[Vignette] A Broken Cocoon

A Broken Cocoon

Title: A Broken Cocoon

Scriptwriter: RannisaHan

Main Cast: Yook Sungjae (BTOB), Han Raekha (OC)

Genre: AU, Sad, Angst, Tragedy, Life, Drama

Duration: Vignette

Rating: PG-15

 “Aku datang untukmu… Kau tak ingin memelukku?”

“Kau tak nyata… Aku tak akan datang padamu.”

“Kau tak pernah memilikiku… Tak akan pernah.”

“Ini memuakkan. Semuanya akan berakhir. Pasti.”

 

Menurutmu apa itu sebuah kehidupan? Kebahagiaan? Atau kesengsaraan? Sebuah tangisan ataukah senyuman bahagia? Sesuatu akan datang dan pergi silih berganti. Bukankah itu yang selama ini kau tunggu? Cut.

@@@

“Kau sungguh menjijikan. Menurutmu apa kau masih pantas berada disini?”

Pantas? Apa memang aku tak pernah benar-benar pantas untuk hidup?

“Kau sudah dikeluarkan. Pergilah. Ini bukanlah hidupmu.”

Ini bukan hidupmu? Lantas harus berada dimanakah aku sebenarnya?

Pergi??? Kemana?? Tempat seperti apakah yang harus kudatangi?

Seperti apakah sebuah kehidupan untukku?

Lantas kehidupan milik siapa yang saat ini kurenggut?

Haruskah kini aku berkata bahwa semua ini begitu tak adil?

Mengapa harus kehidupan ini yang merenggutku?

Rasa ini…

Bukankah sesuatu itu tak akan pernah dimiliki?

Ini semua hanyalah mimpi. Maya. Semuanya semu.

Kau tak pernah hidup.

@@@

“Apa yang kau lakukan??? Kemarikan pisau itu!! Han Raekha!!! Untuk apa kau membawa-bawa pisau itu?!! Cepat letakkan!!”

“Ini tak nyata!! Aku sudah mati!! Aku sudah mati!!! Pergi kalian semua!! Aku sudah mati!!”

“Bukankah sudah kubilang, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit jiwa. Dia itu sudah tak waras lagi!”

“Tutup mulutmu!!! Ayah macam apa kau ini??! Dia itu anakmu!! Kau tak seharusnya memperlakukannya seperti itu!!! Cepat bantu aku menenangkannya!! Jangan hanya berdiam diri saja disitu!”

“Aku ingin pergi keluar. Jangan menggangguku. Aku tak ingin berurusan dengan orang gila sepertinya!!!”

“Apa katamu??!! Disaat seperti ini bukannya menenangkannya kau malah berniat untuk pergi? Kau mau pergi kemana memangnya?? Menemui selingkuhanmu itu?? Ayah macam apa kau ini??!”

“Jangan berlagak suci!!! Memangnya kau pikir kau itu ibu macam apa??? Kau juga sama saja sepertiku!!! Apa perlu kusebutkan nama pacar selingkuhanmu itu di depan anak tersayangmu itu?! Kau juga tak ada bedanya denganku!! Keluarga ini memang sudah gila!!”

“Dan kau yang memulai semuanya, Han Seungjo!!!”

“Jangan khawatirkan appamu itu, Rae. Biarkan saja dia pergi sesuka hatinya. Sekarang tenanglah. Lebih baik kau bersama eomma saja disini. Jadi, letakkan pisau itu. Kau jangan bunuh diri, Rae. Kau anak eomma satu-satunya. Jangan tinggalkan eomma, Rae.”

“Sekarang letakkan pisau itu, Rae.”

Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku meletakkannya??? Bukankah aku juga bisa mengambilnya kembali??

Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku mati??? Adakah gunya nafasku saat ini??

Bagaimana jadinya hidup kalian tanpaku nanti??? Haruskah aku memastikannya sekarang???

“HAN RAEKHA!!!”

@@@

“Apa yang terjadi padanya??”

“Entahlah, yang kutahu ia dalam kondisi yang sangat buruk. Sangat buruk dan butuh penanganan lebih lanjut.”

“Dia penderita scizofrenia?? Sejak kapan?”

“Sejak 5 tahun yang lalu. Tapi kulihat ia sudah mengalami stress berat sejak masih kecil. Ia tumbuh besar dengan rasa depresinya itu.”

“Bagaimana dengan keluarganya?? Dia butuh dukungan dari keluarganya.”

“Percuma. Keluarganya broken home.”

“Darimana kau tahu??”

“Buku hariannya.”

“Lantas?? Apa yang akan kau lakukan selanjutnya??”

“Entahlah, aku mungkin akan mencoba untuk lebih dekat dengannya untuk bisa membantunya. Ia terus-terusan diam sejak sadar kemarin. Ia menolak bertemu dan berbicara denganku.”

“Baiklah. Semangat ne!! Semoga dia bisa secepatnya sembuh dari penyakitnya.”

“Geurae, hyung. Gomawo.”

@@@

“Kenapa kau belum datang juga??? Kau sudah ditunggu sejak tadi oleh Raena.”

“Mian, hyung. Aku tak bisa datang ke perjamuan itu. Sekarang aku sedang sibuk, hyung. Nanti saja kuhubungi lagi, ne?!”

“Ya-YA!!! Yook Sungjae!!! Aishh, kenapa malah ia matikan. Dasar.”

“Bagaimana adikmu, Joon??? Kenapa anak itu belum juga datang???”

“Ia berkata kalau ia tidak bisa datang, Appa. Sepertinya ia sedang terburu-buru tadi. Entah apa yang sedang dilakukannya.”

“Mwo?!! Bagaimana bisa dia seenaknya saja tidak datang ke perjamuan ini?!! Memangnya apa yang sedang dilakukan anak itu. Memalukan saja. Apa yang harus kukatakan pada keluarga Kim saat mereka tahu kalau ia tidak bisa datang?”

“Bagaimana kalau sekarang aku mencarinya dan membawanya pulang??”

“Ah, geurae!! Pastikan kau benar-benar membawanya pulang. Aku percayakan padamu.”

“Ayah tenang saja. Serahkan itu padaku. Aku pasti bisa membawanya kembali.”

@@@

“Han Raekha??? Raekha-ya??? Ya!!! Kau ada dimana?? Jangan membuatku takut. Kau tahu aku paling takut berada di alam terbuka seperti ini.”

“Rae??!! Han Raekha!!! YA HAN RAEKHA!!! EODDIGA??!!!”

Ini gila! Aku sendirian di tempat seluas ini, dan ini sudah malam. Aku bisa gila! Kemana dia pergi sebenarnya? Aku harus secepatnya menemukannya dan membawanya pulang ke Seoul.

“Rae??? Kaukah itu??? Berbaliklah Rae!!! Ini aku.. Ayo kita pulang. Kenapa kau pergi kesini sendirian??? Kenapa tidak memberitahuku??? Aku mungkin bisa menemanimu.”

“Kau takut berada di alam terbuka oppa. Untuk apa aku mengajakmu.”

Geurae!!! Itu benar kau Rae.

“Berbaliklah Rae. Jangan membelakangiku.”

Dia menghela nafas keras. Wae? Memangnya ada apa?! Kenapa kau terlihat begitu lelah??

“Baiklah. Sekarang aku sudah berbalik ke arahmu, dan kau juga sudah menemukanku. Lantas apalagi??!”

“Ayo kita pulang, Rae!!!”

“Memangnya kemana aku harus pulang oppa??!! Aku tak akan pernah bisa pulang selama aku masih hidup, oppa!!!”

“Jangan berbicara seperti itu, Rae. Aku sudah kembali. Aku datang padamu, Rae. Kau tak ingin berlari memelukku??”

“Jangan hanya menatapku seperti itu. Cepat kemari dan peluk aku. Aku merindukanmu, Rae.”

“Haruskah aku datang kepadamu oppa?? Bagaimana jika kau justru pergi lagi??? Seperti sebelumnya saat kau meninggalkanku.”

“Aniya, itu tidak akan terjadi lagi, Rae. Kemarilah. Maafkan kesalahanku dulu padamu. A..a..aku menyesal sudah meninggalkanmu. Maafkan aku, Rae.”

Jangan hanya menatapku seperti itu, Han Raekha. Aku sungguh menyesal.

“Tinggalkan aku sendiri oppa!!! Jangan mengikutiku!”

Sial. Kenapa dia justru lari?! Jangan pergi lagi, Rae.

“Han Raekha!!! Mau pergi kemana kau?! Ayo kita kembali ke Seoul!”

Double shit. Dia justru semakin berlari ke arah jurang di depan sana.

“HAN RAEKHA!!!! Jangan pergi ke sana!! Cepat kemari atau aku akan menarikmu dengan kasar!”

Jangan ke sana, Rae. Ku mohon maafkan aku.

Tiba-tiba dia berhenti berlari dan berbalik menatapku. Tepat di depan jurang itu.

“Kau tahu oppa. Aku senang bisa melihatmu lagi pada akhirnya. Tapi oppa. Kau tak nyata… Aku tak akan datang padamu. Senang melihatmu tumbuh sebaik ini tanpaku.  Aku harap hidupmu akan bahagia setelah kepergianku.”

“Rae… Maafkan aku,Rae. Kumohon.. Jangan terjun ke bawah sana. Hidupku tak akan tenang kalau kau melakukan itu.”

Air matanya menetes. Ia menatapku sendu. Mian, sedalam itukah rasa sakitmu karenaku? Maafkan aku.

“Aku ingin kembali padamu lagi, Rae. Jadi kemarilah. Jangan mendekat kesana. Kau bisa jatuh ke bawah sana kalau kau terus-terusan bergerak mundur.”

“Aku tak akan pernah bisa kembali kepadamu. Kau bukan takdirku oppa. Kita tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.”

“Kau milikku. Kau milikku dan selamanya akan selalu begitu. Jangan meninggalkanku dengan perasaan seperti ini.”

“Kau tak pernah memilikiku. Tak akan pernah. Semuanya sudah selesai disini. Aku sudah lelah oppa. Aku sudah lelah. Jadi, biarkan semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Kau. Bahagia. Tanpaku.”

Dia menatapku memohon. Wae??! Aku tak akan melepasmu Rae!!

“Rae, jangan putus asa. Kau tahu masih ada aku di sampingmu. Jangan putus semangatmu, Rae.”

Sejenak ia terlihat mengalihkan pandangannya dariku. Lama, sampai akhirnya ia kembali menatapku dengan tatapan yang berbeda. Terlihat.. lebih kuat mungkin??

“Menurutmu apa itu kehidupan, oppa? Kupikir ini semua sudah tak adil. Namun kini kau datang. Berusaha menahanku untuk pergi dari kehidupanku. Merindukanku. Memintaku untuk berada disisimu lagi seperti dulu. Kau berusaha menyelamatkanku. Namun, aku sudah menyerah. Kau lihat mataku. Sudah tak ada lagi sinar harapan di dalamnya. Aku sudah membuang semuanya. Namun, kini kau memberiku secercah harapan untuk hidup. Kau senang oppa?”

Benarkah?? Benarkah aku memberimu harapan untuk kembali melanjutkan hidupmu??

“Geurae. Aku senang, Rae. Maka dari itu ayo kita mulai semuanya. Kita bangun kembali hubungan ini. Kau takdirku. Selamanya.”

Dia tersenyum. Apa kau bahagia?? Aku janji akan membahagiakanmu, Rae.

“Kau memang memberiku harapan untuk hidup, oppa. Kau juga tulus mencintaiku. Itu terlihat di matamu. Namun sayang. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah berada di ujung. Aku sudah berada di akhir. Takdir tak memperbolehkanku untuk kembali bersamamu. Kau memang datang untukku. Kau memang menyelamatkanku. Namun hanya untuk sementara. Tuhan membuat semua ini menjadi adil dengan kedatanganmu. Setidaknya aku tak akan menyalahkan Tuhan yang membuatku hidup seperti ini. Setidaknya aku sempat melihatmu sebelum semuanya berakhir. Setidaknya aku bisa merasakan dicintai dengan sepenuh hati oleh orang lain di saat-saat terakhirku.”

Wae??! Why??!

Kenapa sekarang semua ini terasa begitu menyakitkan untukku??

Apa yang salah disini?!?

Ada pedih di dalam sana.

Semua ini tak akan berjalan seperti yang kuharapkan bukan??

“Andwae!!! Kau tak boleh meninggalkanku. Aku sudah mendapatkanmu kembali setelah sekian lama. Kau tak boleh hilang dari pandanganku lagi. Bukankah aku sudah meminta maaf padamu? Aku juga yakin kalau kau masih mencintaiku. Kemarilah, Rae. Dan biarkan aku membawamu ke dalam pelukanku.”

“Sayang sekali, oppa. Sebentar lagi semuanya akan berakhir. Pergilah oppa. Setidaknya aku sudah mendapatkan cintamu sebelum aku pergi dari kehidupan ini. Itu membuatku senang. Melihatmu berdiri di hadapanku, mengkhawatirkanku. Kau tentu tak ingin melihat bagaimana kematianku bukan?”

“Jangan. Jangan coba-coba untuk membunuh dirimu sendiri, Rae. Keluargamu. Pikirkan keluargamu. Atau teman-temanmu. Pikirkan bagaimana perasaanku kalau kau pergi, Rae!”

“Kau sendiri tahu oppa bagaimana kehidupan keluargaku. Aku juga tidak pernah punya seorang teman. Hanya kau yang aku punya. Dan akupun sudah merelakanmu sekarang. Jadi, kau juga harus merelakanku. Kau harus bahagia. Kau tahu, ini semua sungguh memuakkan. Hidup seperti ini, bertemu denganmu, merasakan semua sakit itu menghampiriku. Bagaimana semuanya bertubi-tubi datang ke dalam kehidupanku. Aku lelah. Dan kau juga sudah kalah, oppa. Semuanya akan berakhir. Pasti. Dan lagi, aku juga tidak membunuh diriku sendiri. Karena nyatanya kematian itu datang sendiri kepadaku. Jauh disana. Ia berniat menjemputku. Membawaku ke dalam mimpi terakhirku. Kematian.”

Dia tersenyum manis. Lebih terlihat mengerikan untukku.

“Saranghae. Aku mencintaimu Yook Sungjae. Selamanya.”

Dia tersenyum lembut. Matanya, wajahnya, semuanya. Milikku. Kau milikku, Rae.

“Nado saranghae Han Raekha.”

Dia tersenyum padaku. Menciumku lembut. Sekejap saja, kemudian melepasnya. Dan menutup mata indahnya.

“ANDWAE!!!! HAN RAEKHA ANDWAEYO!!!! KAJIMA!!!”

Darah. Bajunya dipenuhi oleh darah. Dia terjatuh. Tepat di depanku.

Aku meraihnya, berusaha meraih tubuhnya sebelum terjatuh ke bawah jurang. Namun yang terjadi justru aku ikut terjatuh bersama tubuhnya. Aku memeluknya erat. Berusaha membuatnya tetap berada di dekatku. Melindunginya. Di saat-saat terakhirnya.

Benar. Lebih baik seperti ini bukan. Daripada melihatmu membawa dirimu sendiri ke dalam kematian. Aku. Aku yang akan membawamu ke dalam kematian. Bersama-sama. Kita akan terus bersama bukan. Aku tak akan merelakanmu. Kau milikku. Selamanya.

@@@

Aku membuka mataku perlahan. Putih. Semuanya serba putih. Inikah yang namanya kematian itu? Tapi, kenapa aku masih bernafas? Apa memang seperti ini?

“Apa yang kau lakukan Yook Sungjae?!! Kau berniat untuk meninggalkan eommamu ini??? Kenapa kau malah berada di dalam hutan itu bukannya menghadiri jamuan makan malam bersama keluarga Kim?? Kau mau membuat eommamu ini jantungan ketika mendengar kalau kau jatuh ke jurang di pinggiran hutan yang jauh dari Seoul??!!”

Bagaimana bisa aku masih hidup setelah terjatuh ke jurang itu??!

“Mian, eomma. Maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi bagaimana kalian bisa menemukanku??”

“Hyungmu mencarimu menggunakan GPS. Dan ia menemukan mobilmu berada di pinggiran hutan dalam keadaan mesin yang masih menyala. Dia pun mengikutimu masuk ke dalam hutan dan menemukanmu jatuh ke jurang dengan memeluk seorang perempuan. Ia mencarimu dan menemukanmu dalam keadaan pingsan dengan baju penuh darah dan membawamu ke rumah sakit.” Appa menatapku sendu.

Perempuan??!?! Raekha??!!

“Bagaimana keadaan Raekha hyung?!! Dirawat di kamar nomor berapa dia?!! Apa operasinya berjalan lancar?!!”

“Raekha?!! Bukankah perempuan yang bersamamu itu pasienmu yang dulu kau ceritakan padaku???”

“Han Raekha. Dia Han Raekha, hyung. Kekasihku ketika SMA dulu. Bagaimana keadaannya sekarang?!! Dia baik-baik saja kan?”

“Jangan hanya menatapku hyung!!! Cepat katakan padaku bagaimana keadaannya?!!”

Andwae. Kau tidak boleh pergi, Rae. Tidak selagi aku masih hidup. Aku harus melihatnya. Aku harus memastikannya. Kau harus selalu berada dalam jarak pandangku, Rae.

“Sungjae-ya!!! Apa yang kau lakukan?!!! Kau harus tetap beristirahat di kamarmu. Kau tidak boleh bergerak.  Kau masih sakit.”

“Aku harus melihatnya. Kumohon biarkan aku melihatnya.”

“Tidak untuk saat ini. Nanti aku akan mengantarmu untuk melihatnya.”

Aku menatapnya ragu, aku benar-benar tak sabar untuk melihat keadaan Raekha.

“Aku berjanji padamu aku akan mengantarmu menemuinya nanti saat kau sudah keluar dari rumah sakit.”

“Gomawo, hyung. Tapi dia baik-baik saja kan hyung???”

“Kau tenang saja. Dia terlihat lebih baik saat ini. Dia juga sudah pulang. Jadi, sebaiknya kau tetap berada disini untuk memulihkan kondisimu.”

@@@

“Kenapa harus dia yang pergi??!! Kenapa bukan aku saja??!! Kenapa harus dia???!! Aku yang bersalah.”

“Benar. Kaulah yang bersalah. Kau merusak kebahagiaannya. Kau merusak hidupnya. Aku hanya membantunya untuk sampai pada nafas terakhirnya. Keinginannya sejak dulu. Keinginan terakhirnya. Yook Sungjae hanyalah bintang yang hadir sebelum ia tertidur. Sungjae memiliki kehidupannya sendiri. Ia harus tetap menjalani hidupnya. Tanpa gadis itu tentunya.”

“Kenapa kau melakukannya?!! Kenapa harus dia?!!”

“Itu karena Yook Jeonghan. Kau mengenalnya bukan??!! Itu akibat karena kau sudah menghancurkan keluargaku.  Aku pergi dulu. Aku turut berduka atas kematian putrimu, tentunya.”

@@@

“Apa kau masih dendam padaku sayang?? Karena aku meninggalkanmu dulu??? Bukankah seharusnya kau mengajakku pergi juga?? Kenapa kau justru meninggalkanku sendirian?”

Aku menyeka air mata di pipiku. Menatap kosong ke arah batu nisan di hadapanku. Bukti kepergian gadis itu.

“Dia membunuhmu. Aku harus membencinya bukan??? Semua ini terjadi karena kesalahan yang dibuat oleh ayahku. Semua ini karena aku. Haruskah aku berharap agar kita tidak pernah bertemu sebelumnya?? Selama ini kau mengetahuinya bukan??? Bodohnya aku.”

Bersamaku membuatmu menderita bukan?

Apa sesulit itu untuk kita bisa bersatu?

“Selama ini, apakah kau bahagia bersamaku? Apa kau bahagia mencintaiku?? Aku ingin memutar waktu kembali, asal kau tahu.”

“Aku tak bisa menata hidupku lagi. Selama ini, aku hidup sebaik ini agar ketika aku bertemu denganmu lagi, kau akan kembali jatuh cinta padaku, agar kau bisa menjadi milikku, agar kau kembali padaku. Nyatanya selama ini kau tetap mencintaiku. Namun, kenapa kau tak menjadi milikku saat ini?? Apa aku mengecewakanmu??? Apa aku sudah tak tampan lagi sehingga kau menolakku??”

“Seperti katamu, kini aku berpikir bukankah hidup ini tak adil??? Kau pergi meninggalkanku, tapi membiarkanku tetap hidup dengan menanggung semua beban berat ini. Pada akhirnya, akulah yang sudah mengantarkanmu kepada kematian. Apa kini kau bahagia disana??? Aku berharap suatu saat ketika kita hidup kembali, kau tak akan pernah meninggalkanku lagi sendirian. Namun, aku tahu. Kau sudah terlalu muak untuk bisa hidup lagi.”

Aku menghembuskan nafasku perlahan.

Kisah ini berakhir disini bukan???

Saat itu adalah saat terakhir kalinya kita bertemu.

Selanjutnya, hanya akulah yang membawa semua memori kenangan kita berdua.

Nanti, hanya akulah yang akan termenung sendirian, merindukanmu.

Itu menyiksaku, asal kau tahu.

“Aku ingin menyalahkan takdir. Aku marah mengapa Tuhan mengambilmu secepat ini. Namun aku tahu, semua itu kulakukan karena aku takut menyalahkan diriku sendiri. Itu karena aku takut menyalahkannya. Aku takut menyalahkan ayahku. Aku takut aku akan hidup dengan membenci diriku sendiri dan keluargaku. Tapi kini aku sadar. Semuanya memanglah kesalahanku.”

“Tapi aku lega. Setidaknya kau tak menanggung semua rasa sakit itu. Setidaknya kau bisa tenang disana. Setidaknya kau tak akan menjalani hidupmu seperti dulu lagi. Setidaknya kau tak akan pernah mengeluarkan air mata berhargamu lagi.”

“Sejujurnya, aku malu untuk bertemu denganmu dalam keadaanku yang seperti ini. Namun ada sebuah permintaan maaf yang harus kusampaikan padamu.”

Aku memegang erat kursi rodaku. Berusaha untuk bisa turun dan duduk di samping makamnya. Aku sendiri. Tak ada yang bisa membantuku turun dari kursi roda ini. Toh, akupun harus belajar untuk tidak bergantung pada orang lain. Karena beginilah kehidupanku saat ini.

“Maafkan aku Rae. Maaf. Maafkan ayahku yang sudah merusak keluargamu. Maafkan aku yang sudah meninggalkanmu dulu, membawamu ke dalam keterpurukan yang lebih dalam. Dan juga maafkan dia yang sudah membuatmu pulang secepat ini. Maafkan aku yang memiliki keluarga yang tak sempurna seperti ini. Kau mau memaafkanku sayang?”

Aku menatap nisan itu. Nisan yang diatasnya tertulis nama kekasihku.

Raekha-ya…

Selamanya kau akan selalu menjadi yang pertama di hatiku.

Aku mencintaimu…

Maafkan aku.

@@@

Dia menyerah pada hidupnya

Terlalu lama untuk membuka penderitaan itu

Sudah terlalu lama dia menunggu

Kini dia menyerah

Dia bukanlah kupu-kupu yang pantas untuk hidup

Beginilah akhirnya

Tak peduli bagaimana orang lain berusaha untuk membuatnya hidup

Tak peduli bagaimana terang sinar yang menyinarinya

Takdir yang merenggutnya

4 thoughts on “[Vignette] A Broken Cocoon”

  1. hi there!

    fictnya cukup menyentuh! well done hihihi^^

    tapi, may I have a lil bit review? :))
    fict ini agak sedikit membingungkan buat aku hehhe. karena banyak kalimat langsung yang ditanggapi kalimat langsung lainnya tanpa ada keterangan. jadi sedikit bingung apa ini percakapan orang banyak atau justru cuman percakapan 2 orang aja. terus bingung siapa aja yg terlibat dalam percakapan hehehe.

    terus narasi tentang “aku” di atas aku kira point of view si “aku” akan jadi punya si Rae semua. tapi ternyata yg di bawah ada “aku” versi Sungjae. jadi agak sedikit membuat aku mikir alur ceritanya hehhe. mungkin diberi keterangan akan jadi lebih mudah dipahami.

    well it’s just my opinion~
    semoga bisa bermanfaat hehe

    see ya^^

    Suka

  2. makasih, atas komennya… ^-^
    it’s okay, thanks juga buat reviewnya… yahh, emg waktu bikin ini tujuanku emg gtu, aku gak bkin sudut pandangnya disebutin dgn jelas di ffnya, sengaja aku bkin biar readers yang nemuin sndiri si tokoh yang lagi ngomong n sudut panddangnya siapakah itu.

    kalo pov-nya si “aku” ini untuk yg awal emg ku bikin jdi pov-nya rae, baru stelah ganti paragraf aku bkin jdi pov-nya si sungjae, tkoh utamanya… soalnya dsni aku gak mau bkin author point of view, dan ternyata malah bkin bngung readers, hehehe..

    thanks bgt reviewnya… ^-^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s