[Ficlet] Chicó est Gâcher : Match Point

Chicó est Gâcher  Match Point

Chicó est Gâcher : Match Point

Chicó Vivienne (Hirose Suzu @ poster), Jeon Jungkook (BTS), Jisoo Vivienne, Jeon Minwoo, Jeon Mino

887 words [romance, comedy, fluff, family]

Aman untuk semua umur. Hanya ada beberapa kata umpatan dan diharapkan kebijaksanaannya.

Presented by ridiculous-gurl

Bush. Bush. Jeon Jungkook menyapu kisah kusut Chicó Vivienne dan wataknya yang berantakan melebihi daun sikamor kering di pekarangan rumah.

Bukan kemauan Chicó untuk membiarkan seorang pemuda terbaring di atas sofa empuknya di waktu yang bahkan ayam jantan masih enggan untuk berkokok. Apalagi sekarang kantung belanjaan Chicó ditambah dengan seperangkat alat P3K. Intuisinya memang sejak awal berkata bahwa ia akan tetap berurusan dengan pemuda asing tersebut walau bagaimanapun keadaannya.

“Anu…” gadis itu mulai memelintir ujung piyamanya. Tapi jangan salah paham, ini jelas bukan tentang mengungkapkan perasaan terpendam.

“Kita bisa membicarakan masalah sepele ini secara baik-baik, bukan?”

Namun dengan hanya sebuah lirikan ekor mata, Chicó langsung ciut dan mulutnya seolah dilakban otomatis.

“Ahh, di sini sangat panas,” pemuda itu mengibas-ngibaskan tangan mengabaikan perkataan Chicó.

Ini sudah kelewat larut malam–bagaimana bisa cuaca berubah jadi sangat panas. Chicó bahkan memperhatikan lekat-lekat keadaan pemanas ruangannya yang sedang rusak. Di samping itu, ia juga tengah menggunakan piyama berbahan wol. Jelas sekali pemuda itu membual tepatnya sengaja membuat Chicó berang.

Bersyukurlah temperamen Chicó masih rendah.

“Anu,” lagi-lagi gadis itu bertarung antara rasa was-was dan keinginan untuk mengusir.

“Kamu kalau lupa jalan pulang, biar aku telponkan polisi. Terkait anak hilang.”

Sekali lagi Chicó mendapat balasan yang sama. Kali ini bahkan menuntutnya untuk bangkit dari duduk serta berkacak pinggang. Ia tidak terima dengan sikap acuh tak acuh seperti itu. Sebagai tuan rumah dia merasa sangat tidak dihargai. Masa bodoh dengan budaya berkenalan di kesan pertemuan pertama. Bagi Chicó, pemuda itu lebih kelewat tidak punya adat.

“Kau pasti orang gila yang dibacarakan orang-orang di komplek sini, iya ‘kan?” ujar Chicó sambil menunjuk langsung ke wajah sang lawan bicara. Tensinya perlahan menaik.

“Aku? Orang gila? Hah? Aku Jeon Jungkook.”

Chicó mendesah malas, “Celana pemberian Rumah Sakit Jiwa. Perban-perban itu—ya ampun! Apalagi kalau bukan orang gila.” Ia memperhatikan setiap sudut tubuh lelaki di hadapannya.

Tak mau kalah, laki-laki yang diduga sinting oleh Chicó tersenyum miring. “Kalau saja aku benar-benar gila. Mungkin sekarang aku sudah menggerayangimu.”

Satu.

Dua.

Tiga.

“ME—MESUM!

HEH, DEMI SAUS TARTAR! AKU TIDAK SUDI MENAMPUNGMU!”

Chicó tidak segan menendang bokong Jungkook tidak manusiawi.

Alhasil Jungkook berpura-pura terkapar di atas lantai, “Ack, tulangku! Tulangku! Oh, sepertinya remuk lagi.” Ia bertingkah seakan pengobatan tulangnya terganggu akibat jurus Kungfu Panda barusan.

Chicó terdiam, Jungkook mengingatkannya pada rintihan sakit Jisoo sepuluh tahun silam ketika adiknya tersebut masih berumur 5 tahun.

Tubuh Jisoo sangat rentan terhadap serangan penyakit. Namun Chicó kecil tahu persis rasanya selalu mendekam di dalam rumah dan diberikan pembatasan untuk melakukan ini dan itu.

Bocah seumuran Jisoo harusnya bisa merasakan kebebasan seperti anak kecil lain. Maka dari itu, jika ada kesempatan—Chicó selalu dengan nekat membawa adiknya ke taman kota. Mengajaknya bermain pick a boo! atau sekedar menikmati Churros di bawah pohon mapel.

Mereka pergi tanpa sepengetahuan Ayah dan Ibu. Keduanya berlari kecil melewati jejeran pohon sakura, merasakan aroma hembusan pertama angin musim semi bulan April. Kemudian Jisoo terus merengek ingin duduk di salah satu ranting pohon sakura.

Chicó kecil jelas bingung harus berbuat apa—di samping itu ia sangat sulit mengabaikan permintaan sang adik kesayangan walau seaneh apapun. Alhasil Chicó meletakkan Jisoo pada ranting yang terlihat kuat dan tidak begitu tinggi.

Chicó  tidak suka mendengar Jisoo menangis. Sampai akhirnya itu menjadi kali pertama Chicó membuat Jisoo menangis tanpa suara.

Jisoo kecil tiba-tiba melepas genggaman tangannya pada sang kakak dan badan lemahnya limbung ke belakang. Jisoo terjatuh dengan pundak kiri lebih dulu mendarat ke tanah.

“Ka…kak. Sa…ki…t.”

Saat itu, bukan Jisoo yang menangis dan meraung kencang—melainkan Chicó yang tidak berhenti mengeluarkan air mata dan memeluk adiknya begitu erat.

Jisoo didiagnosa akan mengalami cacat pada pundak kirinya hingga dewasa.

Tapi Chicó bersyukur bahwa apa yang dikatakan cacat hanyalah salah satu tulang di pundak kiri Jisoo yang sedikit terangkat dan tidak memiliki pengaruh buruk lain. Setidaknya semua anggota badan Jisoo masih dapat berfungsi. Meskipun itu tetap menjadi penyesalan terbesar Chicó. Sampai sekarang ia terus berhati-hati ketika berada di dekat adiknya. Kendati Ayah dan Ibu berulangkali menekankan bahwa semua baik-baik saja dan itu hanyalah sebuah kecelakaan.

“Kau…menangis? yang benar saja. Aku tak pernah berpikir kau akan mengkhawatirkan orang tidak waras sejauh itu.”

Chicó mengusap matanya lantas menatap Jungkook kesal. Ia sadar tengah mengkhawatirkan orang yang salah. Gadis itu hanya takut jika ia menjadi penyebab masalah yang sama. Tapi melihat Jungkook yang jauh dari kata ‘orang sakit’ melainkan lebih seperti pasien ‘sakit jiwa’ membuat respeknya hilang.

Ia hendak menarik dan mengacak-acak perban di tubuh Jungkook namun segera ditahan tangan besar pemuda itu, “Mau apa?”

“Kalau kau sedang patah tulang, tidak mungkin semua bagian yang dibalut perban ini mampu membuatmu duduk tegap. Jangan menipuku,” ujar Chicó tak sabaran sesaat setelah ia menunjuk-nunjuk dari pundak sampai pinggang Jungkook.

“Apa untungnya aku menipumu.”

Jungkook bangun dan mensejajarkan tingginya dengan badan mungil Chicó. Sudut mata Jungkook memberikan penekanan bahwa ia tidak sedang ingin main-main.

“Pertama, kau sebenarnya tidak perlu merasa bersalah denganku. Karena tendangan kerikilmu bahkan tidak mengenaiku saat aku melompat dari tembok.”

Perlahan jari lain terangkat. “Kedua, aku tidak memburumu agar memberiku pertanggung jawaban. Percayalah. Karena kau tiba-tiba saja kabur setelah mendengar aku merintih kesakitan. Kau tanpa sadar membiarkan kantung belanjaanmu tergeletak di jalan. Dan aku terpaksa mengejarmu untuk itu.”

Jari manis Jungkook terangkat. “Ketiga, salah satu tulang punggungku memang agak retak dan itu mengharuskanku agar istirahat total di rumah sakit. Masalahnya, aku benci rumah sakit. Ini menjadi kesekian kalinya aku kabur dari sana. Lagipula, semua orang juga tau bahwa kostum Rumah Sakit Swasta dan Jiwa sangat jauh berbeda..”

“..kau tidak bego ‘kan?” lanjutnya.

Mustahil jika Chicó tidak kehilangan kata-kata.

cut.

One thought on “[Ficlet] Chicó est Gâcher : Match Point”

  1. annyeong ridiculous-gurl~

    HEH, DEMI SAUS TARTAR! AKU TIDAK SUDI MENAMPUNGMU! –> LOVE the catchy sentence!😀

    I have to admit, writing style kita mirip.. hehehehe.. *virtual high 5*

    aku suka cara kamu describe karakter Jungkook di sini, tipe2 cowo cuek yang K-Drama banget🙂

    terus karakter Chicó juga aku suka karena kamu mampu memasukkan cerita masa lalu Chicó as part of what makes her today. jd karakternya lebih real dan relatable🙂

    dan cerita masa lalu Chicó dan Jisoo itu sedih tapi sweet banget, sebagai kakak perempuan, aku bisa ngerasain banget.

    looking forward to read more from you

    keep on writing and fighting!🙂

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s