Guardian Angel [1 of 2]

Guardian Angel

Guardian Angel

story by

riria ly

Cast:

BTS’s Jungkook a.k.a Jeon Jungkook

TWICE’s Nayeon a.k.a Im Nayeon

Genre: Romance, Hurt, Family| Rating: PG 13 | Duration: Twoshots

Jungkook & Nayeon belong to God, their parents and agency. But the story is mine.

~~~

Siapa namamu?

Jungkook

Nah, Jungkookie berhenti menangis. Mulai sekarang Noona akan melindungimu.

 

========================

 

              Jantung pria itu berdetak semakin kencang, keringat dingin mulai muncul diwajahnya, ia tak menghentikan gerakan tangannya dan fokus menatap objek di depannya. Lama kelamaan tubuhnya menegang dan dirasa ia sudah tak kuat lagi. Ia mendecak sebal begitu kata YOU LOSE muncul dalam I-pad yang berada digenggamannya.

Aishh jinjja.”

              I-pad-nya telah ditinggalkan dan pria itu langsung mendapatkan objek pemandangan yang baru. Sekelompok gadis tengah menari dengan riangnya di tengah lapangan, tak lupa teriakan-teriakan semangat mereka kumandangkan. Bibir pria berambut gelap itu membentuk senyuman, saat matanya menemukan gadis cantik yang sangat dikenalnya. Meskipun kalah tinggi dari kebanyakan gadis-gadis di situ, dia tetap yang paling menarik di mata pria dengan name tag Jeon Jungkook yang terpasang rapih di seragamnya itu. Sangat menarik malahan.

              Saat sekelompok gadis itu selesai dengan aktivitasnya, kaki Jungkook otomatis bergerak mendekati gadis tadi. Senyum semakin mengembang dibibirnya saat semakin dekat dengan gadis itu.

              “Bagaimana latihannya?” ia bertanya sembari menyerahkan tumbler yang dibawanya.

              Gadis itu menghela nafas lelah sebelum menjawab. “Seperti biasa, mereka masih membutuhkan aku.” Ia menghabiskan seperempat isi dari tumbler tersebut.

              “Masih juga?” Nada suara Jungkook terdengar sebal. “Noona kau sudah ada di tim itu hampir tiga tahun, mau berapa lama lagi? Masa tak ada satu pun orang yang bisa menggantikanmu.”

              “Yakk bicara pelan-pelan, mereka bisa mendengarnya.”

              “Aku benar, ‘kan? Noona sekarang sudah kelas 3, harus mulai fokus untuk ujian nanti.”

              Kegalauan melanda gadis itu. “Bulan ini. Aku janji hanya sampai bulan ini, kemudian aku akan fokus pada ujian.” Ia menatap Jungkook penuh keyakinan.

              “Baiklah, aku pegang janjimu Nayeon Noona”, kata Jungkook akhirnya. Nayeon tersenyum cerah mendengarnya, membuat Jungkook tak mampu melirik ke tempat lain. Ia bahkan mengabaikan anggota tim cheerleaders lain yang berpamitan pada Nayeon.

              “Yakk Jungkook-ah kau mendengarku tidak sih?” Jungkook kembali kealam sadarnya saat wajah Nayeon menekuk.

              “Eh iya… Noona ngomong apa?”

              “Tuh, kan!”

              “Ah maaf Noona, ayo pulang.” Jungkook menarik lengan Nayeon.

              “Kan sudah kubilang tadi kau duluan saja, aku ada perlu sebentar dengan wali kelasku”, jelas Nayeon masih kesal.

              “Kenapa? Nilaimu bermasalah lagi?”

              “Yakk, nilaiku cuma bermasalah di matematika saja”, Nayeon membela diri, Jungkook tak bisa menyembunyikan senyum jahilnya. “Dan kali ini bukan karena nilai, dia ingin tahu aku mau melanjutkan kemana”, tambah gadis itu.

              “Kalau begitu aku akan menunggumu.”

              “Andwae, ini mungkin lama”, Nayeon melarang.

              “Tak apa, bagaimana jika terjadi sesuatu padam saat dijalan”, Jungkook bersikeras.

              “Kaukira aku anak kecil apa, aku bisa pulang sendiri.”

              “Tidak boleh, titik!” Nayeon merengut, tetapi akhirnya menurut juga. Jungkook memang tak akan membiarkannya pulang sendiri, tak akan pernah.

              Kenapa? Karena ia telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga perempuan yang lahir dua tahun lebih dulu darinya itu.

              Kenapa bisa seperti itu? Semuanya berawal 10 tahun yang lalu, saat bekal makanan Jungkook kecil ditumpahkan oleh teman-temannya.

              “Kaukira pantas untuk duduk bersama kami?” salah satu temannya yang berambut coklat.

              “Kenapa tidak?” Jungkook kecil mencoba tabah.

              “Kata Ibuku, Ayahmu adalah koruptor, jadi kau tidak pantas untuk bersanding dengan kami. Kau sudah jadi orang miskin sekarang.”

              Jungkook memang terlalu kecil untuk mengerti korupsi itu apa, tapi ia mau tak mau mengingat momen menyakitkan saat Ayahnya dibawa oleh polisi dan ia serta Ibunya harus keluar dari rumah mewah mereka. Salah seorang anak mendorong tubuhnya hingga jatuh.

              Jungkook tak ingin menangis, tetapi akhirnya menangis juga. Ia menunduk menatapi tangannya yang tergores tanah.

              “Yakk bocah apa yang kau lakukan padanya!” Seseorang datang, membuat ketiga anak tadi lari terbirit-birit.

              “Hei kau baik-baik saja?” orang tadi membantu Jungkook berdiri dan membersihkan bajunya dari debu.

              Jungkook memberanikan diri mengangkat wajahnya. Ketika matanya bertemu pandang dengan orang itu, Jungkook kecil bertanya-tanya apa di depannya itu malaikat penolongnya.

              “Apa kau malaikat?” Jungkook bertanya dengan polosnya, masih dengan keadaan terisak.

              Sudut bibir seseorang yang menyerupai gadis kecil berumur 8 tahun itu terangkat membentuk senyuman.

              “Aniya, panggil saja Nayeon Noona”, balasnya.

              Hening. Jungkook berkali-kali mengedipkan matanya untuk meyakinkan diri bahwa gadis di depannya itu betulan orang.

              “Siapa namamu?”

              “Jungkook.”

              “Nah Jungkookie, berhenti menangis. Mulai sekarang Noona akan melindungimu.”

              Tidak berhenti di situ saja Nayeon menolong Jungkook kecil. Hari itu juga Jungkook dibawa kerumahnya dan diberi makan. Gadis berwajah imut juga sering menjemput Jungkook di saat Ibunya sibuk bekerja, sesekali memarahi teman-teman Jungkook yang masih sering mengejeknya, memberinya makan siang dan malam, mengajarinya membaca dan menulis.

              Garis besarnya Nayeon saat itu benar-benar malaikat pelindungnya. Dan sekarang ini sudah saatnya bagi Jungkook menjadi malaikat pelindung gadis itu. Salah satunya dengan menemaninya berangkat dan pulang sekolah. Ia tak keberatan menunggu lama, asalkan ia bisa memastikan bahwa malaikatnya itu baik-baik saja.

****

              “Cobalah ini Jungkookie, Imo membuat kreasi baru.” Jungkook disodori piring berisi lahan sayuran dan daging, pria itu praktis langsung menerimanya tanpa berpikir panjang.

              Saat ini, ia tengah berada di rumah Nayeon –tepatnya di meja makannya. Sama seperti Nayeon, keluarganya itu juga selalu memperlakukan Jungkook dengan sangat baik. Bahkan Ibu Nayeon menganggap Jungkook bak anaknya sendiri.

              “Ini lebih lezat dari yang kemarin Imo”, kata Jungkook setelah mencicipi sesuap hidangan itu.

              “Makanlah yang banyak jika begitu.” Wanita paruh baya itu tersenyum melihatnya makan dengan lahap.

              “Tapi aku lebih suka yang kemarin, hari ini terlalu banyak minyak. Aku ‘kan lagi diet.”

              “Diet tak diet badanmu itu segitu-gitu saja Noona.” Dari balik mangkuk nasinya Jungkook berkata.

              “Hei!”

              “Apa Ibumu sudah kembali dari New York?” Nyonya Im mengganti topik.
Tiba-tiba saja lidah Jungkook mendadak keluh dan tak bisa lagi merasakan kelezatan makanan di depannya.

              “Eomma baru kembali minggu depan.”

              “Ah wanita itu benar-benar, sudah kubilang jangan terlalu keras bekerja. Bisnisnya ‘kan sudah sangat maju, lebih baik di rumah menghabiskan waktu dengan anak.” Jungkook hanya mengangkat bahu menanggapi omongan Nyonya Im. Semenjak Ayahnya masuk penjara dan meninggal karena serangan jantung, Ibunya itu menjadi gila kerja hingga lupa untuk mengurusnya. Ibunya menjadi orang yang berbeda, yang lebih mementingkan kerja, kerja dan uang.

              “Tapi aku kagum dengan Jihyun Ahjumma, dia sukses menjadi business women. Aku mau menjadi seperti dia.” Nayeon mendamba.

              “Bukannya Noona mau jadi dokter?” Jungkook mengingatkan.

              “Ah benar.”

              “Jadi sudah memutuskan menjadi dokter sekarang?” Nyonya Im bertanya. Jungkook tahu dengan jelas maksud wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu, karena sebelum hari ini putrid tunggalnya itu masih bingung menentukan karir masa depannya.

              “Ne Eomma, bahkan wali kelasku juga sangat setuju-”

              “Asalkan Noona mau belajar matematika lebih keras”, sambar Jungkook.

              “Yakk Jeon Jungkook!”

              Cemberutnya Nayeon itu membuat Jungkook tersenyum. Tersenyumnya Nayeon itu membuat jantung Jungkook berdegup kencang. Tertawanya Nayeon itu membuat Jungkook senang. Dan kehadiran Nayeon di sampingnya itu membuatnya hidup.

              Jungkook menatap Nayeon lagi –yang tengah meneguk air putih dari gelasnya, kali ini pria itu sangat yakin bahwa ia telah jatuh cinta pada malaikat pelindungnya itu.

****

              Kebisingan yang datang dari berbagai arah tak membuat seorang pria berambut gelap terganggu dalam membaca. Ia tampak tenggelam dengan buku tebalnya dan mengabaikan segala macam keributan kantin pada jam makan siang.

              Brakkk

              Setumpuk buku hinggap di mejanya.

              “Jika aku tahu seperti ini, aku ngga akan mau jadi dokter.”

              Jungkook mengangkat wajahnya dan menemukan perempuan cantik dengan jas panjang berwarna putih. Dilihat dari matanya, Jungkook tahu bahwa perempuan itu kurang tidur.

              “Lalu kau mau jadi pemandu sorak selamany?” ucap Jungkook setelah menutup buku dengan cover seorang pria yang tangan kanannya memegang pistol dan kaca pembesar ditangan kirinya.

              “Aku kan bisa jadi artis.”

              “Mimpi saja sana.”

              “Kata-katamu makin kesini makin menusuk hati Jungkook-ah”, kata Nayeon terluka. “Bagaimana dengan persiapan ujianmu? Apa berjalan lancar?”

              Jungkook mengangguk. “Mau pesan apa?”

              “Apa sajalah, otakku ini terlalu bebal untuk memilih makanan.”

              Jungkook berdiri dari duduknya dan menuju salah satu toko.

              Dua tahun telah berlalu, saat ini ia tengah dalam persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Sementara Nayeon telah berhasil masuk Fakultas Kedokteran di salah satu universitas di Seoul, dan walaupun penuh perjuangan serta kerja keras, perempuan itu tengah menjalani tahun kedua sebagai mahasiswi kedokteran.

              Perihal perasaannya Jungkook belum juga menyatakannya. Ia begitu takut Nayeon akan menjauhinya jika mengungkapkan perasaan itu. Dan ia belum merasa pantas bersanding dengan gadis itu. Dia hanya seorang siswa sekolah yang bahkan belum memasuki usia legal.

              Pernah sekali Nayeon diledeki oleh teman kampusnya saat Jungkook menjemputnya dengan seragam sekolah. Sejak saat itu Jungkook tidak pernah lagi menggunakan seragam sekolah saat mengantar atau menjemput Nayeon.

              Untuk sementara ini cukup bagi Jungkook hanya dengan berada di samping Nayeon –dengan status sebagai ‘adik’.

              Jungkook mengeluarkan beberapa lembar won dan menyerahkannya pada seorang ahjumma. Ia berbalik, kembali ke meja yang ditempatinya tadi. Kini ada pria yang  tak dikenalnya duduk di samping Nayeon.

              Saat Jungkook datang, pria itu menatap penuh tanya pada Jungkook, kemudian beralih pada Nayeon.

              “Ah Jimin-ah dia Jungkook, Jungkook-ah dia Jimin teman satu kelasku.” Jungkook hanya mengangguk pada pria bernama Jimin itu.

              “Dia siapa?”

              Nayeon melirik Jungkook sejenak sebelum menjawab, “Adikku.”

              Tangan Jungkook mendadak tak bisa mengangkat sesendok sup, diam tak bergerak. Ia benar ‘kan, Nayeon hanya menganggapnya sebagai seorang adik.

              “Jangan bercanda, kau kan anak tunggal.” Bahkan pria itu juga mengetahui fakta Nayeon anak tunggal. Seberapa dekatkah mereka?

              “Hmm… aku… dia sudah seperti adik bagiku.”

              “Ah begitu.” Jimin manggut-manggut. “Nayeon-ah apa kau ada acara minggu ini?”

              “Minggu ini…” Nayeon berpikir keras, Jungkook berharap gadis itu tidak melupakan janjinya. “Ah aku harus menemani Jungkook ke Busan untuk mengunjungi makam Ayahnya.”

              “Ah sayang sekali.” Jimin menatap Jungkook, pria itu terlalu berharap agar Jungkook membatalkan acaranya, atau paling tidak pergi sendiri. Tentu saja Jungkook tak akan melakukan itu.

              “Kajja Nayeon-ah Imo sudah menunggumu di rumah.”

              “Mwoya, aku bahkan belum menghabiskan setengah dari hidanganku”, protes Nayeon. “Dan sejak kapan kau memanggilku tanpa embel-embel noona?”

              “Hari ini.” Jungkook meraih buku miliknya dan Nayeon, kemudian menunduk sedikit pada Jimin dan berbalik pergi, tidak memperdulikan seruan Nayeon yang menyuruhnya untuk menunggu.

****

              Walaupun dia sudah sering bolak-balik ke rumah keluarga Im, ia masih tahu diri untuk tidak menerobos masuk begitu saja –terlebih di saat larut seperti ini.

              “Jungkook-ah kenapa malam-malam kemari?” Jungkook bingung akan menjawab pertanyaan Nyonya Im seperti apa. “Masuklah, udara di luar sangat dingin.” Tangan hangat itu membimbing tubuhnya masuk.

              “Kau mau minum apa? Imo akan buatkan.”

              “Tidak usah Imo-ya”, Jungkook menolak. “Noona ada?”

              “Dia ada di atas, naiklah. Jika butuh sesuatu bilang saja.” Jungkook menatap Nyonya Im hangat, wanita paruh baya itu tidak pernah menuntut penjelasan –jika Jungkook memang belum mau menjelaskan. Setelah Nyonya Im hilang dari pandangannya, Jungkook berjalan menaiki tangga, membuka sebuah pintu dengan berbagai hiasan rilakuma.

              “Wahh bisa saja aku tengah telanjang Jeon Jungkook”, semprot sang pemilik kamar.

              “Tapi kenyataannya tidak, kan”, balas Jungkook seraya melentangkan diri di ranjang queen size itu.

              “Ada apa?” Nada suara Nayeon menjadi lembut.

              “Bukan apa-apa.”

              “Aku tidak sebodoh itu untuk tak tahu orang yang punya masalah atau tidak.” Nayeon yang pada awalnya berada di meja belajarnya, berpindah di ujung ranjang. “Lagipula aku sudah mengenalmu selama 12 tahun, kaukira bisa membohongiku eoh?”

              Jungkook memejamkan matanya, mengingat pertengkaran dengan Ibunya sejam lalu yang berakhir Jungkook keluar dari rumahnya. Penyebab pertengkaran awalnya karena Ibunya yang memaksa agar dia kuliah di luar negeri dan Jungkook menolak keras. Tetapi kemudian pertengkaran itu melebar kemana-mana, bahkan Jungkook sempat berteriak agar Ibunya tak perlu ikut campur dengan hidupnya, toh Ibunya juga tak pernah mengurusnya.

              “Kali ini saja, bisakah Noona tak bertanya kenapa.”

              Jungkook mendengar Nayeon membuang nafas. “Kau tahu ‘kan Jihyun Ahjumma bekerja banting tulang untuk siapa?”

              “Untukmu, Jungkook-ah.”

              Ya benar, Jungkook tak berhak untuk marah pada Ibunya gara-gara tak punya waktu dengan akibat sibuk bekerja. Karena itu semua juga demi Jungkook. Bagaimana jika seandainya pasca kebangkrutan usaha dan kematian Ayahnya, Ibunya itu terpuruk. Sangat mungkin bagi Jungkook tidak dapat menikmati kemewahan yang diberikan oleh Ibunya sekarang.

              Bulir-bulir air mulai berjatuhan dari matanya.

              “Ahjumma meneleponku tadi, dia sangat mengkhawatirkanmu”, ujar Nayeon lembut sembari memegang tangan kanannya. “Kau sudah makan?”

              “Hmm”

              Tapi perutnya mengkhianatinya.

              “Lalu bunyi apa itu?”

              “Baru sesuap tapi.”

              “Aishh dasar.”

              Bahkan di saat dirinya sebesar ini, Nayeon masih juga menjadi pelindungnya.

****

              Hari ini akhirnya tiba. Hari dimana Jungkook akan menyatakan perasaannya pada Nayeon. Sekali lagi pria itu membuka kotak berwarna merah muda ditangannya, dan terpampanglah sebuah kalung dengan bandul berupa sayap-sayap kecil. Ia duduk dengan gelisah dibangku taman –menanti kehadiran Nayeon.

              Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang.

              Jungkook membulatkan tekadnya sebelum berbalik. Tetapi senyum bahagia yang ditampilkannya berubah menjadi senyum miris. Nayeon memang datang, tapi dengan menggandeng seorang pria.

              “Ah Jungkook-ah mianhae, noona ada praktek tadi”, ujar Nayeon.

              Jungkook menatap penuh tanya pada pria itu. berbagai pemikiran jelek merayapi kepalanya.

              “Kau pasti penasaran dengan pria yang dibawaku ini”, Nayeon menyadari. “Perkenalkan dia Park Jinyoung, senior sekaligus pacarku.”

              DEG

              “Ngomong-ngomong apa yang mau kaukatakan?”

              Jungkook menyelipkan kotak tadi disaku jaketnya. “Aniyo… aku hanya ingin memberitahumu… bahwa aku-“ Jungkook menggantungkan ucapannya.

              “Bahwa apa?”

              “Aku keterima di Akademi Kepolisian.”

              “Bagus sekali Jungkook-ah, sudah kubilang kan kau pasti berhasil.”

              Nayeon memberinya pelukan. Tapi Jungkook tidak menyukai pelukan tersebut. Jenis pelukan seorang kakak pada adiknya.

******

Sebenernya ini mau dijadiin oneshot tapi kepanjangan wkwk

Jangan lupa tinggalin jejak ya😀

One thought on “Guardian Angel [1 of 2]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s