Dangerous – Chapter 7

DANGEROUS

[BTS FF] DANGEROUS –Chapter 7-

 

 “Kau yang melakukannya kan?” tanya Taehyung yang terlihat marah. 

Yoongi mencibir Taehyung dengan senyum yang meremehkannya. “Apa pedulimu, Kim Taehyung? Apa kau menyukainya?”

Kedua mata Kyuwon terbuka perlahan. Kini matanya sudah terbuka sempurna, Kyuwon menerawang langit-langit. Kemudian dengan perlahan mengalihkan tatapan pada orang yang ada di sampingnya. Kyuwon melihat wajah Daehyun yang terlihat bahagia.

 

“Kyuwon-ah, akhirnya kau sadar…” ucap Daehyun.

Title: Dangerous

Scriptwriter:  Reixmember

Genre: School Life, Romance, Drama

Rating: PG-17

Duration: Chaptered (1-12)

Previous Chapter: 1 // 6

Cerita murni berasal dari imajinasi pengarang sendiri. BTS milik Tuhan, orang tuanya, agensi, dan tentunya ARMY.  FF ini pernah di-post  di BTS Fanfiction Indonesia.

Cast:

  • BTS members
  • Lee Kyuna (OC)
  • Lee Kyuwon (OC)
  • Daehyun (BAP)
  • and other cast

chapter sebelumnya…

Bis yang Kyuna tempati mulai melaju dan Kyuna masih menatap Jin dan Taehyung sampai laju bis itu sudah meninggalkan bis Jin dan Taehyung. Seiring dengan bis yang mulai cepat melaju, Kyuna pun kembali dengan cepat mengalihkan pandangannya pada halaman buku yang sedang dibacanya, namun ia belum membaca kembali novel itu. Kyuna terdiam sesaat.

“Perasaan apa ini?” ucap Kyuna dalam hati saat ia merasakan detak jantungnya terasa sedikit lebih cepat.

***

Airin melihat gelagat aneh Kyuna, dia yang hanya diam saja. “Kyuwon, kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?”. Mendengar pertanyaan dari Airin, Kyuna langsung menoleh pada orang yang duduk di sebelahnya itu, “eo… bukan apa-apa.” jawab Kyuna bohong.

“Benarkah?” tanya Airin memastikan, “tadi wajahmu itu aneh” lanjut Airin. Kyuna memainkan bola matanya ke atas lalu menatap Airin, “Airin… wajahmu juga aneh,” ucap Kyuna sambil menatap intens wajah Airin. “Mwo?” ucap kesal Airin. Sementara  Kyuna sedikit tertawa melihat ekspresi Airin yang berubah jadi kesal.

“Ya, makanlah ini, kalian mengobrol berdua saja dari tadi,” ucap Seulgi sambil menyodorkan satu bungkus makanan ringan. Airin langsung mengambil makanan ringan itu dari tangan Seulgi. Kemudian Airin membuka bungkusan makanan ringan itu lalu mengambil makanan itu dan memakannya. Kyuna juga hendak mengambil makanan ringan di tangan Airin. Namun, Airin menarik bungkusan itu menjauh dari tangan Kyuna. “Kau tidak boleh memakannya, ini hanya untukku.” ucap Airin sedikit ketus. “Aigoo… ck..ck…” sahut Kyuna pada Airin.

***

Di bus dua…

Guru Cho berdiri di tengah-tengah siswa-siswa yang duduk. dan memegang mikrofon kemudian mulai berbicara, “Semuanya, sebelum menuju tempat utama, kita akan melewati sebuah desa yang bangunan rumahnya masih tradisional. Kita akan singgah ke desa itu untuk melihat dan menikmati rumah-rumah tradisional Korea. Perjalanan sekitar dua jam menuju desa itu. Di sana kita hanya akan singgah selama satu jam saja karena kita akan langsung berangkat menuju tempat utama dari desa itu.”

Sampai di sebuah desa…

Semua siswa turun dari busnya masing-masing. Setiap kelas berkeliling desa itu dengan dipandu oleh satu tokoh desa yang berbeda setiap kelasnya. Banyak rumah-rumah tradisional Korea di sana, yang disebut hanok. Bagian depan rumah itu menghadap ke arah selatan dan timur yang dimaksudkan agar cukup mendapatkan sinar matahari. Tiang dan kerangka rumahnya terbuat dari kayu, temboknya terbuat dari campuran tanah dan rumput, sedangkan atapnya ada yang terbuat dari genteng. Pinggiran atap yang melengkung disebut cheoma. Panjang cheoma ini menentukan jumlah sinar matahari yang masuk ke dalam hanok.

Para siswa dan murid menikmati pemandangan desa ini, di kota mereka jarang sekali menemukan rumah tradisional mengingat kini banyak bangunan pencakar langit dan bangunan-bangunan yang berkonsep moderen.

***

Di penginapan…

Setelah satu jam perjalanan dari desa tersebut, akhirnya para siswa dan guru sampai di penginapan. Penginapan itu terletak di daerah pengunungan yang membuat orang-orang yang berada di sana bisa merasakan udara yang segar dan pemandangan hijau yang indah. Dibantu para guru, siswa menurunkan barang-barang yang dibawanya, kini mereka sudah ada di halaman depan penginapan. Bangunan penginapan itu terbilang besar dan fasilitas yang ada juga cukup memenuhi.

“Perhatian semuanya… agenda kita di sini… pukul 1-2 acara post to post, pukul 3-5 acara bebas. Sesudah makan malam, pukul 7-9 acara jurit malam dan setelahnya adalah waktu untuk istirahat. Esok harinya pukul 8-10 acara permainan yang sudah dirancang para guru. Sesudah acara permainan lalu kita akan persiapan pulang kembali ke Seoul. Dan untuk pembagian kamar, silakan untuk menempati kamar yang sudah kalian tentukan sendiri sebelumnya di sekolah. Di depan pintu kamar ada daftar nama, jadi kalian tahu kalian ada di kamar berapa. Untuk siswa laki-laki menempati kamar di lantai satu dan dua, sedangkan untuk siswa perempuan menempati kamar di lantai tiga dan empat. Jika sudah tidak ada pertanyaan, silakan ke kamar kalian, taruh barang-barang kalian dan setelah itu turun ke lantai satu bagian ruang makan, karena kita akan makan siang bersama-sama. Kalian mengerti?” jelas Guru Han panjang lebar.

“Ne…” jawab semua murid. Mereka pun bergegas ke kamarnya.

Saat sesudah makan siang…

Guru Kim berdiri dan mengumumkan, “Semua murid semuanya, setelah makan siang ini, kalian diberi waktu 30 menit untuk mempersiapkan diri kalian mengikuti acara siang, yaitu acara post to post. Ganti pakaian kalian dengan pakaian olahraga sekolah dan setelah itu kalian berkumpul di halaman depan penginapan. Tidak boleh ada yang terlambat, kalian harus berkumpul di halaman depan tepat waktu.” Saat ini para siswa memang menggunakan seragam sekolahnya, dan saat acara siang mereka harus memakai pakaian olahraga sekolah.

***

Acara post to post

Pukul 1 siang, semua murid kelas tiga sudah berbaris sesuai dengan kelasnya di halaman depan penginapan, menunggu instruksi dari para guru. Guru Cho maju dan mulai berbicara, “Siang ini kita akan masuk ke acara pertama yaitu acara post to post. Seperti nama acaranya, jadi kalian harus mengunjungi pos-pos yang tersebar di sekitar daerah penginapan ini. Ada lima pos, setiap pos memiliki tantangan yang berbeda-beda dan kalian harus melakukannya. Jika kalian bisa menyelesaikan tantangan dari satu pos maka kalian boleh melanjutkan ke pos berikutnya. Guru sudah menentukan pembagian kelompoknya, untuk pembagian kelompok… dengarkan baik-baik… pembagian kelompok akan dicampur dengan kelas lain, jadi satu kelompoknya tidak akan dari satu kelas.”

“Sudah aku duga….” celetuk Hyejeong. “Tenang saja Hyejeong, semoga kita bisa satu kelompok,” sahut Airin.

“Dengarkan baik-baik… anggota kelompok yang guru sebutkan langsung berbaris sesuai dengan kelompoknya. Kelompok pertama: Airin, Jimin, dan Yoongi. Kelompok kedua: Namjoon, Jungkook, dan Hyejeong. Kelompok ketiga: Taehyung, Jin, dan Kyuwon. kelompok keempat: Seulgi, Hyejin, dan Hoseok, kelompok kelima: …..”

Aishh…. kenapa aku harus satu kelompok dengannya,” ucap Hyejeong ketika baris sesuai kelompok dan di depannya ada Namjoon dan Jungkook. “Aku juga tidak mau satu kelompok denganmu,” sahut Namjoon sedikit ketus. “Ya, ya… sudahlah…” Jungkook menengahi mereka.

“Guru Cho, yang benar saja… masa aku satu kelompok dengan mereka dan aku hanya laki-laki sendiri..” ujar Hoseok kesal karena satu kelompok dengan dua perempuan, pasti akan merepotkan, pikir Hoseok.

“Jung Hoseok… kau tidak boleh protes, ini sudah ketentuan..” sahut Guru Cho sambil membagikan peta kepada setiap kelompok.

Kelompok Airin, Jimin, dan Yoongi hanya diam. Mereka bahkan tidak protes dan tidak berbicara satu sama lain. Airin melihat Jimin dan Yoongi yang terlihat sibuk masing-masing dan cuek. “Aku tidak yakin kelompok ini akan berhasil,” Airin pesimis terhadap kelompoknya sendiri.

Sementara itu kelompok Taehyung, Jin, dan Kyuwon (Kyuna), kelompok yang tidak bisa diprediksi akan jadi kelompok seperti apa. Taehyung ada di barisan depan mengamati peta yang dibagikan Guru Cho, Jin menoleh ke belakang, ia melihat penampilan Kyuna yang sedikit berbeda. Kyuna mengikat satu rambutnya sehingga memperlihatkan leher putihnya. Jin kembali menoleh ke depan. Sedangkan Kyuna dari tadi hanya menundukkan kepalanya.

***

Saat acara post to post

Setelah mendengar instruksi dari Guru Cho, semua murid pun memulai perjalanannya. Setiap kelompok mengambil jalan yang berbeda, hal ini dimaksudkan agar setiap kelompok tidak saling bertemu di pos yang sama. Setiap pos memiliki tantangan yang berbeda. Ada pos yang meminta siswa menebak ramuan minuman yang sudah dibuat para guru, hal ini dimaksudkan untuk menguji indera perasa siswa. Kemudian ada pos yang menyediakan rempah-rempah dan meminta siswa menebak rempah-rempah itu dengan menutup matanya, tentu saja tantangan di pos itu menguji indera penciuman siswa.

Adapun pos lainnya, yaitu pos kerja sama, yang mana setiap kelompok harus bekerja sama menyusun sebuah puzzle yang akan berbentuk sebuah gambar dan harus ditebak oleh setiap kelompok. Selanjutnya adalah pos kekompakkan, setiap kelompok diminta memindahkan air dengan sendok secara estafet. Terakhir, pos  pengungkapan diri, yang mana setiap siswa dalam kelompok harus mengungkapkan diri mereka dalam satu kata yang berhubungan dengan alam.

Kegiatan pun dimulai. Kelompok Jin, Taehyung, dan Kyuna berangkat, Taehyung ada di depan bersama Jin, sementara Kyuna berjalan di belakang mereka. Di sini Taehyung bertindak sebagai penentu arah karena dia yang dari tadi membaca peta dengan seksama dan mengamati daerah sekitarnya. Taehyung menghentikan langkahnya, “hyung… aku rasa kita jalan ke sini,” ucap Taehyung sambil mengarahkan telunjuknya ke arah jalan di sebelah kiri. Jin mengangguk, “Aku percaya padamu, Taehyung, kau kan pandai membaca peta.” Jin menoleh ke belakang lalu menarik Kyuna ke depannya. “Kenapa kau dari tadi diam saja dan berjalan di belakang… kau jalan di depanku, biar aku yang di paling belakang.” Kyuna menurut pada Jin. Taehyung melirik Kyuna yang ada di belakangnya. Pandangan mereka bertemu, tidak ada ucapan dari Taehyung karena dia langsung kembali berjalan.

Setelah beberapa menit berjalan. “Oh… itu ada pos…” seru Jin ketika melihat sebuah meja dan ada guru di sana. Jin, Taehyung, dan Kyuna langsung menuju pos itu.

“Wah… kalian kelompok pertama yang datang…” ucap Guru Kim. “Di pos ini kalian diminta menebak minuman dalam gelas ini… kalian harus mencobanya agar bisa menebaknya. Minuman ini dibuat oleh guru sendiri, jadi minuman ini aman diminum,” jelas Guru Kim.

Ada dua minuman yang harus ditebak. Taehyung mengambil gelas pertama yang berwarna kehijauan. Kyuna akan mengambil gelas kedua, namun diambil oleh Jin. “Biar aku saja,” ucap Jin sambil mengambil minuman berwarna keunguan itu.

Taehyung mulai mencoba minuman itu dan ketika ia baru meminumnya sedikit, ia langsung menjulurkan lidahnya. Sepertinya minuman itu tidak enak. “Bagaimana, Taehyung?” tanya Guru Kim. “Tidak enak, guru…” ujar Taehyung. Taehyung mencium bau minuman itu, “Aku pikir ini… dari rasa dan baunya… hmm… seledri” tebak Taehyung. “Wah… kau benar Taehyung” ucap Guru Kim, Taehyung langsung tersenyum karena tebakannya benar.

Sekarang giliran Jin yang mencoba minuman kedua, setelah sedikit meminumnya, Jin mengerutkan dahinya. Ia ragu menebak minuman itu. “Aku tidak tahu ini apa…” ucap Jin, kemudian karena penasaran, ia meminumnya kembali. Jin tampak berpikir dan mencium bau minuman itu. “Aku tidak tahu ini apa… tapi Kalau dari warnanya… mungkin… buah bit?” tebak Jin ragu.

“Wah… sayang sekali, Jin… sedikit lagi…hampir tepat,” ujar Guru Kim. “Guru beri kesempatan satu kali lagi untuk menebaknya,” lanjut Guru Kim.

“Hmm… biar aku saja, guru…” ucap Kyuna. Dia pun mengambil minuman dari tangan Jin lalu meminum minuman itu. Kyuna meminum dari gelas yang sama dari minuman yang diminum oleh Jin tadi. Melihat itu, Taehyung menatap Kyuna dengan tatapan tidak suka.

Setelah meminumnya, Kyuna sedikit berpikir. “Buah bit dan… hmm… buah naga… minuman ini campuran dari buah bit dan buah naga, guru” tebak Kyuna.

“Kau benar Kyuwon…” Guru Kim pun memberi cap pada kertas kelompok mereka, tanda bahwa mereka sudah berhasil melewati tantangan di pos itu. “Nah karena kalian bisa menebak minuman ini maka kalian boleh melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya,” jelas Guru Kim. Kemudian Jin, Taehyung, dan Kyuna pun pamit pada Guru Kim dan membungkuk padanya.

***

Kelompok Namjoon, Jungkook, dan Hyejeong

Kelompok mereka akhirnya sampai di pos kedua yang dipandu oleh Guru Shin. Sebenarnya cukup sulit mereka bisa sampai ke pos kedua itu. Bukan karena peta yang sulit dibaca, tapi karena tidak adanya kerja sama antara Namjoon dan Hyejeong. Mereka terus saja beradu argumen tentang arah perjalanan hingga membuat Jungkook mengelus-ngelus dadanya, “Kenapa aku harus satu kelompok dengan mereka?” batin Jungkook. Untung saja ada Jungkook dalam kelompok mereka, Jungkook berperan sebagai penengah antara Namjoon dan Hyejeong.

“Silakan pilih dua orang di antara kalian untuk jadi penebak, yang jadi penebak akan ditutup matanya,” ucap Guru Shin.

Namjoon, Jungkook, dan Hyejeong sedikit berdiskusi. “Biar aku jadi penebak, hyung,” ucap Jungkook. Namjoon mengangguk, “Bersama denganku…” sahut Namjoon. Mendengar itu, Hyejeong juga berbicara, “Aku juga mau…” susul Hyejeong. Namjoon melirik pada Hyejeong, “Biar aku dan Jungkook, perempuan mana bisa dipercaya.” Ucapan Namjoon membuat Namjoon membuat Hyejeong kesal. “Kenapa kau malah bawa-bawa gender?” tanya Hyejeong emosi, “Justru laki-laki yang tidak bisa dipercaya,” sambung Hyejeong.

Namjoon kelihatan akan berdebat lagi dengan Hyejeong, namun Jungkook mengambil alih. “Sudahlah… Hyejeong… biar aku dan Namjoon hyung saja… kau percaya pada kami” ucap Jungkook. Tidak ada tanggapan dari Hyejeong, ia kemudian diam.

Jungkook dan Namjoon pun ditutup matanya oleh Guru Shin. Kemudian Guru Shin menyodorkan rempah-rempah di depan hidung mereka. Jungkook bisa menebaknya dengan tepat, namun ketika Namjoon menebaknya, ternyata jawabannya salah. Penutup mata mereka pun dibuka. “Sayang sekali.. tapi jawabanmu tidak tepat, Namjoon,” ujar Guru Shin.

Hyejeong langsung berbicara, “Benar kan… justru laki-laki yang tidak bisa dipercaya, makanya… kau jangan terlalu percaya diri… ternyata tebakanmu salah… seharusnya aku yang jadi penebak…” ucap Hyejeong kesal.

Ya… apa jika kau menjadi penebak, tebakanmu akan benar…. aku tidak yakin…” sahut Namjoon yang juga ikut kesal karena ucapan Hyejeong.

“Sudah… sudah…” Guru Shin mecegah perdebatan yang akan terjadi antara Namjoon dan Hyejeong. “Kalian masih punya satu kesempatan untuk menebaknya,” jelas Guru Shin. “Kalau begitu aku saja guru,” inisiatif Hyejeong, namun dicegah oleh Namjoon. “Jangan dia, Guru Shin… aku tidak yakin dia bisa menebaknya,” ucap Namjoon pada Guru Shin, “Lagi pula kalau kau salah, kita akan gagal di pos ini, aku tidak mau itu terjadi,” sambung Namjoon. Hyejeong yang tidak setuju dengan Namjoon pun menimpalinya dengan ucapan-ucapan yang membuat Namjoon emosi.

Jungkook dan Guru Shin melihat mereka dengan tatapan heran bercampur putus asa. “Guru… biar aku saja…” ucap Jungkook pada Guru Shin tanpa mempedulikan Namjoon dan Hyejeong yang berdebat. Guru Shin menutup mata Jungkook. Melihat Jungkook yang sedang menebak, Namjoon dan Hyejeong pun menghentikan perdebatan mereka dan menoleh pada Jungkook. “hmmm…. kalau dari baunya… ini… jahe…” tebak Jungkook. “Kau benar, Jungkook.” ucap Guru Shin. “Karena kalian bisa menebaknya, kalian bisa ke pos selanjutnya… dan… untuk kalian (Guru Shin menunjuk Namjoon dan Hyejeong)… jangan berdebat terus, mulailah untuk saling bekerja sama dan saling membantu,” ucapan Guru Shin hanya mendapat tatapan datar dari Namjoon dan Hyejeong.

Mereka pun beranjak meninggalkan pos itu, seperti sebelumnya, Namjoon dan Hyejeong berdebat lagi soal arah perjalanan, membuat Jungkook kembali mengelus dadanya dan langsung mengambil alih jalan di depan, “Sudah… hentikan… tidak ada yang boleh menentukan arah, kecuali aku… AKU YANG AKAN MENENTUKAN ARAH,” ucap Jungkook dengan nada penuh penekanan karena Jungkook sudah lelah melihat Namjoon dan Hyejeong yang berdebat terus.

***

Kelompok Airin, Jimin, dan Yoongi

Berbeda dengan kelompok Namjoon, Jungkook, dan Hyejeong yang dipenuhi perdebatan Namjoon dan Hyejeong. Kelompok Airin, Jimin, dan Yoongi terlihat lebih diam dan cuek. Yoongi sedikit mengelus-ngelus rambut belakangnya dan berkata, “Ahhh…. membosankan sekali… cepatlah berakhir,” keluh Yoongi. “Cepat kita selesaikan, aku tidak mau berlama-lama di tempat seperti ini,” timpal Jimin. Airin yang sedari tadi membaca peta lalu mengalihkan pandangannya pada Jimin dan Yoongi. “Ck… padahal sedari tadi hanya aku saja yang benar melakukan tantangan,” ucap Airin pelan. Ia kesal dan pesimis pada kelompoknya. Jimin merebut peta dari tangan Airin, “Kau bisa atau tidak membaca petanya…”

Airin menatap kesal Jimin. Setelah membaca peta itu sebentar, “Kita ke arah sini.” ucap Jimin. Yoongi dan Jimin pun berjalan ke arah jalan yang Jimin tunjuk, sementara Airin di belakang mereka. “Dosa apa aku… sampai bisa satu kelompok dengan mereka?” ucap Airin pelan.

Akhirnya setelah beberapa menit mereka sudah sampai di pos ketiga. Guru Jung  menjelaskan tantangan di pos itu. “Di pos ini, kalian harus menyusun sebuah puzzle, jika sudah benar makan puzzle itu akan tersusun menjadi sebuah gambar yang harus kalian tebak. Setiap anggota kelompok harus menyusunnya secara bersama-sama.”

Airin, Jimin, dan Yoongi mulai menyusun puzzle itu. Airin yang tampak bersemangat. Jimin terlihat biasa saja, ia hanya ingin cepat menyelesaikan acara post to post ini. Sedangkan Yoongi yang kelihatan tidak tertarik, mungkin karena Yoongi tidak satu kelompok dengan Hyejin. Airin melirik Yoongi yang tidak membantu Jimin dan dirinya, “Ya… jangan diam saja dan mulai menyusun puzzle ini…” Yoongi tetap diam, tidak membantu. “Kalian saja yang menyusunnya… aku tidak tertarik..” ucapan Yoongi membuat Airin menarik nafas panjang.

“Sudahlah… biarkan Yoongi…” sahut Jimin. Airin dan Jimin kembali menyusun puzzle itu. Mereka cukup kesulitan karena tantangan itu cukup membuat mereka berpikir keras. Cukup lama, akhirnya mereka selesai menyusun puzzle itu dan membentuk sebuah gambar. Guru Jung mendekati mereka, “Kalian sudah berhasil menyusunnya, sekarang kalian harus menebak, apa maksud gambar itu?”

Yoongi hanya diam saja. Airin dan Jimin tampak berpikir dan mengamati gambar itu. “ini gambar bunga lili…” ucap Jimin. “Tepat, Jimin… nah sekarang apa maksud gambar itu…?” tanya Guru Jung. “Bunga ya bunga, Guru Jung…” jawab Airin. “Bukan begitu, Airin… tapi apa makna bunga itu?” ucap Guru Jung. Airin tampak berpikir keras.

“Persahabatan….”

Ucapan Yoongi membuat Airin, Jimin, dan Guru Jung menoleh padanya.

“Bunga lili itu melambangkan rasa simpati, kemuliaan, pengabdian, kesucian, dan persahabatan. Tapi kalau mengaitkan dengan kegiatan saat ini, bunga lili itu bermakna persahabatan. Persahabatan yang lebih penting daripada hanya memikirkan diri sendiri… dan juga tentang arti kebersamaan dalam persahabatan itu,” jelas Yoongi.

Jawaban Yoongi membuat Guru Jung dan Airin terkagum. “Tepat sekali, Yoongi… penjelasan yang bagus… nah karena kalian benar menebaknya kalian berhasil di pos ini.” ujar Guru Jung.

Airin tersenyum karena kelompoknya berhasil. Wajahnya tersenyum bahagia ke arah Yoongi. Yoongi sendiri hanya diam dan berekspresi datar meskipun ia telah membuat kelompoknya berhasil menyelesaikan tantangan. Sedangkan Jimin terdiam melihat senyuman di wajah Airin. Ada semacam perasaan aneh ketika ia melihat senyuman bahagia di wajah Airin.

***

kelompok Seulgi, Hyejin, dan Hoseok

Hoseok terlihat tidak tertarik selama perjalanan post to post ini. Ia sebenarnya kesal pada Guru Cho karena menempatkannya di kelompok yang dia tidak sukai, terlebih karena harus bersama dua perempuan dalam kelompoknya. Sementara Seulgi dan Hyejin, tidak ada percakapan antara mereka. Hoseok berjalan di depan, Hyejin berjalan di tengah, dan Seulgi berada di belakang mereka. Seulgi berjalan tanpa memperhatikan keadaan jalanan karena ia terkagum melihat pemandangan hijau di pegunungan ini sampai ia tidak menyadari ada batu yang menghalangi langkahnya.

Brukk… Seulgi terjatuh. Mendengar suara orang terjadi Hoseok dan Hyejin langsung membalikkan badannya. Mereka melihat Seulgi terjatuh dan posisi jatuhnya tidak tepat, membuat kaki kanan Seulgi terkilir. Seulgi mengigit bibir bawahnya dan memegang kaki kananya, menahan sakit pada kakinya.

Hoseok dan Hyejin mendekati Seulgi. Hyejin duduk di depan Seulgi, mencoba menolongnya, “Apa kakimu sakit?” tanya Hyejin khawatir. Sementara Hoseok melihat Seulgi memegang kakinya, “Makanya kalau kau jalan perhatikan keadaan sekitarmu…” ucapnya datar.

Seulgi tidak mempedulikan apa kata Hoseok. “Apa kau bisa berdiri?” tanya Hyejin lagi. “hmmm… aku tidak apa-apa,” jawab Seulgi bohong. Seulgi mencoba berdiri, namun ia tidak bisa. Hyejin pun membantu Seulgi untuk berdiri, “Kakimu sakit, Seulgi… sudah lebih baik kau jangan bergerak, kita tunggu guru datang…” ujar Hyejin. “Aku tidak apa-apa.. kita lanjutkan perjalanan” ucap Seulgi. Melihat Seulgi kesakitan dan masih keras kepala membuat Hoseok mendekati Seulgi kemudian berjongkok memunggungi Seulgi. “Naiklah… kau tidak bisa berjalan dengan kaki seperti itu,” ucap Hoseok.

“Tidak usah… aku bisa sendiri… kalian duluan berangkat…” Seulgi tidak mau merepotkan orang lain, terlebih ia sebenarnya gengsi karena ditolong oleh Hoseok, anggota BTS. “Sampai kapan kau akan keras kepala? Mana mungkin kami meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini… sudahlah kau menurut padaku dan naiklah sekarang…” ucap Hoseok.

Dengan ragu Seulgi pun naik ke punggung Hoseok. “Tapi badanku berat…” ucap Seulgi dekat telinga Hoseok. “Tenang saja, walaupun kau berat aku bisa menggendongmu..” ujar Hoseok, ia sedikit tersenyum. Hyejin hanya tersenyum melihat Hoseok menggendong Seulgi. Mereka pun melanjutkan perjalanan, Seulgi merasa ada perasaan aneh karena kini ia begitu dekat dengan Hoseok. Seulgi bisa merasakan rambut Hoseok yang wangi dan Seulgi pun mempererat pelukan tangannya pada Hoseok.

Sampai di pos berikutnya, Seulgi mendapat pertolongan dari Guru Han. Namun, kakinya masih sakit. Setelah menyelesaikan tantangan di pos tersebut, Seulgi, Hyejin dan Hoseok melanjutkan dan menyelesaikan perjalanan mereka dengan Hoseok yang tetap mengendong Seulgi. Karena kaki Seulgi semakin sakit ketika ia paksakan berjalan.

***

Kelompok Jin, Taehyung, dan Kyuwon (Kyuna)

Sepanjang perjalanan dari satu pos ke pos berikutnya, terlihat keakraban antara Jin dan Kyuna. Sering mereka berbicara tentang kegiatan post to post itu dan juga keadaan alam sekitar. Taehyung menjadi anggota kelompok yang paling diam. Ia lebih memilih fokus membaca peta dan mengamati arah dan rute perjalanan dibandingkan harus melihat keakraban Jin dan Kyuna.

***

Setelah selesai menyelesaikan kegiatan pertama, semua siswa kembali ke penginapan. Untung tidak ada kejadian apa-apa yang terjadi selama kegiatan post to post, kecuali Seulgi yang terkilir. Sampai di penginapan, Guru Cho mengingatkan kembali semua murid tentang kegiatan selanjutnya, yaitu acara bebas sampai pukul lima sore. Ada yang menggunakan waktu itu untuk keluar berjalan-jalan di sekitar area penginapan dan berfoto-foto, juga ada yang lebih memilih main game bersama di penginapan.

Melihat Seulgi yang tidak bisa ke mana-mana selain di kamar untuk mengistirahatkan kakinya, Kyuna, Hyejeong, dan Airin memilih untuk menemani Seulgi. Mereka tidak tega melihat Seulgi sendirian di kamar.

***

Sesudah makan malam, Guru Cho kembali menginstruksikan siswa-siswa untuk kegiatan selanjutnya, yaitu acara malam. “Masih dalam kelompok yang sama, kalian harus mengikuti kegiatan selanjutnya. Setiap kelompok harus mencari bendera yang bertuliskan kelompok kalian dan mengikuti petunjuk arah yang tertempel di pohon. Di kegiatan kali ini selain kalian harus mengumpulkan bendera, kalian juga harus mencari jalan pulang. Jangan sampai kalian tersesat. Ingat kalian tidak boleh melewat daerah bertali merah, karena tali merah itu adalah daerah berbahaya dan tidak boleh dilewati. Kalian hanya boleh melewati area yang bertali kuning. Kalian mengerti?”

“Ne….” jawab semua murid.

“Baiklah kalau kalian sudah mengerti, kita mulai acara malam ini.” Guru Cho mulai memberi instruksi. Setiap kelompok diarahkan mengambil start yang berbeda-beda, seperti kegiatan sebelumnya, hal ini dimaksudkan agar antarkelompok tidak saling bertemu. Setiap kelompok pun memulai perjalanan mereka.

Hyejin mengamati Hoseok yang diam saja dan kelihatan tidak bersemangat. “Hoseok… ada apa denganmu? kenapa kau kelihatan tidak bersemangat begitu? Apa karena Seulgi tidak ikut? Kau… menyukainya kan?” tanya Hyejin beruntun. Hoseok melirik Hyejin, “Apa yang kau bicarakan?… sudahlah lebih baik kita cepat selesaikan ini.. aku ingin segera kembali ke penginapan..” ucap Hoseok lalu kemudian melanjutkan perjalanannya. “Ck… jelas-jelas dia menyukai Seulgi..” ucap Hyejin dalam hati. Seulgi tidak ikut karena kakinya masih sakit dan para guru mengizinkannya tidak ikut kegiatan malam.

Sementara itu, Taehyung kembali membaca peta dan mencari petunjuk arah. Jin mengamati Kyuna. Kyuna menggunakan hoodie putih dan rambutnya kembali diikat. “Kau tidak kedinginan?” tanya Jin pada Kyuna. “hmmm… walaupun sedikit dingin, tapi udaranya segar…” sahut Kyuna. Jin tersenyum, lalu melepas syal merah yang dipakainya. “Jelas-jelas di sini sangat dingin,” ucap Jin sambil memakaikan syalnya pada Kyuna. Taehyung melihat itu, ia menatap tidak suka pada Jin. Kyuna sendiri hanya diam dan menatap Jin, “gomawo…” ucap Kyuna sambil tersenyum.

“Pegang tanganku, kau tahu kan kalau di sini gelap… hmmm untuk mencegahmu terjatuh,” ucap Jin kemudian memegang tangan Kyuna. Kyuna merasa sedikit canggung karena itu. Taehyung tidak tahan melihatnya, “ini sudah keterlaluan..” ucap Taehyung pelan. Kemudian Taehyung mendekati Jin dan Kyuna lalu dengan tangannya melepaskan genggaman tangan Jin pada tangan Kyuna. Jin menatap heran Taehyung. “Dia bukan anak kecil lagi, hyung… dia bisa jalan sendiri, kau tidak usah mengkhawatirkannya,” ucap Taehyung lalu menarik tangan Jin agar berjalan bersamanya di depan, sedangkan Kyuna berjalan di belakang mereka, Kyuna menatap heran Taehyung. Jin melirik pada Taehyung yang menariknya, “Kau ini kenapa, Taehyung?” tanya Jin dan tidak mendapat respon dari Taehyung.

Sedangkan di tempat lain, Kelompok Airin, Jimin, dan Yoongi tersesat. “Aku yakin, kita sudah melewati pohon ini tiga kali,” ujar Airin. Ternyata dugaannya benar, kelompoknya tersesat karena sejak tadi hanya memutar-mutar jalan yang sama. “Kita tersesat,” ucap Yoongi datar. Airin menatap tidak percaya pada Yoongi yang mengucapkan kata tersesat dengan ekspresi datar. “Ya… bagaimana kau bisa berkata seperti itu dengan wajah biasa saja,” ucap Airin pada Yoongi dengan nada panik, karena menyadari bahwa kelompoknya kini benar-benar tersesat. Yoongi hanya menatap Airin dengan ekspresi tidak peduli sementara Airin jadi kesal karenanya. “Sudahlah… kita tersesat sekarang… tapi kita tidak boleh panik…” sahut Jimin, menenangkan. Mereka pun berjalan kembali mencari petunjuk arah.

Kyuna berusaha mengambil bendera di cabang pohon. Kyuna sudah berusaha menjangkaunya dengan menjinjitkan kakinya, namun belum berhasil. Taehyung pun menghampiri Kyuna dan mengambil bendera itu. Taehyung menyodorkan bendera itu pada Kyuna. Kyuna menatap Taehyung sejenak dan mengambil bendera dari tangan Taehyung kemudian Kyuna pun membalikkan badannya. Tapi ia kaget, “Oh… Yoongi… kau mengagetkanku,” ucap Kyuna ketika melihat Yoongi menatap tajam ke arah Kyuna. Taehyung yang di belakang Kyuna langsung menarik tangan Kyuna sehingga Kyuna berada tepat di belakang pundaknya. Tindakan Taehyung itu membuat Kyuna sedikit terkejut. Taehyung menatap Yoongi dan mendapat tatapan dingin padanya.

Jimin dan Airin menghampiri Taehyung, Kyuna, dan Yoongi. “Kyuwon… kenapa kau ada di sini…?” tanya Airin. Ia terlihat bahagia karena bertemu Kyuwon (Kyuna). “Oh.. kami baru mengambil bendera di sini… kau kenapa kelihatan lelah begitu, Airin?” ucap Kyuna. “Kelompok kami tersesat… dan kami dari tadi hanya berjalan memutar-mutar saja…” jawab Airin. “Tersesat?” ucap Kyuna kaget.

Jin yang berada di belakang menghampiri mereka. “Kurasa kita juga tersesat… dari tadi aku mengamati keadaan sekitar tidak menemukan petunjuk arah… dan juga karena malam, aku tidak bisa mencocokkan daerah ini di peta…” Ucapan Jin membuat Taehyung dan Kyuna kaget. “Wah… kita tersesat bersama…” celetuk Jimin.

Kelompok Namjoon, Hyejeong, dan Jungkook akhirnya berhasil menyelesaikan tugasnya. Tidak ada percakapan antara mereka dan terkesan sedang bermusuhan, kecuali Jungkook. Dia menjadi ketua kelompok secara tidak langsung karena Jungkook yang memberi arahan pada Namjoon dan Hyejeong untuk arah perjalanan. Namjoon dan Hyejeong memilih diam dan mereka menuruti Jungkook karena mereka tidak mau menimbulkan perdebatan yang hanya akan membuat mereka lelah.

Begitu pun dengan Kelompok Hoseok dan Hyejin. Mereka berhasil, bahkan menjadi kelompok pertama yang sampai kembali ke penginapan. Rupanya keinginan Hoseok untuk cepat kembali ke penginapan membuat otak dan matanya lancar mencari petunjuk dan bendera dengan tepat.

Sementara itu, kelompok Jimin dan Taehyung belum menemukan arah yang benar. Dua kelompok itu benar-benar tersesat bersama. Sampai akhirnya ketika mereka putus asa mereka bertemu Guru Han dan Guru Cho, yang memang mencari mereka karena belum sampai juga ke penginapan sedangkan kelompok lain sudah berhasil. Akhirnya mereka bersama dua guru itu kembali ke penginapan. Meskipun gagal dalam acara malam itu, tapi mereka lega karena bisa kembali lagi ke penginapan.

***

Malam hari di penginapan…

Sekitar pukul 10.30 Kyuna masih tidak bisa memejamkan matanya. Dia berinisiatif untuk keluar dari penginapan, mencari udara segar. Kyuna segera mengambil jaketnya lalu perlahan melangkah menuju pintu kamar, ia tidak mau membuat Airin, Seulgi, dan Hyejeong terbangun.

Kyuna kini sudah berada di luar penginapan. Ia berjalan-jalan di sekitar penginapan. Kyuna melihat ke langit, ia menikmati pemandangan malam yang indah. Kyuna melihat banyak bintang bertaburan di langit dan sinar bulan yang membuat malam tidak terlalu gelap. Setelah beberapa saat menikmati pemandangan malam. Kemudian Kyuna melihat keadaan sekitar yang banyak pohon dan tentu saja gelap. Kyuna berinisiatif untuk kembali lagi ke dalam penginapan.

Namun, sebelum Kyuna melangkahkan kakinya kembali ke dalam penginapan, Kyuna membalikkan badannya dan begitu terkejutnya Kyuna ketika ia  melihat seseorang sudah ada di hadapannya. Orang itu pakaian serba hitam. Jaket hitam dan topi hitam. Kyuna tidak bisa mengenali siapa orang itu karena orang itu menggunakan topi yang menutupi setengah wajahnya, belum lagi orang itu menudungi kepalanya dengan jaketnya.

Kyuna ketakutan melihatnya, firasatnya tidak baik. Kyuna langsung membalikkan badannya dan segera pergi dari tempat itu, tetapi gagal.  Tangan orang itu sudah mencengkram kuat tangannya. Kyuna sebisa mungkin mencoba melepaskan cengkraman orang itu dan meronta. Mulut Kyuna dibekap, mencegah Kyuna untuk berteriak. Kyuna terus meronta namun nihil. Kemudian, secara paksa, orang itu menarik Kyuna masuk ke dalam hutan sambil tetap membekap mulut Kyuna.

Setelah jauh dari penginapan, orang itu melepaskan Kyuna. Ia memandangi Kyuna yang ketakutan. Kyuna memundurkan langkahnya, menjauh dari orang itu. Kemudian Kyuna memberanikan diri untuk bertanya,  “Kau… kau siapa?”

Tidak ada jawaban dari orang yang ada di depannya itu.

“Apa maumu? Kenapa.. kenapa kau membawaku kemari?” tanya Kyuna lagi dengan nada ketakutan.

Orang itu memperlihatkan smirk-nya. “Untuk kembali membunuhmu,” jawabnya.

Kyuna membelalakan matanya, “kembali… membunuhku?” Kyuna mengulangi ucapan orang itu. Kyuna tampak berpikir, ia ingat kecelakaan yang menimpa Kyuwon. “Kau… kau pelakunya? Kau orang menabrak itu?”

“Kau benar…” jawab orang itu tanpa ragu.

Mendengarnya, membuat Kyuna tambah ketakutan. ia berpikir bahwa orang itu pasti akan berbuat jahat padanya sekarang. “Kenapa… kenapa kau melakukannya?”

Orang itu pun mendekat pada Kyuna. “Kau sendiri tahu alasannya,” jawabnya sambil terus melangkah pada Kyuna.

Kyuna memundurkan langkahnya. “Pergi… pergi… pergi dariku…” teriak Kyuna.

Orang itu kembali mengeluarkan smirk-nya. Kyuna terus memundurkan langkahnya, berusaha menjauh dari orang itu. Hingga akhirnya  “OMO…” teriak Kyuna saat badannya terjatuh. Ternyata di belakang Kyuna adalah sebuah jurang. Kyuna pun jatuh dan kepalanya terbentur batu. Dahinya berdarah badan Kyuna yang lain juga terluka. Kyuna pun tidak sadarkan diri.

Orang itu menyunggingkan senyumnya ketika melihat Kyuna jatuh ke jurang. Ia mengedarkan pandangannya, untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Kemudian orang itu pun pergi dari tempat itu.

Sedangkan, di penginapan…

Seulgi bangun dari tidurnya, “hmm… aku butuh air…” ucapnya. Seulgi merasa haus. Seulgi mengedarkan pandangannya, berharap ada botol air minum di kamarnya. Tidak sengaja Seulgi melihat tempat tidur Kyuna yang kosong, hanya  ada selimutnya. Seulgi menyipitkan matanya, “Ke mana Kyuwon, apa dia ke toilet?” ia melihat jam di ponselnya. Sudah pukul 11 malam.

Seulgi menemukan air minum botol di kamarnya. Ia kembali mencoba tidur setelah minum, namun tidak bisa. Ia memikirkan Kyuna. Sudah lima belas menit dan Seulgi mulai cemas karena Kyuna belum kembali. Seulgi membangunkan Airin dan Hyejeong. “Hyejeong… Airin… bangun…bangun…” sambil menguncang-guncang tubuh mereka. Airin dan Hyejeong pun bangun mendengar panggilan Seulgi.

“Kenapa kau membangunkanku?” tanya Hyejeong sedikit kesal. “Kyuwon…Kyuwon… tidak ada di sini… aku sudah menunggunya selama lima belas menit dan dia belum kembali.” Airin dan Hyejeong pun melebarkan matanya mendengar ucapan seulgi. “kau sudah menelepon Kyuwon?” tanya Airin.  “Belum” jawab Seulgi, dia pun mengambil ponselnya dan menelepon Kyuna. Suara getaran terasa di tas Kyuna yang tidak jauh dari tempat tidurnya. Hyejeong mengambil tas Kyuna dan mencari ponsel yang bergetar itu. ”Ponselnya ada di sini,” ucap Hyejeong sambil menunjukkan ponsel Kyuna.

“Bagaimana ini? Apa terjadi sesuatu pada Kyuwon?” tanya Seulgi cemas. “Kita harus mencarinya” ucap Airin.

Mereka pun mencari ke seluruh penginapan. Seulgi memaksakan diri mencari Kyuna meskipun kakinya sakit. Ia jalan terpincang-pincang. Setelah mencari ke seluruh bagian penginapan dan hasilnya nihil, tidak ada Kyuna. Airin, Seulgi, dan Hyejeong pun melapor pada guru. “Guru Han, Kyuwon menghilang, ia tidak ada di kamarnya,” ucap Hyejeong. “Kami sudah mencarinya di dalam penginapan dan dia tidak ada…” tambah Airin.

Para guru pun membangunkan semua murid laki-laki untuk mencari Kyuna. Taehyung dan Jin kaget mendengar Kyuwon (Kyuna) menghilang, mereka pun langsung mencari Kyuna ke luar penginapan. Semua murid laki-laki, para guru, Airin, dan Hyejeong membawa senter mereka dan mulai mencari Kyuna di luar penginapan dan masuk ke dalam hutan.

“Kyuwon… Lee Kyuwon…” teriak semua orang yang mencari Kyuna masuk ke dalam hutan.

Setelah beberapa lama, Kyuna sadar dan dengan suara lemah Kyuna berkata, “tolong… tolong… tolong aku…”

Kini mereka sudah ada di hutan dekat Kyuna terjatuh. Beberapa lama mereka berteriak dan menyisir daerah itu. Samar-samar Jin mendengar suara minta tolong. Sorot senternya diedarkan ke sekitarnya dan ke bawah jurang. Begitu kagetnya ia ketika cahaya senter menyoroti tubuh Kyuna yang terjatuh ke jurang. Jurang itu tidak begitu dalam namun cukup curam.

“Guru… Kyuwon di bawah jurang…” teriak Jin. Ia pun langsung menuruni jurang itu dan menolong Kyuna. Dibantu dengan Guru Han, Guru Jung, dan siswa lain Jin mengangkat tubuh Kyuna.

Jin membopong Kyuna menuju penginapan. Taehyung melihat tubuh Kyuna terluka. wajah, tangan, dan kakinya terluka dan berdarah. Semua orang pun kembali ke penginapan.

Taehyung menarik tangan Yoongi yang berjalan di belakang orang-orang. Yoongi membalikkan badannya dan mengerutkan dahinya, “wae?”

Taehyung mendorong tubuh Yoongi hingga ia membentur pohon. Lalu dengan lengan kirinya yang ada di pundak Yoongi, Taehyung mengunci Yoongi.

“Kau yang melakukannya kan?” tanya Taehyung yang terlihat marah.

Yoongi mencibir Taehyung dengan senyum yang meremehkannya. “Apa pedulimu, Kim Taehyung? Apa kau menyukainya?”

Yoongi menyingkirkan tangan Taehyung dari tubuhnya dan mendorong Taehyung. “Ck… bahkan kau tidak punya bukti untuk menuduhku,” ucanya lalu Yoongi pun pergi meninggalkan Taehyung yang terlihat emosi.

Taehyung mengepalkan tangan kanannya sambil melihat punggung Yoongi. “Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi.”

***

Sementara itu, di apartemen Daehyun…

Daehyun menemani Kyuwon yang masih terbaring koma. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Kyuwon. Daehyun memandangi wajah Kyuwon, hidungnya terpasang selang. Entah kenapa malam ini, Daehyun cemas memikirkan Kyuna yang mengikuti program sekolah. “Kyuwon-ah… cepatlah bangun,”

Cukup lama Daehyun duduk memandangi Kyuwon, sekitar lebih dari satu jam Daehyun ada di kamar Kyuwon. Matanya sedikit mengantuk dan merebahkan kepalanya pada sisi tempat tidur Kyuwon.

Daehyun memegang lembut tangan kiri Kyuwon, berharap ia segera sadar. Daehyun memejamkan matanya sambil tetap memegang tangan kiri Kyuwon. Tidak lama kemudian, Daehyun membuka matanya, saat merasakan tangan yang dipegangnnya melakukan pergerakan. Jari-jari tangan Kyuwon bergerak walaupun gerakannya lemah. Daehyun bangkit dan wajahnya terlihat sangat kaget melihat jari Kyuwon yang bergerak. Kemudian Daehyun mengalihkan tatapannya pada wajah Kyuwon.

Kedua mata Kyuwon terbuka perlahan. Kini matanya sudah terbuka sempurna, Kyuwon menerawang langit-langit. Kemudian dengan perlahan mengalihkan tatapan pada orang yang ada di sampingnya. Kyuwon melihat wajah Daehyun yang terlihat bahagia.

“Kyuwon-ah, akhirnya kau sadar…” ucap Daehyun.

Bersambung

 

2 thoughts on “Dangerous – Chapter 7”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s