[Vignette] PETAL SWORD

PETAL SWORD

PETAL SWORD

Scriptwriter: kutupandahitam (kutupandahitam.wordpress.com)

Main Cast: Kwon Jiyong (G-Dragon), Jung hyorin (OC)

Support Cast: Sandara Park

Genre: teen, romance, drama

Duration: Vignette (1500+ words)

Rating: PG-15

This story is all in Jung Hyorin’s POV

Summary

Aku sangat suka musim semi. Bunga cherry blosson yang bermekaran mengingatkanku padamu yang memiliki sifat lembut. Akankah cinta ini mampu menggapaimu? Atau haruskah aku ucapkan selamat tinggal kepada musim semi yang kusukai?

 

***

Aku menyukaimu, bagaikan angin musim semi yang berhembus, membawa wewangian kelopak bunga cherry blossom.  “Akankah kau melihatku?”, adalah pertanyaan retoris. Tidak perlu dijawab.

Aku tahu selama ini kau memperhatikanku. Bukan, ini bukan sekedar harapan. Ini adalah kenyataan.

Apakah kau mempelajari psikologi manusia? Dalam interaksi, jika seseorang memperhatikan lawan bicaranya, maka secara tidak sadar, kau akan meniru perilaku orang yang berbicara denganmu.

Kwon Jiyong. Dia teman sekelasku di SMA Hwamok. Teman yang baik dan perhatian. Dan aku menyukainya, lebih dari teman.  Entah sejak kapan. Mungkin sejak daun pohon ek bertebaran. Terbang berkeliaran diterpa angin.

Kuceritakan saat-saat kami bersama.

31 Oktober 2013.

Study tour ke Pulau Jeju.  Sayang sekali saat itu musim gugur.  Maka aku tak bisa melihat bunga kekuningan itu.  Tetapi, Kwon Jiyong, kau! Kau memberiku seikat bunga…

Ketika kami tiba di tepi pantai,  aku duduk di tikar kain bermotif kotak-kotak. Aku membawa beberapa kotak bekal makan siang. Kebetulan teman-temanku sedang berfoto dengan latar belakang samudra yang seakan tanpa batas. Aku menolak berfoto bersama. Aku hanya terduduk di tikar itu, mengambil sepucuk earphone dan mp3 player, lalu terbenam dalam lantunan suara halus penyanyi favoritku—K.Will—serta angin laut yang berhembus.

Aku duduk meringkuk, tiba-tiba Jiyong datang. Dengan seenaknya ia melepas earphone dari telinga kiriku. Ia berkata, “Mengapa kau hanya diam saja, padahal pemandangan sangat bagus?”

Aku terbelalak.

“Aku hanya malas saja.” Jawabku singkat. Sembari mengendalikan perasaanku, tentu saja.

“Yang benar saja. Jadi kau akan membuang sia-sia kesempatan liburanmu ke Pulau Jeju?”

Bukannya ingin membuang. Tetapi karena aku tidak tahu bagaimana aku menikmati liburanku jika… hatiku remuk karena pemuda di hadapanku? Dia itu playboy. Seluruh angin yang berhembus pun mendengarnya. Air yang mengalir pun jelas mengerti kelakuan pria itu.

Aku diam saja, tidak merespons perkataannya. Lalu ia duduk di tikar motif kotak-kotak yang kududuki sekarang. Ia seenaknya mengambil kimbapku. Ia memakannya sekali hap. Rakus sekali. Setelah itu, ia juga mengambil earphone dari sakunya, lalu menghubungkannya ke handphone. Dari sikapnya, aku tahu bahwa ia mendengarkan musik juga, sama sepertiku.

Aku sedikit penasaran dengan jenis musik apa yang ia dengarkan. Aku sesekali menatapnya, tetapi tetap berusaha untuk tidak ketahuan. Aku mendapatinya berada dalam posisi duduk yang sama denganku :  duduk meringkuk mencium kedua lututku. Setelah aku merasa kram, aku mengubah posisiku menjadi bersila. Beberapa detik kemudian,  Jiyong mengikuti posisi dudukku.

I smell something’s  fishy here.  Though it may be just a dust.

 

13 November 2013.

Ketika langit menumpahkan tangisnya. Aku berjalan hingga halte bus, tanpa payung.  Ketika menaiki bus, hanya ada satu bangku tersisa. Aku tahu kalian bisa membaca jalan ceritaku. Ya, Tersisa satu bangku kosong dalam bus itu, dan aku harus duduk di samping namja itu, Kwon Jiyong.  Aku tidak berbohong atau melebih-lebihkan ceritaku. It was really happened, like a dream that could disappear easily as the wind blows, tear away that beautiful dream.

Aku menggigil karena kehujanan. Seragamku basah oleh terpaan hujan. Jiyong—pemuda berwajah mulus dan senyum manisnya itu—ia melepas jasnya dan memberinya padaku. Tanpa mengatakan apapun, aku tahu maksudnya.

Jiyong, kau tahu? Dari luar kau sedikit seram. Apalagi saat kau memanjangkan rambutmu dan mengecatnya dengan warna merah. Kau tidak pernah tersenyum. Aku hanya melihatnya saat study tour ke Pulau Jeju, senyum yang benar-benar tulus. Saat itulah aku menyadari bahwa kau… bukan lelakiyang dingin. You’re actually kind-hearted and warm. Asumsiku itu terbukti saat ini. Dalam bus hijau yang melaju melewati Chungdam-dong, menembus rintik hujan tiada henti. Gomawoyo, Jiyong-ah.

Saat itu, pertanyaan-pertanyaan melintas di benakku, wae geuraeyo? Apa alasan di balik kebaikannya padaku? Mengapa ia begitu baik? Apakah ia baik pada semua orang? Atau karena ia perhatian padaku?

Astaga… pengharapanku kala itu sungguh egois.

22 Maret 2014.

Pergantian tahun ajaran. Angin musim semi mulai berhembus. Keberanian untuk mengungkapkan segalanya mulai merekah, seperti kuncup bunga cherry blossom yang siap mekar dari tidur panjangnya.

Kupikir aku benar-benar yakin bahwa Jiyong memperhatikanku—well, setidaknya itu asumsiku untuk menguatkan diriku—Karena itu aku berani membalas dan mengajaknya bertemu di lapangan basket melalui pesan singkat padanya.

22/03/2014, 22.43

From : Kwon Jiyong

Kau sudah tidur?

 

22/03/2014, 22.50

To : Kwon Jiyong

Belum. Aku hampir tidur sampai ponselku berbunyi

 

22/03/2014, 22.55

From : Kwon Jiyong

Aah, mian, apa aku mengganggu?

 

22/03/2014, 22.59

To : Kwon Jiyong

Aniya, Gwaenchana. Apa ada yang ingin kau bicarakan?

 

22/03/2014, 23.10

From : Kwon Jiyong

Tidak ada, lupakan saja. Selamat Tidur.

 

22/03/2014, 23.13

To ; Kwon Jiyong

Tunggu! Ada yang ingin kubicarakan.

22/03/2041, 23.15

From : Kwon Jiyong

Apa?

 

22/03/2014, 23.20

To : Kwon Jiyong

Jigeum anindegeunyang… Temui aku besok di lapangan basket.

Jam 3 sore.

 

Aku menunggu hingga tengah malam, tidak ada balasan. Did he sleep already? Haha, dasar kerbau!

23 Maret 2014.

Aku telah mempersiapkan diriku, Aku memakai bedak tipis, menyisir rambutku berulang kali. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju lapangan basket karena aku takut ia telah menunggu.

Ah, aku salah. Ternyata lapangan basket masih sepi. Karena aku tipe orang yang benci kesunyian, maka aku mengambil earphone dan mp3 playerku. Sembari menunggu kedatangannya.

Aku gembira setengah mati ketika mendengar langkah kaki yang tak asing bagiku. Ia benar-benar datang! Tetapi… dia tidak sendirian. Ia datang bersama Sandara Park. Aku bersembunyi di balik sekeranjang penuh bola basket. Mereka seperti membicarakan sesuatu. Aku menekan tombol ‘stop’ pada mp3 playerku, mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu.

“Jiyong-ah, ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Apa? Katakan saja.” Wajah Jiyong terlihat datar, tanpa reaksi.

“Aku… menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”

DHEG!

Dara, kau! Bagaimana kau bisa senekat itu?

Wajah Dara memerah. Sedangkan Jiyong, aku masih tidak bisa membaca pikirannya. Apakah ia bahagia, atau sedang mempertimbangkan seuatu, jal moreugesseoyo. Yang aku tunggu adalah jawabannya. Astaga… hatiku penuh harap, semoga Jiyong menolaknya… atau paling tidak ia butuh waktu untuk mempertimbangkannya.

“Baiklah.”

Apa? Apa katanya? Seolma…?

“Aku… mau menjadi pacarmu. Sejak awal kita menjadi teman sekelas, kupikir kau wanita yang unik. Kau berbeda dari yang lain, juga berani. Kau juga… sangat cantik. Mana mungkin aku menolak ajakan gadis secantik kau?”

Wajah merah Sandara kini menjadi berseri-seri, bagai matahari pagi yang terbit dari timur. Jiyong tersenyum ramah pada gadis itu. Meski senyum itu bukan senyum tulusnya yang kulihat di Pulau Jeju, aku tetap merasa sesak.

Jadi seperti ini rasanya. Dunia seakan runtuh menimpamu. Kau mulai sulit bernapas. Jantungmu seperti tertusuk ribuam anak panah.

 

Apa? Kenapa? Kenapa rasanya sakit seperti ini? Sakit… di sini, di hatiku…

Tanpa sengaja, aku menimbulkan suara berisik. Dasar ceroboh! Aku dengan cepat berkamuflase. Aku mengambil bola basket yang ada di dekatku. Aku meraihnya. Aku melepas earphone yang melekat di telingaku. Lalu aku menyapa keduanya, Kwon Jiyong dan pacar barunya, Sandara Park.

“Eh, annyeong.. Jiyong-ah, Dara-yah.”

“Jangan-jangan… kau mendengar percakapan kami?” tanya Dara dengan tampang sok ragu dengan nada setengah menyindir.

“Aah, ne. Mian, Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian.” Kataku gugup. Mau bagaimana lagi? Aku tidak pintar berakting. Lagipula dalam keadaan begini, bagaimana bisa aku tenang? “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku tidak mau mengganggu kalian lebih jauh. Kalian, feel free to talk each other.” Aku ingin segera lari dari tempat ini. Aku seperti kehabisan oksigen, sulit bernapas…

“Tunggu!” Jiyong mencegah kepergianku. Ada apa? lagi-lagi aku berharap. Semoga ia menjelaskan padaku bahwa semua ini bohong. Bahwa yang terjadi barusan adalah salah paham belaka. Tetapi, imajinasiku itu sia-sia.

“Kau kan yang memintaku bertemu di sini jam 3? Kau bilang ada yang ingin kau bicarakan?”

Ternyata ia membaca pesanku. Tetapin aku menggeleng dan berusaha tersenyum, “Dwaesseo. Itu tidak penting sekarang. Kalau begitu, aku duluan!” Aku mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Kepada Dara… juga Jiyong. Aku harus membuang harapanku jauh-jauh.

Aku menekan tombol “play” pada mp3 player-ku. Aku ingin menjadi egois lagi. Aku berlari sejauh mungkin, berlalu sambil terlarut dalam alunan musik, dan hilang bersama angin.

Han yeojaga geudaereul saranghammida.

Geu yeojaga yolshimi saranghammida.

Maeil geurimjacheoreom geudaereul ttaradarimyeo

Geu yeojaneun useumyeo ulgo isseoyo

(Seorang wanita mencintaimu.

Wanita itu mencintaimu sepenuh hati.

Dia mengikutimu seperti bayangan setiap hari.

Dia tersenyum, tetapi dia sebenarnya menangis)

[Baek Ji Young – That Woman ~ Secret Garden OST]

Aku sangat, sangat menyukaimu. Kupikir kau merasakan hal yang sama. Kupikir kita akan bahagia bersama.

Ternyata aku salah. Lalu apa artinya kepedulianmu selama ini? Kau bahkan selalu bertanya padaku, “kau sudah tidur?”, “kau sudah makan?”, “kau tidak apa-apa?”, “apa kau sakit?”

Bentuk kepedulian terhadap teman macam apa itu? Kau seharusnya mengerti diriku lebih dalam. Kau seharusnya mengerti. Kupikir kau menyukaiku, lebih besar dari rasa sukaku padamu. Melihat bagaimana dirimu memperhatikanku sebesar itu.

Aku salah menafsirkan kepedulianmu. Aku ini bodoh. Aku terlalu banyak berharap. Aku… I like you secretly, and with this loneliness, I will get hurt alone, too.

Kau tahu? If you hope too much, you will get hurt if you don’t deserve it.

Hari itu, hari pertama angin musim semi berhembus, dengan membawa wangi bunga cherry blossom, untuk pertama kalinya aku tidak bahagia. Untuk pertama kalinya… musim semi yang biasanya kusambut hangat, kini aku masih merasakan bekunya angin musim dingin. Aku seolah merasakan… kelopak bunga cherry blossom menyayat hatiku.

Tidak kusangka, kelopak bunga cherry blossom yang lembut itu, memiliki wujud lain sebagai mata pisau… tajam dan menyakitkan. Sekali tebas saja, hatimu dapat hancur berkeping-keping.

Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal pada musim semi yang kusukai?

***

 

2 thoughts on “[Vignette] PETAL SWORD”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s