DESTINY (2/5)

picsart_04-27-09-20-48

DESTINY
dilaribear

Starring TWICE and GOT7
Genre family;school-life;friendship;slightromance • Rating pg-13 • Duration Chaptered

Kau takdirku, aku tak pernah bisa meninggalkanmu
Kau duniaku, pusat hari-hariku

Chapter 1

.

“Pasti Jinyoung Oppa cuman pura-pura!”

Orang tua Chaeyoung dan Jinyoung sedang lembur kerja dan akan kembali pulang dua hari lagi. Bukan hal yang asing lagi bagi mereka berdua yang selalu punya cara untuk mengisi hari tanpa kedua orang tuanya, bersama. Tak ubah malam yang penuh bintang ini, Jinyoung dan Chaeyoung duduk di teras belakang rumah sambil menikmati puding moka buatan Ibu yang hampir busuk didalam kulkas.

“Apa maksudmu? Satu-satunya gadis yang tidak kubenci adalah kamu, Chae,” bantah Jinyoung pada Chaeyoung.

Gadis itu menelan sesuap pudingnya sebelum bertanya, “Jadi kamu juga benci Ibu?”

“Hei, kita ini bicara soal ‘gadis’, dan kamu juga tahu Ibu bukanlah seorang gadis lagi.”

Chaeyoung tertawa lepas, antara merasa bersalah karena mengategorikan Ibunya sebagai ‘gadis’ atau karena sudah lama ingin tertawa lepas seperti ini. “Baiklah, jadi, kalian bertujuh benar-benar tidak suka dengan gadis?” Ia memastikan.

Jinyoung mengangguk-angguk, “Dan jangan terkejut, karena hanya teman-temanku yang tahu bahwa kamu ini adikku.” Ucapnya.

“Teman-teman? Berarti teman-temanku juga boleh tahu kalau aku ini adikmu, atau kamu ini kakakku!”

“Hei, anggota Flower Boys adalah satu-satunya temanku. Karena semua laki-laki di sekolah membenci kami bertujuh.” Jelas Jinyoung sebelum perjanjiannya dengan Chaeyoung hancur.

Chaeyoung tersenyum miring, “Dan temanku cuman Dahyun. Berarti, boleh kan?”

“Tetap saja tidak, Chae. Semua gadis di dunia ini punya mulut yang tidak bisa menjaga rahasia. Tapi, aku memercayaimu.”

Merasa kesal, Chaeyoung pun mencibir, “Kenapa percaya pada gadis yang tidak bisa menjaga rahasia dan tidak memercayai gadis yang tidak peduli rahasia seperti Dahyun?” Gemas, Jinyoung tertawa sembari mengacak rambut Chaeyoung.

“Ini juga demi keselamatanmu selama di sekolah, Chae. Baru kejadian ringan seperti tadi saja membuat mereka mengancammu, apalagi kalau tahu kamu ini adikku. Ya, kan?”

.

“Rapat selesai, sekarang kalian bisa mulai mempersiapkan bazar. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin untuk bekerja sama satu sama lain. Berapa hari lagi bazar dimulai?”

“Satu minggu lagi, Ssaem!” Jawab siswa seisi kelas Chaeyoung.

Seorang guru Geografi yang memiliki aura energi yang selalu membuat murid-muridnya bersemangat itupun pamit dan angkat kaki dari kelas tersebut. Seiring dengan hal tersebut, Jihyo sebagai ketua kelas langsung menjadi moderator rapat kecil. Mereka membagi anggota kelas menjadi beberapa kelompok yang akan mengerjakan persiapan-persiapan bazar.

“Yang rumahnya paling dekat sama sekolah saja, dong.” Usul Mina. Lantas Chaeyoung langsung mengangkat tangannya, tanpa pikir panjang. “Oke, nanti pulang sekolah kita kerumah Chaeyoung, sanggup?” anggota kelompok yang diketuai Mina menyetujuinya.

Chaeyoung tersenyum puas lantaran berhasil menghangatkan hubungannya dengan teman-teman sekelasnya karena sebagian besar dari teman sekelasnya termasuk ekor-ekor Nayeon yang kemarin nyaris memusnahkan Chaeyoung. “Chae jangan lupa siapkan cemilan, ya!” gurau Dahyun.

“Ah, tenang saja. Hari ini orang tuaku lembur, jadi di rumahku sangat sep-“ Chaeyoung memotong kalimatnya lantaran tak sengaja melihat Flower Boys berjalan melewati lorong kelasnya. “Astaga, aku melupakan sesuatu…”

.

Chaeyoung berlari sekuat tenaga, mengejar Jinyoung yang sudah berjalan lima menit di depan Chaeyoung. “Oppa!” teriak Chaeyoung yang mulai lelah berlari. Saat sudah satu menit jarak mereka, baru Chaeyoung sadari bahwa kedua telinga Jinyoung tersumpal earphone hitam. Merasa kesal, Chaeyoung pun melepas tasnya dan melemparkannya hingga mengenai kepala Jinyoung.

Jinyoung membalik badan, “Chae?” ia dapati Chaeyoung yang terduduk di pinggir jalan sedang mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia lepas kedua earphone-nya sembari berjalan menghampiri Chaeyoung. “Apa yang kamu lakukan disini?” tanyanya.

“Gendong…”

“Ha?”

“Ini salah Oppa! Kenapa sih pakai earphone segala! Padahal kan aku mau menyusul Oppa, sudah aku panggil-panggil daritadi. Tega ya, bikin Chaeyoung lari-lari sambil teriak-teriak!”

Alih-alih merasa bersalah, gelak tawalah yang menyambut amarah Chaeyoung. “Terus gara-gara earphone kamu minta digendong, gitu?” tanyanya, Chaeyoung mengangguk mantap. “Astaga, kamu ini seperti tidak pernah berjalan dibelakangku saja. Sini!” Jinyoung berjongkok membelakangi Chaeyoung.

Chaeyoung langsung memeluk leher Jinyoung dan menekuk lututnya, kemudian Jinyoung berdiri dan mulai berjalan. “Oppa, ambilkan tasku…” lirih Chaeyoung saat Jinyoung tiba di tempat dia berdiri tadi dimana tas Chaeyoung berada. Jinyoung mengambil tas ransel merah tersebut lalu memberikannya pada Chaeyoung.

“Memangnya ada apa, Chae, kok segitunya mau menyusulku?”

“Agak cepat, dong, Oppa!”

Jinyoung menghentikkan langkahnya. “Tidak mau, beritahu dulu.”

Menghela napas, Chaeyoung pun memberitahu apa yang terjadi. “Teman-temanku akan kerja kelompok dirumah kita,”

“Kapan?”

Chaeyoung menengok ke belakang, samar ia lihat gerombolan teman-teman satu kelompoknya berjalan kearah yang sama. “Mereka sudah dalam perjalanan!” pekik Chaeyoung, lantas membuat Jinyoung terkejut dan mulai berjalan dengan tempo cepat.

“Pegangan, Chae!”

.

Matahari mulai tenggelam, sedangkan langit mulai menggelap bersamaan dengan kehadiran bulan dan beberapa bintang yang datang lebih awal. Semakin gelap, semakin canggung suasana yang ada dirumah Chaeyoung sekarang.

Dari awal, mereka semua sangat serius dalam mengerjakan persiapan bazar. Mulai dari membagi tugas untuk membeli bahan-bahan untuk perhiasan bazar, sampai menghabiskan puluhan pulsa hanya untuk menghubungi tukang sewa kain.

“Jadi, kapan lagi kita kerja kelompok untuk merangkai perhiasan-perhiasan?” tanya Tzuyu, satu-satunya anggota yang berkali-kali menguap karena bosan.

“Setiap hari sampai hari bazar, gimana?” usul Dahyun yang sedang menikmati kukis cokelat kacang yang disediakan oleh Chaeyoung. Sontak Mina dan Chaeyoung memekik dan menolak.

“Loh, Mina Unni kenapa menolak?” tanya Tzuyu.

“Hari ini aku bolos kursus balet, dan tidak mungkin untuk membolos lagi dan lagi…” jawab Mina yang gaya dinginnya sedikit mencair lantaran memikirkan nasibnya di dunia tari balet yang menjadi impiannya.

Chaeyoung menghela napas lalu sibuk  bermain handphone. “Kalau kamu, Chae?” tanya Dahyun. Chaeyoung tidak mendengarkan, jemarinya masih sibuk menari diatas keypad. “Chae?” panggil Dahyun.

Mina menepuk pundak Chaeyoung dua kali, membuatnya tersentak kaget dan menatap ketiga temannya satu-persatu. “Um, maaf, aku permisi sebentar, ya.” Ucap Chaeyoung sembari meletakkan handphone-nya dan pergi menuju dapur. Sedangkan teman-temannya keheranan, Chaeyoung sibuk menyiapkan makan.

“Untuk siapa, Chae?” tanya Dahyun ketika Chaeyoung selesai dengan membawa satu piring bibimbap hangat.

Chaeyoung berhenti melangkah dan bergumam panjang sebelum menjawab, “Ini… untuk… untuk hewan peliharaanku!”

“Anjing?”

“Kucing?”

“Kura-kura?” Dahyun dan Tzuyu menatap Mina. “Ya… habisnya daritadi tidak  bersuara, tuh.” Merasa dianggap aneh, Mina langsung membela dirinya sendiri.

Brak. Ketiga gadis tersebut langsung menoleh ke sumber suara. “Chaeyoung?” panggil Dahyun lagi, namun Chaeyoung menghilang tiba-tiba. Kling, Dahyun melirik layar handphone Chaeyoung yang tiba-tiba menyala.

“Ah, sudahlah. Mungkin hewan peliharaan Chaeyoung itu pemalu,” ucap Mina yang acuh tak acuh.

“Tapi, sejak kapan kura-kura makan bibimbap?”

.

Tet tet tet

Ketika tiga bel ini berbunyi, para penjaga kantin sudah siap dengan celemek dan sendok kayu di tangan kanan mereka semua. Tidak ada lima menit, kantin sudah penuh dengan para siswa yang tak ingin kehabisan jatah makan siang hari ini. Apalagi hari ini adalah giliran jjajangmyeon sebagai menu utamanya.

“Chae!”

Belum sempat menoleh, tangan Chaeyoung ditarik kedalam barisan antrian. “Dahyun, aku harus mengantri dibelakang.” Bisik Chaeyoung pada Dahyun yang memaksanya mengantri didepannya.

“Hei, murid baru, antri sana!” sentak Momo yang mengantri dibelakang Dahyun.

“Tapi aku mau bicara sesuatu, Chae!” paksa Dahyun. Chaeyoung menggeleng, lalu menunjuk sebuah bangku kosong di sudut kantin untuk tempat mereka bertemu setelah mengambil makan siang. Pasrah, Dahyun pun melepaskan Chaeyoung untuk mengantri di belakang.

Mendadak Chaeyoung menghentikan langkahnya, ia menunduk lalu menginjak sebuah kaki yang dibalut sepatu sport yang mencoba untuk menjatuhkan Chaeyoung. “Aw!” rintih pemilik kaki tersebut. “Lihat saja kam—“

Dilihatnya Nayeon dan Sana baru memasuki kantin, membuat Jinyoung tutup mulut. Chaeyoung terkekeh lalu menjulurkan lidahnya pada Jinyoung, “Wlee!” ledeknya, kemudian berjalan kembali dan berdiri dibelakang Yugyeom, antrian terakhir.

“Oh, yang ini.” Didengarnya suara yang asing bagi Chaeyoung. Lantas ia menengok kebelakang, mendapati seorang senior yang satu kelas dengan Sana dan Nayeon juga—disusul Sana dan Nayeon dibelakangnya. Chaeyoung tersenyum sopan kepada gadis berambut cepak layaknya laki-laki tersebut. Sekilas Chaeyoung baca nametag gadis tersebut, “Namaku Jungyeon,”

“Iya, aku tahu, Sunbaenim.” Ucap Chaeyoung singkat.

“Terus kenapa melihatku terus, hm?”

Chaeyoung langsung memutar kepalanya kedepan lagi dan diam. “Silahkan,” ucap salah seorang penjaga kantin yang membuat Chaeyoung tersentak kaget—merasa terlalu cepat untuk tiba di tempat mengambil makan mengingat dia dibarisan terakhir.

Ia ambil piring kotak yang memiliki ruang-ruang. Nasi, Jjajangmyeon, dan sup sayur ayam ia tambahkan untuk mengisi ruang dalam piring tersebut. Tak lupa sumpit, Chaeyoung merasa lega karena ia sudah berada di stan terakhir. “Terima kasih!” ucap Chaeyoung sambil membungkukkan badannya dengan sopan, seperti halnya kebanyakan murid baik lainnya.

Brak, “Ah!” Chaeyoung terdorong dan refleks melemparkan piringnya dari tangannya, sedangkan dirinya terduduk di lantai dalam keadaan basah terkena kuah sup sayur ayam. Chaeyoung berusaha untuk berdiri, detik yang sama sebuah tangan terulur pada Chaeyoung.

“Hei, kamu apa-apaan, sih!” bentak beberapa gadis yang kemudian mengerumuninya.

Chaeyoung menerima uluran tangan tersebut lalu berdiri tegak. Sial, aku dapat masalah lagi, rintihnya kala mendapat tatapan hangat dari Yugyeom yang barusan mengulurkan tangannya untuk membantu Chaeyoung berdiri. “Maafkan aku, Yugyeom…” ucap Chaeyoung sembari membungkukkan badannya dengan dalam.

“Oh, dia yang kemarin mendorong Jinyoung Oppa, ya!” berbagai bisikan Chaeyoung dengar dalam posisi yang sama. “Kurang ajar sekali, sih.”, “Benar-benar cari masalah, ya!”, “Hei, bersihkan seragam Yugyeom Oppa sana!”, “Tidak punya mata, kali!”

“Hentikan!” teriak sebuah suara yang tak asing lagi bagi Chaeyoung. Pemilik suara tersebut berjalan menerobos kerumunan tersebut, lalu menarik bahu Chaeyoung dan menyuruhnya untuk berhenti membungkuk.

“A-aku tidak apa-apa, sungguh!” seru Yugyeom, membuat sebagian kerumunan bubar. Ia menunduk, memandangi seragamnya yang penuh noda kecap Jjajangmyeon dan sedikit basah terkena kuah sup sayur ayam. Yugyeom maju selangkah, “Chae, maaf, kamu jadi dapat—“

“Jangan sentuh Chaeyoung!” bentak gadis yang kini merangkul Chaeyoung, memastikan gadis berambut merah tersebut aman. “Kamu pikir semua gadis di sekolah ini akan tergila-gila padamu sampai melukai gadis lain yang tidak bersalah?”

“Na, aku tahu. Aku minta maaf, aku—“

“—Aku!” potong gadis itu. “Aku membenci kalian bertujuh, dengan cara yang sama seperti kalian membenci para gadis.”

-to be continue-

A/N: setelah 9 hari menghilang…. btw aku ucapkan minal aidzin wal faidzin kepada semuanya, IFK fams, para readers baik yang memiliki jejak maupun yang silent reader.

ini kelanjutannya cerita cute dari aku se cute penulisnya ‘-‘)/ [ENGGAK]. maaf nunggu lama dikarenakan liburan ini aku sok sibuk, wkwkwk. btw, kalian harus benar-benar memperhatikan ceritanya, karena ini semi-misteri/? gak juga sih, tapi ada hal-hal penting di tiap adegannya ^^

menurut kalian siapa sih yang mlindungi Chaeyoung tiba-tiba di ending? penasaran? tetap ikuti yaa~ (jujur aku gak pinter promosiin sesuatu jadi maklumin ya :’))

jangan lupa mampir di iambearain.wordpress.com

8 thoughts on “DESTINY (2/5)”

  1. Waaaah, chapter selanjutnya keluar:3

    Mina bener-bener lucu, apa maksudnya kura-kura makan bimbimbap. Ya kali:’)))

    Gak tahu kenapa aku ngerasa Dahyun udah tahu kalau chae sebenarnya adik jinyoung karena pas bagian antri makanan pengen ngomong gitu.

    Akhirnya gantung, bikin penasaran apalagi pas ada “Na.” Ini tuh bingung, apakah mina, sana, atau nayeon(?) Meskipun nayeon langsung di blacklist karena mengingat di chap 1 dia suka banget sama flower boys itu(?) Yang kepikiran cuman mina doang wkwk

    Disini belum melihat jackson masa/? Nunggu jackson wkwkwk

    Btw, aku suka banget sama ceritanya. Apalagi karakter chae yg manja dan jinyoung yg oppa-able wkwk.

    Ditunggu chap selanjutnya, ya!^^

    Suka

    1. Hai kak Tob, makasih udah nungguin chapter selanjutnya~

      Wkwk, biasanya kan hewan peliharaan manusia kan kalo gak anjing ya kucing, nah hewan peliharaan yg dibilang chaeyoung itu sama sekali gak bersuara, jadi mina asal aja ngomong kura-kura xD

      Ah kak tob kok bisa nyimpulin gitu sih? T_T padahal aku gak berniat apa-apa pas nulis adegan dahyun manggil chaeng pas antri makanan ‘-‘

      Tenang aja, semua member Got7 bakal muncul kok, kak heheh~

      Ditunggu ya kak~

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s