[Oneshot] Clone

Clone cover

Title: Clone

Scriptwriter: Song Jimin

Main Cast:

  • Jung Hoseok (BTS Jhope)
  • Jung Hayeong (OC)

Support Cast:

  • Kim Seokjin (BTS JIN)
  • Wang Byeongju (OC)
  • Profesor Goo (OC)

Genre: Fantasy, AU, Family

Duration: Oneshot

Rating: PG, Non-Canon

Disclaimer: Semua tokoh dalam cerita milik Tuhan. Dan cerita ini dibuat murni berdasarkan imajinasi Scriptwriter.

.

“ Jantung ini bukan milikku, tapi aku akan membuatnya menjadi diriku”

.

              “Jangan tutup matamu! Kau dengar aku?”

              Ku dengar sepotong kalimat berasal dari suara yang tidak asing lagi di telingaku. Perempuan ini terus mendekap tubuhku seraya menggosok-gosokkan tangannya pada lengan dan pipiku bermaksud menaikkan termperatur tubuhku. Hangatnya telapak tangan satu-satunya keluarga yang ku miliki ini tidak juga mengusir dingin menusuk tulangku. Seakan terbekukan, aku tak bisa menggerakan sedikitpun anggota tubuhku. Bahkan kelopak mataku sangat sulit untuk di kedipkan. Samar-samar tertangkap wajah cantik Hayeong nuna pada kedua bola mataku.

              “Kau bisa mendengarku? Jung Hoseok, maafkan aku. Aku sudah…..”

              “Nuna

( 3 Hari lalu.. )

              Hari sudah larut, jam tanganku menunjukan pukul 21.05 PM. Ku langkahkan kakiku melawan arah angin malam yang menerpa tubuhku. Tidak seperti suana ibu kota, kota kecil yang terletak di pinggir Korea Selatan ini terlihat sunyi senyap di malam hari. Semua pintu dan jendela rumah tertutup rapat, bahkan beberapa dari mereka sudah mematikan semua lampu rumahnya untuk melindungi diri dari petugas Mad yang berjaga malam. Mad, sebutan kami untuk para petugas keamanan kota Moksan. Siapapun yang melanggar peraturan akan ditindak dan di seret ke gedung pusat kota Moksan dengan kasar. Keadaan penduduk Moksan yang mayoritas berekonomi rendah memaksa kami untuk mematuhi semua peraturan sepihak yang dibuat oleh penguasa Moksan.

              Sebab dari kesunyian kota ini di malam hari adalah adanya peraturan yang menyatakan larangan bagi semua penduduk Moksan untuk berada di luar rumah setelah matahari terbenam, terkecuali para pegawai perusahaan senjata api ‘King’ milik penguasa Moksan yang sudah diberi izin untuk jam pulang kerja jam 21.00 PM. Dan aku adalah salah satu pegawai perusahaan senjata api yang akan di kirim ke setiap Batalion di Korea itu.

              “Oi, anak muda berhenti di tempat!” sahut seseorang dari belakangku. Dari nada dan volume suaranya tidak salah lagi, petugas Mad. Ku hentikan langkahku dan membalikkan badanku kehadapan dua orang petugas berseragam lengkap itu.

              “Tunjukan kartu pegawaimu!” ucap salah satu dari mereka menodongkan tongkat keamanan mereka padaku. Aku menghela nafas berat, harus berapa kali aku menunjukan kartu pegawaiku? Setiap malam petugas Mad menahan langkahku dan memintaku menunjukan kartu pegawaiku, bahkan petugas yang berhadapan denganku selalu sama setiap malamnya. Aku merogoh saku celanaku, ku angkat dan ku tunjukan kartu pegawai tepat di hadapan wajah mereka.

              “Kau sudah puas?” sahutku

              “Singkirkan tanganmu dan jaga sikapmu!” ucap salah seorang dari mereka memukul tanganku dengan tongkatnya yang dilengkapi tegangan listrik itu, ku rasakan nyeri pada seluruh permukaan punggung telapak tanganku. Mereka pergi setelah mendapat apa yang ingin mereka lihat. Ku lanjutkan langkahku menuju rumah, ku susuri gang kecil yang gelap dan sepi ini. Mataku membulat saat melihat seorang perempuan berjalan di luar rumah. Segera ku percepat langkahku dan menariknya masuk kedalam rumah,

              “Apa yang kau lakukan!” ucapku

              “Apa? Aku hanya membuang sampah”

              “Kau ingin mati! Kau beruntung aku yang lebih dulu melihatmu, jika saja Mad yang lebih dulu melihatmu kau akan..”

              “Tanganmu kenapa?” tanyanya memotong kalimatku, segera ku sembunyikan telapak tanganku dibalik tubuhku.

              “Bukan apa-apa”

              “Sudah ku bilang untuk tidak mencari gara-gara dengan mereka, bukan? Kau selalu membantahku. Ganti bajumu dan ayo makan” ucap Jung Hayeong kakak perempuanku seraya berjalan kearah dapur dan menyiapkan makanan untukku. Hayeong nuna adalah satu-satunya anggota keluarga yang ku miliki, tapi kini kami terancam terpisah karna adanya salah satu peraturan tak masuk akal yang dibuat oleh penguasa Moksan. ‘Semua perempuan diatas umur 20 tahun adalah milik penguasa’. Peraturan itu membuatku murka tiap kali mengingatnya. Peraturan yang dibuat hanya untuk memuaskan nafsu sang penguasa Moksan, Wang Byeongju. Lelaki berumur 49 tahun yang kini makmur dengan seluruh kekayaannya serta kekuasaannya atas Moksan itu sudah menjadikan 42 orang perempuan untuk dijadikan budaknya dalam 5 tahun masa jabatannya ini. Sesekali ia akan berkeliling Moksan hanya untuk mencari perempuan-perempuan yang diinginkan untuk melayaninya.

              Hayeong nuna bekerja di sebuah toko penukaran barang dengan uang. Mayoritas penduduk berekonomi rendah membuat toko itu ramai dikunjungi. Para warga yang membutuhkan uang akan datang untuk menukarkan barang yang dimilikinya dengan uang di toko itu. Sedangkan barang yang di tukarkan itu akan didaur ulang atau di jual ke kota tempat tinggal sang pemilik, Goo Hwijae. Aku dan Hayeong nuna memanggilnya Profesor Goo, lelaki berumur 42 tahun yang berprofesi sebagai kepala laboratorium khusus yang terletak di ibu kota Korea ini sesekali mendatangi tokonya untuk sekedar memeriksa perkembangan toko. Sedangkan anaknya, Goo Yoonjae yang menjaga dan mengurus segala keperluannya.

              “Selamat ulang tahun” ucap Hayeong nuna seraya menaruh semangkuk sup rumput laut dihadapanku. Aku hampir lupa kalau ini adalah ulang tahun ke 21 ku. Ketidak tentraman yang diciptakan oleh penguasa Moksan membuat sebagian besar penduduk melupakan kebahagiaan mereka, termasuk diriku. Semenjak Wang Byeongju membunuh ayah dan ibuku, sudah tidak ada lagi kata ‘bahagia’ terselip dalam benakku. Terlebih sejak Hayeong nuna berumur 20 tahun, hidupku terus diliputi rasa kekhawatiran. Bulan lalu, Hayeong nuna baru saja bertambah umur. Kini umurnya 24 tahun, 4 tahun sudah aku berusaha menyembunyikan Hayeong nuna dari Byeongju. Lelaki hina itu sudah merenggut nyawa kedua orangtuaku dan aku tidak akan membiarkannya mengambil kakakku juga.

              Ditengah makan malam ku bersama Hayeong nuna, keanehan dalam tubuhku kembali muncul. Sendok yang ku pegang jatuh ke lantai, kurasakan dadaku yang mulai sakit dan tubuhku yang mulai memanas.

              “Hoseok-a, kau baik-baik saja?” tanya Hayeong nuna yang belum bisa ku jawab. Aku merintih keras saat rasa sakit pada dadaku semakin parah.

              “Minumlah, cepat!” ucap Hayeong nuna menyodorkan 2 pil obat pereda rasa sakit yang diberikan Profesor Goo untukku. Segera ku minum pil itu, seperti biasanya rekasi dari obat itu akan bekerja 30 detik setelah meminumnya. Rasa sakit pada dadaku mulai hilang, ku atur kembali nafas dan ku regangkan telapak tanganku yang mengepal keras. Tak sengaja aku melihat wajah kakak perempuanku,

             “Singkirkan ekspresimu itu. Sudah berapa kali ku bilang ini bukan salahmu” ucapku berusaha menangkan kakakku yang hampir menitihkan airmata. Ya, ini adalah salah satu efek samping dari Jantung Clone yang ditanamkan padaku. Setelah kedua orang tuaku meninggal, aku dan Hayeong nuna hidup sebatang kara tidak memiliki keluarga lagi. Beruntung Profesor Goo datang mencari kami setelah mendengar berita kematian kedua orang tua kami. Profesor Goo adalah sahabat baik ayahku, beliau bersedia memberi biaya untuk kehidupan kami bahkan mengizinkan Hayeong nuna untuk bekerja di tokonya.

              Bicara tentang Jantung Clone. Ya, Jantung yang berada dalam tubuhku ini bukan jantung asliku. Aku menerima operasi transplantasi jantung saat aku berumur 17 tahun. Aku memiliki kelainan jantung sejak aku lahir, membuat kondisi fisikku sangat lemah. Aku tak pernah lepas dari pengawasan kedua orang tuaku, setelah mereka meninggal kondisiku semakin memburuk. Hayeong nuna bekerja keras mengumpulkan uang untuk membawaku ke pusat kesehatan Moksan yang biaya pelayananya sangat mahal. Aku sempat menyerah pada hidupku, kakakku sudah bekerja keras tapi hasil yang ia dapat belum juga memenuhi total biaya yang dibutuhkan untuk pengobatanku. Saat itulah Profesor Goo datang. Hayeong menceritakan semua pada Profesor Goo yang membuatnya menyaranku untuk melakukan transplantasi menggunakan jantung yang kami sebut Jantung Clone.

              Profesor Goo bekerja di sebuah lab khusus yang diperintah negara untuk melakukan beberapa eksperimen makhluk hidup terutama manusia. Dan salah satu eksperimen yang berhasil di ciptakan oleh mereka adalah Jantung Clone. Jantung tiruan ini hanya di ciptakan 5 buah. Tidak di ciptakan banyak karena prosesnya yang lama dan beresiko. Dari 5 Jantung Clone yang ada di Korea, jantung yang tertanam pada tubuhku adalah jantung ke 4. Jantung pertama ditanamkan pada tubuh Presiden Korea yang saat ini sedang menjabat, jantung ke-2 ditanamkan pada Kepala Polisi Korea, dan jantung ke-3 di tanamkan pada tubuh Wang Byeongju. Dengan kondisi ekonomi tinggi orang terkaya ke-3 di Korea ini sanggup membeli Jantung Clone yang harganya sangat mahal itu. Aku tidak tau bagaimana cara Profesor Goo mendapatkan Jantung Clone untukku, yang jelas tidak ada yang tau bahwa akulah orang ke-4 yang memiliki Jantung Clone.

              “Aku lelah, segeralah tidur” pamitku pada Hayeong nuna lalu berjalan menuju kamarku.

              Keesokan harinya, aku menjalani rutinitas sehari-hariku. Tidak seberat pegawai yang lain, aku hanya bertugas mempersihkan bagian-bagian senjata api sebelum dirakit. Ada yang aneh pada hari ini, suasana pabrik ini semakin sunyi dan petugas Mad bertambah banyak menjaga di setiap sisi pabrik ini.

              “Bodoh!” terdengar suara seseorang beberapa meter di belakangku, ku tolehkan wajahku kearah asal suara. Aku dikejutkan dengan keberadaan sosok yang berkedudukan tinggi di Moksan lengkap dengan dua pengawal di belakangnya.

“Tapi ini benar-benar sudah tidak sempurna saat sampai di tangan saya.” bantah seorang pegawai yang sedang berhadapan dengan sang penguasa Moksan itu. Bayang-bayang orangtuaku kembali muncul tiap kali aku melihat wajah keji itu.

             “Kau berani berbohong?!” bentak Wang Byeongju memelototi pegawai itu. Mataku terbulatkan saat melihat pegawai itu mencekik lehernya sendiri, dia merintih kesakitan dan bersusah payah meminta ampun dengan suara yang terputus-putus. Semua mata tertuju padanya, semua mulut terbungkam. Berita simpang siur menyatakan kalau Jantung Clone memiliki kelebihan yang membuat Wang Byeongju dapat mengendalikan pikiran orang lain dan membuatnya mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak heran semua orang di Moksan sangat tunduk padanya, tak satupun dari kami yang berani melawan Wang Byeongju.

              “Tuan, tolong ampuni saya” mohon si pegawai terbata-bata, mata dan wajahnya memerah, nafasnya sudah sangat sesak, urat di leher dan di wajahnya mulai terlihat.

              “Tolong hentikan” seruku yang sudah tidak tahan melihat kekerasan yang diterima pegawai itu. Semua mata tertuju padaku, hening. Lelaki tua itu menatap kearahku,

              “Tolong hentikan, dia sudah meminta ampun padamu. Lagi pula, bagian itu pun sudah tidak sempurna saat aku menerima untuk dibersihkan. Itu bukan kesalahannya” ucapku yang sudah kehilangan akal sehatku. Aku, membantah Wang Byeongju.

              “Siapa anak ini? Beraninya menghadapkan wajahnya padaku. Kalau bilang ini bukan kesalahan si bodoh ini, lalu ini salahmu?” jawab Wang Byeongju

              “Bukan. Ini bukan kesalahan saya”

              “Lalu kesalahan siapa ini?” tanyanya melemparkan tatapan tajam padaku, akupun membalas tatapannya. Semakin menatap matanya, semakin jelas bayang orangtuaku. Dia menyeringai,

              “Bahkan kau berani menatapku seperti itu”

              “Saya akan membereskannya pak” ucap lelaki bertubuh tinggi tegap dengan setelan jas hitam lengkap berdiri mendampingi lelaki tua itu.

              “Tidak. Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku. Aku akan membunuh siapapun yang menggores anak ini sedikitpun tanpa seiziniku, karna aku sendiri yang akan membunuhnya. Kita pergi” ucap Wang Byeongju lalu pergi dari hadapanku. Telapak tanganku mengepal keras, beraninya lelaki itu mengucapkan kalimat itu padaku. Setelah dia merenggut nyawa orangtuaku, jangan harap kau bisa merebut nyawaku juga. Wang Byeongju, aku akan membalasmu.

              Waktu sudah menunjukan pukul 23.00 PM, tiba jam pulang kerjaku. Aku membereskan tasku dan hendak beranjak pulang,

              “Jung Hoseok!” panggil seseorang menghentikan langkahku, pegawai yang tadi siang menjadi korban kekerasan Wang Byeongju berlari kearahku.

              “Apa yang kau lakukan tadi?! Kau sudah bosan hidup?!” ucapnya setelah sampai di hadapanku

              “Bukan urusanmu”

              “Dia itu Wang Byeongju! Kau bisa dibunuhnya dengan mudah!”

              “Itu juga bukan urusanmu” jawabku yang lalu melangkahkan kakiku pergi dari hadapannya

              “Jung Hoseok, terimakasih” celetuknya yang lagi-lagi menghentikan langkahku. Dia berjalan cepat menyusulku,

              “Kuharap kau tidak salah paham, aku hanya mengkhawatirkanmu setelah kau menyelamatkanku tadi. Bagaimanapun, aku berhutang besar padamu.”

              “Aku tidak menganggap itu hutang, aku melakukan itu karna aku sudah muak melihat kekerasan yang dilakukan lelaki keji itu”

              “Hey! Sst! Bagaimana kau bisa menghina penguasa Moksan dengan bebas seperti ini. Jika ada yang mendengarmu, kan akan ditangkap dan dihukum!”

              “Akan lebih bagus jika itu membuatku bertemu langsung dengannya”

              “Ada apa denganmu? Sepertinya kau sangat membencinya?”

              “Siapa yang tidak membenci orang itu? Lelaki itu membunuh kedua orangtuaku” jawabku yang membungkam mulutnya sejenak.

              “Aku turut berduka atas kepergian kedua orangtuamu. Itu yang membuatmu bersikap menentang pada Wang Byeongju? Ku sarankan padamu, kau tidak bisa berbuat lebih dari ini. Dia adalah orang yang sangat berbahaya. Kau tidak bisa..”

              “Aku akan membalasnya” potongku pada kalimatnya

              “Jung Hoseok, jangan bertindak gegabah! Kau akan kehilangan nyawamu dalam sekejap! Kau tidak lihat tadi dia menguasai pikiranku dan membuatku mencekik diriku sendiri?”

              “Aku tidak akan membiarkannya mengambil nyawaku ataupun kakak perempuanku. Tidak akan pernah” lanjutku, hening.

              “Dia mengambil adik perempuanku tahun lalu” sahutnya yang sempat membuatku tertegun mendengar bahwa adik perempuannya adalah salah satu dari 42 perempuan yang dijadikan budak lelaki tua itu.

              “Aku tidak mempunyai keberanian sebesar dirimu. Sekeras apapun aku mencoba, aku tetap tidak punya apa-apa untuk melawannya. Aku hanya bisa terus berdoa pada tuhan untuk melindungi adikku”

              “Siapa nama adikmu?”

              “Kim Soojin”

              “Aku akan membebaskannya” ucapku yang melanjutkan langkahku dan meninggalkannya di belakang.

              “Hey, Kau memang sudah gila!! Walaupun begitu, terimakasih! Jika kau serius dengan perkataanmu itu, aku mempercayaimu! Bebaskan adikku! Aa! Namaku Kim Seokjin!” teriaknya membuatku tersenyum kecil.

              Angin malam kembali menerpa permukaan tubuhku, jalan setapak terlihat sepi. Baru saja 2 orang petugas Mad memintaku untuk menunjukan kartu pegawaiku. Kalimat Wang Byeongju tadi siang terus terputar pada otakku, seiring dengan sosok kedua orang tuaku. 8 tahun lalu, Wang Byeongju membunuh kedua orang tuaku yang terlibat hutang padanya. Saat itu Wang Byoengju belum menjabat sebagai penguasa Moksan, tapi dia menyandang status orang terkaya di Moksan. Saat itu ayah dan ibu meminjam sejumlah uang untuk biaya pengobatanku, tapi ayah dan ibu tidak bisa membayarnya saat jatuh tanggal pembayaran sampai lelaki tua itu mengobrak-abrik rumah kami. Ibu menyuruh Hayeong nuna membawaku melarikan diri, beberapa saat setelah aku dan Hayeong nuna berhasil keluar beberapa meter dari belakang rumah, terdengar suara tembakan pistol berulang-ulang. Jeritan ibu pun terdengar lirih di telinga kami, sampai suara tembakan terakhir yang menghentikan jeritan ibu.

              Tidak cukup dengan kekejamannya yang tak pandang bulu, dia pun terobsesi menguasai Moksan. Dia membunuh penguasa Moksan sebelumnya di tahun 2030, Wang Byoengmin kakak kandungnya sendiri. Berbeda dengan adiknya, Wang Byeongmin adalah penguasa yang sangat bijak dan baik, kesejahteraan meliputi semua penduduk Moksan. Semua rakyat Moksan mengagumi dan menghormatinya, itu juga salah satu alasan Byeongju membunuh kakaknya sendiri. Dia tidak suka ada seseorang yang lebih di hormati melebihi dirinya.

              “Aku pulang” ucapku memasuki rumah, terlihat kakak perempuanku sudah menungguku di meja makan. Aku sempat tertegun saat melihat 2 laki-laki duduk di samping Hayeong nuna. Mataku membulat saat menyadari keberadaan lelaki berkacamata serta warna rambut dan kumisnya yang sudah mulai memutih itu.

              “Kau sudah pulang?” ucap lelaki itu berdiri dari duduknya, senyum ku terkembang dan segera menggampirinya. Aku memeluknya sejenak, senang melihatnya mengunjungi rumah kami. Suasana makan malam kali ini terasa sangat lengkap dengan kehadiran Profesor Goo dan anaknya Goo Yoonjae. Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali merasakan suasana makan malam yang hidup dan hangat. Banyak bahan pembicaraan yang kami bahas, tawa dan canda pun tumpah di tengah meja makan rumah kami. Makan malam selesai, Goo Yoonjae menyiapkan pakaian untuk ayahnya, sementara Hayeong nuna mencuci perlatan makan di dapur. Tersisa aku dan Profesor Goo yang masih menikmati Teh hijau khas buatan Yoonjae hyung.

              “Wah, aku merindukan rasa ini” celetuk Profesor Goo setelah meneguk teh hijau buatan anaknya. Profesor Goo bekerja di laboratorium pusat Korea, ia tidak bisa sering pulang ke Moksan karna pekerjaan yang menyibukannya setiap hari.

              “Jung Hoseok, bagaimana keadaanmu?” tanya Profesor Goo

              “Tubuhku baik-baik saja. Tapi efek samping jantung ini sangat mengganggu, 2 bulan terakhir  rasa sakitnya sering muncul.”

              “Sudah kuduga, maka dari itu aku sudah membawakanmu pil dengan dosis yang lebih tinggi untuk mereda sekaligus mencegah rasa sakit itu muncul.” Jawabnya yang ku jawab dengan anggukan kecil. Suasana hening sesaat, aku kembali mengingat hal yang terjadi tadi siang.

              “Aku bertemu dengan Wang Byeongju tadi siang. Dia datang ke pabrik dan melakukan kekerasan pada salah satu pegawai, bahkan pegawai itu akan mati jika aku tidak..”

              “Katakan padaku kau tidak melakukan apa-apa” potong Profesor Goo pada kalimatku

              “Aku menghentikannya” jawabku mengejutkan Profesor Goo.

              “Jung Hoseok!”

              “Ada yang ingin ku tanyakan padamu. Apa sebenarnya Jantung Clone ini? Bagaimana kalian semua membuatnya? Apa yang membuat lelaki keji itu mendapatkan kelebihan besar sedangkan aku hanya mendapat efek sampingnya?!” tegasku, emosiku terkuak seketika.

              “Apa yang kau lihat dari Byeongju?”

              “Dia bisa mengendalikan pikiran orang lain. Tadi siang dia mengendalikan pikiran pegawai itu untuk mencekik dirinya sendiri. Lalu apa yang terjadi padaku? Apa jantung yang ada di tubuhku ini jantung gagal? Aku tidak merasakan perbedaan dengan jantung asliku. Kedua jantung ini hanya memberiku rasa sakit!”

              “Apa yang kau inginkan dari Jantung itu? Aku menanamkannya pada dirimu hanya untuk membuatmu tetap hidup!”

              “Ya. Kau berhasil membuatku tetap hidup Profesor Goo, dan aku pun ingin membuat kakakku tetap hidup. Hidup dengan tentram! Sekarang katakan padaku, kenapa aku tidak memiliki apa yang di miliki Wang Byeongju?!”

              “Kau memilikinya” ucap profesor Goo

              “Apa maksudmu?”

              “Masih ada beberapa hal yang belum kau ketahui, perlu ku perjelas padamu Jantung Clone di buat berpasangan dan jantung itu akan memberikan beberapa perubahan pada tubuh yang di tanami. Pertama, ketahanan tubuh mereka menjadi lebih kuat dan pergerakan mereka akan lebih gesit dan cepat. Kedua, tiap buah Jantung Clone akan menimbulkan kelebihan dan efek samping yang mutlak. Dan ketiga, setiap pasang Jantung Clone akan hidup dan mati bersamaan”

              “Berpasangan? Mati bersamaan? Apa maksud dari semua itu?!” tanyaku yang masih sulit mencerna penjelasan singkat Profesor Goo.

              “Dahulu, kaum Zeux yang berasal dari luat planet datang ke bumi. Mereka kuat dan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki manusia. Kaum Zeux pertama yang menapakkan kakinya di Korea adalah Eugine. Eugine datang ke bumi bermaksud untuk mencari tempat tinggal karena planet mereka yang rusak dan sekarat. Dia membuat perjanjian dengan pemerintah Korea, untuk tinggal disini ia harus bekerja sama membantu melindungi rakyat Korea. Sampai 2 kaum Zeux lainnya menyusul kedatangan Eugine, berbeda dengan Eugine tujuan mereka datang ke bumi untuk memusnahkan seluruh manusia dan mengambil alih bumi untuk ditinggali. Pertarungan sengit terjadi diantara mereka yang akhirnya mencabut nyawa ke tiga kaum Zeux itu. Seorang profesor mengambil jantung Eugine dan melakukan eksperimen untuk membuat jantung tiruan”

              “Siapa profesor itu?”

              “Kakekku, Goo Taekwon. Ia melakukan eksperimen bertahun-tahun hingga turun pada ayahku dan aku. Eksperimen beberapa kali gagal, ayahku memerintahkan semua awak lab untuk merubah sistem pembuatannya. Jantung akan dibuat berpasangan, dan ide itu berhasil. Jantung mengalami peningkatan kinerja sebanyak 60% saat mereka membuatnya berpasangan. Butuh bertahun-tahun untuk menghasilkan jantung tiruan itu. Hingga aku masuk dan menjadi penutup ekperimen Jantung Clone. Tercipta 3 pasang Jatung Clone, Pasang A, Pasang B, dan Pasang C. Sayangnya salah satu jantung Pasang C mengalami kerusakan yang membuat jantung itu mati. Teorinya, jika salah satu dari jantung itu mati jantung lainnya pun akan mati. Tapi tidak dengan sisa jantung pasang C yang masih hidup sampai sekarang”

“Maksudmu, ada kemungkinan aku mati tiba-tiba saat pasangan jantungku ini mati? Apa-apaan ini?!”

              “Itu kelemahan Jantung Clone. Orang yang berpikiran panjang, tidak akan menggunakan Jantung Clone saat mengetahui kalau kehidupan mereka bergantung pada pasangan jantung lainnya. Walau begitu, Jantung Clone lebih kuat 3x lipat dan akan bertahan lebih lama dari jantung biasa” ucap Profesor Goo yang membungkam mulutku.

              “Jantung jenis apa yang ada di tubuhku?”

              “Jantungmu adalah salah satu dari Pasang A. Seperti yang sudah kau tau, 4 dari 5 Jantung Clone sudah tertanam di tubuh manusia. Klien kan memilih jantungnya sendiri secara privasi dan dirahasiakan, mereka hanya akan di beritahu orang yang memiliki pasangan dari Jantung Clone-nya. Tapi aku tidak tau persis mana pasangan jantungmu saat ini. Kku menangani transplantasi pada dirimu dan bapak kepala polisi, dia memilih Pasang B sebagai jantungnya. Sementara saat Presiden Korea dan Wang Byeongju melakukan oprasi transplantasi, Profesor Lee Janggeun lah yang menangani mereka. Aku tidak sempat menanyakannya karna dia ditugasan ke luar negri untuk 3 tahun kedepan.”

              “Jadi akan sulit jika aku membunuhnya” gumamku

              “Jung Hoseok! Tarik kembali perkataanmu! Jangan bertindak bodoh dan gegabah, pikirkan kakakkmu. Dia tidak mau melihatmu berurusan dengan orang itu”

              “Kenapa? Karna kemungkinan besar aku akan mati di tangan Wang Byeongju yang sudah menguasai kelebihannya sementara aku belum?”

              “Kau tidak akan mati. Kau tidak akan mati jika jantungmu adalah pasangan dari jantung Presiden. Meski info itu belum akurat, tapi aku mendengar dari beberapa staff yang ikut menangani transplantasi Byeongju. Dia memilih jantung pasang B untuk di tanamkan pada tubuhnya.” Jelas profesor Goo sebagai penutup pembicaraan kami malam ini. Apa ini? Jantung Clone mempunyai fakta yang benar-benar diluar pikiranku. Meski begitu, keinginanku untuk melenyapkan Wang Byeongju tidak akan berubah.

              Keesokkan harinya, seperti biasa aku melakukan aktifitas sehari-hariku bekerja di pabrik senjata api  milik Wang Byeongju ‘King’. Baiklah, tidak seperti biasanya kini semua orang terlihat menjauhiku. Terlihat lelaki yang kemarin meneriakkan namanya padaku, Kim Seokjin. Dia sudah siap di tempatnya merakit senjata. Dia melihatku, melambaikan tangannya dan tersenyum kembang tapi suasana hatiku tidak mendukungku untuk membalas keramahannya. Aku membalikkan badanku dan bersiap untuk bekerja. Sudah berjalan setengah hari jam kerjaku, sama seperti kemarin petugas Mad menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Entah ini hanya perasaanku atau tidak, para petugas Mad itu terus mengawasiku.

              Jam pulang kerja tiba, tidak ada hal lain yang ingin ku lakukan selain pulang kerumah dan makan malam bersama kakak perempuanku. Hidup sudah tidak berasa lagi sejak lelaki itu menghancurkan ketentraman hidup kami semua. Sehari-hari aku hanya bekerja, pulang kerumah, makan malam bersama kakakku dan tidur. Keesokan hari dan seterusnya rutinitas itu terus terulang dan tak berubah sedikitpun. Ada 2 hal yang terpikir pada benakku selama ini untuk mendapatkan kembali kehidupan kami, aku harus melarikan diri dari kota ini atau membunuh Wang Byeongju.

              “Aku pulang” ucapku masuk kedalam rumah.

DEG!
Jantungku seakan terhenti sejenak melihat kakak perempuanku diikat pada kursi dengan mulut yang disekap. Terlihat beberapa luka kecil pada dahi dan memar pada pelipisnya, matanya merah dan sembab. Bediri dua petugas Mad di belakangnya, dan pengawal pribadi Wang Byeongju berdiri di samping Hayeong nuna.

              “Mau apa kalian disini! Lepaskan kakakku!”

              “Jung Hoseok, saya diperintahkan untuk membawamu kehadapan Tuan Wang Byeongju” ucap lelaki bertubuh tinggi tegap itu padaku. Hayeong nuna terus menggelengkan kepalanya dan menangis.

              “Sudah ku bilang lepaskan kakaku!!”

              “Tidak bisa, kakakmu sudah menjadi milik Tuan Wang Byeongju” ucap  orang itu benar-benar meledakkan emosiku.

              “Apa kau bilang!!” ucapku yang lalu melayangkan tinjuku ke arahnya, tapi diluar dugaanku orang ini menghindar dengan sangat cepat. Dia melayangkan tinjunya cepat ke arah wajah dan perutku, membuatku terdorong mundur darinya. Amarah semakin menggerogoti pikiranku, aku kembali bangun dan hendak memukul orang ini tapi lagi-lagi meleset orang ini memukul punggungku dengan tongkat listrik yang tidak sempat tertangkap mataku. Aku jatuh terlutut didepan kakakku, orang itu terus memukulku dengan tongkat listriknya hingga aku mulai kehilangan kesadaranku. Darah keluar dari mulutku, pandanganku tak lepas dari sosok kakak perempuanku. Terdengar samar-samar jeritannya melihat kearahku, airmatanya terus mengalir.

              “Nuna” jawabku sebelum semua menjadi gelap.

              Ku buka kelopak mataku yang masih terasa berat. Pandanganku masih buram membuatku tidak tau dimana aku berada. Terdengar isakan tangis Hayeong nuna, tubuhku terasa sakit dan nyeri. Ku fokuskan pandanganku yang mulai kembali jelas, ku lihat langit langit putih di atasku beserta tiang-tiang besar menyangganya. Aku berada di suatu ruangan yang sangat besar dan luas semua dinding dan tiang didomonasi warna putih.

              “Kau sudah mendapatkan kembali kesadaranmu, anak muda?” celetuk seseorang jauh dihadapanku. Alisku mengerut saat melihat wajah itu kembali tertangkap mataku.

              “Wang Byeongju”

              “Wah, Wah.. Jung Hoseok, kau berhasil mengejutkanku. Aku sangat terkejut saat mengetahui siapa dirimu. Bagaimana? Kau merindukan kedua orangtua mu? Jung Wonsuk dan Lee Minhee” sahutnya yang membakar pembuluh darahku.

              “Tutup mulutmu!!!” teriakku berlari kearahnya dan mencoba melayangkan tinjuku padanya. Dia berhasil menghindar dan  menyerangku dengan tinjunya pada perutku. Kembali ku hantam wajahnya yang kini berhasil mengenainya, ku lanjut dengan tendanganku pada perutnya. Tidak terima, lelaki tua ini menarik tanganku kearah bawah hingga wajahku berhasil di tendangnya.

              “Tuan, saya akan membereskannya” ucap pengawal pribadi Wang Byeongju. Tapi tanpa menyentuhnya, Wang Byeongju berhasil mendorongnya menjauh dari kami.

              “Tidak perlu ikut campur. Melenyapkan anak kecil ini, adalah hal kecil. Aku akan merasa terhina jika kau ikut campur dalam urusan ini. Anak ini, menyimpan dendam sejak lama padaku. Tak heran dia berani membantahku di pabrik beberapa hari lalu. Keberanianmu, sama persis dengan keberanian ayahmu Jung Wonsuk”

              “Tutup mulutmu! Mulut kotormu itu tidak pantas mengucap nama ayahku!!” bentakku yang berusaha menyerangnya lagi. Ku layangkan tinjuku padanya, saat tinjuku sudah berada tepat di hadapan wajanya tubuhku berhenti. Aku tidak bisa bergerak, aku tidak bisa menggerakan sedikitpun anggota tubuhku.

              “Rasa sakit” ucapnya seakan mantra yang langsung merasuk tubuhku, seluruh tubuhku terasa sakit. Dia terus menatap mataku, aku tidak bisa mengalihkan wajahku darinya. Dia mulai mengendalikan pikiranku.

              “Berlutut” ucapnya lagi yang langsung ku lakukan. Ini diluar kehendakku, tubuhku tidak mau menuruti perintahku. Rasa sakit semakin menggerogoti tenagaku, aku meronta keras. Hanya suara yang bisa ku keluarkan saat ini.

              “Hoseok-a!” teriak Hayeong nuna dengan kedua tangan yang masih terikat ke belakang.

              “Apa ini? Apa informasi yang ku dapatkan salah? Apa yang mereka katakan? Aku tidak menyangka orang miskin seperti mu mampu menanamkan Jantung Clone pada tubuhmu. Tapi apa ini? Kau tidak memiliki kelebihan apapun?” ucapnya menyeringai licik membuatku semakin ingin membunuhnya

              “Apa yang harus ku lakukan.. Aku sangat tidak suka dengan kesalahan. Orang yang memberitahuku semua tentangmu melakukan kesalahan. Dia menipuku? Maka dari itu, sebelum aku melenyapkanmu aku akan melenyapkan mereka terlebih dahulu.” Lanjut Wang Byeongju, terdengar beberapa langkah kaki menuju ruangan ini.

              “Masuk!” bentak salah seorang petugas Mad yang mendorong dua orang dengan kedua tangan terikat kebelakang dan kondisi babak belur. Aku tertegun hebat, bahkan lelaki ini berhasil menangkap Profesor Goo dan anaknya Goo Yoonjae.

              “Sekalian saja, aku akan menghabisi perempuan itu juga. Aku akan melenyapkan semua. Aku akan melenyapkan semuanya!” ucapnya tertawa puas. Rasa sakit semakin menusuk tubuhku, darah keluar dari hidung dan mulutku. Sementara para petugas Mad mulai memukuli Profesor Goo dan Yoonjae lagi. Ku dengar kakakku meronta saat seorang petugas Mad menyeretnya mendekati profesor Goo dan Yoonjae.

              “Hoseok-a!” jerit Hayeong nuna saat salah seorang petugas mulai memukulinya. Ku kerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk menggerakan tubuhku. Hayeong nuna terus menjerit kesakitan, tubuhnya mulai tergores, ujung bibirnya mulai mengeluarkan darah. Tidak, aku tidak bisa diam seperti ini. Sampai jeritan keras Hayeong nuna benar benar menyayat hatiku. Emosiku meletup-letup, otakku tidak bisa berfikir jernih lagi. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah, membunuh orang yang berdiri tegap di hadapanku ini. Akan ku musnahkan senyum liciknya itu dari wajahnya, akan ku hancurkan tubuhnya. Aku tidak akan mengampuni…

Tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Seluruh tubuhku seakan terbangun setelah detak jantung itu. Seketika tubuhku terasa panas, jantungku mulai terasa sakit bahkan lebih sakit dari kendali pikiran Byeongju padaku. Tidak, apa ini? Efek samping bodoh ini datang pada situasi seperti ini.

              “Aaaaarrrgghh!!!!” teriakku keras merasakan jantungku yang sakit luar biasa. Aku terus meronta merasakan sakit ini terus menusuk jantungku. Sampai mataku terpejam, kedua telapak tanganku megepal keras. Apa ini.. Tiba-tiba terasa damai. Rasa sakit pada seluruh tubuhku hilang, panas berubah menjadi hangat yang memberikan kenyamanan untuk tubuhku.

DEG!
Jantungku berdetak kencang seiring dengan kelopak mataku yang terbuka. Entah apa yang terjadi pada tubuhku, aku kembali bisa merasakan dan menggerakan tubuhku. Wang Byeongju terlihat kaget saat melihatku berdiri. Kendali pikir lelaki itu tak lagi berpengaruh padaku. Entah apa yang merubah diriku saat ini, aku merasa menerima kekutaan besar untuk melawan lelaki tua itu.

              “Berlutut!!” kecap bibir Byeongju berusaha mempengaruhi pikiranku lagi, tapi kali ini sesuatu yang aneh muncul. Seperti perisai, energi berwarna hijau terbentuk dihadapan tubuhku, menepis kendali pikiran Byeongju. Aku mulai melangkahkan kakiku menghampiri lelaki itu. Seperti teresumpal, telingaku tidak bisa mendengar apapun. Menyadari keadaan Hayeong nuna, profesor Goo dan anaknya terancam, ku kendalikan pikiranku untuk membuat energi hijau mengelilingi dan melindungi ke-3 orang yang masih terkulai di lantai. Ku arahkan tanganku pada para petugas Mad, energi hijau terlempar dari tanganku kearah mereka sehingga para petugas itu terpental jauh dan membentur keras dinding ruangan ini.

              “Berhenti! Berhenti!!” kecap bibir lelaki tua itu kembali berusaha mengendalikan pikiranku. Tidak terpengaruh sedikitpun, ku lanjutkan langkahku menghampirinya. Dia mulai mengambil langkah mundur.

              “Kenapa kau mundur? Kau tidak menyerangku?” celetukku yang membakar emosinya. Wang Byeongju berlari kearahku mencoba untuk menyerangku, tapi tubuhnya terpental saat menabrak perisai energi hijauku. Ia bangun dan mencoba menerobos perisaiku lagi, tapi masih gagal tubuhnya masih terpental jatuh. Ku ayunkan tanganku kearahnya, energi hijau terlempar dari tanganku membentur tubuhnya sehingga ia terdorong beberapa meter mundur. Telingaku masih menolak gelombang suara, tak sedikitpun suara dapat terdegar. Seketika teringat salah satu penggalan kalimat profesor Goo kemarin malam.

              ‘Jantung Clone, memiliki kelebihan dan efek samping yang mutlak’

              Senyumku terkembang setelah menyadari efek samping apa yang terjadi pada tubuhnya, di awal sebelum dia memakai kendali pikirannya dia masih mampu berkelahi denganku. Tapi setelah dia memakai kendali pikirnya, dia tidak sama sekali menggerakkan tubuhnya bahkan untuk pergeseran kecil sekalipun. Dia pun sempat melangkah mundur saat aku menghampirinya, dia bangun dan menyerangku setelah aku memancing emosinya. Jika dia benar-benar kuat, dia akan membuat perisai ini terguncang saat terbentur dengan tubuhnya. Tapi nihil, aku tidak merasakan apapun saat Wang Byeongju membentur perisaiku. Aku semakin menyeringai, itu sebabnya dia selalu dikawal oleh beberapa petugas Mad. Dan itu sebabnya juga lelaki bertubuh kekar dengan setelan jas hitam lengkapnya itu terus mengatakan ‘Aku akan membereskannya tuan’.

              “Semakin kau menggunakan kekuatanmu, semakin lemah pula kondisi tubuhmu. Bukan begitu, Wang Byeongju?”

              “Beraninya kau berkata seperti itu padaku. Jung Hoseok, rasa sakit!! Rasa sakit!!” ucap Wang Byeongju yang terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya setelah menyelesaikan kalimatnya. Akhirnya telingaku kembali pada fungsinya. Aku menyeringai kecil,

              “Kalau begitu, akan mudah bagiku untuk membuhmu bukan?”

              “Tentu, kau akan sangat mudah membunuhku. Tapi apa kau sanggup melakukannya? Apa kau yakin kau memiliki keberanian seperti itu? Yang tersisa dari ingatanku, ayahmu adalah orang yang tidak akan melakukan perlakuan keji seperti itu. Bukan begitu, Jung Hoseok?” ucapnya kembali menyebut nama ayahku.

              “Maafkan aku, tapi kau sudah salah paham aku tidak sama dengan ayahku. Aku pun tidak tau apa yang merasuki diriku, tapi saat ini.. Tidak ada yang lain di otakku selain keinginan untuk membunuhmu. Maaf, kekuatan ini membuatku amat percaya diri untuk membunuhmu” jawabku yang sudah termakan emosi, kurasakan tubuhku memanas.

              “Hoseok-a..” terdengar suara Profesor Goo lirih. Tertutup amarahku yang meletup-letup, aku tidak merespon panggilan Profesor Goo. Ku arahkan tangan kananku ke hadapan Wang Byeongju, energi hijau mulai menyelimuti tubuhnya. Lelaki ini mulai merintih kesakitan, aku sebagian energi hijau ini masuk dalam tubuhnya dan mulai merusak sel-sel tubuhnya. Darah keluar dari mulut dan hidungnya, tubuhnya bergetar hebat. Aku semakin mengerahkan energi ini untuk merusak sel tubuhnya.

              “Jung Hoseok!” panggil Profesor Goo yang sudah berdiri dan melempar tongkat petugas Mad kearahku. Aku menoleh kearahnya,

              “Hentikan” lanjutnya lirih. Aku tidak mengerti apa maskudnya, dia melempar tongkat itu untuk mengalihkan perhatianku? Apa maksudnya untuk menghentikan aksiku?

              “Dia.. Uhk!” kalimat Profesor Goo terpotong saat kedua tangannya mulai mencekik dirinya sendiri, tubuhku terdorong mundur saat dia berhasil menendang perutku. Lelaki itu berlari kearah Profesor Goo dengan membawa pisau belati di tangan kanannya. Dengan sigap ku buat perisai hijau melindungi Profesor Goo, Hayeong nuna dan Yoonjae. Ku kerahkan energi hijauku untuk membalut tubuhnya, ku gores telapak tangannya dengan energi hijauku yang berhasil menyingkirkan pisau di tangannya.

              “Kau masih bisa berlari sekencang itu, aku kaget melihatnya” ucapku menghampiri Wang Byeongju. Ku ambil pisau belati pada lantai dan memandanginya,

              “Sejak kapan kau membawa benda ini Wang Byeongju” ucapku, ku dengar Profesor Goo terus memanggil namaku tapi aku tidak meresponnya. Tidak ingin kehilangan kesempatan ini, ku tatap tajam lelaki tua keji ini.

              “Ucapkan selamat tinggal, Wang Byeongju. Matilah kau!”

              “Tidak!!” teriak Profesor Goo

*Ssrbt!
Ku tusuk pisau belati itu tepat pada jantung Wang Byeongju. Matanya terbulatkan, bibirnya terbuka dan merintih kesakitan. Aku terus membalut tubuhnya dengan energi hijau hingga ia tidak bisa melakukan apapun selain merasakan sakit. Aku tersenyum puas saat dia mulai terkulai tak sadarkan diri, ku lepas energi hijauku dan membiarkannya jatuh ke lantai.

              “Hoseok-a..” ucap Hayeong nuna yang ternyata sudah sadarkan diri. Aku terseyum kembang seraya menghampirinya,

              “Nuna, aku sudah membunuh orang itu. Sekarang.. Kita akan..” kalimatku terpotong saat jantungku terasa sakit. Tiba-tiba mulutku mengeluarkan darah, kakiku tak kuasa menopang tubuhku  hingga aku jatuh terlutut di lantai. Hayeong nuna segera mendekapku,

              “Hey anak muda, apa kau merasa sakit? Bagus. Itu berarti jantungmu juga akan segera berhenti berdetak.. Sama seperti, jantung milikku..” ucap Wang Byeongju mengejutkanku, aku terbatuk keras mengeluarkan banyak darah dari mulutku. Profesor Goo menghampiriku dan memeriksa nadiku.

              “Jangan banyak bergerak dan bicara, aku akan segera..”

              “Apa kau sudah mengetahui sebelumnya? Pasangan jantung Clone ku adalah..”

              “Sudah ku bilang jangan bicara!! Aku mengetahuinya saat mereka menangkapku. Tidak ada waktu untuk membahas hal ini, Hayeong bantu aku mengangkat Hoseok” ucap Profesor Goo hendak mengangkat tubuhku,

              “Tidak”

              “Apa yang kau katakan Jung Hoseok! Kau bisa mati!” seru Profesor Goo

              “Seperti katamu, pasangan Jantung Clone akan hidup dan mati bersamaan. Jika kau menyelamatkanku, maka lelaki itu juga akan selamat. Aku tidak bisa membiarkan lelaki itu tetap hidup”

              “Tapi kau akan mati!!” bentak Profesor Goo yang  tidak ku jawab. Tubuhku mulai merasa dingin, pandanganku mulai buram dan hampir kehilangan kesadaranku.

“Jangan tutup matamu! Kau dengar aku?”

              Ku dengar sepotong kalimat berasal dari suara yang tidak asing lagi di telingaku. Perempuan ini terus mendekap tubuhku seraya menggosok-gosokkan tangannya pada lengan dan pipiku bermaksud menaikkan termperatur tubuhku. Hangatnya telapak tangan satu-satunya keluarga yang ku miliki ini tidak juga mengusir dingin menusuk tulangku. Seakan terbekukan, aku tak bisa menggerakan sedikitpun anggota tubuhku. Bahkan kelopak mataku sangat sulit untuk di kedipkan. Samar-samar tertangkap wajah cantik Hayeong nuna pada kedua bola mataku.

              “Kau bisa mendengarku? Jung Hoseok, maafkan aku. Aku sudah…..”

              “Nuna” panggilku. Kedua bola mataku memandang kearah langit-langit, terputar kenangan-kenangan masa kecilku lengkap bersama kedua orangtuaku dan Hayeong nuna. Wajah ayah dan ibuku muncul begitu jelas membuatku tersenyum kembang, air mata mengalir pada pelipisku.

              “Aku merindukan kalian berdua..” gemingku lirih pada bayang kedua orangtuaku

              “Tidak, dengar aku. Kau tidak boleh menutup matamu. Kau dengar aku Hoseok-a?” ucap perempuan cantik ini membuat senyumku semakin mengembang. Ku genggam tangannya erat, aku mulai sulit bernafas. Rasa sakit pada jantungku menggerogoti seluruh tenagaku. Tak hentinya ku tatap kakak perempuanku ini, garis wajahnya yang indah selalu berhasil membuatku tentram saat memandang wajahnya. Rasa sakit pada jantungku sudah mencapai klimaks.

              “Jung Hoseok..” panggil Profesor Goo yang bisa ku dengar untuk terakhir kalinya sebelum kedua kelopak mataku terasa berat dan mulai tertutup. Nuna, aku sudah menyelesaikan tugasku. Maafkan aku, mulai sekarang hiruplah udara dengan bebas..

              “Hoseok-a!!!!!!”

The End

2 thoughts on “[Oneshot] Clone”

  1. hi there!

    sedihnya pasangan jantung clonenya malah si penguasa itu…
    dan kenapa si jhopenya baru bisa make kekuatannya pas terdesak itu? wkwkwk
    dan mati :”
    kirain turn out ga mati gitu. tapi emang ga asik kalau ga mati ya *hush

    aku suka latar ceritanya yg udah di tahun 2000-sekian yang makin modern plus makin nakutin huhu

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s