The Story Only I Didn’t Know [8/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [8/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1 // 7

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Seoul International Hospital

Minjung VVIP Room

Seungho memasuki ruang perawatan istrinya, berjalan pelan menuju ranjang tempat istrinya di rawat, wajah laki-laki paruh baya itu terlihat cemas menatap sang istri yang tengah duduk bersandar di ranjang pasiennya. Di sampingnya Moon Seunghyun terlihat berjalan mendahuluinya, di ikuti 2 orang dokter lainnnya dan beberapa perawat.

Langkah Seungho terhenti begitu pula dengan Jungsoo dan Chanyeol yang berjalan di belakangnya, dari ujung matanya laki-laki itu menatap Sangwon yang terduduk di sofa dengan mata yang tertutup, tersenyum sekilas menyaksikan pelayannya yang terlihat sangat lelah hingga tertidur dengan posisi duduk di atas sofa.

“Paman Kim menjaga ibu sejak tadi, ayah.” Ucap Chanyeol seraya berjalan menghampiri Sangwon, memerintahkan satu perawat untuk memberikannya sebuah selimut lalu menyelimuti tubuh Sangwon yang terpejam.

“Apa anda sudah lebih baik Ny.Park?” tanya Seunghyun seraya ingin memeriksa keadaan wanita itu, namun dengan halus wanita itu menolaknya.

“Aku baik-baik saja dokter, aku ingin berbicara dengan keluarga ku apa bisa?” tolak wanita itu dengan wajah tegasnya, membuat Seunghyun menarik nafas seraya mengangguk kecil, terlalu lelah jika harus beradu argument dengan orang-orang kelas atas seperti keluarga pasiennya ini, karna pada akhirnya mereka hanya bisa mengangguk tanpa bisa membantah.

Seungho memperhatikan perdebatan istrinya dengan dokter Moon, dia hafal jika Minjung tidak begitu suka dengan dokter dan rumah sakit sejak dulu. Perlahan Seungho berjalan mendekat berdiri di samping istrinya, mata senja Seungho terlihat terkejut saat wanita itu menolehkan wajahnya menatapnya dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang tidak di kenal Seungho.

Seungho masih terdiam hingga tidak sadar jika wanita itu sudah memanggil namanya, laki-laki itu terlihat tersenyum sekilas guna menutupi rasa terkejutnya saat ini. “Sudahlah dokter Moon tidak usah di paksa, sejak dulu istri ku sangat tidak suka dengan rumah sakit, kau tahu itu kan?” ucap Seungho dengan suara beratnya.

“Jungsoo,—“ Seungho menoleh menatap Jungsoo yang masih berdiri di belakangnya. “Kalian bisa pulang ke rumah lebih dulu untuk menyiapkan kepulangan ibu kalian,—“ Seungho menatap wanita yang masih menatapnya dengan dingin, Jungsoo hanya mengangguk seraya merangkul pundak Chanyeol dan membawa adiknya itu untuk keluar dari ruangan.

Seungho memberi isyarat agar semua dokter dan perawat ikut keluar dari ruangan itu, Chanyeol yang terlihat binggung hanya menatap Jungsoo dengan dahi yang berkerut tidak mengerti dengan sikap sang ayah saat ini. Namun Chanyeol hanya bisa mengangguk saat Jungsoo tersenyum ke arahnya dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja, iya sejak dulu Chanyeol akan selalu menuruti apa yang di katakan oleh semua anggota keluarganya.

Jungsoo kembali tersenyum memandang ke arah Sangwon saat dia dan Chanyeol hampir keluar dari ruangan sang ibu, membalikkan tubuhnya menatap dengan senyum penuh arti ke arah sang ibu. “Ayah, apa kita perlu membangunkan paman Kim?” tanya Jungsoo seraya memandang ke arah Sangwon.

“Jangan di bangunkan!” Jungsoo mengalihkan pandangannya, menatap sang ibu yang terlihat panic. “Dia— dia sangat lelah karna sudah menjaga ku sedari tadi, jadi— biarkan dia istirahat sejenak.” Ucap sang ibu dengan sedikit tergagap.

Jungsoo memandang sang ibu dengan tersenyum menunduk lalu kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan kedua orang tuanya di belakang sana dengan sebuah senyum dingin yang tercetak sempurna di wajah rupawan Jungsoo.

Seungho tersenyum dingin tangan laki-laki itu bergerak pelan di atas pinggiran ranjang, sesekali menatap wanita di atas ranjang yang kini terlihat mulai pucat. Ruangan itu kini terasa lebih dingin dan mencekam saat Seungho mulai mengeluarkan suara beratnya, suara yang menyerukan serangkaian kalimat yang mampu membuat wanita itu tercekak.

“Sebelum kita pulang, ada yang aku dan Jungsoo ingin beritahukan pada mu?”

***

Chanyeol menatap Jungsoo yang berjalan pelan di sampingnya, kakak laki-lakinya itu sedari tadi terlihat gelisah dengan sesekali menatap ke arah handphone yang berada di dalam gengamannya. Mereka kini sudah berada di lobi rumah sakit, menunggu sopir keluarga yang akan mengantarkan mereka pulang ke rumah.

“Hyung,— apa menurut mu ayah terlihat aneh?” Jungsoo tampak tersenyum penuh arti seraya mengusap bahu adik tersayangnya itu dengan lembut. “Apanya yang aneh?” Chanyeol memiringkan kepalanya, berfikir ulang tentang pertanyaan yang baru saja di utarakannya.

“Entahlah aku hanya merasa jika ayah,— terlihat berbeda, dan—“ Chanyeol mengantungkan kalimatnya seraya menatap Jungsoo dengan lebih serius. “Ibu,— bolamata ibu terlihat lebih coklat,—“ Jungsoo mengangkat jari telunjuknya memberi isyarat agar Chanyeol menahan ucapannya.

Laki-laki itu memundurkan tubuhnya saat handphonenya mulai bergetar, menyentuh pundak sang adik dan memberi isyarat jika dia ingin menerima panggilan telephone sebentar lalu melangkah sedikit menjauh dari Chanyeol yang masih terlihat binggung.

“Apa kau sudah sampai? Baiklah aku akan segera ke sana, pastikan semuanya baik-baik saja.” Jungsoo mematikan sambungan telephone, lalu kembali mendekat ke arah Chanyeol.

Kajja-–“ ucap Jungsoo seraya kembali merangkul pundak Chanyeol. “Kita ke basement sekarang.” Lanjut Jungsoo. “Memangnya paman Kim tidak mau menjemput kita di sini?” Jungsoo hanya tersenyum mendengar pertanyaan binggung Chanyeol.

“Chanyeol-aa ada sebuah cerita menarik yang akan aku ceritakan pada mu.” Chanyeol menatap Jungsoo dengan guratan binggung yang mulai tampak di dahinya.

“Sebuah cerita?” tanya Chanyeol sambil terus melangkah mengikuti tiap langkah Jungsoo menuju Basement.

Eoh! Sebuah cerita tentang keluarga kita, cerita yang hanya tinggal kau saja yang belum mengetahuinya.” Ucap Jungsoo dengan tersenyum, meninggalkan kerutan kebingungan yang semakin bertaut dengan berjuta teka-teki yang samar-samar mulai membalut pikiran Chanyeol.

***

Seungho keluar dari ruang perawatan Minjung, beberapa pengawal berbaju hitam terlihat membungkuk seraya berjalan di sekeliling Seungho. Di samping Seungho Minjung terlihat berjalan pelan dengan wajah pucatnya, entahlah wanita itu merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Seungho sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi.

Seungho tersenyum dingin tangan laki-laki itu bergerak perlahan, meraih jemari Minjung yang terasa membeku lalu mengenggamnya dengan sangat erat hingga membuat wanita itu menatap ke arahnya.

“Apa kau sudah siap menerima kejutan dari ku, Lee Eunjung!” mata wanita itu sontak membulat dengan degupan jantung yang memacu cepat.

“Mwo?”

Seungho lagi-lagi hanya tersenyum mendekatkan bibirnya pada telingan wanita itu. “Kau pikir kau bisa membodohi ku 2 kali, begitu?”

***

Basement

Sungmin menatap seorang wanita yang tertidur di jok belakang mobilnya, efek obat bius yang dia berikan pada wanita itu belum hilang. Mata dingin Sungmin memutar dengan bosan menunggu seseorang yang akan menyelesaikan misinya kali ini, hingga membuatnya terbebas dari belengu yang menyiksa batinnya dan berharap bisa kembali secepatnya ke Guangzhou bersama adiknya, Lee Xiumin.

Tak pernah terbayangkan oleh Sungmin dia bisa terjebak di dalam permainan orang-orang ini, orang-orang yang bahkan tak di kenalnya dan membayarnya dengan bayaran mewah hingga akhirnya membawa Sungmin berada pada tahap ini. Jika saja saat itu Sungmin tidak membutuhkan uang untuk pengobatan kanker otak yang menghuni kepala Xiumin, mungkin saat ini Sungmin masih berada di Guangzhou sebagai pedagang bakmi.

Sebuah ketukan dari balik kaca mobil menyadarkan Sungmin dari lamunannya, laki-laki bermata tajam itu tampak mengangguk dan segera keluar dari dalam mobil. Menunduk hormat ke arah laki-laki tampan yang kini sudah tersenyum puas ke arahnya, laki-laki yang membayarnya untuk pekerjaan yang sebenarnya, laki-laki yang di temuinya ketika masih di Guangzhou beberapa hari sebelum dia bertemu dengan Lee Eunjung.

“Nyonya Minjung ada di dalam dan masih tertidur untuk beberapa menit ke depan, Tuan muda Jungsoo.”

***

“Mwo? Apa yang kau katakan Seungho?” Seungho tersenyum sadis tangan laki-laki itu terlihat mengepal dengan kuat, membuat wanita cantik itu kini terlihat extra keras menahan rasa takut yang kian bersarang di hatinya.

“Sudahlah Eunjung tidak usah berbelit belit, ” Seungho tertawa sumbang dengan tatapan tajamnya. “Dengar! Jika malam itu kau tidak membuat ku mabuk, aku pasti tidak akan salah mengenali kalian berdua. Kau lupa jika aku sangat tahu perbedaan kau dengan istri ku kan?”

Wanita itu Eunjung mengepalkan tangannya dengan gigi yang saling beradu, menahan rasa marah yang tercipta dari rasa tidak terima jika permainannya tercium secepat ini. Wanita itu melupakan sesuatu, melupakan fakta yang tak akan terbantahan, fakta jika seorang Park Seungho sangat mengenali sang istri Lee Minjung saudara kembarnya lebih dari siapapun.

“Kenapa? Apa kau kecewa karna rencana mu luluh lantah secepat ini?” Seungho semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Lee Sungmin akulah yang menyuruhnya untuk datang pada mu,” mata Eunjung membulat.

“Sejak kejadian malam itu kau pikir aku melepaskan mu begitu saja? Kau salah Eunjung aku mengawasi semua gerak gerik mu, aku tahu kau sedang mencari celah untuk masuk ke keluarga ku lagi dan— aku membayar Sungmin mengatur seolah-olah dia sudah bekerja lama untuk ku dan mempertemukan kalian dalam rencana ku,” Seungho tertawa puas menatap wajah Eunjung yang memucat dengan mata yang berkilat marah.

“Sekarang aku akan membuat mu jera Lee Eunjung.”

“Aku ibu dari anak mu Park Seungho, jangan lupakan itu,”

“Aku tidak lupa akan hal itu Eunjung, aku tetap ayah dari Park Chanyeol sampai kapan pun. Sedangkan kau? Entahlah apa kau masih pantas di sebut ibu, ibu yang meninggalkan anaknya begitu saja di panti.” Eunjung mengepalkan tangannya dengan kuat, merasa terpojok dengan semua yang di katakan Seungho.

“Sekarang buat semuanya menjadi mudah, menjauhlah dari kehidupan kami dan jangan pernah lagi berfikir untuk mencelakai adik kembar mu itu, Lee Eunjung! Karna dia— dia sangat menyayangi mu.”

***

Jungsoo tersenyum puas memberi perintah tanpa suara agar Sungmin kembali masuk ke dalam mobil, laki-laki itu mengalihkan pandangannya, menatap Chanyeol yang berdiri mematung di sampingnya menatap ke arah adik laki-laki yang sangat di sayanginya.

Hyung,—“

“Ada sebuah cerita yang belum pernah aku ceritakan pada mu, cerita tentang orang tua kita di masa lalu.” Jungsoo tersenyum seraya merangkul pundak Chanyeol lalu mengiringnya duduk bersandar di cap mobil.

“Cerita yang terjadi 17 tahun yang lalu, dia— yang baru saja kau lihat di ruang perawatan ibu adalah— ibu mu Lee Eunjung, saudara kembar ibu ku Lee Minjung.”

Mwo?” Chanyeol membulatkan matanya laki-laki itu mengeleng tidak percaya dengan semua yang di katakan Jungsoo.

“17 tahun yang lalu ibu mu datang pada ayah ku dan menjebaknya, membuatnya mengandung mu di rahimnya. Ibu mu meminta pertanggung jawaban dengan syarat ayah harus melepaskan ibu ku namun ayah tidak bisa melakukannya. Ibu mu murka saat itu juga dia menghilang begitu saja, lalu— 10 bulan setelahnya dia menelphone ayah ku dan mengatakan jika dia sudah melahirkan mu ke dunia dan meninggalkan mu di panti asuhan begitu saja,” Jungsoo menghembuskan nafas beratnya.

“Waktu itu tidak mungkin bagi ayah untuk memberitahu ibu ku tentang cerita yang sebenarnya, setelah 5 tahun berselang barulah ayah menjemput mu dengan alasan mengangkat mu sebagai bagian dari keluarga kami agar ibu tak lagi kesepian, karna saat itu ayah sudah menyerahkan setengah dari perusahaan pada ku, tapi— pada akhirnya ibu mengetahui tentang kisah mu saat tiba-tiba saja Eunjung Ahjumma menelphone ibu dan memberitahu semuanya,”

Chanyeol melepaskan rangkulan Jungsoo laki-laki itu menegakkan tubuh tingginya, merasa jika kepalanya sedikit berputar menggulung semua cerita Jungsoo menjadi pusara yang membekukan perasaannya.

“Jadi— karna cerita ini ibu— membenci ku? Karna ibu yang melahirkan ku kedunia adalah sumber kesedihan ibu dan penghancur kebahagian kalian,—-“ Chanyeol meracau memundurkan tubuhnya dengan terhuyung, laki-laki itu linglung terlalu binggung dengan semua kenyataan yang ada.

“Chanyeol-aa,” Jungsoo berdiri dari posisinya, meraih lengan sang adik namun dengan cepat Chanyeol menepisnya. “Aku— aku bukan adik mu hyung— aku hanya— sumber kesengsaran ibu,” setetes airmata jatuh di pipi Chanyeol, Jungsoo mengeleng dia benar-benar sangat menyayangi adik tirinya itu.

“Chanyeol-aa,—“ ucapan Jungsoo terputus saat laki-laki itu menatap Seungho dan Eunjung di ujung Basement, dengan beberapa pengawal di sekeliling mereka.

Dan Jungsoo pun sontak terkejut saat suara lembut yang sangat di kenalnya, memangil namanya membuat Jungsoo memutar pandangannya.

“Ibu,—“ di hadapan Jungsoo Minjung terlihat sudah turun dari mobil, berdiri di samping Sungmin yang menatap menyesal ke arah Jungsoo karna tak bisa menahan Minjung di dalam mobil.

Mata sendu Minjung menatap Jungsoo dan Chanyeol dengan binggung, semakin bertambah binggung saat mendapati Seungho dan Eunjung yang berdiri tak jauh dari tempat mereka sekarang.

Eunjung menghentikan langkahnya menatap pemandangan di depannya dengan tertawa sumbang, mendapati jika sekarang dialah yang di permainkan oleh takdir. Mata tajam Eunjung menatap murka Minjung yang kini mulai melangkah mendekat ke arah Jungsoo, menatap marah ke arah Sungmin yang diam di tempatnya.

Eunjung kembali tertawa menatap Seungho dengan memaki sesukanya, wanita cantik itu berjalan dengan sedikit terhuyung mendekat ke arah Minjung dan Jungsoo, menatap sekilas ke arah Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan yang tidak di mengertinya.

Ah! Bagus sekali ternyata akulah yang di permainkan di sini.” Eunjung kembali tertawa. “Aku pikir aku adalah actor utama yang mempermainkan kehidupan kalian, tapi ternyata aku hanya penonton yang kalian kelabui.” Eunjung menunjuk wajah Jungsoo dengan dingin.

“Maafkan aku Eunjung ahjumma, aku terpaksa melakukannya karna aku benar-benar tidak ingin kau mengacaukan keluarga ku lagi. Aku bahkan rela membuat ibu ku terluka hingga kau tak meyangka jika semua ini tidak nyata, aku hanya takut kau membayar orang lain untuk melukai ibu ku jika sejak awal aku mengacaukan rencana mulia mu,” Jungsoo merangkul pundak Minjung dengan lembut.

“Jungsoo-aa ada apa ini?” tanya Minjung dengan memandang putrnya, Jungsoo menganguk dan menjawab jika semua yang terjadi selama ini adalah rencananya. “Dan ayah juga mengetahui tentang rencana ku ini bu, maaf kan aku..”

“Mwo?”

“Kau— ibu ku,” suara bergetar Chanyeol menghentikan perdebatan Jungsoo dan Eunjung, mereka sedikit lupa pada sosok yang paling menderita dengan kisah masa lalu keluarga Park.

Chanyeol mendekat menatap Eunjung dengan tatapan datarnya, merasa sakit hati karna wanita ini membuangnya begitu saja, membuatnya di benci oleh Minjung ibu yang sangat di sayanginya.

“Aku bukan ibu mu! Aku hanya wanita yang melahirkan mu dan— aku sangat menyesal dengan kehadiran mu di harim ku, kau tahu kenapa? Karna kau sama sekali tidak berguna, kau bahkan tidak bisa membantu ku mendapatkan semua yang aku inginkan, kau dengar itu,—“

“Cukup LEE EUNJUNG!!” teriak Minjung tak tertahan, wanita itu benar-benar sakit saat melihat butiran airmata jatuh di wajah pucat Chanyeol. “Berhenti Eunjung unnie,— berhenti menyakitinya dengan kata-kata mu,” Minjung menghapus airmata yang tiba-tiba menetes tak tertahan di pipi pucatnya, wanita itu melepaskan rangkulan Jungsoo dan berjalan mendekat ke arah Eunjung.

Suasana terasa dingin saat Minjung menatap Eunjung dengan linangan airmata menyesalnya, menyesal karna sudah membuat saudara kembar yang di sayanginya menjadi seperti ini, tersesat dalam rasa kecewa hingga membuatnya tak mampu lagi melihat rasa sayang Minjung selama ini.

Seungho yang berdiri di belakang Eunjung hanya bisa menghembuskan nafasnya, merasa jika dia turut andil di masalah ini. Dia benar-benar tidak menyangka jika Eunjung yang sudah di angab sebagai sahabat baiknya itu, menyimpan perasaan yang begitu dalam untuk dirinya.

“Aku benar-benar tidak pernah berniat melukai mu unnie, aku sangat menyayangi mu,—“

“Kau merampasnya dari ku Minjung! Kau menghancurkan impian ku, kau merampas cinta ku. Aku yang lebih dulu mengenalnya kenapa kau yang justru mendapatkannya, KENAPA??” Minjung berteriak menarik rambutnya dengan kembali memaki Minjung dengan lantang, sebulir airmata jatuh di pipi Eunjung meratapi nasib yang menurutnya sangat tidak adil.

“Dia tidak pernah merebut ku dari mu Eunjung, sejak awal aku yang memilihnya.” Sela Seungho seraya berdiri di samping Minjung istrinya, sedang Jungsoo tampak menghampiri Chanyeol yang terlihat berdiri bergetar di tempatnya berpijak. Laki-laki itu terlalu binggung dengan semua yang terjadi, tidak menyangka jika kisah orang tuanya di masa lalu begitu rumit.

Perlahan Chanyeol mengerakkan kakinya mengabaikan Jungsoo yang mendekatinya, laki-laki itu terlalu muak hanya menjadi penonton di perdebatan orang tuanya. Laki-laki itu menatap Eunjung yang masih memaki Minjung, wanita itu berkali-kali ingin mengapai Minjung namun di halau oleh Seungho.

“Apa yang kau inginkan dari ibu ku,— ibu?” ucap Chanyeol yang langsung membaut perdebatan Eunjung terhenti, wanita itu memutar bolamatanya menatap tak minat sosok jangkung yang mewarisi mata coklat pekat miliknya.

Ah! Masih pantaskah kau ku panggil ibu? Wanita yang bahkan membuang ku dan mengangab aku hanyalah seseorang yang di sesali kelahirannya. Tapi— aku mohon jangan menyakiti Nyonya Park,—” Chanyeol menahan kata-katanya, laki-laki itu selalu merasa sakit saat harus memanggil sang ibu dengan sebutan Nyonya Park.

“Nyonya Park adalah wanita yang sangat baik, aku— aku sangat menyayanginya jadi— katakan apa mau mu sekarang? Kau mau harta ayah ku? Ambillah aku akan menyerahkan semua harta ayah yang di atas namakan nama ku. Dan itu sangat banyak aku bisa jamin kau bisa hidup mewah di luar negeri hingga puluhan tahun.” Eunjung terdiam, menatap wajah serius Chanyeol saat ini, wajah yang tampak menahan semua rasa kecewa di balik tatapannya kini.

“Chanyeol-aa,—“ ucapan Seungho terputus saat Chanyeol kembali bersuara. “Ayah— bisakah kau menyerahkan semua hak ku pada— ibu ini,” Chanyeol memutar pandangannya, menatap Seungho dengan sebulir airmata yang pada akhirnya meluncur tanpa perintah.

“Nyonya Park,— Ibu maafkan aku,— aku benar-benar tidak tahu jika kehadiran ku menyakiti perasaan mu, menghancurkan kebahagian dan hidup sempurna mu,” airmata Chanyeol semakin mengalir menyakiti dada saat isak itu tertahan, menatap Minjung yang sudah menangis dalam diam.

Dia Chanyeol sangat menyayangi Minjung melebihi apapun, menyayangi wanita yang sejak dulu selalu Chanyeol anggap sebagai ibu kandungnya. “Aku menyayangi mu,— jadi maafkan aku dan maafkan juga,— ibu ku.” Chanyeol memundurkan tubuhnya sedikit terhuyung saat merasakan jika otot kakinya melemah, menahan semua rasa sakit buah dari sebuah cerita kelam di masa lalu keluarganya.

“Chanyeol-aa,” Minjung tak tahan jika tidak merangkul Chanyeol ke dalam dekapannya, merangkul anak laki-laki yang sejatinya masih sangat dia sayangi seperti dia menyayangi putra kandungnya Jungsoo.

Minjung berjalan perlahan ingin mengapai Chanyeol dan mengatakan jika dia sangat menyayangi putranya itu, namun tiba-tiba dengan sangat cepat Eunjung yang terlupakan mengeluarkan sebauh pistol kecil dari balik bajunya mengarahkan tepat ke kepala Minjung yang kini berdiri 5 langkah di depannya.

Dengan sigab semua pengawal Seungho mengeluarkan senjata mereka, mengepung dan mengarahkannya pada Eunjung yang terlihat kalut.

“IBU!!” teriak Jungsoo yang berlari mendekat, begitu pula dengan Chanyeol yang kini sudah berdiri 3 langkah dari Minjung.

“Eunjung-aa jauhkan benda itu dari istri ku, dia— adik mu saudara kembar mu!” teriak Seungho tak tertahan, laki-laki itu menjaga jarak dan memberi perintah agar semua pengawalnya tetap di posisi siaga mereka.

“Aku rasa semua kisah ini akan berakhir jika aku mengakhiri hidup mu Minjung, dengan begitu kita impas Seungho. Aku kehilangan mu dan kau kehilangan Minjung.” Eunjung menatap Minjung dingin, wanita yang sudah terbalut rasa dendam itu hanya terkekeh pelan saat semua orang meneriakkan namanya.

Minjung hanya tersenyum tipis menatap saudara kembarnya itu dengan tatapan yang sama di puluhan tahun yang lalu, tatapan sayang dari seorang saudara sekandung.

~DOORR!!!__

Tepat saat Eunjung menarik pelatuk pistolnya, sebuah dorongan yang cukup keras mendarat di bahu Minjung hingga membuat tubuh wanita itu beringsut ke lantai. Semua mata kini terperanjat pada sosok tinggi yang berdiri mematung tepat di hadapan Eunjung, mata Minjung sontak membulat menyaksikan sosok itu pada akhirnya ambruk tepat di hadapannya.

“CHANYEOL-AAA!!!!!!”

 

TBC

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

2 thoughts on “The Story Only I Didn’t Know [8/9]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s