[Vignette] Say Goodbye

Say Goodbye

Say Goodbye

| Lee Uchida | Sandara Park, Kwon Jiyong | other member Big Bang | Hurt |

Disclaimer: Daragon comeback. Chukkaeyo ^^ Mian typo bertebaran.

♫SAY^GOOD^BYE♫

“Kau pernah dengar cerita tentang seorang putri raja yang ditinggal pergi pangeran demi negaranya?”

“Aniyo. Aku baru saja dengar darimu.”

“Mau tahu ceritanya?” aku mengangguk.

“Saat itu, kondisi negara sedang hancur, karena energi negara tidak cukup akhirnya pangeran sendiri yang menghadapinya. Sang pangeran berjanji pada sang putri untuk melamar sang putri ketika selesai berperang. Tapi sudah 5 tahun perang belum berakhir dan tidak ada kabar tentangnya. Menurutmu apa yang terjadi dengan sang pangeran?”

“Dia mati saat perang?”

“Ada dua kemungkinan. Dia ditangkap oleh tawanan, atau terbunuh. Tapi sang putri tidak pernah mendapat kabar, dan tidak mau mencoba mencari tahu. Akhirnya 10 tahun berakhir. Sang putri sudah 20 kali ingin dipinang oleh pangeran-pangeran lain yang datang dan jatuh cinta dengannya, tapi sang putri tetap bersikukuh mempertahankan sang pangeran tadi.”

“Lalu, apa kesimpulannya?”

“Sang putri teguh dalam pendiriannya untuk menjaga amanah dari sang pangeran, tapi bagaimana jika sang pangeran dikabarkan terbunuh resmi dalam perang itu? Menurutmu, apa sang putri akan menyesal karena menolak puluhan orang yang ingin meminangnya, atau dia tidak akan menikah selamanya?”

“Aku punya dua jawaban. Ada kemungkinan bahwa sang putri tidak akan menikah, dan adakalanya sang putri harus menikah demi melanjutkan tahtanya. Tapi aku berpihak pada tidak akan menikah.”

“Kenapa?” alis namja di depanku naik sebelah.

“Karena, kalau semisal sang putri menikah, lalu tiba-tiba sang pangeran datang, apa itu tidak akan melukai hati sang pangeran? Bukankah berarti sang putri seorang pengkhianat?”

Namja di depanku tersenyum senang mendengar jawabanku. “Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Aku suka caramu berpikir. Kau berpikir diantara keduanya.”

“Tentu saja.” Senyumku. “Tapi, kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”

“Tidak apa-apa. Berarti jika kau berpendapat demikian, bagaimana jika hal itu terjadi pada dirimu sendiri?”

Senyumku memudar. Wajahku menjadi sedikit pucat dan berkeringat dingin akhirnya.

“Apa maksudmu berkata demikian? Apa kau akan pergi?”

Namja di depanku mengangguk mantap. Matanya juga tiada kilat kebohongan di sana.

“Ji, kenapa …”

“Mianhae. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya bicara sebelum aku menemukan sebuah prosa itu.”

“Apa itu artinya kau juga akan berperang?”

“Iya. Aku akan berperang dengan orang-orang bersenjata kuat, dan jumlahnya lebih banyak dariku.”

“Apa mereka tentara Korea Utara?”

“Aku tidak yakin.” Jiyong memegang pundakku.

“Kau, jaga dirimu baik-baik ne? Ketika aku bisa kembali, kita akan menikah. Tapi jika aku tidak kembali, kau punya jawabannya bukan?”

“Andwae!!!” aku berdiri dan menangis begitu saja.

“Dara,” panggilnya lembut. “Dara, dengarkan aku. Bukankah kau tadi menjawab seperti itu? Jadi kau punya jawaban yang perlu kau lakukan.”

“Andwae Ji, kau tidak boleh pergi. Kau harus ada di sisiku selamanya Ji.” Aku memegang erat tangan kanannya. Senyum getir tersungging di bibir pucatnya. Ji, kenapa kau tiba-tiba pucat?

“Dara, aku harus pergi. Lain kali kita bertemu ne? Annyeong…”

“Ji, kajima!! Ji kajima!!”

Aku menangis tersungkur di tanah, namun kekasihku Jiyong tidak pernah menoleh untuk membantuku berdiri. “Ji, sebenarnya kau mau kemana? Kenapa kau tidak terus terang saja?” teriakku.

“Ji!!!” panggilku lebih kasar lagi. Tak pernah terpengaruh juga.

Jiyong tetap teguh pada pendiriannya untuk tetap jalan tanpa menoleh kebelakang melihatku. Jika Jiyong menoleh, berarti dia membiarkanku menangis meratapinya.

Langkah pincangnya terus ia langkahkan demi mencapai sebuah tujuan pahit dan getir. Jiyong berhenti menatap langit. “Sore ini, langit terakhir yang kulihat sebelum aku berperang. Sore ini juga, tempat terakhir yang kukunjungi. Aku merasa berat meninggalkan ini semua.”

Jiyong menoleh ke samping. Terdapat kursi kayu panjang dimana aku dan dia pernah duduk bersama bercanda tawa. “Kursi itu, kursi terakhirku dengan Dara saat kami bercengkrama mesra jauh sebelum aku tahu aku akan pergi.”

Jiyong melanjutkan jalan pincangnya. Dibelakang, aku mengikuti langkah perginya. Dengan derai air mata yang tak kuasa kubendung, aku mengekori kekasihku. “Ji, kau mau kemana?” lirihku.

Jiyong terduduk lemas di depan pemakaman Ayah dan Ibunya. Jiyong mengusap lembut nama di atas batu pemakaman. “Appa, aku akan menyusulmu. Tunggu aku di jembatan surga ne?”

“Eomma, bisakah kau berikan aku minuman yang ingin aku minum nanti? Aku akan menemuimu di dapur rumah kita.”

Aku menutup mulut dengan tangan kananku. Masih dengan air mata berderai. Aku tidak percaya. Jiyong akan pergi berperang melawan banyak musuh, itu artinya Jiyong mengidap penyakit kronis?

Tuhan… kenapa aku tidak tahu tentang hal ini?

Aku bersembunyi dibalik pohon dimana aku sekarang. Kini, aku tahu kenapa Jiyong selalu beralasan macam-macam akhir-akhir ini.

♫SAY^GOOD^BYE♫

Jiyong terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Di samping kirinya ada Seunghyun yang tertidur dengan duduk. Seberangnya, Seungri dan Yongbae yang terlelap di sofa.

“Teman-teman, terima kasih sudah menjagaku hingga akhir. Kalian memang teman yang baik.” Jiyong tersenyum getir.

Daesung menggeser pintu kamar Jiyong. Mendapati Jiyong yang tersenyum padanya, Daesung membangunkan yang lainnya.

“Apa rasa pusingmu masih?” Jiyong mengangguk.

“kenapa pucat di wajahnya tak kunjung hilang? Apa dia sedang merasa kesakitan?” batin Yongbae.

“Jiyong-ah, apa kau makan? Ingin makan apa?”

“Aniyo, aku tidak mau makan apapun. Malam ini aku operasi.”

“Kami berdoa kau selamat dari operasinya.” Ujar Seungri.

“Gomawo Seungri-ah.”

“Kwon Jiyong, operasi 1 jam lagi. Mari kami antar ke ruang operasi.”

“Ne.”

“Chingudeul, maafkan aku jika aku banyak salah.”

“Jiyong-ah, ini bukan waktunya untuk minta maaf.” senyum Seunghyun.

“Arraseo. Temui aku ketika aku sadar.”

Jiyong di dorong oleh perawat menuju ke ruang operasi. “Chingedeul, saranghae.”

Kalimat terakhir sebelum dia pergi selamanya. Keempat temannya merasa kehilangan teman berharganya.

“Yoboseyo??”

“Seungri, apa kau bersama Jiyong?” tanyaku memastikan.

“Ah, ye. Kami sedang bersamanya.” Yongbae menatap tajam Seungri.

“Boleh aku bicara dengannya sebentar? Ponselnya sedang tidak aktif.”

“Ah, mian. Tapi Jiyong sedang tidak mau diganggu.”

“Wae? Sejak kapan dia menjadi sibuk?”

“Entahlah …”

Ponsel Seungri direbut Yongbae kasar. “Wae?”

“Dia tidak boleh tahu sekarang.” Seungri terdiam.

“Hyung, ige.” Seungri menyodorkan kertas beramplop putih.

“Mwo?”

“Pesan untukmu dari jiyong.” Yongbae menatap ragu.

Keempat teman Jiyong berkumpul di ruang tunggu membaca surat tersebut.

Chingudeul, mianhae jika aku mempunyai banyak salah dengan kalian. Aku tahu ini bukan waktunya minta maaf, tapi sebelum aku pergi, aku harus minta maaf pada kalian. Usai operasi ini, aku tidak akan selamat. Aku tahu hal ini karena penyakitku sudah sangat parah.

Kalian pasti terkejut ketika mendapati aku telah terbaring, terkulai lemas di kamar jenazah, tapi aku akan membari tahu kalian lebih awal. Daripada nanti kalian menangis menyesal.

Oh ya, ini aku titipkan satu surat lagi untuk Dara. Katakan padanya jika aku tidak kembali, dan tolong tepati janjinya. Annyeong chingudeul.

Salam, Kwon Jiyong

“Mwoya? Apa dia sudah tahu akan mati?”

“Hyung!”

“Mian.”

“Siapa yang akan memberikan ini pada Dara?” tawar Yongbae.

“Aku saja. Aku cukup dekat dengan Dara.” Usul Daesung.

♫SAY^GOOD^BYE♫

Aku tertegun melihat amplop pink yang diberikan Daesung padaku. Aku tidak percaya apa yang aku alami ini. “Dara, dikalimat terakhir Jiyong dalam surat yang kami terima, Jiyong menyuruhmu untuk menepati janjimu. Aku tidak tahu janji apa, tapi tepatilah.”

“Apa penyakit Jiyong separah itu?”

“Begitulah. Jiyong menjadi pendiam akhir-akhir ini. Sering tertutup juga.”

Aku menggenggam erat surat pemberian Jiyong. “Gomawo Daesung-ah.”

Aku membuka pelan-pelan penuh perasaan. Membaca bait demi bait kata di dalamnya. Terkadang aku tersenyum dan tertawa membacanya, namun akhirnya aku harus menumpahkan air mata juga.

“Uljima, kalau kau tahu ini akan terjadi, seharusnya kau sudah kuat lebih dulu.” Daesung memelukku.

“Jiyong bukanlah orang yang mudah untuk ditebak. Aku selalu saja terperangkap dalam jebakannya hingga sekarang, hingga dia sebenarnya telah sekarat, akupun terjebak juga. Aku merasa kekasih tidak berguna yang akan menjadi perawan tua seumur hidupku.”

“Ya! Hentikan omong kosongmu itu! Apa kau mengucapkan janji semacam itu?”

“Sebenarnya tidak, itu hanya jawaban tebakkan dari sebuah dongeng.” Daesung mengelus punggungku.

Pemakaman Jiyong dilangsungkan hari ini juga. Keempat temannya tidak bisa menangis. Rasanya aneh jika menangis sekarang. Mereka hanya saling menatap kosong satu sama lain.

Kantung mata mereka terlihat. Mereka memang tidak menangis, tapi juga tidak bisa tidur. Mereka kehilangan teman humornya. Kwon Jiyong.

Aku duduk di depan makam Jiyong dengan wajah yang memerah. Aku mencoba menahan amarah dan tangis yang menyeruak. Aku mencoba tegar menerima semua ini, tapi kenapa rasanya sangat sulit?

“Ji, semoga kau bahagia di sana. Aku akan selalu berdoa dan mampir kemari jika ada waktu. Ji, mianhae jika suatu saat nanti aku menikah dengan laki-laki lain, kumohon kau jangan bersedih.” Aku mengusap kasar air mata yang berhasil turun.

“Na arraseo, aku memang pengkhianat Ji, tapi aku juga ingin menikah… Kau adalah kekasih terindahku Ji, mianata.”

Aku berdiri dengan bantuan Seunghyun. Kami berjalan meninggalkan pemakaman.

“Ada satu surat lagi yang secara pribadi dititipkan Jiyong padaku.” Yongbae menyodorkan amplop putih. Aku menatapnya lama.

Kubuka perlahan amplop itu. Sedikit terbelit-belit karena terlalu panjang kertasnya.

Dara, ketika kau menerima surat ini, pasti aku sudah jauh tiada di sisimu. Tapi jiwaku masih menyertaimu. Dara, kau adalah kekasih terakhir yang kupunya. Aku mohon, kau jangan pernah menganggap aku ada atau pernah mengenalku ketika kau menikah kelak. Aku tidak ingin menjadi alasanmu saat menikah nanti.

Aku tahu, cerita waktu itu tidaklah benar. Kau harus tetap menikah ne? Jangan karena aku kau harus menjadi perawan tua selamanya. Aku menitipkanmu pada Yongbae. Yongbae pasti bisa menjagamu hingga kelak.

Goodbye Dara, Saranghae

♫SAY^GOOD^BYE♫

 

3 thoughts on “[Vignette] Say Goodbye”

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s