I’m A Sucker [1]

I'm A Sucker

I’m a Sucker [1]
Cast :
↔Kim Taehyung
↔Nam Heewon

Hurt/Comfort | PG -17 | Chaptered
Disclaimer : Hargai penulis gaesss!

coolbebh™—Present;

Hembusan napas yang berat, mengambil semua tenaganya yang kian surut. Kejadian itu membuat dirinya terpuruk, gadis ini memang belum menerima sepenuhnya. Lebih tepatnya tak rela sedikitpun.

Karena apa?

Alasan yang memuakkan! Setiap hari, ia merasakan perihnya hati sampai ke ujungnya. Darahnya mendesir hebat, tatkala si Mantan berciuman di atap sekolah, sembari memegang perutnya yang samar-samar terlihat membuncit. Munafik jika gadis ini tak perduli sedikitpun.

Kumpulan memori indah melewati begitu saja. Dimana mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Jujur, Heewon tak ingin mengingat kejadian masa lampau. Tapi, apa daya—dirinya sudah terkurung oleh mantra hitamnya.

Heewon masih tak percaya, apa yang membuat si ketua cheerleader itu hamil. Sesering itukah Jungkook melakukan hubungan intim? Mengingat kejadian fakta itu membuat dadanya sesak kembali. Ia mengepal tangannya disertai meluncurnya buliran air matanya. Hey, Heewon! Bisakah tak menangis lagi?

Isakan tangisnya mulai terdengar perlahan, pundak ringkihnya itu bergemetar sesaat diwaktu yang sama. Ia menunduk, memejamkan matanya untuk menenangkan waktu.

“Aku masih tak percaya, Jung..” ucap Heewon bermonolog yang masih menunduk menatap tanah yang dipijaknya.

“Heewon?” Baritonnya besar. Orang yang merasa terpanggil pun menoleh ke belekang—tepat seseorang berdiri disana. Dia bergeming, hanya suara sepatunya yang semakin mendekat.

“Kau—menangis?” Merasa terpergoki olehnya, tangan lentiknya sukses menghapus semua jejak yang dibuatnya beberapa menit yang lalu.
“Tidak.” balasnya meyakinkan.
“Jangan berbohong, Heewon-ah.. Kau kenapa? Siapa yang membuatmu seperti ini?” Ia bergeming lagi, tak menolehkan kepalanya sedikitpun.

“Apa ini gara-gara masalah hubungan cintamu?” lanjutnya hati-hati. Tak menunggu aba-aba lagi, Heewon menitikkan air matanya lagi disertai dengan menggigit bibir bawahnya yang mulai mengalirkan cairan kental. Lelaki ini terkejut, merasa bersalah bahwa dirinya telah melakukan hal yang fatal.

“Maaf, aku tak bermaksud—”
“Aku menderita ,Taehyung-ah. Aku merasa bahwa diriku tak berguna lagi di dunia ini. Aku—” Terhenti sesaat, dekapan hangat yang dibuat oleh sahabat kecilnya itu membuat dirinya merinding sekaligus nyaman. Tangan besarnya mulai mengelus rambut panjangnya dengan rasa ketenangan. Entah mengapa, Taehyung merasakan ada letupan di hatinya. Apakah—? Entah..

“jangan menangis, Heewon-ku. Ada aku yang masih di sampingmu. Jangan khawatir, oke?” Ia berujar kembali. Kemudian melepaskan dekapannya, menatap gadis ini yang matanya semakin bengkak, dan semakin tak karuan. Tangannya berhasil menangkup pipinya yang semakin tirus. Apalagi sahabatnya ini memang memiliki tubuh yang jauh dikata ideal.

“Jangan memikirkan hal-hal yang tak mempunyai makna lagi. Kau harus memikirkan dirimu, Heewon.”
“Tapi, aku—”

Terhenti kembali, yang membuat dirinya semakin terkejut. Benda kenyal itu menyatu pada bibirnya, melumatnya perlahan, menciptakan atmosfer hangat di sekitarnya. Tengkuknya semakin terdorong ke dalam, memperdalam ciuman manis. Heewon meringis sesaat, luka yang dibuat oleh organ pengunyahnya terasa sakit. Tak berhenti disitu, Heewon mulai mengalungkan pada lehernya yang disambut oleh Taehyung dengan menyatukan lidah mereka. Ia menghapus semua bekas jejak si brengsek itu dengan bibirnya. Egois memang, namun Taehyung tak mau bahwa Heewon mengingat kembali si brengsek itu. Entah keberanian apa, tangannya mulai menjalar pada buah dadanya, hanya memegang tanpa gerakan sedikitpun.

“Euh.. Taehyung.” desahnya di sela-sela perbuatannya. Detik berikutnya Taehyung menghentikan aktifitasnya dengan perlahan. Mengembalikan suasana mereka beberapa menit yang lalu. Canggung memang..

“Ma-maaf, Heewon.. Aku tak bermaksud untuk melakukan hal itu.” ujarnya gugup. Taehyung menatapnya kembali, namun keningnya berkerut melihat tingkah sahabatnya tersenyum tulus menampakan kebinaran di matanya.

“Terimakasih, Taehyung-ah..” Kemudian memeluk erat tubuhnya, menghirup aroma maskulinnya dan menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya.

“Untuk sahabatku, kenapa tidak?” balasnya. Entah perintah siapa lagi, bibirnya mengecup kembali benda kenyal menggoda itu. Heewon terpejam, menikmati sentuhan Taehyung di pipinya. Tawa mereka pecah ketika menatap satu sama lain.

“Kau memang yang terbaik, Tae!”
“Benarkah? Kalau begitu izinkan aku untuk menjagamu selalu. Dimanapun kau berada.”
“Aku izinkan.” balas Heewon. Setelah itu mereka bergandengan tangan beranjak ke kelas mereka. Hati Heewon sedikit lega, ia tak akan melupakan jasanya yang berharga ini.

Namun, di balik pohon beringin itu berdiri seorang lelaki yang menatap mereka dengan nanar. Ada rasa kecewa di relungnya. Ia menyesal sungguh. Tak berpikir bahwa dirinya akan termakan dosanya sendiri. Beberapa adegan yang ia lihat tadi membuat hatinya terasa sesak walau hanya sesaat. Ia tak ingin lagi egois pada apa yang di dapatkannya kemudian ia lepaskan begitu saja bak’ tissu yang telah di pakai.

“Segampang itukah dirimu melupakanku, Heewon-ah?” Monolognya getir, kemudian beranjak pada tempatnya untuk pergi ke kelas.

.
.
.
.

Baru kali ini ia merasa frustasi, tangannya yang memegang beberapa foto kenangan dulu membuat tubuhnya terkulai lemas. Tak ada satu barangpun yang ia buang, sekalipun hubungannya kandas akan ulahnya. Saat ini dan mungkin selamanya, ia harus pintar-pintar menyembunyikan barang berharganya tanpa sentuhan oranglain.

Beberapa momen-momen yang manis yang mereka buat sukses menghidupkan senyum getirnya. Dulu, dia adalah lelaki sejati yang tak melirik siapapun kecuali mantan kekasihnya. Dalam pikirannya, wanita yang cantik tak bisa mengalahkan wanita yang tulus akan cinta nan kasih sayang. Dan entah setan dari mana bahwa dia tergoda oleh si Penggoda.

Menjadi calon ayah muda memang membuat ia merasa pusing, apalagi akhir-akhir ini dia meminta sesuatu yang aneh-aneh di luar nalar. Sifat yang manja berbeda jauh pada si Mantan yang mandiri.

“Jungkook…” terkejut akan panggilannya, ia buru-buru memasukkan foto-foto mereka berdua ke dalam saku.

“Ada apa, sayang?”
“Aku ingin sesuatu yang aneh boleh?”
“Tentu saja, apa yang kau inginkan?” Gadis yang menjadi kekasihnya saat ini berpikir keras. Kemudian ia berkata..

“Aku ingin bercinta.”

.
.
.

Sudah berapa kali ia mengetuk pintu dengan keras namun tak membuahkan hasil. Bisa saja ia memencet tombol dan membukanya sendiri, namun sang pemilik apartemen sudah mengganti nomor kuncinya.

Sedetik kemudian setelah perjuangannya, pintu pun terbuka perlahan menampakkan sang gadis yang ia telah rindukan selama ini.

“Heewon..”
Kening gadis ini berkerut, ada rasa aneh yang menjalar di hatinya. Apa ini ia tak sedang bermimpi?

“Jungkook? Untuk apa kau disini?”
“A-aku..”

“Siapa dia Hee-ya?” Teriaknya dari dalam, menggemakan seluruh ruangan dengan bariton besarnya. Jungkook mengkerutkan dahinya, terkejut, berpikir keras untuk mengetahui penyebab ada seseorang di apartemennya. Tak lama kemudian orang yang menampakkan raut penasarannya berjalan santai lelaki dengan telanjang dada.

“Kau?”

TBC

Berikan komentar setelah membaca. Mohon pengertiannya.

2 thoughts on “I’m A Sucker [1]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s