[Vignette] Woman’s Crave

Woman's Crave

Fanfiction: Woman’s crave

Scriptwriter: Rika Tresia | Main Cast: Lee Jinki a.k.a SHINee’s Onew, Park Minjung (OC) | Genre: Romance | Duration: Vignette | Rate: General 

Disclaimer: This fiction is original by me, if there’s a fiction that have the sama title as me, its just a pure coincidence

The original fiction have publish in my personal blog rikatresia.wordpress.com

Happy reading

Sabtu malam ditemani gemercik hujan diluar. Aku termenung ditenggah kesendirianku tanpanya, walaupun hari ini adalah week end tapi pekerjaanya tidak mengenal itu. Justru dimomen seperti inilah pekerjaanya akan sangat ditunggu para kaum hawa. Lee Jinki atau kebanyakan orang lebih mengenalnya dengan sapaan Onew. Dia adalah leader dari sebuah boyband yang berada di bawah naungan S. M Entertaiment. SHINee sudah melambungkan namanya sebagai seorang good leader. Dia yang adalah suamiku semenjak beberapa bulan yang lalu kami meresmikannya di depan altar gereja. Setelah mengucapkan janji suci dan kami resmi menjadi sepasang suami istri.

Tak kusangka setelah melepas gelar menjadi kekasihnya, menjadi istri dari seorang Lee Jinki lebih berat dari apa yang kubayangkan. Tinggal bersama di sebuah apartemen yang didominasi dengan kesendirianku tannpa kehadirannya seperti saat ini benar – benar membosankan. Huft, Tuan Lee aku rindu.

Waktu menujukan pukul 7 lewat 10, seingatku jadwalnya akan selesai pukul 7. Ah itu artinya jadwalnya sudah selesai, dan sebentar lagi dia akan pulang. Ada baiknya aku menyiapkan makan malam spesial agar kami bisa menghabiskan malam – malam yang tidak bisa kami lewati sebelumnya.

Ah aku sungguh bersemangat menunggu suamiku akan segera tiba.

Tit tit tit tit

Terdengar suara kode apartemen sedang dimasukan. Pasti Jinki sudah tiba. Ternyata waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, dan dia sudah berada di depan pintu masuk.

“Aku pulang sayang” sapa Jinki dengan senyum penuh lelah

“Selamat datang Tuan Lee” ucapku seraya tersenyum berusaha memberikan senyum termanis. Ku hampiri dia dan bergelayut manja dilengan kekarnya. Sepertinya ini bawaan si kecil yang ada didalam perutku, yang membuatku jadi bersikap manja seperti ini.

Jinki mengelus sayang puncak kepalaku, “Aku sudah menyiapkan makan malam. Kau ingin mandi air hangat sebelum kita makan malam?”

“Aku lelah sekali sayang, tubuhku rasanya seperti akan rontok. Aku tidak usah makan, aku akan langsung tidur saja”

“Nde?” dan Jinki sudah pergi meninggalkanku, yang masih terbengong dengan penolakan halusnya.

Apa dia begitu lelah?

Aku lapar, dan aku kesal. Jadi disinilah aku, berada di depan meja makan melahap makan malam spesial yang telah kusiapkan untuk orang spesial tapi nyatanya orang itu lebih memilih tidur.

Ah kesal sekali rasanya!

Selesai merapikan cucian piring aku bergegas menuju kamar kami yang pastinya sekarang penuh dengan dengkuran Jinki.

Nah kan aku betul.

Apa hari ini pekerjaanya sangat berat?

Dia bahkan belum melepas jaket, sepatu, kaus kaki, jam tangan, bahkan masker masih bertengger diantara dagu dan lehernya.

“Bulan depan kami akan comeback dengan lagu – lagu yang up beat, kau tahu? Gerakan tarian kami sangat rumit, jadi aku rasa mulai minggu depan jadwal kami akan sangat padat dengan latihan. Jangan lupa untuk memberiku semangat ya sayang”

Aku baru ingat 2 minggu yang lalu dia berpesan hal itu padaku. Dan 2 minggu yang lalu aku selalu menyusahkannya dengan segala keinganku yanng mengatas namakan bayi kami. Ah aku sungguh keterlaluan, bahkan beberapa menit yang lalu aku mengerutu dengan sikapnya.

Aku bukannya memberi semangat justru memberinya kesusahan. Tanpa bisa ditahan air mataku mengalir.

Aku berjalan kesisi tempat tidur kami, berusaha membantunya melepaskan segala atribut yang tak sempat dilepasnya sakin lelahnya. Mianhe Lee Jinki, aku istri yang buruk.

Ku sampirkan selimut menutupi tubuh lelahnya. Memandang wajah tidurnya yang damai membuat senyumku terukir.

Hmm manisnya… rasanya aku jadi ingin sesuatu yang manis.

Ice cream? Ah pasti enak

Aku berjalan cepat menuju dapur dan bergegas membuka kulkas untuk mencari ice cream yang sudah sengaja ku stock untuk menemani ku menonton drama.

Eh? Nihil? Kemana perginya? Ice creamku?

Aku mencari kesetiap sudut kulkas dan hasilnya nikil.

Oh iya, Jinki memberikannya pada Eungi sabtu lalu. Ah bagaimana aku bisa lupa untuk menstoknya lagi.

Apa iya aku harus merepotkan Jinki lagi?

Ya tuan Lee , maafkan aku. Kali ini harus membantah peringatanmu.

Kulangkahkan kaki menuju kamar utama untuk mengambil mantel hangat di dalam lemari. Melihat wajah damai Jinki aku benar – benar merasa bersalah kalau harus memintanya mencarikan ice cream di tengah malam seperti ini. Hanya sebentar saja tidak apa – apa, tidak akan menjadi masalah.

Apa ini sudah pagi? Kenapa jendela kamar kami masih tertutup tirai? Ku tolehkan kepalaku kearah jam dinding di sebelah kanan kasur nyaman yang sedang ku tiduri. Hoam ternyata masih jam 9 malam. Wah sepertinnya sesampainya di rumah tadi aku langsung begegas tidur ya? Lumayan juga tertidur sebentar, ah ya aku sampai lupa belum makan malam padahal tadi Minjung mengajakku makan malam dulu sebelum tidur, ahhh pasti sekarang dia sedang kesal.

“Jungie”

Ah sepertinya dia benar – benar kesal, sampai – sampai aku pun tidak ditanggapi.

“Jungie, kau dimana yeobo?” panggil ku sekali lagi.

Aku berjalan menuju ruang keluarga, dimana dia selalu menghabiskan waktu untuk menonton drama. Nihil. Didapur kah?

“Jungie?” tidak ada juga? Kemana ya dia? Apa di kamar mandi? Apa dia mual – mual lagi?

Kriuk… kriuk

Hah ternyata aku merasa lapar juga, coba aku lihat makan malam apa yang disiapkan istriku tercinta? Wooah ternyata Minjung menyiapkan ayam goreng kesukaanku

Aish jinjja dia pasti benar – benar sedang kesal padahal sudah menyiapkan semua ini tapi malah kutinggal tidur. Mianhe yeobo…

Tapi dimana dia sekarang?

Eh? Note apa itu yang ditempel diatas kulkas?

             Oppa, mian tidak menuruti kata – katamu

Aku sangat ingin makan ice cream saat ini

Dan aku tidak akan tega menggangu suamiku yang

kelelahan hanya untuk keinginan kecil ini. Karna

itu saat ini aku pergi ke super market di depan jalan untuk

mendapatkan ice cream ku hehe

kalau kau terbangun dan membaca ini tidak usah kuatir

aku akan segera kembali, saranghae

Ny. Lee

Mwoya kenapa tidak minta aku saja yang pergi membelinya? Dasar pabo bagaimana nanti kalau dia kenapa – napa dijalan? Aish jinjja! Bagaimana bisa dia bilang tidak usah kuatir ? aish Lee Minjung kau membuatku pusing

Tanpa memperdulikan cuaca malam yang dingin aku berlari menerjang angin malam untuk memyusul istriku yang sedang mengandung anak pertama kami. Jinki kecil yang sudah mencapai usia 4 bulan di dalam kandungan ibunya, Park Minjung. Seorang gadis yang menjadi pilihan ku untuk mendampingi hari – hari ku.

Aku tahu kau adalah gadis yang mandiri, tapi kenapa susah sekali sih mendengarkan kata – kata suamimu ini? Padahal aku sudah memperingatinya agar tidak nekat mecari makanan tau apapun yang berhubungan dengan kandungannya sendirian tanpa ditemani seseorang.

Aku tidak mau hal buruk terjadi di kehamilan pertamannya. Belum lagi dia selalu saja bertindak ceroboh. Sering tersandung polisi tidurlah, sering lupa membawa handphone dan entah berapa banyak lagi kecerobohan istriku itu.

Sepertinya dia sudah berangkat lama, hah hah hah aku sudah berlari sejauh ini tapi tidak bertemu dengannya dijalan, itu artinya dia sudah sampai di dalam super market. Semoga saja aku bisa menemukannya.

Ku lanjutkan berlari, berharap secepat mungkin bertemu dengan wanita itu. Wanita yang sedang membawa anak kami di dalam perutnya yang sudah mulai buncit, hehe aku benar – benar gemas setiap kali mengingat tubuhnya yang mulai berisi hari demi hari.

Hosh hosh hosh

Ketemu

Seorang wanita dengan mantel kebesaran sedang memilih beberapa ice cream. Ditangannya sudah ada 2 box ice cream yang aku yakini untuk stok dirumah, dan sepertinya dia akan menambah beberapa box lagi. Dasar pecandu ice cream!

Apa benar dia sedang mengidam? Ini sepertinya pernah terjadi jauh sebelum kami menikah.

“Ya!” aku dapat melihat wajah kagetnya haha dia pasti ketakutan

“Kau terbangun?”

“Menurutmu?”

“Ya, aku kan sudah bilang tidak usah kuatir”

“Kau kan hanya bilang tidak usah kuatir, bukannya tidah usah datang kemari”

“Aish dasar pintar!”

Hahaha kami sama – sama tertawa mendengar ucapan Minjung barusan.

Aku mengambil box – box ice cream di tangannya dan berjalan menuju kasir untuk membayarnya.

“Kemarikan biar aku saja yang membayarnya”

“Ah ne”

Sesampainya di depan kasir aku meletakan ice cream Minjung dan mengambil 2 coklat untuk diriku.

“Total belanja anda menjadi … pa”

“Ne”

Kurogohkan tanganku kedalam kantung celana untuk mengambil dompet

Mwo? Kemana perginya dompetku?

Ah iya, aku menaruhnya di dasbort mobil, pabo!

Si penjaga toko terlihat memperhatikan tingkahku, apa dia pikir aku tidak sanggup membayarnya?

“Jungie”

“Nde?”

“Kemari” ucapku dengan gerakan mulut, dan ia mendekat kearahku

“Dompetku tertinggal di mobil, yeobo” bisikku

“Hahahaha pabo”

Aish menyebalkan! Terlihat bodoh di depan istri benar – benar memalukan.

“Terimakasih, jangan lupa datang berbelanja kembali” ucap si penjaga toko selesai kami bertransaksi, atau tepatnya dia dan istrikku

“Kajja” ajak Minjung mengandeng jemariku

“Ya harus berapa kali aku memperingtimu agar tidak bepergian sendiri nyonya Lee?” Jinki memulai percakapan antara dirinnya dengan sang istri

“Eoh. Aku hanya tidak mau merepotkanmu tuan Lee. Melihat wajahmu yang tertidur juga kau yang lebih memilih tidur dibanding menyantap makan malam buatan ku membuat ku sadar. Suamiku ini pasti sangat lelah, benarkan?” jawab Minjung

“Anio! Tidak ada kata terlalu lelah bila untuk istriku yang sedang hamil”

“Mwo? Apa hanya disaat aku hamil saja?”

“Hmm… sepertinya… tentu saja tidak nyonya Lee” ucap Jinki seraya merangkul pinggang istrinya yang terdengar jengkel dengan ucapannya

“Ah tidak disangka kau bisa romantis begini tuan Lee” ucap Minjung yang kini lengannya pun sudah melingkar di pinggang Jinki

“Terima kasih atas pujiannya nyonya Lee kekeke”

“Hei perjalanan kita masih agak jauh, bagaimana kalau kau menumpang di punggungku? Kau pasti lelah?” ajakan Jinki terdengar manis sekaligus lucu di telinga Minjung, hal itu tak dapat menahan tawanya

“Ya! Kenapa tertawa”

“Itu terdengar sangat Manis tuan Lee, tapi kita bukan anak muda yang baru merasakan cinta, bukan? Apa tidak berlebihan kau menggendongku di jalanan seperti ini?”

“Apa ada yang salah? Di jalan ini hanya ada kita berdua, dan lagi apa yang salah dengan menggendong istri sendiri?”

“Ah tetap saja itu berlebihan oppa!” renggek Minjung, dan itu sangat menyenangkan bagi Jinki terlebih sudah lama dirinya tidak dipanggil oppa setelah mereka resmi menikah

Minjung lebih senang memanggilnya dengan tuan Lee dan jadilah dia memanggilnya dengan Nyonya Lee

“Berlebihan atau kau merasa malu, Jungie?” goda Jinki yang sekarang sudah mengeratkan rangkulannya menjadi bentuk pelukan yang sangat erat.

“Ya apa yang kau lakukan oppa?”

“Hahahaha mau ku gendong sampai rumah atau ku cium selama perjalanan kerumah?”

“YAK!”

Akhirnya Minjung kalah. Sekarang dirinya berada di pundak Jinki menyusuri malam menuju ke rumah mereka. Merasakan luasnya permukaan punggung suaminya, juga hanggatnya punggung yang kokoh itu membuat Minjung merasa nyaman.

Minjung bukannya ingin menolah tawaran menyenangkan ini, berada di tumpangan punggung sang suami, tapi dia sadar sudah banyak menyusahkan Jinki. Mulai dari awal kehamilannya, menemaninya kerumah sakit, pergi membelikan vitamin dan susu untuk pertumbuhan janin di dalam perutnya, belum lagi kalau dia sedang ingin memakan atau melakukan hal – hal yang aneh. Jinki selalu saja berusaha memenuhi kebutuhan Minjung. Dan untuk kali ini saja dia berusaha untuk melakukannya sendiri tanpa bantuan Jinki.

Tapi nampaknya sang suami benar – benar suami siaga. Tanpa di minta bantuan tiba – tiba saja berlari menghampiri sang istri dan memberikan bantuan, seperti saat ini.

“Jungie-ya, dengarkan aku”

“Wae?”

“Sekali saja, turuti keinginanku ini”

“Mwo?”

“Jangan pernah pergi kemana pun sendirian. Kau tidak perlu merasa menyusahkan ku, yeobo, karna hal itu sudah menjadi kewajibanku. Aku sudah berjanji di depan altar gereja saat memutuskan akhirnya akan menikahimu. Kalau aku akan bertanggung jawab 100% atas hidupmu didunia ini, sebagai seorang suami dan sahabat”

“Ne”

“Jadi, jangan pernah berusaha pergi tanpa ijinku, aku tidak mau kejadian beberapa bulan yang lalu terulang. Untung saja itu baru hampir, bagimana kalau saat itu kau tertabrak betulan? Aku bisa gila ditinggal istri yang baru saja dinikahinya kurang dari sebulan”

“Hehehe mian, aku akan belajar agar tidak selalu ceroboh oppa”

Jinki tersenyum mendengar ucapan Minjung, Minjung yang menurut dan memanggilnya oppa.

“Kau tahu? Saat itu jantungku hampit tidak berdetak saat melihat istriku menyebrang dan tidak jauh darinnya ada sebuah truk yang melaju?”

“Saat itu juga jantungku mau copot rasanya oppa”

“Untung saja pengemudi truk itu bisa menghentikan truknya tepat pada waktunya

“Ne”

“Ya Lee Minjung”

“Ne tuan Lee?”

“Sarangahae”

Minjung tersenyum mendengar ucapan tulus dari Jinki, ia bergerak maju dari punggung suaminya agar lebih dekat dengan wajah Jinki

“Naddo tuan Lee, Naddo Saranghae”

Chu

END

 

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s