[Vignette] Butterfly Night

Butterfly Night

Butterfly Night

|| Scriptwriter: Lee Uchida | Cast: Kwon Jiyong, Sandara Park | Genre: Romance | Support: other cast YG Family | Rating: PG-17 | Duration: Vignette ||

Disclaimer: Terinspirasi dari beberapa FF yang saya baca. Kalau kalian nemuin alur yang sama persis, terserah bagaimana tanggapan kalian… Tapi, cerita ini bener original author kok. Mianhae banyak Typo.

Warning!!!! Naga Couple!!!!

Summary:

Selama ini, aku tidak pernah melihatmu. Apa kau baru di sini? Tapi kenapa kau harus di sini? Kau lebih cocok menjadi seorang pegawai kantoran ataupun pekerjaan yang tidak sehina ini. Aku tertarik padamu. Bukan! Bukan tertarik untuk menidurimu, tapi aku tertarik dengan latar belakangmu. Kenapa kau harus bekerja di tempat hina seperti ini. Walau sebenarnya aku ini juga orang yang hina.

Andai kau bisa melihat dirimu lebih dalam, kau itu tidak pantas berada dalam lingkup seperti ini, lebih baik kau pergi dari sini. Kau belum terlalu professional dalam hal seperti ini, kau akan di cemooh oleh orang-orang yang bisa di bilang sunbae.

Kau terus menggoda lelaki yang datang kepadamu. Mereka penasaran denganmu. Lelaki itu sudah mencoba semua yeoja yang ada di sini. Tapi aku mohon, jangan untukmu. Lelaki itu bejat! Lelaki itu hanya memanfaatkan keindahanmu saja, tanpa bertanggung jawab atas apa yang telah dirinya perbuat.

Mataku panas kalau melihatmu terus bergelayut pada setiap lelaki disekelilingmu. Perasaanku mengatakan tidak rela. Kau harus tahu, walau aku ini bejat, tapi tidak pernah meniduri yeoja manapun yang menggodaku di sini. Batas akhir yang pernah aku perbuat hanya menciumnya panas.

*^*^*

Pekerjaan yang hina harus dilalui seorang Sandara Park demi menebus obat-obatan sang ibu yang sakit keras. Ayahnya telah meninggal karena kecelakaan beruntun satu bulan yang lalu. Kebohongan harus terlontar dari mulutnya. Putri semata wayangnya itu melakukan kebohongan besar yang sudah lima bulan ini tidak diketahui ibunya.

Terlalu membuang waktu, jika harus mencari tahu. Setiap malam, Sandara yang kerap disapa Dara ini, keluar dengan pakaian ala artis papan atas yang melampaui batas. Dia ditawari oleh temannya, Bom untuk ikut bekerja dengannya. Awalnya Bom hanya menceritakan bahwa pekerjaannya itu hanya menjadi pelayan klub malam, tapi ternyata inilah pekerjaan Bom sebenarnya.

Ketika memasuki klub malam pertama kali, Dara sering menelan ludah. Pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan justru terjadi pada dirinya sendiri. Dia harus menemani lelaki yang haus akan belaian wanita cantik.

Lima bulan menjadi kupu-kupu malam juga sudah cukup professional dalam hal tersebut. Dara sudah terbiasa dengan dunianya sekarang. Dia sudah terbiasa menghadapi para lelaki yang bertingkah kasar pada dirinya. Dia harus berterima kasih banyak pada Bom.

Dara mulai menggoda seorang lelaki yang tidak jauh dari dirinya duduk. Dia mulai menggelayut manja pada lelaki itu. Akhirnya, BINGO! Lelaki itu tergoda. Pemandangan yang mungkin menurut Jiyong saat itu lengang, menjadi pusat perhatian kedua pasang matanya.

Jiyong menyesap rokoknya tanpa membuang asap yang membuat tenggorokannya tersedak. “Uhhukk!”

“Chagi, waegeurae?” seorang wanita yang duduk di sebelah kirinya menanyakan pada Jiyong.

“Gwaenchana chagiya..” Jiyong membelai lembut wanita yang ada di sebelah kanan dan kirinya.

Jiyong membuang pandangannya dari Dara. Membiarkan Dara merayu lelaki yang haus itu. Tapi, matanya ingin terus menatapnya. Menatap seperti apa Dara itu.

“Chagiya, kau tahu siapa yeoja yang berada di sana?”

“Ohh, dia baru. Dia adalah teman Bom, namanya Sandara dan biasa dipanggil Dara. Dia baru lima bulan bekerja di sini. Waeyo? Kau tertarik dengannya?”

“Hmm..” Jiyong mengangguk. “Tapi, mungkin tidak hari ini. Aku ingin bersama kalian dulu.”

Dara membenarkan pakaian yang baru saja dihancurkan oleh lelaki itu. “Ini uangnya. Kau hebat, lain kali aku membookingmu lagi.” Ujar lelaki itu.

“Geurae.. tapi, kau harus menaikan lagi. Ini masih kurang.” Rengek Dara.

“Tentu, aku akan menaikkan 100%.” Dara tersenyum bahagia.

Setelah lelaki itu keluar kamar, dara memakai sweeaternya dan keluar dari area klub malam untuk pulang. Dia hanya bekerja hingga pukul 10.00 malam saja, dia tidak ingin ibunya mengerti apa pekerjaan malamnya sebenarnya.

Ketika siang, Dara bisa berubah menjadi kupu-kupu cantik yang tidak ternodai. Dia berdiri di belakang mesin latte dan beberapa cake cantik yang setiap hari berganti. Pekerjaannya ini, tidak cukup. Itu alasannya Dara mencari pekerjaan yang lebih banyak bayarannya.

“Annyeong haseyoo…” Dara menundukkan badan ketika ada pelanggan yang masuk ke cafenya.

Setelah lonceng berbunyi, pelanggan yang baru saja masuk itu terkesiap oleh Dara. Matanya tidak beralih dari sosok yeoja yang berdiri di belakang mesin latte. “Bukankah dia yeoja yang tadi malam?”

Jiyong memperhatikan Dara dengan seksama. Beberapa patah kata terngiang di otaknya. “Namanya Sandara biasa dipanggil Dara.”

“Dia temannya Bom.”

“Dia baru di sini.”

Rasanya, jika menanyakan hal hina itu sekarang tidak tepat. Lebih baik Jiyong menikmati dulu latte yang diberikan yeoja itu.

*^*^*

Dara menebus obat-obatan ibunya di apotek rumah sakit. Sore tadi, penyakit sang ibu kambuh dan harus di bawa ke rumah sakit agar cepat mendapat pertolongan. Ibunya pingsan ketika di UGD. Suster memintanya untuk menebus obat dan membayar administrasinya terlebih dulu, sembari menunggu sang ibu sadar.

Dara menutup pelan pintu geseran kamar ibunya. Gerap kaki pelannya hampir tidak bersuara, mendudukkan pantatnya di kuris samping ranjang sang ibu. Bulir air mata jatuh ke pipi putihnya. “Eomma…” ujarnya disela isakannya.

Ibunya terbangun karena isakan putrinya yang semakin lama semakin keras. Sang ibu membelai lembut kepala Dara. Dara mendongak, “Eomma?”

“Dara, apa kau tidak bekerja?”

“Tidak apa eomma aku terlambat bekerja. Dara ingin menjaga eomma dulu.” Matanya memerah, begitu juga dengan hidungnya.

“Dara, apa kau tidak di marahi atasanmu, jika terlambat?”

“Aniya eomma. Aku sudah meminta ijin.” Dara menyuapkan sesendok bubur ke mulut sang eomma.

Tepat pukul 08.00 KST malam Dara pamit pada sang eomma untuk berangkat kerja. Terlihatlah sisi buruk Dara sekarang.

Dentuman music menerobos genderang telinga para penikmat music hip hop dan dance. Banyak orang yang meliuk-liukkan tubuhnya di floor bar. Jiyong duduk bersama Seungri dan Taeyang. Jiyong menyalakan rokoknya dan menghisapnya.

Tidak lama setelah kedatangan Jiyong, para yeoja penghibur menghampiri meja Jiyong dan teman-temannya itu. “Eyy, kau terlihat popular.” Ejek Taeyang.

“Tidak juga. Mereka saja yang selalu ingin dekat denganku.” Disambut dengan tawa Taeyang dan Seungri.

“Ya! Boleh aku mencobanya satu?” bisik Seungri.

“Cobalah. Mereka pasti hebat.” Ujar Jiyong asal. Dengan senang hati Seungri menarik salah satu dari mereka.

“Kau tidak mau mencoba?” tawar Jiyong pada Taeyang yang dari tadi mengamati beberapa yeoja di floor.

“Aku ingin sekali.” Jiyong tersenyum saat sohibnya itu sudah berjalan menuju floor.

“Chagi, kau tidak ingin mencoba Dara? Ku dengar, kemarin dia melayani Tablo oppa dan Sean oppa. Kau mengenalnya kan?”

Jiyong mengangguk. “Jelas aku mengenal mereka. Mereka juga penikmat di sini.”

“Lalu bagaimana, kau ingin mencobanya? Sean oppa saja tertarik dengannya, masa kau tidak?”

“Ah, kau benar. Tapi, aku tidak melihatnya sedari tadi.” Yeoja di samping Jiyong melihat jam tangannya.

“Oh, dia sedang melayani Daesung oppa.” Jiyong terperanjat mengulang kalimat yang terlontar baru saja, sedang melayani Daesung oppa.

“Oh, apa tidak ada yang lain?” Jiyong menyesap wiskynya.

“Oh, Bom sedang kosong.”

“Jincha, tidak adakah yang lain?” kesal Jiyong.

“Mianhae..”

“Sudahlah, aku menunggu Dara saja. Kapan ia akan keluar?”

“Sepuluh menit lagi. Itu jika tidak ada pelanggan lain yang menyeretnya paksa.”

“Kalau begitu, di kamar berapa dia?”

Jiyong melipat tangannya di depan dada. Ia sudah berdiri lama di depan kamar 829. Sepuluh menit sudah berlalu, tapi Dara juga belum keluar. “Apa mata Gummy sudah rabun ya? Katanya sepuluh menit, ini sudah lebih dari dua puluh lima menit.” Geram Jiyong.

Knock pintu terputar. Daesung baru saja keluar dari kamar dan merapikan pakaiannya. “Oh, hello Kwon Jiyong..” sapa Daesung keras. Jiyong tersenyum sebagai jawaban.

“Apa kau ingin mencobanya?” bisik Daesung pada telinga Jiyong.

“Mencoba apa? Hey apa kau pernah dengar tentang sejarah Kwon Jiyong yang meniduri yeoja?” Jiyong mengangkat telunjuk kanannya dan di gerakan ke kanan ke kiri sebagai tanda tidak pernah.

“Cih, Kwon Jiyong belum berubah?” ejek Daesung.

“Kwon Jiyong akan melakukan itu hanya pada istrinya saja.”

“Lalu, untuk apa kau berada di sini setiap malam?”

“Mencari hiburan! Apalagi?” mereka tertawa lepas.

“Sudah ya, aku masih ada janji dengan Minzy.”

“Sudah berapa kali kau meniduri Minzy?”

“Beberapa kali. Bahkan sudah sering. Tapi aku masih ingin menidurinya lagi.” Daesung menepuk pundak Jiyonng.

Jiyong melihat Dara keluar dari kamar hendak menuju floor. Dengan sigap, Jiyong menarik tangan Dara. “Sssst…” Jiyong meletakkan jari telunjuknya di bibir mungil Dara. Jiyong mendorong Dara memasuki kamar yang baru saja di pakai bersama Daesung.

Mata mereka bertemu. Sebelum Jiyong melanjutkan, lebih dulu ia mengunci pintu kamarnya. Jiyong memandang Dara yang duduk di ranjang. Dara tidak berkedip. Jiyong tersenyum puas.

“Kenapa cantik?” Jiyong mendekati Dara pelan-pelan seolah ingin menerkam seperti lelaki haus lainnya.

Jiyong menatap manic mata Dara. Bola mata yang cokelat, di sana ada sebuah penderitaan besar. Dalam bola matanya yang cokelat ada sebuah beban berat yang harus ia tanggung. Dan di dalam bola mata cokelatnya itu, tersirat rasa sakit yang mendalam. Jika Jiyong bisa mengartikan, rasa sakit yang ia rasakan ketika setiap malam harus melayani lelaki yang haus.

Jiyong tersenyum. “Kau cantik.” Jiyong mengelus pipi kiri Dara.

“Semua lelaki mengatakn begitu.” Ujar Dara berani.

“Benarkah? Semua lelaki yang menidurimu berkata demikian?” Dara mengangguk.

“Tapi, kau lebih cantik daripada mereka yang mengatakan. Apa kau bisa menangkap maksud tatapan mataku?” Dara dibuat bingung oleh namja di depannya ini.

Tiada tatapan nafsu. Tiada sentuhan maut yang dirasakannya. Tiada dorongan untuk meminta lebih. Lalu, apa yang diinginkan namja ini? Mata Dara belum bisa berpaling dari mata namja di depannya ini. Tatapan yang tidak bisa diartikan lebih. Selain, tatapan ketulusan.

Lagi-lagi Jiyong tersenyum. Senyumnya itu, disusul dengan kecupan ringan yang mendarat di bibir mungil Dara. “Kenapa kau mengobral bibir ini pada lelaki itu? Bukankah seharusnya bibir ini hanya milik suamimu kelak?” Jiyong memegang bibir merah dara. Dara kembali dibuat gila oleh Jiyong.

“Benarkah? Apa aku masih pantas memiliki suami yang aku idamkan, setelah perbuatan hinaku ini?” maki dara.

“Sssst.. Kau sudah tahu ini perbuatan hina, kenapa masih kau jalani?”

“Aku tidak punya pilihan.”

“Kenapa?” Jiyong mencoba memancing Dara untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dan, BINGO! Dara mau bercerita tanpa sadar. Jiyong berkali-kali menahan buliran air mata yang hendak mengalir. Takut Dara melihatnya.

“Eh, kenapa aku bercerita denganmu?”

“Gwaenchana.” Senyum Jiyong. “Kau harus tahu, di sini bukan hanya lelaki yang haus saja, tapi ada juga yang sekedar mencari hiburan. Dengan bermabuk misalnya.”

“Apa maksudmu?”

“Apa pekerjaanmu di siang hari tidak cukup untuk menebus obat-obatan ibumu? Apa sakit yang di derita ibumu?”

“Da-dari mana kau tahu?”

“Aku pernah mampir di café ujung gang. Di sana, kau yang menjadi pelayannya. Bukankah gaji di sana mahal, jadi untuk apa kau menjadi seperti ini?”

“Kau tidak tahu. Ibuku setiap hari harus menjalani kemoterapi yang menghabiskan banyak uang. Sehari, bisa mencapai sepuluh juta. Lalu, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu, kalau tidak bekerja sebagai wanita penghibur?” Dara menangis.

“Ssssst.. Menangislah di sini.” Jiyong menarik dara ke peluknya.

“Berhentilah menjadi wanita penghibur. Apa kau tidak kasihan dengan dirimu sendiri yang setiap saat di sentuh oleh banyak lelaki? Lalu bagaimana dengan datang bulanmu setiap bulan? Apa itu tidak menyakitkan? Kuyakin kau sudah tahu maksudku.”

Dara melepas peluk Jiyong. “Kenapa kau menanyakan tentang hal wanita? Apa pedulimu?” teriak Dara.

“Kau ini baru di sini. Kau baru berada dalam klub malam ini lima bulan. Aku lebih senior darimu. Aku sudah bertahun-tahun di sini. Jadi aku mengenal betul karakter wanita penghibur di sini.”

“Berarti, kau tidak berbeda jauhkan dengan lelaki yang haus lainnya?”

“Tidak. Kau bisa buktikan bahwa aku ini bukan seorang lelaki yang haus seperti mereka. Selama aku di sini, aku tidak pernah sekalipun meniduri wanita. Kau heran, kenapa namja sama sekali tidak tergoda?” mata Dara menantikan jawaban Jiyong.

“Karena aku sudah memiliki calon pendamping hidupku yang sebenarnya. Aku tidak ingin mengacaukan rencanaku sendiri.”

“Lalu, kenapa kau melakukan itu?”

“Apa kau ingin mendengar pengakuan tabu seorang namja tentang hal ini?” Dara menggeleng.

“Aku bisa memberi tahumu hanya ini, karena aku ingin. Itu saja.”

“Kau, namja aneh.”

Jiyong selalu senang memandang wajah dara yang imut ini. Karena Jiyong tahu, Dara adalah teman masa kecilnya yang menggemaskan yang tumbuh dan menjadi seperti ini. Jiyong merasa senang bisa melihatnya lagi, tapi merasa sedih ketika dia harus bertemu di tempat yang tidak seharusnya ia pijak.

“Kau, belum menjawab pertanyaanku. Kapan kau akan berhenti menjadi wanita penghibur?”

“Hingga ibuku sembuh dari penyakitnya. Hingga ibuku kembali tersenyum ceria tanpa ada kepucatan yang melekat di wajahnya. Aku ingin ibuku kembali tersenyum lega.” Dara terisak.

“Mian, jika aku membuatmu menangis lagi.”

*^*^*

Dara mengerjapkan matanya. Dia terbangun cepat. Memandang dimana dirinya berada. Seingatnya, dia bersama lelaki di kamar klub malam. Kenapa sekarang dia ada di sebuah kamar yang asing?

Dara membuka pelan pintu kamar asing itu dan berjalan mencari seseorang. “Kau sudah bangun?”

Dara di kejutkan dengan suara yang tiba-tiba menyapa tanpa permulaan. Jiyong sudah rapi dan memakan roti bakarnya. “Kenapa aku bersamamu?”

“Kau lupa? Kau tertidur saat di kamar klub malam itu.”

“Aku tidak melakukan apapun. Aku kan sudah bilang …”

“Arraseo.” Potong Dara cepat.

“Geurae, makanlah dan aku antar kau.”

“Oh, kita sudah bercakap lama, tapi aku tidak tahu namamu.” Sela Dara saat mereka sarapan.

“Oh, jincha? Nae ireum Kwon Jiyong. Kau bisa panggil aku Jiyong.”

“Oh, annyeong Jiyong-ssi, naneun Dara imnida.”

“Arraseo, aku sudah tahu namamu.”

“Oh, ne.”

Jiyong memakai jaketnya, menyambar kunci mobil dan berjalan di belakang Dara menuju parkiran. Perlakuan Jiyong membuat Dara hangat dan nyaman. Tidak pernah terpikirkan, dirinya akan bertemu lelaki sebaik Jiyong. Selembut ketulusan Jiyong. Mungkin, Dara mulai jatuh cinta.

Dara menggeser pelan pintu kamar dimana ibunya dirawat. Kosong. “Eomma? Eomma eodiseo? Eomma?” dara berteriak mencari sang eomma.

“Mianhae, apa Anda nona Sandara?” mata Dara mengeluarkan Kristal bening yang mengalir ke pipi.

“Eomma… Eomma..” Dara terisak di depan ruang operasi.

*^*^*

Cukup mengharukan jika menjadi sebuah cerita. Dengan alur yang mengerikan pada awal, dan berakhir dengan tangis pedih, cukup membuat pembaca berlinangan air mata. Namun sayang, ini bukanlah cerita dalam novel yang selalu Dara temui. Ini adalah kisahnya. Benar-benar kisah sungguhannya. Bagaimana? Apa menyedihkan?

Dara menyaksikan pemakaman ibunya yang tadi malam sudah di vonis meninggal dunia menyusul sang ayah. Sekarang, Dara harus hidup sendiri. Mencari makan sendiri, dan semuanya sendiri. Satu hal yang masih ditanyakan Jiyong, apa ia masih menjadi wanita penghibur lagi, jika alasannya menjadi wanita penghibur karena ia harus menebus obat-obat ibunya?

Sebisa mungkin Jiyong memberi nasehat untuk berhenti, tapi Dara belum mau mendengarkan nasehat Jiyong dan masih menjadi wanita penghibur.

“Baiklah, berhenti mencekokiku dengan kalimat itu. Baiklah, aku akan berhenti menjadi wanita penghibur dan bekerja di café itu selamanya. Kau puas??” walau dengan nada tinggi, Jiyong bisa menangkap bahwa Dara benar-benar berhenti menjadi wanita penghibur.

Jiyong membawa Koran dengan berita tentang tertutupnya klub malam dimana Dara bekerja. “Dara, lihat ini. Klub malamnya telah di segel polisi. Untung kau sudah tidak di sana.” Jiyong memeluk Dara senang.

“Ji, lepaskan. Aku sedang sibuk.”

“Sibuk kenapa?” Dara berbalik pada Jiyong yang memeluknya dari belakang.

“Kau tidak lihat, banyak pelanggan di sana? Aku malu mereka melihat kita berpelukan.”

“Kenapa malu?” goda Jiyong.

“Jangan membuat suasana panas Jiyong.” Hardik Dara dan melarikan diri dari terkaman Jiyong.

Setelah Dara memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu, Jiyong langsung melamarnya dan menikahinya saat itu juga. Tiada kata romantis waktu itu, hanya ada ketulusan. Penolakan yang di lontarkan Dara tidak pernah ditanggapi oleh Jiyong.

Apapun alasannya agar mereka tidak menikah, tidak bisa mematahkan semangat Jiyong untuk tetap menikahi gadis itu. Bukan! Dara bukan gadis lagi. Tapi Jiyong tetap menjaganya seperti gadis.

*^*^*

END

*^*^*

4 thoughts on “[Vignette] Butterfly Night”

  1. hi there!

    woah! baru sadar salah satu makna judul butterfly night ini terjemahan kupu-kupu malam :’D
    duh Jiyong baik sekali memang ya~ tapi kenapa Dara gatau Jiyong kalau Jiyong bilang Dara temen kecilnya? atau Jiyong cuman mengamati dari jauh :’D
    hehhe

    well mbak Dara doesn’t deserve to be butterfly night~ yokatta termakan (?) hasutan Jiyong buat berhenti kerja di situ hihihi~

    and see yaa~^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s