Hold Me Tight [Part 2 – Touch My Feeling]

Hold me tight

Title: Hold Me Tight (Part 2 – Touch My Feeling)

Scripwriter: NamchagiLu

Cast: Kim Seok Jin (Jin BTS), Yoon Mina (OC), Park Jimin (Jimin BTS)

Support Cast: Jeon Jeongguk (Jungkook BTS), Min Yoongi (Suga BTS)

Genre: Romance, conflict, Hurt, Sad, School life, Family life

Duration: Chaptered

Rating: NC 17

Disclaimer + warning  : story is Mine, terinspirasi dari semua MV BTS dan lagu BTS –Hold Me tight. ( kekerasan, dan agak mengacu ke tindakan asusila. DIBAWAH 17 TH TIDAK DI IJINKAN)

Song background recomended : BTS – Hold Me Tight, Exo – My Answer

Previous: 1

Summary: Setelah tahu Jin dekat dengan Mina, Jimin yang memang berambisi untuk menghancurkan kehidupan Jin pun mulai mengganggu Mina. Dia melakukan apa saja untuk membuat wanita itu merasa risih berada di sekitar Jin, tapi tanpa dia sadari hal itu membuat ikatan kasih sayang mereka semakin erat. Suatu hari Mina tanpa sadar menemukan sesuatu yang membuat Jin marah, dan karena itu dia menjadi lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jin. Lalu bagaimana dengan Jimin?

I may look strong Even laughing, but actually i am so alone, I always look like no worries and speak a lot, The first time, i felt so attracted by you ,Walking around can’t say a word” (EXO – My Answer)

“kau ini siapa? Mengapa aku selalu ingin bersamamu?” – Kim Seokjin

 

“ku bilang jangan menangis atau..” kata – kata Jimin terpotong saat seseorang datang menarik bahunya sampai terjatuh di bawah tempat tidur. Dia lalu memukuli wajah Jimin sampai mengeluarkan darah. Jimin tak tinggal diam, dia menendang perutnya lalu kabur.

Jin bangkit sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit, dia langsung melihat keadaan Mina yang mengenaskan di atas tempat tidur dengan pelipis berdarah dan bekas tamparan memerah di pipinya.

“Mina –ya.. Mina…” Jin mengguncangkan tubuh Mina tapi tak ada respon, Mina pingsan karena sakit akibat siksaan Jimin.

Suga dan Jungkook masuk kedalam kamar, mereka melihat Mina yang pingsan di pangkuan Jin. Jungkook mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter tapi di cegah oleh Suga.

“jangan.. mereka bisa tahu kita ada dimana” larang Suga.

“tapi Mina..”

“dia akan baik – baik saja, ambilkan aku air panas dan handuk kecil, Palli” ujar Jin, Jungkook segera melesat keluar dari kamar.

Suga mencari – cari sesuatu yang hangat di sekitar meja rias Mina, dia menemukan sebuah minyak angin roll dan memberikannya kepada Jin. Minyak angin itu di oleskan di jari telunjuknya lalu jarinya di dekatkan ke arah hidung Mina. Dahi Mina mengernyit merasakan wangi Mint di hidungnya. Perlahan dia membuka mata dan wajah Jin yang terlihat pertama kali.

“kau baik – baik saja? apa yang sudah Park Jimin lakukan padamu?” tanya Jin, Mina berusaha untuk duduk dan merasakan pusing di kepalanya.

Jungkook masuk kedalam kamar dengan air panas dan handuk, dia juga menemukan kotak P3K di dekat ruang tamu dan membawanya.

Oppa..” kata Mina lemah.

“ada yang sakit? Katakan dimana?” Jin bertanya dengan sangat cepat. Dia sangat khawatir dengan keadaan Mina yang terluka dan hampir saja di lecehkan oleh si brengsek Park Jimin.

Jin mengompres pelipis dan pipi Mina yang merah, setelah agak membaik Jin langsung menempelkan plester di luka pelipisnya. Lalu membiarkan Mina untuk menyandarkan tubuh di tumpukan bantal, kejadian tadi masih membuatnya shock. Suga masuk dengan semangkuk bubur dan air putih lalu memberikannya kepada Jin.

Bubur dengan toping wortel itu di sendokkan kedalam mulut Mina oleh Jin, Mina mengunyah dengan perlahan sambil memandangi wajah Jin yang serius menyendokan bubur di mangkuk putih. Suga dan Jungkook duduk di sekitar Mina.

Oppa.. maafkan aku” ungkap Mina.

“untuk apa?” tanya Jin.

“aku merepotkanmu” jawab Mina.

“tidak apa, aku tidak merasa di repotkan olehmu” katanya.

“tapi kenapa Park Jimin tahu rumahmu?” tanya Suga, dia sedikit iri melihat Jin yang menyuapi Mina. dia sendiri ingin memiliki seorang pacar.

“tadi saat aku berbelanja, kami bertemu di jalan” jawab Mina.

“lalu kenapa dia sampai memukulimu?” tanya Jungkook.

“aku melakukan hal buruk padanya, sepertinya dia marah padaku” jawab Mina.

Jin menyimpan mangkuk buburnya di atas meja lalu menyuruh Mina untuk beristirahat. Dia mengajak kedua temannya untuk menunggu di luar dan membiarkan Mina tidur agar menghilangkan shock dan rasa sakitnya.

Di luar mereka duduk di sebuah Sofa panjang yang dekat dengan telpon. Jin merasa bersalah lagi karena Mina yang menerima siksaan dari Jimin.

“dia terluka karena dekat denganku” ujar Jin.

“itulah Park Jimin dia akan melakukan apapun untuk membuatmu menderita” kata Suga.

“aku harus membalasnya”

“lalu bagaimana dengan rencanamu Hyung, bukankah kau ingin menjadikannya sebagai alat untuk mendapat permohonan maaf dari Yoon Jae Hoon?”

“aku pasti akan melakukannya, itulah sebabnya aku berpura – pura memperkosanya dan mengancam akan menyebarkan foto. Padahal yang aku punya hanya foto ini.” Jin membuka ponselnya, screen lock yang di pakai di smartphone milik Jin adalah foto Mina yang sedang tersenyum dengan manis.

“jadi kau tidak pernah melakukan apapun pada Mina?” tanya Suga, dia bingung dengan penjelasan yang di berikan oleh Jin pada mereka berdua.

“hampir, hanya saja aku tak bisa.. entah mengapa secara tidak sadar dia seperti melarangku melakukannya walau sebenarnya dia membalas semua perlakuanku” jawab Jin.

“dia masih Virgin?” tanya Jungkook, Jin mengangguk pasti.

“lalu darah itu?” tanya Jungkook lagi, Jin tersenyum sambil menunjuk bekas luka yang mengering di telapak tangannya. Selama ini Jin memilih untuk berbohong karena tak tahu harus apa untuk bisa membuat Mina meminta pengakuan atas kebohongan ayahnya di pengadilan dua tahun yang lalu.

Hari beranjak malam, Mina yang sedang tertidur merasa tidak nyaman. Ingatan akan kejadian tadi siang masuk kedalam mimpinya. Dalam mimpinya dia berada dalam sebuah penjara yang penuh dengan lumpur, kemudian Jimin datang dan memukulnya bertubi – tubi menggunakan kayu sampai badannya berdarah. Mina mencoba lari tapi kakinya mendadak tak bisa di gerakan, akhirnya Mina berteriak minta tolong tapi yang keluar hanya suara kecil.

“mina – ya.. ireona.. ireona..

Mina membuka matanya begitu mendengar suara Jin yang menyuruhnya untuk bangun. Semua anggota badannya basah oleh keringat dingin yang mengucur, rambutnya berantakan karena kepalanya terus berguling – guling di atas bantal, bahkan mulutnya terasa sangat kering.

Jin membelai rambut Mina yang terurai panjang, dan tanpa di duga Mina malah menangis. Dia masih ketakutan dengan kejadian tadi siang, kejadian itu membuatnya Trauma. Jin menarik lengan Mina dan memeluknya dengan erat, dia membiarkan air matanya keluar semua agar dia tak bisa menangis lagi.

“menangislah tapi kau harus berjanji setelah ini kau tidak akan menangis lagi, eoh!” ujar Jin, Mina memeluknya dengan erat. Dia melepaskan semua ketakutannya dan mencoba merasakan kasih sayang yang di berikan secara tidak langsung oleh Jin.

Oppa, aku takut.. aku takut Park Jimin..” kata Mina di sela – sela tangisannya.

“tak usah takut, kau memiliki aku. apa pun yang terjadi aku akan selalu menjagamu karena aku adalah Oppa-mu sekarang. Tak ada yang bisa melukai atau menyakitimu lagi.” Jin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah sembab Mina “kkwak Jabwayo (genggam erat aku)..”

Mendengar kata – kata yang keluar dari mulut Jin membuat Mina menangis lagi, kali ini dia bukan menangis karena takut tapi dia menangis karena merasa sangat senang. Dia sudah bisa merasakan kasih sayang yang ada pada Jin, kasih sayang yang selama ini selalu di harapkan keberadaannya.

Dia menghapus air mata yang membanjiri pipinya, kemudian mendekatkan diri kearah Jin, dia memegang kedua pipi Jin memandang kearah matanya lama lalu beralih ke bibir Jin yang sedikit terbuka. Dia menarik wajah Jin dan menciumnya.

Jin merasakan sesuatu yang tak biasa dalam hatinya, getaran dan hentakan sangat kuat terasa bahkan kali ini dia merasa seperti terserang listrik ribuan Volt. Dia memperdalam Ciumannya, kali ini bukan Mina lagi yang memimpin melainkan Jin yang mengambil alih. Dia memeluk dengan erat Mina untuk semakin menempel dengan tubuhnya, menggigit lembut bibir bawah dan atas Mina, memasukan lidahnya untuk menari bersama dalam mulut gadis itu.

Kaos yang di pakai oleh Mina di naikan hingga dada, tangan Jin mengelus punggung lalu naik menuju pakaian dalamnya. Dia melepaskan kaitan bra yang ada di punggung gadis itu, Jin leluasa karena Mina seperti sudah pasrah menerima semuanya. Kaos yang di pakai Mina sudah terlepas dari tubuhnya, kini hanya tersisa pakaian dalam hitam yang tinggal di cabut. Tapi kemudian Jin teringat sesuatu, dia teringat erangan kesakitan Mina saat pertama kali dia menjamah tubuhnya.

Jin melepaskan ciumannya secara tiba – tiba, dan entah mengapa Mina merasa sedikit kecewa. Jin kembali memasangkan kaitan yang dia lepas dan memakaikan Mina kaos yang sempat menghuni lantai kamar Mina lalu membelai rambutnya.

Mianhae, aku tidak seharusnya melakukan itu” ungkap Jin.

ne..”

“tidurlah, aku akan menjagamu disini”

Jin membenarkan posisi bantal di atas ranjang, dia membaringkan badan lalu menarik Mina untuk tidur dalam pelukannya.

********

Matahari masuk dari sela – sela tirai jendela yang ada di atas tempat tidur Mina. sedikit demi sedikit Mina membuka matanya dan hal pertama yang di lihat adalah dada bidang berbalut kulit putih. Mina memandang wajah Jin yang masih tertidur di sampingnya, dia merasakan tangan Jin yang memeluknya erat sepanjang dia tidur. Tak ada mimpi buruk lagi selama Jin ada di sampingnya.

Jin mengernyitkan dahi lalu membuka matanya perlahan, dia melihat wajah Mina yang tersenyum di dalam dekapannya. Senang rasanya melihat raut wajah bahagia pada gadis yang semalam menghambiskan waktu untuk menangis.

“berangkat sekolah?” tanya Jin.

ne, Oppa..” jawab Mina.

Mina bangun dari tidurnya dan pergi menuju kamar mandi tapi tangannya di tarik oleh Jin. Jin menempelkan bibirnya di bibir Mina, melumatnya sebentar lalu melepaskannya. Melihat ekspresi terkejut di wajah Mina membuatnya tertawa.

“katanya Morning Kiss membuat kita semangat” jelas Jin. Pipi Mina merona, tanpa banyak bicara dia bangun dan keluar kamar.

Jin keluar dari kamar, dia melihat Suga dan Jungkook masih tertidur di atas karpet dengan tivi yang menyala. Dia mengguncang – guncang tubuh kedua temannya agar mereka berdua bangun. Suga membuka mata lalu menguap sementara Jungkook malah berguling dan kembali tidur.

“tolong bawakan seragam sekolahku, kita berangkat dari sini saja” pinta Jin, Suga masih menguap mengangguk sambil menggaruk kepalanya dan pergi keluar rumah. Jin mengguncang tubuh Jungkook yang tidur membelakanginya.

Yak, Ireona.. kau takkan berangkat sekolah, eoh?”

“mmhh..” Jungkook malah berguling lagi untuk menghindari Jin.

Mina datang sambil membawa handuk dan sikat gigi baru. Dia melihat apa yang sedang di lakukan oleh Jin lalu berjongkok di sebelahnya.

Oppa, waegeurae?” tanya Mina.

“dia tak mau bangun” jawab Jin.

“biar aku yang membangunkannya, Oppa mandi dulu, sabunnya ada di dekat bathup” kata Mina sambil menyerahkan handuk dan sikat gigi.

“baiklah, bila dia tak mau bangun juga siram saja dengan air dingin” kata Jin, Mina terkikik.

Eoh, Arraseo”

 

Setelah Jin pergi, Mina segera berjongkok di sebelah Jungkook yang masih dalam alam mimpi. Terdengar dengkuran lembut keluar dari bibirnya. Mina mengguncang – guncang lembut tubuh Jungkook.

“Jungkook ssi.. ireona”

Jungkook tak menggubris, Mina tak kehabisan akal. Dia memukul – mukul lembut pipi Jungkook sambil menyuruhnya untuk bangun. Sedikit demi sedikit Jungkook merasa terganggu lalu membuka matanya.

Cheon-sa?” pekik Jungkook.

eoh?”

Jungkook mengucek matanya dan melihat yang ada di hadapannya adalah Mina bukan malaikat. Wajah Mina terlihat bersinar tadi, jadi dia menyangka itu adalah seorang malakat. Dia duduk sambil menggaruk – garuk kepalanya, matanya sedikit terbuka karena masih mengantuk.

“mandi lah setelah Jin Oppa, ini sikat gigi untukmu. Aku akan menyiapkan sarapan pagi” kata Mina lalu beranjak dari tempat itu. Jungkook menatap punggung Mina sampai menghilang dari pandangan, dia tersenyum melihat sikat gigi hijau di tangannya.

Sarapan pagi kali ini Mina memasak nasi goreng dan menyeduh susu putih. Semua orang sudah rapi dan tampan dengan seragam sekolah melekat di badannya kecuali Jin. Meskipun terlihat lebih tampan dari Suga dan Jungkook dia tidak memakai seragam dengan benar, dasinya di biarkan longgar di leher, kemeja putih yang di keluarkan dan jas yang tak di kancingkan.

Selesai sarapan Mina mendekat kearah Jin, dia menahan tangannya sambil memandang dasi yang tak rapi.

wae?” tanya Jin.

“ini hari senin, setidaknya Oppa harus terlihat rapi saat di gerbang sekolah” kata Mina.

“kalau begitu rapikan bajuku sekarang.” Perintah Jin.

“kau bisa merapikannya sendiri, mengapa harus aku?” elak Mina. Jin mendekatkan wajahnya ke wajah Mina.

“semalam juga aku yang memasangkanmu baju, kau tak mau membalas perbuatanku?”

Mina langsung merona mendengar kalimat yang keluar dari bibir Jin. Suga dan Jungkook yang sedang bercanda pun menoleh sambil membulatkan mata. Jin sudah kembali menjadi Jin yang mesum pagi ini.

Y-yak.. semalam..”

“aku membuka dan memasangkan bajumu lagi”

Wajah Mina memanas saking malunya, ini masih pagi dan dia sudah di berikan sesuatu yang membuat darahnya berdesir.

Aigoo, aku masih polos untuk ini. aku akan mencuci piring” kata Jungkook.

“aku akan memanaskan mobil dulu..” kata Suga. Kedua orang itu meninggalkan mereka berdua di ruang makan.

Jin mengangkat tangan Mina lalu di tempelkan di dasinya, dengan sedikit canggung Mina mengikat ulang dasi yang ada di leher Jin. Dia merasa sedikit risih karena Jin terus menerus memandanginya, tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya untuk meredakan rasa malu. Tapi karena otak Jin sudah terlanjur mesum pagi ini dia menafsirkan gigitan bibir itu sebagai tanda meminta ciuman kepadanya.

Jin menghentikan kegiatan Mina di lehernya dan mengangkat kepala Mina untuk bertatapan dengannya. Mata mereka saling bertemu dan mengagumi satu sama lain, darah mereka berdesir dan sesuatu dalam diri mereka minta untuk di keluarkan. Perasaan cinta Mina maupun Jin semakin besar. Jin mendekatkan bibirnya dan mencium Mina, kali ini bukan bibir melainkan kening.

“kau ini sebenarnya siapa?” tanya Jin setelah melepaskan kecupannya.”mengapa aku selalu ingin bersamamu?”

Mina diam tak bisa mengatakan barang sepatah katapun. Momen ini terlalu indah untuknya, momen dimana Jin benar – benar sudah mengakuinya sebagai seorang kekasih dan menyayanginya dengan sepenuh jiwa dan raga.

Yoon Mina, will you marry me?”

Kali ini Mina lebih terkejut lagi, dia merasa seakan waktu terhenti secara tiba – tiba dan semua yang ada di sekitarnya mati. Dunia seperti hanya milik mereka berdua.

yes, i will..” suara berat dari dekat pintu mengejutkan mereka. Suga berdiri dengan tangan berlipat di ujung meja makan.

“bukan bermaksud untuk menyela moment romantis kalian tapi..” Suga melirik jam tangannya “sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan di tutup”

MWO?” pekik Jin dan Mina bersamaan. Dari arah dapur kepala Jungkook muncul dengan serbet dan gelas di tanggannya.

mwo?” pekik Jungkook, dia telat berekspresi.

palli, atau kita akan kebagian membersihkan halaman belakang sekolah” kata Suga, ketiga orang itu langsung berlari untuk mengambil tas sekolahnya lalu melesat masuk kedalam mobil.

Suga membawa mobil dalam kecepatan yang sangat tinggi, Jungkook melirik jendela dan kaca spion memastikan tak ada polisi atau yang lainnya. Sementara Jin dan Mina berpegangan tangan di kursi belakang.

“bisakah kalian tak bermesraan di mobilku?” ujar Suga.

wae?” tanya Jin.

Hyung, kami ini fakir asmara.” Jawab Jungkook.

Yak, jangan banyak bicara. Perhatikan terus ada polisi atau tidak dan kau Suga mengemudi dengan benar.” Perintah Jin.

Ne sajangnim” kata Suga dan Jungkook bersamaan.

Mereka sampai di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi, untung saja pintu gerbang belum di tutup jadi mereka bisa masuk kedalam area sekolah dengan aman. Setelah keluar dari mobil mereka bersama – sama masuk kedalam koridor sekolah. Di sebuah tangga Jin melepaskan lengan Mina.

“sampai nanti..” katanya.

“Eoh, Oppa belajar yang baik” kata Mina.

“pasti..” Jin menatap Jungkook “jaga dia!”

Arraseo.. arraseo hyung” Jungkook melambai – lambaikan tangannya dengan malas.

“huft, aku memang harus mencari pacar sekarang” keluh Suga yang merasa iri melihat kedekatan mereka berdua.

Mereka berempat berpisah untuk masuk kedalam kelas masing – masing dan hari beranjak siang dengan kicauan burung di atas pohon oaks di sekitar sekolah.

*********

Pulang sekolah mereka bertiga mengantarkan Mina untuk pulang ke rumahnya, mereka juga menemani Mina dan beristirahat sejenak di rumahnya yang kosong. Mina sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya, Jin ada di sebelahnya sedang membaca komik, Suga dan Jungkook bermain catur di dekat kolam renang. Cuaca sangat cerah dan panas hari ini, Jungkook berkali – kali mengipasi badannya yang terasa sangat gerah.

Hyung, sepertinya sebungkus es krim bisa menghilangkan rasa gerahku” kata Jungkook.

“kau mau membeli es krim?” tanya Suga.

eoh, kau mau juga?” tawar Jungkook

“boleh, aku mau satu”

geurae, aku akan membeli beberapa sekarang.” Kata Jungkook, dia mengeluarkan ponselnya lalu memotret papan catur.

Yak, kenapa kau memotret  papan catur?”

“untuk memastikan kau tidak memindahkan bidak caturku saat aku tak ada.”

“heish..” Suga melempar Jungkook menggunakan salah satu bidak catur berwarna hitam, sementara Jungkook hanya tertawa lebar sambil pergi. Dia melewati Mina dan Jin yang ada di ruang tengah. Jin sebenarnya tidak membaca komik, matanya melirik Mina yang sedang menghitung persamaan kuadrat di bukunya. Jungkook berdehem untuk menandakan keberadaannya di ruangan itu.

“aku mau membeli es krim, kalian mau?” Tawar Jungkook.

eoh, aku mau rasa coklat, Oppa kau juga?” tanya Mina.

eoh, punyaku stroberi” kata Jin.

“baiklah..”

Jungkook keluar dari rumah Mina dan berbelok menuju mini market yang berjarak sekitar 20 meter dari rumah Mina. pelipisnya berkeringat karena panas matahari yang seakan memanggangnya. Dia masuk ke dalam Mini market lalu mengambil beberapa bungkus es krim. Setelah membayar Jungkook langsung keluar dengan sebungkus es krim rasa coklat di mulutnya, tenggorokannya terasa segar dan panas matahari tidak terlalu mengganggunya lagi.

Sesuatu menarik perhatiannya saat dia lewat gang dekat rumah Mina, ada dua orang yang sepertinya memperhatikan kondisi sekitar rumah Mina. setelah di lihat dengan seksama ternyata itu adalah Park Chanyeol dan Oh Sehun, dua anak buah Jimin. Jungkook segera berlari untuk masuk kedalam rumah Mina, mereka harus tahu bahwa kini Mina juga di incar oleh Park Jimin.

Jungkook tak sengaja membanting pintu depan sampai menimbulkan bunyi yang keras, orang – orang yang ada di ruang tengah menatap ke arahnya dengan bingung.

Yak, kenapa kau membanting pintu?” teriak Suga.

Hyung.. hh.. disana ada.. hh..” jawaban Jungkook terputus karena dadanya sesak.

“apa?” tanya Jin.

“Park Jimin.. hh.. Hyung..” jawab Jungkook. Jin segera mengenggam lengan Mina dan menariknya untuk masuk kedalam kamar. Suga berjaga di dekat pintu sambil memperhatikan keadaan sekitar, sementara Jungkook di bagian belakang rumah Mina.

Mina dan Jin masuk kedalam kamar, Jin mengambil tas yang ada di dekat meja belajar Mina lalu memberikan kepadanya.

“ambil semua keperluanmu, kita pergi dari sini sekarang.” Perintah Jin, Mina mengangguk paham dan mulai mengambil satu persatu barang – barangnya.

Suga masuk kedalam kamar dengan tergesa “Hyung, aku akan menunggumu di belakang rumah, cepat susul aku. Jungkook sedang mengalihkan perhatian mereka.”

eoh, hati – hati” kata Jin. Suga mengangguk lalu berlari keluar kamar.

Mina sudah selesai mengepak barang, dia memasukan beberapa baju dan buku sekolahnya, dia juga membawa semua uang yang dia simpan di rumah. Jin segera menarik tangannya untuk pergi ke belakang rumah, tapi di bawah tangga Jimin dan dua anak buahnya yang lain, Kim Namjoon dan Jung Hoseok menghadang mereka berdua. Jin menyembunyikan Mina di balik punggungnya.

eodigani?” tanya Jimin sok akrab, Jin memandangnya dengan tajam.

“bukan urusanmu, mau apa kau?”

“tak bisakah kita bertegur sapa seperti seorang teman?”

“mau apa kau?”

Pandangan Jimin beralih kearah Mina yang mengintip dengan ketakutan di balik badan Jin. “Yoon Mina ssi, aku ada perlu denganmu”

Genggaman tangan Jin makin mengerat di tangan Mina, dan Mina semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Jin, dia takut dengan Park Jimin.

“ku akui kulitmu sangat lembut, bisakah aku menyentuhmu lagi? Kali ini tanpa paksaan” Jimin bersama kedua temannya tertawa jahat, Mina makin ketakutan.

“brengsek! Beraninya kau menyentuh gadisku” umpat Jin, dia sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Jin menyerang Jimin dan memukul wajahnya, kedua teman Jimin menyerangnya bersamaan tapi tak mengenai sehelai rambut Jin pun. Dia menendang perut Namjoon dan Hoseok bergantian sampai mereka tersungkur lalu memukuli perut Jimin sampai mulutnya mengeluarkan darah.

Melihat ketiga orang itu sudah tak berdaya, Jin segera menarik lengan Mina untuk pergi dan menyusul Suga yang menunggunya di belakang rumah. Mereka menemukan mobil Suga terparkir di dekat pohon mangga lalu masuk kedalam. Suga langsung memajukan mobilnya, dia mampir dulu ke dekat gang tempat Jungkook dan kedua anak buah Jimin, Chanyeol dan Sehun berkelahi.

Suga menekan klakson untuk memberitahu Jungkook bahwa dia sudah datang, Jungkook segera menendang perut Sehun yang ada di hadapannya lalu berlari masuk kedalam mobil. Suga menekan pedal gas dan mobil meluncur di jalan menjauh dari kawasan rumah Mina.

“mereka tak mengejar kita kan?” tanya Suga sambil melirik kaca spion.

“tidak Hyung, kalian baik – baik saja?” tanya Jungkook sambil menoleh ke kursi belakang. Mina dan Jin mengangguk.

Mereka bertiga memutuskan untuk membawa Mina ke Markas RV yang tersembunyi, disana lebih aman daripada rumah Mina. bahaya bila Mina di biarkan tinggal di rumah sendirian, kapanpun Park Jimin pasti akan kembali dan menyiksanya lagi.

*******

Malam semakin larut tapi belum ada kesan lelah bagi mereka semua. Sambil mengelilingi meja bundar yang biasa di pakai untuk makan mereka berhadapan dengan buku masing – masing. Beberapa hari lagi Jin dan Suga akan ujian jadi mereka harus belajar agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Mina bertugas sebagai turor, dia memegang kunci jawaban dari buku panduan ujian yang di beli saat itu. Jin dan Suga ada di kanan kirinya dengan buku terbuka dan pulpen di tangan mereka. Sementara Jungkook sibuk membaca komik.

Selama satu jam belajar hasilnya sangat mengecewakan, soal yang di berikan oleh Mina hanya beberapa saja yang berhasil di jawab dengan benar lalu sisanya entahlah dia juga bingung mereka berdua dapat dari mana.

Mina sedang memeriksa jawaban matematika yang di kerjakan oleh Jin dan Suga, dua soal matematika tentang Aritmatika. Semua jawaban yang di berikan oleh Jin salah semua sementara Suga hanya benar satu.

“apa ini? mengapa Oppa menjawab seperti ini?” omel Mina sambil membulatkan jawaban Jin yang ngawur.

“aku pusing dengan yang ini..” kata Jin.

“kan tadi aku sudah memberitahu cara nya. aku tak mau tahu kau harus mengerjakan yang lain dengan benar.”

“apa aku takkan mendapat hadiah bila menjawab dengan benar?” celetuk Jin.

“hadiah? Baiklah kau mau hadiah apa?” tanya Mina.

“mm.. setiap satu jawaban yang benar, kau harus memberiku satu ciuman” jawab Jin sambil tersenyum mesum.

Y –Yak, mana bisa seperti itu?”

“anggap saja itu sebegai motivasiku”

“motivasimu lulus ujian, Oppa. Bukan ciuman dariku”

“kalau begitu aku tak mau belajar” Jin melempar pulpennya lalu terlentang di atas lantai kecil dan pura – pura tidur. Mina mendengus lalu menariknya sampai bangun.

“baiklah aku akan mencium pipimu bila jawabanmu benar semua tapi bila satu saja salah hadiahnya hangus!”

“Oke!!” Jin bersorak lalu kembali memegang pulpen.

Yak – Yak – Yak.. hadiah itu hanya untuk Jin? Na Ottonya?” tanya Suga, dia menunjuk wajah Jin yang senang.

“tentu saja, ciuman itu untukku” jawab Jin.

“wah, ini tidak adil. Lalu… ah jinjja!! Yak, Jungkook –ah bila jawabanku benar kau yang menciumku, eoh?” Suga menujuk pipinya.

Jungkook meringis melihat Suga yang menunjuk – nunjuk pipi. “ish Hyung, menjijikan”

Mereka semua tertawa melihat ekspresi wajah Jungkook yang terlihat lucu. Suga memohon – mohon sambil mencoba memeluk tubuh anak paling muda itu, sementara Jungkook berusaha menghindar sambil menimpukkan bantal yang ada di sekitarnya.

Mina kembali memberikan beberapa soal matematika kepada Jin dan Suga, kali ini Jin bersemangat karena hadiah yang di janjikan oleh Mina sementara Suga hanya diam sambil memandang butiran soal yang harus di jawab olehnya. Dia memang harus segera menemukan kekasih, iri bila melihat kedekatan Jin dan Mina.

Suga sebenarnya tampan dan terlihat sangat keren, dengan kulit putih bersih, rambut hijau Mint dan mata sipit yang selalu terlihat menggemaskan bila sedang tertawa atau tersenyum. Banyak yang menyukainya dari kalangan adik kelas namun itulah, belum ada satupun wanita yang bisa membuatnya luluh.

Waktu sudah berlalu lebih dari sepuluh menit, tapi belum ada satupun yang menyerahkan jawabannya. Jungkook berbalik dan tidur di atas karpet merah, jam sudah menunjukan hampir tengah malam.

“aku selesai..” kata Jin.

“sini aku periksa” kata Mina, Suga menangkat kepalanya.

“wah, kau mengincar ciuman dari Mina jadi menyelesaikan soal sulit ini dengan cepat” katanya.

Jin mengangkat pundaknya lalu melihat Mina yang sedang mencocokan jawaban Jin dengan yang ada di kunci jawaban.

Oppa, kau benar – benar menjawab ini?” tanyanya.

eoh, benar semua kan. Sekarang cium aku” Jin menunjuk pipinya.

Yak, bagaimana ini bisa di sebut benar?” Mina menujuk jawaban Jin yang semuanya di bulatkan dengan spidol warna merah. Karena tak percaya dengan jawabannya sendiri Jin memeriksa kembali jawaban yang dia buat.

“nah ini baru benar” kata Mina, dia menunjuk jawaban Suga yang semuanya benar. Jin merebut buku Suga yang ada di tangan Mina.

“wah, Seolma!! Yak, ini bukuku jangan – jangan.”

busunmariya? Kau memang bodoh Jin, jadi soal gampang itu tak bisa kau jawab”

Yak, Neo Jinjja!!”

Suga beralih memandang Mina yang tersenyum melihat pertengkaran antar kedua sahabat itu. “sekarang aku yang mendapatkan ciuman darimu”

Mata Mina membulat mendengar apa yang di katakan oleh Suga. Sementara Jin langsung menimpuki badan Suga dengan buku yang ada di atas meja. Mina kembali tersenyum, dia merasa sangat senang ada di antara mereka semua. Rasa nyaman, bahagia dan aman, tak ada yang bisa membuatnya takut lagi.

“aku akan tidur, ini sudah lewat tengah malam” kata Mina sambil bangun dari duduknya tapi lengannya di tahan oleh Jin.

“mana hadiahku?” tanya Jin.

“hadiah? Jawabanmu salah semua, Oppa” jawab Mina.

“aku mau hadiah..” Jin berubah manja dan itu membuat Suga mau muntah.

“kau bisa meminta pada Suga ssi” Mina melepaskan tangannya lalu berjalan menuju tempat tidur yang akan dipakai tidur olehnya, baru beberapa langkah dia berbalik lalu berlari dan berjongkok di sebelah Jin. Bibirnya dengan kilat mencium pipi Jin lalu pergi dan menutup pintu, Jin melongo sambil memegang pipinya. Malam ini dia pasti akan mimpi indah, ah ralat mimpi mesum.

********

Pagi ini Mina dan Jungkook tidak berangkat sekolah karena ruang kelas akan di gunakan oleh haksaeng tingkat akhir untuk latihan ujian. Jin dan Suga sudah berangkat pagi – pagi ke sekolah, sementara jungkook diam dalam Markas RV sambil menonton tivi dan Mina di atas tempat tidur sedang melipat baju milik Jin yang baru saja kering. Selesai melipat baju Mina langsung merapikannya ke dalam sebuah lemari besi kecil yang ada di dekat tempat tidur. Saat pintu lemari di buka sebuah buku jatuh dan langsung berantakan di bawah kakinya. Mina segera membereskan buku itu tapi dia melihat beberapa foto disana. Itu adalah foto – foto Jin, Suga dan Jungkook tapi satu orang lagi dia tidak tahu.

Wajah pria yang ada di kelima foto itu seperti pernah dia lihat sebelumnya. Mina mencoba mengingat – ingat lagi kemudian sadar. Saat dia menggeledah ruang kerja ayahnya dia menemukan sebuah foto orang yang tidak dia kenal, pasti orang itu adalah yang ada di foto. Di lihat dari foto – foto itu pasti orang itu dekat dengan Jin karena di banding dengan Suga dan Jungkook, foto orang itu lebih banyak lagi.

Mina segera menghampiri Jungkook sambil membawa beberapa foto yang dia temukan.

“Jungkook –ah, boleh aku bertanya siapa orang ini?” tanya Mina, Jungkook melihatnya dengan terkejut.

“darimana kau mendapatkannya?” Jungkook malah balik bertanya.

“lemari milik Jin Oppa” jawab Mina.

“cepat masukan lagi kesana, bila Jin Hyung tahu dia akan..” kata – kata Jungkook terpotong saat pintu RV terbuka, Jin dan Suga masuk kedalam lalu melihat mereka berdua yang sedang di depan tivi. Mata Jin langsung mengarah kepada beberapa lembar foto yang ada di tangan Mina. Seketika wajahnya langsung pucat, dia merebut foto itu dengan kasar lalu memasukannya ke dalam saku jas.

“apa yang kau lakukan dengan foto ini?” tanya Jin dingin, suasana berubah menjadi menyeramkan bahkan jangkrik pun tak berani berbunyi.

Mian.. aku tak sengaja menemukannya.” Jawab Mina.

“kau tidak mendengar apa yang aku katakan padamu? Pelajaran nomor lima!”

Mina diam saja, dia ingat pelajaran kelima untuk menjadi kekasih sempurna Kim Seokjin. Tidak pernah melakukan apapun tanpa seijinnya tapi tadi dia benar – benar tak sengaja menemukannya karena membereskan baju milik Jin.

“kau melupakannya?” tanya Jin lagi, Mina diam dalam ketakutan dan rasa bersalahnya yang menumpuk kepada Jin. Dia menyesal mengapa tidak meletakan foto itu ke tempatnya saat Jin tidak tahu, mengapa dia bodoh sekali?

“aku tak percaya ini, kau harusnya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutku! Untuk apa aku lelah mengajarimu bila tak ada yang menempel satupun di otakmu. Kau.. ah..” Jin keluar dari RV sambil membanting pintu, sementara Mina hanya diam sambil memandangi karpet merah. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, tapi melihat Jin memarahinya dan membentaknya membuat hatinya seakan hancur.

Butir – butir air mata keluar sedikit demi sedikit dari mata Mina. karena tidak mau menjadi pusat perhatian Suga dan Jungkook, Mina memilih untuk keluar dan pergi untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia berlari menuju sebuah gubuk kecil yang terbuat dari kayu yang ada di tengah kebun jagung. Sambil memeluk kakinya dia menangis dengan keras hingga bahunya terguncang.

Jin duduk di bawah pohon sambil melihat satu persatu foto yang ada di tangannya, otaknya kembali memutar kejadian manis bersama orang yang ada di dalam foto. Dia masih ingat seakan kejadiannya baru kemarin saat dia bilang akan menjadi orang yang mampu mengubah dunia, Jin juga ingat bagaimana senyuman tulusnya dan kata – kata terakhirnya sebelum pergi meninggalkannya.

Selama ini hanya dia yang bisa membuat Jin merasakan arti hidup dan setelah dia pergi Jin seperti tak memiliki sesuatu untuk memotivasinya. Dia sangat merindukan sosoknya yang selalu ceria di hadapan semua orang.

Tiba –tiba dia ingat sesuatu, setelah kepergiannya Yoon Mina datang dan perlahan memberikan warna dalam kehidupannya yang seperti kertas kosong. Setelah kedatangan Mina, perlahan dia mulai bangkit dan memiliki motivasi lagi. Kasih sayang Mina dan semua yang di berikan olehnya seakan menjadi obat penyembuh luka dalam hatinya walau tidak semua berhasil hilang.

“apa aku tadi terlalu kasar padanya?” gumam Jin, dia segera bangkit dan berlari menuju Markas, tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang sedang menelengkup di atas lutut di gubug tua tengah ladang. Jin segera berlari untuk mendekat setelah menyadari bahwa itu adalah Mina.

Sampai di hadapan Mina dia melihat bahu gadis itu terguncang – guncang dan terdengar suara tangisan yang lumayan keras di telingannya. Jin menyentuh bahu Mina dan gadis itu mendongak, memperlihatkan mata sembab nya.

“apa yang kau lakukan disini? Bagaimana bila Park Jimin menemukanmu? Kau mau dia menyiksamu lagi, eoh?” sergah Jin, Mina masih sesenggukan tak bisa menjawab. Akhirnya Jin mengangkat tubuh Mina agar dia berdiri dan memeluknya.

Mianhae, aku terlalu kasar kepadamu tadi. Mian, Jeongmal Mianhae..”

Mina balas memeluknya dengan erat lalu menangis disana, dia masih merasa bersalah dan kaget dengan amarah Jin yang tiba – tiba.

“pelajaran ke enam, jangan pernah menangis lagi. Bila kau ingin menangis maka menangislah di depanku” kata Jin “pastikan kau mengingat yang ini.”

Mereka berdua duduk berdua di sebuah bangku panjang yang menghadap ke ladang jagung sambil berpegangan tangan. Suasana sore yang indah dengan suara serangga yang menjadi musik alam bagi mereka berdua. Jin menyandarkan kepalanya ke atas bahu Mina, rasanya sangat rileks seakan semua bebannya hilang dari dalam dirinya.

Oppa, Mian

gwaenchana, kau tak sengaja tadi”

keundae, aku penasaran dengan orang yang ada di foto itu. bila oppa tak keberatan untuk memberitahuku aku mau mendengarkannya”

“dia..” Jin menghela nafas panjang “adikku..”

Jin mengangkat kepalanya lalu memandang langit jingga dengan burung – burung yang bergerombol akan pulang ke sarangnya masing – masing.

“namanya Kim Taehyung, dia adikku satu – satunya. Dia seperti sebuah motivator untukku. Keluargaku bukanlah keluarga yang bahagia karena ayah dan ibuku selalu sibuk dengan urusan masing – masing dan yang selalu mengeluhkan hal itu adalah aku. hehe.. harusnya sebagai Hyung aku bisa lebih dewasa darinya tapi berbeda, taehyung lebih dewasa dariku. Dia yang menghiburku dan selalu membuatku senang bila ada di dekatnya. Dia juga memiliki sebuah mimpi bisa mengubah dunia agar semua anak – anak bisa merasakan kasih sayang orang tua mereka secara utuh terutama anak – anak dengan orang tua sibuk seperti kami”

“saat aku masuk ke SMP aku bertemu dengan Suga kami berteman baik lalu dua tahun kemudian Taehyung masuk ke SMP yang sama denganku dia berteman baik dengan Jungkook. kami sepakat untuk bersahabat selamanya dan mendirikan Markas yang sekarang kami tinggali. Dialah yang memilih tempat ini dan membuat markas ini sebagai persembunyian kami.”

“tapi suatu hari dia bertindak aneh, dia bilang dia melakukan kesalahan besar dan ketakutan. Aku mencoba menanyakan apa yang dia lakukan tapi dia tak mau menjawab lalu dua hari setelahnya dia meninggal karena di tusuk oleh orang yang tidak di kenal. Aku tahu siapa pelakunya, dia adalah Park Jimin. kami sudah melaporkannya ke polisi tapi..”

Jin memandang Mina dengan instens, tak mampu melanjutkan ceritanya lagi karena bagian ini pasti melukainya.

“tapi apa Oppa?” tanya Mina, Jin diam saja.

Oppa..” ulang Mina.

“kau harus berjanji tidak akan terluka, oke!”

Pernyataan Jin membuat Mina tambah penasaran, dia merasa apapun yang di alami oleh Jin ada hubungan dengan dirinya tapi dia tidak tahu apa itu. Mina akhirnya mengangguk dengan pasti.

“ayahmu menyembunyikan bukti pembunuhan yang dialami oleh Taehyung dan mengatakan itu adalah bunuh diri.”

mwo?”

“detektif yang bertugas menyelidiki kasusnya pun menghilang dan di temukan meninggal beberapa hari setelah kasus selesai.”

Mina diam, dia ingat kata – kata Park Jimin saat mereka sedang ada di tempat parkir. Jadi itu benar? Jin menerimanya sebagai kekasih hanya karena dia ingin mengusut ulang kematian adiknya? Hati Mina sedikit terluka saat mengingat itu. tapi mungkin ini memang satu –satunya jalan bagi Jin agar adiknya mendapat keadilan. Bila memang benar Park Jimin yang membunuhnya maka ayah Mina lah yang jahat karena menyembunyikan bukti itu. kini dia merasa bersalah kepada Jin.

Oppa, kalau begitu kita ke gwangju sekarang”

“untuk apa?”

“kita bisa meminta ayahku untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Biar aku yang bicara dengan ayahku, aku pastikan dia mau membantu kita. Ini kejahatan Oppa! Dan sikap ayahku tidak mencerminkan sikap dan perilaku seorang jaksa yang selama ini di junjung tinggi olehnya”

Mata Jin hampir berkaca – kaca saat mendengar pernyataan dari mulut Mina. dia tidak merencanakan semua ini tapi Mina yang berinisiatif menolongnya, mungkin karena perasaan bersalah karena ayahnya tega melakukan hal yang kejam seperti itu. dia menggenggam lengan Mina dengan erat lalu kembali memeluknya dengan erat. Dia merasa sedikit lagi lubang kosong yang menganga di hatinya akan terisi oleh seorang malaikat yang di kirim oleh tuhan bernama Yoon Mina.

Tepat setelah bubar latihan ujian di hari terakhir Jin, Mina dan kedua temannya pergi ke bandara untuk menuju Gwangju. Mereka tak bisa memakai mobil karena akan memakan waktu yang lama. Sebenarnya Mina bingung dari mana Jin mendapatkan uang yang banyak untuk penerbangan mereka yang mendadak tapi dia urung untuk bertanya setelah melihat ekspresi wajah Jin yang seperti bahagia. Sebentar lagi adiknya akan mendapatkan keadilan.

Mereka berangkat ke gwangju dengan menggunakan Seoul airlines, berangkat tepat pukul 2 setelah makan siang. Selama perjalanan Jin yang duduk di sebelah Mina tampak agak gelisah, dia memikirkan apa yang nanti akan Yoon Jae Hoon katakan bila melihat anak satu – satunya berkeliaran dengan orang yang bisa di katakan musuh.

Mereka sampai di bandara sekitar jam 4 sore dan langsung naik bis yang akan mengantarkan mereka menuju rumah ayah Mina. bila di banding dengan Seoul, gwangju terlihat membosankan. Hanya sedikit tempat bermain yang terlihat asik dan taman kotanya juga terlihat membosankan.

Bis berhenti tepat di depan sebuah gerbang perumahan elit dengan pos satpam yang berdiri kokoh di depannya. Saat mereka akan masuk salah satu satpam menyapa mereka dan bertanya ingin menemui siapa.

“aku Yoon Mina, anak dari jaksa Yoon Jae Hoon.” Jawab Mina.

“oh nona selamat sore. Sudah lama sekali tak kesini.”

ne, apa appa ada di dalam?”

geurom.. mobilnya baru saja lewat beberapa menit yang lalu”

kamsahamnida.”

Setelah pintu gerbang di buka oleh satpam, mereka berempat masuk kedalam dan melihat keadaan yang sangat sepi di sana. Rumah – rumah tampak kosong dan jalanan yang sangat hening.

Mereka tiba di depan sebuah rumah besar dengan cat krem, pintu kayu coklat mengkilap ada di hadapan mereka. Dengan sedikit berdoa Mina memasukan kode rumah yang saat itu di berikan oleh ayahnya. Pintu terbuka seiring bunyi beep dari dalam, Mina segera mendorong pintu itu dan masuk diikuti dengan Jin, Suga dan Jungkook. Sekitaran rumah tampak rapi dan teratur dengan beberapa furnitur mewah di setiap sudut rumah. Di depan sofa panjang ada televisi besar dengan sebuah foto keluarga di atasnya.

Saat mereka melangkah makin dalam, seseorang keluar dapur dengan apron hitam melilit di pinggangnya.

“Mina –ya..” pekiknya.

Appa..” Mina segera berlari menuju ayahnya dan memeluknya dengan sayang.

“sudah lama kau tak kesini, kau sendiri?”

ani, aku bersama teman – temanku”

Nugu?” ayah Mina menatap ketiga orang yang berdiri di dekat ruang tamu, dia terkejut melihat orang – orang yang datang bersama dengan anak satu – satunya. Dengan segera dia menyembunyikan Mina di balik punggungnya.

“kau, jangan coba – coba melukai anakku” katanya.

“apa yang ahjussi ini katakan?” Kata Suga.

appa, mereka orang baik. Mereka melindungiku bukan melukaiku, bahkan Jin Oppa membantukku saat aku di pukuli oleh Park Jimin.”

Mendengar nama Park Jimin di sebutkan oleh putrinya, Jae Hoon pun melemas. Dia tak menyangka Park Jimin yang pernah di bantu olehnya tega melukai orang yang paling dia sayangi.

“Park Jimin? bagaimana dia tahu?”

Jin mendekat dan merebut Mina yang ada di balik ayahnya lalu melayangkan tinju yang keras ke wajahnya. Ayah mina jatuh tersungkur di atas lantai rumah dengan bibir robek.

ahjussi, kurasa kau berhutang penjelasan kepada kami” katanya dingin.

Jae Hoon menghela nafas panjang lalu menatap Mina yang ada di sebelah Jin. Dia tidak pernah menduga kejadian ini akan terjadi, selama ini dia berusaha untuk menyembunyikan keberadaan anak dan mantan istrinya agar tidak di ketahui oleh semua pihak yang bersangkutan dengan apa yang sudah dia lakukan dua tahun yang lalu.

Melihat Jae Hoon yang diam saja membuat kesabaran Jin habis, dia menarik kerah baju Jae Hoon lalu kembali memukulnya dengan bertubi –tubi.Jae Hoon tak melawan, dia pasrah menerima apa yang di lalukan oleh Jin. Sementara Mina berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Jin, bagaimanapun dia tak ingin ayahnya terluka bahkan mati.

Jin melepaskan cengkramannya karena Mina terus memohon ampunan untuk ayahnya dan mengatakan bahwa dia akan membuat ayahnya mengakui semua kesalahannya. Jae hoon yang babak belur hanya diam saja.

“ba.. baiklah, aku akan menceritakan apa yang terjadi.” Jae Hoon berusaha bangun dengan susah payah. Dan berjalan terseok – seok menuju ruang kerjanya. Dia duduk di kursi kerjanya sambil mengelap darah yang ada di bibir dan pelipisnya.

“sebelumnya aku ingin meminta maaf kepadamu, Kim Seokjin ssi..” ungkap Jae hoon, Jin memandangnya dengan datar. Dia tidak akan memaafkannya sebelum kasus ini selesai dan Park Jimin masuk penjara.

“aku mengaku bersalah atas ini, aku sudah membuat seseorang yang salah lepas dari hukum. Aku juga sangat menyesalinya, sebenarnya saat itu..”

######

5 juli 2012 (satu bulan sebelum kejadian)

 

Jae Hoon yang sedang duduk menonton tivi bersama Mina menerima sebuah panggilan dari kepolisian, saat dia angkat petugas polisi itu memintanya untuk datang ke kantor polisi sendirian. Jae Hoon pun segera berangkat dan mengatakan ada hal penting yang harus dia urus di kantor polisi kepada istrinya yang saat itu sedang hamil.

 

Tak butuh waktu lama sampai dia sampai di kepolisian gangnam, dia langsung menemui detektif Moon yang bertugas mengusut kasus pembunuhan yang terjadi di dekat  sungai Han. Saat itu wajah detektif Moon terlihat kacau dan sangat pucat, mereka bicara berdua di sebuah ruang khusus penyelidikan.

 

“aku menemukan barang bukti untuk kasus pembunuhan Kim Taehyung.” Kata detektif Moon.

 

“kalau begitu mana? Kita bisa mengungkap siapa pelaku yang sebenarnya” kata Jae Hoon.

 

“tapi..”

 

“kenapa?”

 

Wajah detektif Moon terlihat lebih pucat, dia melihat seseorang yang berdiri di belakang Jae Hoon dengan ketakutan. Jae hoon merasa aneh dengan sikap patnernya itu lalu menoleh, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah pistol ada di depan wajahnya. Orang yang menodongkan pistol itu mengangguk dan detektif Moon pergi dari dalam ruangan meninggalkan Jae Hoon berdua dengan orang itu.

 

“aku ingin kau memanipulasi kasus ini, buat ini seperti kecelakaan” katanya.

 

“mwo? Aku adalah seorang jaksa aku harus menegakan keadilan” kata Jae Hoon.

 

“begitukah? Aku khawatir dengan nyawa seseorang sekarang” orang itu menyeringai sambil membelai pistol yang ada di tangannya.

 

“kau fikir aku takut mati?”

 

“ku dengar anakmu memenangkan olimpiade matematika dan istrimu sedang hamil anak kedua.”

 

Mata Jae hoon membulat, keringat dingin mengucur di pelipis dan punggungnya. Ancaman pembunuhan itu bukan untuknya tapi untuk keluarga kecilnya. Pria itu mengeluarkan sebuah foto keluarga yang diambil beberapa waktu yang lalu di sebuah studio foto dan menyodorkannya ke arah JaeHoon.

 

“jangan sekalipun kau melukai keluargaku” kata jae hoon. Si pria malah tertawa melengking, tawanya terdengar sangat aneh dan menakutkan.

 

“gampang saja, asal kau mau memanipulasi kasus ini dan membuat anakku tidak bersalah. Jika tidak.. kau tidak akan bisa melihat wajah dua wanita ini” pria itu mengancamnya dan sukses membuat Jae hoon tak bisa berfikir jernih.

 

“bagaimana Jaksa Yoon?”

 

Pria itu mengeluarkan pisau lalu menacapkan di atas foto wajah Mina yang sedang tersenyum bahagia. Akhirnya Jae Hoon pun mengangguk, menyetujui tugas yang di berikan oleh orang tua Jimin. dua orang yang ada di belakang ayah Jimin menyerahkan sebuah pisau, kaset rekaman dan tiga lembar cek yang masing – masing bernilai 500 juta W .

 

“simpan itu, dan buatlah semuanya sesuai keinginanku”

 

Jae Hoon tak menjawab, dia merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia. Semua etika yang di junjung olehnya sudah tidak berlaku lagi.

#######

“aku terpaksa melakukannya karena tak ingin Mina dan Mayu terluka oleh mereka, akhirnya aku memanipulasi semuanya. Dan menjadikan taehyung mati karena kecelakaan” Jae Hoon berkaca – kaca.

Mina menatap ayahnya dengan rasa kecewa, tapi saat mendengar alasannya dia menjadi kasihan. Matanya beralih memandang Jin yang terlihat terpukul dengan semua ini, dia yakin Jin pasti sangat marah dan kecewa dengan apa yang ayahnya lakukan.

“jadi karena itu kau melakukan semua ini?” tanya Jin dingin, wajahnya lebih menyeramkan 10 kali dari saat dia melihat Mina menemukan foto Taehyung.

“maafkan aku, aku sangat menyesal”

“KAU SADAR APA AKIBATNYA, HUH? IBUKU.. IBUKU HARUS MENGHUNI RUMAH SAKIT JIWA KARENA ITU. KELUARGAKU HANCUR BRENGSEK” teriak Jin, air mata berjatuhan dari pelupuk matanya. Sambil menutup mulutnya Jin terus menangis.

“KAU INGIN MENYELAMATKAN KELUARGAMU LALU BAGAIMANA DENGAN KELUARGAKU? BAGAIMANA DENGAN KEHIDUPAN ORANG YANG TAK KAU BERIKAN KEADILAN? APA ITU YANG SELAMA INI KAU PELAJARI MENJADI JAKSA? EOH?”

Jae Hoon mengangkat kepalanya untuk memandang Jin. “aku tahu semua yang kulakukan adalah kesalahan yang sangat fatal. Wajar bila kau tak mau memaafkan aku. tapi, kau harus melihat ini”

Jae Hoon mengeluarkan sebuah kertas usang dari dalam laci kerjanya dan langsung di berikan kepada Jin. Itu adalah tulisan tangan milik Jimin beberapa hari sebelum kematian adiknya.

“ 1 juli 2012..

 

Abeoji, ini aku Park Jimin. aku tak bisa melupakan apa yang sudah terjadi pada keluarga kita. Setelah kematian Chorong yang tiba – tiba membuatku merasa frustasi. Apalagi dia meninggal karena kecelakaan yang di akibatkan oleh teman prianya, Kim Taehyung. Aku akan membunuhnya dan membuat semua impas.”

“Park Jimin menganggap kematian adiknya karena ulah Taehyung, tapi dia salah. Chorong meninggal karena kepalanya membentur trotoar saat hendak naik bus bersama taehyung. Saat itu lantai Bus licin dan dia tergelincir, Taehyung berusaha menolongnya tapi tak bisa.” Jelas Jae Hoon.

“apa maksudmu?” tanya Jin.

“ini adalah kesalah pahaman, Jimin menyalahkan Taehyung atas kematian adiknya” jawab Jae Hoon,

“aku berniat mengusut kembali kasus ini tapi karena kekuasaan ayah Jimin aku di pindahkan ke Gwangju . aku tak bisa bergerak bebas disini karena setiap hari anak buah ayah Jimin mengawasiku, kalian harus mengungkap apa yang Park Jimin lalukan” Lanjut Jaehoon, dia berjalan menuju sebuah brangkas berisi beberapa uang dan emas lalu mengambil sesuatu yang ada di dalam kantung putih.

“ini adalah barang bukti yang di berikan ayah Park Jimin padaku, dalam pisau ini ada sidik jari Jimin dan bercak darah Taehyung, dan ini rekaman CCTV yang bisa menguak apa yang sebenarnya dialami oleh adikmu”

Jin mengambil beberapa barang itu lalu memasukan kedalam tas ranselnya. Jae Hoon memandangnya dengan perasaan bersalah, dia sadar sudah menghancurkan kehidupan seseorang yang tidak berdosa dan dia berani bersaksi di pengadilan lalu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Ah mungkin dia tidak akan mendapatkan hukuman setimpal karena tidak ada hukuman yang bisa sama dengan hancurnya sebuah keluarga.

Mereka semua keluar dari dalam ruangan kerja Jae Hoon, tapi saat beberapa langkah mereka maju terlihat beberapa orang berpakaian rapi masuk kedalam rumah Jae Hoon sambil mengendap – endap. Jae Hoon tahu itu adalah anak buah dari ayah Jimin, dia segera menyuruh mereka untuk masuk kedalam kamar tidur. Dia mengambil kunci mobil dan beberapa uang yang ada di dompetnya lalu memberikannya kepada Mina.

“cepat pergi dari sini, jangan sampai mereka menemukan kalian. Gunakan mobilku dan uang ini untuk kembali ke Seoul.” Jelasnya.

keundae Appa..”

Palli, aku tak mau kalian tertangkap.” Jae Hoon membelai rambut Mina lalu memandang Jin “aku akan menahan mereka disini, tolong jaga anakku”

Jin mengangguk dengan pasti, setelah itu Jae Hoon memeluk Mina sebentar lalu pergi keluar kamar untuk menemui anak buah ayahnya. Beberapa menit kemudian terdengar suara benda patah dan erangan dari Jae Hoon, Mina bermaksud untuk mengecek keadaan ayahnya tapi di halangi oleh Jin.

Suga membuka jendela kamar yang cukup besar, dia menyuruh mereka untuk keluar dari jendela. Jin keluar paling pertama lalu membantu Mina untuk turun dari jendela kamar. Mereka mengendap – endap menuju mobil yang di berikan oleh Jae Hoon. Saat sampai di jendela ruang tamu, Mina melihat sebuah pistol yang ada di depan kepala ayahnya. Beberapa detik kemudian letusan pistol itu terdengar dan ayahnya jatuh terlentang di atas lantai rumah dengan darah mengalir di kepalanya.

Appa..” pekik Mina, salah seorang yang ada di dalam rumah menoleh dan menemukan Mina. Jin segera memberikan kunci mobil kepada Suga dan menarik Mina untuk masuk kedalam mobil. Beberapa orang keluar dari rumah berusaha mengejar mereka yang sudah lebih dulu melarikan diri  keluar komplek.

Jalanan malam kota Gwangju yang lengang cukup kacau dengan aksi kejar – kejaran antara Mobil Mina dan mobil anak buah ayah Jimin. Suga menginjak pedal gas dengan kencang agar mobil melaju lebih kencang, tapi ada sebuah mobil yang menghadang mereka di depan. Suga mengerem mobil itu dengan tiba – tiba membuat orang yang ada di dalam mobil terdorong ke depan.

Dari dalam mobil keluarlah Park Jimin dan 4 anak buahnya, Chanyeol, Sehun, Namjoon dan Hoseok. Mereka semua langsung menghancurkan kaca mobil dan membuka pintu mobil dengan paksa. Jimin menarik Mina untuk keluar tapi Jin menahannya, dari belakang Hoseok menarik Jin keluar dan akhirnya Mina berhasil di dapatkan oleh Jimin. Mina di seret di atas aspal panas sampai kakinya terluka.

Jin berusaha menyelamatkannya tapi di tahan oleh Namjoon dan Sehun, mereka berkelahi di pinggir mobil. Berkali – kali Namjoon mengayunkan tongkat baseball kearah Jin tapi tak kena. Jin menendang perut Namjoon dan memukulnya berkali – kali, Sehun di belakangnya menarik tangan Jin lalu melemparnya sampai membentur mobil dan memukuli Jin sampai tidak berdaya.

Jimin terus menyeret Mina yang terus melawan untuk masuk kedalam mobilnya, Mina tak kehabisan akal. Dia mengigit lengan Jimin sampai berdarah lalu kabur dengan darah di kaki kirinya. Jimin mengejar Mina dari belakang sambil meneriaki namanya. Mina bersembunyi di sebuah pohon besar yang ada di sisi sungai, suasana malam yang gelap membuatnya tak terlihat oleh mata Park Jimin.

Terdengar suara derak ranting yang terinjak oleh Jimin dan Mina menutup mulutnya agar suara nafasnya tak terdengar. Dia ketakutan setengah mati di balik pohon, Jimin masih terus memanggil – manggil namanya dan menyuruhnya untuk keluar. Mina makin merapatkan diri ke pohon, tapi seseorang membekap mulutnya dan menariknya untuk pindah ke sisi pohon yang lainnya.

“ini aku..”

Mina lega saat nememukan orang yang di depannya adalah Suga. Terdengar suara lari Jimin semakin menjauh, setelah memastikan kondisi aman Suga segera menarik Mina untuk lari. Dia membuka pintu mobil yang di pakai oleh Jimin dan memasukan Mina kedalamnya, dia memajukan mobil yang mengejar mereka tadi. Suga menekan klakson dengan keras, Jin dan Jungkook buru – buru masuk kedalam mobil dengan luka di sekujur tubuhnya.

Jimin melihat incarannya lolos dengan mobilnya segera berlari untuk mengejar tapi tak bisa. Akhirnya karena kesal dia menendang udara kosong sambil mengumpat.

akh.. shit!!”

Jin duduk di samping Mina sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit, pandangannya beralih ke betis Mina yang mengeluarkan darah.

Pi (darah).. si brengsek itu menyeretmu sampai jauh?”

gwaenchana Oppa, di bandingkan dengan aku lukamu lebih parah lagi” Mina mencoba mengelap darah yang ada di bawah mata Jin tapi di tahan. Jin membuka kaos putihnya dan melilitkannya ke betis Mina untuk menghentikan laju darah.

“tidurlah, kau harus banyak beristirahat” kata Jin, Mina menggeleng. Dia tak butuh istirahat karena khawatir dengan kondisi mereka yang ada dalam bahaya. Jin menarik lengan Mina lalu memeluknya agar Mina bisa tenang.

Mereka sampai di Seoul sekitar jam 4 dini hari, semuanya tampak lelah dan mengantuk karena semalaman tak tidur dan was – was takut Park Jimin menemukan mereka. Setelah membiarkan mobil Park Jimin terparkir di sisi sungai Han mereka semua langsung pergi untuk mencari tempat tidur. Kaki Mina yang kebas tak mampu menopang berat tubuhnya, akhirnya dia jatuh di samping Jin yang menggenggam erat tangannya. Jin mengangkat tubuh Mina dan menyuruhnya untuk naik ke punggung Jin. Setelah lama memaksa akhirnya Mina naik ke atas punggung Jin dan mereka melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan tak ada yang bicara dan tanpa sadar Mina tertidur di punggung Jin, dengkuran lembut terdengar dengan jelas.

Jungkook melihat sebuah bangungan yang belum jadi, dia mengajak mereka untuk beristirahat disana. Mereka masuk kedalam lokasi konstruksi yang masing belum selesai, mencari sesuatu yang hangat untuk di pakai alas tidur, karena tak menemukan satupun akhirnya mereka tidur di atas lantai semen dingin. Jin menidurkan Mina di pangkuannya sementara dia menyandar di tembok. Suga dan Jungkook tidur di sisi kanan Jin, karena kelelahan dan kantuk yang sudah menguasai mereka akhirnya merekapun tidur dengan pulas.

Keesokan harinya Mina bangun lebih dulu, dia melihat dimana tempat mereka istirahat. Dia melihat Jin yang tertidur dengan posisi duduk, Suga dan Jungkook yang terlentang di samping Jin. Mina merasa sedikit pusing karena tidur dini hari, dia juga merasa perutnya sangat lapar. Akhirnya dia berinisiatif untuk membeli beberapa makanan untuk sarapan mereka. Mina keluar dari kawasan konstruksi itu dan berjalan menuju mini market 24 jam di sebrang jalan.

Setelah mengambil beberapa bungkus roti, 4 botol air mineral, plester, kapas dan obat antiseptic, dia segera membayar dan kembali ke kawasan konstruksi itu. dia segera mengolesi obat luka itu ke luka yang ada di pelipis, bawah mata dan bibir. Dia mengolesi dengan perlahan, tak ingin membangunkannya. Setelah selesai dengan Jin dia beralih untuk mengobati luka Suga dan Jungkook.

Beberapa menit kemudian ketiga orang itu bangun dengan rasa sakit di seluruh tubuh mereka, wajah mereka masih terlihat sangat lelah.

“makan roti ini dulu, setelah itu kita pulang” kata Mina.

Mereka pulang ke Markas sekitar jam 11 siang dengan menggunakan bis. Sampai di markas mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat untuk menghilangkan lelah setelah menjalani hari yang berat kemarin. Mina duduk di dekat pintu sambil memikirkan ayahnya, dia tadi baru di beri tahu bahwa ayahnya meninggal dan hari ini adalah hari pemakamannya. Mina ingin kesana tapi Jin bilang terlalu beresiko karena banyak anak buah ayah Jimin yang berada di gwangju.

“masih memikirkan ayahmu?” tanya Jin, Mina mengangguk lemah.

“maafkan aku tapi aku tak bisa membiarkanmu di dapatkan oleh salah satu orang itu!” sesal Jin.

eoh, aku hanya merindukannya. Dia rela menjadi orang jahat karena melindungiku, harusnya aku sudah tahu dari dulu tapi mengapa harus seperti ini akhirnya?” Mina menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang akan turun. Jin kembali memeluknya, membiarkan Mina menangis di pelukannya. Dia hanya boleh menangis di pelukan Jin tidak di tempat lain.

*********

Keadaan Markas RV sangat sepi, disana hanya ada Jungkook dan Mina yang tinggal sementara Suga dan Jin sudah berangkat sekolah untuk melaksanakan ujian nasional. Mina tak melakukan apapun, dia hanya duduk sambil menonton tivi bersama Jungkook.

“kau lapar? Kita belum memakan apapun dari pagi” kata Jungkook.

eoh.. aku lapar” ungkap Mina.

“aku akan membeli makanan, kau mau apa?”

“mm.. sup!”

“oke, aku akan membeli sup. Kau tunggu di sini oke”

“oke!”

Jungkook menyambar jaket dan memakai sepatunya, dia berpamitan kepada Mina dan berjalan menjauh dari RV. Mina menunggu di dalam RV sambil terus menonton TV.

Lima menit kemudian pintu RV terbuka, masuklah seseorang kedalam.

“cepat sekali kau pulang..!” kata Mina sambil menoleh, tapi kemudian dia menyadari bukan Jungkook yang ada disana. Matanya membulat menatap orang yang ada di hadapannya.

TBC

Preview next Chapter:

 

“fikirkan Jin dan ayahmu yang ingin melindungimu!!”

 

“aku akan menuruti apapun yang kau minta asal lepaskan dia. Jebal”

 

“geurae, feel my Fury”

 

“apa menurutmu Mina akan cantik bila memakai ini?”

 

“Mina di bawa oleh Park Jimin, Hyung”

 

“MWO?”

 

“Yak ssaekiya, jangan pernah kau menyentuhnya satu helai rambutpun”

 

“lalu kau akan menyerahkannya?”

 

“aku tak mencintaimu lagi, aku.. aku.. aku ingin mengakhiri semua ini”

 

“ambilah pendidikan yang tinggi agar mendiang adikmu bahagia di surga”

 

“tinggalah bersamaku dan jauhi Kim Seokjin”

 

“anda sedang hamil. Tepat tiga minggu”

 

“ne?”

3 thoughts on “Hold Me Tight [Part 2 – Touch My Feeling]”

  1. Hi thereee ini salah satu ff terbaik yg pernah aku baca di ifk wooww😄😄😄

    Aduuhh jinie jinie knp baik bgtt siihh gemaayy deehh hehe

    Dan jimin.. Ampun deh knp jimin jahat bgttt awalnya ga ngerti apa motivasinya jadi jahat bgtt knp juga dia hrs jahat sama Mina padahal kan ayahnya Mina udh nyelamatin dia, ohiya btw aku blm baca chpt. 1 nya karna di protect huhu jadi pas bagian awal itu kurang ngerti

    Alur ceritanya sngt sngt menarik dan enak dibaca hehe biasanya aku mls bgt baca ff yg panjang panjang tapi ini nggaa hehe

    Overall, outstanding😊😊😊

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s