[Ficlet] Hungry

hungry

Hungry

Scriptwriter: Tari Noviana

Main Cast: Jung Eunji (Apink), Kim Donghyun (Boyfriend)

Duration: Ficlet

Genre: Friendship, Life

Rating: T

Diantara hujan dan rasa lapar, kau datang dengan seulas senyum hangat yang tak terlihat.

***

         Eunji termenung di depan jendela kamarnya. Matanya menerawang langit yang dipenuhi awan kelabu pekat. Terlihat berat dan gelap. Memupuskan keinginan untuk berpergian keluar rumah.

         “Sepertinya akan hujan.” Eunji bergumam lirih.

         Kruyukkkkkkk.

         Perutnya yang belum terisi makanan sejak pagi berbunyi keras. Ia berbalik ke arah jam dinding. Sudah  pukul satu. Pantaslah bila lambungnya mengamuk sekarang. Sekali lagi Eunji berbalik menatap langit. Gerimis mulai turun. Membuat hawa dingin mulai menguar disekitar. Dengan malas, Eunji menutup jendela kaca yang terbuka lebar. Helaan napas panjangnya terdengar ketika ia beralih ke tempat tidur.

         Eunji sebenarnya ingin sekali pergi keluar rumah dan membeli tteokbokki kesukaannya di warung seberang jalan. Tapi melihat hujan yang turun semakin deras, membuatnya tak ingin beranjak sesenti pun dari tempat tidur. Eunji tak suka jika harus berjalan memakai payung dan merasakan dinginnya hawa hujan.

         “Lebih baik aku tidur lagi saja.”

         Eunji menarik selimut kesayangannya. Selimut tebal berwarna putih yang tadi terlempar dari tempat tidur, kini telah sukses menutupi seluruh tubuh gadis berumur enam belas tahun itu.

         Hangat. Eunji mencoba menutup matanya. Berharap ia bisa segera tertidur pulas.

         Kruyukkkkkkk.

         Perutnya berkoar lagi. Kali ini terdengar lebih keras daripada sebelumnya. Eunji berusaha tak mempedulikannya.

         Kruyukkkkkkk.

         Gadis berambut coklat itu tetap tak beranjak meski perutnya terus mengoar bersuara. Ia malah semakin merapatkan selimutnya.

         Kruyukkkkkk.

         Eunji mengalah. Ia membuka matanya. Otaknya segera berpikir cara untuk tetap dapat menikmati tteokbokki tanpa keluar rumah.  Sepuluh menit berlalu. Sebuah ide melintas di kepalanya. Segera ia meraih telepon genggam yang tergeletak di bawah bantal. Jari jemarinya kemudian sibuk meneliti daftar kontak satu persatu. Seulas senyum langsung terukir di wajahnya ketika nama yang ia cari terlihat. Segera saja ia mengetuk tombol panggil. Sebuah nada tunggu terdengar. Tak sampai sepuluh detik, panggilannya  pun dijawab.

         “KIM DONGHYUN, kenapa lama sekali kau mengangkat telfon ku?”

         Eunji langsung berteriak kencang begitu terdengar kata ‘hallo’ dari seberang.

       “Aish, lama apanya ? Aku kan langsung mengangkatnya begitu kau menelpon. Dasar kau ini !”

         Pemilik suara di seberang ikut berteriak membalas Eunji.

         “Ya sudah, terserah. Kau sedang di mana sekarang ?”

         “Eh, aku lagi di rumah. Kenapa ?”

         “Emm, aku lapar. Bisa tidak kau belikan aku tteokbokki di warung depan rumahku ? Kau kan tahu aku tidak suka hujan. Nanti kalau aku sakit karena kehujanan bagaimana ? Jadi, tolong belikan aku dua porsi tteokbokki ya ? Kau kan sahabatku yang paliiiiiiing baik,” pinta Eunji dengan suara yang dibuat seimut mungkin.

         Terdengar helaan napas panjang dari seberang.

         “Dengar ya JUNG EUNJI, rumahku  jaraknya tiga kilometer dari warung tteokbokki itu. Sedangkan rumahmu dengan warung tteokbokki itu dekat sekali letaknya. Hanya dipisahkan oleh jalan raya. Jadi kenapa tidak kau saja yang keluar sendiri ?” Donghyun berkata dengan nada yang ditekan.

         Eunji mendengus keras.

         “Kalau tidak mau, ya sudah. Jangan pernah datang kerumahku lagi.”

         Gadis itu berpura-pura kesal dan memutuskan panggilan.

         Satu, dua, tiga, empat, lima, enam… Eunji menghitung dalam hati.

         Belum sampai hitungan ke sepuluh, handphonenya bergetar. Nama Kim Donghyun tertulis di layar. Dengan wajah cerah Eunji menjawab panggilannya.

         “Baiklah akan ku belikan. Tadi kau minta berapa porsi ?” suara Donghyun terdengar dari seberang.

         “Hehehe, terimakasih ya sahabatku. Dua porsi. Kalau kau mau menambahkan, juga boleh.”

         “Kau ini, kalau ada maunya baru bilang aku sahabatmu. Tunggu sebentar. Nanti kalau sudah ku beli, kau ku beritahu.” Kemudian  telepon diputus.

          Kini wajah Eunji terlihat begitu senang. Sebentar lagi ia akan bisa menikmati tteokbokki favoritnya.

         Tiga puluh menit berlalu. Handphone Eunji kembali bergetar. Sebuah pesan singkat. Dengan tak sabar, Eunji segera membuka pesannya. Sedetik kemudian matanya berbinar. Donghyun sudah berada di depan pintu rumahnya. Eunji pun bergegas ke ruang depan dan membukakan pintu untuk Donghyun.

         Pletak! Pletak!

         Dua jitakan mendarat dengan sukses di kepala Eunji begitu pintu terbuka.

         “Donghyuuuuuuun! Kau gila ya?! Kenapa kau menjitak kepalaku ?!”

         “Kau yang gila. Sudah tahu hujan lebat begini, masih saja tega menyuruhku membelikannmu makanan.”

         Donghyun lalu melepas sepatunya dan beranjak ke dalam. Diam-diam ia tersenyum penuh kemenangan.

         Balas dendamku berhasil. Yes! Donghyun bersorak dalam hati.

         Eunji mengikutinya sambil bersungut-sungut. Mereka lalu duduk di ruang makan. Eunji mengambil sumpit kayu dan segera memasukkan sepotong kue beras pedas itu  ke dalam mulutnya.

         “Di mana ibu dan ayahmu ?” Donghyun bertanya sambil menuangkan air ke gelas.

         “Mereka pergi ke rumah nenek tadi malam. Mungkin besok siang baru pulang.” Eunji menjawab tak peduli. Perhatiannya terpusat pada makanan yang sedang ia nikmati.

         “Seharusnya kau belajar memasak. Supaya tidak kelaparan lagi seperti tadi.” Donghyun membetulkan posisi duduknya. Tangannya meraih sumpit kayu yang tergeletak di meja lalu ikut menyantap tteokbokki bersama Eunji.

         “Kau kan tahu, aku tidak suka memasak. Kalau aku kelaparan lagi, aku akan menelfonmu dan memintamu membelikanku makanan. Eh, kau tadi membeli tiga porsi ?”

         Eunjimenghentikan kegiatan mengunyahnya dan  meneliti bungkusan tteokbokki di hadapannya.

         “Iya. Aku yakin kalau ku beli dua porsi, kau tak akan membaginya denganku. Makanya aku beli satu porsi lagi. Kau berhutang kepadaku dua porsi tteokbokki. Besok di sekolah, kau harus mentraktirku.” Lelaki berkulit putih pucat itu mengacungkan sumpitnya di depan wajah Eunji. Refleks, Eunji menarik tubuhnya sedikit ke belakang.

         “Dasar perhitungan. Tapi baiklah. Karena aku ini baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong, besok kau akan ku traktir. Ku traktir dua gelas air putih di kantin sekolah. Hehehe.” Eunji tertawa keras melihat ekspresi kesal di wajah sahabatnya itu, saat mendengar kalimat terakhirnya.

          Setelah itu tak ada percakapan lagi. Sepasang sahabat itu mengunyah makanannya tanpa berkata apapun. Diam-diam Eunji melirik pemuda berambut hitam di depannya. Dalam hati, Eunji merasa bahagia sekali mempunyai sahabat seperti Donghyun. Kedua ujung bibir Eunji terangkat. Membentuk seulas senyum tipis. Ia lalu kembali menekuri tteokbokkinya yang masih tersisa.

Yogyakarta, 9 Februari 2016

Iklan

4 thoughts on “[Ficlet] Hungry”

  1. ah bahagia atau bahagiaaa~~~ wkwkwk
    sialan banget… ujan ujan emang enak banget makan yg anget atau pedes apalagi dibawain macem jadi Eunji gitu laaah hahhha

    antara manis dan lucuk ini ceritanya hihihihi^^

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s