Dangerous – Chapter 9

DANGEROUS

[BTS FF] DANGEROUS –Chapter 9- 

“Kyuna, kau tidak perlu lagi menggantikanku. Kau mengalami waktu yang sulit saat menjadi aku kan? berhentilah… dan kembali ke Jepang…”

 

Title: Dangerous

Scriptwriter:  Reixmember

Genre: School Life, Romance, Drama

Rating: PG-17

Duration: Chaptered (1-12)

Previous Chapter: 1 // 8

Cerita murni berasal dari imajinasi pengarang sendiri. BTS milik Tuhan, orang tuanya, agensi, dan tentunya ARMY.  FF ini pernah di-post  di BTS Fanfiction Indonesia.

Cast:

  • BTS members
  • Lee Kyuna (OC)
  • Lee Kyuwon (OC)
  • Daehyun (BAP)
  • and other cast

Selamat membaca^^

.

.

chapter sebelumnya…

Sementara itu, Yoongi keluar dari ruang paduan suara. Jin tidak sengaja melihatnya dan heran melihat Yoongi keluar dari ruangan itu. Jin pun memutuskan untuk melewati ruang itu. Di pintu ruangan yang terbuka, ekspresi Jin berubah, ia terkejut. Bukan karena melihat wajah Taehyung yang penuh memar seperti habis dipukuli. Tetapi, karena Jin melihat Taehyung memeluk Kyuna, bahkan kini Taehyung mengelus lembut rambut Kyuna.

***

Di UKS…

Taehyung membuka pintu UKS. Guru Ahn adalah guru yang berjaga di ruang UKS hari ini. Guru Ahn cukup kaget melihat Taehyung masuk dengan wajah penuh memar dan darah, seperti habis berkelahi. “Kim Taehyung! kau berkelahi lagi? Ck ck ck…”

Taehyung memegang kedua pundak Kyuna dari belakang dan mendorongnya pelan ke depan Guru Ahn. “Guru, tolong obati dia, tangannya sakit karena insiden saat program sekolah waktu itu dan juga tadi tangannya terbentur meja.” Guru Ahn beralih mengamati tangan Kyuna. Sedangkan Kyuna tampak heran mendengar perkataan Taehyung, bukankah yang seharusnya diobati adalah Taehyung yang terlihat dari luka di wajahnya.

Guru Ahn kemudian mengamati wajah Taehyung, banyak luka memar di wajah Taehyung. Guru Ahn pun menuruti keinginan Taehyung, “Duduk di ranjang itu, Kyuwon…” perintah Guru Ahn sambil menunjuk ranjang di dekat jendela. Kyuna pun menurut. Guru Ahn duduk di sebelah Kyuna di tepi ranjang. “Biar aku lihat… coba buka lengan bajumu.” Kyuna pun melepas blazer seragamnya pelan-pelan, lalu membuka kancing lengan kemeja seragamnya dan menariknya hingga ke siku. Terlihat jelas ada biru lebam cukup lebar di lengan Kyuna. “Apa rasanya sakit?” tanya Guru Ahn. “Sakit, bila disentuh atau aku gerakan tangan ini, tapi aku sudah memeriksa ke dokter dan tidak ada luka dalam atau patah tulang. Dalam beberapa hari akan sembuh.” jelas Kyuna.

“Tapi, tanganmu semakin sakit kan karena tadi terbentur? Tanganmu harus diperban, supaya orang-orang tidak menyentuhnya dan berhati-hati jika dekat dengan tanganmu” ujar Guru Ahn.

“Itu, tidak usah… tanganku baik-baik saja, guru…” ucap Kyuna.

“Perban saja, Guru Ahn… dia itu keras kepala dan tidak mau mendengar saran orang lain padahal untuk kebaikannya…” timpal Taehyung tiba-tiba. Kyuna langsung melirik Taehyung.

“Baiklah…” ucap Guru Ahn. Guru itu pun membalut tangan Kyuna dari bawah siku sampai ujung jarinya. Kyuna menurut. Setelah selesai memperban tangan Kyuna, Guru Ahn pun kembali ke meja dekat pintu UKS. Taehyung menghampiri Kyuna dan duduk di sebelahnya.

“Bukankah sudah aku bilang untuk berhenti…” ucap Taehyung datar sambil menatap Kyuna.

“Aku akan segera berhenti…”

Taehyung sedikit melebarkan matanya dan semakin menatap Kyuna.

“Kyuwon sudah sadar dan aku akan kembali ke Jepang…” ucap Kyuna memelankan suaranya. Namun, terdengar jelas oleh Taehyung. “Kembali ke Jepang? itu artinya aku tidak akan melihat Kyuna di sini lagi…” pikir Taehyung. “Kalau begitu, cepat kembali ke Jepang…”ucap Taehyung kemudian. Tapi, hatinya masih belum rela melihat Kyuna pergi.

“Tapi, masih ada yang harus aku lakukan sebelum aku kembali ke Jepang,” kata Kyuna lalu tersenyum.

Taehyung mengalihkan tatapannya dari Kyuna, “Ayo ke kelas…” Taehyung pun berdiri. “Aku akan mengobati wajahmu dulu sebelum ke kelas…” cegah Kyuna.  “Apa bisa kau mengobati wajahku dengan tangan seperti itu?” Taehyung melirik tangan Kyuna yang diperban. “Tapi tangan kiriku bisa…” Kyuna mengangkat tangan kirinya.

Taehyung mendekati Kyuna. Mengambil blazer seragam Kyuna yang dilepas tadi, dan menarik tangan kiri Kyuna. kemudian berjalan ke arah pintu UKS. Guru Ahn yang melihat itu langsung berkata, “Ya! Kim Taehyung wajahmu belum aku obati…”

“Aku akan kembali setelah mengantar dia ke kelas, Guru Ahn…” ucap Taehyung lalu berlalu dari UKS meninggalkan Guru Ahn yang sedikit bingung. Taehyung masih memegang tangan kiri Kyuna.

Sampai di depan kelas Kyuna, Taehyung baru melepaskannya dan memberikan blazer seragam Kyuna. “Masuklah…” ucap Taehyung lalu tanpa berkata apa-apa lagi pergi dari depan kelas Kyuna dan kembali ke UKS. Kyuna melihat kepergian Taehyung lalu masuk ke kelas. Dia langsung duduk di bangkunya. Airin, Hyejeong, dan Seulgi yang berada dekat jendela langsung menghampiri Kyuna. “Ya! Kyuwon, kenapa dengan tanganmu? Apa sakit lagi jadi diperban?” tanya Airin. Kyuna mengangguk, “tenang saja… akan segera sembuh…”

Sementara di UKS…

Guru Ahn mengobati wajah Taehyung. Di sela-sela itu, Guru Ahn berbicara, “Kau pasti berkelahi lagi… tidak bisakah kau berhenti…”

“Aku tidak berkelahi… aku membiarkannya memukulku…”

“Siapa?”

“Guru tidak perlu tahu…” jawab Taehyung.

“ck…” decak Guru Ahn lalu kembali fokus mengobati wajah Taehyung.

“Guru Ahn, apa guru punya orang yang guru ingin lindungi?” Guru Ahn menghentikan gerakannya dan menatap Taehyung. “Aku ingin melindunginya… Tidak peduli meskipun aku harus terluka seperti ini…” Taehyung tersenyum. “Tapi dia akan segera pergi, padahal aku baru memulainya…”

“Apa ‘dia’ yang kau maksud itu Kyuwon?”

“Bukan…” jawab Taehyung. “Bukan Kyuwon, tapi Kyuna” Taehyung meneruskan jawabannya dalam hati.

“Aku kira kau menyukai Kyuwon…” sahut Guru Ahn. “Tapi Taehyung, kau sudah besar sekarang ya…” ucap Guru Ahn lagi sambil sedikit mengacak-ngacak rambut Taehyung. Guru Ahn tertawa kecil. Sementara Taehyung membenarkan rambutnya dan kembali melihat Guru Ahh.

“Kau mulai menyukai seseorang. Kau tahu… dimulai dari perasaan suka lalu tumbuh perasaan sayang. Dan rasa itulah yang membuat kau ingin melindunginya. Tidak peduli apa yang terjadi padamu, kau ingin terus melindunginya. Ada perasaan cemas saat kau tidak melihatnya. Apakah dia makan dengan baik, apakah tidurnya nyenyak, apa yang sedang dia lakukan, apa dia baik-baik saja. Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu muncul di benakmu saat dia tidak bersamamu. Tapi kalau dia akan pergi seperti yang tadi kau katakan, itu artinya kau akan semakin mencemaskannya dan lebih dari itu… kau akan merindukannya. Kau tahu? Rindu itu seperti bernafas, apa kau bisa terus menahannya? Apa kau yakin baik-baik saja jika dia pergi? Dan apa kau tidak akan berusaha mencegahnya?”

Taehyung terhenyak mendengar kata-kata dari Guru Ahn. Hatinya kembali mengingat Kyuna. “Apa aku harus mencegahnya pergi?”

***

Di kelas 3-4

Jin mengingat kejadian di ruang paduan suara tadi. Setelah melihat Kyuna dan Taehyung, Jin langsung melangkah pergi dari pintu ruangan itu. “Sebenarnya ada apa? Kenapa Taehyung bersama Kyuwon dan apakah Yoongi yang membuat wajah Taehyung seperti itu?” batin Jin.

Sementara Jin sibuk dengan pikirannya, Hoseok yang akan duduk di bangkunya langsung kaget ketika melihat Taehyung masuk ke kelas. Darah di wajah Taehyung sudah hilang tapi bekas pukulan masih ada di wajahnya, belum lagi plester yang ada pipi kanannya. Tanpa memperdulikan tatapan heran siswa-siswa di kelasnya, Taehyung langsung duduk di bangkunya yang bersebelahan dengan Hoseok. “Ya! Kenapa dengan wajahmu? siapa yang melakukannya?” tanya Hoseok penasaran.

Anggota BTS lain, kecuali Yoongi dan Jin, langsung menoleh pada Taehyung dan menghampirinya. “Taehyung, kau tidak apa-apa?” tanya Namjoon. “Kau dipukul siapa? Tidak, melihat dari wajahmu, kau dikeroyok?” tanya Jimin.

“Aku baik-baik saja dan aku tidak dikeroyok. Aku membiarkan diriku dipukul”

“kenapa begitu?” tanya Jungkook penasaran.

Taehyung tersenyum pada teman-temannya itu, “Aku sedikit stres dan ingin dipukul…”

“Bodoh… lain kali kalau kau ingin dipukul lebih baik kau mengatakannya padaku. Akan kubuat kau lebih dari ini, Taehyung,” ucap Hoseok sedikit kesal. Taehyung tersenyum mendengar perkataan Hoseok kemudian dia melirik Yoongi. Yoongi pun melihat Taehyung, pandangan mereka bertemu. Namun, dengan segera Yoongi kembali menatap layar ponselnya. Sedangkan Jin melihat tatapan Taehyung pada Yoongi.

***

Saat pelajaran olahraga…

Di antara teman-temannya, hanya Kyuna yang tidak memakai baju olahraga. Walaupun dia tidak ikut olahraga, tapi Kyuna tetap ingin berada di lapangan. Dia tidak mau berada di kelas sendiri. Setelah siswa kelas 3-2 mengikuti materi dan praktik olahraga, kini saatnya siswa diberikan waktu bebas untuk melakukan olahraga basket, sepakbola, ataupun hanya sekedar istirahat duduk-duduk saja. Guru Kim menghampiri Guru Jung dan memintanya untuk mengobrol di pinggir lapangan membicarakan urusan sekolah.

Airin mengambil bola basket dan membawanya ke tempat Hyejeong, Seulgi, dan Kyuna duduk. “Hey, lihat ini” ucap Airin sambil menunjukkan kemampuannya memutar bola basket dengan satu ujung jarinya. “Aku hebat kan” ucapnya lagi. kemudian memantul-mantulkan bola basket itu. Hyejeong, Seulgi, dan Kyuna hanya melihat Airin yang terlihat senang memainkan bola basket itu. “Lihat aku bisa memasukkan bola ini ke sana,” Airin menunjuk keranjang basket yang berada cukup jauh darinya. Kemudian dengan penuh keyakinan, Airin melempar bola basket itu dengan kuat dan bukk…

Bola basket itu tepat mengenai wajah Guru Kim dan langsung membuatnya terjatuh pingsan. Hidungnya bahkan berdarah terkena bola itu. Airin, Hyejeong, Seulgi, dan Kyuna langsung terkejut melihatnya.

“Guru Kim, kau tidak apa-apa? Bangun Guru Kim!” Guru Jung panik dan menepuk-nepuk pipi Guru Kim. Hyejeong, Seulgi, Kyuna dan siswa lain langsung menghampiri Guru Kim dan Guru Jung. Sementara Airin mengigit bibir bawahnya, ia kaget, takut, dan bingung. “Aish… siapa yang melempar bola itu?” tanya Guru Jung emosi. Semua siswa yang ada di sekitar Guru Jung langsung melirik Airin yang berdiri cukup jauh dari sana.

Guru Jung berdiri dan dia terlihat emosi. “Airin… kemari kau!” seru Guru Jung dengan suara keras. “Maafkan aku!” ucap Airin lalu berlari. Entah apa yang dipikirkan Airin, bukannya ia menghampiri Guru Jung, justru Airin malah berlari kabur. Melihat hal itu Guru Jung langsung mengejar Airin. Sementara siswa lain terperangah melihat kejar-kejaran antara Guru Jung dan Airin.

“Berhenti di sana, Airin!” teriak Guru Jung sambil terus berlari mengejar Airin yang lebih jauh darinya. Airin terus berlari, namun beberapa kali ia mengucapkan “maafkan aku” pada Guru Jung. Airin terus berlari dan memasuki gedung sekolah bagian timur. Airin melihat ke belakang dan tidak menemukan Guru Jung. Airin memang berlari kencang meninggalkan Guru Jung. Airin kemudian berjalan menelusuri koridor. Nafasnya terengah-engah. Ia berjalan melewati beberapa pintu. Namun, langkahnya berhenti ketika melihat ada seseorang yang sedang menari. Airin melihat itu dari kaca yang terpasang di tengah-tengah pintu. Airin mendekat ke pintu itu dan memperhatikan seorang siswa laki-laki yang dengan lincahnya melakukan gerakan tarian moderen. “Jimin?” ucap Airin melihat wajah laki-laki itu. “Dia pandai menari” ucapnya lagi. Airin masih memperhatikan Jimin dari luar pintu.

“Airin… Airin…”

Airin mendengar suara Guru Jung yang semakin jelas. Airin langsung panik dan tanpa berpikir panjang membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangan yang sedang dipakai Jimin untuk berlatih menari. Gerakan Jimin berhenti ketika melihat Airin masuk. Jimin mematikan musik. Ia menatap Airin dan menghampirinya. “Apa yang kau sedang lakukan?” ucap Jimin. Airin langsung menaruh telunjuk di bibirnya. Meminta Jimin untuk diam. Airin mengintip keadaan luar. Jimin melihat heran pada Airin.

“Airin… Airin… di mana kau?”

Airin panik dan cemas mendengar suara Guru Jung yang semakin dekat. Bahkan ia melihat Guru Jung sudah ada di dekat ruangan itu. Airin berbalik. “Haishhh…. bagaimana ini…” ucap Airin semakin panik. Ia melihat ke sekitar ruangan itu dan melihat sebuah meja. Airin pun berlari lalu bersembunyi di balik meja itu. Jimin melihat Airin sudah menghilang di balik meja. Ketika membalikkan badannya dan melihat ke arah pintu, Jimin terkaget melihat wajah Guru Jung sudah ada di kaca yang ada di pintu itu.

Guru Jung pun membuka pintu itu. Masih di ambang pintu, Guru Jung bertanya, “Apa kau melihat Airin masuk ke sini?” Jimin menggelengkan kepalanya.

“Benarkah kau tidak melihatnya? Wajahmu tadi kaget melihatku, jangan-jangan kau menyembunyikannya.” Guru Juga akan menelusuri ruangan itu, namun dicegah oleh Jimin. “Tidak ada Airin di sini Guru Jung. Tadi aku melihatnya berlari ke lantai atas. Mungkin ke atap, kau tahukan guru, di sana tempat yang tepat untuk bersembunyi.”

Guru Jung tampak berpikir kemudian keluar dari ruangan itu dan kembali berlari ke arah atap sekolah. Airin mengintip dari sisi meja dan melihat Guru Jung sudah pergi dari ruangan itu. Airin berdiri dan berjalan menghampiri Jimin. “Terima kasih sudah menyelamatkanku, Jimin” ucap Airin lalu bersiap untuk keluar dari ruangan itu. Namun, Jimin memegang tangan Airin, mencegahnya untuk pergi.

“Ucapan terima kasih saja tidak cukup. Kau berhutang padaku”

Mwo? Hutang? Apa yang kau minta untuk membayarnya?”

“Aku akan memikirkannya nanti.”

***

Saat pulang sekolah…

Itu benar… aku menyukainya…

Kyuna terus teringat ucapan Taehyung. “Taehyung menyukaiku?” ucapnya dalam hati. Kyuna berjalan sendiri di pinggir jalan yang sudah cukup jauh dari sekolah. Hari ini Kyuna tidak dijemput Daehyun, akhir-akhir ini Daehyun memang sibuk menyelesaikan pekerjaannya karena ada banyak proyek.

Taehyung melihat Kyuna yang ada di depannya dan bermaksud menghampirnya, namun langkahnya berhenti ketika melihat Jin sudah menghampiri Kyuna duluan. Taehyung memperhatikan mereka.

“Kyuwon!” seru Jin. Kyuna menoleh ke seberang jalan dan melihat Jin. Jin menyebrang lalu menghampiri Kyuna. Jin melirik tangan kanan Kyuna. “Kenapa dengan tanganmu? Bukannya tadi pagi tidak diperban.”

“Oh… tanganku bertambah sakit, jadi aku ke UKS dan ternyata harus diperban.”

“Kenapa tanganmu bertambah sakit?” tanya Jin lagi.

“Itu… tanganku terbentur meja…”

“Kenapa bisa begitu?” Jin terus bertanya soal tangan Kyuna. Ia ingin jawaban yang sebenarnya dari Kyuna.

“Itu… karena…” Kyuna ragu melanjutkannya, “Maaf Jin, aku tidak bisa menceritakannya…”

“Kenapa? Bukankah sudah kubilang, kalau ada apa-apa, kau bisa memberitahuku,  aku akan membantumu…”

“Terima kasih sudah mengatakan itu… tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku katakan padamu… Mungkin nanti aku akan mengatakannya padamu, Jin…”

“Kenapa tidak bisa mengatakannya padaku? Apa… aku tidak berarti untukmu?” ucap Jin lirih.

Kyuna sejenak terdiam. “Bukan seperti itu….”

Jin memegang kedua pundak Kyuna, “Lalu kenapa? Kau tahu, aku sangat mencemaskanmu.” Jin menatap kedua mata Kyuna. Cukup lama Jin menatapnya.

“Kyuwon, bisakah aku jadi sesorang itu? seseorang yang kau sukai…”

Kyuna melebarkan matanya mendengar ucapan Jin. Matanya menatap dalam mata Jin. Kyuna bisa melihat kalau Jin adalah orang yang baik dan tulus. “Aku tidak tahu…” ucap Kyuna kemudian.

“Tidak apa-apa jika kau belum bisa menjawabnya sekarang…” ucap Jin kemudian mendekat pada Kyuna dan memeluknya “Aku akan menunggu jawabanmu” sambung Jin. Dia masih memeluk Kyuna dan entah kenapa Kyuna membiarkan itu, membiarkan Jin memeluknya.

Sedangkan di sisi lain, Taehyung hanya bisa diam melihat Jin memeluk Kyuna.

Kemudian Jin melepaskan pelukannya dan menatap Kyuna, “Aku lapar, ayo kita makan” Tangan Jin kemudian menggengam tangan kiri Kyuna dan menariknya berjalan mencari tempat makan. Kyuna menuruti ajakan Jin. Sementara Taehyung masih berdiri. Ia menatap Kyuna dan Jin yang mulai berjalan. Taehyung menatap Kyuna dan Jin dengan tatapan cemburu. Tapi kenapa dia harus cemburu, toh Kyuna bukan pacarnya, pikir Taehyung. Tapi meskipun begitu, Taehyung tidak rela melihat Jin dan Kyuna saat ini. Taehyung kemudian berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu.

***

Sampai di apartemen

Sekitar pukul 9 malam, Kyuna sampai di depan gedung apartemen. Jin mengantarkan Kyuna sampai luar gedung, sebenarnya Jin ingin mengantar Kyuna sampai pintu apartemennya. Namun, Kyuna menolaknya. Dia tidak mau sampai Jin tahu, menghindari kemungkinan bahwa Jin bertemu Kyuwon.

Setelah menekan password, Kyuna pun membuka pintu dan masuk ke dalam. Kyuna berjalan lemas. Kyuna melihat tv menyala. Layar tv dipenuhi adegan drama horor. Kemudian melihat siapa yang sedang menonton itu.

“EONNI!” pekik Kyuna, melihat Kyuwon setengah berbaring di sofa. Kyuwon masih memakai pakaian pasien. Panggilan itu membuat Kyuwon menoleh pada orang yang memanggilnya. “Oh, Kyuna, kau sudah pulang” ucap Kyuwon datar. Matanya pun kembali ke layar tv. Namun baru sedetik ia menonton kembali, ekspresinya berubah kaget dan kembali melihat Kyuna. “Ya! Kyuna!” Kyuwon tercengang melihat tampilan Kyuna, “Kenapa kau memakai seragamku… Apa mungkin kau….” ucap Kyuwon tidak percaya.

Kyuna menghampiri Kyuwon dan duduk di sebelahnya. Kyuwon masih berekspresi kaget. “Eonni, kau sudah lebih baik? Apa sekarang ada yang sakit?” tanya Kyuna dan menatap kakaknya itu. “Jawab dulu pertanyaanku, seragam ini… apa mungkin kau menggantikan aku di sekolah?” tanya Kyuwon serius dan dengan menggunakan penekanan pada kata ‘menggantikan’. Kyuna mengangguk. “YA! Bagaimana bisa kau… aishhh…” Kyuwon menarik nafas panjang dan kemudian melirik tangan kanan Kyuna yang berbalut perban, “Tanganmu… kenapa?”

“Aku terjatuh dan tanganku sakit…” jawab Kyuna. “Kyuna… apa yang terjadi? Selama kau menggantikanku, ceritakan!” ucap Kyuwon. Kyuna pun menceritakan apa yang dialaminya dari mulai dia pertama masuk ke sekolah Kyuwon, kejadian saat program outing sekolah, dan kejadian hari ini. Kyuna juga menceritakan bahwa Jin dan Taehyung membantunya.

“Eonni… selama aku mengantikanmu di sekolah, aku baru tahu bagaimana eonni di sana. Tapi eonni… kenapa kau bersikap dan berpenampilan seperti gangster sekolah? Itu berbeda setiap aku bertemu denganmu di Jepang ataupun saat aku mengunjungimu di Korea. Apa yang membuatmu begitu?”

Kyuwon sejenak terdiam dan menatap adiknya itu, “Bukan apa-apa Kyuna,” jawab Kyuwon berbohong.

“Apa sekarang ada yang sakit?”

“Aku baik-baik saja, kau tidak usah khawatir…”

“Tapi eonni…”

“Kyuna, kau tidak perlu lagi menggantikanku. Kau mengalami waktu yang sulit saat menjadi aku kan? berhentilah… dan kembali ke Jepang…”

“Eonni, aku akan berhenti, tapi boleh kan aku di Korea dulu. Lagi pula aku sudah mengambil cuti kuliah. Aku ingin merawatmu dan juga… aku ingin bersamamu…”

***

Keesokan harinya…

Kyuwon menutup pintu kamarnya. Ia berjalan melewati Daehyun dan Kyuna yang sedang duduk di ruang tv. Kyuwon memakai pakaian serba hitam, mulai dari celana jins, jaket yang tidak diseleting di bagian depan dan terlihat Kyuwon memakai kaos hitam polos. Dan juga Kyuwon memakai topi hitam. Benar-benar mencerminkan sosoknya yang dingin dan misterius. Kyuwon menggerai rambutnya. Ia juga membawa tas yang biasa dipakai ke sekolah. Sementara wajahnya, dibiarkan polos tanpa make up sedikit pun, seperti Kyuna.

Daehyun dan Kyuna cukup terperangah melihat Kyuwon, terlebih karena Kyuwon masih belum pulih. “Kau mau pergi ke mana?” tanya Daehyun. “Sekolah” jawab Kyuwon tanpa melihat ke arah Daehyun. “Mwo? Jam segini? Memakai pakaian itu?” tanya Daehyun kaget, ia dan Kyuna berdiri. Kyuwon tidak memperdulikan pertanyaan Daehyun dan bergegas menuju pintu. Daehyun dan Kyuna menyusul Kyuwon ke arah pintu. “Ya! Yang benar saja… ini sudah siang dan kau tidak memakai seragam ke sekolah?” tanya Daehyun. “Eonni… kau belum sembuh….” tambah Kyuna.

Kyuwon menatap Daehyun dan Kyuna, “Tenang saja, aku baik-baik saja… sudah kubilang untuk tidak khawatir” Kyuwon tersenyum pada Kyuna lalu membuka pintu dan pergi. Daehyun dan Kyuna tidak mencegah Kyuwon lagi, mereka memilih membiarkan Kyuwon. Mereka yakin kalau Kyuwon bisa menjaga dirinya sendiri.

Kyuwon naik taksi menuju sekolahnya. Sebenarnya Kyuwon datang ke sekolah saat  jam istirahat. Jadi, banyak siswa-siswa berada di luar kelas dan lapangan. Kyuwon sejenak memandangi gerbang sekolah. “Rasanya lama sekali aku kembali lagi ke sini.” ucap Kyuwon dalam hati. Kyuwon membenarkan topinya lalu dengan langkah yakin melangkah masuk ke dalam sekolah itu. Seketika semua siswa yang ia lewati terperangah dan kaget melihat Kyuwon yang baru datang dan dengan percaya diri mengenakan pakaian bebas. Semua siswa menatapnya dan saling berbisik. Kyuwon tidak memperdulikan mereka. Ia terus berjalan ke sebuah kelas.

Seulgi melihat Kyuwon menaiki tangga. “Bukankah itu Kyuwon?”. Seulgi mengikuti Kyuwon yang sekarang sedang berjalan di koridor kelasnya. Sama seperti siswa lain, Seulgi heran melihat Kyuwon. “Lee Kyuwon!” seru Seulgi. Mendengar seseorang memanggil namanya, Kyuwon membalikkan badannya dan melihat Seulgi menghampirinya. “Kenapa kau ke sekolah? aku kira kau sakit jadi tidak ke sekolah hari ini.” ucap Seulgi, ia melirik tangan kanan Kyuwon. “Tanganmu, bukannya kemarin diperban, kenapa sekarang tidak?” tanya Seulgi heran. Kyuwon hanya memberikan tatapan datar pada Seulgi. Ia tidak menjawab pertanyaan Seulgi dan membalikkan badannya, kembali berjalan. Seulgi semakin heran. Ia pun mengikuti Kyuwon di belakang. “Ya Kyuwon! tunggu.”

Kyuwon berjalan ke kelas, namun bukan kelasnya. Ia berjalan ke kelas 3-4 (kelas BTS). “Kyuwon kenapa kau ke sini?” tanya Seulgi yang sudah ada di samping Kyuwon. Kyuwon berada di pintu depan kelas 3-4 yang terbuka. Ia melangkah masuk ke kelas itu dan seperti respon siswa saat melihat Kyuwon memasuki gerbang. Siswa-siswa di kelas 3-4 pun menatap heran ke arah Kyuwon. Seulgi memilih tidak ikut masuk kelas itu. Sementara BTS menatap ke arah Kyuwon dan mendapatkan tatapan dingin darinya. Taehyung merasa ada yang ganjil. “Kenapa Kyuna datang ke kelas ini dan pakaiannya… tapi dari sorot matanya… jangan-jangan,” batin Taehyung.

Siswa di kelas itu masih melihat Kyuwon. “Bukan kah itu Kyuwon? Kenapa dia ada ke sini?” ucap pelan salah seorang murid di kelas itu. Kyuwon tidak peduli dengan tatapan atau ucapan semua siswa di kelas itu. Ia fokus menatap satu anggota BTS. Kyuwon melangkah kembali ke arah BTS yang sedang berkumpul dan duduk, kecuali Namjoon dan Jin berdiri. Kyuwon terus berjalan ke arah tempat duduk Yoongi, sorot matanya menyiratkan bahwa Kyuwon sangat marah padanya.

Yoongi balik menatap tajam ke arah Kyuwon yang kini sudah ada di samping bangkunya. Yoongi pun berdiri. Mereka saling memberikan tatapan dingin satu sama lain. Sementara anggota BTS yang lain dan siswa yang ada di kelas itu diam sambil terus melihat mereka.

Hening.

Tapi tiba-tiba Kyuwon mencengkam kerah seragam Yoongi, menariknya keluar dari bangku, lalu…

Brukkk…

Kyuwon mendorong kuat Yoongi hingga tubuhnya terbentur deretan loker yang ada di bagian belakang kelas. Sontak semua siswa terperangah dan anggota BTS yang lainnya langsung berdiri. Yoongi menatap benci ke arah Kyuwon. Tapi Kyuwon menatap tajam ke arahnya dan mendekati Yoongi. “Aishhh…” tangan Yoongi tertahan oleh Kyuwon saat ia akan memukulnya. Kyuwon mencengkam kuat tangan kanan Yoongi yang ditahannya. Yoongi sedikit menahan kesakitan, dan…

Bugh….

Kyuwon memukul Yoongi tetap di wajahnya. Yoongi tersungkur dan mengelap darah di sudut bibirnya dengan jari telunjuknya kemudian menatap Kyuwon dengan wajah marah. Namjoon mendekat pada Kyuwon dan menahan tangan kanannya yang seperti akan memukul Yoongi lagi, “YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” ucap Namjoon. Kyuwon menoleh pada Namjoon dan menatapnya dingin dan tajam. Melihat sorot mata Kyuwon dari dekat membuat Namjoon sedikit bergidik. Kyuwon menepis kasar tangan Namjoon. “Aku tidak punya urusan denganmu, diamlah selagi aku masih membiarkanmu,” ucap Kyuwon dingin. Kemudian satu tangannya, Kyuwon mendorong Namjoon ke belakang. Namjoon hampir tersungkur, tapi untung ada Jin menahannya dari belakang.

Kyuwon kembali melihat Yoongi. Dia tersenyum dingin pada Kyuwon, “Baiklah, jika kau ingin berkelahi denganku…” ucap Yoongi lalu Yoongi melayangkan tinjunya pada Kyuwon, tapi Kyuwon berhasil menghindar. Kyuwon langsung memegang tangan Yoongi dan memelintir tangan itu kemudian dari belakang satu tangannya yang lain memukul punggung Yoongi hingga Yoongi terhuyung jatuh. Yoongi menahan sakit lalu kembali berdiri. Kyuwon melihat datar ke arah Yoongi. Sementara siswa lain dan anggota BTS lain tidak ada yang berani menghentikan mereka.

Yoongi dengan cepat kembali melayangkan tinjunya pada Kyuwon, namun lagi-lagi Kyuwon berhasil menghindar dengan cara melewati tinju Yoongi dari bawah tangannya. Setelah itu Kyuwon berputar dan dengan sedikit melayang, kakinya berhasil memukul pundak dan wajah Yoongi sampai Yoongi terhempas menabrak meja dan bangku-bangku. “Ah…” Yoongi sedikit meringgis. Anggota BTS lain melihat cemas pada Yoongi sementara siswa lain takjub melihat kemampuan Kyuwon.

Tanpa ampun, Kyuwon kembali menarik kerah seragam Yoongi dan membuatnya berdiri. Tangan kanannya dengan bebas memukul perut Yoongi dan wajahnya. beberapa kali Kyuwon melakukan itu sampai akhirnya ia memberikan satu pukulan terakhir di wajah Yoongi dengan kuat. Brukk… Yoongi jatuh ke lantai dan tersungkur. Banyak memar dan darah di wajah Yoongi, sementara wajah Kyuwon tidak tersentuh sedikit pun. Kyuwon duduk sedikit jongkok di samping Yoongi lalu memegang dan menarik kerah seragam Yoongi agar wajah Yoongi mendekat pada wajahnya. Kyuwon menatap dingin dan tajam langsung ke arah mata Yoongi.

“Kau pikir bisa menang dengan cara licik? Aku tahu semuanya dan aku pastikan kau ‘membayar’ apa yang kau sudah perbuat padaku” ucap Kyuwon dingin.

Kemudian Kyuwon mendorong sekali lagi Yoongi dan melepaskan cengkramannya. Yoongi tercengang mendengarnya barusan. Kyuwon berdiri dan membenarkan letak jaket dan topinya kemudian berjalan ke pintu kelas 3-4 bagian belakang. Seulgi menatap tidak percaya ke arah Kyuwon yang sudah ada di luar pintu kelas 3-4.

Sementara di dalam kelas, anggota BTS lain, kecuali Taehyung, menghampiri Yoongi dan menolongnya. “Apa tadi itu Kyuwon?” pikir Taehyung masih melihat ke arah pintu kelas. Siswa lainnya langsung berbicara dengan temannya.

Ya, kau lihat tadi? Benar-benar hebat, sepertinya Kyuwon kembali kuat seperti dulu”

“Kau benar, Kyuwon yang dulu sudah kembali!”

Bersambung

 

3 thoughts on “Dangerous – Chapter 9”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s