MY 20 eps.1

MY 20

By Goo Ma Ra

Starring SEVENTEEN’s Jeonghan, HELLO VENUS Seoyoung and NUEST Aaron

4 Episodes/17/romance/Episode 1

MY 20

#playSEVENTEEN-20

Everything you think of

 

Will become all of me

 

Look at me and be my lady

 

You’re my twenties

                                                                                                                            

            Panggilan masuk yang merusak telinga Jeonghan membuatnya mendengus kesal. Bagaimana tidak, waktunya bersantai mendengarkan music terganggu karena sebuah panggilan. Betapa terkejutnya ketika dia mengetahui siapakah yang menelpon. Karena rasa takut Jeonghan meredam emosinya dan mengangkat panggilan itu.

“Chagiya… Cepat jemput aku. Aku rasa aku tak sanggup menyetir. Cepat datang “

Suara wanita yang-sedikit-bersuara-seperti-ya-itulah membuat Jeonghan bergidik geli sekaligus merinding  ketakutan.

“Nuna ada dimana?”

“Ditempat biasa kita minum, chagiya… Cepat kesini, aku sudah tak.. uwekk”

“Eh Nuna tak apa? Kau baik-baik saja? Nuna? Nuna?”

“Cepat kesini, chagiya. Aku benar-benar mau… uwekk.. uwekk”

“Tapi, nuna dimana?”

“Kedai malbi di dekat kantor, babo! Cepat!! Kau memang chagi ku yang.. uwekkk”

Tut…tut..

“Hey jangan dimatikan!! Nuna!! Aish ada apa dengan mu?”

            Sejurus dengan terputusnya telepon dari wanita itu, Jeonghan langsung berlari kencang menuju tempat kejadian perkara-yang dituju-. Satu-satunya kedai malbi di dekat kantornya memang tak berjarak jauh dari kantor. Tapi… kantorlah yang berjarak hampir 2 km dari apartemen Jeonghan. Saat Jeonghan sampai di tempat itu.

“Annyeong, naui saranghanda. Muachhh.” Wanita itu melambaikan tangannya dan menyambut Jeonghan dengan kissbyenya. Wanita itu pun bangkit dari kursi dengan sempoyongan. Jeonghan mendapati 3 botol sake-minuman sejenisnya- di atas meja wanita itu.

“Kau menghabiskan semua itu?” Jeonghan menggeleng ria melihat kelakuan wanita itu.

“Sayang…” Disaat wanita itu akan menghampiri Jeonghan dengan badannya yang lemah bak tisu-kertas-, tiba-tiba dia terjatuh.

“Aww.. sakitt”. Wanita itu meringis kesakitan. Jeonghan pun menghampirinya.

“Kau bau sekali, Nuna”.

“Aduhh sakit sekali”.

“Sepertinya kau terkilir, sini biar aku..” Belum selesai menyampaikan niat baiknya menolong wanita itu, wanita itu langsung melayangkan bibirnya ke pipi Jeonghan.

*

*

*

            Jeonghan harus bergegas berangkat sekarang. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Setelah menunggu berbulan-bulan. Akhirnya dia mendapatkan pekerjaan juga sebagai seorang penyiar radio di sebuah statiun radio terkenal di Seoul. Gosipnya, Jeonghan akan menggantikan posisi seorang penyiar paling terkenal di Seoul. Gosipnya lagi, partner seniornya juga adalah seorang penyiar wanita terkenal di Seoul. Sepasang Merpati Radio, itulah julukan untuk sepasang kekasih yang kebetulan adalah partner di sebuah stasiun radio. Jeonghan benar-benar gugup hingga tak terasa kakinya melaju pesat dan sampai juga di kantor statiun radio yang dimaksud.

“Maaf, aku terlambat”. Jeonghan terengah-engah memasuki ruangan.

“Ah kau hampir terlambat di hari pertamamu. Semoga Seoyoung belum melihatmu. Kalau dia melihatmu.. Prakkk lehermu akan dipatahkan!!”

“Benarkah?” Jeonghan bergidik mendengar perkataan ketua tim.

“Tidak, aku hanya bercanda. Tapi, hampir seluruhnya benar. Akhir-akhir ini dia berubah semakin menjadi singa. Ya semenjak kejadian itu, kau tau saja lah. Jadi, berhati-hatilah. Semangat!!”.

“Baiklah, terima kasih ketua”. Jeonghan jadi penasaran seperti apa wanita bernama Seoyoung itu. Seniornya di profesi penyiaran radio yang sangat terkenal di Seoul itu apakah benar segarang itu?

“Ahh~ jadi ini bocah tengik yang membuat aku menunggu? Kau anak baru dan sudah berani membuat aku menunggu?”. Suara lantang seorang wanita membuat Jeonghan dipenuhi awan petir di ubun-ubunnya. Jeonghan perlahan membalikkan badan kearah suara lantang bak singa itu berasal.

“Annyeoghaseyo, Nuna. Maaf aku terlambat”. Jeonghan membungkuk dengan kakinya yang gemetar.

“Sebagai hukuman, bawa semua naskah itu dan juga tasku. Cepat!!!” Seoyoung lagi-lagi berteriak dan membuat telinga Jeonghan penging.

“Ne, nu-nuna.” Jeonghan langsung dengan sigap membawa semua yang diperintahkan seniornya itu.

TIME TO ON AIR

Selamat malam para pendengar setia. Kembali lagi di 897,9 FM frekuensi sahabat telinga anda. Dan kembali lagi bersama saya yang masih tetap setia menemani anda dengan formasi baru Seoyoung dan partner baru saya yang masih sangat muda, sepertinya. Mari sapa para pendengar, Yoo Jeonghan!!”.

Jeonghan seketika terpaku menyaksikan kepiawaian Seoyoung membawakan siaran radio hingga ruangan hening seketika.

“Haloo, sepertinya sahabat baru kita minta dipanggil sekali lagi. Yoon Jeonghan??”.

“Ah ne~ Annyeonghaseyo. Saya Yoon Jeonghan, salam kenal dan salam hangat penuh semangat dari saya untuk anda para pendengar setia radio kami. Terima kasih sebelumnya Seoyoung Nuna sudah memberikan intro yang begitu menakjubkan dan mampu membuat saya kikuk sebentar. Baiklah, Nuna Seoyoung. Apa yang akan kita lakukan pada pagi hari ini untuk para sahabat kita?”

“Sebelumnya aku ingin memujimu Jeonghan. Kau sepertinya cocok untuk ini ya? Haha”.

“Hehe, Nuna bisa saja”.

“Baiklah hari ini kita akan membahas tentang angka 20. Ada apa dengan 20?”.

—–

Siaran berjalan dengan lancar. Awal yang baik bagi Jeonghan. Melihat Seoyoung saat on air benar-benar membuat dia tak percaya dengan kesan pertamanya saat bertemu Seoyoung. Dia menarik kembali pendapatnya bahwa Seoyoung adalah singa, dia berubah 179’ saat membawakan siaran radio. Dia terlihat seperti wanita yang ceria, energik, dan penuh semangat serta sangat bersahabat.

“Sepertinya Seoyoung nuna adalah wanita yang baik”. Bisik Jeonghan dalam hati.

*

*

*

            Kurang lebih 5 bulan Jeonghan menjadi seorang penyiar radio. Kurang lebih 5 bulan pula Jeonghan kenyang mendengar teriakan-teriakan seniornya, Seoyoung. Di tambah lagi ternyata Jeonghan dan Seoyoung berseberangan apartemen, mereka tinggal di satu gedung yang sama. Seoyoung selalu saja menyuruh ini dan itu kepada Jeonghan, tiada hari tanpa meneriaki Jeonghan. Dia selalu berbicara dengan nada tinggi dan kasar. Memang sikap ini berlaku saat dia bertemu dengan siapa saja, akan tetapi dia benar benar keteraluan terhadap Jeonghan. Jeonghan selalu saja menurut apa yang dikatakan Seoyoung, selalu saja berusaha tak mengambil hati ketika Seoyoung memarahinya, selalu menerima apapun yang dikatakan Seoyoung padanya.  Jeonghan berfikir bahwa Seoyoung adalah wanita yang keras, tegas dan juga berprinsip kuat. Tapi menurut Jeonghan, dibalik itu semua Seoyoung nuna adalah orang yang sangat professional. Sebenarnya tak semua terdengar buruk saat dia marah-marah. Setelah Jeonghan mengambil hikmah dari semua perkataan Seoyoung nuna, Seoyoung nuna hanya beusaha sebaik mungkin mengajarkan semua hal kepada Jeonghan. Memang seperti itulah cara Seoyoung nuna untuk mengajarinya. Jeonghan berusaha berfikir positif.

“Siapa yang membuat naskah ini?” Seoyoung berteriak naik pitam dan melempar sebuah kertas di atas meja.

“Ada apa, nuna?” Jeonghan menghampiri Seoyoung.

“Suruh orang yang membuat naskah ini datang padaku. Sekarang!!”

“Aku yang membuatnya”. Seorang gadis menghampiri Seoyoung dengan ketakutan.

“Oh jadi kau? Penulis naskah tambahan yang sudah bekerja selama 3 bulan disini. Jelaskan padaku bagaimana bisa kau membuat naskah sampah busuk seperti ini, hah? Apa kau tidak pernah membuat naskah sebelumnya? Kau bodoh sekali”. Suara Seoyoung memenuhi ruangan itu. Gadis yang membuat naskah itu hanya terdiam dan tertunduk.

“Aku tak sudi membacakan naskah ini. Seharusnya kau konfirmasi dengan penulis naskah lainnya yang lebih berpengalaman darimu. Pergi kau!! Jangan berikan naskahmu padaku sebelum naskah itu di setujui penulis naskah yang lain. Kalau hal ini terjadi lagi jangan harap kau akan bertahan lama disini”.

Mata Seoyoung menyorot tajam kearah gadis itu dengan penuh amarah. Gadis itu meninggalkan ruangan itu. Tak ada yang berani menyanggah perkataan Seoyoung, semua orang hanya terdiam di ruangan itu bahkan ketua tim tak sanggup berkata apapun.

“Apa yang salah dengan naskah ini, nuna? Aku sudah membacanya berulang kali dan menurutku naskah ini disusun dengan sangat rapi dan dengan penggunaan kalimat yang baik. Actor Aaron Kwak merupakan mantan penyiar dan menjadi orang terkenal sekarang. Bukankah dirinya begitu menginspirasi?”

            Jeonghan dengan polosnya berkata demikian dan menghampiri Seoyoung yang tengah menjadi seekor singa. Orang-orang di ruangan itu menepuk jidat melihat Jeonghan yang polos memancing emosi si singa.

“Bagaimana bisa kau bilang sampah busuk itu naskah yang bagus?”

            Seoyoung perlahan menghampiri Jeonghan. Jeonghan berusaha tetap pada posisinya tanpa gentar sedikit pun. Akan tetapi, Seoyoung selalu saja bisa membuat Jeonghan ketakutan dan menurut.

            “Mengekspos kehidupan pribadi seseorang tanpa ijin pada pemiliknya dan menyuruh tokoh dalam cerita membacakan ceritanya sendiri, apa menurutmu itu bagus?”

            Seoyoung semakin maju mendekati Jeonghan. Jeonghan perlahan mundur karena merasakan hawa panas merasuki tubuhnya.

“Bisa kau jelaskan padaku?”

            Jeonghan tak berkutik. Seoyoung lalu mengambil naskah yang dipegang Jeonghan. Seoyoung mengangkat naskah itu tinggi-tinggi dengan tangannya di depan muka Jeonghan yang lebih tinggi darinya.

“Bayangkan jika gumpalan kertas ini adalah dirimu”.

            Seoyoung lalu menjatuhkan naskah itu lalu menginjak-injak naskah itu dengan kakinya. Jeonghan membelalakan matanya kearah kertas itu.

“Disaat kau berada di posisi puncak, lalu tiba-tiba kehidupan pribadimu menjadi bahan tertawaan banyak orang. Kemudian semua orang mengusikmu dengan berbisik-bisik keras ditelinga mu menceritakan dan menganggap lucu kehidupan pribadimu. Menyebarluaskannya dan membuat mu jatuh terpuruk. Apa kau bilang itu bagus? Apa perasaanmu masih bagus? Apa kau masih bisa menjalani kehidupanmu dengan bagus? Apa kau pikir kau akan tetap terlihat bagus?”

            Mata Seoyoung menyorot tajam kearah Jeonghan. Jeonghan yang terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa. Jeonghan melihat luka yang begitu besar dimata Seoyoung saat dia menatap Jeonghan.

“Jelaskan padaku!!!” Seoyoung berteriak keras di depan muka Jeonghan.

            Setelah tak keluar sepatah kata pun dari Jeonghan, Seoyoung perlahan pergi meninggalkan Jeonghan. Jeonghan tertunduk lesu menatap kertas yang telah di injak-injak oleh Seoyoung.

“Kau mengerti?”

“Ne, Seoyoung nuna. Aku mengerti”.

            Semua orang hanya bisa terdiam di ruangan itu hingga Seoyoung meninggalkan ruangan. Jeonghan lalu mengambil naskah itu. Semua orang sudah tahu kenapa Seoyoung berubah menjadi seperti sekarang, Jeonghan pun akhirnya tau.

“Kau tidak apa-apa? Tadinya kami ingin membuat kehidupan baru dengan adanya dirimu dan mengubur masa lalu. Tapi karena tadi kau yang memulai. Sekarang kau tau kan kenapa dia jadi seperti itu? Jangan down, tetaplah semangat. Suatu saat kau akan melihat sisi baik dari Seoyoung”. Ketua tim berusaha memberi semangat kepada Jeonghan. Jeonghan hanya mengangguk pelan dan terdiam.

            Waktu sudah menunjukkan saatnya pulang bekerja. Akan tetapi, Jeonghan harus membereskan ruangan terlebih dahulu sebelum pulang. Ini adalah hukuman Jeonghan atas apa yang terjadi hari ini. Dia jadi pulang agak terlambat ke apartemen.

            Seoyoung berjalan menuju parkiran. Dia sempat terdiam didalam mobil pribadinya. Kepalanya pusing mengingat kejadian hari ini. Urat-urat kepalanya rasanya hendak putus karena hari ini dia berteriak lebih banyak dari biasanya. Dia mengotak-atik hpnya.

“Bocak tengik..” Dia tertawa licik saat melihat kontak yang bertuliskan bocah tengik. Siapa lagi kalau bukan Jeonghan yang di maksud. Seoyoung selalu saja memanggil Jeonghan dengan sebutan bocah tengik. Dia tak pernah memanggil Jeonghan dengan namanya, kecuali saat siaran. Dan Jeonghan selalu saja menurut dan tak pernah protes.

            Seoyoung pun menelpon Jeonghan.

“Seoyoung nuna? Kenapa dia menelpon?” Jeonghan terheran-heran.

“Yeoboseyo, ne nuna?” Dengan lembut-atau lebih tepatnya takut- Jeonghan mengangkat telepon dari Seoyoung.

“Yak bocah tengik!” Seoyoung berteriak ditelepon dan membuat telinga Jeonghan penging.

“A-ada apa, nuna?”.

“Aku akan menuju apartemen. Aku akan menunggu di depan pintuku. Kalau sampai aku tak melihat kepalamu satu menit saja, kau akan tau nanti.”

“Apa maksudmu, nuna?”

“Bagaimanapun caranya kau yang harus menungguku di depan pintumu dan bukan aku. Oh ya, kau tidak boleh naik bus.”

“Tapi, bagaimana mungkin? Ini tidak bisa…”

“Oh ya satu lagi. Aku pulang naik mobil pribadiku. Jadi, jangan sampai aku yang sampai duluan.”

“Ini tidak adil nuna”.

“Bye”.

“Nuna!!”.

Tut..tut

“Aigoo. Kenapa dia seperti ini?”. Jeonghan pun langsung mematikan lampu ruangan dan segera pergi dari ruangan itu. Sedangkan Seoyoung tengah melaju dengan mobil pribadinya.

“Aku naik bus saja. Ah tapi bus akan datang 10 menit lagi”.

            Jeonghan pun berlari kencang menuju apartemen. Seoyoung pun akhirnya sampai dan memarkir mobilnya di parkiran apartemen. Seoyoung menaiki lift menuju apartemennya.

“Kena kau bocak tengik”. Seoyoung tersenyum puas saat menyaksikan bahwa Jeonghan tak ada di depan pintu apartemennya.

“1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16…” Seoyoung berdiri di depan pintu apartemennya sambil berhitung. Sedangkan Jeonghan belum sampai juga.

“45 46 47 48 49…”

            Jeonghan berlari kencang menuju lift apartemen.

“55 56 57 58 59…”

“60.. haha”. Jeonghan keluar dari lift dan segera menuju ke apartemennya.

“Sial.” Jeonghan menyaksikan Seoyoung telah berdiri tegak di depan apartemennya sembari tersenyum licik. Jeonghan pun menghampiri Seoyoung.

“Hm…”. Seoyoung melangkah perlahan mendekati Jeonghan yang berkeringat dan terengah-engah dengan senyum liciknya.

“Kau terlambat 72 detik, bocak tengik”.

“Tapi tidak adil, kau naik mobilmu sedangkan aku harus berlari dan tak boleh naik bus. Kau cur…”

            Belum selesai kalimat itu, Seoyoung melayangkan kepalan tangan kecilnya ke kepala Jeonghan dan membuat Jeonghan terkejut.

“Itu hukuman karena kau terlambat”. Seoyoung tertawa kecil dan perlahan melangkah meninggalkan Jeonghan.

“Kenapa kau memukulku?”

            Seoyoung berbalik arah dan menghampiri Jeonghan lagi. Dia melayangkan satu lagi kepalan tangannya ke kepala Jeonghan.

“Kau mau komplen bocah tengik?”

            Jeonghan terdiam dan menatap kesal Seoyoung yang malah tertawa keras. Seoyoung pun berjalan menuju apartemennya.

“Kenapa kau..” Jeonghan menggantung kalimatnya dan membuat Seoyoung menghentikan langkahnya yang hendak membuka pintu apartemennya.

“Kau aneh, nuna. Setelah seharian ini kau marah-marah dan berteriak keras kepadaku. Kenapa kau sekarang malah menjadikanku lelucon seperti ini? Kau senang? Ada apa denganmu?”

“Besok jangan sampai terlambat ya. Yoon Jeonghan…”. Seoyoung berbicara dengan nada lembut lalu masuk kedalam apartemennya meninggalkan Jeonghan yang masih syok sekaligus emosi di luar.

“Sebesar itukah luka dihatimu, Seoyoung nuna?”

To be continue

 

5 thoughts on “MY 20 eps.1”

  1. hi thereee!!

    OMAYGAAAATTT MY ARON IS ON LINE UP CAST!!!! OMAYGAAAT IT’S ALL PLEDIS OMAYGAAAT OMAYGAAAATTTTT!!!
    okey maafkan kegajean saya :”) ya gini lah saking senengnya ada Aron ada anak anak pledis hahhha

    ya si Aron ini masa lalunya Seoyoung gitu tah? lo Mas Aronku kenapa? tolong jangan jadikan Aronku kambing hitam *gak

    udah aku seneng banget castnya anak anak pledis TERLEBIH ADA NU’EST! dan karena penasaran dan excited membaca nama Aron, aku bahkan melewati peraturanku -membaca fict paling bawah di email- wkwkwkwk xD

    well I looking up for Aron in the next chapt dan semoga Seoyoung ga setega itu sama Jeonghan :(( kesian banget Jeonghan :””

    see ya^^

    Suka

    1. Thx komennya temaannn. Kebetulan aku pledistan hehe:3 greget ya? Tunggu aja kelanjutannya… kebetulan nyari cast yg beda umurnya gak beda jauh hehe:3 keep reading guys!

      Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s