Undercover Love (1)

Undercover Love

[CHAPTER 1]

Undercover Love

story by ayshry

[Up10tions] Lee Changhyun (Bitto) ||  [OCs] Shin Mea || [Up10tions] Lee Wei

AU!, Marriage Life, Romance, Action, slight!Comedy/Chaptered/PG-15

Disclaimer: Cast belong to God and the plot is Mine!

poster by iamjustagirls thanks!

Previous: PROLOG

-HAPPY READING-

 

***

Mea menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Gadis itu baru saja tiba di rumah dan saat ini benar-benar merasa lelah dan juga lapar. Gadis itu memainkan ponselnya, jemarinya bermain-main di atas layar touchsreen demi mengetik beberapa kalimat, ia hendak mengirim pesan kepada teman sekantornya perihal beberapa pekerjaan yang sempat tertunda—mengingat esok hari ia akan mulai masuk kerja kembali. Setelah pesan tersebut terkirim, dilemparkannya ponselnya ke sembarang tempat lantas ia berteriak dengan kencang, “Lee Changhyun, dimana kau?”

Tergopoh-gopoh, seorang pemuda dengan kacamata berbingkai bulat yang bertengger di hidungnya keluar dari sebuah ruangan. Ia berlari dengan sedikit bungkuk, model rambutnya yang seperti jamur membuat poninya sedikit menutupi kacamatanya, ditambah lagi dengan tubuhnya yang hanya mengenakan kaos oblong serta celana olahraga dibawah lutut membuat penampilannya semakin tak sedap dipandang. Menyedihkan.

“A-ada apa, Sayang?”

“Sayang? Sudah aku katakan berulang kali jangan pernah memanggilku seperti itu!” Mea berdecak, memandang pemuda itu dengan jijik lantas kembali mencibir.

“Maafkan a-aku.”

“Lupakan. Bagaimana dengan makan malam? Sudah kau menyiapkannya ‘kan? Aku sangat lapar.”

“Oh te-tentu saja, a-aku sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”

Mea tersenyum lantas berkata, “Bagus sekali. Beruntung aku memiliki suami penurut sepertimu.” Ia berdiri, melangkah menuju dapur, diikuti Changhyun yang mengekor dalam diam.

Mea menarik sebuah kursi di depan meja makan lantas mendudukinya setelah  sebelumnya ia  mencuci tangannya terlebih dahulu.

“Aku kira lelaki bodoh dan culun sepertimu tak bisa melakukan apa-apa untuk hidup. Tapi setelah aku menjadi istrimu dan tinggal bersamamu, ternyata banyak hal yang bisa kau lakukan. Tak sia-sia aku menerima perjodohan ini. Setidaknya aku tak perlu mengurus diriku sendiri karena ada kau yang bisa mengurus segalanya.”

Changhyun bergeming, namun ia diam-diam tersenyum mendengar pujian—yang sebenarnya tak terdengar seperti sebuah pujian—dari sang istri. Setidaknya ia bisa membuat dirinya menjadi lebih berguna terlebih dihadapan Mea.

Changhyun kemudian memilih untuk duduk di kursi yang bersebrangan dengan Mea. Tanpa banyak bicara mereka akhirnya mulai menyantap makanan dan malam itu berlalu seperti malam-malam lainnya; tanpa obrolan basa-basi sebagaimana layaknya interaksi antara suami dan istri ataupun sekedar canda gurau demi menghabiskan malam.

***

“Mea, ba-bangun. Kau akan terlambat pergi bekerja jika kau tak bangun.”  Dengan sangat hati-hati Changhyun mengguncang tubuh istrinya. “Hei, b-bangun Mea.”

Detik berikutnya Mea menggeliat. Perlahan kedua kelopak mata gadis itu mulai terbuka dan tertutup kembali ketika menangkap cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Ia menggeliat lagi dan kembali membuka matanya dan ketika hendak menutupnya kembali gadis itu terlihat amat terkejut ketika mendapati seseorang tengah berada dikamarnya, seseorang yang tak lain adalah suaminya sendiri; Lee Changhyun.

YAK! APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU?” Mea berteriak. Ia beringsut menunju sudut tempat tidur sembari menarik selimut demi menutupi tubuhnya yang hanya memakan pakaian minim saja. “SUDAH AKU KATAKAN BERULANG KALI, JANGAN PERNAH MENGINJAKKAN KAKIMU DI KAMARKU!”

Changhyun terlihat takut. Berkali-kali ia mencoba memperbaiki letak kacamatanya yang melorot.

“M-maaf, aku … aku hanya ingin membangunkanmu. Lagi pula ini sudah jam 10, kau b-bisa terlambat kalau tak k-kubangunkan.“

“ASTAGA! KENAPA KAU TIDAK BILANG DARI TADI!”

Secepat kilat Mea melompat dari tempat tidurnya, menyambar handuk yang tergantung rapih di sebalik pintu lantas berlari menuju kamar mandi.

Baru saja Changhyun hendak keluar dari kamar itu, Mea berteriak dari sebalik pintu kamar mandi, “CHANGHYUN, KAU SIAPKAN PAKAIANKU!”

Changhyun mendesah namun kemudian mulai menjalankan perintah dari Mea.

Kini Changhyun tengah menunggui Mea di meja makan. Tiga puluh menit berlalu dan akhirnya Mea turun dari kamarnya dengan terburu-buru. Gadis itu bahkan mengabaikan Changhyun dan langsung berjalan menuju pintu.

“K-kau harus sarapan dulu, Mea, a-aku sudah menyiapkannya.” Changhyun berusaha mengejar Mea dengan sebuah piring penuh makanan di tangannya.

“Tidak ada waktu untuk sarapan, aku sudah benar-benar terlambat!”

“T-tapi nanti kau bisa sakit kalau tidak sarapan. Aku t-tidak ingin melihatmu sakit karena—“

“Aish!” Mea menghentikan langkahnya, ia berbalik lantas berkata, “Baiklah, berikan aku satu suap saja.”

Changhyun dengan cepat menyendok makanan dan menyuapkannya pada Mea.

“Minum.”

Changhyun sedikit bingung lantaran ia tak membawa minuman. Diletakkannya piring makanan itu di atas lantai lantas berlari menuju dapur dan kembali dengan segelas jus yang langsung ia serahkan kepada Mea.

Meski kesal, namun Mea memilih untuk mengalah. Entah kenapa hari ini ia bersikap sedikit lunak pada Changhyun, mungkin efek kasihan.

“Lain kali jangan buat kesalahan seperti ini! Kau tahu bukan, hari ini aku ada janji dengan orang penting. Seharusnya kau membangunkanku lebih awal.”

“M-maafkan aku. Lain kali aku t-tidak akan mengulanginya lagi. Kau m-mau aku antar?”

“Oh tidak! Jangan pernah menawarkan diri untuk mengantarkanku terlebih ke tempat kerjaku. Aku tak ingin menanggung malu memiliki seorang suami yang berpenampilan sepertimu. Sudah, aku pergi.”

Lagi-lagi Changhyun mendesah pasrah. Pemuda itu hanya bisa memandangi punggung istrinya yang perlahan menghilang dibalik pintu.

Lagi-lagi semua yang aku lakukan selalu salah dimatanya, batin Changhyun.

***

-Mea POV-

Sial! Kenapa hari ini aku harus bangun terlambat? Pemuda bodoh itu bahkan tak berniat untuk membangunkanku—oh, dia memang membangunkanku tapi tetap saja itu tak berguna.

Dasar bodoh!

Tenang Shin Mea, tenang. Kau tak boleh terlihat berantakan untuk saat ini. Ingat kau masih memiliki pertemuan penting—yang sebenarnya sangat-sangat terlambat untuk didatanginya—dan kau harus bisa mendapatkan kepercayaannya. Setidaknya kontrak itu haru berjalan dengan lancar, kau tak boleh mengacaukannya, batinku.

Tanpa terasa aku sudah berada di depan sebuah gedung besar—tempat dimana aku memiliki janji penting dengan seorang klien. Sebenarnya gedung ini adalah milikku—oh, maksudnya akan segera menjadi milikku ketika ayah menyerahkannya padaku. Shin Group adalah nama induk dari perusahaan ini dan tentu saja nama tersebut diambil dari marga ayahku dan margaku juga—tentu saja.

Sebelum menjejakkan kaki memasuki gedung, terlebih dahulu kutenangkan diriku. Menarik napas dalam-dalam lantas membuangnya bersamaan dengan rasa gugup dan khawatirku—mengingat pertemuan ini sama halnya dengan mempertaruhkan hidup matiku; apakah aku layak menjadi seorang penerus atau tidak.

Meskipun nyatanya aku adalah anak satu-satunya dari Tuan Shin, namun itu tak menutup kemungkinan untuk ayahku mewariskan perusahaan kepada orang lain yang lebih dipercayanya dari pada aku; ya walaupun kedengarannya sedikit tak masuk akal tapi itulah ayahku. Selalu menginginkan segalanya serba sempurna.

Aku baru melangkahkan kaki memasuki gedung ketika seorang gadis muda berpenampilan rapi menghampiriku. Ia menyodorkan sebuah map lantas berkata, “Direktur, kau terlambat. Klien telah menunggumu sejak tiga puluh menit yang lalu.”

Kuhentikan langkahku demi melihat isi map. “Aku tahu aku terlambat, jadi kau tak perlu membahasnya lagi,” kataku tanpa melihat kearahnya. “Sekarang dimana dia? Aku akan langsung menemuinya.”

Gadis muda yang notabenenya adalah sekretaris pribadiku segera menuntunku ke ruangan dimana klien tersebut tengah menungguku.

“Beliau berada di dalam, Direktur Shin.”

Kuserahkan kembali map tersebut kepadanya lantas mengetuk pintu barang beberapa kali sebelum akhirnya aku melangkah memasuki ruangan tersebut.

“Maaf atas keterlambatanku.” Aku membungkuk sopan kepada seorang pria paruh baya yang tengah duduk di atas sofa. Diam-diam aku menghembuskan napas lega lantaran pria itu tak mengutukku karena keterlambatanku.

“Oh, Shin Mea-ssi. Akhirnya kau datang juga.”

“Maaf karena telah membuatmu menunggu, Tuan Choi.” Aku berjalan mendekat, duduk dihadapannya. “Baiklah, aku akan langsung pada inti pembicaraan kita.”

Kuambil beberapa berkas yang telah tersedia di atas meja lantas menyodorkannya kepada Tuan Choi. Membiarkan pria paruh baya itu mengamati kontrak kerja yang tertera disana dengan was-was.

“Jadi, jika kau setuju untuk bekerja sama dengan perusahaan kami maka kami akan—“

“Kau tidak perlu menjelaskannya lagi, aku akan langsung menandatanganinya.” Perkataan Tuan Choi barusan sempat membuatku terbelalak tak percaya.

“Benarkah yang kau katakan itu, Tuan Choi?”

“Iya tentu saja, berikan berkas yang perlu aku tanda tangani.”

Aku menyodorkan berkas tersebut kepadanya dengan senang hati. Berusaha mengulum senyum ketika ia membubuhkan tanda tangannya diatas lembaran kontrak tersebut. Andai saja ini bukan pertemuan resmi, mungkin saat ini aku telah melompat kegirangan.

“Senang bekerjasama denganmu, Tuan Choi.” Kuulurkan tanganku demi menjabat tangan Tuan Choi. Dan pada akhirnya kontrak ekslusif yang dinanti-nantikan akhirnya berjalan sesuai rencana.

Kau berhasil, Shin Mea!

-Mea POV end-

***

CHEERS!

 

Dentingan gelas kaca yang beradu serta sorak-sorai kegirangan terdengar memenuhi sebuah ruangan dimana ditempat tersebut tengah diadakan sebuah pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan Mea atas kontrak yang berhasil didapatkan olehnya.

“Selamat atas kontrak yang berhasil kau dapatkan, Direktur Shin!” Seruan itu berasal dari seorang pemuda tunjang berwajah tampan.

“Hei, kita sedang tidak berada di tempat kerja, Wei, jadi panggil saja aku dengan namaku, mengerti?”

Pemuda bernama Wei itu tertawa lantas berkata, “Shin Mea? Atau Lee Mea?”

Yak! Kau mau mati, huh? Jangan pernah mengganti margaku dengan marga pemuda culun itu!” seru Mea.

“Siapa yang culun? Aku tidak culun, kok.”

Mea berdecak kesal. “Kau ini! Memangnya kau suamiku? Jelas sekali kau ingin menggodaku dengan menggunakan margamu yang kebetulan sama dengan marga si culun itu ‘kan? Sayangnya saat ini aku tidak berniat untuk beradu argumen denganmu, tunjang!”

Lagi-lagi Wei tertawa. “Eh tapi, kau benar-benar tak berniat memperkenalkan suamimu itu pada kami—ah, maksudku pada orang-orang di perusahaan? Kudengar orang-orang mulai membicarakanmu karena menikah diam-diam dan mereka juga penasaran dengan wajah suamimu. Kau—“

“Sekali lagi kau berceloteh yang tak penting, maka akan aku jahit mulutmu itu, Wei!” Mea bersedekap. “Dan lagi, jangan pernah mengingatkanku tentang pernikahan ataupun suami. Ingat, aku ini dijodohkan. Pernikahan ini aku jalani semata-mata demi perusahaan. Aku bahkan tak ingin dunia mengetahui jika aku sudah menikah.”

Wei menyeringai. “Berarti, aku masih memiliki kesempatan untuk menggodamu Nona Shin?” Dikedipkannya sebelah matanya demi menggoda Mea.

“Oh, jadi kau benar-benar ingin aku menjahit mulutmu itu, Lee Wei?”

Dan untuk kesekian kalinya pemuda itu tertawa. “Come on, Mea, aku hanya bercanda. Kenapa malam ini kau sensitif sekali sih?”

“Tapi candaanmu itu tidak lucu, Tuan Lee.” Mea mencebik. “Pokoknya jangan  pernah membawa-bawa kata ‘suami atau menyebut nama pemuda itu terlebih ketika kita sedang berada bersama orang-orang perusahan. Jika kau melakukannya lagi maka aku tak akan segan-segan menendangmu dari perusahaanku. Ingat itu!”  Mea setengah berbisik, hanya untuk memastikan agar pemuda itu mengerti dengan ucapannya.

Sejujurnya Wei sempat bergidik ngeri mendengar bisikan Mea. Meskipun kenyataannya Wei adalah sahabat Mea sejak kecil dan ia sudah mengenal Mea dengan sangat baik, tetap saja pemuda itu tak bisa mengatasi sifat dingin dan kasar dari sang gadis. Tapi jika hanya sekedar ancaman, Wei sudah teramat sering mendengarkannya dan baginya semua ancaman itu hanya candaan belaka, namun tetap saja nada bicara Mea yang datar dan dingin berhasil membuat Wei—sedikit—ketakutan.

Lantaran ingin memperbaiki suasana yang tiba-tiba menjadi sedikit menakutkan, Wei lantas berdiri dengan sebelah tangannya mengangkat sebuah gelas kaca. Di dentingkannya gelas tersebut demi merenggut atensi seluruh orang disana lantas berkata dengan lantang, “Untuk kesuksesan Direktur kita, cheers!”

Cheers!

***

“Hei Mea, sadarlah, kita sudah sampai di apatemenmu. Hei!”

Sudah berkali-kali Wei berusaha membuat Mea tersadar. Entah berapa banyak alkohol yang melewati tenggorokan gadis itu sehingga kini ia benar-benar telah kehilangan kesadarannya. Tak pernah-pernahnya dalam sejarah seorang Shin Mea pulang dari pesta dalam keadaan mabuk seperti saat ini.

“Shin Mea! Apa kata suamimu nanti jika kau pulang dalam keadaan mabuk seperti ini, huh? Terlebih kau pulang bersama pemuda lain, hei, sadarlah!”

“Ssstt, diamlah, Wei. Kau berisik! Dan apa kau lupa, huh, bukannya tadi sudah kuingatkan untuk tidak menyebut pemuda bodoh itu? DASAR KAU PAYAH!”

“Aish, gadis ini! Bahkan dalam keadaan mabuk pun kau tetap saja meneriakiku. Sadarlah! Aku tak tahu bagaimana caranya kau masuk ke dalam. Jika aku menekan bel, maka habislah aku! Pasti suamimu yang akan membukakan pintu dan—ah, dia pasti akan berpikir tidak-tidak tentangmu dan aku. Jadi tolong cepatlah sadar, Shin Mea!”

Mea berdecak. “Tenanglah Wei, pemuda bodoh itu tak mengerti apapun, dia tak akan berani marah padaku. Aku adalah penguasa dirumah ini, jadi … sebelum aku memuntahkan isi perutku disini maka—hoek.”

YAK! JANGAN MUNTAH DISINI, BODOH!” teriak Wei panik.

Mea tertawa. “Pencet saja belnya, bodoh! Atau perlu aku yang melakukannya? Haha, iya baiklah aku saja yang melakukannya.”

Berikutnya Mea sibuk menekan bel berulang kali.

YAK, LEE CHANGHYUN! BUKA PINTUNYA!” ia berteriak.

“KAU SUDAH GILA?” Wei terpekik. “Kau ingin membunuhku, huh? Bagaimana jika suamimu itu mengira aku—“

Kriet.

“—selingkuhanmu”

Wei bergeming. Dilihatnya seorang pemuda yang tengah berdiri diambang pintu yang tengah memandanginya bingung. Pemuda yang tak lain adalah Lee Changhyun, suami Mea.

“Ah, Changhyun-ssi. Aku harap kau tidak salah paham. Namaku Lee Wei. Aku adalah sahabat Mea, kami bahkan sudah saling kenal sejak kecil. Jadi tolong jangan mengira kami ini memiliki hubungan spesial atau apalah itu.” Sejatinya Wei gugup dan pemuda itu berusaha menjelaskan keadaan sebelum Changhyun menjadi salah paham.

“O-oh, apa yang terjadi pa-pada Mea-ku?” Changhyun bertanya dengan polos. Sedangkan Wei tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika mendengar cara pemuda itu berbicara.

Ada apa dengannya? Kenapa dia berbicara dengan gagap? Dan penampilannya … penampilannya sangat aneh. Culun dan—oh tidak! Aku tak pernah membayangkan pemuda yang menjadi suami Mea adalah orang sepertinya. Jadi ini alasan gadis ini enggan untuk memperkenalkan suaminya pada orang lain? Sungguh Mea yang malang, batin Wei.

“Eh-oh, begini Changhyun-ssi. Jadi, tadi kami mengadakan pesta untuk keberhasilan Mea dalam menjalin kerjasama dengan perusahaan lain, dan sepertinya ia terlalu banyak minum sehingga menjadi mabuk seperti ini.”

“T-terima kasih, Wei-ssi, terima kasih karena sudah mengantarkan Mea-ku p-pulang ke rumah. A-aku akan membawanya masuk kedalam, s-sekali lagi t-terima kasih.” Lantas Changhyun membungkuk 90 derajat dihadapan Wei.

“Lee Changhyun! Kau … kenapa kau yang membukakan pintu, huh! KAU MEMPERMALUKANKU! Sudah kukatakan untuk tidak menampakkan diri didepan semua teman-temanku. Kau … KAU BODOH!”

Yak, Shin Mea! Apa-apaan kau ini? Kau sedang berbicara dengan suamimu, jaga perkataanmu.” berbisik Wei dengan sedikit kesal. “Jaga sikapmu, bodoh!”

Changhyun tertawa kaku. “A-aku baik-baik saja, Wei-ssi, lagi pula a-aku sudah terbiasa d-dengan sikapnya itu.”

“Wei, bawa aku pergi dari sini, aku … aku muak melihat lelaki bodoh itu. Bawa aku pergi, Wei, aku benar-benar—“

BRUK.

Tubuh Mea ambruk dipelukan Wei, gadis itu kembali kehilangan kesadarannya.  Diam-diam Wei menatap Changhyun canggung, ia merasa bersalah kepada sang pemuda karena gadis yang telah menjadi istrinya kini malah berada dipelukannya.

“B-berikan dia padaku Wei-ssi. Aku a-akan membawanya ke dalam.”

Wei akhirnya menyerahkan Mea kepada Changhyun.

“Kau yakin bisa membawanya sendiri?”

Changhyun mengangguk. “Pulanglah, ini sudah larut malam. Aku benar-benar berterima kasih kepadamu, tapi lain kali jangan harap kau bisa menyentuh tubuh gadisku!”

Tubuh Wei seketika membeku lantaran mendengar perubahan nada serta cara pemuda dihadapannya itu berbicara. Bahkan tatapannya pun terkesan berbeda, ada sebuah kilatan yang bisa dilihat dengan jelas oleh Wei. Sebelum Wei sempat melontarkan pembelaan dirinya, Changhyun telah terlebih dahulu menutup pintu dengan sedikit kasar.

Tunggu, apa aku tak salah dengar? Nada bicaranya benar-benar berubah! Sial, kau dalam masalah Wei, kau sudah membuat pemuda itu cemburu. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang laki-laki yang jika miliknya telah disentuh orang lain maka ia tak akan segan-segan untuk menunjukkan taringnya. Oh, kau benar-benar  berada dalam masalah, Lee Wei, batin Wei.

***

-Mea POV-

Kelopak mataku terbuka perlahan, kesadaranku datang bersama rasa pusing yang menyerangku, alhasil tanganku kini bersarang dikepalaku, menekannya demi meredam rasa sakit yang terasa.

Aku mencoba untuk duduk, memaksa diri untuk mengingat kembali kejadian tadi malam dan seberapa banyak minuman keras yang kutenggak sehingga membuatku terbangun dengan kepala yang amat berat ini. Pusing dan juga mual. Huh, sejak kapan kau suka minum-minum, Shin Mea? Bahkan tubuhku saat ini penuh dengan bau alkohol, menjijikkan. Dan lagi—oh, bajuku? Dimana bajuku? Seingatku tadi malam aku tidak—sial, pasti ini ulah si culun itu!

“LEE CHANGHYUN! APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!” Aku berteriak marah.

Hening, tak ada tanda-tanda kedatangan dari si culun itu. Biasanya tanpa perlu berteriak, pemuda itu akan segera datang jika aku memanggilnya. Apa dia sedang tak berada di rumah?

Kuhentakkan kakiku dengan kesal. Huh, hanya dengan membayangkan pemuda itu membuka seluruh bajuku saja dan—oh tidak, aku bahkan tak bisa membayangkannya!

“Mati kau, Lee Changhyun!” rutukku.

Karena tak ada tanda-tanda kedatangannya, pada akhirnya dengan sedikit memaksakan diri aku berdiri—meskipun hampir terjatuh lantaran pusing yang masih menjalar dikepalaku—lantas berjalan terseok-seok menuju kamar mandi guna membersihkan diri.

Satu jam berlalu, kini aku sudah berpakaian lengkap dan tengah duduk menunggui si culun itu di depan meja makan. Beruntung, pemuda itu pergi setelah membuatkanku sarapan, jadi sembari menungguinya, aku bisa mengisi perutku yang sedari tadi sudah menjerit kelaparan.

Setelah makananku habis, sayup-sayup kudengar suara pintu yang terbuka dibarengi dengan langkah tergesa-gesa yang sangat khas bagiku; langkah si culun Lee Changhyun.

Akhirnya kau pulang juga, bodoh! batinku.

“Oh-oh, Mea, k-kau sudah bangun?” tanyanya padaku.

“HEI, BODOH, APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU SEMALAM, HUH!?” tanyaku dengan membentaknya. Bisa kulihat raut wajah bingung sekaligus takut miliknya, namun aku sama sekali tak peduli.

“A-apa maksudmu, Mea? A-ah, maaf, semalam a-aku terpaksa membuka bajumu karena, karena k-kau—“

“SIAPA YANG MEMPERBOLEHKANMU MELAKUKAN HAL ITU?”

Bisa kulihat dia sedikit terlonjak karena bentakanku barusan. Huh, peduli apa aku dengannya!

“Aku benar-benar mi-minta ma-maaf, Mea.” Ia menunduk, tak berani menatap mataku yang tengah memelototinya.

“Maaf katamu?” Aku berdecak. “Dengan mudahnya kau katakan maaf setelah kau melihat tubuhku—oh! kau sungguh keterlaluan, Lee Changhyun!”

“Ta-tapi, aku ini suamimu, Mea. Apa salahnya ji-jika aku melakukannya? Lagi pula aku ti-tidak ada maksud lainnya, hanya saja aku tak ingin k-kau sakit karena memakai baju yang basah o-oleh muntahanmu. A-aku juga t-tak melakukan apapun padamu semalam, pe-percayalah kepadaku.”

Aku mendesah. “Ya, tentu saja aku percaya dengan celotehanmu itu. Pemuda bodoh dan culun sepertimu memang tak akan mampu melakukan hal-hal aneh padaku. Ya aku percaya. Tapi tetap saja, aku merasa apa yang kau lakukan itu tidak masuk di akal!”

Dia bergeming. Dan sungguh, aku benar-benar tak menyukai sifat pendiamnya itu. Kenapa aku bisa terjebak dengan pemuda polos sekaligus naif sepertinya, sih?

“Oke, Lee Changhyun, sekarang dengarkan aku. Kau benar, kita adalah pasangan suami-istri yang telah sah menikah. Tapi ingat, aku menikahimu bukan karena menginginkan hal ini. Aku hanya sekedar mengikuti permintaan konyol Ayah demi membahagiakannya. Kau bisa menganggap dirimu sebagai suamiku atau menganggapku sebagai istrimu, tapi jangan berharap aku akan melakukan peranku layaknya seorang istri, sekalipun jangan pernah bermimpi, Lee Changhyun!”

Kulihat pemuda itu menganggukkan kepalanya berkali-kali.

“Maafkan a-aku, Mea. Lain kali aku ti-tidak akan melakukan hal-hal yang tidak k-kau sukai. Maaf.”

Raut wajah sedihnya itu membuatku resah. Entahlah, sinar matanya yang meredup ditambah dengan nada suaranya yang memelas sungguh membuatku sedikit merasa kasihan; hanya sedikit.

“Baiklah, kali ini aku akan memaafkanmu.”

“Sungguh? Kau sungguh me-memaafkanku, Mea?”

Aku menjawabnya dengan anggukan malas.

“Te-terima kasih, Mea.” Bersamaan dengan ucapannya itu, Changhyun lantas membungkuk kepadaku dan tentu saja hal tersebut membuatku amat terkejut.

Yak! Kau tak perlu membungkuk seperti itu kepadaku!” ucapku cepat.

Kemudian pemuda itu kembali meluruskan tubuhnya secepat yang ia mampu, oh demi apapun, caranya bergerak barusan sungguh menggemaskan. Dan tanpa kusadari, sudut bibirku terangkat dan aku pun tersenyum geli melihatnya.

Aku tersenyum? Karenanya? Oh, bagaimana mungkin?!

Aku berdehem. “Jadi, kau sudah makan?” tanyaku hanya sekedar basa-basi.

Dia menggeleng. “Sa-sat kau berada di rumah, a-aku hanya akan makan ke-ketika kau telah menyelesaikan makanmu a-atau setidaknya a-aku harus ma-makan bersamamu. Tenang, aku ti-tidak akan melupakan hal i-itu. Apapun yang kau i-inginkan, maka a-aku harus menurutinya. Karena a-aku sayang pa-padamu.”

Lihat, betapa bodohnya dia! Bahkan perjanjian tak masuk akal itu diingatnya dan benar-benar dilakukan olehnya. Dasar Lee Changhyun bodoh!

“Kalau begitu makanlah.”

“Y-ya?”

“Makanlah, aku sudah menyelesaikan makanku. Jadi sekarang kau bisa makan.” Aku berbalik, mengayunkan tungkaiku hendak menuju kamar.

“K-kau mau kemana?”

Aku menghentikan langkah, berbalik lantas berkata, “Ke kamarku. Aku lelah, aku butuh istirahat. Jadi jangan ganggu aku, mengerti?”

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Baiklah, se-selamat beristirahat Sayang—oh, maksudku, Mea.” Dan dia tersenyum.

Astaga, kenapa dia terlihat begitu menawan dengan senyumannya itu? Oh, tidak, Shin Mea, kau tidak boleh terpengaruh dengan senyuman bodohnya itu. Sadarlah!

Refleks, tanganku terangkat lantas memukul kepalaku dengan sedikit keras. Sebelum si culun itu menyadari kecanggungan yang tiba-tiba menghampiriku, secepat kilat aku berlalu menjauhinya sebelum aku menjadi manusia tak waras.

Kau gila, Shin Mea!

-TBC.

Hola halo!

Chapter 1 di sini ya guys^^

Semoga kalian pada suka dan maaf banget karena Bitto aku bikin perannya kaya begitu, tidak ada maksud apa-apa cuma untuk sekedar kepentingan fanfiksi saja ya~~ Dan untuk typo, alur yang kecepatan dan apapun itu yang membuat kalian merasa tidak nyaman saat membaca fic ini mohon dimaklumi, terkahir jangan lupa meninggalkan jejak yaa dan jangan lupa kunjungi blog mbaay di https://yayaay.wordpress.com

Thanks<3

-mbaay.

One thought on “Undercover Love (1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s