Undercover Love (2)

Undercover Love

[CHAPTER 2]

Undercover Love

story by ayshry

[Up10tions] Lee Changhyun (Bitto) ||  [OCs] Shin Mea || [Up10tions] Lee Wei || [Seventeens] Jeon Wonwoo

AU!, Marriage Life, Romance, Action, slight!Comedy/Chaptered/PG-15

Disclaimer : Cast belong to God and the plot is Mine!

poster by iamjustagirls thanks!

previous: PROLOG / 1

-HAPPY READING-

 

***

Direktur Shin, anda mendapat sebuah pesan dari Tuan Choi. Saya sudah meletakkannya di meja anda.”

“Oh baiklah. Omong-omong bagaimana dengan jadwalku hari ini? Apakah sangat padat?”

“Hmm, tidak Direktur. Hanya ada sebuah rapat yang akan dihadiri oleh Komisaris Shin dan mewajibkan semua Direktur dan para petinggi lainnya hadir.”

“Rapat? Aku tak mendengar hal itu sebelumnya.”

“Memang rapat tersebut tidak terjadwal karena Komisaris Shin memintanya secara tiba-tiba. Beliau juga berpesan agar anda turut hadir di sana.”

“Baiklah. Ingatkan aku setengah jam sebelum rapat dimulai. Aku akan langsung menuju ruanganku.”

“Baik, Direktur Shin.”

Mea berjalan dengan santai menuju ruangannya. Ketika hendak menduduki kursinya, maniknya langsung tertuju pada selembar kertas yang tergeletak di atas mejanya. Dengan terampil, tangan mungil miliknya mraih kertas tersebut lantas mulai membaca isinya.

Direktur Shin, aku mengundangmu untuk makan malam bersama. Besok, pukul 8 malam aku menunggumu di restoran hotel milikku, kuharap kau bisa meluangkan sedikit waktumu untuk sekedar bercengkrama denganku.

Tuan Choi

 

Mea mendesah ringan. Tangannya mengangkat gagang telepon dan menghubungi sebuah nomor yang langsung tersambung kepada sekretarisnya.

“Tolong kosongkan jadwalku besok malam dari jam 7, Tuan Choi mengundangku untuk makan malam bersamanya besok.”

“Baik, Direktur Shin.”

***

 

Dirumah, Changhyun menyibukkan diri dengan kegiatan rumah tangga. Pemuda itu membersihkan setiap sudut rumah, mengepel lantai, bahkan membuat makanan untuknya dan juga istrinya—Mea.

Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa pemuda itu malah berada di rumah bukannya di sebuah perusahaan atau tempat ia bekerja. Jawabannya hanya satu: pemuda itu pengangguran.

Ya, Lee Changhyun memilih untuk menghentikan aktivitasnnya di luar rumah setelah ia menikah dan tentu saja hal tersebut karena mengikuti keinginan Mea. Gadis itu menuntutnya untuk tetap berada di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan tidak menampakkan dirinya pada orang-orang disekitar Mea. Seperti yang kalian ketahui, Mea terlalu membenci pemuda itu sehingga ia tak ingin keberadaan Changhyun diketahui oleh banyak orang. Cukup orang-orang terdekatnya saja yang mengetahuinya—bahkan hal itu saja sudah cukup membuatnya merasa amat malu.

Dan lagi, Changhyun adalah anak dari seorang konglomerat yang artinya meskipun pemuda itu menganggur, pundi-pundi uang tetap akan mengalir kepadanya. Jadi tak akan ada masalah dalam keuangan, satu-satunya masalah yang dimilik Mea adalah: memiliki pemuda culun itu sebagai suami sahnya.

Kembali kepada Changhyun, saat ini pemuda itu tengah sibuk memperhatikan sebuah jam besar yang tergantung di dinding rumahnya. Dengan seksama ia memperhatikan jarum pendek dan panjangnya yang bergerak sesuai dengan detak yang terdengar, sepertinya Changhyun tengah menunggui seseorang.

Ting Tong.

Suara bel berbunyi dan seketika itu pula Changhyun langsung berlari menuju pintu dan membuknya.

“IBU!” pekiknya ketika mendapati seorang wanita paruh baya tengah berdiri di ambang pintu.

“Changhyun-a, aku merindukanmu.” Spontan sang ibu langsung memeluk anaknya itu erat-erat.

“Aku juga merindukanmu, Bu,” jawab Changhyun sembari membalas pelukan ibunya.

“Kau sendiri saja di rumah? Ini Ibu membawakan beberapa lauk untuk kalian.”

Changhyun segera mengambil bungkusan yang berada di tangan ibunya lantas membawa ibunya masuk ke dalam.

“Dimana Mea?”

“Mea-ku s-sedang bekerja, Bu, jadi aku t-tinggal di rumah saja. Ibu duduklah, a-aku akan meletakkan ini di lemari pendingin d-dulu.”

Changhyun berlalu sedangkan sang ibu menuruti perintah anaknya untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang tamu.

“Jadi, kau selalu sendirian, Changhyun-a? Di rumah sebesar ini?” tanyanya ketika Changhyun telah kembali dari dapur.

Changhyun mengangguk. “Aku baik-baik s-saja, Bu. Aku ‘kan m-memang lebih suka menghabiskan w-waktu dengan berdiam diri di rumah d-dan nantinya aku bisa s-selalu menyambut kepulangan Mea-ku.”

Sang ibu tersenyum. “Kau begitu menyukai Mea, huh?”

“Tentu saja, Bu, aku bahkan sangat bersyukur bisa menikah dengannya. Mea-ku sangat cantik, d-dia juga sangat baik. A-aku senang sekali bisa menjadi s-suaminya.”

“Tentu saja, Changhyun-a, kau memang harus berbahagia. Ternyata Ibu tak salah memilih Mea sebagai pendamping hidupmu. Selama kau bahagia, maka semuanya akan baik-baik saja dan Ibu akan ikut bahagia bersamamu.”

Changhyun tertawa. “Mea-ku benar-benar b-baik. Aku sungguh m-mencintainya, Bu.”

“Hmm, omong-omong Changhyun-a, apa kau sudah melakukan yang aku katakan padamu sebelumnya?”

“M-melakukan apa, Bu?”

“Membuatkan seorang cucu untukku, ah, bagaimana mungkin kau semudah itu melupakannya, Changhyun-a?”

“Ibu! K-kau membuatku malu.” Tiba-tiba saja Changhyun berdiri sembari memegangi pipinya, detik berikutnya pemuda itu melesat menuju kamarnya, meninggalkan sang ibu yang tertawa geli melihat tingkahnya tersebut.”

“Changhyun-a, kenapa kau meninggalkanku, huh?” Wanita paruh baya itu akhirnya menyusul sang anak. Mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang tertutup sembari membujuk anaknya agar segera keluar dari sana. “Maafkan Ibu, ya karena telah membuatku merasa malu. Ayo keluarlah, tega sekali kau meninggalkan Ibumu sendirian di sini.”

Hening. Changhyun tak kunjung menjawab dari dalam sana.

 

“Changhyun-a, ayolah, jika kau tak keluar maka aku akan pergi. Kau tak ingin melihat Ibumu lagi ‘kan ya? Lagi pula Ibumu ini tak bisa berlama-lama di sini, jadi keluarlah. Ibu akan pulang.”

“Ibu!” Changhyun berseru dan kini pintu kamarnya telah terbuka lebar. “K-kau akan pulang? Secepat i-ini? Aku, aku ‘kan masih ingin b-bersamamu, Bu.”

“Aku juga masih ingin berlama-lama bersamamu, Changhyun-a, tapi kau tau sendiri ‘kan masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan? Jadi mau tak mau aku harus pulang.”

“Tapi Bu—“

“Sebentar lagi Mea akan pulang ‘kan?”

“Hmm entahlah, s-sepertinya Mea-ku akan pulang t-terlambat hari ini.”

“Begitukah? Aduh, Ibu jadi semakin tak tega meninggalkanmu sendirian.”

“J-jadi Ibu akan tinggal di sini lebih l-lama lagi? Iya?” Bak anak kecil yang hendak diberi permen, mata Changhyun membulat serta berkilat bahagia.

Sang Ibu menggeleng, membuat kebahagiaan langsung sirna dari tatapan Changhyun. “Maafkan Ibu Changhyun-a, aku memang ingin tinggal tapi aku tak bisa. Aku harus pulang sekarang. Kau tidak kenapa-kenapa ‘kan, Ibu tinggal sendirian lagi?”

“O-oh baiklah, Bu, aku tahu k-kau sangat sibuk.”

Melihat raut wajah anaknya yang menyiratkan kesedihan membuat wanita prauh baya itu menghela napas berat. Tangannya yang kosong ia selipkan di lengan anaknya lantas menuntunnya menuju pintu depan.

“Ibu pergi dulu, ya, Changhyun-a.”

Changhyun mengangguk lemah.

“Kuharap Mea-mu akan segera pulang. Bye-bye, Changhyun-a.”

Dan setelah salam perpisahan tersebut terlontarkan, sosok wanita paruh baya itu menghilang di balik pintu. Meninggalkan Changhyun yang masih bertahan dengan kesedihannya lantaran di tinggal sendirian; lagi.

Changhyun menarik napas lantas membuangnya dengan kasar. Ia kemudian berbalik lalu berjalan menuju sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai macam buku, ruangan yang menjadi tempat favorit Changhyun saat ia diharuskan menghabiskan waktunya sendiri; perpustakaan pribadi miliknya.

 

***

 

Mea baru saja menginjakkan kakinya di ruang rapat. Ruangan besar itu nyatanya masih kosong dan mau tak mau akhirnya gadis itu memutuskan untuk menunggu sembari melihat-lihat agenda rapat yang akan dilaksanakan nanti.

“Jadi, apa saja agenda rapat kali ini?” tanyanya kepada sang sekretaris yang setia berada di sampingnya.

“Tidak jelas, Direktur Shin. Semuanya serba tertutup. Yang kudengar Komisaris Shin akan melakukan beberapa review serta membuat suatu pengumuman tentang ahli waris. Tapi ini semua tidak pasti dan hanya desas-desus yang sempat terdengar olehku.”

Mea hanya mengangguk-angguk meski sebenarnya ia merasa amat penasaran. Jika itu tentang ahli waris atau pun penerus, pastinya ia akan diberi tahu pertama kali, karena siapa lagi penerus perusahaan ini jika bukan seorang Shin Mea yang notabenenya adalah anak tunggal dari Komisaris Shin.

Setelah beberapa waktu menunggu, satu-persatu orang mulai memasuki ruang rapat tersebut. Sama seperti Mea, mereka semua bahkan saling berbisik menanyakan situasi saat ini.

Ketika semuanya masih sibuk bertanya-tanya, suara pintu yang terbuka serta kedatangan Komisaris Shin membuat keadaan menjadi hening. Mereka semua berdiri sembari menyambut kedatangan pemilik perusahaan tersebut.

BRAK!

 

Tanpa diketahui sebab pastinya, Komisaris Shin yang bahkan belum sempat duduk di kursinya langsung menggebrak meja lantas melempar lembaran kertas ke udara.

“BODOH! KALIAN SEMUA BEGITU BODOH!” ia berteriak marah.

“Ayah—ah maksudku, Komisaris Shin, sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa anda tiba-tiba marah seperti ini?” tanya Mea penasaran—lebih tepatnya heran karena sikap ayahnya yang tak biasa tersebut.

“Kau masih berani bertanya, Shin Mea?!” Kilatan mata pria paruh baya itu membuat Mea kehiangan kata-kata. “Sebenarnya apa saja yang telah kau lakukan selama ini, Direktur Shin? Kenapa perusahaan bisa mengalami kerugian sebesar ini eoh?”

Mea mendesah lantas memunguti lembaran kertas yang bertebaran di atas lantai. Mata gadis itu melotot ketika membaca setiap kata yang tertera di sana.

“Kenapa bisa seperti ini? Aku bahkan sudah menadapatkan konrtak kerja sama bersama Tuan Choi, jadi tak mungkin hal seperti ini bisa terjadi! Tidak, pasti ada kesalahan yang membuatnya jadi seperti ini.”

“Kerjasama? Omong kosong! Lihat apa yang sudah dilakukan Tuan Choi pada perusahaan kita. Dia bahkan telah menarik seluruh sahamnya dan menyebabkan kerugian yang amat besar!”

Mea tertunduk dengan sebelah tangan menopang keningnya; ia terlihat begitu frustasi.

“Jika seperti ini kinerjamu, maka aku tak akan segan-segan untuk mencoret namamu sebagai salah satu ahli warisku, mengerti Shin Mea?!”

“AYAH!” Mea berteriak. “Aku bahkan telah menuruti segala sesuatu omong kosongmu, bahkan pernikahan! Tapi bagaimana mungkin kau dengan semudah ini—“

“Jangan pikir karena kau adalah darah dagingku, maka kau bisa berbuat semaumu!” potong Komisaris Shin. “Ingat, perusahaan ini milikku, dan aku berhak melakukan apapun demi kebaikan perusahaan!”

Mea hanya bisa melayangkan tatapan dinginnya tanpa bisa melawan. Gadis itu membalik badannya lantas mengayunkan tungkainya meninggalkan ruangan diikuti oleh sang sekretaris.

“Hubungi Tuan Choi dan atur jadwal dengannya, SEKARANG!”

***

-Mea POV-

Sial! Bagaimana bisa aku dipermalukan di depan umum seperti tadi?! Habislah kau, Shin Mea, setelah ini pasti seluruh petinggi yang mengincar jabatanmu akan tertawa bahagia dan kau hanya tinggal menunggu waktu sampai seluruh penjuru perusahaan tahu tentang kejadian tadi.

Sebenarnya aku tak habis pikir, bagaimana bisa Tuan Choi melakukan hal semengerikan itu kepada perusahaan kami? Dasar pria tak tahu malu!

Lantaran merasa amat kesal dan frustasi, kuhempaskan tubuhku ke atas sofa empuk yang tersedia di ruanganku. Tanganku lantas menarik ikat rambutku lantas menghempaskannya ke lantai; membiarkan rambut panjangku tergerai menutupi sebagian wajahku. Aku bahkan tak mempedulikan penampilanku saat ini, yang paling penting adalah bagaimana caranya membangun kembali kepercayaan ayah serta mempertahankan harga diriku.

“Maaf Direktur Shin, aku sudah mencoba menghubungi Tuan Choi tapi beliau sedang amat sibuk saat ini dan menolak untuk bertemu denganmu.”

“APA KATAMU?” Aku berteriak, tanpa sadar melampiaskan amarahku kepada sekretarisku yang nyatanya tak bersalah sedikit pun.

“M-maafkan aku.”

Kucoba untuk mengatur napas demi meredam kemarahanku. “Biar aku saja yang mencoba menghubunginya,” ujarku akhirnya. Ku ambil ponselku yang tergeletak di atas meja lantas segera membuat sebuah panggilan yang ditujukan kepada Tuan Choi.

“Halo.”

Aku lantas berdiri ketika mendengar suara di seberang sana.

“Ya, halo, Tuan Choi. Maaf jika aku menganggumu. Tapi, ada hal penting yang harus segera aku bicarakan denganmu, jadi apa anda—“

“Oh, Mea-ssi, maaf tapi hari ini aku begitu sibuk. Kau ingat ‘kan dengan undangan makan malamku besok? Nah, bagaimana jika hal penting itu kau sampaikan esok hari saja?”

“Tapi Tuan Choi—halo? Tuan Choi, anda masih berada di sana? Halo? SIAL!“

Sambungan telepon terputus, membuatku kesal lantas melempar ponselku ke atas lantai hingga menjadi kepingan-kepingan tak berarti.

“TUAN CHOI SIALAN!” Tanpa sadar aku mulai mengumpat.

“Direktur Shin, k-kau baik-baik saja?”

Mendengar pertanyaan tersebut, aku baru sadar jika sekretarisku masih berada di ruangan yang sama denganku. Dan kini bisa kulihat ia sangat ketakutan, bahkan sekedar memandangiku saja ia tak berani.

“Oh, maafkan aku, sepertinya suasana hatiku sedang buruk hari ini. Jadi, kau keluarlah sebelum aku menjadikanmu sebagai pelampiasan kemarahanku. Dan—oh, sebelumnya tolong urus benda itu. Sepertinya aku memerlukan ponsel baru.”

Gadis itu mengangguk kecil lantas berbalik dan segera keluar dari ruanganku.

Beberapa saat setelah sekretarisku keluar, aku kemudian memungut ikat rambutku yang tadinya kubuang; merapikan kembali rambutku lantas beranjak menuju kursi di sebalik meja kerjaku.

Baru saja aku hendak duduk di atasnya, tiba-tiba telepon di sana berdering.

“Ya, ada apa?” Aku menjawab panggilan yang berasal dari sekretarisku itu.

“Maaf Direktur Shin, tapi Komisaris Shin tengah menunggumu di ruangannya.”

“Baiklah, aku akan segera kesana.”

Setelah memutuskan sambungan telepon, kuurungkan niat awalku yang hendak melihat beberapa berkas penting. Mendesah sesaat demi menahan amarah lantas berjalan keluar.

Ada apa lagi, ya? Kenapa Ayah memanggilku? Apa dia belum puas mempermalukan aku di depan orang banyak tadi?

Langkahku terhenti di depan pintu sebuah ruangan. Setelah memastikan penampilanku sudah benar-benar rapih, kuketuk pintu lalu memasukinya.

“Ada masalah apa lagi? Belum puas mempermalukanku tadi, Yah?” tanyaku langsung. Aku tak peduli jika ia akan meneriakiku lagi, masa bodoh, toh, aku sudah kebal dengan teriakannya itu.

“Kau yang mempermalukan aku, Shin Mea!”

“Apa? Aku yang mempermalukan Ayah?” Aku mendengus. “Dibagian mananya aku mempermalukanmu, ha? Aku bahkan sudah menuruti semua perkataanmu dan menyetujui perjodohan konyol yang Ayah atur! Kau dengan teganya menyuruhku untuk menjadi seorang istri dari pemuda bodoh—“

“Jangan pernah menyebutnya pemuda bodoh, Shin Mea! Bagaimana pun juga, kini dia adalah suamimu.”

“Tapi, Yah, dia benar-benar bodoh! Aku muak melihat segala tingkah polosnya itu, dan lagi penampilannya sungguh membuatku tak ingin berdekatan dengannya barang sedetik pun!”

“Ingat, Shin Mea, pernikahan itu dilakukan demi menyelamatkan perusahan kita.”

“Iya, aku tahu, Ayah. Jika bukan karena perusahaan maka jangan harap aku rela melapas masa lajangku hanya untuk menjadi istrinya.” Aku berusaha tenang; membuang amarahku sedikit demi sedikit. “Jadi, apa sebenarnya tujuan Ayah memanggilku ke sini? Jangan bilang hanya untuk membahas pemuda bodoh itu, jika iya, maka sebaiknya aku pergi saja. Rasanya aku sangat lelah dan mungkin kepalaku akan meledak jika—“

“Ini tentang jabatanmu, Shin Mea.”

Lagi-lagi ayah memotong perkataanku, menyebalkan. Tapi tunggu, dia bilang akan tentang jabatanku? Ada apa dengan jabatanku?

“Besok akan ada seseorang yang bergabung bersama kita, dia akan menjadi salah satu direktur di perusahan ini dan akan kumasukkan dalam daftar calon pewarisku.”

“APA? PEWARIS?” Aku benar-benar terkejut mendengar pertanyaan ayah barusan.

“Jangan berteriak! Dengarkan aku terlebih dahulu. Namanya Jeon Wonwoo, pemuda itu sangat pintar namun terkesan dingin. Alasanku merekrutnya adalah untuk perbaikan perusahaan, kau tahu sendiri ‘kan jika akhir-akhir ini perusahaan kita selalu berada di masa-masa kritis? Jadi aku mencari berbagai cara untuk membuatnya kembali normal, dan aku menemukan pemuda itu.”

“Tapi, kenapa Ayah harus memasukkannya dalam daftar calon pewaris? Bukankah seharusnya hanya aku satu-satunya pewaris sah di sini?”

“Sudah kukatakan bukan, aku akan melakukan apa pun demi kebaikan perusahaan! Jadi jika kau kalah bersaing dengannya, maka dengan senang hati aku akan menyerahkan perusahaan ini pada pemuda berkompeten sepertinya.”

“AYAH!”

“Jangan melawan!” Ayah memelototiku. “Kau hanya perlu bekerja lebih keras lagi dan menangkanlah persaingan ini secara sehat. Kau memang putriku satu-satunya, tapi jangan salah mengira jika aku akan menyerahkan segalanya padamu jika kau tak memiliki kualifikasi yang sempurna. Sekarang kau boleh keluar, akua sudah mengatak semua yang ingin kukatakan.”

Aku hanya bisa menatap sini ayahku; mencibir namun tak berani bersuara. Lantas sebelum amaraku meledak, kusegerakan untuk keluar dari ruangan yang terasa amat pengap tersebut.

-Mea POV end-

 

***

Demi mengusir sedikit kepenatan serta kekesalannya, kini Mea telah berada di sebuah kafe dan tentu saja gadis itu tidak sendirian, karena ada Wei—sahabatnya—yang akan dengan senang hati menemani gadis itu kemana pun—meski nyatanya pemuda itu melakukannya secara terpaksa lantaran tak tahan dengan ancaman sang gadis.

“Jadi maksudmu, besok perusahaan akan kedatangan direktur baru? Dan dia, hmm, sainganmu, begitu?” Pertanyaan yang entah untuk kesekian kalinya itu kembali meluncur dari bibir Wei. Entah apa alasannya pemuda itu mengulangi pertanyaannya berkali-kali, entah memang belum mengerti sepenuhnya atau hanya ingin menggoda Mea saja.

Mea memilih untuk diam, menyesap minumannya perlahan sembari memperhatikan sekitarnya.

“Oh, siapa namanya tadi?”

“Jeon Wonwoo,” jawab Mea singkat. “Yak! Bisakah kau tidak membahasnya terus-terusan, Lee Wei? Aku mengajakmu keluar bukan untuk membahas masalah menyebalkan ini, tahu!”

Melihat Mea menyerangnya—lagi, membuat Wei tertawa pelan. “Oke-oke, aku mengerti, Nyonya Lee.”

“Yak! Jangan memanggilku seperti itu, terdengar menjijikkan, huh.”

“Lho? Kenapa? Bukannya suamimu bermarga Lee? Itu artinya kini kau juga telah menyandang marganya, Lee Mea.”

“Aish, mulut cerewetmu itu benar-benar menyebalkan, ya, Wei?!” Mea menggeram.

“Haha, kau kenapa sih? Dia ‘kan suamimu, jadi apa salahnya?”

“Oke, dia memang suamiku, tapi aku benar-benar tak pernah menginginkan seorang suami sepertinya.”

“Kenapa? Karena dia, hmm, terlihat culun?”

“HEI! BAGAIMANA KAU BISA TAHU?!”

“Jangan berteriak, bodoh!” Wei menyentil kening Mea lantas berkata, “ Kau lupa, ya dengan kejadian malam itu?”

“Malam itu? Kapan—oh, jangan bilang malam saat kita mengadakan perayaan itu?”

“Sayangnya memang malam yang kumaksud adalah malam itu, Shin Mea.”

“Astaga, Wei! Jadi, malam itu aku tak pulang sendirian eoh?”

“Pulang sendirian? Hei, malam itu kau sangat-sangat mabuk, bahkan untuk berdiri tegak saja kau sudah tak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu pulang sendirian dalam keadaan seperti itu?”

“Jadi, kau yang—“

“Ya, aku yang mengantarkanmu. Kau sungguh tak mengingatnya?”

Mea menggeleng. “Memangnya seberapa banyak aku minum malam itu, huh?”

“Sangat banyak. Aku bahkan tak pernah melihatmu minum sebanyak itu sebelumnya. Kau terlihat seperti bukan dirimu, kau, hmm sedang ada masalah atau bagaimana sih?”

Mea mendesah; tangannya ia letakkan di atas meja lantas bertopang dagu.

“Hei, tapi ya, bagaimana bisa kau menikah dengan pemuda sepertinya? Oh, maksudku, kau—“

“Ya, ya, aku mengerti maksudmu. Karena kau sudah terlanjur mengetahuinya, maka aku akan menceritakan semuanya kepadamu.” Mea kembali mendesah.

“Ayah yang mengatur perjodohan kami, dan katanya, jika aku mau menikah dengan pilihannya, maka aku akan mendapatkan perusahaan.”

“Tapi ternyata pemuda itu tak sesuai dengan pikiranmu?”

“Ya begitulah.”

“Jadi itu alasanmu menyembunyikan identitas suamimu dari orang banyak eoh? Dan bahkan kepadaku juga?”

“Maafkan aku, sebenarnya aku tak bermasud merahasiakannya darimu juga, tapi rasanya aku memang tak bisa mengakuinya kepada siapa pun. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana malunya aku jika seluruh dunia tahu bahwa suamiku adalah seseorang yang culun dan gagap, aku bahkan tak pernah memperlakukannya seperti seorang suami. Aku kerap kali membentak dan menyuruhnya melakukan ini-itu dan ajaibnya dia selalu menuruti semua perkataanku.”

“Saat itu kau bahkan membentaknya dihadapanku.”

“Benarkah?”

Wei mengangguk. “Tapi, ya, sepertinya kau sedikit, hmm, keterlaluan? Bukannya apa-apa, tapi pemuda itu terlihat begitu melindungimu. Sebaiknya kau—“

“Jadi kau ingin aku bertingkah laku layaknya seorang istri yang patuh pada suaminya, begitu? Hei, Wei, stop it! Aku mau tinggal serumah dengannya saja itu sudah lebih dari cukup rasanya.”

“Oke-oke, aku mengerti. Tapi, ada hal lain yang ingin kutanyakan lagi kepadamu dan ini benar-benar mengangguku.”

“Apa itu?”

Wei lantas mendekat; mengarahkan bibirnya ke telinga Mea sembari berbisik, “Tentang malam pertamamu dengannya.”

“LEE WEI!”

Wei kemudian tertawa; geli karena melihat ekrpesi Mea barusan. Ya, tentu saja ia tahu tak mungkin Mea menjalani malam pertama seperti pasangan-pasangan lainnya, toh, pernikahan itu bukanlah kemauannya. Hanya saja dikarenakan tingkat keisengan Wei yang melebihi batas wajar, membuatnya melontarkan pertanyaan tersebut. Hitung-hitung untuk mengubah suasana hati Mea yang sedang tidak baik saat ini.

“Haha, aku hanya bercanda, Mea.”

“Candaanmu tidak lucu, tahu!” Mea mencibir. “Hei, karena aku sudah menceritakan semuanya padamu, jadi kuminta untuk tidak menyebarkan cerita ini ya, Lee Wei. Ingat, ancamanku yang terakhir kali masih berlaku jika kau tetap membiarkan mulutmu itu berbicara sekehendakmu!”

“Astaga, tenang saja. Rahasiamu akan aman bersamaku.”

“Baiklah, aku mempercayakannya kepadamu. Tapi—“

“Aku mengerti, Shin Mea!”

Mea menyengir. “Oh, Wei, sepertinya aku harus segera pulang. Ada beberapa berkas yang menunggu untuk diselesaikan dan berbagai persiapan untuk pertemuan ulang dengan Tuan Choi. Kau tentunya sudah mendengar masalah yang disebabkan oleh pria tua menyebalkan itu bukan?”

“Rumornya sudah tersebar, jadi tidak mungkin aku tidak mengetahuinya. Ayo kita pulang, biar aku yang mengantarkanmu.”

Wei beranjak dari tempatnya diikuti oleh Mea. Setelah mereka membayar tagihan, mereka langsung menuju ke tempat di mana mobil Wei terparkir lantas segera meninggalkan tempat tersebut.

 

***

Esok harinya, pagi-pagi sekali Mea sudah pergi meninggalkan rumahnya menuju perusahaan. Gadis itu mau tak mau berangkat lebih awal karena sang ayah memintanya untuk turut serta menyambut Jeon Wonwoo, direktur baru sekaligus saingannya.

Dan disinilah Mea saat ini, di ruangan sang ayah bersama seorang pemuda tinggi yang tak lain adalah Jeon Wonwoo.

“Selamat datang, Direktur Jeon.”

Suara berat milik sang ayah memenuhi indera pendengaran Mea. Dilihatnya kini tangan ayahnya dan pemuda tinggi itu tengah berjabat.

“Terimakasih Komisaris Shin, saya akan melakukan semua yang terbaik demi perusahaan,” balas Wonwoo sembari mengumbar senyuman.

“Dan perkenalkan, dia adalah putri tunggalku, Shin Mea.” Pria paruh baya itu berkata sembari meletakkan tangannya disalah satu pundak Mea lantas mengelusnya.

“Oh, iya, aku sudah sering mendengar tentangnya dan ternyata benar, putri anda sangat cantik, Komisaris Shin.”

Tsk, rayuan murahan, batin Mea.

Komisaris Shin tertawa lantas berkata, “Oh, sayang sekali Direktur Jeon, putriku sudah menikah, jadi sepertinya kau tak memiliki kesempatan untuk merayunya.”

“Oh begitukah? Wah, sayang sekali ya?”

Apa-apaan dia itu, huh, menyebalkan, batin Mea—lagi.

Mea berdehem lantas berkata, “Ayah—oh, Komisaris Shin, sepertinya acara perkenalan sudah selesai jadi saya bisa meninggalkan ruangan sekarang bukan? Masih banyak pekerjaan yang menungguku.”

“Oh, silahkan. Kalau begitu sekalian antarkan Direktur Jeon ke ruangannya, kau tidak keberatan bukan?”

Ingin rasanya saat itu Mea memberontak, namun gadis itu menahan diri agar tidak terlihat buruk di depan lawannya.

“Baiklah.” Terpaksa, Mea melempar senyuman. “Silahkan lewat sini, Direktur Jeon.” Mea membukakan pintu; membiarkan pemuda itu melewatinya terlebih dahulu barulah ia mengikutinya di belakang dan menutup kembali pintu ruangan ayahnya.

“Ternyata, rumor tentang dirimu tak sepenuhnya benar, ya, Shin Mea?”

Mea melayangkan tatapan penuh tanya pada Wonwoo. “Maksudmu?”

“Oh, jadi kau belum pernah mendengar rumor tentangmu sebelumnya?”

Mea menggeleng. “Memangnya rumor tentang apa itu?”

Tanpa menjawab pertanyaan Mea, pemuda itu berlalu meninggalkan Mea.

“Yak! Kenapa kau meninggalkanku, huh?” Sedikit berlari, Mea mencoba menyusul langkah panjang milik Wonwoo. “Jangan hanya karena kau menjad pilihan ayahku, maka kau—“

“Apa?”

Wonwoo menghentikan langkahnya tiba-tiba, hampir saja Mea bertubrukan dengannya jika saat itu ia tak segera berhenti berlari.

“Aish, kau ini sangat menyebalkan ya?” cibir Mea.

“Benarkah? Haha, aku sudah terlalu sering mendengar tentang hal itu.” Wonwoo tersenyum. “Hei, bisakah kau tidak menghalangi jalanku? Aku rasa tugasmu adalah mengantarkanku ke ruanganku, bukan mengajakku berbicara apalagi bertengkar seperti ini.”

“Tugasku katamu? Tsk, pergi saja ke ruanganmu sendiri sana, aku sangat sibuk!”

Mea merasa amarahnya akan meledak jika ia tak cepat-cepat pergi dari hadapan pemuda itu. Lantas, sebelum ucapannya mendapatkan balasan dari pemuda tinggi itu, Mea memutuskan untuk berbalik haluan meninggalkan pemuda itu dan berjalan secepat yang ia bisa menuju ruangannya.

Jeon Wonwoo sialan!

 

***

Hari sudah menjelang petang ketika Mea baru saja menyelesaikan beberapa berkas yang perlu diselesaikan olehnya.

Beberapa saat kemudian, sekretarisnya memasuki ruangan.

“Direktur Shin, anda tidak melupakan janji dengan Tuan Choi malam ini, bukan?”

“Oh, astaga! Hampir saja aku melupakannya. Cepat siapkan mobil, aku akan segera turun.”

“Baik, Direktur Shin.”

Mea kini tengah dalam perjalanan menuju sebuah restoran di mana pertemuannya dengan Tuan Choi akan dilaksanakan. Sejujurnya, gadis itu kini merasa amat gugup tapi ia berusaha tak menunjukkan kegugupannya tersebut kepada siapa pun.

Beberapa waktu berlalu dan kini Mea telah menginjakkan kakinya di restoran tersebut. Seorang pelayan datang menghampirinya lantas membawanya ke sebuah ruangan di mana pria paruh baya itu telah menungguinya.

“Selamat datang, Shin Mea.” Sambutan itu didapatkan oleh Mea ketika ia baru saja memasuki ruangan.

Sembari menunduk sopan Mea berkata, “Maaf karena telah membuatmu menunggu lagi, Tuan Choi.”

“Oh, tak apa-apa, silahkan duduk. Omong-omong, kali ini kau sendirian saja, Mea-ssi?”

Mea mengangguk. “Iya, Tuan Choi. Baiklah, aku akan langsung saja pada pembahasan. Sebenarnya apa maksud—“

“Hei, santailah sedikit. Kenapa kau terkesan sangat terburu-buru, Shin Mea? Sebaiknya kita nikmati dulu makan malam ini, baru nanti kita akan membahas pekerjaan.”

“Maaf, Tuan Choi, tapi sepertinya kali ini pekerjaan lebih pentind dari apa pun. Jadi kuharap kau bisa mengerti.”

“Jangan terburu-buru, Mea-ssi.”

Pria paruh baya itu tiba-tiba bangkit dari kursinya, berjalan melewati meja lantas duduk tepat di sebelah Mea.

“Aku hanya ingin sesegera mungkin menyelesaikannya, Tuan Choi, sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia rasanya.”

Tuan Choi tersenyum, namun senyuman aneh yang membuat Mea merasa tidak nyaman. Sedikit-sedikit Mea mulai menjaga jarak lantaran ada perasaan tak enak yang tiba-tiba menghinggapinya.

“Kudengar, kau baru saja menikah, Mea-ssi.”

“Iya, aku memang baru menikah. Tapi, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan persoalan pribadi.”

“Dijodohkan, ya?”

Mea memilih untuk diam.

“Oh-oh, baiklah, sepertinya kau tipe orang yang tidak sabaran ya? Baiklah, kita akan langsung ke pembicaraan tentang pekerjaan dan sekarang aku akan membuatnya menjadi lebih mudah.”

Tuan Choi semakin mendekatkan tubuhnya kepada Mea dan tentu saja hal itu membuat Mea semakin merasa tidak nyaman.

“Maaf, Tuan Choi, tapi bisakan anda tidak bertingkah seperti ini? Kurasa—YAK!”

Mea berteriak ketika tangan nakal milik pria paruh baya itu mendarat di atas pahanya, sontak gadis itu berdiri karena keterkejutannya dan mencoba menjauh darinya.

Tuan Choi tertawa; tawa yang sangat menjengkelkan bagi seorang Shin Mea.

“Sebenarnya apa yang sedang kau coba lakukan huh?”

“Jangan seperti itu, Mea-ssi. Tenang, aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin sedikit bermain-main dengan tubuhmu.”

“Jaga perkataanmu, Tuan Choi! Jika kau berani mendekat, maka aku akan berteriak,” ancamnya.

“Berteriaklah sesukamu, toh, tidak akan ada satu orang pun yang peduli.” Kini pria itu berdiri lantas perlahan-lahan mendekati Mea.

Mea berangsur mundur, namun pada akhirnya gadis itu tersudut dan tak ada tempat lagi baginya untuk menghindari pria paruh baya itu. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya ketika Tuan Choi semakin mendekat. Pria itu kini merengkuh wajahnya, dan tentu saja Mea mencoba berpaling meski kekuatannya tak sebanding.

“Jadi, biarkan aku mencicipi bibir manismu ini, Shin Mea.”

Wajah Tuan Choi semakin dekat dan Mea sudah tak bisa melakukan apa-apa lagi. Mea hanya bisa berdoa dalam hati agar—

BRAAK!

—seseorang datang dan menyelamatkannya.

Mata Mea terbuka lebar ketika mendengar suara keras tersebut. Dilihatnya beberapa orang menerobos masuk sembari menodongkan pistol kepadanya—atau lebih tepatnya kepada Tuan Choi.

“Jangan bergerak! Kami dari NIS(*) dan kepolisian telah mengepung tempat ini. Jadi, sudah tak ada jalan untuk kau kabur lagi, Tuan Choi.”

 

-TBC.

(*)National Intelligence Service (NIS); NIS mempunyai tugas utama menjaga keamanan nasional dan mengenalkan kepentingan nasional. NIS menyediakan laporan intelijen tentang keamanan, dan investigasi kejahatan untuk menjamin keamanan nasional, sesuai dengan Pasal 15 Undang-Undang Organisasi Pemerintah Korea Selatan. Tugas NIS terbagi menjadi beberapa bagian, dan kebanyakan agen NIS akan menyamar sehingga tak ada satupun yang mengetahui identitas asli mereka. Tujuannya agar musuh tak mudah melacak dan juga karena kerahasiaan sangat dijaga dengan ketat.

 

Halo, chapter 2 di sini~~

Semoga kalian pada suka dan maaf banget karena Bitto aku bikin perannya kaya begitu, tidak ada maksud apa-apa cuma untuk sekedar kepentingan fanfiksi saja ya~~ Dan untuk typo, alur yang kecepatan dan apapun itu yang membuat kalian merasa tidak nyaman saat membaca fic ini mohon dimaklumi, terakhir jangan lupa meninggalkan jejak yaa dan jangan lupa kunjungi blog mbaay di https://yayaay.wordpress.com

Thanks<3

-mbaay.

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s