Hold Me Tight [Part 3 – She’s Cold Face]

Hold me tight cover 3

Title: Hold Me Tight (Part 3 – She’s Cold Face)

Scripwriter: NamchagiLu

Cast: Kim Seok Jin (Jin BTS), Yoon Mina (OC), Park Jimin (Jimin BTS)

Support Cast: Jeon Jeongguk (Jungkook BTS), Min Yoongi (Suga BTS)

Genre: Romance, conflict, Hurt, Sad, School life, Family life

Duration: Chaptered

Rating: NC 17

Disclaimer + warning  : story is Mine, terinspirasi dari semua MV BTS dan lagu BTS –Hold Me tight. ( kekerasan, dan agak mengacu ke tindakan asusila. DIBAWAH 17 TH TIDAK DI IJINKAN)

Song background recommended : BTS – Hold Me Tight, Exo – My Answer

Previous: 1 / 2

Summary : Setelah tahu Jin dekat dengan Mina, Jimin yang memang berambisi untuk menghancurkan kehidupan Jin pun mulai mengganggu Mina. Dia melakukan apa saja untuk membuat wanita itu merasa risih berada di sekitar Jin, tapi tanpa dia sadari hal itu membuat ikatan kasih sayang mereka semakin erat. Suatu hari Mina tanpa sadar menemukan sesuatu yang membuat Jin marah, dan karena itu dia menjadi lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Jin. Lalu bagaimana dengan Jimin?

Song baground recomended : BTS – Hold Me Tight, Exo – My Answer, Winner – Pricked (Song Minho & Nam taehyun) , Got7 – If You do

If you do it always becomes the right words, If you do I can never win,

Suddenly you become a different person, When we get along well I get more nervous” (Got7- If You do)

Your cold face tells me everything rather than words, I can see a break up rising over me like a high tide, I know it will soon be our last but, I can’t let you go” (BTS – Hold Me Tight)

“katakan.. katakan kau sudah tidak mencintaiku!” – Kim Seokjin

Pintu RV mendadak terbuka, padahal baru lima menit yang lalu Jungkook pamit kepadanya untuk membeli makanan. Apa mungkin dia menemukan penjual keliling di dekat ladang?

“cepat sekali kau pulang..!” kata Mina sambil menoleh, tapi kemudian dia menyadari bukan Jungkook yang ada disana. Matanya membulat menatap orang yang ada di hadapannya.

Park Jimin ada di hadapannya dengan tatapan tajam dan jahat, Mina segera bangun dari duduknya. Ketakutan itu kembali menyerangnya terlebih lagi sekarang dia sendirian, tak ada satupun orang yang bisa membantunya. Mina meraih buku yang ada di dekatnya lalu melemparkan ke arah tubuh Jimin tapi itu tak bereaksi apapun. Jimin makin berjalan mendekatinya, Mina meraih piring dan melemparkannya tapi meleset dan membentur besi RV, dia panik dan terus melempar semua benda yang ada di sekitarnya tapi sama sekali tak bereaksi. Mina kehabisan stok barang di sekitarnya, dia membulatkan hati lalu mendorong Jimin dan segera berlari keluar, tapi rambutnya di tarik dengan keras. Mina mengerang kesakitan dan terjatuh di atas karpet merah.

Jimin ada di atasnya dengan seringai jahat sambil memandangi wajah Mina yang ketakutan. Dia membelai pipi Mina sejenak lalu menyeretnya keluar, Mina meraih sapu yang ada di dekat pintu lalu memukulkan ke tangan Jimin yang di perban. Jimin melepaskan tangannya dan kesempatan itu di gunakan oleh Mina untuk lari.

Mina berlari menuju ladang jagung dan bersembunyi di balik gubug tua yang saat itu digunakan olehnya menangis. Kali ini Jimin tak perlu lelah mengejarnya karena dia sudah menyiapkan sesuatu yang pasti akan membuat Mina keluar.

“Yoon Mina .. keluar!!” teriak Jimin, Mina diam di belakang gubug dengan ketakutan.

“Yoon Mina!! bila kau tak keluar, lihat apa yang akan ku lakukan pada orang ini!” teriak Jimin lagi. Mina mengintip dari balik gubug, disana dia melihat Jungkook yang penuh dengan luka sedang bersimpuh di hadapan Jimin. tangan dan kakinya terikat, wajahnya penuh dengan luka. Jimin menarik rambut Jungkook membuatnya mengerang kesakitan.

Mina membuang pandangannya, dia takut untuk keluar tapi dia juga tak bisa membiarkan Jungkook di siksa oleh Park Jimin yang kejam. Dia kembali mengintip kondisi Jungkook, terlihat disana Jimin menendang perutnya hingga dia jatuh tersungkur dengan mulut mengeluarkan darah.

Yak, Yoon Mina. lihat apa yang akan ku lakukan sekarang!” Jimin mengacungkan pisau lipat silver yang di ambil dari saku celananya.

andwae..” pekik Mina.

“Yoon Minaaa!!” Jimin kembali meneriaki namanya.

“jangan keluar Mina –ya… aku baik – baik saja!! fikirkan Jin dan ayahmu yang ingin melindungimu!!” teriak Jungkook, dia tak bisa membiarkan Mina jatuh ke tangan Park Jimin. Jimin kesal, dia menendang Jungkook dan melemparknya ke atas semak – semak di tepi ladang jagung, pisau di tangannya di acungkan dan siap untuk mengoyak perutnya, tapi..

ANDWAE..” teriak Mina, dia berlari untuk menyelamatkan Jungkook.

“jangan lakukan itu, jebal.. baik aku akan menuruti apapun yang kau minta asal lepaskan dia. Jebal” Mina berlutut di depan Jimin sambil menangis, dia tak bisa melihat Jungkook kesakitan dan mati seperti ayahnya demi untuk melindunginya lagi.

“baiklah..” Jimin menyeringai jahat dan memasukan pisau itu kedalam sakunya lagi lalu menarik Mina untuk masuk kedalam mobil. Jungkook menatap Mina yang masuk kedalam mobil dengan beribu rasa bersalah, dia berusaha melepaskan ikatan tali yang kuat di tangannya tapi tak bisa. Sampai mobil Jimin pergi menjauhpun dia masih berkutat dalam belenggu tali yang membuat tangannya membiru.

Mereka sampai di sebuah rumah besar yang ada di kawasan terpencil, sekitar rumah ini di tumbuhi pohon cemara yang tinggi dan mustahil ada orang yang bisa menemukan rumah ini bila dia tak tersesat. Jimin menarik Mina untuk masuk kedalam rumah yang banyak di huni oleh orang – orang menyeramkan. Mina bisa menebak orang itu adalah anak buah ayah Jimin yang di tugaskan untuk menjaga rumah besar ini. Saat Jimin lewat, orang – orang yang berpapasan dengannya membungkukkan badan tanda rasa hormat.

Jimin membawa Mina naik ke sebuah kamar yang ada di lantai tiga rumahnya, dia menghempaskan tubuh Mina keatas karpet beludru yang ada di pinggir tempat tidur lalu mengunci pintu. Mina segera berdiri di atas karpet untuk menghindari hal – hal yang tidak di inginkan. Jimin berjalan mendekat kearah Mina yang terus berjalan mundur sampai membentur tembok kamarnya. Dia menyeringai lalu mencengkram pipi Mina dengan keras.

“sudah kuperingatkan kau untuk menjauhi Kim Seokjin, mengapa kau tak menurut?”

Mina mengumpulkan semua kekuatannya lalu memandang Jimin dengan benci “aku sudah bilang ini kehidupanku, aku tak mengenalmu”

geurae? Sekarang katakan dimana bukti itu?”

“bukti apa?”

“jangan pura – pura bodoh, Yoon Jae Hoon pasti memberimu bukti pembunuhan yang ku lakukan”

Mina terkejut mendengar kalimat Jimin, jadi dia sudah tahu pasal bukti itu. “Molla, aku tak tahu.. apa yang kau bicarakan”

“aku tanya sekali lagi, dimana bukti itu?”

Mina menelan ludahnya yang terasa sangat sakit di tenggorokan “ji – jinjja.. aku tak tahu apa – apa!!”

Kesabaran Jimin sudah habis dia menarik Mina lalu melemparnya bak sebuah bola ke atas kursi panjang yang ada di depan tempat tidur. Kepala Mina sakit karena membentur tembok dengan keras. Jimin langsung menerjangnya dan menarik rambutnya sampai dia menangis kesakitan.

“kau tak mau jujur padaku?”

“hiks.. Jinjja.. aku tak tahu” tangis Mina.

geurae, feel my Fury..” ancam Jimin.

Andwae.. Andwaee” Mina menggelengkan kepalanya. Tatapan Jimin sudah berbeda, kali ini dia menatap seperti seekor singa lapar yang baru menemukan mangsa. dia mengangkat tubuh Mina lalu menjatuhkannya di atas tempat tidur.

Jimin mencoba membuka dress biru yang di pakai oleh Mina tapi sekuat tenaga Mina menahannya, dia kesal dan akhirnya menghadiahi Mina dengan tamparan bertubi – tubi yang lebih sakit dari sebelumnya. Pipi Mina lebam dan bibirnya mengeluarkan darah karena tamparan Jimin yang sangat keras. Mina memohon sambil menangis tapi tidak di gubris oleh Jimin.

jebal, lepaskan aku hiks.. lepaskan..” bibir Mina langsung di cium oleh Jimin dengan kasar, rasa ciumannya sangat asin karena tercampur dengan darah dan air mata. Jimin memperlakukannya dengan sangat ganas, bagai seorang pelacur. Dia tak membiarkan Mina untuk mengambil udara dan malah terus mencumbunya dengan ganas. Di tengah ciuman itu Mina jadi teringat Jin, dia merasa sangat kotor sekarang.

Jimin merobek dress yang di gunakan oleh Mina hingga beberapa kancingnya terlepas dari kain, dia menarik pakaian dalam Mina sampai putus dan memainkan dadanya. Mina terus menangis karena tak rela di perlakukan seperti ini.

andwae..” pekik Mina, tapi Jimin terlanjur panas. Dia terus menerus menjamah tubuh kecil Mina dengan paksa.

Jin dan Suga berjalan keluar dari ruang ujian dengan lesu, otak mereka seakan di peras oleh 50 soal yang harus mereka jawab dengan benar. Saat akan menuju parkiran Jin tertarik dengan gerombolan murid wanita yang tertawa sambil mengacungkan sesuatu yang sepertinya sangat cantik. Jin teringat Mina yang sedang menunggunya di markas, dia membelokan kakinya dan melihat seorang haksaeng yang dia kenal sedang membuka kotak yang berisi beberapa aksesoris.

“apa yang kau jual, Seolhyun –ah?” tanya Jin.

“oh ini, Aku membantu ibuku mejual beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan juga cincin untuk wanita.” jawab Seolhyun, Jin tertarik dengan salah satu kalung perak dengan liontin berbentuk sayap malaikat.

“aku ingin ini, sepertinya pacarku akan cantik bila memakai ini, berapa?”

“pilihan yang tepat, kalung itu adalah Angel’s Wings. Hanya 20 rb won.”

Jin menyerahkan uang pas kepada Seolhyun lalu pergi menyusul Suga yang sudah dulu masuk kedalam mobil. Di dalam perjalanan ke Markas, Jin tak hentinya memperhatikan kalung yang cantik itu dan tanpa sadar dia tersenyum sendiri. Suga berkali – kali meliriknya untuk memastikan kondisi sahabatnya baik – baik saja.

neo gwaenchana?” tanya Suga.

eoh, apa menurutmu Mina akan cantik bila memakai ini?” Jin menanyakan pendapat Suga.

“kurasa hanya kau yang tahu” jawab Suga, dia membelokan mobil menuju ladang jagung. Pandangannya tertarik pada seseorang yang tergeletak di depan Markas dan saat di perjelas ternyata itu Jungkook. Suga segera menghentikan mobilnya di sebelah tubuh Jungkook dan keluar dari mobil.

wae?” tanya Jin, Suga tak menjawab.

Jin ikut keluar dari mobil dan melihat kondisi Jungkook yang pingsan di sebelah Mobil Suga. Dia teringat dengan Mina, Jin masuk kedalam Markasnya. Dia terkejut melihat kondisi RV yang berantakan dengan piring pecah, barang – barang yang berantakan dan tivi yang menyala dengan suara yang keras. Jin mencari Mina kemana – mana tapi sosok gadis itu tak di temukan dimanapun.

Dia keluar dari RV dan langsung menghampiri Jungkook yang mulai sadar, Jungkook meminum air mineral yang di bawa oleh Suga.

Hyung.. Mina..”

“dimana Mina?”

“Mina di bawa oleh Park Jimin, Hyung..”

MWO?” pekik Suga dan Jin bersamaan.

“tadi Park Jimin kesini bersama anak buahnya dan mencari Mina, dia sempat bersembunyi tapi dia akhirnya menyerahkan diri karena kasihan melihatku. Maafkan aku Hyung” jelas Jungkook.

ani, ini bukan salahmu. Kita harus menemukan Mina sekarang” kata Jin. Suga mengangguk lalu masuk kedalam mobil. Jungkook hendak masuk tapi di cegah oleh Jin.

“aku ingin menyelamatkannya Hyung, dia tertangkap karena aku” kata Jungkook, akhirnya Jin mengizinkannya. Saat dia akan masuk kedalam mobil ponselnya bergetar, sebuah panggilan dari nomor rahasia.

Yeobusaeyo” sapa Jin.

“Kim Seokjin ssi, anyeong haseo!!” suara menyebalkan itu, Park Jimin.

Yak ssaekiya, dimana Mina-ku?”

“Mina – mu? Oh mungkin maksudmu Mina milik-ku”

Yak ssaekiya.. diman..”

O – Oppa.. hiks.. Oppa..” suara tangis ketakutan itu membuat tubuh Jin seakan membeku. Mina ada bersama dengan Park Jimin.

“Mina –ya.. Mina kau baik – baik saja? katakan kau ada dimana? Biar Oppa menjemputmu..”

Oppa ingin menjemput Mina?” Suara Park Jimin.

Yak ssaekiya, jangan pernah kau menyentuhnya satu helai rambutpun”

“hoo.. Oppa marah pada Jimin? hahaha..” tawa Jimin melengking “datanglah dengan bukti itu, aku akan memberitahu alamatnya.”

Jin segera membuka tas sekolahnya, disana ada tas putih kecil yang di gunakan untuk menyimpan barang bukti kejahatan Park Jimin. Jin mulai bimbang, bila dia menyerahkan ini maka kejahatan Park Jimin akan selamanya tertutupi tapi dia juga khawatir dengan keselamatan Mina yang mungkin sekarang sedang di siksa oleh Jimin.

Suga dan Jungkook keluar dari dalam mobil, dia melihat Jin yang berfikir sambil melihat barang bukti itu.

yak, Palli..” katanya.

“dia menginginkan ini..” kata Jin.

mwo? Park Jimin menginginkan itu?” ulang Suga.

“dia menjadikan Mina senjata untuk mendapatkan ini”

“lalu kau akan menyerahkannya? Lalu bagaimana dengan Taehyung?” tanya Jungkook

“aku bingung..” Jin jatuh terduduk di atas tanah kering, dia terus berfikir dengan keras. Posisinya bagai buah simalakama.

Ponsel Jin bergetar, sebuah pesan dari Park Jimin yang memberinya alamat untuk pertemuan dengannya. Jin bangun dari duduknya lalu merebut kunci mobil Suga, dia sendiri harus kesana, dia tak ingin melibatkan banyak pihak lagi.

Jimin memandangi ponselnya setelah mengirimkan alamat kepada Jin, seringai jahat makin lebar di bibirnya. Dia menoleh kearah tempat tidur yang berantakan dengan Mina yang memeluk lutut di atasnya. Jimin mendekat kearah Mina lalu membelai pipinya, dia menyingkirkan rambut Mina yang menghalangi wajahnya. Wanita ini sangat cantik, bahkan saat menangis dia terlihat lebih cantik lagi. Mina memalingkan wajahnya, benci melihat Jimin yang ada di hadapannya.

“jangan khawatir, kau akan segera bertemu dengan Oppa.” Kata Jimin, mendengar itu Mina semakin kuat menangis, dia meremas seprai putih dengan noda darah di atas nya. saat nanti bertemu dengan Jin apa yang akan dia lakukan? Dia sudah sangat kotor sekarang!

Mereka sepakat bertemu di sebuah gedung tua yang sudah tak terpakai. Kondisinya yang sudah rusak parah membuat gedung ini terbengkalai dan tidak pernah ada orang yang mau datang karena gedung bisa rubuh kapan saja.

Jin mengehentikan mobilnya di depan Park Jimin dan beberapa anak buahnya, dia keluar sambil membawa kantung putih sendirian. Dia berjalan mendekat kearah Jimin yang berdiri sambil melipat tangan. Di belakang Park Jimin ada Sehun dan Baekhyun yang menyeringai kearahnya.

“kau membawa buktinya?” tanya Jimin.

“mana Mina?” Jin balik bertanya dengan keras.

Jimin menepukan kedua tangannya lalu menunjuk keatas gedung, disana ada Mina yang terikat bersama dengan Chanyeol dan Kai. Mereka berdiri tepat di ujung gedung. Jin membulatkan matanya melihat Mina.

“brengsek, turunkan Mina-ku” perintah Jin, Jimin mengulurkan tangannya.

“bukti itu dulu..” kata Jimin, dengan berat hati Jin menyerahkan bukti itu ketangan Jimin. sejenak Jimin memeriksa keakuratan bukti yang di berikan oleh Jin lalu mengangkat ponselnya.

“lepaskan dia..”ujarnya di telpon sambil menatap Jin. Chanyeol dan Kai langsung pergi dari dekat Mina tapi kemudian..

“dorong dia..” lanjut Jimin, Kai berjalan mendekat lalu mendorong tubuh Mina sampai jatuh dari atas gedung.

andwaee!!!” teriak Jin sambil berlari menuju gedung, untung saja ujung tali yang di gunakan untuk mengikat Mina tersangkut di sebuah Jendela yang terbuka. Mina begelantungan lebih dari 50 meter dari atas tanah. Jin segera masuk kedalam gedung itu dan menaiki tangga untuk sampai di tempat Mina bergelantungan.

Jimin tertawa lagi lalu pergi dari sana, meninggalkan mereka berdua yang berjuang untuk hidup.

Jin terus berlari menaiki tangga panjang yang membawanya ke atas gedung, dia merasa sesak di dadanya tapi tak dia acuhkan. Keselamatan Mina nomor 1 sekarang. Tali yang menahan tubuhnya semakin lama semakin merosot, Mina sudah sangat ketakutan, dia melihat di bawah ada beberapa pecahan beling yang pasti mengoyak tubuhnya bila dia jatuh.

Tali itu terlepas dari sangkutannya dan tubuh mina meluncur dengan cepat kebawah tapi untung saja Jin bisa meraih ujung panjang tali itu dan menahan tubuh Mina. Mina menengadahkan kepalanya, dia melihat kepala Jin terulur di jendela yang ada beberapa meter di atas kepalanya.

“tenang, aku akan menolongmu” ujar Jin, Mina menggelengkan kepalanya. Melihat wajah Jin dia teringat dengan apa yang sudah Park Jimin lakukan padanya, dia merasa terlalu kotor untuk Jin. Dia lebih baik mati sekarang dari pada harus membebani kehidupan Jin lagi.

Derap langkah tergesa terdengar dari belakang tubuh Jin, saat dia menoleh disana ada Suga dan Jungkook yang berlari kearahnya. Mereka segera membantu Jin untuk menahan tali yang menahan tubuh Mina.

Hyung, pergilah ke lantai 5 dan tarik tubuh Mina lewat jendela. Biar aku dan Suga Hyung menahan talinya disini” kata Jungkook. Jin mengangguk lalu berlari menuruni tangga yang untuk menuju lantai 5, dia melihat kaki mina yang bergelantungan di dekat jendela. Jin berteriak agar Suga dan Jungkook sedikit menurunkan talinya, setelah pinggang Mina terlihat dengan segera Jin meraihnya dan menariknya untuk masuk kedalam gedung.

Mina berhasil di tarik dan selamat di atas lantai gedung tua, Jin segera membuka ikatan tali yang ada di tangan dan tubuhnya kemudian memeluknya dengan erat. Mina menangis dalam pelukan Jin.

Mereka semua pergi dari kawasan gedung tua itu saat hari sudah beranjak malam, sepanjang perjalanan Mina hanya diam saja. ingatan – ingatan itu datang kembali, menghampiri otaknya.

Jin menatap tubuh Mina yang di penuhi luka lebam, beberapa jam saja Mina bersama Jimin dan ini yang terjadi. Dia mencoba menyentuh lengan Mina yang membiru tapi Mina segera menepisnya dan beringsut menjauh. Jin merasa aneh dengan sikap Mina, dia mencoba meraih lengannya tapi lagi – lagi di tepis, kali ini bahkan Mina tak mau memandangnya.

“Suga ssi, aku ingin pulang” ujar Mina.

“iya sebentar lagi kita akan sampai di markas” kata Suga.

“maksudku, aku ingin pulang ke rumahku di Hapjaedong.” Jelas Mina, Jin yang ada di sebelahnya menoleh.

wae gapjagi?” tanya Jin, Mina tidak menjawab.

Sampai di depan rumah Mina yang gelap, Mina segera keluar tanpa mengatakan sepatah katapun kepada mereka semua. Dia bahkan tidak membukakan gerbang dan memilih masuk sendiri kedalam rumah. Jin merasa sangat bingung dengan sikap Mina yang tiba –tiba dingin, dia mengikutinya masuk kedalam rumah.

Jin meraih lengan Mina yang langsung di tepis oleh Mina. “ada apa?”

Oppa, aku merasa sangat lelah bisakah.. kau meninggalkanku sendiri?”

“tapi..”

“kumohon Oppa..” Mina sedikit membungkuk lalu masuk kedalam rumahnya. Jin diam di depan pintu rumah Mina dengan ribuan pertanyaan di otaknya. Apa yang terjadi pada Mina sampai dia berubah seperti itu?

Sementara Mina diam di balik pintu sambil menangis, dia menutup mulutnya agar suara tangisan tak terdengar oleh Jin yang masih berdiri di depan pintunya. Dia mengintip di kaca pintu dan melihat Jin berjalan menjauh dari rumahnya dengan lesu.

Mina segera masuk kedalam kamar mandi lalu menyalakan shower, dia menangis dalam guyuran shower yang dingin. Potongan – potongan kejadian itu teringat kembali seperti sebuah film dokumenter yang di ulang – ulang, saking terpukulnya dia sampai tak bisa menahan berat tubuhnya sendiri. Mina terjatuh di lantai basah kamar mandi dan menangis dengan keras.

********

Selama beberapa hari ini Mina terlihat dingin kepada Jin, dia tak pernah tersenyum atau bicara kepadanya. Saat berpapasanpun Mina selalu menunduk dan berlaku seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka berdua. Semua telpon dan SMS dari Jin selalu di abaikan dan semua itu membuat Jin merasa tersiksa. Dia berkali – kali datang ke rumah Mina tapi tak pernah berani untuk masuk, dia akhirnya hanya diam di luar sampai larut malam lalu pulang dengan hati yang hampa.

Mina sendiri sebenarnya tersiksa dengan semua ini tapi dia terlanjur merasa rendah di hadapan Jin. Dia menyadari sesuatu setelah semua ini terjadi, Jin tidak pernah menidurinya, itulah mengapa saat di rumah Mina Jin menghentikan perbuatannya dan malah meminta maaf. Dia menjaga Mina dengan sepenuh hatinya tapi sekarang Mina malah tak bisa menjaga dirinya sendiri dan menyerahkan mahkotanya kepada seseorang yang sangat jahat di dunia.

*******

Sudah sebulan berlalu setelah kejadian penculikannya dan Mina masih bersikap dingin kepada Jin. Tapi Jin tak putus asa, setiap hari dia terus menanyakan kondisinya dan alasan mengapa dia sampai berubah seperti itu, walau respon yang di dapatnya hanya tatapan dingin.

Hari ini Mina sedang menjalani pelajaran olahraganya, pelajaran hari ini yang di bawakan oleh songsaengnim adalah basket. Mina yang tak begitu mahir bermain basket hanya duduk di tepi lapangan memperhatikan teman sekelasnya berebut bola merah itu. dari lantai dua gedung sekolah Jin terus memperhatikannya dengan serius.

Bel pergantian pelajaran berbunyi, semua langsung menuju ruang ganti untuk mengganti baju olahraga dengan baju seragam. Mina berjalan bersama dengan Jung Eunji teman sebangkunya sambil berbincang, tapi di tengah jalan dia merasa sangat pusing dan pandangannya sedikit kabur.

“Mina –ya Gwaenchana?” tanya Eunji. Mina tak menjawab karena kepalanya terasa seperti di tusuk oleh ribuan anak panah, dia mencoba menggelengkan kepalanya tapi malah tambah pusing, semuanya berubah menjadi ungu dan kemudian hitam pekat. Mina pingsan.

Jin melihat semua itu segera berlari untuk menyelamatkan Mina, dia langsung mengangkat tubuh Mina dan membawanya ke UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama. Tapi naasnya dokter sekolah sedang mengambil cuti hamil dan dokter pengganti belum datang, akhirnya dia memanggil Suga dan memintanya untuk mengantar ke rumah sakit terdekat.

Sampai di rumah sakit, Jin langsung menggendong Mina untuk masuk kedalam Unit Gawat Darurat. Mina segera di tangani oleh dokter yang bertugas sementara Jin dan Suga menunggu di luar UGD dengan was – was.

Mina perlahan membuka matanya, pemandangan pertama yang di lihatnya adalah seorang dokter yang sedang memeriksa tensi darahnya.

“apa yang terjadi?” tanya Mina lemah.

“anda sedang hamil. Tepat tiga minggu” jawab dokter.

ne?” Mina terkejut, dunianya seakan runtuh seketika saat dokter bilang dia sedang hamil. Dokter memberikannya resep obat dan menyuruhnya banyak berisirahat kemudian membuka tirai yang menutupi ranjang Mina.

Mina keluar dari UGD dengan lesu, wajah pucatnya makin terlihat pucat setelah mendengar penuturan dari dokter yang mengatakan bahwa dia hamil. Ini pasti anak Park Jimin, dia bingung harus berbuat apa. Apa Jimin akan mau bertanggung jawab dengan anak ini? tapi hati kecil Mina mengatakan tidak mungkin.

Melihat wajah lesu Mina, Jin yang sedang menunggunya di luar ruangan segera berdiri. Dia menghampiri Mina dan menanyakan apa yang terjadi tapi Mina tak menjawab, dia malah menangis. Dia menyesali semua yang sudah terjadi padanya, dia takut bila Jin mengetahui yang sebenarnya dia akan membenci Mina dan bahkan Jijik kepadanya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Jin menarik lengan Mina sambil terus bertanya, tapi wajah Mina menjelaskan semuanya. Dia tahu Mina sedang menghadapi sesuatu yang berat dan tak bisa mengatakan kepadanya. Jin merasa sangat khawatir dengan kondisi Mina.

Karena tak kunjung bicara akhirnya Jin menarik Mina untuk masuk kedalam mobil Suga dan kembali ke sekolah. Sepanjang perjalanan Mina terus menatap jendela sambil menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya. Jin ingin bertanya tapi sekali lagi dia urungkan. Mungkin Mina butuh waktu untuk memenangkan diri, fikirnya.

Sepulang sekolah Mina menunggu Jin di danau dekat sekolah, dia ingin bicara sesuatu yang penting. Itu disambut dengan bahagia oleh Jin, dia berfikir Mina akan terbuka lagi padanya dan menceritakan semua masalahnya.

Jin melihat Mina yang masih berseragam berdiri di tepi danau, rambut panjang yang terurai tersibak oleh angin dan membuatnya terlihat lebih cantik lagi. Jin mengeluarkan kalung yang waktu itu di beli dari Seolhyun, rencananya dia akan memberikan kepada Mina kalung itu. dia ingin melihat betapa cantiknya Mina mengenakan barang yang dia beli.

“kau sudah lama? Mian, aku tadi..”

Oppa..” Mina memotong kalimat Jin tanpa memandang wajahnya.

ne? kau mau mengatakan sesuatu? Katakanlah!”

Mina menundukan kepalanya, entah ini harus di katakan padanya atau tidak. Dia masih merasa bingung tapi dia tak mau membebani Jin lebih lama lagi. Mina menghela nafas panjang lalu berkata.

“ayo kita putus..” suara lirih Mina terdengar seperti sebuah granat yang langsung meledak di hati Jin. Awalnya dia tak merasakan apapun tapi makin lama efek dari kalimat itu semakin terasa menyakitkan.

“pu –tus? Wae gapjagi?” Jin berusaha tertawa mendengar kalimat Mina.

“ayahku sudah meninggal dan dia sudah memberikan semua penjelasan kepadamu, dia juga memberikanmu bukti pembunuhan itu. jadi kurasa tugasku sudah selesai”

“apa yang kau bicarakan? Tugas apa?”

“aku sadar selama ini aku hanya menjadi alat untuk mencari kebenaran. Dan sekarang semuanya sudah berakhir”

“Yoon Mina..” kali ini suara Jin yang terdengar lebih lirih, dia tak percaya gadis yang sangat dia cintai tega memutuskan hubungan yang baru saja akan mereka rajut.

“itulah mengapa aku ingin berpisah. Kurasa kita tak bisa melanjutkan hubungan ini” lanjut Mina.

Jin berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis atau terlihat lemah di hadapan gadis itu, tapi memang kenyataan begitu pahit untuknya. Dia sekarang bahkan tidak bisa menahan laju air matanya, dia tak bisa melepaskan Mina, dia masih membutuhkannya untuk melanjutkan hidup.

Dia mencengkram bahu Mina lalu membalikan badannya untuk berhadapan dengannya. Kepala Mina menunduk, Mina tak bisa menatap wajah Jin.

“lihat aku.. aku mencintaimu dengan tulus.. kau tak percaya itu, eoh?”

Mina diam, air mata Jin jatuh makin deras. Dia mencengkram bahu Mina dengan lebih keras lagi, mencoba membagi rasa sakit yang di deritanya kepada gadis itu. Jin mengangkat kepalanya.

“lihat aku.. lihat aku!!” teriak Jin, Mina tetap menunduk.

“YOON MINA TATAP AKU!!” teriak Jin, sedikit demi sedikit kepala Mina terangkat. Mata sembabnya menatap langsung kearah mata Jin yang basah.

“katakan.. katakan kau sudah tidak mencintaiku!” perintah Jin, mulut Mina bergerak – gerak tak jelas. “KATAKAN!!!”

eoh.. aku tak mencintaimu lagi, aku.. aku.. aku ingin mengakhiri semua ini. aku ingin kehidupan normalku kembali. Aku.. aku tidak bisa..” tubuh Mina merosot, dia menangis sambil berjongkok di depan Jin yang juga menangis.

‘aku tak bisa hidup tanpamu, Kim Seok Jin’ lanjut Mina dalam hati.

Jin menghapus air matanya dengan kasar “kalau begitu pergilah..”

Mendengar kata – kata itu hati Mina bagai di hantam sebuah gada besar sampai hancur. Bukan menjadi dua atau tiga keping tapi menjadi serpihan kecil yang tak bisa di rangkai lagi. Mina bangun dari posisinya, dia mengelap air mata menggunakan punggung tangan lalu pergi dari hadapan Jin tanpa berkata apapun.

“Are love thorns sprouting out? Are these the traces you left behind?
Will I not be able to see you again ? (Where u at)
You whom I can’t touch
Should we stop just for a while? it’s hurts so much I can’t handle it
Love thorns are stabbing me (Kill myself)
In this pain not being able to forget you” (Winner – Pricked)

 

Jin menatap punggung Mina yang makin menjauh dan berubah menjadi titik kecil kemudian menghilang. Rasa sakitnya masih terasa dan menyiksa dirinya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Jin jatuh terduduk diatas tanah kotor dengan cahaya matahari sore menyinarinya, dia menatap kearah danau lalu berteriak sekencang – kencangnya hingga tenggorokannya sakit kemudian kembali menangis, rasa itu sungguh menyiksa. Bila tuhan berkenan dia ingin mati sekarang.

Tiba –tiba Jin mengingat sesuatu, Mina berubah seperti itu setelah di siksa oleh Jimin. ya, dia adalah titik permasalahan ini. Jin segera bangun lalu berlari sambil menghapus air matanya.

Jin belum pernah ke rumah Park Jimin sebelumnya, tapi dia tahu tepat dimana rumahnya. Bis yang di tumpangi Jin berhenti di jalanan sepi yang di kelilingi pohon cemara, dia segera turun dan berlari mencari rumah yang sedang dia fikirkan. Malam ini juga dia harus mendapatkan penjelasan dari Jimin.

Sampai di sebuah rumah mewah yang sangat besar, Jin segera masuk kedalam tapi dia di hadang oleh beberapa orang yang berjaga di luar.

“PARK JIMIN.. YA SSAEKIYAA.. KELUAR KAU!” teriak Jin dari arah gerbang, orang yang berjaga di luar mencoba mengusirnya tapi Jin tidak bergerak satu incipun.

YAAAK.. PARK JIMIIN!!” teriak Jin lagi, dua orang yang berjaga langsung menghampirinya dan memukuli perut Jin dengan keras. Jin tidak melawan walau mulutnya mulai mengeluarkan darah.

YAAAK!!” teriak Jin lagi. Sesekali dia terbatuk dengan lelehan darah perlahan keluar dari sudut bibirnya.

Pintu rumah terbuka. Park Jimin dan empat anak buahnya keluar dan langsung menghampiri Jin yang berlutut di depan rumah.

“ada apa? Mengapa malam – malam begini ribut?” tanya Jimin sok akrab.

Dengan geram Jin langsung menarik kerah bajunya “Yak, ssaekiya.. apa yang kau lakukan pada Mina, eoh??”

Wajah Jimin terlihat melecehkan, dia menatap Jin dengan tajam lalu berkata “Mina? ah Yoon Mina, aku menidurinya, wae?”

Cengkraman Jin mengendur seiring kata – kata Jimin yang berhasil di cerna di otaknya yang langsung berhenti bekerja. Sekarang sudah terjawab mengapa Mina berubah sangat drastis kepadanya.

“dia sangat agresif jadi aku tak memiliki pilihan lain” lanjut Jimin, dia menatap Jin dengan penuh kemenangan. “kulitnya sangat lembut dan wangi belum lagi bibirnya yang sangat manis. Ah.. desahannya..”

Jimin menyentuh pundak Jin lalu menariknya agar dia bisa berbisik di telinga kirinya “kau tahu nama siapa yang di ucapkan saat climax? Dia bilang.. ahh.. Jimin Oppa!!”

Suara Jimin yang menirukan desahan Mina membuat bulu kuduk Jin merinding. Dia merasa sangat kasihan kepada Mina yang pasti tersiksa melakukan itu dengan paksaan.

“brengsek kau..!” Jin mencoba menerjang Jimin tapi tertahan oleh Sehun dan Chanyeol. Kedua orang itu segera mengeroyok Jin yang langsung terkapar di atas aspal dengan luka dan darah di mana – mana.

“buang dia..” perintah Jimin, Namjoon dan Hoseok mengangguk lalu menyeret tubuh lemah Jin kedalam mobil, kemudian membawanya pergi dari kawasan rumah Jimin.

Jimin berbalik untuk masuk kedalam rumahnya dengan penuh kemenangan. Rencanannya berjalan seratus persen dan tak ada yang bisa di lakukan lagi oleh Jin untuk melawannya. Mungkin bila ada waktu dia akan bermain – main dengan Mina lagi dan membuat Jin gila, jadi pembunuhan yang di lakukannya benar – benar tidak akan pernah terungkap.

Mobil yang membawa Jin berhenti di belakang sebuah klub malam, Namjoon dan Hoseok langsung melemparkan tubuh Jin yang tidak berdaya di atas sampah bekas renovasi lalu pergi meninggalkannya.

Setengah jam setelah kepergian Hoseok dan Namjoon, tubuh Jin di temukan oleh seorang pelayan yang bekerja di klub malam itu. dia segera memanggil ambulan untuk memberikan pertolongan kepada Jin yang tidak sadarkan diri.

*******

Mata Jin terbuka, dia merasa sangat silau karena matahari yang menusuk dari jendela terbuka. Di atas sofa ada Suga dan Jungkook yang tertidur, dia mencoba bangun lalu melihat selang infuse di tangannya dan pakaiannya berganti menjadi piama dengan tulisan “Myeong Wo pyeongwoni”. Dia ada di dalam rumah sakit sekarang.

Seseorang dengan jas rapi masuk kedalam. Pria paruh baya itu menghampirinya dan berdiri di samping tempat tidurnya.

“jadi ini yang selama ini kau lakukan?” tanyanya.

jusunghamnida sajangnim..” ungkap Jin.

“jangan buat ibumu semakin depresi, pulanglah ke rumah secepatnya”

“aku akan pulang bila kasus Taehyung sudah selesai dan pelakunya di adili”

“jangan buang – buang waktumu untuk itu, ambilah pendidikan yang tinggi agar mendiang adikmu bahagia di surga”

“dia tidak akan bahagia bila pelakunya masih berkeliaran”

“turuti apa yang ayahmu minta!”

Jusunghamnida sajangnim, aku tidak bisa”

Ayah Jin menghela nafas panjang lalu berbalik meninggalkan ruangan. Jin menatap selang infus yang ada di tangannya, melepaskan dengan paksa sehingga darah segar mengalir di tangannya. Suga dan Jungkook yang sudah bangun tak bisa melakukan banyak.

“ayo kita pulang” Ajak Jin, mereka berdua mengangguk.

********

Kondisi Jin memburuk seiring berjalannya waktu, yang di fikirkan olehnya sekarang adalah Mina dan Mina. dia sangat khawatir dengan kondisi mental gadis yang sangat dia cintai itu. dia tidak makan, tidak tidur dan tidak bicara dalam waktu yang lama dan itu membuat Suga dan Jungkook merasa khawatir. Jin sedang ada dalam kondisi benar – benar terpuruk dan yang bisa mengangkatnya kembali adalah Mina.

Hari ini adalah hari selasa, Mina merasa tidak enak di perutnya. Berkali – kali dia bulak – balik kamar mandi karena mual, mungkin ini efek kehamilan pertamanya. Dia sekarang sedang duduk di depan kelas sambil membaca sebuah buku novel yang dipinjam dari perpustakaan. Seorang Haksaeng tingkat dua bernama Jung Dahyun menghampirinya dengan sebuah kertas ukuran f4 di tangannya.

chogiyo, kau Yoon Mina?”

ne, sunbae..”

“Kim Taeyeon songsaengnim memberikan ini untukmu. Kau pacar Kim Seokjin kan? Ini surat keterangan untuk tidak melanjutkan sekolah, sudah seminggu dia tak datang ke sekolah. Songsaeng meminta kau memberikan ini kepadanya”

ne? keundae..”

songsaeng bilang besok hari terakhir dikumpulkan. Baiklah aku pergi dulu, Anyeong!”

Dahyun pergi dan Mina memandangi kertas formulir yang harus di isi oleh Jin. Dia sebenarnya rindu Oppa nya tapi dia harus berusaha melupakannya. Tapi mengapa dia harus mengantarkan ini kepada Jin saat dia berusaha untuk menghindarinya.

Maka sepulang sekolah Mina pergi menuju markas RV yang ada di tengah ladang jagung. Rasanya sudah sangat lama dia tidak kesana tapi keadaan sekitar masih sama seperti dulu. Mina mengetuk pintu RV yang tertutup dengan lembut, tapi tak ada jawaban. Dia mencoba mengulang tapi sama tak ada jawaban, akhirnya Mina membuka sendiri pintu RV itu dan terkejut melihat tubuh Jin tergolek di atas karpet. Dia segera menghampiri tubuh Jin dan mengguncang – guncangnya dengan keras tapi tak ada reaksi, akhirnya Mina melepaskan tas sekolahnya dan memapah Jin untuk tidur di atas sofa.

Dia meraba kening Jin dan merasakah suhu tubuh yang sangat panas. Dengan ketergesaan dia mengambil air dingin dan handuk kecil lalu mengompres keningnya. Mina sangat khawatir dengan keadaan Jin yang sangat lemah, berkali dia berdoa sambil menggenggam erat lengan Jin. Dia takut ada hal buruk yang terjadi kepada orang itu.

Mina –ya.. Mina –ya..

Mina mengangkat wajahnya mendengar igauan yang keluar dari mulut Jin. Mengapa namanya yang di sebutkan?

Mina –ya.. Mina –ya.. kajima.. Mina.. kajima jebal” kali ini igauan itu diiringi dengan air mata yang sedikit keluar dari mata Jin yang masih tertutup. Mina menghapus air mata itu dan mengguncang – guncang tubuh Jin yang panas.

Oppa, aku disini! Bangunlah” ujar Mina, tapi Jin terus saja mengigaukan namanya dan tak kunjung membuka mata.

Oppa.. ini aku disini, Oppa!!”

“Mina –ya.. Mina –ya.. MINA!!!” kali ini Jin membuka matanya dengan tiba –tiba. Mina yang ada di sebelahnya menghela nafas lega.

Jin menoleh kearah Mina yang duduk bersimpuh di sebelah sofa, lama dia memandang wajah Mina yang tersenyum dengan tulus kearahnya. Dia mengucek matanya sampai memerah untuk memastikan bahwa apa yang dia lihat bukanlah ilusi karena dia merindukan sosok Mina yang telah meninggalkannya.

shit.. mimpi ini lagi” umpat Jin, Mina mengernyitkan dahinya.

“tapi bila dalam alam mimpi aku bisa melihatmu, tak masalah aku tinggal di alam mimpi.” Kata Jin kemudian. Mina mengangkat tangan Jin yang terasa sangat panas lalu menempelkan ke wajahnya.

Oppa ini aku, ini bukan mimpi!” ujar Mina, Jin hanya diam. Perlahan dia menggerakan tangannya untuk menyentuh wajah Mina, semuanya memang terasa sangat nyata bahkan saat dia bangun dari tidurnya dia merasa sangat pusing.

“Mina –ya!!” pekik Jin kemudian lalu memeluk tubuh Mina. dia melepaskan semua rasa rindu yang menyiksanya selama ini. Mina membalas pelukannya lebih erat lagi, dia melupakan janji kepada dirinya sendiri untuk melupakan Jin karena nyatanya dia tak bisa lepas dari bayangan Jin yang selama ini selalu menghantui nya.

Mina menyuapi Jin dengan nasi dan sup buatannya, Jin tampak lahap memakan hasil masakannya dan itu membuatnya merasa sangat senang. Perlahan wajah pucat Jin berubah menjadi lebih baik. Saat akan memberikan suapan terakhir, Mina merasa mual lagi. Buru – buru dia menuju kamar mandi dan memuntahkan cairan bening keatas closet, Jin mengikutinya dan mencoba memijat – mijat leher Mina untuk mengeluarkan semua hal yang membuatnya mual. Mina bangun dari posisinya dengan kepala yang pusing dan perut yang benar – benar mual.

Jin mengambilkan segelas air dan memberikannya kepada Mina. dia menarik Mina untuk duduk di atas kursi.

“apa kau sedang sakit?” tanya Jin, Mina diam saja. dia teringat kehamilannya.

“apa kau masih belum bisa mengatakan apa yang terjadi padamu selama ini?” tanya Jin lagi, dia mencoba memancing Mina agar dia mau terbuka kepadanya.

“kurasa aku harus pulang.. ada sebuah formulir yang harus Oppa isi dan.. Anyeong!” mina segera bangkit dari kursi nya tapi lengannya di tahan oleh Jin.

“ceritalah kumohon!!” pinta Jin. Mina mengepalkan tangannya, tak sanggup bila harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Jin. Dia takut Jin akan membencinya dan pergi.

“Yoon Mina.. ceritalah” Jin mengulang permintaannya lagi. Mina membalikkan badan untuk menghadap Jin, dia menatap dengan nanar kesemua penjuru.

“aku.. “ Mina mengeratkan kepalan tangannya, sementara Jin tegang menunggu jawaban Mina “aku.. aku hamil!”

Wajah Jin kembali pucat, kali ini dia merasa seperti semua hal yang ada di sekitarnya beterbangan menghantam dadanya. rasanya sangat sakit mendengar penuturan lembut yang keluar dari bibir mungil milik Mina.

“aku hamil kira – kira satu bulan” lanjut Mina, dia melepaskan tangannya yang di genggam oleh Jin kemudian mengambil tas dan keluar dari dalam RV. Jin mengejarnya sampai keluar.

Dia meraih lengan Mina dan memeluknya dari belakang. “i –itu pasti anakku”

Mata Mina berkaca – kaca saat mendengar tebakan Jin, apa dia bodoh? Jelas – jelas dia tidak pernah menidurinya, bagaimana mungkin ini anaknya? Mina melepaskan pelukan Jin lalu berbalik.

“ini anak musuhmu Oppa, ini anak Park Jimin. bagaimana mungkin kau bisa mengatakan ini anakmu?” sergah Mina sambil menangis.

ani, itu anakku. Aku yang menidurimu saat pertama kali”

Oppa!! Hiks.. ini bukan anakmu, bodoh!! Ini anak Park Jimin, aku sudah di perkosa oleh Park Jimin.. hiks.. hiks.. “ tangisan Mina semakin mengencang seiring dengan ingatan menyeramkan saat itu.

“Mina –ya..”

“aku – aku tahu Oppa tak pernah melakukan apapun padaku, Oppa menjagaku dengan baik dan aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri. Kumohon Oppa, jangan menyulitkan dirimu sendiri karena aku. tinggalkan aku sekarang!”

Hati Jin kembali hancur mendengar penuturan yang keluar dari mulut Mina. dia menyadari ini adalah alasan kenapa Mina memilih untuk memutuskan hubungan mereka. Tapi dia benar – benar tak bisa melepaskan Mina, dia terlalu berharga untuk di lepaskan. Jin takut dia takkan bisa hidup bila tak bersama dengan Mina. dia terlalu lemah untuk menghadapi dunia ini sendirian.

“aku tidak akan meninggalkanmu..” Jin mencengkram bahu Min “biarkan.. biarkan aku yang bertanggung jawab dengan kehamilanmu, katakan itu anakku. KATAKAN!!”

Mina menggeleng, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri mengenai ini. dan  dia tak bisa melukai perasaan tulus orang yang selama ini dia sayangi.

“tidak ini bukan anakmu. Aku akan meminta pertanggung jawaban Park Jimin dan semua masalah akan selesai”

“lalu bagaimana denganku? Kumohon Mina –ya!! Jangan pergi.. jebal

Mianhae Oppa!” Mina melepaskan cengkraman di bahunya lalu berjalan meninggalkan Jin sendirian di depan RV nya.

*******

Keesokan harinya Mina pergi untuk menemui Park Jimin. Taksi yang di tumpangi Mina berhenti di sebuah rumah besar yang sangat ia kenali, dia turun setelah membayar sejumlah uang. Mina kemudian masuk kedalam gerbang dan bertemu dengan dua orang yang berjaga di depan rumah seperti biasa. Orang – orang itu menanyakan maksud kedatangannya dan dia bilang ingin bertemu dengan Park Jimin.

Mina diantar masuk oleh salah satu orang yang berjaga kedalam rumah dan di suruh menunggu di ruang tamu. Lama dia menunggu di ruangan yang penuh dengan benda tajam sebagai hiasan, di atas meja pajang ada beberapa foto keluarga dan foto Jimin bersama dengan seorang gadis, dia bisa menebak gadis itu adalah Chorong.

Jimin datang di dampingi dengan Hoseok dan Namjoon, dia terkejut melihat kedatangan Mina di rumahnya lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Mina. beberapa pelayan datang lalu menghidangkan minuman dan camilan di atas meja.

“ada apa kau mencariku?” tanya Jimin, Mina meremas ujung rok sekolahnya untuk mengumpulkan tenaga.

Chogi.. bisakah kita bicara berdua” pinta Mina, Jimin menatap Hoseok dan Namjoon untuk menyuruhnya pergi.

“apa yang kau ingin bicarakan?” tanya Jimin, di ruangan itu hanya ada mereka berdua sekarang.

keuge.. aku – aku ha –mil..” jawab Mina terbata, wajah Jimin tampak terkejut tapi beberapa detik kemudian dia menyeringai sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.

“lalu kau mau aku bertanggung jawab?” tanya Jimin lagi, Mina mengangguk pelan.

“benarkah itu anakku? Bukan anak Kim Seokjin atau pria lain yang tidur denganmu?” tanya Jimin lagi, Mina berani menatapnya kali ini.

Jinjja ini anakmu”

“mustahil kau berkeliaran di sekitar Kim Seokjin bila dia tidak pernah menyentuhmu”

“aku tidak berbohong, ini benar anakmu.. kau yang sudah melakukannya padaku dan kuminta kau bertanggung jawab dengan perbuatanmu sekarang”

“gugurkan saja kandunganmu. Jangan coba membodohiku untuk masalah ini, aku sudah berpengalaman”

“Park Jimin neo..” Mina bangkit dari duduknya lalu memandang Jimin dengan benci. “geurae aku akan melahirkan anak ini sendiri, meskipun aku membencimu dan semua perbuatanmu tapi anak dalam kandunganku ini tidak berdosa. Dia hanya korban dari ke jahatan dan kemunafikanmu. Kau memang pria paling brengsek di dunia ini yang pernah aku kenal!”

Mendengar kata – kata yang keluar dari bibir Mina membuat emosi Jimin naik, dia bangun dari duduk nya lalu menarik rambut Mina dengan keras.

Yak, kau yang menyerahkan diri padaku! Mengapa kau menganggap aku yang brengsek?”

“aargghhtt.. sakit.. kumohon lepas..” erang Mina kesakitan, Jimin malah tambah menarik rambut Mina sampai rontok.

yak ssagaji.. pergi dari hadapanku sebelum aku membunuhmu” ancam Jimin, Mina mengangguk.

Jimin melepaskan cengkraman di rambut Mina dan pergi kedalam rumahnya meninggalkan Mina yang duduk bersimpuh sambil menangis. Dia segera bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah Jimin dengan beribu kebingungan. Kehidupannya sudah benar – benar hancur dan takkan ada yang bisa memperbaikinya.

Mina berjalan dengan lesu di atas jembatan untuk pulang, dia seperti orang yang kehilangan arah. Sudah banyak bis yang lewat tapi tak dia hiraukan, semua terasa hampa dan menyakitkan untuknya. Mina menghentikan langkah kakinya, dia memandang sungai yang ada di dekatnya. Apa mungkin bunuh diri akan menyelesaikan semuanya? Fikir Mina.

Tangan Mina menyentuh pembatas jembatan, dia akan mengakhiri hidupnya sekarang. Dalam hatinya dia merindukan Jin, mungkin dia tidak akan bertemu lagi dengan Jin dan semoga saja tuhan berkenan memasukkannya kedalam surga agar dia bisa melihat lagi wajah kekasihnya yang sangat dia cintai.

Sebelah kaki Mina sudah naik keatas pembatas jembatan, dia menghela nafas untuk meneguhkan hati. Sebelah lagi dia naikkan dan sekarang tekadnya sudah bulat. Meskipun dia takut mati tapi dia memang harus mati sekarang agar penderitaannya berakhir. Mata Mina sudah menutup, sebentar lagi dia akan bertemu dengan ayahnya. Mina mulai menjatuhkan tubuhnya kebawah jembatan tapi tiba – tiba seseorang menahannya dan langsung menariknya untuk turun.

Di hadapannya kini berdiri Jin yang berpenampilan sangat berantakan, keringat mengucur di pelipisnya dan dia tampak kelelahan.

“APA YANG KAU LAKUKAN, EOH?” sergah Jin.

Oppa.. pergilah, aku harus mati sekarang” ujar Mina sambil berusaha memanjat pembatas jembatan lagi tapi Jin menahannya.

Yak, ini bukan akhir dari segalanya. Kembalilah padaku, aku yang akan bertanggung jawab dengan semua ini” ujar Jin. Mina kembali terluka, dia tidak bisa begini.

andwae.. andwae..” pekik Mina, dia segera berlari untuk menghindari Jin tapi baru beberapa meter perutnya terasa sangat sakit. Darah meleleh di paha dan betisnya. Jin segera menghampiri Mina yang kesakitan di atas aspal jalanan.

“arrggt.. sakit.. argghhtt.. hiks.. sakitt..” erang Mina, Jin segera menggendong tubuh Mina dan menyetop taksi untuk membawanya ke sebuah rumah sakit terdekat.

Jin mengendong tubuh pingsan Mina untuk masuk kedalam UGD rumah sakit Jae il yang ada tepat setelah jembatan ini. Mina segera di tidurkan di atas tempat tidur dorong dan di bawa ke UGD, Jin di tahan oleh salah satu perawat untuk menunggu di luar.

Di luar ruangan Jin menunggu dengan beribu perasaan khawatir yang sangat dalam. Berkali – kali dia melirik kearah ruang UGD tapi tak ada tanda – tanda keluarnya dokter. Akhirnya Jin memilih untuk dududk di atas lantai rumah sakit sambil berdoa, rasa khawatir seakan mencekiknya. Dia takut ada hal yang buruk terjadi kepada Mina.

Dokter keluar setelah lebih dari setengah jam menangani Mina, Jin yang menyadarinya buru – buru bangkit dan menghampiri dokter itu.

“apa dia baik – baik saja?” tanya Jin.

“anda suaminya?” dokter balik bertanya, Jin hanya menatap dengan bingung “terjadi pendarahan yang cukup serius tapi kandungannya baik – baik saja. jangan biarkan dia terlalu stress dan kelelahan, juga pastikan dia makan dengan teratur. Untuk usia belia seperti dia, kandungannya sangat lemah. Bila terjadi hal seperti tadi saya khawatir bukan hanya kandungannya saja yang tak selamat tapi nyawa Nona Yoon juga dalam bahaya”

“ne? ka – kamsahamnida Uisanim” ungkap Jin, dokter membungkuk kearahnya lalu pamit untuk pergi.  Jin langsung masuk kedalam ruang UGD dan melihat Mina sedang tertidur di atas ranjang.

Perlahan Jin mengangkat tangannya dan membelai wajah Mina yang pucat, dia merapikan poni Mina yang sedikit menutupi wajahnya. Dia merasa sangat sedih bila mengingat apa yang terjadi pada gadisnya hari ini. sepanjang hari dia mencarinya kemana – mana dan akhirnya dia menemukan Mina sedang putus asa di pinggir jembatan, hendak bunuh diri.

Jimin duduk di atas ranjangnya sambil menggeser – geser layar besar tablet di tangannya. Malam sudah larut tapi kantuk tak sedikitpun menghampirinya, dia sibuk melihat beberapa foto yang ada di akun instagram bernama @YoonMin, akun pribadi milik Mina. lumayan banyak foto yang di unggah di akun media sosial itu dan semua bercerita tentang kehidupannya sehari – hari.

Dia mengakui bahwa ada sedikit rasa suka kepada gadis yang sudah dia nodai kesuciannya. Jimin menyimpan tabletnya lalu menatap sebuah gantungan kunci yang tergantung di dekat lampu duduk. Dia mengangkatnya lalu tersenyum.

“kau benar – benar hamil anakku?” gumam Jimin lalu menyimpan gantungan kunci itu di tempat semula.

Jam sudah menunjukan pukul 2 dini hari tapi Jin masih terjaga di sebelah Mina yang belum sadar. Tangannya menggenggam erat tangan Mina seakan tak ingin melepaskan, semua orang yang ada di sekitarnya sudah terlelap tidur tapi Jin tetap dalam pendiriannya untuk tidak tidur sampai Mina bangun.

Kira – kira sekitar jam  6 pagi Mina mulai membuka matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit – langit putih rumah sakit dan cahaya lampu putih yang menyilaukan. Dia menengok kesebelah kiri dan melihat wajah Jin yang tersenyum dengan tulus kepadanya, lingkar mata yang hitam membuat Mina bertanya – tanya dalam hati tentang kondisi kesehatan Jin.

“kau sudah sadar?” tanya Jin.

Oppa.. kenapa aku disini?”

“kau sakit dan pingsan di jalan, kau sebenarnya dari mana?”

Mina diam, dia ingat kemarin dia baru saja pergi ke rumah Park Jimin untuk meminta pertanggung jawabannya. Dia juga ingat saat ia akan bunuh diri Jin langsung menyelamatkannya.

“aku dari rumah Park Jimin” ujar Mina, Jin terkejut mendengar jawaban dari bibir Mina.

“untuk apa kau kesana? Park Jimin pasti tidak akan mengakui itu anaknya”

“tapi dia harus tahu aku hamil”

“sudahlah, aku sudah mengatakan akan bertanggung jawab mengapa menolak?”

“aku tidak mau membebanimu Oppa

“tapi Jimin sendiri tidak mau mengakui ini anaknya dan karena ulahnya kau hampir saja keguguran. Kau tahu itu sangat bahaya bagi nyawamu, eoh?”

ne, tapi jangan membebani dirimu Oppa. Ini kesalahanku dan aku sendiri yang akan menanggungnya”

Jin menarik kedua tangan Mina sambil menatapnya dalam.

“lalu aku bagaimana? Kau sudah tak mempercayaiku lagi? Aku sudah kehilangan semuanya dan sekarang aku juga harus kehilanganmu?”

Oppa..”

“lalu apa alasannya kau menyatakan perasaanmu kepadaku saat itu? mengapa kau harus membuatku menyukaimu bila akhirnya harus seperti ini?”

Mina diam, dia sendiri tidak tahu apa alasannya bisa begitu menyukai sosok Kim Seokjin yang terlihat sangat sempurna di matanya. Perasaan itu datang tiba – tiba dan dia tak bisa menghentikannya.

Terjadi keheningan yang panjang diantara mereka. Tak ada yang bersuara kecuali dengungan alat –alat medis yang ada di sekitar ruangan tempat mereka berdebat.

********

Mina pergi ke sebuah gereja yang ada di dekat rumahnya, sudah lama sejak terakhir dia mengikuti Misa mingguan di gereja khatolik ini. setelah selesai berdoa untuk kehidupannya, Mina segera keluar dari sana.

Pagi ini lumayan cerah dengan sinar matahari yang tidak begitu terik dan menghangatkan tubuhnya. dia berjalan diantara para penjual yang sedang menjajakan dagangannya. Seseorang menghampirinya saat dia akan berbelok untuk masuk kedalam komplek perumahan. Melihat wajah yang familiar itu membuat Mina sedikit demi sedikit memundurkan kakinya dengan takut. Park Jimin ada di depannya, tak seperti biasanya kali ini dia sendirian.

“ada yang ingin ku bicarakan denganmu Yoon Mina” ujarnya sambil mengulurkan tangan. Mina memandangnya lurus dan beberapa detik kemudian menyambut tangan Jimin yang terulur.

Jimin membawa Mina masuk kedalam mobilnya, mereka mulai bicara.

“baik –baik saja?” tanya Jimin, Mina mengangguk pelan.

“maksudku.. bayiku”

Mina menatap Jimin dengan terkejut, tadi dia bicara apa? Bayinya?

“ba –baik..” jawab Mina, Jimin menghela nafas panjang lalu memperhatikan perut Mina yang belum terlalu membesar.

“aku akan bertanggung jawab dengan bayi itu asal kau mau memenuhi syarat yang ku berikan”

“apa itu?”

“tinggalah bersamaku dan jauhi Kim Seokjin”

ne?”

“aku akan menikahimu segera dan aku tak mau kau berhubungan lagi dengan Kim Seokjin”

“me – me –ni –kah?” Mina tergagap mengulang pernyataan dari Jimin.

eoh, kau tentu tak ingin melahirkan tanpa suami bukan?”

“tapi..”

“tidak ada pilihan dalam kasus ini, kau harus menikah denganku”

“tapi aku tidak mencintaimu”

“ini demi anak yang kau kandung, setelah kau melahirkan itu tergantung denganmu ingin mengakhiri pernikahan kita atau tidak”

Otak dan hati Mina tidak sinkron seiring lamanya waktu mereka berdua bicara. Dia berfikiran itu akan membuat keadaan agak membaik tapi hatinya mengatakan itu takkan menyelesaikan apapun. Semua ini membuatnya bingung, bila anak dalam kandungannya menjadi alasan Jimin ingin bertanggung jawab lalu bagaimana dengannya? Dia tak mungkin menjalankan suatu pernikahan tanpa landasan cinta, orang tuanya yang dulu saling mencintaipun akhirnya memilih untuk bercerai.

“kurasa aku butuh waktu untuk berfikir” kata Mina.

“baiklah, aku akan memberikanmu satu hari untuk memikirkannya” ujar Jimin, Mina mengangguk walau keberatan dengan rentang waktu yang di berikan Jimin.

Jimin segera menjalankan mobilnya setelah mengantar Mina sampai di depan rumah. Dia meninggalkan Mina dengan ribuan kebingungan dan tanda tanya mengenai langkah yang akan dia ambil selanjutnya.

Mina membalikan diri untuk masuk kedalam rumah, tapi saat dia akan membuka pintu terlihat di dalam halaman rumahnya Jin sedang duduk di teras menunggu dirinya. Dia masuk kedalam area rumah dengan perasaan was – was, takut Jin tahu dia bersama siapa sebelumnya.

Mendengar suara langkah kaki, Jin langsung bangkit. Dia tersenyum kearah Mina yang berjalan mendekatinya. Mereka sudah saling bertatapan sekarang dan sibuk dengan fikiran masing – masing.

“tak terlalu pagi untuk berkunjung ke rumahku?” tanya Mina, Jin tersenyum lagi.

“aku sudah pernah menginap disini, mengapa kau menanyakan itu?”

Mina membuka kunci rumahnya dan mempersilahkan Jin untuk masuk kedalam rumahnya, bak tamu lama yang baru kembali berkunjung. Sebenarnya dia dalam kondisi tidak ingin diganggu sekarang tapi entah mengapa hatinya selalu ingin berdekatan dengan Jin. Mungkin cintanya terlalu besar kepada orang yang kini ada di sampingnya.

Mereka duduk di ruang tamu sambil berhadapan dan kembali diam.

“kau darimana?”

“aku baru pulang dari gereja”

“bagaimana kabarmu sekarang? Mengapa tak satupun pesanku yang kau balas?”

Oppa.. bisakah kau tidak menghubungiku lagi?”

Senyuman di wajah Jin menghilang, dia memandang wajah Mina dengan tatapan tak percaya. Saat ini mantan kekasihnya meminta untuk tidak menghubunginya lagi dan itu berarti Mina tak ingin Jin ada di sekitarnya. Rasa frustasi itu menyerang lagi, rasanya sama seperti saat dahulu dia mendapatkan berita kematian adiknya yang sangat mendadak.

“aku sadar sekarang aku bukan siapa – siapa lagi tapi, bisakah aku menjadi seorang teman?” tanya Jin. Mina membuang pandangannya ke sisi sofa yang sedang di duduki olehnya. Dia ingat persyaratan yang Jimin berikan.

Mianhae Oppa, aku tidak bisa menerima itu”

“walaupun hanya teman?” tanya Jin lagi, Mina menggeleng dengan ragu. Dia tak boleh mengizinkan Jin untuk dekat dengannya walau menjadi tetangga sekalipun.

Jin bangkit dari kursinya, dia menatap Mina dengan pandangan kesal namun penuh dengan cinta. sakit hatinya sudah di atas batas kewajaran seorang pria dan itu sangat membuatnya sesak.

geurae.. bila itu yang kau mau.” Jin beranjak dari tempatnya, saat sampai di ambang pintu dia menoleh ke arah Mina.

“selamat Yoon Mina! kau sudah berhasil mempermainkan Kim Seokjin dan mengirimnya ke neraka.”

Pintu rumah Mina di banting saat Jin keluar dan suara debuman yang keras itu berhasil membuat air mata yang dengan susah payah di bendung oleh Mina keluar. Rasa sakit itu seakan sangat nyata, perih dan sesak dalam hatinya tak bisa di tahan lagi. Mina berlari kekamarnya dan menangis dengan keras, mencoba menghilangkan semua kesedihan dan rasa sakit itu dengan air mata. Mengapa kenyataan begitu pahit untuknya tuhan?

Sementara itu di luar rumah, Jin hanya berdiri mematung dengan titik air mata di mata kirinya. Tangannya terkepal dan giginya saling menggeretak menahan emosi, bila ada orang yang rela di pukuli maka dia akan memukuli orang itu sampai mati saking kesalnya. Dia memandang pintu rumah Mina untuk terakhir kali lalu pergi dari sana, mencoba mencari pelarian untuk rasa sakit dalam hatinya.

Setelah tangisannya reda, Mina mengambil ponselnya. Dia mengetikkan beberapa nomor yang tadi sempat di berikan oleh Jimin sebelum mereka berpisah. Nada sambung menyambutnya pertama kali, dan sekarang terdengar suara berat di sebrang.

“Park Jimin ssi.. aku – aku menerima tawaranmu..” ujar Mina, dia menutup ponselnya lalu kembali menangis sambil memeluk lututnya.

To be continue…

Preview Next Chapter:

“jangan pernah mengganggu Jin Oppa lagi, kumohon”

 

“Jin Hyung, dia belum pulang sejak kemarin malam”

 

“kau akan melahirkan dan membesarkan anakmu disini”

 

“Jangan sekalipun kau memanggil si brengsek itu dengan kata – kata Oppa”

 

“Yak.. YAAAKK!! Aku tak butuh hartamu, aku tak butuh pertanggung jawabanmu”

 

“ini ada hubungannya dengan Yoon Mina?”

 

“Dia membuatku kembali membuka mata untuk melihat masa depanku, sesuatu yang selama ini aku abaikan setelah kematian Taehyung”

 

“jangan bicara apapun mengenai Yoon Mina di hadapan Jin saat ini. kumohon”

 

“Yak, kau tuli? Jawab”

 

“apa aku sangat menyedihkan sekarang?”

 

“a – aku.. aku melukai seorang gadis Hyung.. darah.. darah..”

 

“jadi gangguan kejiwaannya semakin parah..”

 

“dengan kau menyembunyikan keadaan Mina dan berkata semua akan baik – baik saja?..”

 

“apa karena berita itu..”

 

“Ahjussi.. cepat siapkan mobil..”

 

2 thoughts on “Hold Me Tight [Part 3 – She’s Cold Face]”

  1. Hi theree it’s me again😄😄 jadi tadi tuh pas komen di chpt. 2 posisinya aku udh selesai baca chpt. 3 ini hehe baru deh komen disana sini.

    Aaaakkkk jimiiinnn aku sukaa jimiinn knp jimin harus menjijikan disiniii jimin ko jahat bgtt yaaa😞😞😞 btw aku suka bgtt bagian dia tanya “baik baik saja? Maksudnya bayiku” aaww itu sweet bgtt deeh aku smpe ngulang 3x bacanya ah Jimin andai dia setulus Jin aku padamu 100% #loh😄

    Ohiya Jin knp kamu tulus sekaliiii iihh ampuunn smpe Mina udh dihamilin sama org yg paling dia benci pun dia msih mau tanggung jawab? Omfg emg ada yaahh di dunia ini cowo kaya Jin? Dimana yaahh kalo ada aku mau satuuu ajaa hehe (abaikan).

    Chpt 4nya belum keluar yaa? Ko lama bgt dari terakhir update chpt3 ini? Hehe aku tungguu yaa chpt4 nyaa semoga secepatnya bisa selesai. Really nice fanfict😁😁😁

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s