[Oneshot] Your Attendance

your attendance

Your Attendance

Scriptwriter: Charikha

Cast(s): You, Taehyung (BTS), and Jungkook (BTS)

Support Cast: BTS member

Genre: School life, Romance, Sad

Rating: PG-16

Duration: Oneshot

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan, milik BigHit, milik  abonim dan eomonin mereka masing-masing author hanya pinjam sebentar buat cerita ini tapi soal Alur cerita dari A sampai Z murni datang dari pemikiran author. Mian kalo cerita Geje hii^_^ Gomawo.

—Happy reading—

 

 

 

Part 1 : Break up

Aku segera berlari dari kantin ketika mendapatkan pesan dari hobae yang bernama jeon jungkook.

Sambil tersenyum, ia mengatakan “noona.. em–hyung ingin menemuimu di ruang olahraga”. Usai mendengarnya aku benar-benar bahagia karena selama 1 bulan ini ia absen dari sekolah beserta grupnya untuk keperluan syuting. Selama 1 bulan ini kami lost contact dan pada akhirnya rasa rinduku ini terbayarkan ketika hari ini BTS kembali masuk sekolah dan taehyung oppa memintaku untuk bertemu

“hooshhh…hoosshh….”

Deru nafasku kian cepat ketika aku tiba di depan pintu ruang olahraga yang masih dalam renovasi. Senyum ku kini kian melambung saat melihat taehyung oppa berdiri dan menungguku tepat di tengah-tengah lapangan yang sering digunakan untuk permainan basket indoor.

aku menghampirnya dan kembali aku dapat melihat wajahnya sebagai obat penawar rindu selama ini. kaki ku berhenti tepat di hadapannya, ingin rasanya aku segera memeluk namjachinguku namun aku merasakan perubahan raut wajahnya

…….

….

..

“kita—”

“—putus saja”

Tersentak mendengarnya mengatakan hal yang tak pernah ku bayangkan. Selama 2 tahun ini aku bersamanya melewati hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun namun hari ini semua itu seperti kepingan yang hancur menjadi butiran pasir tak berharga.

Aku terus menatapnya dengan kerjapan mataku tiada henti berharap ini adalah sebuah mimpi buruk yang sebentar lagi akan kembali dan aku akan terbangun diatas ranjangku yang hangat tapi semakin aku mengedipkan mata dengan cepat yang terjadi adalah kelopak mataku sudah tak kuat menahan deraian air mata.

“eoh… kau menangis? Mian, air matamu itu tak akan mengubah keputusanku”

“uri… keut (selesai)”

Aku masih tak bisa berkata apapun, hanya berdiri dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat dan kini semua air mata yang tumpah sepertinya masih belum bisa mewakili rasa sesak yang begitu menusuk hati.

“oppa.. yogi jinjja appo” aku berusaha tak mengatakannya namun aku berharap hati ku ini yang sedang bicara mampu kau baca

Ia berjalan melewatiku yang sedang kacau dan hancur, aroma tubuhnya masih dapat ku rasakan dari hembusan angin yang baru saja melewatiku.

“ini tak adil” sambil tertunduk aku memberanikan diri untuk menahan tangannya yang masih terlihat dari pandanganku saat melihat dari arah bawah

“oppa chankan”

Tanganku bergetar sambil memegang tangan kim taehyung siswa tingkat 3 yang notabene adalah personil BTS yang 2 tahun ini sedang naik daun.

Sreeeet

 

Aku merasakan tanganku terhempas kuat hingga aku tersungkur ke lantai semen ruang olahraga. Sungguh saat ini aku tak bisa merasakan hatiku sendiri, bahkan air mata ini sudah seperti hujan deras dikala musim panas.

“op-pa…wa-e?”

“jangan pernah sentuh tanganku lagi”

Ia kembali berjalan tanpa memperdulikanku yang jatuh dan membeku diatas lantai. Aku melihatnya berjalan tanpa mendapatkan jawaban mengapa aku diputuskan dengan cara seperti ini. aku yakin aku tak pernah salah padanya, 1 tahun terakhir ini ketika oppa sibuk dengan promo album terbarunya dan tak pernah memberi kabar bahkan aku tak pernah complain, bertemu dengannya pun hanya di sekolah dalam tenggang waktu 15 menit itu pun saat jam istirahat dan aku menerima itu tanpa sebuah tuntuntan padanya tapi kenapa oppa memperlakukanku seperti ini

Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin lama semakin menghilang, dengan deraian air mata yang tak mau berhenti, aku menangis sejadi-jadinya ketika ia sudah benar-benar pergi meninggalkanku sendiri

******

“kau dari mana saja? Kenapa telat gabung” Tanya namjoon sang leeder yang sudah siap sejak tadi di ruang khusus tempat BTS biasa latihan

Taehyung yang baru saja datang bersamaan dengan jimin sedikit bingung

“na?” Tanya taehyung meyakinkan pertanyaan namjoon untuknya

“tsk…babo. Tentu saja kau! Jimin sudah sejak tadi berada disini, ia tadi hanya ke kamar kecil” ketus yoongi yang sedikit kesal menunggu taehyung

“kenapa ponselmu tidak aktif?” Tanya halus jin

“aigoo…hyung tanyanya satu-satu” pekik taehyung

“Ppali…!” teriak namjoon yang memang suka kedisiplinan dalam berlatih

“baiklah… aku hanya harus menyelesaikan sedikit urusan. Tapi itu sudah beres” ia memberikan aegyeonya pada namjoon berupa V sign

“urusan apa? Kenapa kau tak menceritakannya pada kami?” kembali yoongi memarahi dongsaengnya sebelum seorang rapmon yang menghukumnya

“i-itu hanya urusan kecil hyung, aku tak ingin kehabisan bibimbab paling lezat di kantin jadi aku makan hingga kenyang…heee” lagi-lagi taehyung tersenyum garing

“kiiim taeeehyuuung alasaaanmu ituuu—” Omelan namjoon terhenti ketika jin menenanginya

“namjoon-ah,, keuman, sudahlah yang penting taehyung sudah disini. Kita mulai saja latihan”

Semuanya kembali dalam posisi mereka masing-masing untuk melatih koreo mereka dengan lagu fire yang saat ini sedang laku keras di seluruh penjuru korea.

“eoh… kenapa hyung berbohong? Bukankah ia baru saja menemui yeojachingunya”

Jeon jungkook merasa bingung dengan sikap hyungnya, yang berbohong tentang pertemuannya itu.

******

Bel pulang terdengar nyaring namun aku tak beranjak dari posisiku. Entahlah kenapa aku tak mau pergi dari sini atau memang karena semua tubuhku lunglai akibat semua yang baru saja terjadi. Aku tak sanggup menerima kenyataan ini, sakit, perih dan terluka itulah yang aku rasakan saat ini. di campakaan tanpa alasan membuat ini seperti tindakan kriminal yang tak bisa dimaafkan

“taehyung oppa…hiks…hikss….”

Hari kian gelap, aku bisa merasakannya setelah aku 3 jam berdiam diri diruangan ini sendiri. Melalui celah jendela yang tertutup triplek, sinar matahari kian redup membuat nyaliku ciut. Perlahan aku mulai bangkit dari posisiku namun sungguh ini begitu berat rasanya aku tak sanggup lagi untuk hidup.

Trap…trap…trap….

Sayu-sayu aku mendengar beberapa langkah kaki dari arah luar yang semakin lama semakin terdengar jelas.

“andwae… jangan sekarang… oppa tolong aku”

bodohnya aku meminta tolong pada taehyung yang jelas-jelas siang tadi memutuskanku tanpa alasan. Ia masih melekat jelas dalam jiwaku, tak mungkin secepat ini aku bisa lepas dari bayang-bayangnya.

“Aaaaa….”

Teriakanku yang lemah sepertinya tak berpengaruh pada hantu itu, tubuhku yang menggigil karena takut dan sedih tak membuat hantu itu merasa kasihan padaku. Tubuhku seperti sudah diambang batas, “eoh” lemah tak berdaya aku meneruskan jalanku namun semakin berjalan aku semakin tak kuat. Saat tiba di pintu keluar, aku melihat bayangan dari celah pintu yang tak tertutup rapat, bayangan itu semakin lama semakin besar dan semakin mengarah ke dalam sini

“eo-tteo-ke?”

Kreeekk….

“eooh… noonaaa??”

……..

….

..

.

“ju-ng—kook”

Pandanganku kian rabun bersamaan dengan tubuhku yang seketika lemas tak berdaya

Bruuukkk…

“noonaa….”

“noona….Gwenchana??”

“noonaaa….ironaaaa”

Jungkook cekatan menangkap tubuh sang noona, yeojachingu hyungnya itu. Ia tak menyangka bahwa akan bertemu dengan gadis itu di ruangan ini. ia mendekap sang noona erat ke dalam dadanya.

Part 2 : Sweet jeon jungkook

Perlahan mataku mulai terbuka… aku seperti lupa ingatan mengapa aku bisa tertidur saat ini.

“eoh..dimana aku?” ucapku pada diriku sendiri ketika melihat suasana yang ada di sekelilingku hanya ada kaca dan aku duduk pada kursi dengan jok kulit kemudian pandangan depan adalah jalanan sekolah

“noona…gwenchana?”

Aku melihat ke arah datangnya suara itu namun sepertinya aku hafal dengan nada suara berat seperti itu

“jung-kook?” ucapku

“apa kau baik-baik saja?”

Aku tak tau harus menjawab apa, mengapa aku bisa berada di dalam mobil bersama jeon jungkook. Bukan kah tadi aku sedang di –—— aku berusaha mengingat semua rentetan kejadian hari ini. ingatan ku pun kembali, semuanya kini menjadi ingatan yang begitu menyakitkan. Soal taehyung oppa…..dan jeon jungkook menolongku. Aku ingat ketika sebelum aku pingsan, aku melihat jungkook merangkulku dan “dia memelukku”

“noona…?” tanganku yang dingin ini pun terasa hangat ketika jemari jungkook mulai menggenggam erat salah satu tanganku

Entah kenapa saat jungkook menggenggam tanganku, aku semakin merasakan rasa sakit, perih dan luka yang begitu dalam, ingatan taehyung oppa kembali muncul. Air mataku tumpah seketika dan tak mampu untuk menjawab semua rasa khawatir yang jungkook utarakan.

“wa-wae…noona? Uljimarayo…jebal. Neo wae geurae?”

Aku melihat hobae yang ada di sampingku menjadi panik dan bingung denganku. Disaat aku begini, menjadi sangat rapuh. Lagi-lagi jungkook mengambil alih semua rasa yang ku rasakan, ia membenamkan tubuhku di pelukannya. Aku dapat merasakan dadanya yang bidang, detak jantungnya yang berdetak begitu cepat.

“noona,,, keluarkanlah semuanya agar kau menjadi lebih baik. Menangislah jika itu membuatmu lebih baik”

Aku mendengar suaranya yang begitu lembut, mengarahkanku untuk semakin membuang semua rasa sakitku. Tak ada yang bisa aku lakukan selain menangis di dada jungkook.

Lima menit berlalu,.. air mataku kini perlahan dapat ku hentikan. aku pikir berada di dalam pelukan jungkook seperti ini di dalam mobil membuatku malu padanya walaupun aku mengakui bahwa ia telah membuatku jauh lebih baik. Aku kembali menggeser tubuhku dari dalam dekapannya.

“jungkook… gomawo” aku melihat dia tertidur di kursi kemudinya, mungkin ia lelah mendengarkanku menangis

Terus saja aku pandangi namja yang kini berada di dekatku, tak menyangka magnae satu ini memiliki hati yang begitu baik seperti malaikat. Aku masih tak berfikir jika oppa-lah yang tak memiliki hati

Jungkook merubah posisinya, membuatku mengubah pandanganku karena ku pikir ia sebentar lagi akan bangun dari tidurnya

“hhmm”

“eoh..noona kau…”

“jungkook-ah… a-aku… terima kasih”

“mian.. aku sepertinya tertidur,,, bagaimana denganmu? aku benar-benar khawatir”

“naega gwenchaseumnida”

“ani… bukankah kau tadi diruang olahraga bertemu dengan hyung?”

Aku mengangguk, seraya membenarkan pertanyaannya

“lalu? Apa yang terjadi… kenapa kau sampai seperti ini, jawablah kumohon?”

“tae-taehyung oppa meminta untuk putus”

“mwo?? Putus?”

Lagi-lagi aku mengangguk padanya

“sial! Aku benar-benar tak percaya padamu hyung!” gumamnya yang terlihat kesal

Jungkook segera beranjak dari posisinya, ia memakaikan sabuk pengaman ku lalu ia memasukkan gigi 1 dan ……

Brrruuummm

“jeon jungkook,, uri eodigaseyo?”

“dorm.. aku ingin meminta penjelasan hyung untuk ini semua”

“andwae…”

“wae? aku tak ingin ia menyakitimu, karena aku tau hyung sudah salah memperlakukanmu seperti ini”

Sebenarnya aku ingin tau mengapa oppa memutuskanku namun aku memilih untuk tak perlu tau dengan alasannya karena bagiku tau ataupun tidak tetap saja aku dan oppa tak bisa bersama kembali

“jungkook,, ku mohon hentikan. aku sudah menerima semua ini dan melupakan taehyung oppa”

Ciiiitttt….

Mendadak jungkook menginjak remnya, aku melihat matanya seperti terkejut mendengar semua ucapanku. Ia tak percaya bahwa aku mengatakan hal itu, disaat baru dicampakkan.

“jinjja?”

Aku hanya mengangguk untuk mempercepat agar kami tak perlu menuju dorm untuk bertemu dengan taehyung oppa.

“berjanjilah untuk melupakannya?” pinta jungkook padaku

“hmm…yaksok”

“aku akan membuat janjimu itu terasa mudah untuk dilakukan”

Aku tersenyum simpul dikala jungkook selalu saja membuat hatiku terasa seperti diobati oleh ucapannya yang terlihat seperti 3 tahun lebih tua dariku namun faktanya jungkook adalah hobae yang 1 tahun lebih muda dariku.

*****

Part 3 : beautiful memory vs painful fact

Malam ini begitu berbeda dari malam-malam sebelumnya, jika sebelumnya kamarku dihiasi oleh foto-foto ku dan taehyung oppa maka saat ini semua itu kini telah lenyap. Aku yang telah melenyapkan semuanya walaupun kenangan itu masih tersisa didalam memoriku yang sampai saat ini masih tak ku pungkiri selalu saja mucul. Kenangan kami saat berlibur bersama ke dreamland, lalu saat kemah sekolah oppa selalu saja ada untukku. Membantuku memasak, mengambil beberapa kayu di hutan bahkan aku masih ingat ia memelukku erat ketika aku hampir terpeleset ke jurang. Ia membahayakan dirinya demi menyelamatkanku disaat jiwanya pada saat itu sangat berharga karena BTS baru saja debut.

Lagi-lagi air mata ku spontan tumpah seiring ingatanku yang muncul melalui kenangan manis kami berdua. Jika di flashback saat pertama kali aku bertemu dengannya, saat itulah aku mengenal cinta. Di mata taehyung oppa’lah aku tak mempu mempertahankan benteng pertahanan hatiku yang sebelumnya sangat kuat. Ruang seni menjadi saksi saat aku dengan oppa pertama kali bertemu dan di saat itu aku sudah jatuh cinta dengannya, melalui tatapan matanya yang begitu tajam dan masuk mencuri segala ruang yang ada di dalam hatiku.

Tapi sekarang, tak akan ada lagi tatapannya yang seperti dulu. Hanya gantungan ponsel barang nyata yang masih kusimpan, itu adalah pemberian dari taehyung oppa saat anniversary kami yang pertama. Saat itu begitu indah, oppa memberikan kejutan 1 hari penuh bahkan aku tak akan menyangka jika oppa menyiapkan namsan tower menjadi milik pribadi dan tertutup untuk umum. Disana kami membuat gembok cinta seperti pasangan lainnya, ditambah dengan menatap pemandangan malam kota seoul yang indah bersamaan dengan rasa hangat yang dibuat oppa melalui tangannya yang selalu menggenggam erat tanganku. Setelah itu, oppa memberikan sebuket bunga kegemaranku. Entah ia menyembunyikannya dimana karena sejak tadi tangannya hanya selalu berada di dalam genggaman tanganku

Pada saat itu aku seperti menjadi ratu kim taehyung. Usai memberikan bunga, sambil berlutut ia memberikan sebuah kotak berbentuk hati. Aku berfikir jika ini adalah sebuah perhiasan namun tebakkan ku salah, secarik pita berbalut mutiara indah beserta sebuah berlian yang menyala terang berkilauan.

Saat ini yang ada berlian itu sudah tak bersinar lagi karena aku tak akan mungkin dapat dekat dengan oppa.

“berlian ini akan terus menyala jika aku berada di dekatmu, sensor ini dapat mendeteksi keberadaanku dalam jarak 5 meter”

kalimat itu masih terngiang walaupun sudah 1,5 tahun yang lalu.

“oppa…”

Ku genggam erat gantungan itu dan membiarkan hanya menjadi satu-satunya yang tersisa di dalam hidupku.

…….

…..

“sejak kapan ice cream ini tak terasa manis?”

1 cup ice cream yang biasa aku makan lahap kali ini kubiarkan mencair entah kenapa rasanya tak seenak dulu saat 3 bulan yang lalu. aku bersama oppa menikmati bersama di bawah naungan payung besar dan di balut oleh romantisnya langit malam bertabur bintang.

Aku melamun menghadap tebing yang dibawahnya dapat ku dengar deburan ombak lembut, saat itu oppa pernah berdiri tepat di batas jurang hanya untuk meneriaki namaku se-kencang yang ia bisa namun kali ini tak akan pernah ada lagi yang seperti itu. Malam ini suasana di kedai begitu sepi, ku pikir dengan kemari dapat membuatku lupa dengan oppa melalui keramaian kedai seperti biasanya.

Klipp…klippp..kliiipp

Mataku berkedip berulang kali ketika melihat gantungan ponselku yang terus saja menyala seperti kerlap-kerlip bintang. Aku tak percaya melihat keajaiban ini begitu nyata di depanku.

“solma… oppa eoddi-ya”

Kepalaku seperti berputar ke samping kanan-kiri, ke depan dan ke belakang mencari keberadaan taehyung. Berlian ini tak mungkin salah, sensornya pasti mendeteksi aroma tubuh oppa. Ponselku semakin ku genggam ketika nyala lampu berlian itu semakin terang. Aku merasa sulit untuk bernafas namun tak ku hiraukan akibat berlarian ke sana kemari mencari oppa hingga ku menyerah dan kembali di kedai. Aku yakin oppa disini, di kedai ini karena seluk beluk diluar kedai sudah ku sambangi tapi nihil

“solma..apa oppa mengingat ku dengan kembali ke kedai ini?” pikirku dalam hati

Dengan kegembiraan yang meluap-luap aku melangkah dengan pasti dan seketika aku menjatuhkan ponselku dari genggaman tangan. Sepertinya tanganku ini lemah untuk sekedar menggenggam ponsel kecil, tidak— tapi ponsel ini seperti sudah lelah untuk menerima kenyataan yang ada

“op-pa”

Dadaku sesak, rasanya aku seperti lupa untuk bernafas melihat hal yang benar-benar diluar pikiranku. Sakit—— benar-benar sakit hati ini, seperih luka yang diberikan tetesan buah lemon.

…..

..

“jagiya, neo joahae?”

..

….

“jagiya?” batinku tak percaya

Taehyung oppa yang kucari sedari tadi berjalan keluar dari kedai dengan 1 buah cup ice cream yang dipegang ditangannya kemudian diberikan pada seseorang yang berada dalam rangkulannya. Bahasa tubuh mereka yang begitu dekat dan mesra menegaskan bahwa keduanya dipastikan dalam hubungan lebih dari seorang teman. Mereka kini berjalan mendekatiku yang masih tak dapat bergerak akibat shocking therapy yang diperlihatkan taehyung.

“inikah alasanmu oppa…”ucapku lirih dibarengi dengan 2 tetesan air mata yang spontan begitu saja keluar

Aku yakin saat melintasiku tadi, taehyung oppa melihatku bahkan aku dapat pastikan ia seperti sengaja memperlambat sedikit jalannya dan melirikku 2 detik. Aku tak tau maksudnya dengan memamerkan yeoja baru di depanku tapi ku rasa tindakannya itu berhasil membuatku kembali terluka dan jatuh ke dalam lubang yang lebih dalam

Hiks…..hiks…hiks…..hiks….

Untunglah hujan turun membantu ku menyamarkan tangisan yang pecah dan tak terbendung lagi.. ku biarkan tubuh ini terkena air asam hujan dengan begitu ku harap semuanya dapat luntur terbawa aliran hujan

Part 4 : The rival

Drrrrtt…..drrrttt…..

From : soo ra

Pagi ini kau jadi menjemputku kan taehyung-ah?

Jungkook tak sengaja membaca pesan singkat milik taehyung yang entah kenapa tergeletak di kamar jungkook. Merasa tak asing dengan nama itu, jungkook mulai bersikeras mengingat siapa pemilik nama itu dan saat memorinya kembali ternyata nama itu adalah milik teman masa kecil sekaligus mantan singkat taehyung sewaktu sekolah menengah pertama.

Jungkook hafal betul jika hyungnya itu pernah memiliki hubungan spesial dengannya namun hanya dalam waktu singkat yakni 1 bulan saja karena pada saat itu, soo ra noona memilih untuk melanjutkan SMA di luar negeri dan hubungan hyung dengan noona pada saat itu selesai begitu saja.

“omo…solma….” Koneksi syaraf otak jungkook seperti mengindikasikan sesuatu yang mengarah pada hal pribadi. Jungkook mencium ada sesuatu yang aneh terhadap kedua manusia itu

Akhirnya melalui rasa curiga dan rasa penasarannya, jungkook membuka salah satu ID chat hyungnya itu dan kini ia dengan cepat melihat riwayat percakapan mereka yang mampu membuat jungkook mengelus dadanya. Tak percaya jungkook membacanya hingga 2 kali berturut-turut, menurutnya ini adalah hal gila yang pernah taehyung lakukan.

……

….

..

.

Hi…taehyungie….

Neo jinjja soo ra? Kim soo ra?

Ne..apa kabarmu? J

 

Baik..bagaimana denganmu? Kenapa kau

baru memberi kabar , selama ini kau kemana saja?

Apa kau sudah melupakanku eoh soo ra- yah?

                                                              Hi..hi.. kau ini belum berubah,, kau selalu saja

                                                                  bertanya seperti seorang jurnalis. Nan noemu bogoshipo taehyungie

Nado… apa kau masih di paris?

                                                         Ani… aku baru saja mendarat di seoul

Jinjjaro? Apa kita bisa bertemu?

 

(5 minggu yg lalu)

……

….

Soora-yah? kau belum menjawab pertanyaanku?

                                                                 Mian taehyung-ah…kemarin aku sibuk mengurus

                                                                  berkas-berkas kepindahanku lagipula aku memang ingin bicara denganmu

benarkah? Ok.. aku akan menjemputmu besok malam,

ada satu kedai favorit dan kau pasti suka

                                                    Ne.. aku akan menunggumu taehyungie

 

(kemarin,8.00pm)

.

…..

…….

Mata jungkook  terbelalak ketika ia selesai membaca semua percakapan yang masih hangat bahkan semalam taehyung bertemu dengan soora  di tempat biasanya ia berkencan dengan yeojachingunya selama ini.

“hyung… kau tak boleh melakukan ini, kau kembali pada mantanmu dan membuang noona begitu saja! Kalau kau seperti ini, neo jinjja napeun namja!”

Jungkook menggenggam tangannya kuat-kuat seakan-akan ia merasakan apa yang dirasakan seseorang yang dicampakan dengan alasan orang ke-3.

“jungkook-ah…apa kau lihat ponselku?!”

Taehyung masuk begitu saja ke dalam kamar jungkook, membuat magnae itu terkejut. Untung saja ia sudah meletakan ponsel hyungnya itu ke tempat semula

“kuge” jungkook menunjuk ke arah meja dengan bibirnya

“aigooo..ternyata disini… gumapta jungkook-ah”

******

Pagi ini member BTS berangkat dari dorm menggunakan 1 mobil yaitu mobil milik jin dan ia pun yang mengambil alih kemudi namun anehnya, pagi ini taehyung memilih untuk menggunakan motor miliknya. Tanpa menyebutkan alasan kenapa ia tak berangkat bersama, taehyung secepat kilat berangkat dengan membawa 2 helm.

“awas saja jika ia tak sampai sekolah tepat waktu” gerutu namjoon dari dalam mobil

“pasti hyung sedang menjemput soora noona” gumam jungkook dengan suara yang lembut nyaris seperti berbisik

“kau bicara apa kookie?” Tanya jimin

“aah…ania hyung”

Jika member BTS memilih untuk menggunakan kendaraan saat berangkat ke sekolah, aku lebih memilih untuk berjalan kaki. Mungkin dengan berjalan kaki di pagi hari membuat semua bebanku berkurang melalui hembusan angin, kicauan burung, bahkan pemandangan indah sepanjang jalan menuju sekolah

Lima belas menit berjalan kaki tak membuatku menjadi lelah malah aku sangat lelah dengan hatiku yang sulit sekali lepas dari bayang-bayang taehyung oppa. Sepertinya aku ini bodoh, sudah jelas-jelas semalam dengan mata kepala sendiri, aku melihat taehyung oppa bersama seorang gadis cantik bermesraan layaknya seorang kekasih.

“huuuhhh…andwae! kau harus melupakannya” aku segera menggeleng-gelengkan kepala berharap setiap pemikiran tentang oppa bisa rontok seketika

Perlahan jalanku yang tadinya seirama dengan tempo sedang kini mendadak berhenti ketika melihat mobil yang aku kenali. Mobil ini mengangkut semua member BTS seperti biasa, jika aku terus menatap ini sepertinya aku tak akan bisa move on.

Ku lanjutkan melangkah dengan langkah kecil, namun hatiku tak bisa dibohongi. Aku terus saja melihat setiap member yang keluar dari mobil satu persatu. Entah apa yang ada di pikiranku, saat ini aku sedang mencari-cari taehyung oppa yang keluar dari pintu sebelah mana tapi sudah ku tunggu-tunggu oppa tak muncul hingga suara deru knalpot motor sport memekakan telinga

“nuguya?”

Betapa kagetnya saat melihat namja yang mengenakan helm itu melepas helmnya dan terlihat wajah tampan dari taehyung namun itu berakhir ketika pandanganku tiba di bagian penumpang. Taehyung oppa melepaskan helm yang di kenakan oleh seorang yeoja yang ia bonceng

“waah… aku sudah tak sabar untuk bersekolah di sekolah yang baru”

Aku mendengar sedikit bahwa yeoja itu mengatakan kalau sekolah ini adalah sekolah baru baginya dengan begitu ia adalah murid baru. Yang ada dalam pemikiranku adalah kenapa yeoja itu bisa bersama dengan taehyung oppa

Saat ku pandangi lebih dalam, sepertiya aku tak asing dengan wajahnya

“bu-bukankah yeoja itu yang semalam bersama oppa”

“ja-jadi….ini……oppa lebih memilih yeoja itu dan memutuskanku” lanjutku yang sudah benar-benar speechless

Lagi-lagi air mataku keluar begitu saja saat melihat oppa meletakkan lengannya di bahu yeoja itu dengan tatapan penuh mesra. Sepertinya aku akan semakin sulit melupakannya karena yeoja itu selalu membayangiku di sekolah ini.

“appayo..jinjja appayo…keuman….hiks,,,hikss”

Part 5 : FIGHT

Aku seperti terpaku ke tanah dan tak mampu bergerak, bayangkan aku baru saja melihat taehyung oppa bersama yeoja kemarin yang di rangkulnya itu melewati ku dan kembali berjalan bersama saling menggenggam erat kedua tangan mereka. Tadinya perlahan aku mulai dapat bangun dari keterpurukan tapi jika selalu bertemu dengannya, bersama dengan yeoja lain bagaimana bisa move on.

Aku melihat ke arah member BTS lainnya yang hanya saling melempar pandangan dan tak tau harus mengatakan hal apa. Aku bisa membaca sepertinya dari raut wajah mereka merasa tak enak dengan ku. Aku bahkan mengenal mereka begitu dekat dan aku pun merasa menjadi orang yang dikasihani. Ke enam namja tampan itu akhirnya masuk ke dalam dan tentu saat mereka melewatiku, berpuluh-puluh kata pembangkit semangat di ucapkan untukku. Aku yang sok kuat hanya mengangguk dan kembali menarik air mata yang hendak jatuh

“kuatkan hati mu” ucap jin oppa

“gwenchana… aku akan bicara dengan bocak tengik itu. Tenanglah” kali ini yoongi yang biasanya dingin terhadap yeoja memilih untuk memberi pelajaran kepada taehyung karena baginya ini sudah mencoreng nama BTS sebagai laki-laki sejati

Namjoon pun yang saat itu berjalan dengan yoongi setuju dan hanya menambah ucapan bahwa ia akan menghabisi bocah itu

Lagi-lagi bodohnya aku, spontan menggeleng ketika namjoon mengatakan ingin menghabisi taehyung karena entah kenapa aku tak mampu jika taehyung oppa terluka

“uri bunny-ah… igo” hoseok oppa menarik kedua sudut bibirku ke atas lalu ia mengatakan agar aku tersenyum karena bocah sialan seperti taehyung tak perlu di pikirkan

puk…puk…puk

Aku tersenyum ringan ketika melihat jimin oppa yang tersenyum terlebih dahulu padaku sambil menepuk-nepuk bahuku. Aku tau maksud mereka semua ini sangatlah baik. Mereka seperti membantuku keluar dari lingkaran kepedihan yang dibuat oleh taehyung

Sedangkan member terakhir yaitu jungkook, ia berdiri di hadapanku. Saat melihatnya entah kenapa sepertinya aku dapat meluapkan semua kesedihan, kepedihan yang ku rasakan. Air mata ku spontan menetes kembali saat aku menatap dalam kedua manik mata jungkook yang intens menatapku

“noona… uljimarayeo…” jemari jungkook yang lembut seperti reflek mengusap tiap tetesan air mataku

Kemudian tangannya secepat kilat beralih menggenggam erat salah satu tanganku  “tenanglah, aku ada di sini”

Senyum manis andalan namja ini pun menyeruat, membuatku menjadi lebih tenang dan seperti mendapatkan energi positif darinya. Tak ku sangka jungkook melakukan hal ini, sebenarnya aku dengan jungkook tak pernah begitu dekat tapi kenapa saat bersama dirinya aku sangat nyaman dan tenang. Seperti saat ini, salah satu tangannya yang bebas mengusap lembut kepalaku dan aku hanya dapat menatap wajahnya dalam-dalam.

“noona,,,kajja”

Tanpa takut menjadi sebuah berita di sekolah, jungkook terus menggenggam erat tanganku bahkan aku merasa ia sama sekali tak berniat untuk melepaskannya. Aku tau dari tekanan saat ia menggenggamnya dengan kuat seperti tak ingin aku melepaskannya.

“jungkook-ah ini sudah lebih dari cukup” batinku

*****

Bel istirahat berbunyi dan seketika hampir seluruh murid berhamburan keluar namun tidak bagi BTS member. Namjoon seketika menyuruh murid lain yang masih berada di dalam kelas untuk segera keluar kemudian langsung mengunci pintu dan menutup semua akses pengelihatan dari luar, semua jendela sudah dihalangi penutup tirai berwarna putih

“wah.. kira-kira ada apa ya? BTS mengunci diri di dalam kelas, sepertinya ada hal penting” ucap seorang murid yang baru saja di keluarkan oleh namjoon

**Kembali ke dalam kelas**

Jungkook dan jimin di perintahkan untuk menjaga pintu, sedangkan ke empat member lainnya mengintrogasi taehyung yang sudah hendak pergi keluar

“hyung… ada apa ini?” tanya taehyung bingung

“diam dan duduklah!” ucap yoongi datar namun tegas

Taehyung sebenarnya sudah ingin keluar karena saat pelajaran tadi ia mendapat chat dari soora untuk makan bersama saat jam istirahat

“ahh.. hyung aku ada urusan penting. Rapatnya kita tunda hingga pulang sekolah saja” langkah taehyung mendadak berhenti kemudian ia di seret oleh namjoon dan memaksanya untuk duduk di meja seonsangnim

“namjoon-ah… jangan terlalu keras dengannya” jin sedikit khawatir karena jika emosi namjoon sudah memuncak ditakukan akan terjadi hal yang tidak diinginkan

Taehyung merasa dirinya kini menjadi seperti tahanan kota yang sedang diintrogasi oleh kepolisian

“memangnya ada apa ini.. a-aku tak mengerti?” wajah taehyung bingung

“mwohanya?” tanya hoseok seperti seorang mata-mata dengan tangan yang dilipat didada kemudian menaikan kakinya di sela kursi yang di duduki taehyung

“yah!! mwohanya? Turunkan kakimu” pekik jin lalu memukul kepala hoseok lembut

Sedikit meringis hoseok tersenyum garing, ia hanya ingin membuat suasana menjadi lebih santai agar tak serius

“apa kau belum menyadari sesuatu yang aneh kim taehyung?!” tanya yoongi menatap tajam taehyung begitu pula namjoon yang hanya berdiri melipat tangannya 2 meter dari posisi taehyung duduk

“apa? Memangnya kesalahan apa yang ku perbuat?” taehyung bingung dan sesekali pemikirannya menelusuk jauh mengingat beberapa kesalahan yang ia buat. Namja cool ini berfikir keras, ia meletakan jari tangannya di kepala

tak berapa lama ia pun akhirnya ingat,,,

“aahhh… jadi soal itu hyung…. Hhee.. baiklah aku tak akan pernah telat lagi saat latihan. Begitu saja hyungdeul sampai serius seperti ini…tskk…ha..ha… lucu sekali” tawa taehyung benar-benar lepas tapi tidak untuk member lainnya

“sial… anak ini benar-benar sial!” ucap yoongi kesal

BUUUUGGHH

 

Satu pukulan tepat mendarat di pipi kanan taehyung, namjoonlah yang melakukan ini. Ia sudah tak sanggup melihat adiknya ini bersikap seperti orang yang tak memiliki hati dan akal sehat.

“namjoon-ah andwaeee!” teriak hoseok sekaligus memeluk namjoon agar tak melakukan hal ini

Begitu pula dengan jin yang spontan menghalangi dan melihat keadaan taehyung

Jungkook dan jimin akhirnya berpindah tempat dan memilih untuk membantu hoseok meredam kemarahan namjoon

“lepaskaan!!! Biarkan bocah tengik itu mendapatkan ganjaran dari semua perbuatannya”

Taehyung menempelkan jempolnya pada sudut bibirnya, ia hanya memastikan apakah darah sudah mengalir segar di bibir indahnya.

Melihat hanya ada sedikit darah, taehyung mulai naik pitam. Kini ia sadar bahwa hyungnya itu serius menanggapi masalah pribadinya.

“kenapa hyung tak memukul disisi lainnya, eoh?!!” taehyung bukannya takut dengan namjoon namun ia malah menantang untuk memukul di pipi sebelah kiri

Mendengar ia ditantang, namjoon seketika melangkah maju dan tanganya sudah dalam posisi ancang-ancang namun hoseok, yoongi, jungkook dan jimin berhasil menghalanginya

“keuman… keuman,,, bukankah kita hanya akan berdiskusi tentang masalah ini bukan malah berkelahi” ucap hoseok yang sepertinya sangat kelelahan menahan tubuh namjoon yang bertenaga

“wae?”

“kenapa kalian mencampuri urusanku eoh?? Jika aku ingin berpacaran dan ingin putus dengan siapa pun itu akan menjadi urusan ku.. lagi pula untuk apa aku mempertahankan yeoja babo yang hanya diam dan penurut”

Mendengar ucapan taehyung yang sudah diluar batas, semua member menjadi geram dengan tingkahnya terlebih jungkook. Hatinya sakit ketika yeoja yang ia sukai secara diam-diam itu di hina dengan begitu kejam, tangannya mengepal seketika dan ingin melabuhkannya dipipi sebelah kiri milik taehyung namun sayang saat jungkook ingin melakukan itu ia ingat bahwa tak mungkin ia melakukannya didepan semua hyungdeulnya

Sreeek

Yoongi merasa panas mendengar ucapan taehyung yang seenaknya tanpa pikir panjang. Baginya bukan masalah membela wanita, tapi ini semata-mata demi bangtan. Kerah milik taehyung berhasil ia cengkram dan menaikkan sedikit ke posisi atas sehingga taehyung merasa sulit untuk bernafas

“Pers*tan dengan urusan percintaan mu, apa kau tak berfikir panjang. Jika kau melakukan tindakan seenaknya bagaimana dengan Bangtan Sonyeondan? Pencari berita akan mengira personil bangtan adalah sekelompok namja sadis” yoongi lepas kendali, ia hanya memikirkan karir bangtan karena saat publik tau bahwa taehyung memiliki kekasih, beberapa fans merasa kecewa namun begitu fans tetap mendukung karena army mengetahui jika kekasih taehyung itu sangat menjaga, peduli, dan menyayangi taehyung. Bagaimana jika semua orang tau bahwa taehyung telah mencampakkan gadis itu kemudian dengan mudah berpindah pada yeoja lain terlebih lagi soo ra

Yoongi sangat hafal karakter soo ra karena soo ra adalah teman sekelasnya sewaktu sekolah menengah pertama. Soora hanya berteman dengan orang-orang yang memiliki keuntungan dengannya. Yoongi sudah mengingatkan taehyung saat dahulu ia menyatakan cinta pada soora, saat itu memang taehyung sedang bersinar. Ia salah satu murid berprestasi di bidang paduan suara dan telah memenangkan kejuaraan tingkat nasional

“bangtan akan baik-baik saja jika kalian tak ikut campur dengan urusan pribadi seseorang. Ah…satu lagi jika ada yang berani menghalangi kami, aku tak akan pernah datang untuk latihan”

Taehyung melepas cengkraman yoongi, dan menatap ke semua pasang mata para hyungdeulnya kemudian ia berjalan dengan langkah ksatria seperti ia baru saja memenangkan diskusi berbalut perang darah dengan member

BLAAARR

Taehyung menutup pintu sekencang-kencangnya seakan-akan ia memberi penekanan bahwa percakapan tadi adalah harga mati dan tak bisa di ganggu gugat.

Part 6 : Just Look at me

Selama waktu belajar tadi aku seperti tak fokus, beberapa kali aku terkena teguran oleh seonsaengnim. Ini semua mungkin masih berkaitan dengan kejadian pagi tadi, aku jadi berfikir sepertinya oppa memang sudah tak mencintaiku lagi, karena aku di banding dengan yeoja itu sangat lah jauh. Ia begitu cantik, fashionable dan terlihat jauh lebih modern daripada diriku yang hanya orang biasa tanpa ada kesan ‘wah’.

“hhhhuuuuffff”

Aku menarik nafas panjang sambil meminum tegukan terakhir dari botol air putih yang ku beli di kantin. Saat ini, aku berbaur dengan lainnya—ah bukan—tapi aku menyendiri diantara murid lain yang asyik bermain, bergurau, bersosialisasi di hamparan taman milik sekolah.  Aku hanya duduk di kursi tepat di tepi kolam ikan, mendengar gemericik air membuat aku lebih tenang melewati hari ini yang begitu berat.

“oppa… aku sudah berusaha menjauhi mu tapi kenapa kau selalu saja muncul di hadapanku” aku menunduk dan berusaha tak ingin melihatnya.

Yaa… memang baru saja aku melihat taehyung oppa berjalan di koridor tepatnya 10 meter di depanku namun aku masih bisa melihatnya yang begitu bahagia, tertawa lepas dengan yeoja itu sambil bergandeng tangan. Semua murid lain heboh memandang mereka namun aku memilih untuk menunduk dari pada melihat pemandangan yang hanya menyakitkan hati ini

“Di dunia ini tak akan ada seekor kelinci yang bersedih” ucap namja yang tiba-tiba saja muncul dan duduk di sebelah ku

Spontan aku melirik tepat ke arah kanan dan ternyata jungkook sedang menatapku dengan senyumnya yang khas. Aku tersenyum tipis karena melihatnya yang tersenyum begitu manis “eoh…apa yang baru saja aku katakana—ah tidak-tidak—sepertinya memang anak itu memiliki senyum yang indah” batinku yang baru menyadari bahwa anak ini memilik senyum yang manis untuk pertama kali

“—kau?” ucapku padanya datar

“hm,, jungkookie—da”

Aku kembali tersenyum ketika melihat jungkook yang mengatakan namanya dan beraegyo seperti anak kecil namun senyum ku kembali memudar saat pandanganku tak sengaja melihat taehyung oppa yang ternyata memutar koridor taman dan berakhir pada koridor di belakang tempat dudukku yang mengarah ke kelas

“kenapa hatiku masih saja terasa seperti ada yang tertusuk” ucapku dalam hati

Wajahku bergerak dengan sendirinya—tapi ini seperti bukan karena sihir atau magic—jungkook menggunakan tangannya untuk membawa arah pandanganku mengarah pada wajahnya dengan menempelkan jemarinya di daguku. Saat ini aku benar-benar tepat di hadapan wajahnya, wajah yang begitu sejuk dipandang layaknya berada di bawah naungan pohon cemara. Matanya yang hitam menatap dalam manik mataku, aku merasa dia selalu menangkap setiap detik gerakan mataku dan tak ingin terlepas

“noona… kau hanya perlu melihatku. Tak perlu melihat yang lain karena aku selalu berada tepat di depanmu”

Entah apa yang baru saja jungkook katakan tapi rasanya ucapan itu masuk ke dalam ruang hati ku yang sedang kosong. Aku pun tak mengerti maksudnya mengatakan hal itu tapi entahlah ucapanya itu membuatku merasakan kembali rasa senang yang selama ini tak dapat ku rasakan.

“puuuff…mwoya jungkook-ah…ha..ha?” ku lontarkan tawa kecil hingga terlihat deretan gigi kelinciku yang sama juga dengan gigi kelinci miliknya. Aku tertawa karena tak tau harus membalas ucapannya dengan kata-kata seperti apa, namun aku sangat berterima kasih dengannya. Lagi-lagi saat aku ingin menangis, jungkook selalu menarik kembali tetes air mata yang hendak tumpah dengan caranya sendiri.

…….

…..

Terkadang di jam seperti ini sepulang sekolah, aku selalu menunggu taehyung oppa dan berjalan bersama namun sekarang itu tak akan pernah terjadi. Langit begitu mendung, sepertinya masih sulit untuk mengeluarkan aura oppa yang masih memenuhi sebagian hatiku maklum saja, oppa adalah namja pertama yang ku sukai.

“hhhmmmm” aku mengambil nafas panjang dan berfikir keras agar dapat melupakan rutinitas yang saat ini sudah menjadi sampah untuknya

“kau pasti bisa… lupakan taehyung oppa! Fighting” batinku

Bruum…bruumm…bruummm…

Suara deru mesin motor terdengar jelas di telingaku, suaranya berasal dari arah belakang. Tadinya aku tak begitu penasaran dengan pemilik motor itu namun beberapa kali suara gas motor sport itu sangat kencang membuat ku ingin sekali melihat siapa yang senang membuat bising

Klipp…Kliipp…Kliiip

“oppa…?” ucap ku terkejut dan tak sempat memperhatikan gantungan ponselku yang ternyata menyala

Aku melihat jelas matanya dan ia pun juga jelas menatap ke arahku, namun  kami sama sekali tak bergerak dari posisi kami. Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan “kenapa oppa menatapku seperti itu?” ucapku lembut

Gluduk….Gluduk. . . . Blaaar

Suara petir terdengar keras membuat bahuku tergerak karena terkejut dan ku pikir tak akan lama lagi akan turun hujan. Oppa sama sekali tak bergerak, bahkan pandangannya kali ini seperti menginginkanku untuk mendekatinya.

“baiklah jika ini memang bisa membawa kembali hubungan kami aku akan bicara dengannya tapi jika tidak, sungguh aku akan melupakannya bahkan mengubur kenangan taehyung dalam-dalam” aku memberanikan diri untuk menghampirinya

“oppa?”

“…….”

“mw-mwohaseyo?”

“……….”

Lagi-lagi ia tak menjawab namun pandangannya tertuju pada saku seragamku yang didalamnya terdapat ponsel dengan lampu yang masih terang.

“kuge?” ia menunjuk tepat ke arah saku ku

“i-ini….?” tanyaku untuk memastikan

“kenapa kau masih menyimpannya?” tanyanya datar namun tegas

“a-aku hanya ingin menyimpan ini sebagai kenangan”

“lepaskan!” ucapnya kali ini dengan nada sedikit naik

Aku menggeleng, rasa sedih, kecewa, kesal, benci langsung mengisi penuh semua tubuhku. Sebenarnya apa sih yang dimau taehyung oppa terhadapku, sepertinya ia tak berhenti untuk menyakitiku .

“aku akan melepaskannya, ji-ka kau memberikan alasan kenapa kau memutuskanku?”

“tsk…” aku melihat ia memamerkan senyum smirk’nya dan turun dari motor kemudian mendekatiku dengan tatapan super menakutkan

“kau sudah tak berarti lagi di dalam sini…,” ia menunjuk dadanya dengan beberapa kali sentuhan kuat kemudian melanjutkan ucapannya “seseorang telah menggantikan posisi ini, cinta pertamaku telah kembali”

“tahan…kau bisa menahannya” batinku menguatkan diri agar tak setetes pun air mata ini keluar hanya untuk namja yang ternyata memiliki hati belang

“ge-geurae op-pa… jigeum nan arrayeo” tanganku kini mulai melepaskan kaitan gantungan ponsel yang sudah bertahun-tahun menghiasi ponsel sederhana milikku

Aku menggenggam tali pengaitnya dan membiarkan berlian itu berada diluar genggaman tanganku selagi bersinar. Getaran gantungan tersebut seperti melambangkan jika tanganku kini gemetar hanya untuk menggenggam benda yang sangat ringan. ‘sakit’ itulah yang membuat tanganku menjadi gemetar, bayangkan saja dengan mudahnya taehyung oppa mengatakan bahwa ia pergi dari ku karena cinta pertamanya—lalu, selama 2 tahun belakangan ini aku dianggap apa?!. Bayangan memori semua kenangan saat ini muncul, kenangan indah hingga pahit pun semuanya bercampur menjadi satu hingga yang ada saat ini adalah rasa benci terhadapnya.

“igo…” aku melepaskan genggaman tanganku dan membuat gantungan itu terjatuh tepat diantara aku denganya kemudian aku menginjaknya menggunakan seluruh tenagaku yang ada hingga kaki ku merasa sepertinya gantungan itu sudah menjadi serpihan mikro yang menyatu dengan tanah

Tes…..

Satu tetes air mata akhirnya jatuh dan tak kuat untuk bertahan di dalam kelopak mataku seiring gantungan indah itu hancur. Aku melihat teahyung sepertinya ia tak suka ketika aku menginjak gantungan tersebut

“apa maksudmu dengan menginjak benda itu sampai hancur huh?! Apa kau ingin menunjukan kehebatanmu dengan menghinaku seperti itu!” tubuhku berguncang saat oppa memegang erat kedua bahuku, ia tak berhenti mengguncangkannya.

“op-pa keuman…. Jinjja appayo”

Taehyung tak mendengar ucapanku, ia masih saja membuatku seperti sedang berada di permainan komedi putar yang membuat kepala terasa sakit

“mwohae neo!!!”

Buggghhh……Plaak….. Buuuggghhhh

Jungkook tiba-tiba muncul dan langsung menghajar habis hyungnya, magnae BTS itu tak peduli bahwa yang ia pukul adalah hyungnya.

“berhenti menyakitinya!!! Apa kau pecundang yang hanya bisa menyakiti wanita, eoh?!”

“yak….jeon jungkook!!”

Taehyung berhasil menghentikan pukulan jungkook dan keduanya saling beradu pandang. Tahyung tak menyangka bahwa jungkook berani kepadanya dan tak segan-segan untuk membela seorang yeoja

“jadi kau sekarang membela dia daripada aku?” tanya teahyung dengan nada tawa sinis

“tentu dan jika kau sampai mengganggunya atau menyakitinya sekali lagi aku tak akan segan-segan membunuhmu kim taehyung” jungkook sudah berani memanggil hyungnya itu dengan sebutan nama

Orang yang ditunggu-tunggu taehyung akhirnya datang juga, ternyata ia sedang menunggu soora untuk pulang bersama. Bersamaan dengan itu beberapa tetes hujan mulai mengguyur jalanan sekolah.

“taehyung-ah ppali,, sebelum hujan semakin deras kita cepat pergi” soora sedikit bingung dengan situasi yang aneh, ia sepertinya memilih tak peduli dengan kehadiran orang lain yang ada di situ

“kau benar jagiya… aku juga sudah muak lama-lama berada di sini” taehyung memilih untuk pergi, ia tak membalas perlakuan jungkook dan pergi mengendarai motor bersama soora

Bersamaan dengan kepergian taehyung, hujan pun turun dengan derasnya. Jungkook lagi-lagi menggenggam tanganku. Aku masih menatap taehyung yang semakin menjauh dari pandanganku, ini begitu sakit ketika aku yang masih mencintai oppa ditinggalkan begitu saja bersama wanita lain di depan mata kepalaku sendiri tapi untunglah hujan ini lagi-lagi menyamarkan semua air mata yang jatuh

“noonaa” pandanganku beralih ketika merasa tanganku bergoyang

“noona…lihatlah aku….hujan semakin deras…. Ayolah”

Jungkook mengenggam tanganku erat, ia menggandengku sambil menghalangi derasnya air hujan dengan menggunakan satu tangannya yang bebas. Ia meletakan tangannya tepat diatas kepalaku membuat hal ini seperti sin yang ada di dalam drama. Aku tak mengerti dengan perlakuan jungkook, hanya saja aku mendapatkan satu kenyamanan bahwa saat bersamanya aku merasa lebih tenang dan ia pun selalu ada untukku disaat aku benar-benar butuh seseorang

Part 7 : I will Protect noona

Hujan masih saja turun dan tak berhenti sejak 30 menit yang lalu hingga aku dan jungkook sepertinya akan berada di sini lebih lama. Sebuah mini market menjadi tempat untuk kami berteduh dan tentu saja aku menjadi pusat perhatian karena hari ini mini market di datangi beberapa murid dari sekolah lain untuk berteduh. Aku sudah tau akan seperti ini ketika dekat atau berada di sekitar namja grup yang sedang populer

“eh…bukankah dia yeojachingu taehyung?”

“ani…sepertinya bukan.. karena dia bersama jungkook”

“heii..bisa saja, yeoja itu selingkuh”

Suara itu sangat jelas terdengar di telingaku, aku tak tenang berada di dalam sini karena sejak tadi semua orang membicarakan hubunganku dengan taehyung, terlebih lagi mereka membawa nama jungkook. Terlintas dipikiranku untuk memperbaiki kedua nama namja tersebut karena aku tak ingin pamor BTS yang sedang naik daun menjadi merosot. Sambil menunggu jungkook sedang berkutat dengan isi minimarket sebaiknya aku melayani ucapan mereka yang sadis

*bow

“mianhae… sepertinya ka-kalian salah sangka” ucapku untuk dapat masuk ke dalam pembicaraan para murid lain

“ye?”

Menunduk,, itulah reaksi pertama mereka ketika aku menjawab semua tudingan yang ditujukan untukku “lalu kau sedang apa berdua dengan jungkook?”

“eumm…aku sedang meminta jungkook untuk menemaniku membeli kado untuk taehyung oppa. Aku memerlukan sarannya” ucapku sambil menyilangkan jemariku pertanda saat ini aku telah berbohong

“aahhh…benarkan apa kataku” pekik murid itu pada temannya

“mianhae…ku pikir kau selingkuh”

Beberapa murid kembali memperlakukanku dengan baik ketika sangkaannya salah namun begitu aku tak senang dengan kebohongan ini, apalagi jika terendus bahwa aku telah putus karena bisa-bisa aku akan di tenggelamkan di sungai han dan pasti pamor BTS akan turun.

“huuuh…semua akan baik-baik saja, lagipula ini untuk kebaikan semuanya” ucapku

“baik apanya?”

Sambil meletakan hot chocolate di meja panjang khusus santap ditempat, jungkook ternyata sejak tadi menguping di balik rak mini market.

“noona, untuk apa kau berbohong pada mereka mengenai kejelekan taehyung?”

Mendapat pertanyaan yang cukup sulit untuk ku jawab aku memilih untuk mengalihkan pembicaraan “jungkook-ah, kau tak perlu repot membelikan ini untukku ku, gomawo”

Aku kembali tersenyum dan meneguk minuman yang jungkook bawakan untukku

“kau selalu saja mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya kau tak perlu berbohong karena apapun yang akan terjadi nanti, aku akan selalu melindungimu noona”

Uhuuuk-uuhuuk

Seketika aku tersedak mendengar jungkook mengatakan hal yang dahulu taehyung sering katakan. “jungkook…?” batinku.

“noona… neo gwenchana?”

“ne… nan gwenchana. Apa dahulu kau bercita-cita ingin menjadi polisi?” dengan nada bercanda, aku lagi-lagi memilih untuk tak menanggapi ucapan manis jungkook dengan serius

“mwo? Aniyeo”

“lalu kenapa kau ingin melindungi seseorang jika kau tak ingin menjadi polisi… kau sungguh lucu”

“noona, aku sungguh serius”

Aku menatap wajahnya yang memang terlihat serius, aku seperti merasa ada yang tak beres dan seharusnya ini tak boleh terjadi. Beberapa dugaan mulai berputar cepat di dalam otak, sepertinya jungkook salah mengartikan ini,  dari sorot matanya yang dalam menatapku, aku tau ada sesuatu yang ia pendam selama ini. Anehnya aku, kenapa selalu di saat seperti ini, saat dimana berada tepat di depan jungkook, aku merasa jantungku berdetak tak sewajarnya bahkan aku mendadak tak dapat bicara ketika tatapannya begitu tajam menatap mataku.

“naega joah”

Aku mengerjapkan mataku ketika apa yang ku duga akhirnya terjadi, jungkook benar-benar membuatku tak dapat mengatakan hal apapun. Walaupun beberapa waktu ini aku dengannya selalu bersama tapi tak mungkin secepat ini ia mengatakan bahwa ia menyukaiku.

“ju-jung-kook- ah… kau selalu saja be-bercanda… oh lihatlah hujan sudah reda, sepertinya kita bisa pulang sekarang”

Aku bingung dengan kata-kata apa yang harus diucapkan dan lebih baik aku menghindarinya saja karena saat ini aku sedang tak ingin membicarakan hal yang berhubungan dengan hati.

*****

“hoaaampp…” suara menguap ala hoseok menyeruak hingga memecah konsentrasi lainnya yang sedang asyik bermain catur

“aah… hyuuung hajima! Sejak tadi kau menguap bagaikan harimau yang mengaum, berisik sekali” ucap jimin yang sedang bermain catur melawan namjoon, usai ia menggantikan hoseok yang kalah melawan namjoon

“kau terlalu lama berfikir, cepatlah! Ku kira kau jago ternyata sama saja denganku, lebih baik menyerahlah!” lanjutnya yang sengaja membuat suara karena kesal dengan jimin yang menggodanya hanya bisa bermain catur dalam waktu 2 menit saja

“ha…ha….ha…. majja” yoongi pun mengiyakan ucapan hoseok

 

‘‘aku pulang’’

“yah.. jungkook-ah dari mana saja kau?” ucap jin yang khawatir dengan maknae kesayangannya

“ne… kau tau jam berapa ini? sudah 2 jam setelah bel pulang sekolah berdering” timpa hoseok yang ikut-ikut memarahi jungkook

“mianhaeyo hyungdeul, tadi aku menunggu hujan reda” ucap jungkook polos

“benarkah? Memangnya tadi hujan ya” tutur namjoon yang matanya fokus menatap permainan catur usai ia melangkahkan pionnya

Usai meletakan tasnya, jungkook mulai bergabung di ruang tengah dan duduk di sebelah jin “ne hyung majja, hujan begitu lebat jadi aku berteduh lalu saat hujannya reda aku segera kembali”

“mungkin saja ia berkencan dengan hujan” ucapan sinis datang dari taehyung disertai death glare miliknya

Semua member merasa aneh dengan ucapan taehyung, semua hyungnya itu kebingungan dengan maksud taehyung.

“mwoya taehyung-ah” jimin mendorong taehyung hingga tubuhnya terjatuh

“taehyung-ah apa kau sakit?” ucap namjoon

“tsk… tanya saja pada magnae yang baru mengenal cinta!” taehyung pergi meninggalkan arena ruang tengah dan ia pun meninggalkan rasa penasaran di semua hati hyungdeulnya

“heiisshhh… kau benar-benar hyung!” batin jungkook

Kini jungkook harus berhadapan dengan semua pertanyaan dari member lainnya tapi jungkook pintar, ia memilih untuk bertanya kembali pada taehyung yang memberikan pertanyaan

“nado molla hyung, aku akan menanyakan pada taehyung” jungkook bergegas pergi ke kamar taehyung

..

.

“apa yang kau lakukan hyung!”

Taehyung masih berbaring  dan menutup matanya sebelumnya ia hanya melirik ketika jungkook masuk kedalam kamarnya

“ani”

“yah! taehyung-ah”

Amarah taehyung kini mulai meletup-letup ketika rasa sopan-santun milik jungkook telah hilang, ia bangun dan seketika mencengkram kerah jungkook

“beginikah kau sekarang?”

Sreeet

Jungkook berhasil melepaskan tangan taehyung “apa maksudmu mengatakan hal itu didepan hyungdeul?”

“aku bicara sesuai fakta jeon jungkook”  taehyung menekankan kata fakta

“sial!”

“tsk…sepertinya yeoja itu sudah mengubahmu menjadi lebih buruk dan……..”

“hentikan ucapanmu hyung atau…..”

“atau apa,eoh? Apa kau berani memukulku lagi seperti tadi.”

“ani… kau boleh saja membicarakan apapun tentangku tapi tidak untuknya, jika kau menyakitinya atau membawa-bawa namanya lagi aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menjadi pelindung bagi noona”

****

Part 8 : noona, saranghae

Tak terasa sudah 2 minggu sejak putus dengan taehyung oppa, aku merasa jauh lebih baik. sebenarnya ini semua berkat jungkook, hobaeku yang semakin kesini aku lihat semakin manis saja perilakunya padaku. Jika bukan karenanya, mataku mungkin sudah bengkak karena menangis setiap waktu.  Dia membuktikan janjinya, selalu ada di saat aku membutuhkannya, selalu ada sebagai pelindungku, selalu ada ketika bayang-bayang taehyung kembali muncul hingga aku akhirnya dapat melupakan memori lama ku berkat kehadirannya. Yaa kehadiran jungkook, walaupun hingga detik ini aku selalu saja mengalihkan pembicaraannya saat sudah serius berbicara tentang hati. Sejauh ini aku masih menganggapnya hobae karena tak baik menyukai seseorang dalam waktu instan, mungkin saja jungkook terbawa suasana karena selama ini ia hadir selalu menemaniku.

Tapi ini sungguh tak adil,

Jungkook selalu saja menutupi kesedihannya, aku tau dari sorot matanya yang terlihat ada rasa sedih dan kecewa bahkan aku telah mendengar kabarnya sendiri. Kabar itu datang tepat 1 minggu yang lalu, semenjak taehyung oppa resmi berkencan dengan soora ia lupa untuk berlatih dan alhasil setiap performance BTS diatas panggung selalu saja menjadi kacau. Beberapa stasiun TV pun mulai menarik diri untuk menampilkan namjagrup tersebut dan parahnya lagi soora kini meninggalkan taehyung.

“noona….?” panggil jungkook yang selalu saja datang ke kelasku disaat jam istirahat

“emm”

“kenapa kau lesu sekali, apa kau sakit?”

Lagi-lagi jungkook memperlakukanku seperti kekasihnya padahal kami sama sekali tak ada hubungan yang lebih dari teman.

Aku segera menggeleng-gelengkan kepalaku dan menatap wajahnya tajam “berhentilah berbuat seperti ini! seharusnya saat ini aku yang menghiburmu kookie-ah”

“mw-mwo?”

“aku sudah tau segalanya. Tentang BTS, Taehyung oppa bahkan Soora”

“lalu. . . apa yang akan kau lakukan?” jungkook mendadak menatap pasif

“ma-maksudmu?”

“soal hyung—“

“apa kau akan kembali padanya?” lanjut jungkook

Pertanyaan itu masih terngiang di dalam pikiranku, sejak jam istirahat tadi ucapan jungkook yang tak sempat ku jawab rasanya seperti menjadi sebuah ganjalan di hati. Entah kenapa ketika melihat taehyung oppa saat di lorong gudang, wajahnya tampak muram dan kacau hingga aku tak kuat untuk melihatnya lebih lama lagi. Ia terlihat begitu terluka, membuatku ingin menitikan air mata jika menatapnya lebih lama karena aku pernah berada diposisinya.

“huuuh… eotteoke?”

**

Selama 1 minggu  lebih 2 hari ini BTS sama sekali tak ada kegiatan pamornya seperti sudah tak bersinar lagi. Member lainnya tak menyalahkan taehyung karena saat ini taehyung benar-benar sangat terpukul, hyungdeulnya tak tega untuk menyalahkan akan karir BTS namun mereka malah memberi semangat untuk taehyung bangkit. Ini semua karena member lain dengan jelas melihat pertengkaran taehyung dan soora 5 hari yang lalu, tak sengaja mereka menguping saat soora mengendus jika BTS kini tak lagi menjadi namjagrup papan atas. Soora dengan lantangnya tanpa dosa memutuskan taehyung dengan alasan yang benar-benar membuat hati namja terasa sakit.

‘taehyung-ah…kita putus saja, kau sepertinya sudah tak lagi populer’

Kata-kata itu seperti muncul ketika menatap wajah taehyung yang selalu murung saat ini

“taehyung-ah… sudahlah, ini belum terlambat kita perbaiki semua dan BTS akan kembali seperti dulu” ucap namjoon yang kali ini lebih dewasa

“ne…. kemarin aku sudah memberitahukanmu bahwa soora itu tak baik, kau bahkan melepaskan yeoja yang jelas-jelas sangat baik padamu” ungkap yoongi

Dalam tatapan kosongnya taehyung menerawang ke luar jendela dari ruang khusus BTS berlatih di sekolah, ia seperti mendapat pencerahan dari semua perkataan hyungdeulnya. Beberapa air mata penyesalan mulai membasahi pipi taehyung yang mulus

“hiks…jwe-songhamnida hyungdeul. Aku begitu bodoh sampai harus meninggalkan BTS dan———”

Taehyung tak lagi sanggup meneruskan ucapannya, kesalahannya yang begitu besar membuatnya menangis di dalam dada bidang milik jin. Mereka semua akhirnya memeluk taehyung dan menerima semua kesalahan dan memaafkannya namun kali ini jungkook absen.

…..

..

Sudah 30 menit dari dering bel sekolah yang bunyinya begitu nyaring, aku memilih untuk tak segera pulang karena memilih untuk menyendiri disini. Markas ku yang selalu saja membuat nyaman hati karena ruang olahraga ini masih saja belum terpakai dan sedang di renovasi jadi tak mungkin ada murid atau orang lain yang datang.

“apa yang harus aku lakukan” lagi-lagi hanya ada pertanyaan yang masih belum bisa aku pecahkan

“hoosh…hosshh…noona???” lagi-lagi, hanya jungkook yang selalu bisa menemukan ku walau bersembunyi di lubang semut sekali pun

“kenapa kau kemari?” ucapku

“aku ingin mengajakmu pulang bersama” tegasnya sambil meraih tanganku dan menggenggamnya erat

Sreeettt

Aku melihat jungkook tersentak kaget, ia terkejut ketika aku melepaskan gandengannya. Ini sama sekali tak pernah ku lakukan, aku hanya ingin semuanya berjalan tanpa ada kesalahpahaman

“jungkookie…”

“…..”

“eum…. mian sepertinya kau salah sangka jika kau menganggap hubungan persahabatan ini dengan hubungan yang lebih dari itu”

Melihat matanya yang disipitkan dan alis yang dinaikkan, jungkook tampak tak setuju dengan argumen yang ku lontarkan

“ah maaf jungkook  a-aku tak ber-maksud untuk melukaimu keundae——”

..

.

Chu

.

..

Aku mematung dihadapannya tak bisa berkata sekali pun, hanya saja mataku beberapa kali mengerjap. “apa ini… apa yang baru saja terjadi” batinku

“noona…saranghae”

Ditambah ungkapan cinta yang kali ini benar-benar diucapkannya membuat ku semakin tak berkutik. Entah alasan atau elakan apa lagi yang akan ku buat untuk mengalihkan ucapannya tapi sungguh saat ini aku tak dapat berbuat apapun selain gugup

“k-kau—” ucapanku terbata sambil menyentuh bibirku yang baru saja mendapat sentuhan lembut dari bibirnya

Kini kedua tanganku diraihnya, jungkook yang ada di hadapanku ini tak terlihat seperti anak kecil namun dirinya terlihat begitu serius dan manly

“noona hanya perlu mendengarkanku tanpa perlu berkata apapun karena aku tak akan peduli jika noona mengelak atau bahkan menolakku”

“kau tau… sudah sejak lama aku menyukai noona bahkan saat sebelum noona berpacaran dengan taehyung hyung aku sudah mengagumimu. Pertama kali aku melihatmu saat taehyung membawa temannya yaitu kau ke tempat latihan kami semenjak saat itu aku sudah menyukaimu dan entah mengapa perasaan itu tak hilang setelah aku tau kau berkencan dengan hyung malah aku semakin cinta denganmu hingga sekarang”

“ju-ng..kook”

Jungkook tersenyum usai mengatakan hal yang tak ku duga, ternyata ia menyukaiku sejak lama—“astaga”—- bahkan aku sudah melukai perasaannya dengan menjadi pacar taehyung sedangkan ia menahan perasaannya dan terlihat bahagia melihat ku dan taehyung bermesraan saat di hadapannya

“aku memang wanita bodoh….bodoh…bodoh…” kembali air mataku menetes saat menyadari kebodohanku sekali lagi

“noona…kau kenapa? Kenapa menangis?”

Aku segera memeluk namja yang ada di hadapanku ini, saat ini aku ingin memelukknya erat dan tak ingin aku melepaskannya dalam sekejap. Aku merasa telah melakukan kejahatan dengan menghancurkan hati seseorang

“aakhh….noona kau bisa meremukkan tulangku”

“Ng—maaf  kookie“

“noona…kau tak apa-apa kan?” lagi-lagi jungkook selalu memperhatikan keadaanku dari pada dirinya sendiri bahkan aku belum menjawab pernyataannya

“…..”

“noona…?”

Aku menatap wajahnya intens, menatap ke dalam manik mata jungkook dan aku mendapatkan apa yang selama ini aku pertanyakan. Di dalam sana aku menemukan sesuatu yang tak ada pada manik mata taehyung oppa saat itu.

“jungkook-ah…. ku harap kau mau mengajariku untuk mencintaimu”

“j-j-j-j-j-j—ji-ji-ji—jin—jinjja?”

Aku tersenyum  sambil menganggukkan kepalaku dan aku tau jungkook tetaplah jungkook.ia terlihat kembali seperti bocah yang menggemaskan dengan ekspresi terkejut mengucapkan 1 kata dengan mengejanya menjadi beberapa suku kata. Bagiku saat ini jungkook sangatlah manis

“tentu… tentu noonaaaaaaaaa”

Pada akhirnya jungkooklah yang ternyata mampu membuatku kembali pulih dari sakitnya cinta dan perlahan akan kembali menumbuhkan rasa cinta baru bersama namja yang begitu manis dan penuh dengan perhatian. Bahkan saat ini tingkahnya sangat lucu, ia tak ada habisnya melebarkan senyumannya. Sejak tadi ia hanya meluapkan rasa bahagianya.

Fin

Kyaaaaaa….jungkookieeeee keumanhae!!! Noona ga kuat liat senyumanmu ituuh Hahaha.
Ni tulisan author pertama kali dengan cast BTS,,, gimana-gimana? Udah bikin ngefly belum, hiii^-^ eeumm,, tapi kalo udah ngefly jgn lupa RCL’nya.

see you with another story^_^v

 

3 thoughts on “[Oneshot] Your Attendance”

  1. hi there!

    so, taehyung bad boy banget di sini wkwk.
    jungkokie~~~ how could he be this sweet wkwkwk
    okay, si cewenya nih beruntung banget berada di dekat orang-orang ganteng wkwkwk
    bagus kok ceritanya,
    but, lemme have a little review.
    jadi ada beberapa penggunaan imbuhan di- dan kata depan di- yang kebalik-balik. aku ga hapal sih (karena bacanya motong, ga langsung abis), tapi ada yg harusnya kata depan di-nya dipisah, tapi ga dipisah dan sebaliknya.

    terus kata ‘sin’ mengacu pada adegan di film kan? kata yg lebih tepat sih, kayanya ‘scene’
    karena “sin=kesalahan”

    semoga bermanfaat hehehe
    see yaaa!^^~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s