[Vignette] Lebih Berwarna

Lebih Berwarna

Lebih Berwarna

CrimsonEmerald

Romance, vignette, rated: Teen

Im Jaebum (GOT7) & Joo Inhyung (OC)

.

.

.

Inhyung POV

 

Aku terjaga semalaman. Mataku terasa berat dan tubuhku luar biasa lelah. Aku berjalan sempoyongan dan menabrak apapun yang berada di depanku setiap sepuluh detik. Aku meringis keras ketika lututku terantuk meja.

Ibu yang melihat keadaanku memarahiku, ia kira aku begadang karena  marathon drama seperti yang biasa kulakukan. Padahal, aku sedang memikirkan apa yang Minsoo katakan semalam.

 

“Saat kau bertemu dengannya, hidupmu mulai berubah.”

Selesai mengikat tali sepatuku, aku berjalan sambil termenung.

 

“Semua yang kau lihat, semua yang kau dengar, dan semua yang kau rasakan.”

“Segala hal di sekitarmu terlihat lebih berwarna ketika kau jatuh cinta.“ Tanpa sadar aku menggumamkan apa yang Minsoo katakan kemarin sore, ketika kami pulang bersama dan aku sempat mengeluhkan beberapa hal yang akhir-akhir ini menggangguku.

Aku sampai di depan pintu pagar, lima belas menit lagi jam pertama di kelasku akan segera di mulai. Karena itu aku harus bergegas sebelum terlambat.

“Tapi, apa maksudnya, huh?” keluhku—tidak mengerti.

Meski aku telah memikirkannya semalaman, tak satupun dari kata-kata Minsoo yang bisa kucerna.

Ya, Joo Inhyung. Kenapa wajahmu bengong seperti itu? Nanti kau terlambat.”

“Oh, Jaebum.” Aku sedikit terkejut ketika tetanggaku itu tiba-tiba menyapaku. Jujur saja, aku tidak menyadari kehadirannya, tampaknya ia baru saja berangkat seperti halnya diriku.

Namanya Im Jaebum, tetangga sekaligus sahabatku. Kami sudah berteman sejak berumur lima tahun, dan selalu sekelas sejak saat itu. Aku sering bermain playstation di rumahnya. Ibunya juga sudah mengenal keluargaku cukup lama.

Singkatnya, kami sangat dekat hingga seminggu terakhir ini aku sengaja menjauhinya.

“Akhir-akhir ini kita tidak pernah berangkat sama-sama lagi, ya?”

Aish, gawat. Sepertinya Jaebum sadar kalau aku sengaja menghindarinya.

Aku tertawa dipaksakan, tidak bisa menjawab pertanyaan telaknya. Sangat tidak mungkin jika kukatakan bahwa aku sengaja menjauhinya. Ia pasti akan menanyakan alasan dan aku tak punya jawaban.

Aneh, bukan? Aku menjauhinya tanpa sebuah alasan. Ini seperti bukan diriku yang biasanya.

“Hah? Bukannya sekarang kita sudah bertemu.”

“Iya. Tapi kau sepertinya menghindariku, atau cuman perasaanku?” Jaebum bertanya-tanya sambil mengusap belakang lehernya. Ia menoleh—melirikku yang berjalan tepat di belakangnya.

“Ah, paling cuman perasaanmu.”

Ini aneh, benar-benar aneh. Perasaan yang akhir-akhir ini mengusikku kembali terasa, ketika tak sengaja mataku menatap lurus ke dalam matanya.

Mata Jaebum yang hitam dan dalam. Selama beberapa saat, aku seperti melihat binar dalam matanya. Aku yakin itu bukan karena pantulan cahaya mentari, melainkan seperti datang dan bersinar sendiri.

Apa barusan aku berhalusinasi?

“Sudahlah. Kita harus cepat. Nanti terlambat.” ucapku cepat kemudian memutuskan kontak mata dengannya.

Aku berjalan dengan tergesa, mencoba mendahuluinya, dengan canggung kunaikkan tali tas ranselku yang agak longgar.

Sudah sepuluh tahun aku mengenal Jaebum dan ini adalah kali pertama aku merasa gugup ketika bertatapan dengannya.

Aku menggigit bibir, dalam hati menjerit frustasi. Penasaran dengan apa yang sedang menimpaku saat ini.

Mengapa susah sekali untuk menatap kedua matanya?

Mengapa rasanya sulit sekali untuk jalan berdekatan dengannya?

Dan anehnya lagi mengapa aku merasa gugup. Jantungku berdetak dengan cepat dan hatiku serasa ingin meledak. Seperti ribuan kupu-kupu memenuhi rongga dadaku dan memaksa untuk keluar dengan cara mendobrak.

Padahal dulu, kami selalu bermain bersama. Saling bicara, tertawa, dan sering juga aku menangis di hadapannya.

Mengapa aku merasakan ini? Hingga memaksaku harus terus menghindarinya.

Apa yang salah denganku?

Aku tanpa sadar meremas seragam depanku. Sesuatu yang tersembunyi di dalam rongga dadaku terus terpompa dan bertalu-talu. Suaranya menggema dalam kepalaku, membuatku harus berkali-kali menggelengkan kepala untuk mengenyahkan suara itu.

Ah, perasaan ini benar-benar menganggu. Meski sudah kucoba membicarakannya dengan Minsoo, tapi tampaknya hal itu sama sekali tidak berhasil.

Ya, Joo Inhyung! Tunggu aku!”

Aku menoleh ke belakang, Jaebum berlari-lari kecil untuk menghampiriku. Sepertinya jalanku terlalu terburu-buru.

“Astaga, kenapa kau tiba-tiba jalan secepat itu? Seperti lari saja”

Jaebum mengacak rambut belakangnya.

Aku tersenyum. Mengacak rambut belakang adalah kebiasaan lama Jaebum, ia selalu melakukan hal itu ketika mulai lelah.

“Kau sudah lelah, ya?” tanyaku spontan.

Aku tersenyum jahil, jarang sekali Jaebum cepat letih seperti ini. Aku yakin dia takkan suka jika aku mengejeknya.

“Siapa bilang? Aku cuma melamun tadi.” gerutu Jaebum kali ini kembali mengacak rambut belakangnya.

Aku tertawa. Jaebum benar-benar mudah ditebak. Wajahnya berkerut tidak suka ketika aku mengejeknya. Itu karena Jaebum paling anti jika diejek oleh wanita.

“Dasar pembohong. Kau pikir aku baru mengenalmu apa? Mengaku saja, kau pasti lelah saat mengerjarku tadi, kan?” candaku lagi-lagi menertawakan Jaebum, yang tentu tak sudi mengaku begitu saja.

“…”

“…”

“Akhirnya kau tersenyum juga.”

“Hah?” Aku berhenti tertawa, tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakannya.

“Kubilang akhirnya kau tersenyum juga. Soalnya akhir-akhir ini wajahmu menakutkan!” jelas Jaebum gantian tersenyum tengil.

Ia berjalan dengan cepat, meninggalkanku yang mendengus keras usai mendengar ejekannya.

Aku berbalik untuk mengejarnya, menatap ke arah punggung lebar Jaebum di depanku.

Ah, lagi-lagi perasaan ini.

Perasaan di mana jantungku berdetak cepat dan hatiku serasa akan meledak. Kala aku merasa berdebar dan gugup di saat yang bersamaan. Aku berhenti mengejarnya dan berdiri dari jauh untuk memerhatikan sosok Jaebum, dan saat itulah kusadari.

Bahwa ketika aku bersamanya—semua yang kulihat, semua yang kudengar dan semua yang kurasakan.

Segala hal di sekitarku jadi lebih berwarna dan seluruh dunia seperti berkilauan.

‘Oh, jadi ini maksud Minsoo kemarin.’ gumamku dalam hati lantas tersenyum.

Aku berbalik, tidak lagi menoleh untuk melihat punggung Jaebum yang kian menjauh. Aku mendongakkan kepala untuk memeriksa daun-daun kecokelatan yang menaungiku dari atas sana. Tampaknya, hujan kemarin malam telah merontokkan sebagian dari daun-daun tersebut. Helaian daun berwarna coklat keemasan itu berdesir, oleh hembusan angin yang menerpanya.

Aku memejamkan mata, lalu berbisik.

“Jaebum, pabo. Aku menghindarimu justru karena aku suka menyukaimu, hah.”

“Siapa yang kau panggil bodoh, hah?”

“Jaebum!” Aku tersentak, Jaebum tiba-tiba mendorong kepalaku dari belakang—main-main. Aku berbalik dengan cepat, menatapnya.

“A-Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau tadi sudah pergi lebih dulu? Apa kau mendengar yang t-tadi?”

Ah, sial. Aku terbata-bata, jelas sekali kalau aku sedang gugup saat ini.

Jaebum menyeringai. Memandangku dengan tatapan tengilnya. Aku marah, malu dan berdebar di saat yang sama.

“Lu-Lupakan apa yang kau dengar tadi!” tegasku menudingkan jari di depan wajahnya, sebelum berbalik menghentakkan kaki. Aku melihatnya masih menyeringai bahkan ketika aku berbalik untuk meninggalkannya.

Aku hampir mati karena malu dan berjalan meninggalkan Jaebum. Rasanya aku tidak sanggup melihat wajahnya lagi.

Namun, Jaebum mengatakan sesuatu yang berhasil menghentikan langkahku.

“Bodoh. Kenapa kau marah? Padahal aku juga merasakan hal yang sama.”

Aku terdiam, masih tidak bisa memastikan bagaimana ekspresi Jaebum yang saat ini berdiri di belakangku.

“Joo Inhyung.” Jaebum memanggil namaku, dengan suara dalamnya yang membuat jantungku berhenti terpompa. Ia berjalan ke hadapanku, menatap kedua mataku dan tersenyum tipis.

“Toh, kita merasakan hal yang sama. Jadi, buat apa kau malu?”

“Sama?” Aku masih belum mengerti, Jaebum sudah terlalu sering membuatku bingung dengan perasaanku sendiri.

“Iya, maksudku sama.” Jaebum mengangguk, masih tersenyum.

“Jantung berdebar, hatimu serasa akan meledak, dan dadamu seperti dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu. Aku mengerti sekali bagaimana perasaanmu karena aku sudah pernah merasakannya.” Jaebum tertawa, kemudian menggeleng. Ia menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan, itu tanda ia sedang malu dan aku sudah mengetahui tingkahnya yang satu itu.

“Aku bahkan sudah merasakannya sejak bertahun-tahun yang lalu, jauh lebih dulu darimu, Inhyung-ah.” Jaebum lagi-lagi tersenyum dan darah dengan cepat mengalir menuju ke daerah wajahku. Pipiku memerah karena malu.

“Jadi, ma-maksudmu?” Aku sengaja masih bertanya, walaupun saat ini aku merasa malu luar biasa. Tanpa sadar aku menutupi separuh wajahku dengan telapak tangan—gestur sama yang dilakukan oleh Jaebum.

Jaebum menggaruk belakang kepalanya—salah tingkah, ia kemudian membisikkan sesuatu ke telingaku.

Bersamaan dengan itu, angin berhembus, daun-daun berdesir dan suara gemerisik halus berpadu dengan bisikan Jaebum.

 

“Nan niga joha, Joo Inhyung.”

Dan ah, semuanya memang tampak lebih berwarna ketika kau jatuh cinta.

END

 

 

Plis ini demi apa, aku gak tahu kenapa aku bikin fict beginian :”) haha

Kayaknya aku kena demam cerita cinta anak sma aih~

Semoga suka aja lah ya~ :”

2 thoughts on “[Vignette] Lebih Berwarna”

  1. hi there!
    adaaawww fluff cinta ala anak yang cinta monyet memang uculll kiyowo manis sekalii yaa :3
    seperti Inhyung dan Jaebum~~~

    saya suka psoternya I don’t know. ya merasa muda ala anak sekolahan gitu lah hihihi

    see ya^^

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s