One of These Nights #4 – Delusions

One of These Nights #4

One of These Nights: #4 – Delusions

A story written by salsberrymous

Starring by Red Velvet’s Joy and OC Genres Surrealism, Psychology Duration Ficlet Rating Teen Disclaimer I don’t own anything besides the story and cover.

 

Previous: #1 (Irene) #2 (Seulgi) #3 (Wendy)

Enjoy reading.

*

 

I stopped that day with the age old story

I’m grieving our relationship longer than the time we loved each other

Far away past the galaxy

Im crossing our white memories

Its okay if I see you in my dreams

.

.

.

.

.

Aku membelalakkan kedua mataku. Termangu selama beberapa waktu. Memandang pada sesuatu di sebelahku. Kemudian tersenyum saat kudapati dia yang sedang terpaku.

“Selamat pagi,” aku mengucap sembari membelai pipi pucat itu. Gadis itu tersenyum, namun tetap diam seperti waktu-waktu yang lalu.

Lalu aku mendekapnya, dalam pelukan hangatku. Wangi tubuh khasnya yang menggelitik hidungku, kulit pucatnya yang terasa mulus, bibirnya yang tak pernah bosan mengukir senyum, surai hitam kecokelatan sebahu yang tak jarang terbelai olehku, semua tentangnya yang mengisi pikiran dan hatiku.

Namaku Jay. Dan gadis dihadapanku bernama Joy. Ia kekasihku, gadis yang selama ini menemaniku, pula mengisi hariku.

“Kau sudah makan?” aku bertanya. Ia menggeleng cepat.

Lantas aku tersenyum, ibu jariku mengelus pipi lembut itu. Kemudian tergerak mengacak surai sebahunya yang merupakan favoritku.

“Ayo makan kalau begitu.”

Ajakanku tak terlalu membuahkan hasil. Buktinya, gadis itu masih termangu di tempatnya kala aku sedang memasak. Aku hanya diam saja, sembari tersenyum dalam diam.

Aku menghampirinya, kemudian berbisik pelan di telinganya, “Sudah selesai. Ayo kita makan.”

Joy menjungkitkan bibirnya, tersenyum tipis cukup sebagai respon darinya. Ia bangkit, dan aku menggenggam tangannya. Semburat kemerahan menghiasi pipi pucatnya setiap aku melakukan hal manis padanya. Ah, lucunya.

Kini gadis itu sudah duduk manis di hadapanku. Sembari menggamit sendok aluminium, ia memandang pada manikku. Aku hanya diam, menatapnya seolah bertanya, ada apa?

Mengerti, ia menggeleng. Ia kemudian hanya mengaduk makananku, seolah enggan melahapnya. Alisku bertaut, memandangnya penuh tanda tanya, sebelum akhirnya kusuarakan, “Ada apa? Kau sakit?”

Lagi, Joy menggeleng. Malah, ia menyodorkan mangkuk yang berisi sup itu padaku. Seakan menyuruhku untuk menghabisinya. Aku lantas mengangguk patuh, lalu kulahap sup buatanku.

“Nanti kau sakit,” tuturku lembut penuh khawatir di sela lahapanku. Namun gadis itu hanya tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi rapihnya.

Joy selalu begitu, lebih senang menonton aktifitas makanku ketimbang ikut makan juga. Aku hanya dapat menurut, dan ikut tersenyum. Setidaknya, aku tahu aku tidak boleh memaksanya. Tidak sama sekali.

[]

Termabukkan oleh cintanya kerap membuatku lupa waktu. Kini aku menyuruh gadis itu berganti pakaian, hendak mengajaknya ke taman bunga di pinggir kota. Ia menurut tentunya, akan dilakukannya apapun yang aku inginkan.

Kini aku menggamit tangannya, jari kami terjalin satu sama lain. Pakaianku tergolong biasa, hanya kemeja hitam dan celana panjang. Namun, Joy selalu memuji penampilanku. Katanya, surai hitam legamku sangat kontras dengan kulit putihku, ia selalu menyarankanku untuk mengenakan pakaian sederhana. Joy juga begitu, gadis itu hanya mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang putih. Ia selalu sederhana, tetapi begitu memikat menurut persepsiku.

Kami berjalan santai di pagi hari, dengan senyuman manis yang menghiasi masing-masing bibir. Hidupku seketika terasa sempurna.

Aku memang kerap mengajak gadis ini ke tempat-tempat menyenangkan yang belum pernah didatangi sebelumnya, seperti saat ini. Kini gadis itu sudah sibuk mengambil setangkai bunga tulip. Memberikannya padaku dengan iming-iming untukku. Lantas aku menerima bunga itu.

Kata gadis itu, bunga tulip berwarna putih sangat melambangkan aku. Dan perasaannya padaku. Aku mengerti, tentu. Namun, aku tak pernah senang dengan dia yang begitu.

[]

Malam ini, Joy terdiam di teras kamarku. Angin dingin berhembus kencang, tetapi tak meruntuhkan benteng pertahanan itu. Sontak aku terduduk di sampingnya. Memandang langit kelam yang dihiasi sedikit cahaya.

“Memandang bintang dan bulan lagi?” tanyaku, dan Joy mengangguk sebagai tanggapan.

Aku menghembuskan napas kasar. Biasanya, ia akan memulai cuap-cuapan tentang bintang dan bulan. Terlebih kala kami sedang memandang pada langit malam kelam yang begitu-begitu saja.

“Kau tahu tidak? Kau bagaikan bulan, dan aku bagaikan bintang. Kita tinggal di langit yang sama, kita menyinari bumi yang sama, namun kita jauh berbeda.

Siapa yang membutuhkan bintang jika kau punya bulan? Siapa yang memperdulikan bintang jika kau punya bulan? Tidak ada.

Karena pada dasarnya, aku adalah bintang, yang mendapatkan cahaya darimu. Lalu, kau adalah bulan, yang selalu memberi cahaya padaku. Kau seolah bergantung padaku, tetapi seharusnya kau bisa memberi cahaya pada bintang-bintang lain.

Jadi, berhentilah menganggapku seolah bulanmu. Berhenti mengharapkan aku memberi cahayaku, dan mulailah menganggap dirimu sebagai bulan dan sinari bintang yang lain. Kau harus sadar, bukan aku satu-satunya bintang milikmu.”

Teori tentang bulan dan bintang miliknya selalu menghantui gendang telinga. Ia kerap mengulangnya, seakan menjadi pengingat. Dan aku tak suka, terlebih dengan persamaan yang dikemukakannya. Katanya, aku bagaikan bulan, dan dia bagaikan bintang. Menurutku, itu sepenuhnya salah.

[]

Senja membangunkanku. Ya, aku sedikit telat bangun. Aku tertidur amat lelap, tanpa lagi memperdulikan waktu. Ditelengkan kepalaku, menatap pada pintu berkerambu. Joy terdiam membeku, tatapannya seolah rapuh, menyentuh kalbuku yang tandus.

“Kau kenapa?” pertanyaanku seolah meluncur pada batu. Gadis itu tak bergerak sesenti pun. Mulutnya terbuka, sayup terdengar kata-kata itu. Ia mengajakku untuk ke rumah sakit bercat kelabu.

Menggeleng, aku tidak setuju. Air mataku hendaklah jatuh. Bersama dengan raga lemasnya, aku berkomat-kamit tak tentu.

“Kau tahu, ‘kan, kau akan mati jika aku pergi kesana!” tegasku agaknya membentak. Membuat sang pemudi seketika tersentak. Kedua maniknya menatapku, saling bersirobok lekat.

Senyuman terbentuk di bibir pucatnya. Membuat aku termangu dalam diam. Cairan beningku tanpa sadar terlepas, dari peraduannya menuju hulu sungai. Benar, aku tak ingin menutupi fakta itu lagi; bahwa akulah yang selama ini hanya mencintai Joy seorang.

Aku berteriak, menjerit dengan terbalut sendu. Rapuh sudah lubukku, lancar dihancurkan hingga tak berbentuk. Kemudian Joy meninggalkanku, dengan sejuta bayangan kisahnya bersamaku.

Aku lagi-lagi terbangun. Masih senja, dan Joy berlalu begitu. Enggan kembali atau hanya bertatap muka sedetik pun. Menjerit penuh pilu, seseorang memasukki kamar biruku. Aku termangu kala melihat tubuh tegap berbalut jas putih itu.

Pria tua itu tersenyum, melahirkan petaka yang baru bagiku

“Kurasa aku harus benar-benar membawamu ke rumah sakit.”

FIN.

5 thoughts on “One of These Nights #4 – Delusions”

  1. Jay gila ya? kesian juga. Tapi jadi kepo juga joy-nya kenapa matinya .___. oh ya koreksi dikit yaa berhembus mestinya berembus karena kata dasar ’embus’ ditambahi imbuhan ‘ber-‘. Terus kalau memasukki itu harusnya memasuki karena kata dasar ‘masuk’ ditambahi imbuhan ‘me-i’. Sekiaaaan. Semangat yah nulisnya, kamu punya potensi ^^

    Suka

  2. Hello, salam kenal, ini cherry dari garis 94 =)

    aw, ini apa. syedih skali. jd ini smua cuma mimpi+kenangan yg dikumpulin jay, ya. pantes adegan awal2 joy keliatan calm ya.
    di bagian jay ga suka dgn pengandaian joy soal tulip putih yg katanya mewakili jay dan perasaannya, itu aku gagal paham. knpa jay ga seneng? apa ada makna khusus dr tulip putih?

    izin koreksi dikit, ya. :))
    ada kata rapihnya. di kbbi adanya rapi tnpa h. trus memperdulikan, yg bener memedulikan😉 sip, gthu aja.
    smangat nulisnya!

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s