[VIGNETTE] A Loser Couplets

1

based on one of my poetry Aku Tak Ingin Menyerah

by jojujinjin (@sanhaseyo on Twitter)

.

starring SEVENTEEN’s Joshua, OC’s Jane, UP10TION’s Wei

Vignette // T // Angst, Drama, Family, Hurt/Comfort, Life, Romance

warning! this is just so angsty ok ‘m sorry

related with Fear, #1 Teman Baru, #2 Bertemu Sang Kakak

.

Hong Jane,19 tahun. Menyedihkan. Sendirian.

.

.

.

Aku tak ingin menyerah.

Tapi apa?

Nasib menjatuhkanku,

Keadaan menuntutku,

Hidup memaksaku,

Diriku membenciku.

.

.

.

.

.

Can’t you see I’m stuck here forever?”

Kalimat itu terlontar beserta segelut emosi terpendam ketika Joshua menawarkan Jane main ice skating di sebuah tempat, di saat bersamaan tatkala Joshua menawarkan hal-hal lain yang hanya bisa dimainkan orang normal. Tidak duduk di kursi roda dan kehilangan sebuah tungkai.

Jane mengalihkan tatap dari air muka bingung kakaknya.

“Kau akan lelah denganku suatu hari nanti, Kak,” lanjutnya pelan, meremas surat biaya rumah sakit di tangannya. Biaya check up rutin Jane yang lama-kelamaan membuatnya muak—menyadari apa pun yang terjadi, kaki kirinya akan tetap menjadi pajangan semata. “Atau kau sudah lelah denganku, aku tidak tahu.”

“Apa yang baru saja kau katakan, Jane?” nada Joshua tegas, namun tetap lembut.

Menyadari gadis perempuan di hadapannya tidak berbeda jauh dari boneka porselen yang rapuh. Bahkan saat egonya nyaris menghancurkan dirinya sendiri.

I’m saying that I’m tired of me, too.”

“Jane—“

Please,” Jane memotong Joshua. “Tolong berhenti memperlakukanku seperti aku ini normal, atau berhenti berharap kalau aku akan mampu mengendalikan kakiku lagi. Aku lelah melihatmu bekerja susah payah untuk mendapatkan hasil check up yang begitu-begitu saja. Aku merasa kita dibodohi oleh dokter bajingan itu, Kak. Aku lelah menjadi diriku sendiri, aku lelah berpura-pura.”

Jane menepis tangan Joshua dan mendorong kursi rodanya sendiri keluar lobi rumah sakit yang sepi, membiarkan butir demi butir air mata mengaliri kulit pipinya.

.

.

.

.

.

Aku tak ingin menyerah.

Tapi apa?

Apa yang bisa kuperbuat,

Kala angin turut menertawaiku,

Berbisik samar,

‘Tak apa menjadi seorang pecundang’

.

.

.

.

.

Hong Jane akhirnya meledak setelah satu tahun kaki kirinya mati rasa.

Ia mungkin pernah mengeluh tentang betapa pegal bokongnya ketika hendak merebahkan diri di kasur, mengeluh tentang betapa rindunya ia bermain basket di klubnya yang sudah lama terlupakan, atau tentang kerinduannya terhadap busur dan anak panah. Tapi tak pernah sekali pun Joshua mendengar bahwa Jane lelah menjalani hidup dengan satu kaki yang cacat, pun mengira bahwa hal ini akan terjadi pun tidak.

Segala peristiwa yang terjadi pada Jane selama ini nyatanya hanyalah beban di matanya. Dan ia capai berpura-pura kuat atas kehilangan kontrol pada sebelah kakinya. Capai berakting kalau dirinya baik-baik saja.

.

.

.

.

.

Apa yang bisa kuperbuat,

Kala langit mengejekku,

Berujar sinis,

‘Tangisku dirindukan sejuta umat,

Tangismu sia-sia’

.

.

.

.

.

“A-ayah?”

Hello, Sweety.”

Jane terbangun di tengah malam untuk menemukan sosok ayahnya yang merebahkan diri di sampingnya, menopang kepala dengan satu telapak tangan. Sebuah senyum menari-nari di wajahnya yang berkeriput.

“Kamu selalu menangis sampai tertidur akhir-akhir ini, hm?”

Jane merasa malu dengan fakta bahwa ayah mengetahui ia selalu menangis beberapa malam terakhir sebelum jatuh tertidur. Tapi ia tak mengalihkan matanya dari sang ayah. Mengangguk kecil.

Yeah.

Why? Are you fighting with Joshua?”

Jane mengerjap. “Begitulah,” Jane ingin menggapai ayah, ingin tenggelam di dalam rengkuhannya yang hangat. Tapi nyatanya ayah jauh, dan Jane belum bisa menggenggam tangannya kembali. “Kakak sangat merindukan Ayah.”

“Ayah tahu,” ujar ayah, menghela napas pelan. “Kenapa kau bertengkar dengan Joshua?”

“Sebenarnya bukan bertengkar,” Jane menggigit bibirnya. Kesulitan menjelaskan. “Aku—aku mengatakan kepadanya kalau aku … lelah, aku lelah menjadi diriku. Dan aku meminta dirinya agar tidak lagi memperlakukanku seperti orang normal, karena aku tidak normal. Juga memintanya untuk berhenti berharap lebih.”

“Jane, Sweetheart. Apa yang kau tidak punya di dunia ini?” ayah menunjuk kakinya, yang sudah tak bersembunyi di balik selimut. “Kendali sebuah kaki, ‘kan? Lalu apa yang kau punya di dunia ini? Kau punya seorang kakak yang mencintaimu, kau punya Wei, kau punya segalanya.”

“A-ayah—“

“Kau bahkan punya Ayah sekarang. Dan kau baru saja memberitahuku bahwa kau lelah menjalani hidupmu, memberitahuku bahwa kau mematikan api semangat kakakmu sendiri dalam berusaha membuatmu senyaman mungkin menjalani hari-harimu di atas kursi roda,” ayah menatap Jane yang mulai menangis, mengembuskan napas panjang. “Kau tidak bisa menyerah ketika takdir sudah memutuskan untuk tetap menaruhmu di medan perang kehidupan dengan kakakmu sebagai bala bantuan. Bertahanlah, Sayang.”

.

.

.

.

.

Halo? Keluarga Hong?”

“Benar, di sini Jane Hong.”

Apa benar Anda mempunyai seorang keluarga bernama—Hong Jisoo? Atau Joshua Hong?”

“Tentu saja. Ia kakakku. Siapa ini?”

Saya dari pihak kepolisian. Tolong dengarkan baik-baik. Kakak Anda … menjadi korban tabrak lari di dekat kampusnya. Sekarang jenazahnya—“

W-what are you talking about?

“I’m sorry. Please, accept my condolences. He passed away on 18.15. I’m very sorry.”

.

.

.

.

.

Aku tak ingin menyerah.

Tapi apa?

Tapi apa?

.

.

.

.

.

Hujan adalah duka.

Seperti sore itu, tatkala jutaan butir hasil kondensasi menggerayangi seluruh penjuru kota tanpa terkecuali. Di tengah prosesi pemakaman anak tertua dari keluarga Hong. Di sela kata maaf yang tidak akan pernah tersampaikan.

Jane hanya diam ketika Wei memberikannya satu buah syal lagi di leher. Sampai air matanya habis dan hujan tinggal gerimis tak bermakna, Wei mengajaknya pulang.

“Rumah bukanlah rumah tanpa Kak Joshua,” ujar Jane, menatap Wei yang setengah berlutut di depannya. “Aku sudah tidak punya rumah.”

“Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian.” Kalimat Wei tegas dan mantap. “Izinkan aku tinggal bersamamu? Atau kau yang pindah ke rumahku, hidup bersama keluargaku.”

Ainnya penuh dengan keseriusan. Ramai oleh segenggam janji tulus yang sering diumbar, dan tak pernah terpatahkan.

Jadilah Jane menemukan Wei memasak sarapan untuknya keesokan harinya. Menemaninya membaca buku di balkon dan membuatkan mereka masing-masing secangkir teh hijau. Menjadi selampai alternatif tatkala tangisnya pecah tanpa alasan yang jelas.

“Wei.”

“Iya?”

“Ayahku pernah bilang, bahwa aku punya segalanya.”

Mhm?”

“Tapi sekarang aku cuma punya kamu.”

Wei mencium puncak kepala Jane, mengusap punggungnya menenangkan, dan membuat satu janji lagi.

“Dan aku tidak akan meninggalkanmu.”

.

.

.

.

.

Seminggu menjelang natal, Wei mengajak Jane agar menginap di rumahnya.

“Bukankah itu merepotkan?” tanya Jane khawatir.

Wei mengulas senyum lebar. “Tentu saja tidak Jane. Lagipula, sudah lama ayah dan ibuku tidak bertemu denganmu. Mereka pasti kangen kamu.”

Wei menatapnya dengan mata berbinar, dan Jane tidak menemukan keberanian yang cukup untuk berkata tidak. Jadilah mereka berkemas keesokan harinya. Jane membiarkan Wei membawa mobil Joshua yang sudah tak terpakai sejak kepergiannya.

Kedua orang tua Wei masih seperti terakhir kali Jane bertemu; ramah. They always treats her quiet warmly, dan karena Wei merupakan anak tunggal di keluarga itu—satu-satunya penerus perusahaan mebel sang ayah, mereka pun memberinya perhatian penuh.

Jadi ketika Jane tak sengaja mendengar percakapan mereka di suatu malam larut kala Jane hendak mengambil minum di dapur, ia tidak menyalahkan siapa pun.

“Cobalah pikir lagi tentang masa depan bersamanya, Wei.”

“Apa lagi yang perlu aku pikirkan, Yah? Apa lagi yang harus aku tekankan kepada kalian?”

“Kau bisa mendapatkan sosok pendamping yang lebih baik daripada dia, Wei—“

 “Dia sempurna untukku, Bu!”

“Jawab Ayah—apa yang kau harapkan dari perempuan cacat itu? Apa yang bisa dia berikan untukmu?”

“AYAH!”

Jane tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Dan kalimat itu sukses memalu sebongkah asa yang berdiri dengkik di dadanya. Janji Wei mungkin memang masih terjaga, namun Jane enggan menjadi seorang yang egois. Mengetahui eksistensinya tidak diinginkan di dalam rumah itu sudah cukup menyadarkannya bahwa mulai saat itu juga; Jane tak punya siapa-siapa.

.

.

.

.

.

Seorang remaja perempuan menjadi korban hantaman sebuah truk di sebuah jalan utama kota Gapyeong, Korea Selatan. Dari keterangan pengemudi truk, gadis yang menderita kelumpuhan dan menggunakan kursi roda tersebut berada di tengah jalanan yang lengang pada pukul satu pagi waktu setempat. Sampai saat ini, polisi masih melacak identitas korban—

 .

.

.

.

 .

Aku tak ingin menyerah.

Tapi aku lelah,

Aku lelah.

FIN.

.

.

a/n: if some of y’all or perhaps all of u feel like ini semuanya kek in rush gitu, ya saya juga merasakannya, tapi gatau mau diapain…, so…..

10 thoughts on “[VIGNETTE] A Loser Couplets”

  1. Sedihhh 😭😭😭😭😭 josh jangan tinggalin akuuu 😭 kalo Jane pergi, Wei sama siapa dong? Sama aku aja sini /digampar author

    Nice fic! Angst nya TERASA SEKALI SAMPE AKU BAPER 😭

    Suka

  2. Lais… lais… LAISSSSSS

    Pas awal-awal masih biasa aja tapi pas bagian joshua meningga lk kok sedih banget, ya. Ini aku coba nahan air mata coba iiiiih😭😭😭😭

    Nice fict, Lais 😄😄😄😄

    Suka

  3. OMG!!! Sedih banget😦

    Btw salam kenal yaaa aku udah lama jadi pembaca tapi baru kali ini berani comment karena fic ini keren banget!

    Good work!

    Suka

  4. Begitu page ini terbuka, langsung muncul suara piano yang oh my god sedih sekali dan aku langsung merasa miris hanya dengan lliat pic-nya.
    Jane sudah berusaha, iya.
    Aku sedih sekali waktu tau Joshua mati dan merasa sangat asdfghjkl ketika Jane bunuh diri (iya?).
    Hmmmmmmmmmm…….

    Suka

  5. Laiiisss, ANGST nya warbyasak! puisimu juga warbyasak!!!! yampun aku suka suka suka suka suka suka bangeeet 😭😭😭😭
    THE FEELING WAS SOOOO DEEP. and for me its not dat rush, its jst all fine for me. Wawh, greaaaat job!

    Suka

  6. okay /breathe in and out/
    kak lais 😥 kupikir bakal ada end yang happily ever after(?) but, but, i cant oh my lord 😷 anyway great fic kak 😆 but berhubung ini lagi puasa so i cant let ma tears out HEHE. luv ya kak 😆

    Suka

  7. LAISSSS😭😭😭
    Ya know, ini aku beneran sempet ngeluarin air mata:”) Mulai puncaknya itu yang Jane ketemu sama ayahnya, demi apa aku susah payah nahan air mata keluar tapi akhirnya keluar juga, untung dikit ga kebablasen:”)
    Anw, lais aku SUKAK INI SEMUANYA. Dari puisi maupun ficnyaaaa hacepppp. SUKSES bikin baper….
    Wes pokoknya kalo yang nulis lais emang ga usah ditanya.
    Keep writing lais, ijinkan aku berguru dari tulisanmu ya:””
    Laffyuuu♥

    Suka

  8. Lais, kamu kok bikin joshua my cimol bala bala ku habis umur sih? Heu heu tega kamu tegaaaaa…L
    Bapernya dapet lais. Its so nais fiction ehe ehe keep writing lais ^^ kusenang membaca ada joshua joshuanya eyaaa

    Suka

  9. Halo!
    Okay this is sad dari awal sampe akhir, tapi entah kenapa aku nggak ngerasa sedihnya itu terlalu dramatis? Malah sedihnya itu kaya yang nunjukkin “this is life, this is reality” gitu. Itu ceritanya Jane udah nggak punya siapa-siapa lagi selain Joshua sama Wei ya? Eh, turned out Joshua malah pergi, ikut sedih sih bacanya :” If I was Jane aku juga bakal depresi kali ya dihadapkan sama situasi-situasi kaya gitu. Belum lagi penolakan dari keluarga Wei, pantes aja Jane memilih buat bunuh diri. Tiga baris terakhir dari puisinya itu singkat tapi bikin makin nyesek, kena banget maknanya.
    Last, keep writing🙂
    Regards,
    Angela Ranee

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s