[Ficlet] 12.30

12.30

∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙12.30∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙∙

.

a ficlet by Nisa Jung (@NisaJung97 on ask.fm)

.

VIXX – Leo & OC | Hurt/Comfort | 822 words | T

.

“Twelve sudah berakhir, pun begitu dengan Jung Taek Woon.”

.

.

Perjalanan kita tak ubahnya seperti jarum jam, kau tahu?

“Duet? Aku dan Taek Woon-sunbae[1]?” Ekspresi terkejutmu tak pernah kulupakan hingga kini, tatkala Choi Seung Jin selaku presiden direktur mengumumkan kabar bahagia itu. Saat Presdir Choi mengangguk, kau berbalik menatapku dengan canggung. Tersenyum kikuk, sambil berbisik, “Mungkin ini terlalu cepat, tapi… Mohon bantuanmu, Sunbae.”

Ya, berbenturan dengan skedul masing-masing, kita memang tidak pernah berkenalan secara personal. Ini bahkan pertama kalinya kita dipersatukan di meja yang sama. Duduk bersebelahan, mempelajari konsep duet yang dibahas oleh sang Presdir.

Sungguh, semuanya masih terasa seperti mimpi.

Aku sudah lama memerhatikanmu, Jung Hye Mi. Bukan saja karena paras manismu dan kesamaan marga kita, namun lebih pada pribadimu yang terlampau bersemangat. Periang, giat berlatih dan tak pernah mengeluh… Setidaknya, itu hasil pengamatanku selama dua tahun ke belakang.

Grup Ivory yang menaungimu telah sukses mengguncang gelombang Hallyu, namun kerendahan hatimu tak pernah goyah. Kala senggang, kau tetap datang ke kantor manajemen untuk berlatih vokal dan tari. Kita sering berpapasan, memberi salam, tapi hanya sebatas itu.

Di matamu, aku tak lebih dari seorang senior di dunia tarik suara.

Kolaborasi kita dinamai Twelve, berlambang sebuah jam yang menunjukkan pukul 12.00. Kau digambarkan sebagai si jarum pendek yang baru merintis karir, sedangkan aku adalah sang jarum panjang yang telah banyak menorehkan prestasi vokal. Dengan lagu romantis bertajuk You and I, suara manismu yang khas dan nada tinggiku yang dipuja banyak pengamat musik pun berpadu. Menarik atensi para penikmat melodi seantero Korea Selatan.

Seperti 12.00, kita memulai semuanya dari titik yang sama. Titel solois balada di belakang namaku dan embel-embel personil grup idola darimu tak lagi berarti. Kita bersatu di jalur serupa, menjuarai berbagai chart musik dan disibukkan dengan jadwal tampil.

Rumor cinta lokasi pun membumbui pencapaian kita. Agensi mengiyakan, demi meningkatkan popularitas. Risih? Tentu saja. Aku yang terbiasa mencuri pandang padamu, tiba-tiba harus menatapmu lekat. Merangkulmu, mengacak-acak poni pagarmu yang sewarna kokoa. Semua kulakukan di depan kamera, tanpa berani mengulangnya di balik layar.

Aku tampak memiliki, namun nyatanya, menggenggam pun tidak.

“Sampai di sini saja…”

Lirihanmu tercetus tepat saat kita memasuki pelataran parkir, usai menghadiri acara musik. Keningku berlekuk, bingung, “Maksudmu? Kau tidak ingin kuantar pulang ke dorm?”

“Bukan itu.” Rona merah menyelimuti wajahmu saat mengatakannya. “Maksudku… Sampai di sini saja sandiwara kita, Taek Woon-sunbae. Aku lelah berpura-pura.”

Semula, kukira inilah realita getir yang harus kuterima; penolakan darimu. Sakit? Ya. Aku sudah akan menyahut, ketika kau kembali mendesis, “Aku tidak ingin membohongi perasaanku lagi, Sunbae. Semua sandiwara yang kita lakukan… Aku menikmatinya.”

Hari itu, kisah cinta palsu kita resmi berakhir.

Genggaman tangan kita tak lagi berlabel kepura-puraan. Kita menjalaninya dengan senang hati. Media massa kian bersemangat menaruh nama kita di halaman terdepan, sebagai sejoli bersuara emas yang mengguncang panggung demi panggung dengan romantika.

Andai bisa, di titik ini aku ingin membekukan waktu. Di mana puncak karir dan cinta mampu kugapai secara bersamaan… Detik-detik yang terlalu berharga untuk dilewatkan.

Denganmu, kebahagiaan sejati itu datang, Jung Hye Mi.

Aku begitu terlena, sampai melupakan kenyataan bahwa waktu tidak pernah memihak. Waktu tetap berjalan sekalipun kita mencoba melumpuhkannya. Dan, kebahagiaanku bukan tempat pemberhentian sang waktu. Dia tetap melenggang, melaju dengan cepatnya… Membawaku pada kejutan hidup yang tak pernah kuterka sebelumnya.

Lampu sorot yang terletak di langit-langit panggung menjadi awal kehancuranku. Kecerobohan seseorang membuatnya runtuh, nyaris menimpamu jika saja aku tak segera datang menghalau. Bisa ditebak, akulah yang harus merasakan sakitnya.

Klise, bukan?

Hadiah dari insiden itu tidak main-main. Trauma pada leher dan dada sekaligus membuat saraf yang bekerja di pita suaraku terluka. Aku bukan saja kehilanganmu sebagai pasangan duet, tapi juga karirku sebagai solois balada yang telah kubangun selama bertahun-tahun ke belakang. Nada tinggiku yang selama ini dielu-elukan orang banyak, kini tak lebih dari sekadar desah serak yang menyakiti telinga pendengarnya.

Twelve sudah berakhir, pun begitu dengan Jung Taek Woon.

Aku tak punya alasan lagi untuk tetap bersamamu, Jung Hye Mi. Agensi sudah tidak sudi menampungku. Para penggemar? Mereka masih memberiku semangat untuk melakukan terapi, namun perlahan tapi pasti mulai beralih pada grup idola terbaru. Dengan personil yang lebih muda, tampan, enerjik dan tentu saja… Bisa melantunkan melodi indah.

Di antara mereka pastilah ada yang akan menggantikan posisiku, Jung Hye Mi.

Jangan pernah meminta kehadiranku lagi. Kau pantas mendapat seseorang yang lebih baik. Yang bisa kauajak berlatih vokal, yang mampu membuaimu dengan harmoni… Atau setidaknya, dapat melafalkan namamu dengan benar.

Yang pasti, orang itu bukan aku.

Jangan menangis, Jung Hye Mi. Berapa kali harus kukatakan padamu? Jarum jam takkan selamanya terhenti di angka dua belas. Saat salah satu dari kita beranjak, kita bukan lagi 12.00. Twelve, karirku, maupun hubungan kita… Semua harus kau lupakan.

Satu hal yang harus kau pahami, sekarang kita hanyalah 12.30. Tak lagi singgah di jalur yang sama, juga tak lagi berdiri di tingkat serupa. Kau sang jarum pendek tetap berada di atas, sementara aku si jarum panjang telah terhenti di titik terbawah. Dan, bukan kau yang bergerak meninggalkanku, tapi justru sebaliknya.

Karena seperti 12.30, kita takkan menemukan jalan untuk bersama lagi.

.

.

.

fin.

a/n: Namanya Taek Woon tapi yang kebayang Oom K. Will, bhaks!

[1] Senior

6 thoughts on “[Ficlet] 12.30”

  1. Halo nisaaa~ see you and mas taekwoon agaiiinn~~~ huhu ini syedihh 😩 dan kalo aku sih dapet gt feelnya, dan sempet sebel jg di kalimat ‘agensi tidak lagi mau menampung & penggemar beralih ke grup idola baru’ yatuhan, kok kayaknya jahat banget 😭
    Niceeeee~~ ditunggu story member lain ya! udh lama ga buka fesbuk soalnya wkwk

    Suka

    1. Hiyaaahhh thanks riseukiiii ^^ iya nih duh gegara sering liat di artikel2 artis yang namanya baru “kepleset” dikit aja udah ditinggal sama fans 😢😢 tenang aja gue juga udah lama gak nongol di fesbuk yahaaa

      Suka

  2. HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AKU MAU NANGIS SEABAD SUMPAH INI MENYAKIYKAN TAEKWOON SAYA MENGAPA BEGINI GAGAGA GAKUAT LOH KOK MALAH NYANYI AAAAAAA HELP.

    PLEASE AUTHOR INI JELEB YA ALLAH NETES AJA NI AIR MATA HUE. ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

    GOOD JOB THOR. MESKIPUN TAEKWOONKU TERNISTAKAN YA GPP MAS TAEKWOON MASIH PUNYA AKU KOK KEDIP MANJA HEHEHEHEHEHEHE.

    KEEP WRITING THOR!!!!!11

    Suka

    1. Hatiku juga masih sanggup menampung bang taekun bersama kim ravi bersama li jehwan bersama hansanghyug bersama morgan dll dsb dst 😤😤😤 thanks udah nyempetin baca ya rina3iyaheerin ^^

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s