Something Amazing About You [2]

Something Amazing About You

Something Amazing About You

#1: Song Joohee

#2 : Lee Donghae

written by Fay du Ciel

AU // Drama // Romance // Love-Hate  .  G

++

Tok. Tok. Tok.

Berulang kali, suara kayu beradu logam terdengar memenuhi ruangan. Berulang kali itu pula, desahan napas berat terdengar, seirama dengan jarum jam saat berhenti tepat di angka enam.

“Hah!” akhirnya, pria itu berseru kesal. Memberi nada lain pada keheningan.

Dilemparkannya pensil yang sedari tadi diketukkannya ke atas meja kerjanya, dan dengan kasar dia merobek satu halaman buku sketsa miliknya, meremasnya, lalu dilempar ke bak sampah yang berakhir gagal. Pria itu menatap gumpalan kertas yang berserakan di lantai, lalu tersenyum sedih.

Kertas-kertas itu tampak begitu mirip dirimu. Dasar sampah.

Pemikiran itu terlintas di kepalanya, lalu, tanpa aba-aba, tetesan air mulai menuruni garis tulang pipinya, dan berakhir di lantai.

“Kurasa aku tidak terlambat, bukan?”

Gadis itu menggeleng pelan, tanpa menatapnya. “Sayangnya, tidak.”

Pria itu mendengar nada sindiran dalam suara Joohee, namun ia mengabaikannya. Diambilnya kursi dan dia mengambil tempat di sisi gadis itu.

“Sudah lama ya, kita tidak duduk berdampingan seperti ini.” Ujarnya setelah beberapa detik keheningan. Joohee buru-buru menggeser kursinya sejauh mungkin, dan langsung membuat pria itu merutuki kebodohannya karena memberi kalimat pembuka yang salah.

“Saya rasa anda harus segera mengatakan tujuan anda, Sir.” Jawab Joohee, mengacuhkan ucapan pria itu. “saya masih memiliki banyak pekerjaan yang menanti saya.”

Entah karena kesal atau justru putus asa, pria itu, Lee Donghae, mengatakan sesuatu yang seharusnya hanya ia katakan saat kiamat datang.

“Pekerjaan, atau… bocah ingusan itu?”

Untuk sesaat Donghae melihat ekspresi gadis itu menegang, menandakan arah pembicaraan ini tidak sesuai yang diharapkannya. Namun itu hanya sesaat, karena setelahnya, Song Joohe untuk pertama kalinya menatap pria di hadapannya selama pertemuan mereka siang itu di halaman belakang sekolah.

Sir, anda harus tahu bahwa saya tidak memiliki cukup banyak waktu dan emosi yang bisa anda kuras.” Jawabnya, sambil memberi penekanan pada kata emosi, “jadi saya harap anda segera mengatakan apa tujuan anda meminta saya menemui anda, sekarang juga.”

Donghae menghela napas berat. Bukan begini jalan cerita yang diinginkannya. Bukan dengan wajah marah Song Joohee, yang sangat tidak ingin dilihatnya sampai kapanpun.

“Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakannya.

Song Joohee menegakkan tubuhnya, siap mendengarkan.

“Aku… meminta kesempatan… untuk kembali padamu.” Sungguh, Donghae benar-benar tak sanggup menatap wajah gadis yang telah mengisi hatinya selama tiga tahun belakangan itu. Dia tidak siap menerima jawaban apapun.

Meskipun ia bahkan sudah tahu apa jawabannya.

Hening sesaat, memberi jeda waktu bagi burung-burung gereja untuk bersiul, mengurangi ketegangan yang tengah terjadi.

Song Joohee meremas rok seragamnya, dan dalam hati ia bersyukur pria itu tidak menyadari betapa tegang dirinya mendengar kalimat itu. Kalimat yang sangat ingin didengarnya setahun belakangan, kalimat yang begitu diharapkannya, sampai-sampai dalam mimpipun ia menangis karena merindukan kata-kata itu.

Tapi bagaimanapun, Joohee telah belajar banyak dari hubungannya dengan Lee Donghae―yang berakhir dengan begitu tiba-tiba. Dan ia tidak ingin mengulang segala rasa sakit itu, apapun alasannya.

Jadi gadis itu memberi jawaban yang sangat tidak ingin dikatakannya, “Maaf.” lanjutnya, “saya rasa anda seharusnya tahu apa jawaban saya.”

Sambil berkata begitu, Joohee meraih tasnya―sedikit bersyukur karena memiliki keberanian untuk mengucapkan penolakan pada Lee Donghae―meski tak bisa dipungkiri dia juga sedikit menyesal telah mengucapkan itu semua.

Tapi kemudian, saat dia hendak berlalu meninggalkan Donghae, pria itu mencekal lengannya.

“Kumohon.”

Lalu Lee Donghae menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan penuh permohonan yang dia hafal; yang selalu meluluhkan hatinya di tiap pertengkaran-pertengkaran kecil mereka, tatapan yang selalu berhasil merayunya untuk sekedar memaafkan keterlambatannya di janji temu mereka (yang terkadang bahkan ditambahi dengan setangkai lollipop atau sekuntum bunga aster ungu kesukaannya), yang selalu bisa membuatnya tertawa geli karena tatapan itu begitu menggemaskan.

Dan untuk sepersekian detik yang menghanyutkan itu, Joohee berpikir untuk menerima pria itu kembali.

Tidak, hati nuraninya menggeleng tegas. Kau tidak boleh terjatuh ke lubang yang sama. Kau bukan keledai, kan?

Maka Joohee pun melepaskan cengkeraman tangan pria itu, lalu berujar lirih, “Bukankah dulu aku telah mengucapkannya?”

“Apa?”

“Memohon.” Jawab Joohee, dan ia pun berlalu.

Joohee memainkan bandul gelangnya dengan gemas. Sepanjang sisa hari itu dihabiskannya dengan memikirkan kembali perkataan Lee Donghae di taman belakang sekolah siang tadi.

Kembali.

Kembali! Bah, beraninya pria itu menyebutkan kata-kata itu di hadapannya. Dengan segudang rasa sakit yang ditinggalkan Donghae di hatinya, rasanya begitu mudah bagi seorang pria macam itu meminta Joohee untuk kembali padanya.

Tidak, tidak, tidak. Sampai serigala berubah menjadi domba pun, Joohee tak akan pernah mengizinkan pria bernama Lee Donghae itu untuk kembali padanya.

Tunggu dulu, kata-kata itu rasanya terdengar seperti sebuah ungkapan…

“Alice!”

Hanya tiga orang di dunia ini yang diijinkan Song Joohee untuk memanggilnya dengan nama masa kecilnya. Orang pertama yang selalu memanggilnya dengan nama itu adalah ibunya. Orang kedua adalah Kwon Nara, yang telah mengenal Joohee bahkan sejak ia belum mendapat nama panggilan itu. Orang ketiga, sebenarnya bukan orang yang ia ijinkan memanggilnya dengan nama itu.

Orang itu, tentu saja, adalah Lee Donghae.

Oke, oke. Dia memang telah mengijinkan orang itu memanggilnya dengan nama kecilnya, tapi itu sudah lama sekali.

Nah, jadi siapa yang barusan memanggilnya? Itu jelas bukan suara dari ketiga orang yang sudah disebutkan Joohee tadi.

“Alice!” suara itu kembali terdengar, dan Joohee menoleh dengan kesal.

Oh iya, satu orang lagi. Namja ini, namja yang beberapa bulan belakangan cukup dekat dengan Joohee, dan dia dengan seenaknya memanggil Joohee dengan nama Alice.

Dasar kurang ajar, pikir Joohee sambil tersenyum dalam hati. Tapi entah kenapa, Joohee senang mendengar suaranya saat menyebutkan nama masa kecilnya.

Masih dengan wajah yang sengaja dibuat kesal, Joohee menyahut, “Ya! Jarakmu dari lorong ke ruangan ini tidak sampai seratus meter dan kau berteriak-teriak seperti itu?” ujar Joohee sambil menyilangkan lengannya, “dan beraninya kau memanggilku dengan sebutan itu! Memangnya aku mengijinkanmu?”

Namja itu tak menghiraukan ocehan Joohee dan berjalan mendekat sambil tersenyum kecil. Dengan santai, digesernya tas Joohee yang menghalangi wajah gadis itu dari pandangannya, dan dia duduk di atas meja, tepat di hadapan Joohee.

Ah, debaran itu muncul lagi. Joohee berusaha keras tidak menatap wajah namja itu, dan malah merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas kursi.

“Mau apa kau kemari?” Tanya Joohee ketus.

Namja itu tertawa, “Bisakah kau tidak seketus itu saat berbicara denganku?” tanyanya sambil terus terkekeh geli, “Oke, aku tahu kau itu memang gadis yang sinis, tapi cobalah untuk tidak melakukan itu padaku.”

Joohee baru hendak membuka mulutnya untuk protes, tapi namja tampan itu malah mendekatkan wajahnya pada Joohee, “Hanya padaku.” Ujarnya setengah berbisik.

Joohee menelan ludah. Bisa-bisanya! Bisa-bisanya namja ini membuatku berdebar-debar seperti ini!

“Kau ini bicara apa sih, Mark?” Joohee menjawab dengan sok cuek, padahal hatinya berdebar-debar mendengar perkataan Mark, namja tampan, si leader grup dance andalan sekolah mereka. Salah satu hottest paling digandrungi oleh yeoja di sekolah.

Mark memutar lidah topinya ke belakang, “Yah, aku hanya khawatir sih.”

“Khawatir soal apa?”

“Tadi siang aku melihatmu berbincang-bincang dengan seseorang.” Mark mengatakannya dengan begitu santai, seolah hal itu sama sepelenya dengan menginjak keju basi.

Joohee sontak menghentikan kegiatannya mengemasi buku, “Siapa… siapa yang kau maksud?”

Mark melirik Joohee yang mendadak tegang. Menyadari hal itu, Mark lantas meraih tangan Joohee dan menggenggamnya, “Jangan khawatir. Aku hanya tidak ingin kau terlalu memikirkan perkataan orang itu.” Tegas Mark, “Aku tidak marah kok.” Tambahnya lagi, kali ini dengan ekspresi lucu yang menggemaskan.

Akhirnya Joohee tertawa. Dalam hati, gadis itu merasa lega, Mark-lah yang kini berada di sampingnya. Dia sangat bersyukur Mark menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya, termasuk masa lalunya yang kelam.

“Ayo, kuantar kau pulang.” Mark meraih tas Joohee, lalu lengan gadis itu. Joohee kemudian berjalan di sisinya, dan untuk saat itu, ia berpikir semuanya akan baik-baik saja.

Ya, semoga semuanya baik-baik saja.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s