One of These Nights #2 – Hypocritical Liar

One of These Nights #2

One of These Nights: #2 – Hypocritical Liar

 

A story written by salsberrymous

Starring by Red Velvet’s Seulgi and OC Genres Thriller, Family Duration Oneshot Rating Teen, 17 (for slight cursing words and bloody scenes) Disclaimer I don’t own anything besides the story and cover.

 

Previous: #1 (Irene)

Enjoy reading.

*

I stopped that day with the age old story

I’m grieving our relationship longer than the time we loved each other

Far away past the galaxy

Im crossing our white memories

 

Its okay if I see you in my dreams

 

So lets meet again

So lets meet again

.

.

.

.

.

Sinar matahari tak pernah kusukai. Kalaupun hanya secercah cahaya membias melalui jendela berkusen kayu penuh debu itu, aku tetap tak suka. Aku lebih suka angin sepoi musim gugur yang sejuk, atau tumpukan salju putih yang dingin. Daripada harus berkutat selamanya di bawah kubungan cahaya matahari. Menyebalkannya, musim dingin tahun ini hampir habis, dan sinar matahari perlahan kembali muncul.

Pintu berdecit pelan, diiringi dengan derapan langkah kaki menggema. Pandanganku terarah, terlihat sesosok pemudi berkulit seputih susu dengan senyuman tipis mengembang di bibir merahnya.

“Seulgi, kau tidak ingin pergi ke luar?”

Sontak aku hanya menggeleng tak semangat. Tubuhku mendadak bergetar tanpa dikomando. Mengapa, aku bertanya-tanya. Namun tak pernah pula kusuarakan isi pikiranku.

Helaan napas terdengar dari bibir Sora. Seolah hendak mengusir beban di dalam dirinya, tetapi nampaknya beban itu tak seringan yang ia kira.

“Kau tak ingin makan?” tanyanya lagi, pantang menyerah. Aku masih terdiam di tumpuanku. Duduk di kasur putih ini sembari memandang lurus pada jendela. Sinar matahari pagi menyilaukan pandanganku.

“Kau benci sinar matahari, Kang Seulgi,” kini ia berdesis. Untungnya kedua telingaku masih dapat berfungsi dengan baik hanya untuk mendengar suara lembutnya itu.

Kali ini tatapanku berpindah kepadanya, memandang jauh ke dalam manik kecokelatannya. Ia cantik, semua orang tahu itu. Aku dan dia hanya bagaikan putri dan babunya. Berbeda jauh. Atau mungkin kau bisa mengibaratkan kami dengan air dan api. Aku api, dan dia airnya.

Semakin lama kupandangi, netranya semakin berair seakan hendak terisak. Setelah tersadar, buru-buru aku alihkan pandanganku. Kembali pada jendela berkusen kayu penuh debu.

“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku?” ia masih saja bertanya, seakan tak haus. Suaranya sedikit bergetar dari biasanya. Aku tak hendak mengusirnya, tapi sejujurnya aku lebih suka jika dia pergi dari sini.

Tubuhku perlahan terbaring kembali di kasur, berkumul di bawah kubungan wol putih berbentuk persegi panjang. Memunggunginya yang mungkin masih terpaku di tempatnya detik itu. Menutup kedua mataku, sebagai tanda penolakan atas kehadirannya.

Kemudian pintu kamarku kembali berdecit, sebelum terdengar suara lebam yang cukup keras. Otakku mengumpat, lubuk hatiku tersirat rasa kebencian.

[]

Hari ini kelabu. Hatiku mendung. Pikiranku kalut. Awan bergumul membentuk lapisan-lapisan tebal, mungkin saja hujan akan turun deras sedetik berikutnya.

Persetan dengan semua itu. Yang dapat menjadi panutan dari atensiku hanyalah sosok wanita berumur kepala tiga yang meronta di ujung ruangan sempit penuh usang ini.

Tungkaiku melangkah mondar-mandir, mengayunkan benda panjang yang pandai dibuat dari logam dingin. Lalu kedua mata itu mengekor dari setiap gerakan yang kuperbuat, mewanti-wanti jikalau aku akan berbuat sesuatu yang keji.

Dia tak berdaya. Hanya mampu memandangku lemas, dan diam di tumpuannya. Pasalnya, tubuhnya sudah terikat dengan tambang dan mulutnya sudah tertempel semacam selotip hitam tebal.

Lantas aku mengukir senyum. Memandangi satu-satunya objek yang dapat terpantul pada kedua retinaku. Kemudian, aku menderap pelan hingga menimbulkan gemaan di seluruh penjuru ruangan ini.

Gemanya membuat orang itu bergidik. Ngeri, mungkin begitu pikirnya. Tungkaiku tertekuk, berjongkok di hadapannya. Sekali lagi aku tatap wajahnya yang bisa terbilang cukup pucat. Jemariku menyentuh dagunya, lalu kuperhatikan lamat-lamat. Ia bergetar hebat, pun keringat dingin yang senantiasa meluncur dari pelipis hingga ke pipinya. Keringatnya terseka oleh jemariku, hal itu jelas membuatnya semakin bergidik. Ketakutan tersirat dari balik sorot maniknya. Dan kau bisa beri tahu aku jika aku peduli.

“Sejak dulu aku selalu berpikir. Sebenarnya apa kesalahan yang telah kuperbuat? Rupanya aku tidak tahu,” aku memulai perbincangan, yang lebih terdengar seperti monolog.

“Kau selalu membenciku, tak memiliki secercah rasa sayang padaku. Kenapa? Aku selalu bertanya.”

Desisan tajamku terdengar pelan, namun kian menggema terpantul oleh atap yang terbuat dari logam ringan. Detik ini, wanita itu sudah membeku. Terpaku pada manikku.

“Sekarang aku mengerti. Bukankah kau tak pernah menyukaiku

Seulas senyum miring tersungging di bibirku, “ya, ‘kan, Bu?”

Wanita itu sontak meronta hebat. Aku bangkit, meluruskan tungkaiku dan kembali berjalan kesana-kemari. Logam besi panjang yang sedari tadi kugenggam sudah kuseret pada lantai berpasir yang kupijakki.

“Setelah kau membunuh Ayah, tidakkah kau merasa berdosa?”

Pertanyaan itu terlontar dari bibirku. Selang beberapa sekon, aku menghentikan derapan beratku. Kutelengkan kepalaku, menelisik pada manik kelam Ibu tiriku.

Bisa dibilang Ibu, atau bukan Ibu sama sekali.

Aku membencinya.

“Kau membunuh ayahku! Aku tahu selama ini kau hanya mengincar hartanya, kau tidak pernah sama sekali mencintainya atau menyayangiku,” kali ini aku berseru. Diselangi dengan kilat amarah di kedua netraku.

“Apa yang kau inginkan? Sebanyak apa uang yang kau mau? Hingga kau berhasil membunuh Ayah, sebanyak apa?”

Aku terduduk lemas, kedua lutut menghantam lantai kotor ini. Diiringi deraian air mata, pikiranku mulai kalut rak tentu.

“Sejak awal aku memang tidak pernah setuju Ayah menikah denganmu! Kau memang wanita sialan.”

Dadaku naik turun, menahan gemparan amarah tertahan. Kemudian kutatap sengit pada wanita itu. Terdiam beberapa saat, aku tersenyum sarkastik.

Setelah bangkit dari dudukku, aku menyeret kapak besi yang masih setia tergamit di tangan kananku. Mengetuk benda berlogam itu beberapa kali ke lantai, sebelum mengangkatnya dengan tanganku yang bergetar.

“Tenanglah, Bu. Aku juga membencimu.”

Satu hantaman keras sekonyong-konyongnya membuat tubuh wanita itu membiru hingga mengalir cairan merah kental dari nadi di lehernya. Dapat kutangkap sosoknya yang menggliat, berusaha berteriak namun tertahan.

Cengiran terdengar dari bibirku, mungkin pula dapat didengar olehnya. Ya, aku bahagia. Namun, kodrat manusia yang tidak pernah puas memang otomatis menjalar dalam nadiku.

[]

Sudah sejumlah tahun aku terduduk di kasur ini. Sudah sejumlah tahun pula ia mendorong pintu kayu yang agaknya berdebu itu hanya untuk sekedar menengokku. Setiap pagi, selama kurun waktu kurang lebih empat tahun ini, dia tak pernah bosan menyapaku sebelum ia beraktifitas.

Hari ini hari Minggu, setidaknya ia sedikit lebih bebas dari biasanya. Wanita berkarir semacamnya memang sangat sibuk. Melelahkan juga kalau dipikir, terlebih ketika ia harus menjumpai banyak kasus. Seharusnya ia menemui pemandangan lain ketika sampai di rumah, bukannya aku yang hanya dapat membuatnya menghembus paksa napas dari relungnya.

Wanita berumur tiga tahun diatasku itu menderap masuk ke dalam kamarku. Hari ini aku tidak melihat senyuman cantiknya terukir. Aku sudah maklum, mungkin dia pun sudah lelah.

Tatap sendunya tertuju padaku. Aku membeku, hanya bisa terpana pada jendela yang debunya semakin tebal nol koma sekian senti dari hari-hari sebelumnya.

“Seulgi, ayo makan. Kau sudah lima hari tidak makan apa-apa,” ia menyahut. Yang mungkin hendak menyadarkanku dari lamunan kosongku, padahal sebenarnya aku tidak melamun.

Benar juga, aku saja tak pernah ingat kapan terakhir kali aku makan. Pun perutku yang sudah berkicau entah sejak kapan. Dan aku masih enggan untuk menuruti perkataan Sora, atau menyentuh setiap makanan yang sesekali ia bawa. Jikalau aku tidak salah, dua minggu lalu adalah kali terakhir aku melahap makanan. Aku pula agaknya sudah mati rasa dan kebas, tak dapat lagi merasakan lapar yang lambat laun bisa saja mematikan.

Dirinya kini sudah menempatkan dirinya persis di hadapanku, tepatnya di atas kasur yang masih setia kududuki. Memblokir jendela kaca yang secara gamblang tergambar jelas di retinaku, tadinya. Kini hanya terdapat bayangan nyata sosok insan berparas jelita pada netraku.

Lagi-lagi kudapati kedua netranya berair kala menatapku dalam diam. Sekarang aku yang menghembuskan napas berat.

Dibilang jengkel, aku akan senantiasa membalas ‘iya’. Dibilang lelah, aku pun akan menyahut ‘iya’. Setidaknya aku tidak akan munafik sepertinya, yang masih memasang topeng ramah padaku walau peluang hatinya membenciku bisa saja besar.

Semakin dalam manik kelamku bersirobok dengannya, tubuh Sora semakin berguncang hebat. Ia menggigit bibir bawahnya, kuprediksi ia sedang menahan segala getaran hebat yang melandanya. Namun, aku tak dapat membantu apapun.

“Kang Seulgi, kau kurus—”

“Berhenti bersikap baik padaku.”

Tuturan itu secara sadar tak sadar terlontar melalui bibir pucatku. Sesekon berlanjut, dan air mata sudah meluncur bebas di pipi mulusnya.

Netranya masih lirih terpaku padaku. Sepertinya pandangannya sudah sedikit kabur karena genangan air mata itu.

Mulutnya membuka, tergagap kemudian berbisik pelan samar tak terdengar, “Apa kau membenciku?”

Sontak aku terdiam. Masih tanpa kata, kupandangi ia yang masih terisak. Sedikit apatis, atau mungkin sepenuhnya. Kemudian terukir senyuman tipis di bibirku, mungkin saja nyaris tak terlihat. Desisan lantas keluar dari bibirku,

“Jujur saja, aku membencimu.”

[]

Kuangkat kembali kapakku yang sudah terciprat darah segar, sebelum mengarahkannya tepat ke puncak kepalanya.

Hendak saja kuhantamkan kembali kapak ini, namun sirine mobil polisi tertangkap oleh gendang telingaku.

Shit.”

Setelah kusempatkan diriku untuk mengumpat pelan, aku segera berlari menuju pintu belakang dari gubuk kecil ini, meninggalkan wanita yang sudah sekarat itu. Asumsiku mengatakan para polisi sialan itu akan menghentikan mobilnya di halaman depan. Maka, doakan aku beruntung.

Namun, dugaanku salah.

BRAK!

Persepsiku bertanya, apa memang setiap ekspektasi selalu berbanding terbalik dengan realita?

Baru saja dua langkah tercipta saat aku keluar dari gubuk ini, satu mobil hitam yang kuyakini adalah komplotan polisi itu melaju kencang. Melalui semak belukar, hingga dengan mulus menghantam tubuhku hingga terpental sejumlah meter dari sumberku berpijak sebelumnya.

Tubuhku tersungkur di atas gunungan guguran daun. Tubuhku kebas, bagai mati rasa. Sensorikku hanya dapat menangkap darah mengalir di pelipisku, juga kakiku yang tak dapat digerakkan. Benar saja, mobil itu menghantam pusat kedua tungkaiku.

Gelombang hujan beranjak deras tanpa hitungan menit. Nampak sebuah keberkatan bagi pepohonan yang tinggi menjulang, yang daunnya hampir kering kala menciumi tanah. Kuyakin kanvas langit detik ini hanya dapat diwarnai kelabu kepedihan. Namun, siapa yang peduli lagi? Aku kian memperdulikan diriku yang nyaris sekarat.

Sayup kedua netraku terbuka, memandang lurus pada sesuatu yang terpaku di hadapanku. Retinaku masih dapat bekerja dengan normal, terpantul bayangan jelas sosok gadis. Ia sibuk berseru sembari mengguncangkan tubuhku. Tetapi bibirku hanya bisa melengkung, membentuk seulas senyum tipis.

Dia kakak tiriku, Kang Sora.

[]

Terbuai angan-angan, aku tak mengerjap. Pintu kayu yang hampir lapuk itu kembali terbuka untuk kesekian kalinya. Oleh pelaku yang sama, membuatku sontak menghela napas berat.

Sora tersenyum, lagi. Setelah beberapa hari tidak bertegur sapa, ternyata dia masih memerdulikanku. Dia tak acuh adalah harapanku. Ya, memang ekspektasiku jauh dari realita—dan memang selalu, omong-omong.

“Ada apa?” tanpa berkelit lagi, aku bertanya.

Sora semakin mengembangkan lengkungan bulan sabit di bibirnya. Hanya kutatap penuh tanda tanya pada sang lawan bicara.

Pemudi itu hanya diam seolah membisu, seolah aku sedang bertutur dengan tembok bata yang memantulkan kembali suaraku. Alih-alih, ia malah menggamit tanganku dan menarikku pelan.

Lelah, aku enggan bertanya lagi. Sora kini sudah mendorong dua tangkai besi yang sedari tadi tergenggam erat olehnya. Menghantarkanku keluar kamar usangku ini.

“Selamat ulang tahun, Kang Seulgi.”

Sora berujar, tersirat kegirangan dan kesenangan dari balik lima kata tersebut. Aku menelengkan kepalaku, menyelidiki air mukanya yang masih sumringah. Mencoba mencari celah kejanggalan dari ekspresi wanita itu. Setelah sejumlah sekon, pandanganku teralih pada kue cokelat berukuran sedang yang sedang berbaring pada piring di atas meja pualam hitam.

Kian lama diperhatikan, kian kutemukan anomali yang terdapat dari semua perlakuannya. Lamat-lamat aku memformasikan sebuah senyum miris, manik kelamku seakan menusuk tatkala bersirobok dengan kedua pandangan kasih palsunya.

“Ini aku?” tanyaku, sembari menunjuk pada manisan yang berbentuk seorang gadis yang bertumpu di puncak keik yang aku perkirakan lezat ini.

Sora refleks mengangguk penuh antusias, seraya mengerjapkan kedua mata bahagia, ia berseru, “Gadis itu kau! Lucu, bukan?”

Sekali lagi kupandangi manisan berbentuk gadis yang diklaimnya adalah aku. Lekat, seolah keik itu adalah tontonan yang menarik. Manisan berbentuk seorang gadis, dengan kedua kaki jenjang yang sedang berdiri tegap. Akhirnya, jemariku mencengkeram dua kepingan aluminium yang melindungi roda keabuan ini. Memutar haluan berbalik arah, menuju kembali ke markas usang milikku dengan hati yang terisak diselimuti beban.

[]

Kedua mataku perlahan terbuka. Aroma berbau antiseptik dan obat-obatan lantas membuat sensorik di hidungku bekerja kembali. Fokusku masih buyar, hanya lampu neon menerangi yang mengusik pandanganku. Setelah sesaat suara sahutan menggema tertuju gendang telingaku, aku mulai kembali ke alam sadarku.

“Kang Seulgi! Kau sudah bangun?”

Mengerjap berulang kali, pandangku terpaku pada sesosok pemudi berusia tiga tahun di atasku tengah menatapku lekat. Desperatis dan penuh kepedihan, kedua hal yang terpancar dari balik tatapan beratnya.

“Apa yang … terjadi?” berusaha bangkit sekuat tenaga, namun aku gagal.

Sora menitikkan cairan bening dari pelupuk mata indahnya. Sedangkan aku hanya mampu diam tanpa kata. Berusaha menguak satu jawaban dari sekian banyak pertanyaan di benakku yang ternyata nihil.

Pintu ruangan iniyang persepsiku mengatakan adalah ruang rawat inapku, diketuk dua kali. Selang beberapa detik, muncullah seorang lelaki berbalut jas putih.

“Selamat siang, Nona. Bagaimana keadaan Anda?” ia ramah, masih kutatap dengan netra sayuku.

“Sebenarnya apa yang terjadi padaku, Dok?” aku tak ingin banyak basa-basi atau berkelit lagi. Sudah muak jika harus menunggu tanpa ada secuil kepastian pun.

Dokter itu hanya menghembuskan napas panjang pula, seakan memaksa sejumlah liter karbondioksida mencuat dari balik bibirnya.

Sembari tersenyum, ia mulai berucap, “Kau kecelakaan, jika kau tak ingat. Kedua kakimu terluka parah. Yah, maka kami

Napas berat kembali dihembus oleh sang Dokter. Membuat nyaliku menciut, berbanding terbalik dengan jantungku yang berdebar tak karuan.

harus mengamputasi kedua kakimu.”

Apa katanya?

Mengamputasi apa?

Kedua kakiku?

Tersibak lah jahitan wol putih yang sedari tadi melindungi tubuhku. Tubuhku mendadak lemas, kedua mataku membulat sempurna hingga terasa air mata merebak dan bertumpahan, menghasilkan sebuah sungai kecil yang tak bermuara.

“Jadi … aku tidak akan punya kaki lagi?”

Mereka berdua termangu.

Aku semakin getir.

“Aku tidak bisa berjalan lagi?”

Masih hening.

“Jawab aku! Kalian bisa menjawabku, ‘kan?”

Aku mulai membentak lantang. Yang kemudian hanya dibalas anggukan lemah oleh Dokter itu. Spontan aku berteriak kencang, mulai liar di bawah rasa kepanikan dan kesakitan yang bergejolak. Berusaha menghilangkan kesesakan di dada ini, yang kusadari tidak dapat berbuah hasil. Malah, kedua insan itu sedang berusaha menenangkanku dengan segala cara.

Jika kau jadi aku, kau pula akan berpikir bahwa otakku sudah tidak bisa digunakan untuk kewarasan saat ini. Tidak, itu mustahil. Probabilitasnya hanya nol koma satu persen, jika memang memungkinkan.

Dan mulai saat itu, kewarasanku mungkin pula sudah direnggut. Nyawaku hampir terenggut. Bahkan, kedua kakiku sudah terenggut. Aku tahu betul siapa penyebabnya, siapa Si Biang Kerok-nya.

[]

Kedua bahu ini bergidik, bisa menjadi sebuah tanda dari segala macam pertanda atas belenggu kesengsaraan ini. Jari-jemariku masih sibuk membolak-balikkan serentetan kertas yang dilapisi plastik transparan.

Lembaran demi lembaran terpanut pada netraku. Dalam dan lekat, aku enggan meninggalkan satu momen dari segala momen yang lancar tercetak dalam album yang jarang tersentuh ini.

Lima tahun lalu, aku mulai menemukan keluarga baru. Ibu tiri dan kakak perempuan. Namun, aku tak pernah menyetujui tentang keberadaan mereka berdua di dalam istanaku dan Ayahku.

Persepsiku agaknya nyaris berubah tatkala kakak perempuanku mulai mendekatiku. Ia sangat ramah, baik, penyayang. Tak jarang ia mengajakku bermain bersama, hingga melewatkan sekon demi sekon bersama. Hal itu lantas meluluhkanku.

Setidaknya sebelum keadaannya berubah. Setelah semua kejadian berlalu, persepsi mengenai kakakku tak pernah seindah dahulu. Sarat kebencian mengundahkan hatiku, tak kunjung membongkah hatiku yang membeku entah sejak kapan.

Senja melewati batas, mengundang malam sengit nan dingin untuk kembali ke alam ini. Lampu berkedip beberapa kali, sudah terlihat keputus asaannya untuk bertahan hidup. Serupa putus asanya dengan seorang Kang Seulgi mengenai seluk-beluk hidupnya.

Detik selanjutnya tak lagi kubuang sia-sia hanya untuk memandangi kenangan putih yang terukir di balik album putih berdebu ini. Aku membaringkan tubuhku, bertumpu pada kasur empuk yang pegasnya hampir rusak pula. Aku tak pernah ambil pusing, aku sudah bersyukur tatkala mengingat kenyataan bahwa aku masih dapat bertahan hidup. Pun sebenarnya aku yakin aku tidak mensyukurinya seratus persen.

Barulah hitungan menit kedua mataku tertutup, suara decitan pintu samar terdengar. Delusiku sudah mulai beranjak ke alam bawah sadar, bertemu dengan Tuan Mimpi. Jadi, tak begitu kuperdulikan apa yang terjadi, siapa yang masuk ke kamarku, atau untuk apa dia masuk ke kamarku. Saraf-sarafku sudah terlanjur lelah, apalagi jika harus memaksakan untuk membuka kedua mata ini lagi.

“Kang Seulgi,” panggil seseorang, dengan suara seraknya. Aku yakin betul bahwa di rumah ini hanya tinggal aku dan Sora, dan anehnya, suara tersebut kurang familiar di telingaku.

Refleks lah aku membuka kedua mataku, mengerjap cepat berulang kali sebelum menemukan sosok wanita yang ternyata tak asing itu. Ada yang aneh, setelah sedetik kuperhatikan wajahnya. Mimiknya tak biasa, garis wajahnya melekukkan sebuah kesuraman dan kegelapan. Terlebih kala senyuman lebar tersimpul di bibirnya.

Aku sadar itu adalah sebuah senyuman sarkastik. Benar-benar merupakan hal yang tak biasa dilakukannya.

Diriku mendadak mergap-mergap. Berusaha memandangnya apatis, namun ia semakin mendekatiku. Jemariku saling bertautan satu sama lain, berusaha menanggung rasa getir dan cemas yang melanda hebat ini. Satu derapan lebih dekat, satu tingkat aku bertambah getir pula.

“Adikku, Kang Seulgi. Apa aku menganggu malammu?” tanyanya kemudian, yang diimbuhi gelengan pelan olehku.

Sekonyong-konyong saja aku lemah, terlebih kala ia sudah merangkak ke atas kasurku. Aku berusaha mundur sekuat tenaga, hendak melarikan diri pula. Namun, kemanakah aku harus berlari? Kaki pun tidak punya.

“K-kau kenapa?”

“Adikku, mau kuberi tahu fakta mengejutkan?”

Pandanganku penuh tanda tanya kali ini. Tetapi tak jua kusuarakan, alih-alih bibirku malah mengatup serapat mungkin. Sora kian mengembangkan senyumannya, menatapku lekat seolah ia adalah harimau dan aku adalah mangsanya yang siap diterkam olehnya kapan saja.

“Kau tahu …”

Sora menarik napas sedalam mungkin, kemudian menghelanya begitu saja. Tuturan yang terpotong itu semakin membuat jiwa penasaranku menggebu. Kemudian bibirnya terbuka, seperti hendak menyuarakan sesuatu.

“Sebenarnya, aku yang membunuh ayahmu.”

Apa katanya?

Membunuh siapa?

… Ayahku?

Tubuh ini membeku. Pandanganku hanya terpaku pada Sora yang masih tersenyum tanpa rasa berdosa sama sekali. Kupandangi hingga merasa muak dan jijik, rasanya pun aku tidak bisa marah lagi. Tanganku mengepal, hendak memukul namun ototku tak dapat digerakkan. Mataku memanas, hendak menangis namun tak kian merebak.

“Jangan kaget gitu, dong,” Sora menyengir kuda. Membuat hatiku terasa sudah hancur, hingga berkeping dan tidak dapat disatukan kembali.

“Kenapa? Berikan alasan mengapa kau membunuh Ayah?” lirihku setengah berbisik. Hendak berteriak namun aku sudah terlanjur lemah.

“Banyak alasannya.”

Aku memerhatikannya secara seksama, berusaha menguak penjelasan demi penjelasan yang akan terlontar dari kedua bibir wanita sialan ini.

“Pertama, karena aku tidak pernah menyukainya. Dan juga kau.”

Sora kini menunjukkan besi runcing yang jelas aku tahu adalah pisau belati. Sontak bibir pucatku bergetar hebat, pasokan keringat dinginku mulai berjatuhan tetes demi tetes.

Sora sesaat menyunggingkan senyumnya lagi, “Kedua, karena aku mengincar harta ayahmu. Aku merencanakan membunuh ibuku sendiri setelah berhasil membunuh ayahmu, namun aku keduluan olehmu. Terima kasih untuk itu.”

Jemarinya sudah menggenggam belati itu erat, mengarahnya perlahan ke arah leherku. Tepat di nadi yang selama dua puluh dua tahun ini menjalarkan darah di sekujur tubuhku. Jantungku seolah melompat, membuat efek degupan yang terasa amat kentara untukku.

“Kemudian, yang terakhir adalah—”

Maniknya bersirobok dengan manik kelamku. Pasrah, aku hanya bisa termangu dan menyaksikan aksi yang akan diperbuatnya. Belati itu sudah tergores di leherku, membuat sayatan panjang yang kemudian bertumpah-ruah lah darah segar. Ia memecah sunyi dengan berbisik tepat di telingaku, “Karena aku tak sebaik yang kau kira.”

Persetan dengan alasannya, masa pun sudah dibilang bodoh. Yang dapat kurasakan hanyalah sakit yang kian menyiksaku. Menahan rasa kesakitan ini, aku hanya bisa diam dan terpejam. Mengubur diri dalam kesekaratan, dan mungkin aku akan pergi sebentar lagi.

Sora mungkin memang tak puas, hingga berulang kali pisau tersebut ditancapkan pada leherku. Darah bercipratan, menodai seprai putih yang suci tak bersalah. Kejadian ini bisa jadi merupakan ganjaran. Aku yang sebodoh mungkin sudah membunuh ibu tiriku, kini merasakan bagaimana rasanya dibunuh. Atau mungkin hanya nasibku yang tak seterang sinar matahari.

Sudah kubilang, aku membenci sinar matahari. Dan aku tahu apa penyebabnya; karena faktanya aku tidak akan bisa seterang sinar matahari melainkan hanya dapat bertahan di bawah kegelapan.

Pandangku kini mulai samar. Benakku berkecamuk dengan hal yang tidak pasti, tetapi semuanya mendadak buyar. Hanyalah senyuman keji dari seorang Kang Sora yang mungkin akan menjadi pemandangan terakhir yang dapat kulihat di dunia ini. Sebelum aku meregang nyawa, yang sekarang berjuang antara hidup dan mati, di bawah tangan seorang pengkhianat.

“Maafkan aku, Kang Seulgi. Kenangan kita tidak ada apa-apanya, semua itu palsu. Aku memang pengkhianat, harusnya kau tahu itu,” Sora membelai pipiku yang mendingin, hingga kurasa memang sekarang sudah saatnya.

“Kita bisa bertemu dalam mimpi. Selamat tinggal.”

Kau ucapkan kata pengkhianat, lalu kuucapkan kata Kang Sora. Bertemu dalam mimpi pun sudah tak sudi. Silahkan ambil nyawaku, dan akan kubiarkan dia hidup lebih lama untuk kesakitan.

Karena pada dasarnya, aku dan dia tak berbeda jauh. Bisa dibilang pengkhianat, pembohong, psikopat. Silahkan saja. Namun, kau tak pernah bisa memungkiri jika aku mengklaim bahwa diriku lebih baik darinya.

Setidaknya, aku bisa hidup lebih tenang di duniaku yang baru kini. Bukan bersamanya dan segala belenggu kemunafikannya.

FIN.

11 thoughts on “One of These Nights #2 – Hypocritical Liar”

  1. Halo, author-ssi!

    Sebelumnya aku sudah baca yang versi Irene, pas muncul versi Seulgi jadi pingin baca.

    Di awal cerita, kirain Seulgi yang jahat banget. Walaupun aku udah mencium bau-bau ga enak dari Sora. Ternyata Sora lebih kejam. Sampai mau bunuh ibunya sendiri. Hih!

    Versi Seulgi ini lebih kejam dari Irene. Aku tunggu versi Wendy-nya! (p.s. Fans Wendy nih!)

    Suka

  2. Baca FF ini tengah malem tadi dan… wah, keren 😭❤
    Aku suka cara author mendeskripsikan suasana. Bener2 kerasa “dark” dan psycho nya wkwkwk. Di bagian akhir sukses bikin aku merinding. Good job author-nim ^^

    Suka

  3. Author-nim!!! Seriusan kau berhasil memporak porandakan perasaanku, mau nangis rasanya.
    Ini ff dark yg indah menurutku, indah bagaimana caramu menyampaikannya. Alurnya ternyata ini maju mundur, sempat bingung di pergantian scene. Duh itu pas bagian Seulgi mengayunkan kapak rasanya jantungku mau melompat. Semacam jadi kepikiran, Ya Tuhan gini ini ya pikiran orang gila, kok ga ada rasa bersalah-bersalahnya.
    Sebenarnya aku udah mulai ngrasa Sora ga sayang sama Seulgi dari kamar Seulgi berada, mereka kan kaya, masa adik tiri yang katanya di sayang diberi kamar yang nggak pernah dibersihin (kelihatan dari debu yg dideskripsikan Seulgi), tempat tidur reyot sama pintu yg keknya aus gitu.
    Great job author. Keren.
    Maaf kalau komennya kepanjangan.

    btw, ada satu bagian yg mengganggu, ‘pandai dibuat’ barangkali harusnya ‘pandai buat’?

    Suka

  4. Waw… Ini pertama kalinya aq baca ff bergenre thriller dan aq langsung jatuh cinta.
    Author daebak, bahasa mu menceritakannya seolah aq masuk di dalam nya. Keren ,, sangat.

    Aq reader baru di blog ini, salam kenal Author.
    ijin ngubek2 ya.
    Terimakasih^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s