Destiny (Part 1)

Destiny

D E S T I N Y

Scriptwriter: Eunhaecutiepie (eunhaecutiepie.wordpress.com)

Cast(s): Lee Donghae, Cho Kyuhyun

Genre: Romance

Rating: PG-13

Duration: Chaptered

++

Part 1

Author[1]’s pov[2]

 “COPET!!! COPET!!!”

Suara nyaring seorang gadis berusia 23 tahun mengagetkan pengunjung Pasar pagi itu. Beberapa pemuda dan pria dewasa mulai berkerumun di salah satu sudut sebelum akhirnya mereka berlari ke arah barat, mengejar seseorang yang diteriaki ‘copet’ oleh gadis dengan pakaian super mewah itu.

Orang-orang tersebut terus berlari sambil meneriakan kata-kata kasar untuk sang pencopet, namun sepertinya kekuatan orang yang mereka kejar lebih besar sehingga sekarang si pencopet  berhasil lolos dari kejaran warga.

Orang yang dipanggil copet itu akhirnya berbelok ke arah  gang sempit dan gelap, ia menghembuskan napas lega sebelum akhirnya tubuh itu merosot dan terduduk di tanah, mencoba menormalkan detak jantungnya yang berkerja lebih keras dari biasanya. Tangannya bergerak merogoh saku dalam jaket, mengeluarkan sebuah dompet keemasan yang berisi puluhan lembar uang cash.

“500…600…700,” Hitungnya cepat.

Ia tersenyum senang sebelum akhirnya memasukkan lembaran rupiah itu ke saku jaket,  menegakkan tubuhnya yang terduduk di tanah dan mulai berjalan menyusuri gang sempit tadi. Tangan besarnya membolak balikan benda berkilauan di depannya. Mencoba menaksir harga yang pantas ia dapatkan untuk dompet berwarna emas yang terlihat sangat berkelas itu.

“Oppa[3]!!!”

Ia mendongakkan kepalanya kaget saat mendengar suara seorang gadis yang sangat ia kenal, tangan kanannya bergerak cepat menyembunyikan dompet yang dipegangnya tadi di balik tubuh berototnya.

“Apa yang kau sembunyikan?”

Gadis itu mengerutkan keningnya heran melihat tangan lelaki itu yang berada di balik tubuhnya, pria itu tersenyum manis.

“Kau sudah pulang? Apa yang terjadi di sekolah hari ini?”

Tanya lelaki itu, mencoba mengalihkan perhatian dengan memulai topik baru yang terasa sangat basi bagi gadis di depannya.

“Jangan mengalihkan pembicaraan oppa, apa yang kau sembunyikan?” ujar gadis itu dengan nada menuntut.

“Ayolah Yongie-ya[4], aku sudah tidak sabar mendengar cerita tentang tempat belajar barumu itu…”

Gadis yang baru saja dipanggil Yongie itu menghembuskan napasanya kesal, matanya menyipit tajam melihat tangan besar yang berada di balik tubuh itu menyembunyikan sesuatu, dan akhirnya tanpa bisa dicegah, tangan mungilnya bergerak cepat merebut benda yang sedari disembunyikan kakaknya di balik punggung. Beberapa detik kemudian matanya membelalak kaget melihat dompet berwarna emas yang berada di genggaman tangannya.

“Yo-yongie-ya… aku…”

“Apa yang kau lakukan Lee Donghae!!!”

Gadis itu menatap tajam kakaknya, perasaan kecewa dan marah ia perlihatkan lewat sorot matanya.

“Aku tidak punya pilihan lain…”  Ujar Donghae lemah sambil menghembuskan napas beratnya.

“Tapi tidak dengan cara seperti ini oppa, apa yang akan kau lakukan jika orang yang kau copet berhasil menangkapmu? Kau hanya menambah masalah hidup kita jika kau masuk penjara!” Teriaknya kesal.

Ucapan tajam Yonghee berhasil menohok hati kakaknya. Donghae mengepalkan tangannya kuat dan menatap mata adiknya tajam.

“Aku tau kau belum makan sama sekali dari kemarin sore Lee Yonghee, kau kira aku akan diam saja melihat adik perempuanku kelaparan? Aku tidak mungkin menunggu sampai awal bulan untuk mendapatkan gaji.”

Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba mengatur napasnya yang memburu karena emosinya yang mulai memuncak akibat perdebatan itu.

“Aku sedang diet.” Ujar Yonghee setelah beberapa saat mereka hanya terdiam.

Donghae menolehkan wajahnya, menatap adiknya dengan tatapan meremehkan.

“seorang gadis dengan tubuh mungil sepertimu melakukan program diet? Lucu sekali…”

Mereka sedang berada di sebuah Rumah yang sangat sederhana di pinggir Kota sekarang, bangunan itu hanya memiliki 4 ruangan kecil, yaitu dua buah kamar yang masing-masing dimiliki oleh mereka berdua, sebuah ruangan yang berfungsi sebagai dapur dan ruang tengah, dan kamar mandi terletak di sudut ruangan.

“Kau tidak akan kenyang jika hanya memandang makanan itu tanpa memasukkannya ke dalam mulutmu.”

Suara Donghae memecahkan keheningan mereka di rumah kecil itu, Yonghee menatap kakanya malas lalu menyisihkan makanan itu dari hadapannya

“Aku tidak mau memakan makanan dari hasil pencurian.”

Ucapan tajam gadis itu berhasil mengehentikan gerakan mulut Donghae yang sedang fokus mengunyah makanannya, ia menghembuskan napasnya berat.

 “Yong, tidak bisakah kau berhenti mendebatku? Aku mohon, jangan membuatku semakin merasa bersalah dengan sikapmu itu. Tanggung jawabmu sepenuhnya ada di tanganku setelah kita keluar dari panti asuhan, aku tidak mungkin membiarkanmu kelaparan dan menunggu sampai aku mendapat gaji, itu terlalu lama.”

Ya, satu hal lagi yang belum aku ceritakan, mereka adalah anak panti asuhan yang kabur dan memilih untuk hidup sendiri,  menurut kepala panti asuhan tersebut, mereka ditemukan di semak-semak dekat panti dengan keadaan penuh luka gores.

Donghae menatap wajah Yonghee dengan mata sendunya, membuat gadis itu merutuki dirinya sendiri yang selalu terbuai oleh mata teduh kakaknya.

“Aish[5]… perutku pasti menangis karena memakan makanan penuh dosa terus menerus.”

Umpatan-umpatan kasar terus saja keluar dari mulut gadis itu seiring dengan tangannya yang mulai bergerak memasukan makanan-makanan itu ke dalam mulutnya, membuat Donghae tersenyum lega lalu mengusap kepala Yonghee sayang.

“Oppa janji, INI YANG TERAKHIR yongie-ya”

“Lihat sepatunya, jelek sekali… bukankah dia si murid beasiswa itu?”

“Aku dengar kakanya seorang pelayan Cafe.”

“Berani sekali gadis miskin itu masuk ke sekolah ini.”

Yonghee menutup mata dan telinganya, ini adalah hari kedua dia berada di sekolah ini ‘SEOUL INTERNATIONAL HIGH SCHOOL’ , merupakan SMA ternama di korea yang bertaraf international dengan puluhan fasilitas lengkap, guru terbaik, dan segala kemewahannya.

Sekolah ini sangat terkenal di kalangan konglomerat ataupun para pejabat korea, dan beruntung sekali Yonghee memiliki kakak yang mau mencari informasi sana sini tentang beasiswa di sekolah-sekolah elite dan mengurusi semuanya sendiri sampai akhirnya dia bisa bersekolah di sini tanpa biaya sedikitpun.

Yonghee meletakkan tas usangnya di meja, mengabaikan celotehan-celotehan tak jelas dari teman sekelasnya yang hanya akan membuatnya naik darah. Baru dua hari dia disini, dan belum mengenal ataupun berbicara dengan orang lain, tapi anehnya hampir seluruh siswa di sekolah ini mengetahui latar belakangnya dan cara nya masuk kesini yang hanya ditunjang oleh beasiswa prestasi, bukan karena ia anak pejabat, ataupun konglomerat yang sanggup membayar uang masuk dan SPP perbulannya yang selangit.

“Good morning class”

Kalimat yang terlontar dari bibir seseorang itu sukses menghentikan aktifitas ‘mari mengamati anak miskin’ di kelas ini. Semua murid kembali ke tempatnya masing-masing dan merapikan penampilan mereka, memastikan tak ada yang salah dengan atributnya ataupun remah-remah roti yang mengotori wajah. Guru muda itu meletakkan tas kulit coklatnya di atas meja yang ukurannya lebih besar dari meja lain di sudut ruangan. Ia menghela napas pelan lalu menatap muridnya satu persatu.

“Apakah harus ku ulangi sekali lagi? Good morning class”

“Good morning sir”

“Donghae-ya, antarkan ini ke meja no 9!” perintah seorang ahjumma[6] yang memakai apron hitam sambil menyodorkan nampan berisi sup miso panas dan kimchi lobak.

“Ne, ahjuma.” Jawab Donghae seadanya.

  Laki-laki itu mengambil nampan yang dimaksud dengan hati-hati dan melangkahkan kakinya menuju meja no 9, dimana ada seorang gadis manis dengan kardigan warna pink, gaun putih selutut, dan polesan make up tipis yang menyempurnakan wajahnya.

“Satu porsi sup miso dan kimchi lobak, apakah ada yang bisa saya bantu lagi?”

Gadis itu mengalihkan perhatiannya dari handphonenya lalu tersenyum manis. Membuat Donghae mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat wajah seorang gadis yang terasa familiar di matanya, dan beberapa saat kemudian laki-laki itu melotot tak percaya saat menyadari bahwa gadis yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang dicopetnya tempo hari, gadis yang memakai pakaian super mewah hanya untuk berbelanja ke pasar.

Ia menatap donghae dengan senyum miringnya saat melihat perubahan ekspresi yang donghae tunjukan.

“Tidak ada,  hanya saja… aku butuh waktumu sebentar untuk berbicara berdua, Lee Donghae-ssi[7].” Ucapnya lembut, namun cukup untuk membuat bulu kuduk donghae meremang.

Donghae menelan ludahnya gugup, ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh sampai tidak menyadari bahwa gadis yang sedang duduk di meja itu adalah orang yang dompetnya ia ambil beberapa hari yang lalu, jika laki-laki itu menyadarinya lebih awal, Setidaknya ia bisa menghindari sang gadis dengan kabur dari restoran, atau setidaknya memakai masker untuk menutupi wajahnya.

“Ah, eum, maaf tapi saya sedang sibuk. Masih banyak pelaggan yang harus saya layani.” Ucap donghae berbohong.

Laki-laki itu menundukan wajahnya dalam, menghindari mata gadis di hadapannya yang seakan menelanjangi dirinya dan membuatnya makin gugup.

“Benarkah? Bukankan restoran ini sedang sepi? Hanya ada beberapa orang yang sedang makan. Bukan menunggu ataupun memesan makanan, dan aku rasa di sana masih banyak pegawai lain yang bisa melayani pengunjung disini.”

Gadis itu menarik sudut bibirnya ke atas saat melihat Donghae tak berkutik dan terduduk pasrah di depannya.

Lama mereka terdiam hingga akhirnya pria yang sempat mencopet itu membuka mulutnya.

“Baiklah, maafkan aku. Aku sedang butuh uang.” Ujar Donghae to the point, sadar bahwa ia tak bisa mengelak bahwa ia bukan pencopet itu dan membuat karangan pendek bahwa ia punya saudara kembar nakal yang sudah lama berpisah dengannya.

“Aku belum bertanya apapun.” Balas  gadis itu santai sambil mengaduk sup misonya, Donghae menghela napas pelan lalu menghembuskannya dengan cepat.

“Aku tau maksud dan tujuanmu datang kesini nona, kau melihat dengan jelas wajahku saat itu, dan aku tak habis pikir, bagaimana mungkin kau bisa menemukanku? Kurasa kau tidak melapor polisi karena sejauh ini aku tak melihat lelaki berseragam ataupun seseorang yang membawa pistol di tangannya.” Ucap Donghae panjang lebar.

Gadis itu mendongakkan wajahnya, membuat donghae semakin yakin bahwa dia adalah pemilik dompet emas yang ia curi.

“Bisakah kau kembalikan fotonya?” tanyanya datar.

 Donghae mengerutkan keningnya heran.

“Foto? Maksudmu foto yang ada dalam dompetmu?” Tanya Donghae tak yakin. Dia hanya meminta foto diantara hal-hal penting lainnya  yang ada di dompet itu? Yang benar saja.

“Ya, mungkin kau akan menganggapku aneh, tapi itulah kenyataanya. Aku hanya merasa kehilangan foto itu, bukan uang, kredit card, KTP atau apapun itu. Satu-satunya hal yang membuatku histeris adalah hilangnya foto itu dari genggaman tanganku.”

Donghae membuka mulutnya tak percaya.  Apakah gadis ini normal? Memuja sebuah foto sampai seperti itu? Dan lagi, sejauh ini gadis itu tidak memarahinya ataupun melakukan hal anarkis lain yang biasanya orang lain lakukan ketika menemukan orang yang sudah mencuri barang berharganya.

“Baiklah, kau bisa ikut denganku. Rumahku tak jauh dari sini. Sekali lagi maafkan aku, saat itu aku benar benar butuh uang, aku berjanji akan menggantinya minggu depan, saat aku menerima gajiku bulan ini”

Donghae membungkukan badannya dalam, membuat gadis itu tersenyum kecil melihatnya.

Apakah ada pencopet yang sesopan ini?

Author’s pov

Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah rumah kecil dan tua, cat temboknya sudah banyak yang mengelupas, dan kursi kayu yang kini sedang diduduki gadis itupun terlihat reyot dan berlubang. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruangan, terlihat sangat rapi dan bersih walaupun rumah ini sangat kecil dan memiliki banyak perabotan lama.

 ‘Apakah pencopet itu memiliki seorang pembantu?’ tanyanya dalam hati.

Tak lama kemudian, Donghae datang dengan sebuah nampan kayu yang berisi dua gelas kaca yang berbeda isi di dalamnya.

“Aku hanya punya teh manis dan air putih, maaf.”     Ucap Donghae sambil meletakkan dua gelas itu di meja usang yang tepat berada di hadapan mereka.

“Tak apa.” Gadis itu mengambil teh manis yang masih mengepul di atas meja, lalu meminumnya perlahan-lahan.

“Boleh aku tau siapa namamu?” tanya Donghae tak yakin sambil mendudukan dirinya di hadapan gadis yang ia ambil dompetnya itu.

“Jin-Hae, Lee Jinhae.” Jawabnya.

“jinhae? nama yang bagus.” Ujar Donghae sambil tersenyum manis.

“Ne[8], kamsahamida[9] Donghae-ssi.” Jawab Jinhae sambil ikut tersenyum.

Sepertinya mereka mulai melupakan status mereka yang merupakan ‘Pencopet’ dan ‘Orang yang di copet’.

“Mmm, baiklah Jinhae-ssi, aku akan mengambil dompetmu sebentar.”

Donghae bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar kecil di sudut ruangan. Karena tak ingin ditinggal sendirian, Jinhae berjalan mengikuti Donghae ke arah kamar itu dan berdiri di dekat pintu.

“Apa kau tinggal sendirian?” Tanya gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

“Tidak, aku mempunyai seorang adik perempuan, kenapa?”  Balas Donghae sambil mengacak isi tasnya. Jinhae membulatkan mulutnya, Membentuk huruf O saat mendengar jawaban Donghae.

“Aku hanya penasaran, kenapa rumahmu terlihat sangat bersih dan rapi? Aku kira kau punya pembantu.”

Donghae terkekeh pelan lalu membalikan badannya ke arah Jinhae, matanya berubah sendu dan senyuman miris itu menghiasi wajah tampannya.

“Pembantu? Apa kau bercanda Jinhae-ssi? Aku tidak mempunyai cukup uang untuk membayar orang-orang seperti itu, untuk memberi makan adikku saja aku harus mencuri dompetmu terlabih dahulu.”  Ucapnya sambil meletakkan dompet berwarna emas itu di tangan jinhae.

Gadis itu berdeham salah tingkah lalu kembali ke duduk di kursi tadi, tangannya mengecek kelengkapan dompetnya dan menghela nafas lega saat menemukan foto itu di sana.

“Aku akan mengganti uangmu secepatnya.” Ucap Donghae saat melihat Jinhae membuka-buka isi dompetnya.

Jinhae tidak mendengarkan ucapan pria itu. Tangannya sibuk mengelusi sebuah foto yang ada di tangannya dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Donghae mengerutkan keningnya heran. Itu hanya sebuah foto, tapi dia seperti melihat kucing kesayangannya yang sudah bertahun-tahun hilang dan sekarang kembali lagi ke gendongannya dalam keadaan sehat wal-afiat.

“Nugu[10]? Orang yang ada di foto itu…apakah dia adalah orang yang sangat penting bagimu? Apa kau hanya memiliki satu foto saja?” tanya Donghae ragu.

Jinhae tersenyum, matanya tak lepas dari foto yang berada dalam genggamannya.

“Dia… oppa ku.”

Donghae menaikkan salah satu alisnya

“Bukankah kau bisa menemuinya di rumah? dia oppa mu kan? Apa kalian sangat dekat sampai kau membawa fotonya kemana mana seperti itu?”

Jinhae tersenyum miris, ia mendongakkan kepalanya lalu menatap lak- laki di depannya sendu.

“Seharusnya begitu, seharusnya aku bisa menemuinya setiap saat, di rumahku. Tapi Sialnya aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak 18 tahun yang lalu.”

Yonghee’s POV

Kujejalkan berbagai makanan di hadapanku dengan kasar, mencoba mengabaikan celotehan-celotehan tak penting yang masuk dengan brutal ketelingaku, aku mengambil makanan sepiring penuh, berusaha mengalihkan perhatianku dari mereka yang sedari pagi sibuk bergunjing mengomentari barang-barang yang kupakai.

            Apakah anak-anak orang kaya itu tak punya pekerjaan lain? Tak bisakah mereka berbaik hati menerima kedatangan orang sepertiku di sekolah ini dengan senyum? untung saja makanan di sini gratis jadi aku bisa mengambil makanan sebanyak-banyaknya tanpa menghawatirkan berapa banyak uang yang harus kukeluarkan untuk melampiaskan nafsuku pada makanan-makanan tak berdosa ini.

“Hei kau, anak baru!”

Aku menghentikan acara makanku dan mendongak menatap seorang gadis dengan rambut pirang, anting berlian, bando mewah dan jam tangan bling-bling.

‘Aigoo[11]… dia pikir ini acara kawinan?’

Seisi kantin mulai berisik  membicarakan kedatangan orang itu dan kedua temannya ke mejaku. Teman-temannya itu tak jauh berbeda dengan si Pirang, kelihatan sekali kalau mereka adalah anak-anak orang kaya yang mau pamer kemewahan.

“Apa?” tanyaku malas.

Kulihat si Pirang itu terkekeh pelan sambil menunjuk-nunjuk makananku yang berserakan di atas meja, dia menatapku sinis sambil bersidekap di depan dada.

“Kau…apa kau sebegitu miskinnya sampai mengambil makanan sebanyak itu karna gratis?” tanyanya dengan nada yang sangat menyebalkan.

Aku memutar bola mataku kesal. Kenapa orang-orang di sini senang sekali ikut campur dengan masalah orang lain?

“Apakah itu masalah untukmu? Seberapa banyak pun aku mengambil makanan gratis, itu bukan urusanmu.” Balasku sinis.

Si Pirang itu tertawa keras sambil mengibaskan rambut panjangnya, membuat semua orang yang berada di kantin ini menghentikan kegiatan mereka masing-masing dan mengalihkan perhatiannya padaku, si pirang, dan antek-anteknya yang berdiri di belakang.

“Tentu saja itu urusanku gadis manis, asal kau tau saja, ayahku adalah pemegang saham terbesar disini. Dan kau, mempermalukan sekolah ini dengan cara makanmu yang urakan itu!”

Aku memejamkan mataku sejenak, mencoba mengontrol emosiku yang siap meledak. Apa hubungannya reputasi Sekolah dengan cara makan yang urakan? Lagi pula aku juga tak akan makan seperti ini jika saja mereka tidak memancing kekesalanku.

“Lalu kenapa? kau pikir aku peduli? Aku juga masuk ke sekolah ini bukan karena keinginanku. Oppaku yang menginginkanku untuk bersekolah di sini karena dia menganggap sekolah ini adalah tempat terbaik untukku.”

“Oppamu? Oppamu yang tampan tapi hanya seorang pelayan Cafe itu? Kau bangga punya oppa yang seperti itu? Yang hanya mampu menyekolahkanmu ke Sekolah elit dengan beasiswa?”

Apa dia bilang? Kutatap matanya tajam dan berdiri dengan kasar, membuat beberapa pasang mata melotot kaget menatapku, tapi aku tidak peduli. Dia boleh menghina cara makan, sepatu, tasku atau apapun. Tapi tidak dengan oppaku.

“Oppaku, adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, dia rela mengorbankan kesempatannya masuk kuliah hanya untuk membiayaiku sekolah dan les saat SMP. Dia bekerja keras siang dan malam untuk menghidupiku dan tak pernah membiarkanku bekerja sampingan hanya karena ia takut aku kecapean. Dia adalah orang yang pantas aku banggakan. Sedangkan kau, apa yang bisa kau banggakan dari dirimu? Harta yang kau dapatkan dari orangtuamu? Mobil sport yang kau pakai setiap hari? Atau Wajahmu yang tebal penuh make up?”

PLAKK

Seketika kurasakan panas dan nyeri menjalari pipiku saat tangan mulusnya menamparku keras, semua orang menatapku puas sambil berusaha menahan tawa mereka yang aku yakin sudah berada di ujung tenggorokannya masing-masing.

Kutatap wajah gadis itu penuh kebencian lalu melangkah pergi dari kantin dengan tangan terkepal.

Semua orang menatapku sepanjang koridor, menjadikanku fokus utama mereka. Entah apa hal aneh yang mereka lihat dari diriku, aku tak peduli. Tujuanku saat ini adalah tempat yang menyediakan sesuatu untuk merefleksikan bayanganku. Toilet.

“Aish, menyusahkan saja.” Gumamku kesal saat melihat pipiku memar dan ujung bibirku sobek. Ini akan menjadi masalah besar kalau sampai ketahuan Donghae oppa.

Kulangkahkan kakiku kedalam kelas dan mengambil sapu tangan dari dalam tas, kubasahi sapu tangan itu dengan air es yang ada dalam dispenser di sepanjang koridor lalu kembali ke toilet untuk mengompres wajahku, berharap kalau memarnya akan hilang dan aku selamat dari Donghae oppa.

Kubiarkan sapu tangan itu menempel di wajahku selama beberapa menit, berharap ada perubahan yang berarti. Tapi sepertinya dewi fortuna sedang marah padaku. Memarnya tetap ada dan sobekan di bibirku tak kunjung membaik.

“Aish… apa yang harus ku lakukan? Dasar Pirang sialan!”

Kusentuh handle pintu ragu-ragu, takut Donghae oppa menyadari sesuatu yang berbeda dari wajahku. Bagaimana ini? Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, atau dia akan memarahiku habis-habisan karena aku bertengkar dengan si muka make up itu!

“Yong… apa yang kau lakukan di depan pintu?”

Aku tersentak kaget saat mendengar suaranya, sejak kapan dia membuka pintu dan berdiri di depanku? Aish dasar bodoh! ku tundukkan kepalaku dalam, mencoba menutupi wajahku dari Donghae oppa.

“Oh iya, ini adikku, Lee Yonghee. Yong, ini ‘teman’ ku Lee Jinhae.”

            Sepertinya dia mencoba mengenalkan seseorang padaku, tapi aku tak berani mengangkat kepalaku untuk sekedar melihat teman donghae oppa, dari kaki dan sandalnya aku yakin bahwa ia adalah seorang perempuan. Sejak kapan donghae oppa punya teman perempuan? Di bawa masuk kerumah lagi!

“Jadi ini adik perempuanmu yang tadi kau ceritakan, senang bertemu denganmu Yonghee-ssi.” Ucapnya lembut.

“Ah, ne,”  jawabku tanpa menatap wajahnya.

“Kalau begitu aku pamit dulu Donghae-ssi, Yonghee-ssi, anyeong”

            Kurasakan langkah kaki wanita itu semakin menjauh, buru-buru aku masuk ke dalam rumah dan mengunci diriku di kamar. Kutatap bayanganku di cermin, dan sialnya memar itu masih menghiasi wajahku,  belum lagi luka di sudut bibirku yang tak kunjung kering. aaargh aku bisa gila!

“Yongie, apa kau sudah makan? Cepat keluar.  Oppa membawakanmu kimbap[12].”

Aku menatap pintu kamarku yang terus diketuk Donghae oppa.

“Yongie ya!”

“Aku tidak mau jika itu hasil mencopet lagi!” jawabku asal.

“YAK! Ini bonus dari Shin ahjuma! Aku hanya mencopet saat benar-benar terdesak saja, kau pikir aku ini apa? Cepat keluar babo[13]!”

Ya, satu hal lagi yang  belum ku ceritakan, Donghae oppa hanya akan mencopet pada saat terdesak saja, dan orang yang ia copet pun adalah orang yang benar benar terlihat kaya, jadi orang itu tidak akan terlalu kesusahan saat uangnya dicopet.  Dan anehnya, saat ia mendapat gaji bulanan, Donghae oppa akan mengirimkan uang beserta dompet itu kembali pada pemilik aslinya lewat pos berdasarkan alamat yang ada di kartu identitas di dalam dompet tersebut tanpa kurang sedikitpun, bahkan terkadang donghae oppa menambahkan uang lebih sebagai tanda permintaan maafnya.

“Yonghee!”

Aish dia benar benar sangat bawel jika menyangkut jadwal makanku.

“Aku sudah makan, Makan saja sendiri!”

Kudengar dia terdiam beberapa saat tapi aku yakin oppaku itu masih ada di depan pintu kamar.

“Jangan berbohong, jadwal makan mu di sekolah adalah jam 12 siang. Oppa tidak memberi mu uang jajan hari ini dan sekarang sudah jam 5 sore, jadi cepat keluar jika kau tidak ingin pintu kamarmu rusak.” Ancamnya. Aku menggigit jari telunjukku panik.

Aduh bagaimana ini? Dia tidak pernah main-main dengan kata katanya.

 Kutatap bayanganku sekali lagi di cermin dan  mengacak rambutku frustasi, memar itu benar-benar telihat jelas.

Oh, terima kasih gadis pirang, kau membuatku harus memakai syal yang menutupi sebagian wajahku.

“YAK[14]! Lee yong__”

CEKLEK

Kulihat Donghae oppa menaikkan sebelah alisnya saat aku memutuskan untuk keluar kamar dengan syal yang melingkar sepanjang leher dan wajahku. Ku tatap balik matanya, walau sebenarnya jantungku berdetak tak karuan saat ini.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya heran.

“A-aku sedang…. aku… mmm…”

Kuputar bola mataku bingung, mencari alasan yang tepat untuk kuucapkan pada oppaku.

“Aku… bisul! Ya, aku bisul! Di pipi.” Jawabku setelah beberapa saat berpikir keras.

Kulihat dia menaruh tangannya di depan dada lalu menatap wajahku garang,  sepertinya dia tidak percaya kalau pipiku bisulan, aku tidak berbakat menjadi seorang pembohong.

“Wa- waeyeo[15]?”

Donghae oppa menaik turunkan telunjuknya, mengisyaratkanku untuk membuka syal yang menutupi memar dan luka sobek di wajahku.

“Apa?” Tanyaku pura-pura tak mengerti.

Kurapatkan syal itu ke wajahku, memastikan bahwa tak ada sedikitpun celah yang memungkinkannya melihat luka di wajahku.

“turunkan!” Perintahnya dingin, matanya tak lepas menatap tajam mataku yang membuat nyaliku menciut.

“turunkan lee yonghee!”

Kali ini dia menggunakan nada tinggi, membuatku tersentak kaget. Kutundukan kepalaku dalam, menghindari matanya yang terus mengintimidasiku, Aku tak tau apa yang harus kulakukan sekarang, oppaku itu sangat menyeramkan jika sedang marah seperti ini.

“Aku bilang turunkan!”

Sreeet

Aku memejamkan mataku saat kurasakan syal itu tak lagi menutupi sebagian wajaku, menunjukan luka memar di pipi dan sudut bibirku yang sobek di hadapan Donghae oppa.

“Oppa, tadi__”

Tiba-tiba tangan besarnya itu menggenggam pergelangan tanganku, Dia menyeretku kasar ke ruang tamu dan mendudukanku di kursi kayu sudut ruangan.

“Siapa? Siapa yang melakukan ini?” tanya Donghae oppa sambil memegang pundakku dengan kedua tangannya.

Aku mengatupkan bibirku rapat, sedangkan mataku fokus menatap lantai, tak berani melihat matanya yang seolah mengintimidasiku untuk mengatakan yang sebenarnya.

Donghae oppa mengusap wajahnya kasar lalu kembali menatapku dengan pandangannya yang menuntut.

“Apa kau bertengkar dengan temanmu di sekolah?”

Aku tersentak mendengar pertanyaan Donghae oppa yang seolah sudah tau kejadian sebenarnya. Jika dia tau aku mencari maslah dengan salah satu murid di sekolah elit itu, aku yakin oppa akan sangat kecewa padaku. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku tak mau mengecewakan oppaku yang sudah berusaha memasukkanku kesana walaupun hanya dengan modal beasiswa.

Dengan nyali yang tersisa ku tatap wajahnya dengan pandangan memohon.

“Sudahlah oppa, kita makan saja, ne? Bukankah tadi kau membawa kimbap?”Rajukku sambil tersenyum penuh harap, tapi laki-laki itu tidak menghiraukanku, membuatku semakin panik. Sepertinya dia benar-benar tau kejadian sebenarnya.

Aku yang tak bisa berbohong atau dia yang terlalu pintar membaca pikiran sih?

“Oppa tau kau sekolah di tempat yang elit, penuh dengan anak-anak orang kaya yang siap menyombongkan hartanya, sedangkan kau hanya adik dari seorang pelayan cafe yang untuk menyekolahkanmu saja harus mencari informasi sana-sini agar kau dapat sekolah bermodalkan beasiswa.”

Ucapannya itu seolah menohok hatiku, rasanya sakit sekali saat melihat oppamu menghina dirinya sendiri tepat di hadapanmu.

 Donghae oppa menghela napasnya berat, seolah menunjukkan kekecewaanya terhadap diriku yang mau maunya saja meladeni sikap tak pantas dari anak-anak orang kaya itu.

            “Oppa tau ini akan terjadi, tapi bisakah kau mengacuhkannya? Menganggap ejekan mereka hanya angin lalu yang lewat di depanmu dan tak menghalangi jalanmu untuk terus berjalan kedepan? Bisakah kau tidak menggunakan emosimu untuk__”

“Aku hanya tak ingin mereka menghina oppaku.” Desisku pelan, mebuat laki-laki itu menghentikan aktifitasnya dan menatapku nanar.

Donghae oppa memalingkan wajahnya lalu kembali menghembuskan napas beratnya. Lama kami terdiam sampai akhirnya oppaku pergi entah kemana.

Dia meniggalkanku sendirian di ruangan ini dengan air mata yang menggenang di sudut mataku. aku hanya menatap kosong lantai tempatku berpijak, memikirkan kehidupan kami yang sangat rumit. Sebenarnya aku tak ingin sekolah di sana, tempat itu terlalu elite untukku, Tapi aku juga tak mau mengecewakan donghae oppa yang sudah berjuang mati matian agar aku dapat bersekolah disana.

“Sini, oppa liat wajahmu.”

Aku tersentak saat tangan besarnya mengangkat kepalaku lembut, aku terlalu fokus pada lamunanku sehingga tak menyadari dirinya yang kini sudah berlutut di depanku dengan kotak obat dan air hangat di atas meja.

“Aigoo ini pasti sangat sakit, ia kan?” ucapnya lembut sambil membersihkan wajahku dengan air hangat.

 Kutatap wajahnya yang kini berada tepat di hadapanku.  Entah mengapa tiap kali  melihat wajahnya aku selalu merasa lebih tenang dan terlindungi.

“Kenapa menatapku seperti itu? kau baru sadar kalau oppamu ini sangat tampan?” Donghae oppa mencolek daguku sambil tersenyum menyebalkan.

“Cih… percaya diri sekali kau siluman ikan!”

“YAK!”

“Wae? memang benar kan? Akuilah, wajahmu itu benar-benar mirip ikan oppa.”

Kutatap wajahnya dengan pandangan menantang membuat Donghae oppa membulatkan matanya lalu memukul kepalaku dengan botol betadine.

“Oppa, bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku memecah keheningan setelah beberapa saat kami hanya sibuk mengunyah makanan masing-masing tanpa ada pembicaraan seperti biasanya.

Donghae oppa mengalihkan pandangannya dari piring berisi kimbap pemberian Shin ahjuma itu lalu menatapku dengan tatapan datarnya.

“Wae?”

Aku mencondongkan badanku ke arahnya dan menatapnya serius.

“Perempuan itu… dia siapa?” tanyaku dengan nada penasaran yang tak dapat kusembunyikan.

Donghae oppa hanya mengerutkan keningnya, sepertinya si bodoh itu tidak mengerti maksudku.

“Orang yang kau kenalkan tadi sore maksudku, yang kau bilang ‘teman’ itu.”

Donghae oppa terdiam beberapa saat, lau  mengunyah makanannya kembali sambil menyipitkan matanya sok misterius.

“Kau tidak akan percaya siapa dia sebenarnya”

Aku ikut menyipitkan mataku dan semakin mencondongkan tubuhku ke arahnya.

“Memangnya dia siapa?”

Donghae oppa  melakukan hal yang sama, dia mencondongkan tubuhnya ke arahku dan menatapku serius. Membuatku semakin penasaran siapa sebenarnya wanita kaki itu, ani[16]. Bukan wanita kaki. Tapi wanita yang baru aku lihat kakinya itu.

Tapi… tunggu-tunggu…

 Apakah dia adalah ibu-ibu tukang sayur yang menagih hutang pada Donghae oppa? Aku tau sekali kalo oppaku itu punya banyak hutang ke ibu-ibu sayur!

Tapi aku rasa tidak mungkin mengingat kakinya yang masih kencang dan halus seperti itu kurasa dia masih muda.

Atau…dia adalah salah satu member SNSD[17]?

Ah, tidak mungkin. Siluman ikan itu tidak mungkin mengenal artis papan atas seperti mereka.

Atau jangan-jangan dia adalah……..

Aku?

Hah?

Kalau dia adalah aku…

Lalu aku siapa?

PLETAKK

“Yak oppa!” Sungutku kesal saat Donghae oppa memukulku dengan sumpit kayu yang ada di tangannya. Aish dasar siluman ikan tidak berhati nurani.

“Kau ini mendengarkan aku atau tidak sih?” laki-laki itu memasukan makanannya kasar sampai mulutnya mengembung penuh. Aish kekanakan sekali.

“Hehe. Maafkan aku oppa. Tadi kau bilang apa?” Donghae oppa memutar matanya kesal lalu menatapku malas.

“Dia adalah orang yag aku copet tempo hari.”

Aku mengerutkan kening lalu mengangguk-nganggukan kepalaku mengerti .

“Oh… orang yang kau co—APA???”

“YAK!”

Donghae oppa megeram kesal setelah nasi yang sebelumnya berada dalam mulutku menyembur ke arahnya. Tapi aku tidak peduli. Yang menjadi fokusku saat ini adalah apakah Donghae oppaku yang mukanya mirip ikan tampan ini akan di penjara karena mencuri dompet seorang gadis? Oh My God!

“Oppa, Kau harus menjaga dirimu selama di sel tahanan, jadilah anak baik disana. aku pasti akan merindukanmu.” Ucapku sambil mengelus wajahnya miris.

“Aish… kau ini bicara apa bodoh!” Bentaknya sewot.  bibirnya komat-kamit tak jelas sambil menjejalkan kimbap ke mulutnya.

“Aku memberi saran untuk oppaku yang akan masuk penjara!” Balasku membela diri.

“Memangnya siapa yang mau masuk penjara Lee Yonghee yang sok tau!” Donghae oppa mencubit pipiku yang tidak memar sambil membulatkan matanya.

“Oh, memangnya tidak, ya? aku kira kau dilaporkan ke polisi oppa, hehe mian.” Aku cengar-cengir salah tingkah.

“Keundae[18], oppa. Untuk apa dia kemari? Mengambil dompetnya? Tapi kan kau belum gajihan, bagaimana kau menggantinya? Dan lagi, bagaimana dia bisa tau kalau yang mencuri dompetnya itu kau, dia tidak melaporkanmu ke Polisi kan?” tanyaku panjang lebar.

Donghae oppa meletakkan peralatan makannya dan menatapku serius.

“Gadis itu datang ke sini untuk mengambil selembar foto yang ada di dompetnya, dia bilang itu adalah foto oppa nya yang sudah berpisah 18 tahun yang lalu dengan dirinya karena kecelakaan, dan dia menghilang semenjak kecelakaan itu, padahal saat itu oppanya masih berusia 7 tahun.”

Si ikan meletakkan sumpitnya dan kembali bercerita.

“Dia bilang, aku boleh mengambil uang dan apapun yang ada di dalam dompetnya, tapi tidak dengan foto itu, dan masalah Polisi, dia bilang tidak butuh Polisi untuk menemukan diriku, dia punya pegawai handal yang bisa melacak keberadaan seseorang dengan menggunakan nama atau sketsa wajah”

Aku membulatkan mulutku membentuk huruf O, sepertinya gadis ini berasal dari keluarga yang benar-benar kaya.

“Tapi oppa, untuk apa gadis itu punya pegawai yang bisa melacak orang?”

Donghae oppa mengedikan bahunya.

“Dia bilang sudah dua tahun ini dia melacak keberadaan  kakaknya, tapi sepertinya belum berhasil”

….

Author’s POV

06.30 a.m _Seoul International Highschool

“Jangan berkelahi lagi!”

“Ne…”

“Jika mereka mengoceh lagi tentang statusmu atau pekerjaan oppa jangan di dengar.”

“Ne[19], araseso[20] oppa.”

Yonghee memutar bola matanya malas mendengar ocehan kakanya yang sedari tadi belum berhenti.

 Mereka sekarang berada tepat di depan gerbang Sekolah, beberapa siswa yang lewat memandang mereka dengan tatapan anehnya. Bagaimana tidak? Yonghee yang notabene adalah anak SMA masih diantar oleh kakanya ke sekolah, Di Seoul itu bukanlah suatu hal yang wajar. Sepertinya Donghae terlalu mengkhawatirkan adiknya setelah kejadian kemarin, sampai-sampai berangkat sekolahpun ia memaksa ingin ikut mengantar Yonghee.

“Jangan __”

“Oppa! Sudahlah, aku mau masuk kelas, ok? Kau ini seperti ibu-ibu saja, cerewet sekali…”

Donghae menghembuskan napas beratnya, tangannya begerak lembut mengelus pipi dan sudut bibir adiknya yang terluka.

“Jagalah dirimu baik-baik, ok?” pesannya khawatir.

“Kau seperti mau mati saja, hahaha.” Yonghee tertawa memegangi perutnya mendengar kata-kata Donghae yang menurutnya sangat menggelikan.

“Aish, kau ini! Serius sedikit bisa tidak sih???” Donghae mendorong kening Yonghee menggunakan telunjuknya, membuat gadis itu menghentikan tawanya dan memeluk kakanya erat, menghirup aroma favoritnya di sana selama beberapa menit.

Yonghee mendongakkan kepalanya, menatap Donghae dengan senyum kekanakan yang terlukis di wajahnya.

“Sepertinya aku akan kesiangan kalau begini caranya.” gumam Yonghee, Donghae tersenyum lalu melepaskan pelukan mereka.

“Masuklah.” Ucapnya sambil mengacak rambut adiknya pelan.

Yonghee manjauhkan badannya dari Donghae, mengecup pipi oppanya lalu berjalan mundur menjauhi laki-laki itu.

“Oppa, hati hati di jalan!”

Gadis itu melambaikan tangannya sambil terus berjalan mundur ke belakang.

“Anyeong[21]!” Teriaknya lagi.

Yonghee membalikan badannya dan berjalan menjauhi Donghae yang masih menatap punggung adiknya sampai tak terlihat.

Puluhan murid berlalu-lalang sepanjang koridor sekolah dengan teman-temannya, tidak seperti orang lain yang memiliki teman untuk diajak pulang dan berangkat sekolah bersama, Yonghee hanya berjalan sendirian sepanjang Koridor,  Mungkin status sosial-lah yang menjadi hambatan terbesar bagianya untuk mempunyai banyak teman disini. Tapi ia tak peduli, selama masih ada Donghae di sisinya, ia yakin akan baik baik saja walau tak punya teman sekalipun.

‘Lihatlah gayanya itu menyebalkan sekali. Miskin saja belagu!’

‘Dasar anak manja, berangkat sekolah saja masih diantar!’

‘Kudengar dia kemarin ditampar oleh Park Hara, suruh siapa dia berani masuk sekolah ini?’

Yonghee menghentikan langkahnya lalu menatap siswa lain yang terang-terangan membicarakannya itu satu persatu.

“Dasar orang-orang tak punya kerjaan!”

Umpatnya kesal, membuat mereka membulatkan matanya tak percaya dan mengumpat Yonghee kasar, namun gadis itu tidak peduli, ia malah melenggang pergi dengan kepala yang ditegakkan.

to be continued.

[1] . Penulis

[2] . Sudut pandang

[3]. Panggilan yang menunjukan kedekatan untuk kakak laki-laki dari adik permpuannya.

[4]. Cara memanggil seseorang dengan nada memelas

[5]. Sejenis Umpatan.

[6]. Bibi

[7] . cara memanggil seseorang secara  formal

[8] . Ya

[9] . terimakasih

[10]. Siapa

[11] . Ya ampun

[12] . Sejenis nasi gulung/ sushi

[13] . Bodoh

[14] . Hei

[15] . Kenapa

[16] . Bukan

[17] . Girlgroup terkenal korea

[18] . Tapi

[19] . Ya

[20] . Aku mengerti

[21] . Sampai jumpa

7 thoughts on “Destiny (Part 1)”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s