seseorang kepadanya.

“Memangnya salah kalau aku menyukai wanita seksi?”

Tidak ada yang salah, sebenarnya. Hanya saja, itu akan semakin memperkecil kesempatanku untuk mendapatkannya.

Kadang aku bertanya-tanya, jika tiba-tiba aku muncul di hadapannnya dengan penampilan feminin, sama seperti wanita-wanita yang pernah dipacarinya, apakah dia akan mulai melihatku lebih dari sekadar teman dan perasaanku terhadapnya akan mendapat balasan seperti yang selama ini kuinginkan? Kau tahu, seperti halnya kebanyakan cerita-cerita cinta yang beredar di luar sana.

Bukan berarti aku akan merasa nyaman dengan semua itu. Perpaduan rambut panjang, lipstik merah menggoda, sepatu tumit tinggi, dan pakaian seksi tidak akan pernah cocok untukku. Tapi bukankah semua hal patut dicoba demi mendapatkan apa yang kau inginkan?

Aku tersenyum, membayangkan seperti apa ekspresi Donghae jika suatu hari nanti aku benar-benar melakukan itu. Mengingat tabiatnya, aku yakin hal pertama yang akan dia lakukan adalah menertawaiku dan menegaskan betapa tidak cocoknya aku dengan segala hal berbau wanita seperti itu.

“Ada yang lucu?”

“Huh?”

“Kau tersenyum. Kupikir ada hal menarik yang perlu kuketahui,” tanyanya penuh selidik.

Aku menggeleng, sedikit terlalu cepat dari yang seharusnya.

Donghae menatapku curiga. Dia memicingkan mata, seolah dengan begitu dia bisa melihat lebih jelas isi kepalaku. “Kau sedang berpikiran kotor, ya?”

Mataku membulat mendengar tuduhannya. Enak saja si Bodoh ini menghakimi isi pikiranku dan mengatakan itu kotor. Kalau saja dia tahu bahwa yang kulamunkan adalah dirinya, apa dia masih rela menyebut pikiranku kotor?

Dia tampak seperti masih ingin mem-bully diriku ketika terdengar suara derap langkah dari lorong. Pintu studio terbuka tidak lama kemudian, lalu sesosok wanita tinggi berjalan memasuki ruangan, mendekati tempat di mana aku dan Donghae duduk. Api tidak suka pelan-pelan mulai merambati hatiku ketika melihat sosok itu mendekat.

Tidak ada yang salah dengan wajah cantik yang disapu riasan minimalis itu, tidak pula dengan rambut cokelat keemasannya yang dibiarkan terurai sampai ke punggung, apalagi tunik putih polos yang dipadukan dengan celana jeans biru ketat yang membingkai kaki panjangnya. Sebaliknya, perpaduan semua itu malah menegaskan kesan menggoda yang terpancar dari sepasang mata bulat berwarna hazel itu. Semuanya akan baik-baik saja seandainya itu tidak mengacu pada satu nama yang kubenci: Im Jinah.

Wanita itu tersenyum ke arah Donghae yang segera berdiri dan menyambutnya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.

“Bagaimana latihannya?” wanita itu bertanya. Matanya yang bulat dan dikelilingi bulu-bulu lentik sedikit menyipit bersamaan dengan senyum yang perlahan terbit lagi dari kedua sudut bibirnya.

“Tidak ada yang spesial,” jawab Donghae.

Ya, tidak pernah ada yang spesial dari setiap prosesi latihan yang dia lakukan bersamaku.

“Kita berangkat sekarang?” Donghae balik bertanya, yang langsung dibalas dengan sebuah anggukan oleh Nana.

Donghae berjongkok untuk meraih tasnya dan dengan asal memasukkan semua barang-barangnya yang lain ke dalam benda itu. Setelah menyampirkan tas di bahu kirinya, dia berpamitan padaku, mengucapkan selamat malam, tak lupa mengacak rambutku sekali lagi.

“Bagaimana bisa ada orang yang tertarik kepadaku jika setiap kita bertemu yang kau lakukan adalah merusak penampilanku?” keluhku.

“Sudah selarut ini, memangnya siapa yang mau kau goda?”

Tentu saja kau, Bodoh!

“Entahlah,” aku mengangkat bahuku. “Aku sedang berpikir untuk mengunjungi salah satu kelab malam di dekat sini dan mabuk sambil berdansa sampai pagi di sana.”

“YA!” dia membentakku.

Sungguh, aku menyukai sikap posesifnya itu.

Nana terlihat tersenyum melihat kelakuan kami.

“Kenapa kalian tidak menikah saja?” candanya. “Kalian terlihat begitu serasi.”

Oh, Nona Im Jinah, kau tidak tahu betapa aku berharap candaanmu itu bisa terwujud.

“Dunia bisa kiamat kalau aku menikah dengannya,” Donghae menjawab sambil tertawa mengejek, yang langsung aku balas dengan pelototan tajam ke arahnya.

Pria itu lalu merangkul Nana, menariknya menjauh tanpa berkata apa-apa lagi. Hanya Nana yang berinisiatif berpamitan dengan layak kepadaku. Dia melepaskan tangan Donghae yang tersampir di pundaknya dan membalikkan badan hingga kami berhadapan.

“Hyukjae-ssi, temanmu kuculik sebentar, ya,” ujar Nana seraya mengedipkan matanya kepadaku. Dengan sikap manjanya yang seperti biasa, dia kembali menempelkan tubuhnya ke pada Donghae yang kemudian membawanya keluar dari studio ini.

Aku memandang mereka menjauh dengah perasaan yang tidak menentu, sama seperti yang biasa aku lakukan setiap kali seorang wanita datang dan menyudahi kebersamaanku dengan Donghae.

Pintu tertutup, untuk terbuka lagi tak lama kemudian.

“Hei, Jelek,” suara Donghae terdengar lagi. Sebagian tubuhnya sudah terhalang oleh pintu, hanya kepalanya yang terlihat menyembul. “Kau terlihat lebih seksi dengan rambut berantakan. Percayalah!” ujarnya sebelum benar-benar menutup pintu studio.

Huh, apakah dia tidak tahu kalau hal sesederhana itu bisa membuat perasaanku kepadanya bertambah dan semakin tidak bisa kukendalikan?

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku memang jelek, tubuhku kurus dan tentu saja tidak seindah Im Jinah—atau wanita lain yang pernah menjadi kekasih Donghae. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, perasaanku terhadap pria itu pasti akan berbalas. Aku hanya perlu bersabar sedikit lebih lama hingga datang hari di mana Donghae mulai sadar bahwa untuk bahagia yang dibutuhkan hanya kasih sayang. Jenis kelamin bukanlah sesuatu yang patut dijadikan persoalan.

THE END

A/N: Pernah dipublish di blog pribadi penulis dengan judul dan cast yang sama.

3 thoughts on “[Oneshot] My Stupid Best Friend”

  1. Awalnya semuanya berjalan biasa saja tentang seseorang yang menyimpan rasa pada teman dekatnya, tapi mendekati akhir… omg HYUKJAE? Saya sampe harus kroscek 2x dan baca ulang ketika Nana pamitan dan kemudian saya menemukan titik terang di ending cerita.
    Sial. Plot twist-nya mantab. Lumayan bikin kaget. Karena saya pikir sudut pandang orang pertama serba tahu yang digunakan penulis adalah pembaca itu sendiri, tapi ternyata…

    WOAH. Saya masih bingung mau komentar apa. Yang jelas saya ikut larut dalam ceritanya. Well written.

    Suka

  2. Yaampuunn thoor sukses bikin aku berkata kasar setelah bacanya 😂😂😂
    Gaya bahasamu enak thor, mengalir gitu, sampai aku baper hiks. Lalu semuanya hancur ketika lee hyukjae datang 😂😂kukira ada orang lain disitu selain donghae sama si aku, ternyata hyukjae itu si aku 😂😂 ff ini berkesan banget 😂😂 keep writing!!! 😳😳

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s