[Vignette] of Her Heart

[FFPOST] of Her Heart

elfxotic12152  present

a drama with Soloist Seo Inguk A-Pink‘s Eunji

Romance |  Vignette (1.470 Ws) | Teen

.

Janji temu berikutnya masih sekitar setengah jam lagi, kata asistenku. Tapi, melainkan beristirahat, kuhabiskan waktu luang untuk memilih antara kemeja denim ataukah yang lainnya, yang bermotif check. Aku ada janji temu dengan seseorang yang istimewa hari ini, begitu jawabku bilamana asisten cerewetku itu mulai bertanya-tanya.

Tanpa buku catatan, kacamata, dan pulpen hitam legam di dalam tas—yang merupakan peralatan wajib praktekku sebagai seorang psikiater—aku berjalan ke tempat dimana mobilku diparkir, mobil yang akan membawaku menuju tempat yang sudah ditentukan oleh kawan karibku, lebih tepatnya pasienku untuk hari ini.

Meja dalam cafe yang sudah kupesankan untuk kita berdua, kuhampiri. Terlihat dirinya di sana, menunggu dengan tenang dan sabar—dua unsur utama sifatnya. Wujudnya masih sama seperti yang dulu, sama seperti yang tergambar jelas dalam relung ingatanku. Kecuali, jelas, kebijaksanaan mulai terlihat dalam garis mukanya, mengingat dirinya dan diriku sudah memasuki usia dua puluhan akhir.

“Eunji!” seruku menarik atensinya. Kepala dengan mahkota sewarna tembaga tersebut berputar beberapa derajat, mendukung netranya menangkap diriku. Lalu, disusul oleh kurva paling sempurna yang mengalahkan milik siapapun yang kukenal, yang dipertunjukkan bibirnya. Tak lupa—masih sama seperti Eunji yang dulu, kapanpun ia tersenyum—sederet gigi geliginya tampak.

Ia berdiri menyambutku, yang segera membuatku mengomelinya, berkata bahwa dirinya semakin mirip yang dulu—terlalu hormat. Kemudian, segera saja dirinya hanya tersenyum—seperti dulu ketika ia kena marah atau omelan siapapun. Dan ketika kita memadu peluk, baru kurasa diri ini sangat merindu akan Eunji ternyata, tanpa kusadari.

“Nah, karena kita sudah bertemu empat mata seperti ini, apa hal yang ingin kaubicarakan sangat pribadi?”

Yah, tidak terlalu. Aku hanya merasa sudah terlalu lama kita tidak berjumpa.

“Ah, aku kira ada suatu kepentingan. Aku juga merindukanmu, kau harus tahu,” balasku.

Beberapa menit kemudian, masing-masing dari kita disibukkan untuk memilih pesanan. Lalu, setelah pesanan menghampiri meja kami dan sukses kecek setengah hanya dalam tiga menit semasa perbincangan kami, kuberanikan bertanya.

“Kau sudah menemukan tambatan hatimukah, Jung Eunji?”

Belum. Aku tidak berniat mencari satu.

“Begitu? Aku banyak teman yang malas mencari juga, lho. Kau ingin satu?” tawarku seolah membicarakan biskuit lemon seharga seratus won per bungkusnya, kesukaan kita berdua.

Tidak, terima kasih. Kau tahu sumpahku dulu ‘kan?

“Karir di atas hubungan asmara? Wah, sudah manajer begini masih belum cukupkah? Menunggu jadi presiden perusahaan dulu kamu?” candaan garing tersebut masih sanggup memancing senyum Eunji.

Tidak, tidak sejauh itu.

“Lalu, kapan? Kalau aku jadi dirimu sih, dari dulu aku mencari wanita dulu lantaran waktu luang yang berlimpah. Kau pikir jadwal psikiater longgar, apa?” gurauku pelan.

Ia tertawa selama dua tarikan napas dan melanjutkan, aku hanya belum siap untuk mencintai—lagi.

“Kau belum siap? Maksudmu?”

Ah, kau belum mendengar kisahku yang satu itu rupanya.

“Yang mana? Seingatku yang tahu semua kisahmu secara mendalam dan terperinci hanya diriku seorang. Apa tempatku sekarang sudah terganti?”

Bukan. Kau juga masih seperti dulu, Inguk—cepat menarik kesimpulan yang pasti melenceng.

“Kau tahu karakter tidak mudah berubah, sama seperti dirimu juga. Jadi, apa yang harus kuketahui tentang kisah romansamu?”

Kau tahu yang pertama. Jin.

“Pemuda baik itu? Kenapa?”

Eunji sedikit merilekskan tangannya, bersiap untuk bercerita sedikit lebih panjang dari seharusnya dengan jemari lentiknya.

Kau tahu ia memang pemuda yang sangat baik. Tapi tak terelakkan juga sifat naif seorang bocah remaja, kau tahu sendiri sebagai seorang psikiater.

“Ia melakukan apa?”

Tidak, ia tidak melakukan apa-apa. Bahkan, bisa dibilang ini semua kebodohanku semata.

“Kebodohanmu? Semesta tahu kau tidak akan melakukan hal bodoh, Eunji,” sanggahan tersebut kulontarkan dengan tawa setengah hati.

Dan semesta tahu tidak ada orang yang sempurna, Inguk. Maka dari itu, kenyataannya aku memang telah membuat kesalahan dengan memicu pertengkaran antara diriku dan Kim Seokjin.

“Pertengkaran? Bah, pikirmu aku akan percaya?”

Eunji tidak menyahut. Perempuan jelita itu justru lebih memilih untuk mengabaikan komentar negatif dariku, dan melanjutkan kisahnya.

Memang aku yang salah, Inguk. Setelah kita berpisah sebelum sempat memiliki kesempatan untuk bersama, sesaat setelahnya ia sudah menemukan belahan jiwanya. Tidak pernah terbayang olehku bahwa kata-kata ‘kesalahan sekecil apapun tetaplah kesalahan’ itu memang benar adanya di realita.

Hanya dapat kuanggukan kepala kala menatap parasnya yang tercoreng kepedihan. “Hanya karena bajingan kecil di masa lalumu itu maka kau menyerah akan romansa? Ayolah, Jung Eunji, aku tidak yakin bahkan di dimensi manapun ada kau yang adalah gadis lembek.”

Gadis rupawan itu tersenyum. Aku akan lebih senang jika aku memang gadis lembek, setidaknya banyak yang menyukai gadis lembek, Inguk.

“Kau tahu bukan itu maksudku,” kutelengkan kepala sembari menyesap sedikit kopi kental pesananku. Eunji hanya bisa tersenyum lemah—lagi.

Andai memang hanya Jin yang menjadi hantu pikiranku. Suho malah lebih buruk lagi—ia masih ada dalam mimpi burukku hingga detik ini.

“Suho? Suho, berambut hitam, anak tampan, dan punya banyak uang—Suho yang itu?” Kejut menyergap begitu Eunji menyebut nama sakral itu. Nama yang membuat seluruh wanita bertekuk lutut hanya setelah mereka terlibat konversasi dengannya selama setengah jam.

Iya, bodoh, ya? Harusnya aku belajar dari gadis lain. Tapi dengan tololnya aku percaya bahwa saat itu kami saling jatuh cinta, hanya karena satu kalimat picisan yang bahkan tidak keluar dari mulutnya langsung. ‘Aku menyukaimu,’ katanya lewat pesan singkat.

“Lewat pesan singkat?” rasa bingung ikut tersembur keluar lewat mulutku bersamaan dengan pertanyaan itu. Bahkan Jung Eunji yang pintar ini tertipu oleh kelicikan laki-laki bajingan seperti Suho. Setidaknya soal Jin aku bisa memahami liuk pikirnya, tapi bahkan dengan Suho?

Eunji tidak lagi bercerita soal masa mudanya yang dipenuhi romansa muram begitu sepiring sup jamur datang untuknya. Diriku pun tak memaksa wanita jelita itu untuk bercerita, melainkan hanya terfokus ke spaghetti di hadapanku. Wanita itu melahap supnya perlahan, masih dengan etika yang membuatku terpesona. Tapi dalam waktu bersamaan, ekspresinya pahit, membuat perutku melilit karena empati.

Matahari sudah terlelap kala Eunji dan aku meninggalkan cafe itu. Malam identik dengan kriminalitas, maka dengan alasan keselamatan, kutawarkan Eunji untuk pulang bersama. Tidak ada ruginya juga mengendarai mobilku, konversasi yang mungkin terjadi malah akan membuat pertemuan ini semakin berkesan bagiku.

Ekspektasiku soal konversasi tadi lenyap. Eunji malah lebih penasaran akan lampu-lampu dari para pencakar langit di kota yang jauh, terlihat seperti kunang-kunang yang kabur di mataku. Ia hanyut dalam keheningan yang merasuk di antara kita. Pendingin udara membuat telapak indahnya kedinginan, terlihat dari geriknya yang resah lagi rikuh.

“Tanganmu dingin?” tanyaku memastikan ia tidak akan mati hanya karena pendingin. Alih-alih jawaban jujur atau sekedar anggukan kecil, ia menggeleng mantap. Niat awalku adalah, ketika ia mengangguk, aku akan menggenggam tangannya, berbagi sedikit kehangatan yang akan membuat tangannya tidak membiru. Tapi sekarang, toh aku tetap menggenggam tangannya secara tiba-tiba, tanpa peringatan. Aksi kecilku itu membuatnya menoleh, terkesima dengan kontak fisik yang biasanya lebih baik kuhindari. Tapi kemudian ia hanya tersenyum kecil, berterima kasih lewat perasaan hangat yang membersit di hatiku beberapa sekon kemudian.

Jalanan sepi. Sialnya, jalanan sepi.

Roda mobil berhenti saat pintu mobil bagian Eunji sudah tepat di depan pagar rumahnya.

“Rumahmu masih sama dengan yang terpatri dalam memoriku,” omong kosong basi keluar begitu saja, membuat suasana sama busuknya dengan keju kambing. Eunji memoles senyum lagi, dan menatapku setelah mengangguk mengiyakan. “Kamarmu masih berlapis poster H.O.T?” guyonan yang juga sama basinya dengan keju kambing kuutarakan. Tawa terlepas darinya, dariku karena melihat dirinya tergelak. Dan lagi, pandang kami bertaut.

Napasku membara tanpa dasar. Degup yang dulu pernah ada ketika aku dan Eunji masih sama-sama anak sekolahan, kembali. Lidahku yang hingga beberapa detik yang lalu masih mampu melenggok kurang ajar, sekarang lumpuh, hanya mampu menengguk angin guna membasahkan tenggorokanku yang sama keringnya dengan ikan teri asin. Ibu jariku mengelus lembut punggung tangan Eunji yang masih dalam genggamku.

Eunji…

Mataku turun, tiba-tiba tertarik dengan bibirnya, dan yang terbang ke dalam pikirku adalah satu kata saja—cantik.

Aku pusing.

Dunia berputar.

Telingaku berdenging.

Pipiku panas.

Perutku penuh kembang api.

Jantungku berhenti.

Semuanya tidak familiar denganku saat apa yang orang kata ciuman pertama ini terjadi.

Dan setelah aku sadar, ciuman itu selesai.

Eunji…

Wajahnya ada dalam genggamku. Matanya menatapku di saat yang bersamaan mataku menatapnya. Matanya mengungkap banyak emosi, tapi tidak ada lagi kepedihan seperti yang kutemukan tadi siang.

“Kalau segalanya terasa tidak mungkin lagi untuk kau tahan sendiri, aku…”

Suaraku memudar, menjadi bisikan kecil bak tangisan anak domba. Tapi dalam penglihatanku, Eunji masih menatap. Matanya bicara. Aku tahu, katanya. Tangannya naik, merengkuh wajahku. Kehangatan yang menguar dari sentuhannya mengentakkanku, membuatku sekali lagi pening. Matanya masih menatap. Lalu tanpa alasan, rasa menyesal menyergap kala aku mengerti maksud tatapnya.

Dengan enggan menemani, kualihkan tatap menuju dasbor yang menyala redup. “Aku meracau,” dan gelak terpaksa tersembur dari paru-paruku. “Masuklah, sudah larut.”

Dan segalanya selesai.

Sentuhan-sentuhan ringan.

Denging di telinga.

Api di wajah.

Pacuan jantung.

Semuanya hilang.

Eunji memoles senyumnya untuk terakhir kali. Terima kasih, Inguk, katanya, dan raganya beranjak. Pintu berdebum samar saat tertutup. Dengan sedikit suara, Eunji membuka pagar rumahnya dan berpulang.

Aku diam. Napas panjang tersembur dari paru-paruku. Tanganku ada di kemudi, tapi enggan melakukan apapun.

Hal yang kemudian berlangsung adalah kepalaku terantuk kemudi, jatuh lemas karena sebuah perasaan pekat yang amat menyesakkan.

Dan aku melolong sepanjang malam, menangisi sang jelita.

FIN.

I kennot omaigat, bahkan meski aku ga nonton ’97 aku ngeship mereka gimana ini

Harus pergi—ppyong!

Zyan

12 thoughts on “[Vignette] of Her Heart”

  1. aku benar-benar terkesima loh sama fanfiksi ini karena alur dan juga penulisannya.. dapat banget feelnya apalagi karena ditulis dalam sudut pandang orang pertama

    “Hal yang kemudian berlangsung adalah kepalaku terantuk kemudi, jatuh lemas karena sebuah perasaan pekat yang amat menyesakkan.

    Dan aku melolong sepanjang malam, menangisi sang jelita.”

    Ini nih bagian favorit yang ada di paling akhir. Kadang waktu nulis itu aku suka bingung bagaimana mengutarakan kesedihan/kepedihan selain dari “air mata menetes/suaranya tercekat” dan ini yang scripwriter gunakan “melolong” benar-benar salut deh eh… Pasti rasanya pedih banget itu sampai melolong ;-;

    keep writing, scripwriter-nim!❤

    Suka

    1. Kalo dapet feelnya sukur deh, soalnya aku sendiri kesusahan gimana cara nyampein emosi si Inguk tanpa bikin dia keliatan kayak melambai…

      Sip, emang, melolong itu sedih banget fix. Melolong ini aku baca dimana gitu, dan emang ninggalin kesan sedih banget berasa pengen pukpuk:”) Tapi melolong itu kayanya masih kurang gimana gitu, kurang apa gitu.

      Makasih yaaa udah komen~
      Zyan

      Suka

  2. wah zyan. begitu memunculkan nama ni dua org sebenernya udh pingin baca tapi yah akhirnya harus balik bljr buat ujian… skrg udh selesai sih biarkan saya mereview.
    aku keingetan in guk di ‘please don’t’, scene terakhir itu :””’
    yah sedikit kaget juga nama suho dibawa2 jadi bajingan pula tapi gapapa. du in guk kurang agresif niiii ambil mbak eunji buruaaaan
    oh ya tapi aku agak ganjel sama kata ‘melainkan’ yg dipake di paragraf awal, itu maksudnya kyk ‘alih2’ ya? tapi kalo pake kata melainkan aku ga biasa aja bacanya ehe, entah benar entah tidak
    tapi bagus kok! keep writing yak, aku suka feel di cerita ini!

    Suka

    1. KALIANAAA~~ Cie cie yang belajar, emang fix belajar itu ganjalan batin kemana-mana.

      Astagastaga please don’t itu kan yang sama ahn jaehyun juga kan. Sumpah itu kasian banget inguk nya meski agak geleuh juga sih ya nonton itu…
      Ini… aku bukannya gimana-gimana sama suho tapi bener deh kak muka dia tu kayak serigala berbulu domba, rasanya pengen dia jadi orang jahat kaya yang di paradise within thee. Kepalaku isinya suho ngikik2 jahat sambil bermandi duit (apa)
      Iya kak maksudnya alih-alih, entah kenapa alih-alih pake alih-alih aku maunya pake melainkan…. (suka-suka)(biarin dong)(zyan bebas)

      Makasih ya kak lianaa~~
      Zyan

      Suka

  3. pas liat ada nama seo in guk sama jung eunji langsung klik aje. AHAHAHA kukira ini bakal semacem sekuel (?) dari reply1997 btw aku ngeship siwon-yoonjae loh /apasihapa

    ganyangka aja disini mantannya eunji ada jin sama suho. ga kebayang gimana gitu. Mungkin justru karena ga kebayang jadi asyieq aja ye bacanya hahaha aku suka aku suka, endingnya juga aku suka

    keep writing ya^^

    Suka

    1. Bisa semacam sekuel juga sih. Sekuel suka suka diri ini AHAHAHA aku juga ngeship mereka. Gadeng, lebih ngeship yoonjae-joonhee (suka-suka)(biarin ajah)

      Emang asik banget kalo bikin mantan buat ini cast. Banyak gitu dia di shipnya. Biarin aja inguk nya nyesek selamanya #jahat #biar #sukasuka

      Makasih yaaa
      Zyan

      Disukai oleh 1 orang

  4. Uuuwaaaaaaa….
    pdahal ga ngeship gegara baca ini jdi suka couple ini masa 😍😍😍

    Padahal iseng, pas baca awal keterusan sampe fin.. dan ini alurnya asik bgt 😭😭 eh setuju sama komen yg pling atas, klimat terakhir jadi puncaknya.. Asoooyy gila..

    Salam kenyal ya authornim 😚 Keep writing!!
    ~Della

    Suka

    1. YASS PENGIKUTNYA EUNJI-INGUK NAMBAH aku juga tadinya ga ngeship tapi tau2 suka aja gitu.
      Emang kalo pake seo inguk itu harus pake adegan yang sedih gitu, kalo ga sedih bukan seo inguk:”)

      Salam kenal juga yaaa
      Zyan

      Suka

  5. “Eunji sedikit merilekskan tangannya, bersiap untuk bercerita sedikit lebih panjang dari seharusnya dengan jemari lentiknya.”

    dia difabel kah??

    uhh, Inguk tabah sekali dengerin curhatan Eunji tentang cowok-cowok masa lalu, padahal dia sendiri galau in Eunji mati-matian…

    bener2 nge galauin juga bahasanya…

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s