[Oneshot] BRIDGE

Bridge

BRIDGE

Scriptwriter: Yeotaeng

Starring by:

Kim Taehyung (BTS) as Bess | Katie Maxwell (O.C) |

Byun Baekhyun (EXO) as Linkay Kim |

Genre: Angst, Romance.

Rating: PG-17.

Duration: oneshot (3,5K+)

 

Yeotaeng, 2016.

“ya, aku mau Em. Asal itu denganmu kita bisa mulai dimana saja”

“kau benar – benar bukan saudara kembar Mr. Linkay?”

“—mungkin ini takdir kelam yang diciptakan Tuhan ! Kami bisa saling melengkapi untuk menutupi rasa sakit itu!”

Skotlandia -2010

            Suara sirine mobil polisi masih menyeruak masuk ke telingaku. Langkah ku gontai, menghampiri Emily yang sedang bicara dengan salah satu polisi. Wajahnya terlihat pucat dengan sesekali tangannya bergetar. Sesekali air matanya bergulir turun. Sesekali pula ia menghela nafas, berat. Ketika wajahnya berpaling menghadap wajahku, seketika itu pula ia berlari memelukku.

            “jangan memelukku Em, kau membuatku terlihat mengenaskan!” gumamku di telinganya dengan suara bergetar.

            Emily menangis keras, mendengarnya membuat hatiku terasa teriris pisau daging yang sering kulihat di mini market dekat rumah. Tanpa ku komando, air mataku ikut turun dengan cepatnya.

            Berulang kali kepalaku mendongak, mencegah luapan bulir bening keluar—lagi dari mataku. Emily masih terisak, menggenggam erat jaket tebalku.

            Kupandangi manik mata Emily, kakak perempuanku kini terlihat mengerikan. Matanya yang sama sipitnya denganku terlihat makin kecil. Aku melepaskan pelukannya. Setelah mendudukkannya di dalam ambulans aku menghampiri polisi yang tadi bicara dengan Emily.

            “bagaimana kronologi kejadiannya pak? Ba-bagaimana bisa mereka tertabrak?” walaupun bergetar aku tetap harus menannyakannya.

            “maaf, tapi apakah kau anak kandung pasangan Park Jung Woo – Tim William?”

            “ya, benar”

            “kami menemukan ini dibangku penumpang, dan untuk penjelasan kronologi kecelakaan kau bisa ikut denganku ke kantor polisi. Ini kartu namaku” ucapnya lalu meninggalkanku.

            Kuhampiri Emily di dalam ambulans. Kuajak dia ke rumah sakit, karena tak mungkin untuk sendirian berada di rumah. Lebih tidak mungkin lagi dia bertahan tanpa menangis di dalam bus Edinburgh – Glasgow.

            Perjalanan ke rumah sakit kami hanya berdiam diri, larut pada pikiran masing – masing. Rintik hujan diluar mobil seakan menembus jendela dan menelusup ke tulangku, sangat dingin membuatku merapatkan jaket yang kugunakan. Kulirik Emily, ia tertidur karna kelelahan.

            Tiga jam yang lalu kami sempat bercakap sebelum Ayah dan Ibu berangkat ke Edinburgh. Senyum yang ibu lemparkan padaku sangat manis, aku masih mengingatnya. Tawa kami saat—kesekian kalinya berkunjung ke Kastel Urquhart juga masih menggema di otak ku. begitu cepat alunan waktu itu berjalan.

            Di rumah sakit aku mengurus berbagai macam berkas. Dan setelah berunding dengan Emily, kami memutuskan jenazah untuk di kremasi. mengingat keluarga Ayah dan Ibu tinggal di Korea—hanya bibi yang tinggal di Highlands, Skotlandia jadi tak masalah bagi kami untuk memutuskan ini.

            “kau mau pulang atau ikut aku ke kantor polisi dulu, eonni?” tanyaku. Ini pertama kalinya kupanggil Emily dengan sebutan eonni—ayah adalah orang Korea.

            “aku ikut denganmu Katie, dan juga apa kau mau pindah ke Korea setelah proses pemakaman selesai?” manik coklat keabuan Emily menatapku sayu, bengkaknya sehabis menangis sudah hilang.

            “ya, aku mau Em. Asal itu denganmu kita bisa mulai dimana saja” jawabku lalu memeluk Emily.

Seoul, 2015

            “Sarapanmu jangan lupa kau habiskan!” seru perempuan bersurai sebahu warna walnut yang telah menggunakan setelan kerjanya. Ditutupnya tubuh tinggi semampai itu dengan coat peach yang dibelinya minggu lalu di Myeondong.

            “Em berangkatlah duluan, aku masih harus menyelesaikan tugas Mr. Linkay” kepalaku menyembul keluar dari pintu yang sengaja kubuka sedikit.

            “Linkay? Linkay yang kutemui beberapa hari yang lalu itu?” Emily nyaris tersedak kopinya sendiri.

            “iya, dia nyaris membunuhku dengan berbagai macam tugas fotografinya itu” gumamku.

            “itu sudah pilihanmu Katie, Maxwell

            “oh bagus Em kau berhasil membawa otak ku kembali ke kejadian masa lalu itu, kau tak berangkat kerja?”

            “setelah ini. Cepat bersiaplah, wajahmu sangat kucel” ucap Emily dengan tangannya yang seolah melingkari wajahku. Ia berangkat beberapa menit kemudian.

            Kini aku berkutat dengan beberapa hasil fotoku, cukup baik menurutku. Tapi jika sudah sampai ke Mr. Linkay, entahlah aku harus mendengarkan lantunan lagu rohani atau instrumen salah satu band genre rock setelahnya. Setengah jam kutata hasil cetak fotonya dan print out tugasku lainnya. Mengerang untuk kesekian kalinya dan bergegas mandi.

            Lima belas menit kemudian aku telah siap dengan kemeja putih yang kututup dengan sweater merah, kontras dengan kulit putih pucatku. Tak lupa kugunakan celana kulot buatan Emily—entah karena apa aku sangat menyukainya walaupun teman – temanku sering melarangku menggunakannya. Tak semua kurasa, ada satu yang tak selalu mengritikku. Dia Bess—atau lebih sering kupanggil Taehyung, Kim Taehyung.

            Dia teman mengobrolku via surel beberapa tahun yang lalu, dan secara ajaib dipertemukan saat upacara penerimaan mahasiswa baru. Bess adalah nama penanya.

            “Kat, kau sudah menyelesaikan tugasmu?” seseorang meneriakiku yang tengah fokus dengan salah satu materi di notebookku dan berhasil memmbuatku terloncat dari salah satu anak tangga jembatan penyeberangan.

            “Kim Taehyung! Bisakah kau mengucapkan selamat pagi lebih dulu sebelum berteriak secara tiba – tiba di depanku?” ucapku sambil menutup mata, menenangkan jantungku yang ikut terlonjak tadi.

            “hahaha maafkan aku, uri Katie kaget rupanya” kata Taehyung yang kemudian merangkulku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku saat mataku terbuka.

            Bukan hanya jantungku yang kaget dan berdetak lebih cepat, tapi wajahku pun kurasa ikut memerah. Walaupun sudah sering Taehyung merangkulku, namun tetap saja terasa canggung —untukku. Kamipun berjalan ke kampus dengan tangan Taehyung yang bertengger di pundakku, otomatis tubuhku kami juga berdekatan.

            “apa yang dipikirkan orang lain saat melihatmu merangkulku Taehyung-ah?” tanyaku, manikku menelusuri paras indah yang tepat berada di sampingku.

            “entahlah, mungkin kita terlihat seperti pasangan sempurna di Korea?” jawabnya santai, wajahnya menoleh menghadapku. Kedua ujung bibir tebalnya terangkat membentuk senyuman.

            “aku suka jika mereka memikirkannya begitu” bibirku pun membentuk sebuah senyuman paling manis yang pernah kulakukan.

            Kami tak pernah meresmikan hubungan sebagai pasangan kekasih, namun kami tetap menjaga satu sama lain. Termasuk dalam hal perasaan.

            Mr. Linkay memeriksa tugas kami, setelah selesai sorot matanya mengarah ke wajahku. Menyadarinya aku langsung menoleh ke Taehyung yang tepat disampingku, dan tersenyum padanya. Jika kuamati lebih lanjut, wajah Taehyung dan Mr. Linkay tak jauh berbeda.

            “Taehyung”

            “apa Katie?”

            “kau benar – benar bukan saudara kembar Mr. Linkay?” tanyaku polos.

            “hei! Kalau mau menyamakan carilah yang lebih baik, mana mau aku bersaudara dengan penyihir mesum itu!” bisik Taehyung setelah menarik kepalaku, mendekatkan telingaku dengan bibirnya.

            Aku menahan tawa yang nyaris keluar tanpa pertahanan.

            “sekian untuk hari ini, dan untuk Kim Taehyung-ssi mohon ikut ke ruangan saya” Mr. Linkay menyudahi pelajaran yang berlangsung selama empat jam.

            “Taehyung-ah, apa tadi dia mendengarmu? Apa kau akan dihukum? Wah keren, dia punya telinga yang sangat tajam” kata – kataku serentetan keluar.

            “diamlah, kalau tidak kau akan ikut ke ruangannya karena dia mendengarmu dari jauh. Hahaha” Taehyung meledekku dan kemudian berjalan keluar kelas.

            “kau tak ingin meninggalkannya?” suara berat memulai percakapan itu.

            “tidak. Memikirkan untuk meninggalkannya pun tak pernah ada, hyung” suara berat lain menimpali.

            Siluet dua adam yang terkena cahaya matahari saat mereka berbicara di dekat jendela sangat indah, apalagi mereka memiliki paras yang nyaris sama. Linkay Kim dan Kim Taehyung. marga yang sama namun tak sealiran darah—suatu keajaiban pula paras mereka nyaris sama. Linkay Kim adalah anak angkat keluarga Kim Taehyung saat ibunya dulu belum diberkahi keturunan—dia semacam umpan agar ibunya bisa hamil, dan akhirnya ada Kim Taehyung yang lahir ke dunia.

            “mendiang ayah yang menjadi penyebab orang tua Katie meninggal, Taehyung-ah! sudah berapa kali aku memberitahumu” gertak Linkay.

            “beratus kali mungkin. Tapi hyung! aku terlalu menyayanginya untuk sekedar menghilang dari hadapan Katie. Kejadian itu mungkin adalah jembatan kami—” Taehyung menundukkan kepalanya, menyembunyikan parasnya yang kecewa.

            “—mungkin ini takdir kelam yang diciptakan Tuhan ! Kami bisa saling melengkapi untuk menutupi rasa sakit itu!” tambah Taehyung membuat Linkay menghela nafas keras—lagi.

            “kau serius dengan ucapan itu? Terserahmu! Beberapa hari yang lalu aku bertemu Emily lagi, kakaknya. Begitu mendengar namaku saja dia langsung merubah ekspresi paras ayunya, apalagi Katie yang sangat dekat denganmu Kim Taehyung! dia bahkan belum tau kebenaran siapa keluargamu” Linkay lalu berpaling, melangkah ke meja kerjanya.

            “cepat beritahu dia Taehyung-ah, sebelum kesempatanmu hilang” suara Linkay sedikit melunak dari sebelumnya.

            Tanpa menjawab, Taehyung langsung berjalan keluar ruangan Linkay. Sang empunya ruangan hanya bisa menatap punggung anak itu dengan tatapan frustasi.

Skotlandia, 2010

            Linkay berdiri mematung dekat lampu jalan, sorot matanya mengarah pada dua kerangka mobil di seberang jalan. Kepulan asap terlihat beberapa kali, pemadam kebakaran bercakap lalu pergi meninggalkan kerangka itu.

            Terdengar bantingan keras pintu mobil disebelah Linkay, membuat pandangannya sempurna menatap gadis kecil dengan wajah pucat yang berlari setelah keluar dari taksi. Gadis bersurai golden dark-brown yang diikat acak itu berlari kearah kerangka mobil yang telah selesai dipadamkan apinya. Sedetik kemudian ia terduduk lemas dengan tangan yang ia hantamkan ke aspal hitam tak bersalah yang ada dibawahnya.

            “maafkan orang tuaku, maafkan mendiang orang tuaku” gumam Linkay kemudian menunduk dan berjalan ke arah polisi yang sibuk memeriksa laporan.

            Linkay ingat betul kejadian tempo hari saat ayahnya dan Taehyung bertengkar, harusnya Taehyung mengerti sebab ayahnya sering marah padanya. Tapi memang ia masih sangat kecil untuk mengerti—ayah mengidap kelainan psikis, aku sendiri tak paham betul apa penyakit itu.

            Pertengkaran itu terjadi karena Taehyung—yang memang hiperaktif tak ingin ayahnya melarang melakukan ini itu. Taehyung menangis, menjerit, melemparkan semua barang yang bisa ia lempar di rumahnya. Hanya ada ayah saat itu, ibu masih bekerja dan aku masih kuliah. Taehyung sedang libur saat itu. Ketika aku pulang, tepat di depan Taehyung ayah mengacungkan pisau dapur dan berteriak ingin bunuh diri. Sontak aku berlari memeluk Taehyung yang menangis sejadinya, akupun berteriak memohon agar ayah sadar dan meletakkan pisau itu. Taehyung lemas dipelukanku, pandanganku kualihkan ke wajahnya—dia pingsan.

            Melihat itu ayah berteriak histeris, mengarahkan pisau ditangannya ke vas bunga disampingnya dan sempurna pecah jatuh ke lantai. Aku bingung harus berbuat apa, terlebih ibu belum juga pulang kerja. Ayah lari ke kamar—masih menggengam pisau melewatiku yang hanya bisa memeluk Taehyung erat, berharap ia cepat sadar. Semenit kemudian ayah keluar menggenggam sesuatu ditangan kirinya—kunci mobil.

            “Dad! Kau mau kemana?” ayah hanya memandangku dengan tatapan kosong, seolah pikirannya memuai—hilang.

            Ia lari keluar rumah, kemudian kudengar suara deru mobil memekakkan telinga. Ayah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sepertinya.

            Taehyung ku baringkan di kasurnya, kulangkahkan kakiku yang gemetar ke arah meja telepon. Kutekan nomor telepon tempat ibu bekerja. suara yang menerima teleponku mengatakan bahwa beliau telah pulang beberapa menit yang lalu. Aku lega dan berjalan keluar, mencoba menunggu ayah yang kuharap pulang cepat—keadaannya tak memungkinkan untuk keluar lebih lama.

            Aku tertidur di ruang tamu, saat aku terjaga jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Sedetik kemudian pandanganku menatap pintu kamar ayah dan ibu, langkahku gontai menghampirinya. Kudapati tak ada manusia yang tidur dikasurnya, berarti mereka berdua belum pulang.

            Tiga hari lamanya mereka belum pulang, Taehyung menanyakan dimana ibu. Aku hanya bisa menjawab ibu sedang sibuk bekerja, banyak pesanan jadi beliau belum sempat pulang. Kucoba menelepon kantor ibu, mereka mengatakan bahwa ibu tak datang ke kantor selama dua hari dan jika hari ini tidak datang berarti genap tiga hari beliau tidak masuk kerja.

            Tanganku lemas menutup gagang telepon, kuputuskan untuk tinggal dirumah hari ini tidak berangkat kuliah. Batinku hanya bisa memanjatkan doa supaya mereka berdua—ayah dan ibu diberi keselamatan diluar sana.

            Ternyata, tanpa kuketahui ayah menculik ibu—tak bisa kukatakan menculik karna mereka berdua pasangan suami istri. Tapi tetap saja ibu dalam keadaan terpaksa saat mengikuti ayah.

            Kuberikan kesaksianku selengkap – lengkapnya. Dan polisi pun memberitahuku bahwa ayah sebelum menabrakkan mobilnya ke mobil itu telah menusuk Tn. Maxwell beberapa kali, begitu pula Ny. Maxwell. Ayah menghampiri ibu yang duduk ketakutan di dalam mobil kemudian. Ayah masuk ke mobil dan beberapa menit kemudian menginjak pedal gas, menabrakkan mobilnya dan mobil pasangan Maxwell. Orang – orang yang berada disekitar tempat kejadian tak bisa membantu banyak karena mereka sendiripun takut menjadi korban.

            Aku duduk di ruang tunggu, kepalaku terus tertunduk sampai sebuah suara membuatku sempurna menatapnya punggungnya. Gadis yang tadi kulihat terduduk lemas di dekat kerangka mobil kini membelakangiku, berbicara dengan salah satu polisi. Di belakangnya perempuan yang terlihat lebih dewasa berulang kali menghela nafas.

            “Kat, aku saja yang menemui polisi. Kau istirahatlah dulu wajahmu pucat” ucapnya lembut, senyum yang terpancar sangat manis dan sedih secara bersamaan.

            “aku saja tak apa Em. Aku masih kuat, kau-”

            “menurutlah, sekarang akulah walimu”

            Perempuan yang dipanggil Kat itu mengangguk lalu berjalan ke tempat duduk disampingku, aku menatapnya kasian. Merasa diawasi gadis itu menolehkan wajahnya ke arahku, sontak aku langsung menunduk menyebunyikan parasku. Takut kalau ia tau siapa aku.

Seoul, 2015.

            Manik Taehyung menatap sepatunya lama, namun bukan sepatu putih merk adidas itu yang ada dipikirannya. Bukan pula ujung celana jeansnya yang terkena pasir saat ia berjalan ke lapangan dan duduk di tempat penonton. Katie Maxwell, gadis itu selama beberapa bulan ini telah mencuri setiap inchi pikirannya. Terlebih saat hyung-nya memberitahu bahwa dia adalah putri pasangan Maxwell yang dibunuh ayah lima tahun yang lalu. Taehyung bahkan nyaris lupa apa yang terjadi lima tahun lalu sampai Linkay bertemu Emily di kantor penerbitan majalah delapan bulan yang lalu.

            Taehyung hanya berharap Emily belum —bahkan tidak memberitahu Katie perihal orang tuanya. Ucapan Linkay terngiang di otaknya. Kini selain Katie pikiran Taehyung dipenuhi ucapan Linkay.

            “terserahmu! Beberapa hari yang lalu aku bertemu Emily lagi, kakaknya. Begitu mendengar namaku saja dia langsung merubah ekspresi paras ayunya, apalagi Katie yang sangat dekat denganmu Kim Taehyung! dia bahkan belum tau kebenaran siapa keluargamu”

            “Taehyung-ah!” teriakan Katie membuyarkan lamunan Taehyung.

            “kau tak memberitahu ku kalau sudah keluar dari ruangan Mr. Linkay. Apa dia memarahimu?”

            “tidak, dia tidak memarahiku Kat” jawab Taehyung sambil merapikan anak rambut Katie kemudian menyelipkan ke telinganya.

            “lalu kenapa wajahmu seperti kehabisan darah begitu?”

            Taehyung hanya tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Katie yang kini duduk disampingnya. Katie hanya memandangnya sekilas, ia sudah berulang kali tersepona keindahan paras Taehyung.

            “tapi aku heran, kenapa kakakku selalu marah jika aku menyebut nama Mr. Linkay. Dulu aku hanya beranggapan kalau Emily marah karena aku kebanyakan mengeluh soal tugas mata kuliah fotografi, tapi sekarang lain. Seolah Emily tau hal lain—” ucapan Katie terpotong lantaran telunjuk Taehyung kini berada di bibirnya, sempurna membuat wajah Katie bersemu merah.

            “berhenti membicarakan dia nona Maxwell” suara Taehyung bergetar saat menyebut nama keluarga Katie.

            “kau kenapa? Tumben sekali kau memanggilku dengan sebutan nona” Katie bicara pelan saat telunjuk Taehyung tak lagi berada di bibirnya.

            Taehyung duduk tegak, tak lagi menyadarkan kepalanya di pundak Katie. Manik Taehyung menatap manik abu millik Katie, mencari raut kesedihan didalam sana. Nihil. Katie tak menunjukkannya saat bersama Taehyung—lebih tepatnya saat ia tak ingat tragedi kematian orang tuanya.

            Pelan. Taehyung mendekatkan bibirnya ke bibir Katie. Mengecupnya sekilas, kemudian tersenyum—senyum yang tak menunjukkan kebahagiaan. Katie, walaupun kaget namun tetap membalas senyuman Taehyung.

            “besok malam berdandanlah. Pastikan besok kau sangat cantik hingga membuatku lupa cara bernafas”

            “besok hari spesial?”

            “ya, hari yang sangat spesial”

            “baiklah, kupastikan kau juga lupa cara mengerjapkan mata. Kim Taehyung-ssi

            “ayo pulang, kita sudah tidak ada kelas lagi kan hari ini?”

            “ehm, tidak ada”

            Taehyung menggenggam tangan Katie erat, seolah tak ingin melepaskannya sampai kapanpun. Katie bingung dengan sikap Taehyung yang tak biasanya seperti ini. Tak biasanya Taehyung berhenti menunjukkan bright-rectangular smilenya, yang sempurna menunjukkan gigi putih rapi miliknya.

            “aku harus memberitahunya, aku tak ingin Katie bahagia karena kebohongannya. Maafkan aku karena ini menyakitkan—Katie”

            Dalam diam, batin Taehyung terus mengulang kata – kata itu, mencoba menguatkannya untuk hari esok.

            Hari ini libur, jadi Katie melakukan perawatan dirumah—karena nanti malam sangat spesial. Berendam dalam air hangat dengan aroma vanilla sangatlah nikmat.

            “tumben sekali Taehyung menyuruhku berdandan” gumam Katie sambil membaca majalah Elle.

            Selesai berendam, Katie berjalan ke kamar Emily—ia bilang pada Emily untuk meminjaminya salah satu dressnya. Katie terbilang kolot untuk urusan pakaian, beberapa kali Taehyung membelikannya baju agar ia tak ketinggalan fashion Korea.

            Mini dress dengan motif floral printing warna mint akhirnya dipilih Katie. Beruntung ini masih musim semi jadi tidak terlalu dingin untuk memakainya di malam hari. Katie sangat cantik saat tubuh tingginya terbalut mini dress itu. Riasan tebal namun terlihat fresh terpasang apik di wajah mungil Katie. Dipilihnya coat biru tua untuk mencegah angin membuatnya membeku diluar nanti. Katie terlihat sempurna, dengan wajah campuran Korea-Skotlandia.

            Ponselnya menyala, menunjukkan sebuah pesan masuk. Dari Taehyung.

            “aku ada di depan rumahmu”

            Kupakai sneakers warna mint dengan cepat. Lalu bergegas membuka pintu. Dan kudapati hidung Taehyung—nyaris menyentuh hidungku, dia berdiri terlalu dekat dengan pintu. Dan itu sukses membuat pipiku bersemu merah. Ditambah kini Taehyung mengeluarkan rectangular-smilenya.

            “sepertinya kini aku yang lupa cara bernafas, Taehyung-ah” suaraku pelan karena kami sangat dekat.

            “aku lebih dulu lupa cara bernafas, Katie”

            Sedetik kemudian Taehyung mengecup dahi Katie. Meninggalkan senyum malu – malu diwajahnya.

            “kajja!” Taehyung menggandeng tangan Katie.

            Taehyung mengajakku menyusuri sungai Han setelah berjalan – jalan—lebih tepatnya shopping di Myeongdong. Tepat saat itu atraksi malam hari dimulai, air terjun warna – warni keluar dari sisi jembatan. Meskipun berulang kali melihatnya—dengan Taehyung atau Emily, tapi aku tak pernah bosan. Mungkin ini alasan banyak orang berkunjung ke Korea atau bahkan menetap layaknya aku.

            “Kat..” suara Taehyung bergema tepat ditelingaku.

            Aku mendelik menyembunyikan rasa geli bercampur maluku.

            “ada apa?”

            “kemarilah sebentar” Taehyung berjalan meninggalkan keramaian pasangan adam hawa yang menikmati pertunjukan.

            Taehyung berhenti setelah merasa tempat itu cukup nyaman untuk menyampaikan pernyataannya, sedikit remang namun sepi. Sehingga jika Katie berteriak nanti tak akan membuat orang lain—kecuali dirinya merasa risih.

            “kenapa menyingkir kesini?”

            “ada yang ingin kukatakan padamu, nona Maxwell” ucap Taehyung dengan kepala yang sedikit merunduk, ia tak mampu menatap manik abu Katie.

            “bicaralah. sepertinya kau akan mati jika tak mengatakannya” suara Katie pelan namun tetap bisa didengar Taehyung.

            Semua diam, Taehyung tak bersuara begitu pula Katie. Nyaris lima menit lamanya mereka bergeming tak mengeluarkan suara sedikitpun. Hingga akhirnya helaan nafas berat Taehyung keluar. Katie yang sejak tadi menatapnya bingung sedikit merasa lega karena manusia dihadapannya masih bernafas.

            “nona Maxwell—

            “berhenti memanggilku seperti itu dan panggil aku seperti biasanya” Katie memotong ucapan Taehyung.

            “baiklah, Katie. Aku akan mulai mengatakannya, tapi berjanjilah kau akan mengeluarkan ekspresimu yang sebenarnya saat aku selesai mengatakannya” ujar Taehyung, kali ini dengan menatap sepasang manik abu Katie.

            “baiklah”

            Katie lemas. Kakinya seolah lumpuh tak mampu menopang tubuhnya yang hanya seberat 45kg. Dia terduduk dengan tangan yang mengepal—tangan itu bergetar hebat menahan emosinya. Taehyung selesai mengatakan kebenarannya, bahwa orang tuanya yang membunuh pasangan suami istri Maxwell. Sebisa mungkin Taehyung menahan air matanya, ia tak pantas menumpahkannya terlebih dihadapan Katie yang telah disakiti ayahnya.

            Hati Katie sakit mengetahui yang sebenarnya. Ia hanya tau bahwa kedua mobil itu bertabrakan secara tak sengaja karena salah satunya berkecepatan tinggi saat berbelok. Emily tak mengatakan yang sebenarnya, mungkin ia takut batinku lebih terguncang saat itu. Tapi ini kelewatan, lima tahun lamanya ia berusaha menyembuhkan luka itu. Tapi kenapa saat Katie nyaris sembuh, ia mendapati kebenaran yang menyedihkan ini.

            Terlebih Taehyung, orang yang ia cintai adalah buah hati orang yang membunuh mendiang orang tuanya. Katie tak tau harus bicara apa, isakannya terus menjadi – jadi mengingat setiap inchi kenangan bersama orang tuanya dan juga Taehyung. Taehyung lah yang menyembuhkan luka itu, ia selalu membuat Katie tertawa dengan tingkah idiotnya saat mereka bertemu.

            Kini ia tau kenapa Emily sangat marah setiap kali Katie membicarakan Mr. Linkay. Karena Emily telah mengetahui semuanya sejak kami ke kantor polisi lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu pula Emily menatap benci ke Mr. Linkay yang duduk disampingku saat di ruang tunggu. Dan aku baru mengetahuinya sekarang, lewat mulut orang kedua yang disayanginya setelah Emily.

            Setelah mendengar isakan Katie mereda, Taehyung duduk didepannya—sedari tadi ia berdiri memalingkan wajahnya dari hadapan Katie.

            “nona Maxwell, maafkan aku dan keluargaku” suara Taehyung bergetar, ia menata nafasnya dan bicara lagi.

            “aku ingin kau melupakanku. Melupakan setiap kejadian yang telah kita lalui bersama. Melupakan bahwa namaku adalah Kim Taehyung. dan hanya satu yang perlu kau ingat—” Taehyung menghela nafas lagi.

            “kau harus ingat bahwa kau tak mengenalku” lagi, suaranya bergetar. Telapak tangannya yang lebar menutup paras menawannya setelah mengatakan itu.

            Tubuh Katie bergetar hebat mendengar kata – kata yang baru saja Taehyung ucapkan. Hatinya tersayat lebih dalam. Ia tak ingin kehilangan orang yang dicintainya—lagi. Cukup sekali ia merasakan kehilangan. Sekuat tenaga kutahan bulir bening ini mengalir lagi.

            “Taehyung-ah

            Panggilan itu membuat Taehyung mendongak. Katie berdiri dihadapannya dengan kaki yang masih terlihat bergetar.

            “kau tak bersalah, Taehyung-ah. Mereka juga tak bersalah—” senyum Katie perlahan merekah, manik abunya bertumbuk dengan manik cokelat Taehyung.

            “maksudmu, Katie?”

            “—kita hanya dengan ajaib dipertemukan oleh takdir yang menyedihkan. Keajaiban yang membuat kita saling menyayangi tanpa harus mendahului untuk mengatakannya. Taehyung-ah, aku tak ingin merasakan kehilangan lagi. Jadi tolong jangan minta aku untuk berhenti menatapmu, mengingatmu, bahkan berhenti mencintaimu” Katie menghela nafas pelan, kata – kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

            Masa bodoh jika Katie mencintai pria yang merupakan anak dari pembunuh orang tuanya. Ia tak ingin merasakan kehilangan kesekian kalinya. Ia tak ingin merasa sakit lagi. Yang ia inginkan hanyalah orang dihadapannya ini mengisi hari – harinya lagi, dan tidak memintanya untuk melupakan kenangan yang telah mereka rangkai.

            “kau yakin, Katie Maxwell?” tanya Taehyung yang kemudian berdiri dihadapan Katie.

            “aku sangat yakin Bess, itu kan namamu saat di Skotlandia dulu? Dan itu bukan nama penamu”

            Taehyung tidak menjawab. Ia hanya menarik Katie ke pelukannya, memeluknya erat. Mencium puncak kepala Katie berulangkali dan menangis dipundaknya. Tangisan Taehyung lebih parah daripada Katie.

            “berhentilah menangis tuan Kim. Kau layaknya idiot bodoh yang kehilangan gulalinya” ucap Katie sambil menepuk – nepuk punggung Taehyung.

            “aku bahagia Katie. Kupikir kau akan lari meninggalkanku setelah mendengar pernyataanku. Dan kupikir sekarang kau benar – benar sukses membuatku lupa caranya bernafas” suara Taehyung terdengar serak karena isakannya yang keras tadi.

            “well, berarti kau butuh nafas buatan” ucap Katie lalu tersenyum.

            “maksudmu?”

            Tanpa menjawab pula, Katie menempelkan bibirnya tepat dibibir Taehyung. membuat pria itu kaget dengan tindakan Katie. Namun tak lama Taehyung pun membalas ciuman itu.

            Dua hari setelahnya aku menceritkan semuanya ke Emily—ia menginap di Gangnam untuk pemotretan dari hari itu dan baru pulang larut malam tadi. Emily marah mengetahui bahwa Taehyung yang sering datang ke apartment ini adalah adik Linkay. Ia sebenarnya sudah lama menduga karena wajah mereka yang kelewat mirip. Tapi demi menjaga perasaanku, Emily tak terlalu menunjukkan emosinya.

            Akupun bercerita dengan hati – hati, tak ingin salah bicara dan nantinya ia malah tidak direstui berhubungan dengan Taehyung. aku mengatakan tindakan bodoh yang tak ku sesali—meminta Taehyung untuk tidak meninggalkanku. Emily mungkin kepanasan karena setiap aku mulai bercerita dia mengipaskan majalah tipis yang ada didekatnya. Tidak kulupakan pula untuk meminta restunya untuk terus berhubungan dengan Taehyung, juga dengan Linkay.

            “kau tak menyesalinya?”

            “tidak. Tidak sedikitpun, eonni

            “baiklah jika itu mau mu. Lagipula kulihat Taehyung tak bertindak buruk padamu, berbeda dengan kakak angkatnya itu. Tapi sungguhan mereka tak sehubungan darah? Aneh sekali, wajahnya memintaku berpikiri bahwa mereka kembar identik” Emily berujar panjang lebar.

            Aku tersenyum mendengarnya, bahagia karena direstui oleh kakak tersayangnya ini. Terlebih Emily tak menyebut – nyebut masa lalu orang tua Taehyung saat aku meminta restunya.

Seoul, 2016.

            “Eunha sayang, kau tau kamera poket milik Linkay?” seru Taehyung dari dalam kamar.

            “tidak. Jangan bilang kau lupa menaruhnya dimana!” Katie lebih tepatnya Lee Eunha —nama korea Katie Lee Eunha, ia memutuskan untuk mengubah namanya setelah menikah— menjawab dengan mulut penuh tteokbokki.

            Katie dan Taehyung menikah dua bulan yang lalu. Taehyung takut jika Katie akan melirik lelaki lain saat kuliah selama empat tahun, jadi diawal tahun ini Taehyung melamar Katie. Mereka tinggal di apartment Taehyung dekat kampus, ia bekerja freelance untuk menghidupi Katie. Katie belum ingin mempunyai bayi disaat mereka masih sibuk kuliah, jadi Taehyung harus menunggu dua tahun lagi untuk dapat memiliki buah hati.

            “aku menemukannya! Chagia, kau kuliah siang hari ini?” Taehyung keluar kamar dengan senyum persegi panjang yang mereka diwajah kotaknya.

            “aigoo. Cepat simpan ditasmu! Iya aku kuliah siang, Linkay menyuruhku berbeda kelas denganmu agar bisa mengurus rumah” Katie mendelik dengan pandangan yang tertuju ke TV 30inch, seperangkat playstation di depannya, dan lima kotak kaset DVD kosong—kasetnya telah berserakan dikarpet.

            “hehehe. Baiklah aku berangkat dulu” ucap Taehyung seraya mengecup cepat bibirku yang penuh saus tteokbokki.

            “hati – hati dijalan. Dan jangan mengedarkan tatapanmu ke mahasiswa baru yang lebih cantik daripada aku!” seruku saat Taehyung memakai sepatunya.

            “baiklah nyonya Kim. Suamimu ini tak akan mengekor ke wanita lain selain dirimu” ucap Taehyung, berbalik memandangku dan melemparkan rectangular-smilenya.

fin

            Wah selesai akhirnya😀 sempet nggantung ditengah karna bingung milih sad ending atau open ending, tapi yang kepilih malah happy ending *waks bunuh monster pemilih happy ending di otakku*. Karakter Kim Taehyung sendiri terinspirasi dari MV I Need You, yang dianya frustasi tapi nggak nunjukin ke sekitarnya *apalah, kalo salah maafin karna masih blom ngeh sama maksud mv itu sendiri:v*

            Apalah daya karna saya manusia jadi mohon maklumnya jika ada kesalahan dalam pembuatan karya ini. Dont be silent reader ya😀 tinggalkan jejak di komentar dan secepat kiriman JNE balas komentar kalian ^^

2 thoughts on “[Oneshot] BRIDGE”

  1. Hello yeotaeng , salam kenal ^^

    Aku suka sama cerita kamu, ada pesan yang ku tangkap juga dari cerita ini. Dan suka juga sama cast-nya hehe.

    Sebelumnya aku minta maaf, aku mau kasih kritik dan saran nih hehe. Untuk kalimat ” Tak semua kurasa, ada satu yang tak selalu mengritikku. ” aku agak ga ngerti. Itu maksudnya si Katie ini ga pernah dengerin orang-orang yang kritik dia atau si Katie ini baru sadar kalo ada yang ga pernah kritik dia sekalipun?

    Terus untuk perpindahan sudut pandang. Agak bingung ketika aku baca di kalimat awal masih pake nama cast, tiba-tiba berubah jadi sudut pandang orang pertama. Mungkin bisa kamu perjelas aja kapan sudut pandangnya mulai berubah.

    Sisanya mungkin typo dan tanda baca aja.

    Maaf ya kalo kritiknya banyak, aku minta maaf hehe. Tulisan aku juga masih jelek ko. Semangat ya untuk menulisnyaaaa 😆😆😆😆😁😁😁😁

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kece kak, aku suka banget sama alurnya. Susah lho bikin cerita yang alur maju-mundur tapi tetep nyambung gini~

    Tapi jadi penasaran kalo sad end gimana hehehe:v

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s