I’m A Sucker [3]

I'm A Sucker

I’m a Sucker [3]

By : coolbebh_

Kim Taehyung  X Nam Heewon

Previous: [1] [2]

LINK : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=475460829326252&set=g.625777654176103&type=1&theater

.

.

.

Suasana hati Heewon saat ini membaik. Ketika pagi tiba dia mendongakkan kepalanya melihat langit yang begitu cerah, ia tersenyum sesaat menyuruh otaknya yang tak sengaja untuk menghadapi pahitnya dunia. Ia sangat tahu,bahkan untuk  kehidupan di  masa depannya. Kelam dan kejam, menurutnya. Untuk masalah hati, memang tak mudah untuk dihilangkan. Salah  siapa? Apakah ini permainan alam? Entah…

Ia berjalan perlahan diiringi ketukan sepatu yang nyaring menapakkan lantai dengan penuh irama. Lantas ia berhenti kemudian  menoleh pada saat  seseorang yang tak asing baginya,

Suara itu..

“Heewon..” Panggilnya lembut. Heewon bergeming melihat penampilan lelaki dihadapannya sedikit berbeda. Tak seperti dulu.

“Ada apa, Jungkook?” Bohong kalau Heewon tak ingin memmbalas sapaannya. Jika dia memang masih mempunyai status dengannya, mungkin saat ini ia akan memeluknya dengan erat. Tatapannya yang semakin mendalam membuat raut wajah Heewon mengkerut. Jungkook memiringkan kepalanya perlahan, kemudian menutup matanya dengan khidmat. Apakah ia akan..? Jujur, dada Heewon masih bergemuruh hebat ketika aksi Jungkook yang mulai melumat bibirnya perlahan. Ia memang munafik, penuh dosa dan plin-plan. Namun bagaimana lagi.. Heewon juga menginginkannya, Jungkook yang sudah tahu yang mana saja titik Heewon yang disukainya, ia langsung menyerbunya dengan perlahan namun pasti. Ketika Jungkook mulai memanggut-manggut dengan kasar ia sendiri mulai kewalahan, otaknya yang mulai menjalar kemanana-mana ingin meminta lebih. Namun..

BUGGH!!!

Pukulan  hebat di pipinya, membuat Jungkook terhuyung kebelakang. Ia menatap Jungkook dengan sakartik, Menyalurkan api dimatanya, tak sampai disitu.. Lelaki ini menambah pukulan telak di tulang pipi kanannya. Heewon tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya terdiam mengigit bibir bawahnya dengan gemetar. Walau ia berteriaksampai pita putus tak berdaya untuk meminta berhentipun tak akan di dengar olehnya.

BUGGHH!!!

“Jungkook!” Heewon menghampirinya dengan cepat, memeluknya dengan erat. Tak peduli semua orang memandang dirinya gila atau apapun itu. Ia terlalu khawatir, Jungkoook yang dulu selalu menjaganya dengan penuh kasih saying tergeletak tak berdaya dengan darah mengalir di ujung pipinya.

“Kau.. Tidak apa-apa, Jung?” Ia mengelus pipinya yang membiru dan memerah perlahan, untuk tak menambah kesakitannya.

“Aku tidak..” Napasnya terpotong ketika dia ingin memberi jawaban padanya. Namun, kepalanya terasa pusing. Detak jantungnya semakin berburu tak karuan, ia mengontrol tenaganya denagn sekuat mungkin. Utntuk kali ini dia tak bertahan di hadapan Heewon.

“Jungkook! Bangun!”

.

.

.

Suasana di ruangan kesehatan hening, hanya beberapa makhluk hidip yang terbaring lemah dengan si Penunggunya, Heewon dan Jungkook misalnya. Sudah tiga jam lebih Jungkook tak kunjung sadar, ia masih terlelap di alam bawahnya dengan tenang. Namun berbeda dengan Heewon, raut mukanya tampak jelas di wajahnya. Kejadian itu membuat dirirnya shock  tak kepayang, Taehyung yang memukulnya habis-habisan dan membuat ‘si lelaki’ ini tak sadarkan diri, ditambah lubang napasnya mengalirkan cairan kental mengucur melawati bibir. Ia tak sanggup melihat Jungkook seperti ini, baik ia harus mati ketimbang dia jatuh sakit karena ulahnya. Berlebihan memang jika dia berpikir seperti itu.

Ketika dia memanjatkan doa dengan focus, pikirannya mulai terbesit, dimana kekasih barunya? Harusnya dia ada disini.

“Heewon..”

Mendengar ada seseorang memanggilnya, lantas ia menoleh kebelakang, tepat dokter Jung berdiri di ujung pintu. Ia beranjak dari kursinya kemudian membungkukkan tubuhnya, bentuk menghormatinya.

“Ada apa, dokter?”

“Jungkook.. Tak bisa dirawat disini, dikarenakan kondisinya sangat kritis. Saya curiga bahwa anak ini sedang menyeembunyikan rahasia terbesarnya.” Balasnya dengan serius. Heewon tak mengerti, perasaan yang menjalar cepat di aliran darahnya membuat pikiran negatifnya mulai datang.

“Apa itu, dok?”

.

.

“Seharusnya kau tak memukul calon suamiku dengan keras seperti itu! Dasar brengsek!” Ia menatap orang disampingnya dengan kesal sekaligus marah. Entahlah. Setahu drinya orang ini tak pernah berbuat kasar dan berbahaya. Lelaki ini hanya membuang napasnya kasar, kemudian menghirup udara dengan tenang. Senyuman yang terlihat licik pun terukir disana.

“Entahlah. Mungkin aku tak igin dia berdekatan dengan dirinya lagi..”

“Heh! Memangnya bukan dirimu saja, bodoh?”

“Diamlah, Yeeun! Kau membuatku pusing saja!.”

“Bagaimana kalau dia mati? Siapa yang bertanggung jawab, huh?” Lelaki ini tertawa meremehkan, esperti tahu suatu kondisi dan situasinya. Ia menoleh ke gadis disampinya, dan tersenyum miring tampak di ujung bibirnya.

“Ck! Memangnya aku tak tahu sifat aslimu, Yeeun-ssi? Kau hanya memanfaatkannya ‘kan?”

“Ia juga ‘sih..” Kemudian tertawa bersama dengan tepukan yang nyaring.

***

Langit mulai senja, menampakkan gradasi indah ciptaan Tuhan. Ia menatap monitor detak jantung yang tiap detiknya terdengar menyedihkan, angka yang semakin menurun membuat jantungnya juga terasa berolahraga penuh. Kulitnya yang semakin memucat, tangannya yang dingin bak seperti mayat itu tak bisa mempercayai keterangan dokter beberapa jam dulu.

“Dia tak mengalami penyakit apapun. Hanya saja  dia butuh istirahat yang cukup dan makanan yang bergizi, itu saja.” Ucapnya yang meyakinkan. Bohong jika ia tak curiga pada dokter tersebut yang memang sudah terkenal profesionalnya. Pertanyaan yang sukses ia lontarkanpun hanya dibalas dengan senyuman simpulnya. Tunggu.. Jangan-jangan si ‘Dokter’ itu sedikit gila. Konyol memang.

“Jungkook-ah.. Bangun..”  Ia menunduk, menggenggam tangannya dengan erat. Kulit putihnya itu sudah nampak kebiru-biruan. Entah setan dari mana, ia mencium pipinya lama, segores di hatinya mulai tumbuh jika dia benar-benar tak bisa tanpanya. Jungkook memang lelaki brengsek, mamun hatinya itu sudah tertutupi oleh mantra cintanya, entah ia memang lihai berakting atau pun menggoda wanita. Yang paling penting ia masih mencintainya, tanpa menghilang rasa sedikitpun. No matter what happened!

“Jungkook-ah.. Maafkan aku yang masih mencintaimu,” katanya. Heewon terisak pelan, ia menenggelamkan kepalanya lagi dengan menggenggam tangannya. Ketahuilah, ujung mata Jungkook mengeluarkan air mata yang sukses membasahi pipinya. Ya, Jungkook mendengar semuanya. Semua keluh kesahnya, walau ia sedang melawan takdir sekalipun.

******

Hari demi hari ia lalui dengan kehampaaan, semuanya terasa berwarna abu-abu. Jungkook yang belum tersadar dan Taehyung menghilang entah kemana. Ia tak menyukai hidupnya seperti ini. Seperti hanya dirinyalah yang hidup di dalam luasnya dunia penuh neraka. Ada seuntai kata yang ingin ia bicarakan pada Taehyung. Ia ingin meminta penjelasan ketika insiden kecelakaan setelah satu minggu yang lalu. Namun, seperti Taehyung tahu apa isi pemikirannya. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat pada dirinya di malam hari tadi.

‘Jangan menghubungiku dulu. Aku sedang muak dalam keadaan ini. Ku mohon kau mengerti, Heewon.’

Mungkin apa yang dikatakan Taehyung benar ia tak boleh menghunginya dulu sebelum masalah ini reda. Apa yang ia akan dilakukannya harus memikirkan konsekuensinya. Takut-takut Taehyung akan mencelakainya –Jungkook.

***

Pintu berwarna putih terbuka perlahan, ia menutupnya kembali dengan hati-hati. Tangannya yang menyaku ke dalam sakunya itu menampakkan keangkuhan. Ia menyeret kakinya dengan ketukan yang nyaring, lantas ia tersenyum licik kemudian memegang

“Jungkook.. Apa kabar, hm?” ucapnya pada lelaki yang terbaring lemah di hadapannya.

“Apa kau sudah berdoa pada Tuhan untuk pencabutan nyawamu? Dengar baik-baik, Jungkook.. bahwa waktu pencabutan nyawamu segera tiba tanpa seizin Tuhan dan malaikat. Mohon bersabar temanku yang baik,” ujarnya . Kemudian  ia melepaskan saluran oksigennya dengan sigap.

“Aku membencimu, Jungkook!”

Tubuhnya mulai mengejang, mengeluarkan suara nyaring di mulutnya, Jungkook merasa dirinya tercekik akibat oleh si pelaku. Namun dirinya hanya tertawa meremehkan sembari melipatkan tangannya. Dadanya naik turun seiring iramanya yang ia buat sendiri.

Monitor detak jantungpun berjalan dengan cepat mengizinkan informasi di organ tubuhnya. Yang membuat senyumannya berkembang melebihi garis.

TIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTT

“Selamat tinggal, Jungkook-ah..”

TBC

MOHON BERIKAN KOMENTAR YANG BERMUTU AGAR SI PENULIS BISA BELAJAR DALAM KARYANYA. TERIMA KASIH.

One thought on “I’m A Sucker [3]”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s