[Story-Mix] Halla Mountain

Halla Mountain

Halla Mountain [Spesial 3 in 1]

Scriptwriter: Lee Uchida

Cast: Jackson and Nayeon | Mark and Momo | Bambam and Sana

Genre: Romance

Disclaimer: Inspiring from my travels. Thanks All ^-^

~JeEn~MaMo~BamNa~

Seungri High School disibukkan dengan persiapan mendaki gunung minggu depan. Seluruh kelas telah diliburkan dari pelajaran dan hanya untuk mempersiapkan kebutuhan yang diperlukan.

Barang-barang berat yang diperlukan harus segera dikumpulkan di sekolah agar tidak memberatkan siswa. Rapat dewan sudah diadakan sebulan sebelumnya, dan keputusannya sekolah setuju kalau diadakan acara mendaki gunung.

Objek utama adalah Gunung Halla di Jeju. Objek lainnya hanya sekitar Jeju. Para siswa sangat senang karena ini pertama kali Seungri High School mengadakan kegiatan sekolah yang lain dari yang lain.

Mina menghampiri Dahyun, “Dahyun-ah, aku khawatir tidak bisa ikut.”

Dahyun bangkit dari duduk, “Wae? Kau mau kembali ke Jepang?”

“Aku belum yakin. Aku mendengar orang tuaku berencana kembali ke Jepang karena nenekku sakit. Eotteo?”

“Semoga saja tidak saat itu. Kau harus ikut. Gunung Halla itu gunung favorit para turis. Kau pasti tidak akan menyesal. Kau kan juga turis.” Canda Dahyun.

“Apa barang bawaanmu sudah siap?” tanya Yugyeom.

“Sepertinya sudah.”

“Jangan melakukan hal bodoh! Barangmu tidak bisa diambil lagi kalau sudah kau kumpulkan.”

“Jincha? Ohh! Apalagi yang akan aku bawa?” panik Mark.

“Ya! Bagaimana cuaca di sana? Apa lebih dingin dari Seoul?” ujar Jackson.

“Aku tidak yakin. Aku belum pernah ke sana.” Jawab Yugyeom.

“Apa pemandangan di sana bagus?” Yugyeom mengangguk, “Lumayan juga. Kau tidak akan menyesal.”

“Chingu-ya!! Eottohkke?” teriak Bambam tiba-tiba.

“Wae?” tanya Mark, Jackson, dan Yugyeom bersama.

“Eommaku bilang, aku harus pulang hari ini. Eottohkke?”

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba?”

“Aku tidak tahu. Eomma menolak memberi alasan.”

“Kau pulanglah, siapa tahu ada sesuatu yang penting.”

“Doakan aku tidak terjadi apa-apa.”

“Barang-barangmu sudah kau kumpulkan?” Bambam mengangguk, “Ne baru saja.”

“Kau tahu, aku bukannya lemah, tapi aku takut tidak kuat.”

“Kau pasti kuat Nayeon-ah. Kami menemanimu.” Ujar Momo.

“Geurae, aku pasti membantumu.”

“Ya! Cepat kumpulkan barang-barang kalian.” Suruh beberapa siswa.

“Ayo kita kumpulkan.”

Jackson dan Junior mendapatkan nomor antrian akhir. Mereka saling menatap dan mendesah. “Ya! Kau dapat nomor berapa?” Jackson memperlihatkan nomornya, “Ahh.. 56? Aku 57. Mau mati rasanya.” Ujar Junior.

“Dimana JB?”

“Dia datang lebih dulu, mungkin sudah selesai.”

“Junior?”

“Ya! Bagaimana bisa kau baru datang?”

“Aku ada panggilan alam. Oh ya, kau nomor berapa?” Junior menunjukkan kartunya.

“Tidak apa, aku 70.” Senyum JB.

Jackson melihat Nayeon dan teman-temannya datang dengan canda tawa menghiasi wajah. Jackson memandang takjub Nayeon tak berkedip. Tanpa ia sadari, kakinya melangkah menghampiri Nayeon.

“Hei, kau dapat nomor berapa? Mau bertukar nomor?”

“Mana mungkin? Aku mendapat nomor jauh darimu.”

“Aku sedang malas sekarang. Ayolah kita bertukar nomor.” Nayeon memberikan nomornya.

“Semoga kau cepat selesai.” Lambai Jackson. Nayeon melihat nomor dari Jackson. “Nomor 56? Padahal aku tadi 97. Ada apa dengan orang ini?”

Usai mengumpulkan barang-barang, siswa-siswi harap berkumpul di halaman sekolah untuk menerima pengarahan tentang pendakian minggu depan. Mulai dari barang-barang vital yang harus mereka bawa secara pribadi sampai kondisi udara di sana.

“Seminggu lagi kita akan berangkat. Dua hari sebelumnya, diharapkan kembali berkumpul untuk mengingatkan lagi. Mulai besok kalian bisa libur dan mempersiapkan barang-barang kalian masing-masing.”

Usai pengarahan dari kepala sekolah, siswa-siswi kembali ke asrama masing-masing. Mereka baru diijinkan pulang besok pagi. Menghindari bahaya malam hari untuk siswi.

Jackson mengetuk kamar Nayeon. “Jackson-ah? Wae?” sambut ramah Sana.

“Boleh aku bertemu Nayeon sebentar?”

“Chankkaman.” Sana memanggil Nayeon.”Nayeon sedang mandi. Bisa aku sampaikan saja padanya?”

“Aniyo. Nanti katakan saja, aku menunggu dia di Katak Mancur.”

“Geurae..” Sana menutup pintu kamar.

“Siapa?” tanya Nayeon sambil mengeringkan rambut.

“Ya! Jackson baru saja pergi.” Nayeon menaikkan sebelah alisnya. “Dia menunggumu di Katak Mancur.”

“Mau apa dia? Hanya aku saja?” Sana mengangguk. “Mau aku temani?” pinta Momo.

Nayeon tersenyum, “Tidak usah saja.” Senyum Momo meredup.

“Tumben sekali Jackson menemuimu?”

“Mungkin ada yang penting. Aku pergi..” pamit Nayeon dan menghilang dibalik pintu.

Jackson duduk di kursi Katak Mancur. Katak Mancur adalah sebutan taman di asrama Seungri High School. Pertama kali mendengar ingin tertawa, namun itu akan menjadi kebiasaan anak-anak asrama Seungri High School untuk menghabiskan waktu.

“Jackson.” Panggil Nayeon dari belakang. Jackson berbalik, “Oh kau sudah datang.”

“Kenapa mencariku?”

“Apa kau akan pulang ke rumah?”

“Mungkin. Ada beberapa barang yang masih belum aku bawa. Wae?”

“Aniyo, aku hanya ingin bilang jangan lupa membawa baju hangat dan jaket tebal. Di sana udara sangat dingin. Oh ya! Kau harus membawa banyak kaos kaki, agar kakimu tidak kram di sana.”

“Arraseo..” senyum Nayeon. “Kau pernah ke sana sebelumnya?”

“Belum, tapi aku mencari tahu di internet.”

“Sepertinya kau sangat ingin ke sana.”

“Geuromyo.. aku ingin menunjukkan sesuatu pada seseorang.” Nayeon tersenyum, “Sepertinya kau mau mengakui perasaanmu pada seseorang?” Jackson tersenyum.

“Oh ya, kenapa malam ini bintangnya cantik sekali ya..” Jackson ikut menatap langit. “Kau benar. Ada apa dengan malam ini.” Jackson beralih menatap Nayeon yang terkesima dengan bintang-bintang malam ini.

‘Nayeon-ah, maukah kau jadi kekasihku?’ batin Jackson.

~JeEn~MaMo~BamNa~

“Baiklah, apa semuanya sudah berkumpul di sini? Bisa kita mulai sekarang?”

“Ne…”

“Baiklah, kita ada 4 bus. Setiap bus muat 40 orang. Siapa saja yang masuk bus 1 sudah ditempel di papan pengumuman kemarin. Kalian sudah melihatnya?”

“Sudah..”

“Sekarang kalian mulai merapat, berbaris sesuai busnya.”

“Songsaengnim, tempat duduknya bebas bukan?”

“Mwo? Sesuai dengan urutan nomor kalian chagi..” beberapa siswa mendesah mendengarnya.

“Ohh eottohkke..” kesal Momo.

“Waeyo?”

“Aku duduk dengan Mark.” Ujar Momo sedih. Ia terduduk menyembunyikan wajahnya.

“Aku duduk dengan siapa ya..” ujar Nayeon cemas. Ia sudah duduk di bus tapi teman sampingnya belum datang. Ia takut kalau duduk dengan orang aneh atau gangster sekolah. Hingga guru Kang mengumumkan, teman sebangku Nayeon belum datang juga.

“Songsaengnim, apa aku duduk sendiri?”

“Ne? Nayeon-ah?” Nayeon mengangguk. “Kau duduk dengan Chaeyoung. Sebentar lagi dia datang.”

Jackson duduk di belakang Nayeon bersama Bambam. “Ya! Kau baik-baik saja?” tanya Bambam melihat Jackson tersenyum tidak jelas.

“Aku baik-baik saja. Memang ada apa?”

“Kau sedang jatuh cinta?”

“Siapa? Siapa yang jatuh cinta?” elak Jackson. “Eiii.. wajahmu merah..”

“Ahh sudahlah jangan mengganggu.” Jackson menghadap jendela.

Perjalanan ke gunung Halla memakan waktu 7 jam. Bus berhenti di pemberhentian pertama. Semua penumpang turun dan berganti bus kecil untuk mencapainya. Perjalanan dari pemberhentian memakan waktu 3 jam. Jackson terpisah oleh Nayeon.

“Ya! Ireona.. ireona.. ireona…” semua siswa turun dengan wajah mengantuk.

“Persiapkan apa yang kalian butuhkan. Pendakian dimulai jam 3 pagi.”

Nayeon berjalan bersama Sana. “Ya! Dimana Momo?”

“Ehm, dia bersama Mark.” Jawab Sana.

“Mereka berkencan lagi?” Sana menggeleng. “Mark yang mengajak.”

Jackson dan Bambam berjalan paling akhir. Mereka takut terjadi apa-apa dengan rombongan terakhir, maka mereka berangkat terakhir. Terlebih juga karena ada Nayeon di sana.

“Nayeon-ah?” Momo mencari Nayeon di belakangnya. “Kemana dia?” Momo melepaskan pegangan Mark dan berlari ke belakang. “Momo-ya?” panggil Mark.

Semakin pagi udara semakin dingin. Jalannya licin dan berlumpur. Nayeon dan kedua temannya berada di barisan paling akhir bersama Mark, tapi untunglah Jackson dan Bambam masih bersama mereka.

“Ya! Kenapa kita tidak mendahului mereka saja?” ujar Bambam.

“Mereka ini perempuan. Bagaimana kalau terjadi apa-apa?” ujar Jackson.

“Ini bukan karena kau tertarik salah dari mereka kan?”

“Kau ini bicara apa?” Jackson berjalan mendahului Bambam. “Eii.. ketahuan dia sekarang.”

“Boleh kita istirahat sebentar. Aku seperti tidak kuat.” Ujar Nayeon.

“Geurae..” Nayeon memandang Momo dan Mark menggunakan lampu senter. Sambil minum, mereka berbincang sebentar.

“Kalian berkencan lagi?”

“Siapa? Aku?” tunjuk Momo pada dirinya. Nayeon mengangguk. “Ahh, tidak kok.”

“Tapi, sepertinya Mark berkata lain.” Ujar Sana.

“Ya! Kau bicara apa Sana-ya..”

“Kajja.. kita lanjut mendaki.”

Jackson selalu berada di belakang Nayeon. Saat Nayeon ingin jatuh, ia selalu siap menolong. Namun sayang, ia tidak pernah bisa menolong. Ketika Nayeon berteriak kesakitan, Jackson langsung menghampiri dan berniat membantu, namun lagi-lagi ia tidak dapat membantunya. Jackson hanya bisa memegang udara saat ingin memegang tangan Nayeon.

Ketika rombongan terakhir sampai puncak, sunrise mulai menampak. Semua siswa dan guru bersorak senang karena berhasil mendaki gunung Halla dengan selamat tanpa luka apapun.

Nayeon meloncat senang karena bisa melalui jalan-jalan licin, tangga-tangga yang tinggi dan berlumpur. “Woaah.. aku bahagia sekali…” ujarnya sambil menepuk tangannya.

“Wooaahh.. aku senang sekali..” Nayeon tidak sadar kalau tali sepatunya lepas. Ia terus saja berteriak seperti itu. Jackson melihatnya dari belakang tersenyum senang. Tapi, lama-lama senyum Jackson menghilang. Ia berlari menuju Nayeon karena ia hampir saja terjatuh karena kecerobohannya.

“Aaaaaaa…” Nayeon hendak jatuh ke belakang. Untunglah Jackson segera menolong Nayeon dari belakang. Namun hal yang sama juga menimpa Jackson. Kakinya tidak seimbang sehingga mereka berdua terguling ke bawah sampai perbatasan tanah dengan jurang.

“Nayeon-ah!!!” teriak Momo saat menyadari Nayeon tiada di sampingnya.

“Ya! Jackson!!” teriak Bambam juga. Semua mata tertuju pada Nayeon dan Jackson. Momo hendak berlari ke bawah tapi ditahan Bambam. “Jangan ke sana dulu. Biarkan petugas yang ke sana.”

“Tapi Nayeon?”

“Dia akan baik-baik saja. Jackson juga.”

Nayeon membuka mata. Kedua temannya melihat dirinya dari samping kiri dan kanan. “Nayeon-ah, gwaenchana?”

“Kau bisa mendengarku?” pandangan Nayeon tidak pada mereka. Ia masih syok dengan apa yang dialaminya tadi. “Nayeon-ah, gwaenchana?” Sana kembali mengulang perkataannya.

“Aku jatuh sendiri?”

“Jackson yang menyelamatkanmu, tapi dia juga ikut jatuh.” Jawab Momo.

Bambam membantu Jackson menggunakan perban di tangan, dahi, dan sudut bibir. “Ya! Kau tertarikkan dengan dia?” kecam Bambam.

“Kau sudah tahu kenapa masih bertanya?” Jackson menahan senyum malu.

“Eiii.. aku sudah tahu dari tingkahmu itu, tapi kau belum mau mengakui.”

“Apa dia sudah sadar?” Bambam mengangguk. “Kudengar dia masih syok.”

“Tapi dia menggemaskan.” Dahi Bambam mengerut, “Apanya?”

“Tingkahnya saat di puncak tadi. Rasanya aku ingin tertawa.”

Nayeon membuka kasar pintu ruang kesehatan. Ia mencari Jackson. “Im Nayeon?” panggil Bambam. “Kau sudah baikan?” Nayeon diam. Bambam membantu Nayeon duduk. “Kau kenapa?”

“Jackson?”

“Dia di sana. Wae?”

“Apa dia baik-baik saja?” Bambam mengangguk dan tersenyum. “Apa lukanya parah?”

“Bagi namja, luka ringan sudah biasa. Bagaimana denganmu?”

“Aku tidak apa-apa. Kudengar kau pulang ke Thailand?” Bambam mengangguk.

“Kenapa cepat-cepat kemari?”

“Aku tidak mau meninggalkan acara ini. Aku suka travelling, jadi aku harus ikut.”

“Apa aku boleh menemui Jackson.”

“Silakan. Mungkin dia masih mengobati lukanya.”

Nayeon menyingkap tirai pembatas ruangan. “Jackson-ah? Gwaenchana?” Nayeon mulai panik lagi. Ia menutup mulutnya karena begitu banyak luka yang dialami Jackson. “Ya! Kenapa banyak sekali? Kau pasti kesakitan? Iyakan?” Jackson tersenyum.

“Ya! Mwoya? Kenapa hanya tersenyum?? Aku bantu obati lukamu.”

“Tidak usah. Lukaku sudah sembuh.”

“Mwo? Kau bercanda?” Jackson menggeleng, “Aniyo, aku serius. Setelah melihat wajahmu lukaku tidak sakit lagi.”

“Ya! Kenapa semua namja selalu merayu?”

“Namja lain mungkin iya, tapi aku tidak.” Nayeon membuat tanda tanya besar di kepalanya.

“Ayo… kita harus kembali ke puncak sebelum kabut.”

“Tapi kau?”

“Aku baik-baik saja.”

Jackson dan Nayeon kembali ke puncak Halla untuk menyaksikan pemandang yang indah. Dari atas, mereka bisa melihat Jeju secara keseluruhan. Pemandangan yang indah dan cantik dapat dilihat langsung. Udara segar tanpa polusi yang selalu di rindukan, di sini ada semua.

Momo dan Sana disibukkan dengan foto bersama Bambam dan Mark. Momo tidak lagi canggung dengan Mark, karena ia memilih dekat dengan Bambam. Bambam memberikan informasi kepada kedua teman Nayeon ini untuk tidak mengkhawatirkan Nayeon. “Chingu-ya!!!!” teriak Bambam. Seluruh siswa dan guru menghentikan aktivitasnya. “Kalian mau lihat sesuatu?”

“Ne…”

“Lihatlah ke arah matahari terbit. Dengarkan baik-baik.” Teriak Bambam.

Nayeon kebingungan dengan teriakan Bambam. “Ya! Arah matahari terbit itu, ke arah kita kan? Kenapa mereka melihat kita semua?”

“Kau ingat malam itu? Malam saat bintang-bintang sangat cantik?”

“Ohh.. aku ingat. Wae?”

“Kau ingat perkataanku? Saat kau bilang aku akan mengakui perasaanku pada seseorang di puncak Halla?”

“Ohh.. aku juga ingat itu.”

“Kenapa kau mengingatnya?”

“Karena itu baru seminggu yang lalu.”

“Benarkah?” Nayeon mengangguk, “Benar. Ingatanku kan kuat.”

“Baiklah, karena ingatanmu kuat, jadi kau harus ingat ini sampai mati. Kau harus tetap ingat ini walaupun ini memalukan bagimu.” Nayeon mengangguk, “Geurae, aku akan ingat itu. Memang apa itu?”

Jackson berlutut tepat di bawah sinar matahari pagi, disaksikan oleh ratusan siswa-siswi Seungri High School. Jackson menghadap ke matahari sebentar. “Im Nayeon, kau tahu apa yang akan aku lakukan?”

“Entahlah, memang apa?”

“Lihatlah ke kananmu. Matahari menjadi tanda bahwa pagi telah datang.”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Maukah kau menjadi kekasihku?” teriak Jackson tiba-tiba. “Jackson-ah, apa maksudmu?”

“Aku bilang, maukah kau menjadi kekasihku? Saat matahari telah datang, dan disaksikan banyak orang seperti ini aku ingin bilang, maukah kau menjadi kekasihku?” Nayeon diam tidak paham. “Apa kau sedang menyatakan cintamu padaku?” Jackson mengangguk.

“Ohh.. kenapa udara menjadi panas seperti ini..”

“Woooaahhh…. terima… terima… terima…” teriak siswa dan guru yang melihat mereka, terutama Bambam. Bambam bagaikan tim sukses dalam acara ini.

“Ayo terima saja dia!!!”

“Jangan!! Kalau kau menerimanya, jangan harap kau bisa masuk asrama putri lagi!!” teriak Shim saem.

“Ayolah.. ini kesempatan langka!! Juga tidak banyak namja yang seperti dia!! Ayo terima saja Nayeon haksaem..”

Nayeon menjadi malu. Nayeon malu dengan dirinya dan Jackson. Ia sangat malu. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab teriakan orang-orang disekitarnya. “Ayolah cepat terima!! Udara semakin dingin, kalian mau mati kedinginan di sini?”

“Uwaaahh.. romantis sekali..” ujar Sana.

“Hei, dengarkan dulu!!! Tidak hanya Nayeon dan Jackson hari ini, tapi masih ada satu pasangan lagi. Jadi, jangan buru-buru untuk turun!! Mungkin salah dari kalian ingin juga seperti itu, silakan! Ini moment langka..”

“Im Nayeon, maukah kau menjadi kekasihku?” teriak Jackson lebih keras. Dengan ragu Nayeon menjawab dengan anggukan polos ala Im Nayeon. Jackson berdiri dan memeluk Nayeon dengan senang. Orang yang melihatnya ikut bersorak bahagia atas jadinya Nayeon dan Jackson.

“Ya! Lalu siapa selanjutnya?”

“Sebenarnya, ini bukan pasangan baru, tapi ini pasangan yang hampir kadaluarsa tapi nyambung lagi. Mark dan Momo.” Sana menoleh ke arah Momo.

“Momo-ya? Jadi hanya aku saja yang tidak punya pacar di sini?”

“Kau akan segera mendapatkannya. Pasti!!”

Momo ditarik Mark ke depan. “Pasangan ini, sejak kemarin selalu bersiteru, maka hari ini mereka ingin berbaikan. Tolong saksikan chinguya..”

“Momo-ya.. seminggu yang lalu, kita bertengkar. Aku tidak bisa lama-lama seperti ini. Apa kau mau berbaikan denganku hari ini? Aku janji, aku tidak akan mengulang hal itu lagi. Aku janji, aku tidak akan membuatmu menangis dan marah lagi. Apa kau mau berjanji padaku?” Momo tersenyum malu-malu. Momo tidak mau menjawab dengan lisan, ia terlalu malu untuk berbicara.

~JeEn~MaMo~BamNa~

“Ya! Kau seperti tim sukses pemilu.” Tepuk Sana di pundak Bambam.

“Hahaha aku merasa seperti wasit sepak bola tadi, sangat malu aku.”

“Kau mengusulkan orang lain, kenapa kau sendiri tidak?”

“Aku punya cara sendiri untuk mengungkapkan perasaanku.”

“Hahaha kau namja penuh misteri.” Bambam berjalan menuntut ke arah Sana. “Wae? Apa kau suka dengan namja penuh misteri?”

“Tidak begitu. Tapi aku hanya suka satu orang.” Dahi Bambam berkerut. “Dia lebih dari misteri. Kau pasti tahu dia.” Sana mendorong Bambam dan pergi.

Jackson menggenggam tangan Nayeon saat menuruni tangga-tangga licin gunung Halla. Keinginan Jackson akhirnya terwujud. Keinginan untuk menggenggam tangan Nayeon saat melewati jalan-jalan ini. Sejak malam tadi, Jackson sangat khawatir tentang Nayeon. Ia rela menjadi penutup barisan demi Nayeon. Semuanya demi Nayeon, walaupun Nayeon tidak merasakan hal itu.

“Kau tahu,” Jackson membuka pembicaraan. “Apa?” Nayeon sibuk membenarkan lengan bajunya.

“Aku sangat khawatir denganmu tadi.” Jackson mendahului Nayeon berjalan dan membantunya turun. “Wae? Memang aku kenapa?”

“Saat mendaki tadi, kau selalu saja berteriak yang membuatku khawatir. Aku di belakangmu tapi aku tidak bisa apa-apa. Untuk menolongmu saja, rasanya sangat jauh.” Nayeon tersenyum. “Benarkah?”

“Ya! Kau tidak percaya? Aku ini bagaikan orang yang selalu terlambat.”

“Hahahaha… arraseo. Tapi, kenapa kau repot-repot berjalan di belakangku?”

“Orang macam apa yang rela ditinggal rombongannya demi wanita yang dicintainya?” ujar Jackson. Nayeon terkesima dengan kata-katanya.

“Ketika aku tak bisa meraih tangan basahmu, aku terus berdoa agar kau sampai puncak dengan selamat.” Nayeon suka dengan Jackson yang seperti ini.

“Ya! Apa kau juga tahu? Kenapa aku berada di rombongan belakang?” Jackson menggeleng. Merasa sedang ditodong.

“Karena aku ingin dekat denganmu! Kupikir kau ini tipe namja yang tidak peka dengan perasaan yeoja. Kupikir kau ini namja yang dingin dan tidak sopan. Kupikir kau ini namja yang hanya suka dekat dengan banyak yeoja. Kupikir ….” Nayeon berhenti berceloteh.

“Kupikir apa?”

“Kupikir, aku telah jatuh cinta.” Ujar Nayeon dan pergi.

“Eiii… yeoja macam apa yang mengakui perasaannya di depan kekasihnya?” Jackson berjalan pelan di belakang.

“Ya! Kitakan sudah jadi kekasih, kenapa harus saling jaim?”

“Ohh.. jadi begitu ya.. kalau sudah jadi kekasih tidak perlu jaim?” nada Jackson merendah. Nayeon berbalik, “Ya! Kau sedang tidak berlaku mesum kan?”

“Aniyo.. aku sedang merayu kekasihku..” Jackson memeluk Nayeon dari belakang. “Ya! Ini masih di gunung! Jangan berbuat macam-macam!!”

“Geurae.. akan aku tunda mesumnya.”

“Ya!!!” Nayeon melepas kasar peluknya. “Arraseo.. aku akan menjaga dan melindungimu, apapun yang terjadi.”

“Geuraeyo…”

“Momo-ya.. kau serius tidak mau denganku?”

“Ya! Kau mau melanggar peraturan?”

“Ayolah, inikan sedang tidak di asrama,” mohon Mark. Momo menggeleng keras. “Aku tidak mau tertangkap tidur denganmu di sini.”

“Wae? Hanya di sini kita bisa berduaan tanpa ada yang mengganggu.” Momo berhenti membereskan baju. “Benar juga ya?” mata Mark berbinar. “Tapi aku tidak mau. Aku mau tidur dengan Sana dan Nayeon.”

“Ya! Apa Nayeon mau tidur dengan kalian? Diakan baru saja jadian sama Jackson.”

“Nayeon tidak sepertimu! Sudah ya, besok kita bertemu..” lambai Momo.

Malam ini, bintang kembali menampakkan kecantikan melalui gemerlapnya. Tidak seperti malam sebelumnya yang mendung dan berangin kencang. Malam ini, bagaikan malam istimewa untuk setiap pasangan kekasih. Sayangnya, hanya Bambam dan Sana yang menyaksikan keindahan bintang malam ini.

Siswa dan siswi lainnya terlalu lelah untuk membuka mata. Ada juga yang hanya melihat dari jendela kamar penginapan saja, namun tidak seindah di sini. Di tempat yang luas. Sana dan Junior berbaring dengan posisi kepala mereka saling berhadapan. Tubuh Sana menghadap ke utara, tubuh Bambam menghadap selatan.

“Lihatlah! Ada bintang jatuh..” tunjuk Sana dan segera membuat permintaan.

“Apa yang kau minta.”

“Aku tidak mau memberi tahumu.”

“Wae?”

“Nanti kau akan tahu.”

“Kenapa langit secerah ini ya?”

“Mungkin udara sehari-hari memang begini.”

“Tidak biasanya.” Bambam menghadap ke wajah Sana. “Wae?”

“Ada satu bintang yang menarik perhatianku.”

“Yang mana?” Sana menghadap langit. “Dia di sini. Tidur denganku, dia di samping kananku.”

“Benarkah? Seperti apa dia?” Sana menghadapkan seluruh tubuhnya pada Bambam.

“Dia sangat cantik. Lebih dari bintang-bintang di atas. Bintang itu, lebih cantik saat rambutnya terurai seperti sekarang. Saat tersapu angin, aku dapat memegangnya, mencegah agar angin tidak membawanya pergi.”

“Kau puitis dan romantis.” Puji Sana.

“Aku bilang apa? Aku punya cara lain untuk mengungkapkan perasaanku. Kau mau tahu?” Sana tertawa. “Wae?”

“Kenapa menunjukkan kepadaku? Tunjukkan pada orangnya.”

“Orangnya ada di sini.” Sana membulatkan mata. “Kau mau lihat, bagaimana aku menunjukkan padamu?”

“Selama kau tidak keberatan tidak apa-apa.” Bambam bersiap melakukan apa yang dilakukan Jackson tadi pagi. Posisi Bambam telungkup dengan kepala tegak. Sedangkan Sana tetap berbaring seperti sediakala.

“Kalau boleh aku tahu, apa permintaanmu tadi?”

“Kau akan terkejut.”

“Memang apa?” Sana membisikkan ke telinga Bambam. Bambam tersenyum. “Kenapa kau minta seperti itu?”

“Permintaan itu bisa apa saja bukan?”

“Kau siap?” Sana mengangguk. “Mendengar apa yang kau minta tadi, sepertinya aku tidak mau mengulang.”

“Wae? Biar romantis.”

“Aish.. kau suka romantis?” Sana mengangguk senang. “Baiklah..”

“Sana-ya, yeoja yang gila romantis, bersediakah kau menjadi kekasihku?”

“Tentu..” Bambam mencium lembut Sana. Dalam posisi ini, mereka lebih mudah untuk berciuman.

Langit malam dan bintang gemerlap menjadi saksi jadiannya mereka. Agak berbeda dari kedua temannya, namun yang jelas Bambam dan Sana jadian masih dalam lingkup gunung Halla, Jeju Island. Dalam satu kawasan, sudah ada tiga pasangan yang jadian. Ini baru hari pertama mereka tiba, bagaimana hari besok? Pasti lebih banyak lagi.

~JeEn~MaMo~BamNa~

Orang macam apa yang rela ditinggal rombongannya demi wanita yang dicintainya? Apa kau tahu betapa khawatirnya aku padamu saat itu? Ketika kau terpeleset saat menaiki tangga-tangga licin. Ketika aku tak bisa meraih tangan basahmu, aku terus berdoa agar kau sampai puncak dengan selamat. Aku selalu dibelakangmu, walau kadang aku bertingkah kekanak-kanakkan. [Jackson and Nayeon]

Berjanjilah untuk selalu senantiasa bersamaku. Jangan sampai kau lepas dari genggamanku saat pulang dari gunung Halla nanti. Aku akan terus mengawasimu walau kau tidak dalam genggamanku. Hati kita akan selalu bersatu meski pertengkaran selalu mencoba memisahkan kita. [Mark dan Momo]

Aku bilang, aku punya cara lain untuk mengungkapkannya yeoja gila romantis!!! Disaat yang lainnya mengungkapkan di bawah maupun di depan sinar matahari, aku lebih suka mengungkapkan di bawah langit malam dengan cahaya bintang cantik. [Bambam and Sana]

~!~ FINS ~!~

2 thoughts on “[Story-Mix] Halla Mountain”

  1. hi there!
    waaah kita ketemu lagi di fict lain ehehhe

    dor tembak tembakan semua nih jadi ngiri (?) *apaan*
    jackson perjuangannya macem paling kesian dibanding lainnya wkwkwk xD

    and see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s