The Story Only I Didn’t Know [7/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [7/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1. 2. 3. 4. 5. 6

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Jung-gu South Korea

Incheon Internasional Airport

Seorang wanita cantik menyeruak di antara ribuan orang yang memenuhi bandara Incheon. Bandar udara terbesar di Korea Selatan dan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Bahkan menurut Survei dari Global Traveller, bandara ini juga termasuk dalam bandara terbaik di Dunia, dengan 63 maskapai penerbangan yang melayani penerbangan di bandara ini.

Langkah anggun itu semakin mendekati pintu kedatangan, terbalut stelan celana panjang dan atasan berwarna putih, di balut coat panjang berwarna peach, kacamata hitam yang membingkai dengan manis di wajah angkuh wanita itu. Sebuah tas berwarna silver dengan harga puluhan juta won, bertengger di salah satu tangannya, membuat wanita itu terlihat mahal layaknya wanita dari kalangan kelas atas.

Wanita itu menghentikan langkahnya, melepaskan kacamatanya seraya menatap seorang laki-laki yang sudah membungkuk hormat ke arahnya. Senyum angkuh itu sudah tersungking di wajahnya, seraya melangkah mendekat ke arah laki-laki itu.

“Selamat datang di Seoul, Nyonya Lee Eunjung.” Sapa laki-laki itu dengan santun, wanita itu hanya mengangguk sekilas, selanjutnya wanita itu sudah kembali melanjutkan langkahnya, di ikuti laki-laki itu yang berjalan di belakangnya, menuju sebuah mobil yang sudah menanti di luar bandara.

***

Seoul International Hospital

Minjung VVIP Room – 04.00 pm

Chanyeol masih berada di posisinya, tidak berpindah sejak 2 jam yang lalu. Duduk di samping ranjang, menatap Minjung yang belum terbangun dari efek obat tidur yang di suntikkan oleh dokter ke tubuhnya. Chanyeol membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh Minjung, udara sore hari ini terasa sedikit menusuk tulang.

“Ahjussi apa penghangat ruangan perlu di tambahkan? Aku takut eomma kedinginan?” tanya Chanyeol pada Sangwon yang duduk di sofa, tepat di depan ranjang Minjung.

“Ini sudah sangat hangat tuan muda,” Sangwon tersenyum seraya bangkit dari duduknya, menatap Chanyeol yang terlihat masih sangat khawatir dengan keadaan Minjung. “Tuan muda tenang saja, nyonya Park pasti akan baik-baik saja,” Sangwon mengusap bahu Chanyeol dengan lembut, membuat Chanyeol mengangguk dengan tersenyum lega.

“Sejak beberapa jam yang lalu handphone tuan muda terus berdering, sepertinya tuan muda melupakan sesuatu,” ucap Sangwon seraya menatap Chanyeol yang tidak mengerti dengan ucapannya. “Dia sudah di sini, dia juga terlihat sangat mengkhawatirkan mu tuan muda,” Sangwon menahan senyum wibawanya, saat Chanyeol belum mengerti juga dengan apa yang dia maksud.

Nde?”

“Dia ada di taman rumah sakit, temuilah dia.” Ucap Sangwon seraya menyerahkan handphone milik Chanyeol, yang baru saja di bawa oleh salah satu pengawal keluarga Park.

Chanyeol menatap layar handphonenya, membulatkan matanya saat menatap nama pemanggil yang sama di handphonennya. Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Sangwon yang sudah mengangukkan kepalanya, menyakinkan Chanyeol jika Minjung akan baik-baik saja dan di detik berikutnya Chanyeol sudah berlalu dari ruangan Minjung.

***

Chanyeol menghentikan langkah cepatnya, saat matanya menangkap seorang gadis yang sedang duduk di salah satu bangku, di taman rumah sakit ini. Gadis dengan dres pendek berwarna biru, di balut cardigan warna senada, terlihat gelisah hingga membiarkan rambut panjangnya yang tergerai, bergerak tak beraturan saat angin yang berhembus sedikit kencang sore ini menerpanya.

Chanyeol berjalan pelan menghampiri gadis itu, tersenyum menatap gadis yang belum menyadari kehadirannya. Perlahan Chanyeol duduk tepat di samping gadis itu, membuat gadis itu terkejut dan menatapnya dengan mata yang membulat.

“Park Chanyeol?” ucap gadis itu masih dengan wajah terkejutnya.

Chanyeol kembali tersenyum menatap gadis cantik di hadapannya, menatap dengan tatapan hangatnya. Perlahan Chanyeol mengerakkan tangannya, menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membuat gadis itu terdiam dengan tubuh yang membeku.

“Mianhae— Eomma terjatuh dari tangga, aku benar-benar panic hingga lupa mengabari mu,” Chanyeol mengeratkan pelukannya pada tubuh gadis yang masih menegang itu, merasa bersalah karna sempat melupakan janji bertemu dengan gadis itu. “Aku benar-benar tidak bisa berfikir saat melihat darah, keluar dari hidung dan mulut Eomma, aku— aku benar-benar takut Jiyeon-aa.”

Jiyeon terdiam sesaat, gadis yang sempat akan mencincang Chanyeol yang tak kunjung datang itu pun, terlihat menarik nafasnya. Satu jam yang lalu Paman Kim menelphonenya dan memberi kabar jika ibu Chanyeol mengalami kecelakaan dan mengatakan, jika Chanyeol sangat terpukul akan hal itu.

Tanpa pikir panjang gadis itu langsung menuju rumah sakit, entahlah gadis itu hanya ingin memastikan keadaan Chanyeol saat ini. Merasa jika dia harus berada di samping laki-laki itu, di samping laki-laki yang diam-diam, selalu membuatnya tersenyum dalam rasa bahagia yang tak di mengerti oleh gadis itu.

Perlahan tangan Jiyeon mulai bergerak, mengusap punggung Chanyeol dengan lembut. “Gwenchana— Chanyeol-aa, Kim Ahjussi sudah mengatakan semuanya pada ku. Ibu mu— pasti akan baik-baik saja.”

Chanyeol mengangguk, meletakkan dagunya pada bahu Jiyeon dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang gadis itu. Menghirup aroma semanis vanilla yang menguar dari tubuh Jiyeon, aroma yang akhir-akhir ini selalu memenuhi indra penciuman Chanyeol, aroma yang selalu mampu membuatnya merasa tenang dan tidak merasa sendirian.

“Gomawo,— gomawo Jiyeon-aa,“ ucap Chanyeol sesaat sebelum semakin menarik Jiyeon ke dalam dekapannya.

***

Sepasang mata yang tertutup itu mulai terbuka, mengerjab untuk menyesuaikan dengan cahaya yang ada d sekitarnya. Nafas pelan pun terdengar keluar dari pernapasannya, membuat seorang laki-laki paruh baya yang sedari tadi, duduk di sofa yang tak jauh darinya, beranjak dari tempatnya saat tubuh itu mulai bergerak pelan.

Laki-laki itu bergegas menghampiri ranjang tempat wanita itu terbaring, menatap wajah pucat itu dengan senyum lega, yang tergambar jelas di wajah laki-laki itu saat ini. “Nyonya sudah sadar,” ucap laki-laki itu seraya menekan tombol pemanggil dokter yang ada di pinggir ranjang.

Dalam segejab tim dokter terbaik di rumah sakit itu pun sudah memenuhi ruangan, memeriksa dengan cermat wanita yang berpredikat sebagai istri, dari pengusaha terkaya di Korea Selatan. Memeriksa dengan segenap kemampuan yang di miliki, dengan nama baik sebagai taruhannya.

Tak bisa di pungkiri jika hal buruk sampai terjadi, tak ayal mutasi akan di lakukan sebagai konsekuensinya. Resiko jika sudah berhadapan dengan kalangan Konglomerat, yang tak mengenal kata gagal dalam garis hidup mereka.

***

Chanyeol berlari menelusuri koridor rumah sakit, menarik pergelangan tangan Jiyeon hingga gadis itu mengikuti langkah panjangnya. Jiyeon bahkan terlihat sudah sangat kepayahan, menyeimbangi langkah cepat Chanyeol saat ini. Ya laki-laki itu langsung berlari dengan cepat, saat Sangwon memberi kabar jika Minjung sudah sadarkan diri.

Dengan tergesa Chanyeol membuka pintu ruangan Minjung, laki-laki itu tersenyum lebar menatap Minjung yang sudah duduk bersandar di atas ranjang pasiennya. Sangwon yang berdiri di samping Minjung tampak menunduk sekilas, seraya tersenyum hangat ke arah Chanyeol dan Jiyeon yang berdiri mematung di samping Chanyeol dengan mengatur nafasnya yang masih memburu.

“Eomma,—“ ucap Chanyeol dengan suara pelannya, langkah kaki Chanyeol terhenti seketika saat tatapan dingin Minjung menghujam dirinya.

Chanyeol mengeratkan gengaman tangannya pada Jiyeon, laki-laki itu menatap Minjung yang kini sudah memalingkan wajahnya, membuat Jiyeon terdiam dengan rasa binggung yang menyelimuti hatinya. Karna bagi gadis itu, keadaan ini terlalu dingin, bagi seorang anak pada ibuya.

“Syukurlah eomma sudah sadar,” suara Chanyeol terdengar mulai gemetar, mata bulatnya masih menatap Minjung yang enggan mengalihkan pandangannya, pada sosok Chanyeol yang berdiri kaku di dekat sofa di depan ranjang Minjung. “Jungsoo hyung— baru saja mengabari ku jika— 2 jam lagi pesawatnya akan mendarat di landasan rumah sakit ini,” Chanyeol menarik nafasnya pelan, menatap sekilas ke arah Sangwon yang sudah menatapnya dengan raut menyesal.

“Aku— aku akan menunggu di luar,” ucap Chanyeol seraya membalikkan tubuhnya, Jiyeon yang terkejut hanya bisa membungkuk sekilas lalu ikut, beranjak keluar saat Chanyeol menarik tangannya.

Sangwon menatap punggung Chanyeol yang baru saja, menghilang di balik pintu, laki-laki paru baya itu nampak menarik nafasnya pelan saat menyadari sebulir airmata sudah jatuh di pipi Chanyeol, sesaat sebelum laki-laki itu membalikkan tubuhnya.

“Tuan muda terus menangis saat mendapati nyonya terjatuh dari tangga, dia juga terus menemani nyonya di sini. Dia bahkan berdoa dengan tetap menangis, saat nyonya belum juga sadar beberapa jam yang lalu.” Ucap Sangwon dengan sikap santunnya, tanpa melihat ke arah Minjung. Hingga Sangwon tidak pernah tahu jika sebulir airmata, sudah jatuh di pipi pucat Minjung saat ini.

***

Dari balik pintu terlihat seorang laki-laki, mengunakan jas putih lengkap dengan sarung tangan dan masker yang menutupi setengah dari wajahnya, selayaknya seperti petugas kebersihan rumah sakit. Mendorong troli besar setinggi pinggang orang dewasa dan memiliki roda yang biasa di gunakan, untuk menyimpan pakaian kotor dari pasein di rumah sakit.

Perlahan laki-laki itu masuk ke dalam ruangan Minjung, sesaat setelah Chanyeol keluar dari ruangan itu seraya berjalan menjauh. Laki-laki itu menunduk hormat ke arah Sangwon dan Minjung sebelum melakukan tugasnya, membersihkan ruangan. Laki-laki itu meletakkan troli tak jauh dari ranjang Minjung, seraya memperhatikan wanita itu yang kini mulai merebahkan kembali tubuhnya di ranjang pasien. Menatap Sangwon yang berjalan melewatinya dengan tersenyum.

Sesaat kemudian laki-laki itu terlihat mengeluarkan kain putih dari balik saku jas yang di pakainya, berjalan pelan nyaris tak terdengar ke arah Sangwon yang baru saja ingin mendudukkan tubuhnya di atas sofa.

“Eemmpphhh—-“ dalam satu gerakan cepat laki-laki itu sudah membekap mulut Sangwon, dengan kain yang sudah di beri obat bius, hingga laki-laki paruh baya itu terkulai lemah di atas sofa.

Minjung yang melihat keadaan itu sontak terkejut, seraya mengapai tombol darurat yang ada di pinggir ranjang. Namun belum sempat Minjung meraih tombol itu, wanita itu sudah kembali di kejutkan oleh seorang wanita, berparas seperti dirinya keluar dari pintu troli yang di bawa laki-laki yang masih terlihat sibuk mendudukkan tubuh Sangwon di atas sofa.

Wanita cantik itu berpenampilan sangat mirip dengan Minjung, dari makeup wajah, model rambut bahkan warna cat kuku yang di pakainya kini, menyeringai menatap Minjung yang terkejut. Berjalan pelan hingga berdiri tepat di depan ranjang Minjung, mengibaskan rambutnya seraya merentangkan kedua tangannya.

“Apa kabar my twins— Lee Minjung?”

“Ka—kau?” wanita itu hanya tersenyum, saat Minjung menunjuk wajahnya. “Kau terkejut?” tanya wanita itu dengan senyum sombongnya.

Minjung menatap Eunjung saudara kembarnya dengan tidak percaya, menatap wanita yang dulu sangat di sayanginya melebihi apapun, hingga wanita itu menghancurkan kehagiannya tanpa sisa. Menatap wanita yang kini menyeringai saat laki-laki dengan wajah yang tertutup masker, sudah berdiri di samping wanita cantik itu.

“Karna kau aku kehilangan Park Seungho yang lebih memilih mu, padahal akulah yang pertama kali mengenalnya. Membuat mu menjadi wanita yang di segani, karna status mu sebagai istri orang terkaya di Korea Selatan. Sedangkan aku?” Eunjung tertawa sumbang saat mengingat masa mudanya.

Eunjung adalah seorang model terkenal di masanya, banyak sekali laki-laki yang tergila-gila padanya, namun Eunjung hanya menyukai Seungho kakak kelasnya saat di Universitas. Semua bisa di raih oleh Eunjung saat muda, berbeda dengan saudara kembarnya, Lee Minjung.

Minjung muda hanyalah remaja pemalu yang tidak begitu banyak teman, tidak pandai bergaul, tidak bisa berdandan dan tidak terkenal seperti Eunjung, hingga beberapa orang tidak menduga jika Eunjung dan Minjung adalah saudara kembar karna perbedaan mereka kala itu.

Namun Seungho justru jatuh cinta pada Minjung sejak pertama kali Eunjung mengenalkan Minjung padanya, jatuh cinta pada kepribadian Minjung yang santun dan tulus dalam melihat segala sesuatu hal. Tidak ambisius seperti Eunjung dan akhirnya Seungho memutuskan untuk menikahi Minjung, beberapa bulan setelahnya.

Eunjung yang masih sangat muda kala itu merasa sangat hancur, menghabiskan hidup sempurnanya dengan minuman dan obat-obatan, hingga menghancurkan karirnya di dunia modeling di beberapa tahun setelahnya. Eunjung yang sejak kecil selalu lebih unggul dari Minjung, benar-benar tidak bisa menerima kekalahan telak dari saudara kembarnya itu.

“Seharusnya aku yang menjadi nyonya besar bukan kau? Sampai sekarang aku belum rela Seungho oppa menikah dengan mu,” Eunjung menyeringai, menganggukkan kepalanya sekilas  sesaat setelah mata tajamnya menatap ke arah laki-laki bertutup masker, membuat Minjung menahan nafasnya saat laki-laki itu mulai mendekati ranjangnya.

“Sekarang saatnya kita kembali berbagi, my twins.”

***

Chanyeol terus berjalan hingga berada di lobi rumah sakit, di sampingnya Song Jiyeon tampak diam dengan banyak pertanyaan yang tersembunyi di balik tatapan saat ini. Perlahan Chanyeol menghentikan langkahnya saat sudah berada di depan pintu keluar rumah sakit, menatap Jiyeon dengan sebuah senyum hangat di bibirnya.

“Pulanglah,—“ Jiyeon mengerjab, sesaat kemudian Chanyeol tampak mengerakkan tangannya, mengusap kepala Jiyeon dengan lembut. “Gomawo—“ lagi-lagi Chanyeol tersenyum.

“Tapi—“

“Aku baik-baik saja, pulanglah Jiyeon-aa,” potong Chanyeol dengan cepat, mengabaikan tatapan khawatir dari gadis yang mulai di yakininya sudah membuatnya jatuh cinta.

Dengan ragu akhirnya Jiyeon hanya bisa mengangguk, berjalan pelan keluar dari rumah sakit gadis itu sempat berbalik untuk memastikan keadaan Chanyeol dan melihat laki-laki itu sudah berbalik berjalan pelan dengan kepala yang tertunduk .

***

— Meanwhile —

Seoul International Hospital Rooftop

Sebuah Jet Pribadi bertuliskan Heaven terlihat mulai mendarat di landasan, sesaat kemudian terlihat seorang laki-laki tinggi berwajah tampan dengan lesung pipi yang terlihat saat laki-laki itu tersenyum dengan seorang petugas rumah sakit yang menyambutnya. Di belakangnya berdiri seorang laki-laki paruh baya yang memiliki garis wajah seperti dirinya, berjalan tergesa menuju sebuah lift yang akan membawa mereka ke dalam rumah sakit.

“Apa istri ku sudah lebih baik?” tanya laki-laki paruh baya pada petugas rumah sakit, saat baru saja masuk ke dalam lift.

“Ne tuan Park.”

***

Minjung’s VVIP Room

Chanyeol menatap ragu pintu ruangan Minjung, mengurungkan niatnya untuk melangkah masuk ke dalam ruangan dan memilih duduk di bangku tunggu yang ada di luar ruangan. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya pada tembok yang terdapat di belakangnya, dengan menutup kedua mata bulatnya.

Sesaat kemudian laki-laki itu sudah membuka kembali kedua matanya, mengalihkan pandangannya dan menatap tidak percaya ke arah 2 orang laki-laki yang dikenalnya, berjalan mendekat dengan beberapa dokter dan perawat rumah sakit.

“Appa, Jungsoo hyung?” Chanyeol bangkit dari duduknya, berlari lalu memeluk sang ayah dengan erat. “Eomma— dia,” Chanyeol tak dapat melanjutkan ucapannya saat sang ayah mengusap bahunya dengan lembut.

“Gwenchana semua pasti akan baik-baik saja,” Seungho tersenyum seraya melepaskan pelukannya, Chanyeol mengangguk lalu menatap kakak laki-lakinya lalu memeluknya dengan erat. “Hey! Kau sudah 17 tahun berhentilah menangis,” ucap Jungsoo dengan kekehan kecilnya.

Jungsoo merangkul pundak Chanyeol lalu kembali melanjutkan langkah mereka yang terhenti, seorang perawat terlihat memajukan langkahnya dan membuka pintu. Tepat saat pintu terbuka seorang laki-laki dengan masker yang menutupi wajahnya dengan membawa sebuah troli besar, menyeruak keluar dari ruangan Minjung, terlihat menunduk lalu bergegas berlalu dari hadapan mereka.

“Dia—“ ucap Seungho pada dokter Moon yang berdiri di sampingnya. “Petugas kebersihan rumah sakit, tuan Park.” Seungho mengangguk sesaat sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan, di susul dengan tim dokter dan para perawat.

Sedangkan Jungsoo laki-laki itu tampak menghentikan langkahnya, memalingkan wajahnya seraya menatap ke arah petugas kebersihan yang terberjalan tergesa dan baru saja menghilang di ujung koridor rumah sakit.

“Ada apa hyung?” tanya Chanyeol seraya mengikuti arah pandang Jungsoo, namun Jungsoo hanya mengeleng pelan lalu masuk ke dalam ruang perawatan Minjung.

 

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

3 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [7/9]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s