The Story Only I Didn’t Know [9/9]

The Story Only I Didn't Know

Title: The Story Only I Didn’t Know [9/9]

Scriptwriter: Ririn_Setyo

Main Cast: Park Chanyeol, Song Jiyeon, Park Minjung

Support Cast: Lee Sungmin, Kim Sangwon, Park Jungso, Choi Siwon, Other cast

Genre: Romance, Family

Duration: Chaptered 1-9

Rating: Adult

Previous part: 1 // 8

-“Ah! Apa mencintai harus sesakit itu?”-

 

Seoul International Hospital

Emergency’s Room

Suara gesekan roda ranjang pasien yang beradu dengan lantai dingin rumah sakit mulai terdengar di sepanjang koridor, memecah kesedihan yang tergambar jelas di wajah orang-orang yang berjalan cepat di sekeliling ranjang, berburu waktu yang kian menyempit guna sebuah nyawa dari orang terkasih.

Di ranjang itu terbujur tubuh kaku Park Chanyeol yang mulai mendingin, darah kental yang terus keluar tanpa bisa di berhentikan. Darah dari lubang menganga di mana sebuah peluru tertanam di sana, di bahu kanan hingga hampir menembus pundak bagian belakang.

Airmata Minjung terus mengalir tanpa henti, tersedu dengan rasa sesal yang menyelimuti hati. Sesal karna pernah menyiayiakan seseorang putra terbuang yang ternyata mencintainya begitu dalam, rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan dirinya membuat Minjung terus meratap memangil nama Park Chanyeol yang kali ini tak menjawab sekali pun.

Pintu ruang operasi sudah ada di depan mata, sesaat kemudian terbuka dengan puluhan perawat dan beberapa dokter yang sudah dalam keadaan siaga, tanda jika Minjung dan beberapa orang lainnya yang menyayangi Chanyeol harus menghentikan langkah mereka. Menyerahkan kepada dokter untuk mengeluarkan peluru yang bersarang, berserah dan meminta kepada Tuhan untuk tetap berpihak pada Chanyeol hingga mengizinkan laki-laki itu untuk terus bernafas.

***

Eunjung masih berdiri mematung di tempatnya berpijak sejak semua orang meninggalkannya begitu saja, sesaat setelah insiden wanita itu menembak Park Chanyeol. Terpuruk sendiri dengan rasa yang berkecambuk, rasa gamang berselimut putus asa dengan semua yang sudah terjadi dalam hidupnya yang kelam.

“Eunjung,— kau benar-benar wanita tak punya hati, aku— benar-benar tidak menyangka jika kau tega ingin menghabisi nyawa saudara mu sendiri, dan kini— kau bahkan melukai putra mu, darah daging mu sendiri!”

Ucapan keras dari Seungho beberapa saat yang lalu kembali berputar acak di pikiran Eunjung, tatapan sayang Chanyeol saat membela Minjung dan airmata Minjung yang menangisi Chanyeol kembali mencabik hati Eunjung, membuat sedikit rasa sesal di hati wanita tak berperasaan itu.

Rasa yang sudah lama tak lagi di rasakan Eunjung, sejak rasa kecewa hingga melahirkan rasa dendam yang membekukan hati. Eunjung menghapus sebulir airmata yang tiba-tiba mengalir dari sudut matanya, wanita yang masih terlihat sangat cantik di usia tak lagi muda itu tampak berjalan terhuyung menuju pinggiran tembok basement.

Berdiri mematung dengan tatapan hampa, meratapi garis hidup yang menjadi kacau oleh ulahnya sendiri. Ulah yang sudah di tunggangi dendam dan iri hati hingga menghilangkan Eunjung sang gadis periang dan mempunyai banyak impian, berubah menjadi wanita dingin yang haus dengan rasa dendam yang menyakiti hati.

Tubuh Eunjung bergetar tangan kurus itu mulai bergerak, memeluk erat besi bulat yang menjadi batas terakhir basement dengan dunia bebas di bawah sana. Perlahan Eunjung menundukkan wajahnya menatap ke bawah dengan jarak puluhan meter, tersenyum samar saat bayangan hidup bahagianya berkelebat acak di depan wajahnya, kehidupan bersama saudara kembarnya Minjung yang dulu sangat di sayanginya, tawa bahagia saat melewati hari sempurnanya bersama Park Seungho.

Eunjung semakin mencodongkan tubuhnya ke bawah, sebulir airmata kembali menetes dari mata sayu Eunjung, hingga jatuh lalu hilang terbawa angin sore yang membelai dingin wajah frustasi Eunjung. Hingga tubuh itu pada akhirnya terjungkal, jatuh tak terbendung hingga berakhir di atas sebuah mobil dengan bunyi dentuman di iringi suara alarm yang terdengar memekakkan telinga di belakangnya.

***

Next’s Day – The Funeral

Isak Minjung masih terdengar menyayat hati, berdiri dalam dekapan erat Park Jungsoo, menatap sebuah nama yang tercetak jelas di atas batu nisan di depannya. Nama dari seorang wanita yang terlahir 1 menit sebelum dia dilahirkan, wanita yang dulu sangat menyayanginya dan selalu melindungi Minjung dari apapun.

Lee Eunjung sudah mengakhiri hidupnya dengan jalannya sendiri, menyisakan tubuh kaku bersimbah darah yang membuat Minjung kehilangan kesadarannya kemarin. Wanita yang masih sangat cemas dengan keadaan Chanyeol itu, menjerit histeris saat Sungmin memberikan kabar tentang kematian Eunjung.

Jungsoo mengeratkan pelukannya di tubuh sang ibu tercinta, menatap Seungho yang berdiri di sampingnya. Laki-laki paru baya itu tampak memejamkan matanya seraya menghembuskan nafas beratnya, tidak menyangka jika Eunjung akan mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini.

Sesaat kemudian mereka bertiga tampak mulai melangkah meninggalkan makam, berjalan menuju mobil dengan beberapa pengawal berbaju hitam lengkap dengan Lee Sungmin yang kini sudah membungkuk hormat ke arah Seungho, Minjung dan juga Jungsoo.

Laki-laki berwajah dingin itu tampak tersenyum ke arah Seungho sesaat sebelum membuka mulutnya, memberi kabar gembira kepada keluarga yang sudah memperkerjakan dirinya hingga Sungmin mempunyai tabungan yang cukup untuk biaya kuliah Xiumin, setelah dia membawa pulang adik laki-lakinya ke China nanti.

“Tuan Park, dokter Seunghyun baru saja memberi kabar jika— tuan muda Park Chanyeol baru saja sadarkan diri,” ucap Sungmin dengan senyum hormatnya.

Minjung sontak membulatkan matanya, begitu pula dengan Seungho dan Jungsoo. Minjung tersenyum lebar seraya menatap Seungho dengan sebulir airmata bahagia yang menyelimuti hati, menggikis rasa khawatir yang bersarang di dalam diri sejak kemarin.

“Oppa,—“ ucap Minjung seraya menghambur dalam pelukan Seungho, tertawa bahagia dengan airmata yang semakin mengalir, membuat Jungsoo tersenyum lega saat menyadari jika keluarganya akan kembali berselimut bahagia sebentar lagi.

***

Jiyeon’s House

Porch

Jiyeon mendudukkan tubuhnya di sofa biru yang ada di beranda rumahnya, mengigit jari-jarinya dengan gusar dengan rasa cemas yang semakin membuncah, rasa cemas saat mendapat kabar jika Chanyeol kini tengah terbaring tak sadarkan diri pasca operasi karna sebuah kecelakaan yang membuat bahu laki-laki itu cedera di rumah sakit.

Kabar yang terasa seperti petir yang menguncang hati Jiyeon hingga membuat gadis itu tak dapat memejamkan matanya sejak semalam, sejak paman Sangwon memberikan kabar itu padanya. Jiyeon menahan desakan airmata yang mulai mengaburkan pandangannya, gadis itu benar-benar sudah tidak dapat bernafas dengan benar sekarang, namun terlalu takut untuk datang dan melihat keadaan Chanyeol secara langsung.

Terlalu takut jika nanti keadaan tidak berubah menjadi lebih baik, terlalu takut saat membayangkan jika harus kehilangan orang yang mulai di sayangi Jiyeon untuk kedua kalinya. Jiyeon tak ingin kembali merasakan sakit karna kehilangan, sama saat dia harus kehilangan seorang Choi Siwon.

Jiyeon tetap membeku di posisinya hingga tidak sadar jika saat ini sudah ada sosok laki-laki tinggi yang duduk di sebelahnya, menatap binggung ke wajah Jiyeon yang terlihat pucat.

“Jiyeon-aa gwenchanayo?” sapa laki-laki itu dengan mengusap bahu Jiyeon dengan lembut, membuat Jiyeon tersentak seraya menolahkan wajahnya.

“Siwon oppa,?” sapa Jiyeon dengan wajah terkejutnya, menyapa laki-laki yang datang ke rumahnya sejak 1 jam yang lalu.

Laki-laki itu tersenyum dengan tangan yang mulai membelai puncak kepala Jiyeon dengan sayang, mengusap wajah pucat Jiyeon dengan rasa khawatir yang mulai terlihat jelas di wajahnya kini.

“Ada apa?” tanya Siwon pada akhirnya, karna laki-laki itu tahu jika Jiyeon sedang tidak baik-baik saja sekarang.

“Chanyeol-aa,— dia— dia koma belum juga sadarkan diri,” airmata Jiyeon tumpah seketika, terisak tertahan saat rasa cemas itu sudah semakin menyakiti hati, menangis tersedu sesaat setelah Siwon menarik tubuh bergetar Jiyeon dalam pelukannya.

“Aku takut oppa,— sangat takut jika aku— aku kembali merasakan kehilangan sama saat aku kehilangan diri mu,—“ suara Jiyeon terdengar serak, berusaha mengeluarkan semua beban dengan suara yang tersendat.

Siwon terlihat menghentikan gerakan tangannya membelai punggung gadis yang sangat di sayanginya itu, sedikit berfikir tentang ucapan Jiyeon yang terdengar janggal. Siwon melepaskan pelukannya menatap Jiyeon yang masih menangis itu dengan dalam, tangan kekar itu bergerak menghapus laju airmata Jiyeon yang masih setia mengalir.

“Jiyeon— apa maksud,—“ ucapan Siwon terputus saat suara dari handphone Jiyeon yang tergeletak di meja.

Dengan tangan gemetar Jiyeon meraih handphonnya, menatap ke arah layar dengan degupan jantung yang memacu saat membaca nama pemanggil, nama yang kemarin memberinya kabar tentang keadaan koma Park Chanyeol.

“Paman Sangwon ad—ada apa?” tanya Jiyeon dengan terbata, gadis itu benar-benar takut dengan kabar yang akan Sangwon sampaikan sebentar lagi.

Namun sesaat kemudian senyum lebar Jiyeon mulai merekah saat Sangwon baru saja menghentikan ucapannya, ucapan yang memberi kabar gembira hingga Jiyeon tertawa dengan airmata, kali ini dengan airmata bahagia.

Gadis itu menatap Siwon dengan senyum yang semakin lebar, memeluk laki-laki itu dengan erat. “Chanyeol sudah sadar oppa!”

***

Seoul International Hospital

Chanyeol VVIP Room

Senyum bahagia Minjung yang duduk di sebuah sofa tepat di samping ranjang pasien masih setia merekah sedari tadi, menatap wajah pucat Chanyeol dengan luapan rasa lega dengan sejuta bahagia yang mampu membuat wanita itu menangis haru. Memeluk tubuh lemah Chanyeol saat baru saja tiba di rumah sakit beberapa saat yang lalu, memeluk putra tersayangnya yang sempat di benci hingga membuat Chanyeol terdiam dalam tangis haru yang membahagiakan hati.

Di samping Minjung duduk Seungho yang tertawa pelan melihat Minjung yang kembali menjadi ibu yang cerewet untuk Chanyeol, kembali menjadi ibu yang mempunyai sederet aturan menyebalkan yang sejak dulu selalu membuat Chanyeol berlari ke Jungsoo untuk meminta bantuan.

Begitu pula dengan Jungsoo yang duduk di atas ranjang tepat di samping Chanyeol, tertawa saat Chanyeol yang meminta dirinya untuk menghentikan Minjung saat wanita itu memaksa Chanyeol untuk tetap di rumah sakit hingga kondisinya benar-benar pulih, tidak boleh bergerak sedikit pun hingga dokter menyatakan jika tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan dari bahu Chanyeol.

Eomma aku sudah baik-baik saja,” ucap Chanyeol seraya menatap bahunya yang masih terbalut perban, membuat Minjung kembali mengeluarkan ultimatum kepada Seungho dan Jungsoo untuk tidak membujuknya berhenti kali ini saat dua lelaki itu menatapnya dengan tatapan memohon.

“Tidak bisa! Kau harus tetap di rumah sakit dan tidak boleh bergerak sebelum benar-benar sembuh,” ucap Minjung lagi seraya menegakkan tubuhnya, mengusap wajah pucat Chanyeol dengan rasa cemas.

Chanyeol terlihat tersenyum menatap Minjung yang kembali seperti saat dia datang pertama kali di keluarga Park, kembali menjadi sosok Minjung yang hangat dan sangat menyayanginya. Chanyeol sungguh bahagia, laki-laki itu sudah melupakan semua sakit yang dulu sempat menghiasi hati, kembali menatap keluarganya dengan rasa bahagia yang tak terlukiskan.

“Eomma,— Sarangaeo,” ucap Chanyeol saat tangan Minjung masih mengusap wajahnya, membuat pergerakan tangan Minjung terhenti dengan butiran airmata haru yang memenuhi pelupuk matanya.

Minjung mengecup kening Chanyeol dengan sayang, memeluk tubuh Chanyeol dengan hati-hati seraya mengucapkan sebaris kalimat yang membuat Chanyeol yakin jika sang ibu sudah benar-benar kembali.

“Eomma do sarangae,— Chanyeol-aa,“

***

Jiyeon melebarkan langkahnya berjalan tergesa di sepanjang koridor rumah sakit, senyum bahagia itu masih terpatri di wajah cantik Jiyeon sejak kabar jika Chanyeol sadar dari koma, senyum penuh rasa kelegaan.

Jiyeon menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu dengan begitu banyak laki-laki tegab berbaju hitam, gadis itu menunduk dan langsung tersenyum saat tiba-tiba Sangwon muncul untuk menyambutnya dari balik pintu yang terbuka.

“Jiyeon aggashi,— tuan muda sudah menunggu di dalam,” sapa Sangwon dengan senyum sopannya, mempersilahkan Jiyeon untuk masuk seraya menutup pintu nyaris tanpa suara.

Jiyeon melangkah ragu dengan mata yang menatap ke arah laki-laki yang duduk santai di atas ranjang paseinnya, laki-laki yang masih terlihat sangat pucat dengan baju pasein berwara hijau yang memperlihatkan bahu kanan dengan lilitan perban, laki-laki menyebalkan yang kemarin sukses membuat Jiyeon tak menemukan oksigen di paru-parunya.

Jiyeon tersentak saat mata bulat itu menatapnya, tersenyum jenaka seperti biasa seraya melambaikan tangan kirinya yang terbebas dari lilitan perban ke arah Jiyeon yang masih menegang.

“Jiyeon,— kenapa hanya berdiri di sana,” Jiyeon tersenyum kaku, seraya berjalan mendekat hingga berdiri di samping ranjang.

“Chanyeol-aa gwenchana?” tanya Jiyeon dengan senyum kakunya, entahlah Jiyeon merasa sedikit gugup.

“Eoh!” Chanyeol mengangguk seketika.

“Paman Sangwon memberi ku kabar jika,— kemarin kau koma benar begitu?” tanya Jiyeon dengan suara pelannya, menahan airmata yang tiba-tiba saja kembali berkumpul di pelupuk matanya saat membayangkan keadaan Chanyeol kemarin.

Heemm— tapi sekarang aku sudah baik-baik saja.” Jawab Chanyeol santai lengkap dengan senyum menyebalkan khas seorang Park Chanyeol, membuat Jiyeon tanpa sadar meneteskan airmatanya, airmata kelegaan di iringi senyum bahagia.

Hey! Kenapa kau menanagis?” tanya Chanyeol dengan alis yang bertaut. “Aku— hanya terlalu senang karna kau baik-baik saja,” ucap Jiyeon seraya menghapus airmatanya, mengutuk dirinya sendiri yang terlalu mudah menangis sejak dulu.

Chanyeol tersenyum seraya mengerakkan tangan kirinya, meraih jemari Jiyeon dan menggengamnya dengan erat. “Kau mengkhawatirkan ku?” tanya Chanyeol dengan senyum hangatnya.

Tanpa sadar Jiyeon mengangguk dan membiarkan tangan kiri Chanyeol menarik tubuhnya, hingga Jiyeon terduduk di atas ranjang. “Benarkah?” Chanyeol memastikan.

Jiyeon sedikit menuduk. “Tidak! Aku hanya,—“ ucapan Jiyeon terputus saat tiba-tiba Chanyeol menarik tubuhnya, memeluknya dengan erat.

“Gomawo,—“ ucap Chanyeol tepat di sebelah telinga Jiyeon, membuat tubuh Jiyeon menegang sempurna. “Kau tahu— hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk ku,—“ Chanyeol mengantungkan kalimatnya, membiarkan Jiyeon sedikit penasaran dengan ucapan selanjutnya.

“Karna sekarang aku— mempunyai seorang ibu yang sangat menyayangi ku, mempunyai ayah yang selalu menyempatkan hari sibuknya untuk ku, mempunyai seorang kakak laki-laki yang rela melakukan apapun untuk tawa bahagia ku. Dan— sekarang aku punya kau, gadis yang selalu membuat ku lupa dengan semua kesedihan hati ku—“ Chanyeol tersenyum lebar dengan tetap memeluk Jiyeon.

Sedangkan Jiyeon gadis itu hanya terdiam dalam kebimbangan hati, bimbang saat harus menempatkan menjawab apa, bimbang harus menempatkan Chanyeol di mana. Di dalam hatikah? Entahlah Jiyeon masih terlalu abu-abu dalam menentukan perasannya terhadap Chanyeol, terhadap laki-laki yang perlahan membuatnya melupakan Siwon dan selalu membuatnya tersenyum dalam balutan rasa merindu yang mengharu biru.

Chanyeol melepaskan pelukannya, menatap Jiyeon yang masih terdiam dengan senyum lembutnya. “Sarangae-— Song Jiyeon.”

THE END

Terima kasih sudah mengikuti cerita ini

Cerita ini juga dipublikasikan di blog pribadi

https://ririnsetyo.wordpress.com

Silahkan mampir🙂

 

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s