[Vignette] Barbie!

barbie

BARBIE!

.

a vignette by Nisa Jung (@NisaJung97 on ask.fm)

.

VIXX – Ken, Ravi & Kim Ji Won (Ravi’s younger sister) | Fluff, Hurt/Comfort | 1299 words | G

.

.

Mungkin tidak sekarang, tapi Barbie dan Ken sudah ditakdirkan bersatu.

.

.

Hanya orang dewasa saja yang boleh menikah.

Teringat dengan nasihat sang ibu, Ji Won menghela napas. Dipeluknya boneka Barbie dan Ken erat-erat, sembari merapatkan badan ke jendela mobil. Huh, memangnya kenapa kalau Ji Won yang masih anak-anak ingin menikah? Toh, Hak Yeon-ajeossi yang sudah dewasa saja kadang memainkan mobil-mobilan kepunyaan Won Shik dan menonton serial kartun!

Jadi, apa salahnya bertukar nasib?

Pandangan Ji Won beralih pada kotak berpita merah di dasbor, senada dengan hiasan rambut yang ia gunakan. Oh, haruskah Ji Won menyerah, lalu meminta Tuan Kim―sang ayah―untuk menghentikan mobilnya dan berputar arah?

Tapi… Sebentar lagi mereka akan sampai di alamat yang tercatat pada kartu nama pemberian “Ken”.

Ji Won memasukkan kedua bonekanya dalam ransel, bersama dengan satu pak krayon dan buku gambar yang sudah lebih dulu terjejal di sana. Seraya menatap spion, gadis itu menyambar sisir, untuk merapikan poni pagarnya yang tertiup angin.

Orang dewasa selalu mengecek penampilan ketika akan turun dari kendaraan, uh?

“Ji Won-ie, kita sudah sampai!”

Anak perempuan bermarga Kim itu segera melompat keluar, sambil kembali sibuk menata rambut. Dan, walau masih dalam gandengan sang ayah, Ji Won juga sempat mengecek gaun merah mudanya. Siapa tahu susu coklat yang diminumnya bersama Won Shik menimbulkan cipratan noda, tanpa ia sadari sebelumnya.

Oke, semuanya sempurna!

Dengan telapak tangan sebagai penghalang terik, Ji Won mencoba mengeja tulisan yang tertera di spanduk.

Lee Jae Hwan’s Drawing Lesson.

Belum sempat menerka apa maknanya, tahu-tahu Ji Won telah berada di depan meja pendaftaran. Dilihatnya sang ayah menyodorkan sejumlah uang dan menulis sesuatu, atas instruksi si penunggu meja.

Sebentar, di mana “Ken”?

Tuan Kim hanya mengantarnya sampai ke depan pintu. Ji Won pun pamit dan sontak memasuki ruangan yang telah diisi oleh segelintir anak sebayanya―murid sekolah dasar. Oh, sungguh kelas yang cantik. Tak cukup terpukau dengan sepuluh set meja-kursi berbagai warna, Ji Won melipir ke Wall of Fame yang terletak di dinding belakang, tempat di mana karya-karya menakjubkan terpajang.

“Hei, Pak Guru Lee datang!”

Seiring pekikan nyaring itu, Ji Won kontan berhambur ke meja terdepan dan duduk serapi mungkin. Ini tatakrama wajib yang harus dipatuhi selama sekolah, jadi wajar saja kalau Ji Won melakukannya tanpa disuruh.

“Hi, kiddies! Selamat sore!”

Sesaat, Ji Won ternganga melihat sebentuk tubuh jangkung menyapa mereka. Jadi, yang mereka sebut “Pak Guru Lee” itu adalah “Ken”?

“Oh, sepertinya ada teman baru hari ini.” Pemuda berhidung pinokio itu melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Ji Won. “Cutie, bisa perkenalkan dirimu di depan kelas? Kami ingin tahu namamu!”

Ck, bisakah kita lewati ini tanpa maju plus diperhatikan banyak orang?

“Oh, sepertinya dia agak pemalu!” Pak Guru Lee pun sepertinya memahami. “Cutie, paling tidak sebutkan namamu!”

Dengan segenap keberanian, anak perempuan itu bangkit, “Aku… Namaku Ji Won. Kim Ji Won. Salam kenal…”

“Salam kenal juga, Ji Won-ie! Namaku Han Sang Hyuk, panggil saja Hyuk!” Si pemilik teriakan yang duduk di sebelah Ji Won merekahkan telapak tangannya. Namun, ajakan bersalaman itu hanya Ji Won balas dengan senyuman.

Pak Guru Lee kembali memamerkan deretan gigi rapinya, “Oke, Kim Ji Won, selamat bergabung di kelas menggambar kami!”

.

.

.

Jam enam sore. Anak-anak lain telah membereskan peralatan menggambar dan berhambur ke orangtua masing-masing yang telah menunggu di luar ruangan. Namun, tidak dengan Ji Won.

“Hei, Cutie, kenapa belum pulang?”

Sembari memeluk boneka sejoli favoritnya, Ji Won mendekat pada Pak Guru Lee, sang pencetus tanya, “AppaAppa tidak ada…”

Bibir tebal si pemuda terangkat. Oh, jadi ajeossi yang pamit dengan alasan meeting mendadak adalah ayah Kim Ji Won?

“Aku… Tidak tahu jalan pulang…”

Melihat genangan air pada netra gadis kecil itu, Pak Guru Lee batal beranjak, “Cutie, sambil menunggu Appa, bagaimana kalau kita minum jus? Pak Guru akan membelikannya untukmu!”

Mulut Ji Won terbuka untuk ke sekian kalinya. Minum jus? Bersama “Ken”? Ah! Ini benar-benar hari keberuntungan Ji Won!

“Jeruk atau apel?” tanya pemuda itu, saat tiba di depan mesin penjual minuman kaleng. Ji Won hampir saja memilih jeruk ketika teringat satu hal.

Bukankah orang dewasa tidak minum jus?

“Pak Guru, aku ingin kopi saja.”

Si pemilik nama tentu saja terkejut dengan permintaan polos Ji Won. Hei, anak kecil normalnya lebih menyukai rasa manis buah ketimbang pahitnya kopi, bukan? Walau begitu, tetap diserahkannya sekaleng kopi susu yang sudah dibuka pada Ji Won. Anak perempuan itu menerimanya dengan sukacita, dan… Huk!

Ji Won berusaha menelan cairan itu dengan susah payah. Minuman macam apa ini? Manis, tapi getir dan… Ugh! Ji Won tidak sanggup menghabiskannya!

“Mau tukar dengan jus jeruk?” Pak Guru Lee mampu menangkap ekspresi ketidaksukaan Ji Won. Kini, demi menghilangkan rasa aneh di lidahnya, Ji Won pun membuang gengsinya dan lekas meneguk jus itu banyak-banyak.

Fyuuuh… Ji Won berjanji takkan menyentuh kopi lagi seumur hidup!

Cutie, langit sudah mulai gelap. Bagaimana kalau Pak Guru mengantarmu pulang saja?”

Ji Won membelalak. Oh, masihkah mimpi indah ini berlanjut?

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang, Pak Guru Lee tidak henti-hentinya mengajak Ji Won bicara. Mulai dari didapatnya alamat Ji Won dari formulir pendaftaran yang ditulis sang ayah, Hyuk yang ternyata murid ternakal di sekolah, namun paling pintar menggambar, dan berbagai topik yang seakan tak ada habisnya.

Mereka harus melewati kawasan belanja untuk sampai di kompleks perumahan Ji Won. Toko sepatu, makanan dan pakaian, semuanya berbaris memadati. Oh, jangan lupakan toko mainan milik Jung-ajeossi! Ji Won dan Won Shik adalah pelanggan setia di toko itu!

Tanpa sadar, Ji Won terhenyak. Dua iris hitamnya terfokus pada seperangkat gaun pesta Barbie yang terpampang di etalase. Warnanya merah muda, mirip dengan yang Ji Won kenakan saat ini. Indah…

“Kau mau membelikan baju baru untuk bonekamu, Cutie?”

Saking kagetnya, gadis kecil itu nyaris berteriak. Pak Guru Lee lantas terkekeh, membuat Ji Won mendesah, “Umm, sebenarnya…”

Orang dewasa tidak bermain boneka ‘kan?

“Tidak! Aku tidak menginginkannya!” Ji Won bergegas melesakkan Barbie dan Ken dalam ransel. “Cuma anak kecil yang menyukai boneka!”

Pemuda berhidung mancung di hadapannya pun mengernyit, “Cutie, bukankah kau memang―”

“Aku bukan anak kecil!”

Dahi Pak Guru Lee semakin berlekuk tajam ketika Ji Won terduduk di trotoar dan mulai menangis. Kenapa… Kenapa semua orang tidak mengerti perasaan Ji Won?

“Hei…” Pemuda itu berjongkok dan mendesis, seraya mengelus puncak kepala Ji Won. “Kenapa harus malu menjadi anak kecil?”

Diserang oleh tatapan teduh milik Pak Guru Lee, Ji Won terpaku. Tidak mampu menyahut ketika si pemuda berujar lagi, “Orang-orang seusiaku justru ingin kembali pada usia sebayamu. Di mana kami bisa leluasa bermain, tanpa memikirkan hari esok. Kenapa kau malah ingin cepat-cepat dewasa?”

“Aku…”

“Nikmati masa kecilmu. Jangan memaksakan diri untuk menjadi dewasa dan tumbuhlah dengan alami.” Pak Guru Lee tersenyum, lalu membantu Ji Won berdiri. “Oh ya, rumahmu sudah dekat ‘kan? Sebelum mengantarmu pulang, tadi Pak Guru sudah menelepon orangtuamu. Mereka bilang, Won Shik yang akan menjemputmu di perumahan nanti.”

Bersamaan dengan usapan Pak Guru Lee pada pundaknya, Ji Won baru tersadar akan tujuannya masuk ke kelas menggambar hari ini. Benda yang selama seminggu ini dibungkusnya dalam kotak berpita merah…

“Oh! Apakah itu hadiah untukku, Cutie?”

Masih sambil menarik ritsleting ranselnya, Ji Won menggeleng, “Ini… Saputangan milik Pak Guru. Maaf, baru dikembalikan sekarang.”

“Aissh, tidak usah sungkan!” Pemuda itu tertawa renyah dan mengambil kotak itu dari genggaman Ji Won. “Terima kasih!”

Baru saja Ji Won hendak menjawab, suara lantang Won Shik menginterupsi segalanya, “JI WON-IE! APA ITU KAU? AYO, PULANG BERSAMA OPPA!!!”

Cutie, sampai di sini saja, ya? Kelihatannya oppa-mu akan memakanku jika berlama-lama di sini,” pamit Pak Guru Lee seraya terkekeh kecil. Usapannya kembali jatuh pada puncak kepala Ji Won. “Sampai jumpa minggu depan!”

Tidak… Ji Won belum ingin hari ini berakhir begitu saja.

“PAK GURU!” Entah lantaran tertular Won Shik atau malah tidak sama sekali, Ji Won nekat memekik. “KALAU AKU SECANTIK BARBIE, APA KAU MAU MENIKAH DENGANKU?”

Dari kejauhan, Ji Won bisa menyaksikan ibu jari Pak Guru Lee teracung, “DATANGLAH PADAKU KALAU KAU SUDAH BESAR NANTI, CUTIE!”

Sudut bibir Ji Won tertarik lebar. Mungkin tidak sekarang, tapi Barbie dan Ken sudah ditakdirkan untuk bersatu. Dia sudah membuktikannya barusan, uh?

.

.

.

fin.

a/n: Sekuel dari “KEN!” tertanggal 30 Desember 2015,  ck!

  1. S. Cute visual by ilovekeisha.com

2 thoughts on “[Vignette] Barbie!”

  1. Untuk sebagian orang mungkin fanfiksi ini dirasa kurang sesuai tapi menurutku ini unik karena kenyataanya memang ada kok anak-anak yang seperti ini dan yaampun, Jiwonie hahaha jinjja neomu kyeowoooo ><

    Lee seonsaengnim… Hm… kalau ada guru seganteng Ken (VIXX) juga kayaknya aku bakal berani(?) kayak Jiwon nih hahaha

    Aku suka banget bagaimana cara scriptwriter menuangkan apa yang ada di benaknya ke dalam tulisan. Jujur aja aku masih belum selevel ini

    Keep up the good work and keep writing!❤

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s