[Oneshot] Reading Squad

GA FANFICTION_Reading Squad

Reading Squad

By Joieland (Previous Joonisa)

Cast: Seventeen Vocal Team – Hong Jisoo, Yoon Jeonghan, Lee Seokmin, Lee Jihoon, Boo Seungkwan  | Genre: Sci-Fi, Dystopia, Action, AU! | Rating: G  | Length: Oneshot (+3,5k words)

.

Please don’t stop reading!

.

“Jisoo!”

Pekikan tertahan milik Jeonghan mengalihkan atensi Jisoo dari layar flying computer yang ada di hadapannya. Jisoo menyipitkan matanya, mencoba menerjemahkan bahasa tubuh Jeonghan yang kini mulai menggaruk kepala dan lehernya dengan ganas. Tak tahan lagi, Jeonghan menggedor kapsul kaca yang tengah mengungkungnya.

“Jeonghan, apa yang terjadi?” Jisoo bergegas menghampiri Jeonghan yang semakin lama semakin terlihat tersiksa. Wajah Jeonghan memerah dan tangannya bergerak semakin keras menggaruk kepalanya sendiri sampai-sampai ada bercak darah di jarinya.

“Ini kutu rambut, bodoh! Yang harus kau ciptakan itu kutu buku, bukan kutu rambut!”

“Astaga!” Jisoo membetulkan kacamatanya yang melorot. “Kau serius?”

“Kau pikir aku bercanda? Lihatlah, kulit kepalaku sudah mulai berdarah! Cepat berikan aku penawarnya dan keluarkan aku dari sini!”

Sempat menjatuhkan beberapa benda, Jisoo akhirnya menemukan cairan berwarna hijau kehitaman dalam sebuah botol berukuran 200 mililiter. Ia lalu memasukkan botol itu ke sebuah penampang vertikal yang berada di sisi kanan tabung dan seketika botol itu melesat menaiki kapsul dan meledak tepat di atas kepala Jeonghan. Tepat saat cairan itu membasahi kepalanya, Jeonghan berhenti menggaruk.

“Untunglah cairan ini beraroma mint. Tidak seburuk wujudnya yang mirip–ew–dahak.”

“Keluarlah.”

Jeonghan yang sekarang mirip alien dengan cairan lengket hijau di seluruh tubuhnya keluar dari kapsul kaca dengan langkah terseret. Jisoo menatapnya penuh rasa bersalah, namun Jeonghan justru memberinya senyum hangat sebagai balasan.

“Maaf, aku–“

“Kau sudah berusaha. Lagipula kau baru delapan belas kali gagal, itu bukan hasil yang buruk,” Jeonghan sudah ingin menepuk bahu Jisoo, namun terhenti saat ia sadar kalau lendir hijau tengah memenuhi tangannya sedangkan pakaian yang dikenakan Joshua putih bersih.

Thanks,” tanpa ragu Jisoo menyalami Jeonghan. Ia tidak peduli sama sekali dengan lendir hijau lengket yang kini ikut melekat di tangannya. Atensinya kini beralih pada tiga kapsul yang diletakkan horizontal tepat di sebelah kapsul tempat Jeonghan berada tadi. Masing-masing kapsul berisi satu orang pria yang terbujur kaku meskipun ketiganya masih bernafas.

Dimulai dari yang terdekat dari Jisoo yaitu Seokmin. Pria yang berusia dua tahun di bawah Jisoo dan Jeonghan itu terbujur kaku dengan tubuh penuh lebam samar. Jisoo dan Junghan menyelamatkan pria itu dari amukan massa saat ia salah menyebutkan nama presiden yang tengah menjabat saat ini. Ia bukannya dikejar karena salah sebut nama, namun Seokmin saat itu mengatai massa dengan sebutan ‘kalian semua juga bodoh, sama sepertiku’.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Junghan.

“Secara fisik dia banyak mengalami kemajuan, namun secara psikis belum ada. Cairan penangkal sementara yang kubuat nampaknya masih belum bisa digunakan sebagai penyembuh karena perkembang biakan dari virus bibliophobia tersebut cukup ganas.”

“Jadi kau sengaja menidurkannya di sini?”

Jisoo mengangguk. “Kalau tidak begitu, mulutnya akan lebih tidak beradab. Dia bisa mati.”

“Lalu Jihoon?”

Mereka berjalan menuju ke kapsul kedua. Tepat di sebelah Seokmin, terbujur kaku seorang pria yang sedikit lebih mungil dari Seokmin, bersurai kuning, dan kulitnya putih seperti susu. Di dahi kanannya terdapat sepuluh jahitan yang mulai mengering. Jeonghan menemukan sahabat dekatnya itu di luar sebuah agensi ternama. Kepalanya pecah karena ada yang melemparnya dengan gitar. Hal itu dialami Jihoon karena ia tidak membaca kontrak tempat agensinya bernaung dan berujung perkelahian antara Jihoon dan pihak sekuriti.

“Kurang lebih dengan Seokmin. Aku tidak bisa membangunkannya sekarang karena kalau dia bangun, ia akan menciptakan lagu kotor dan penuh dengan diss lagi seperti tempo hari,” Jisoo berujar sambil memijit pelipisnya. Ia lalu beralih menatap kapsul ketiga yang berisi Seungkwan, pria berusia dua puluh tiga tahun yang sudah mengacaukan stasiun TV Nasional karena ia dengan asal-asalan membawakan sebuah acara. Nasibnya tak jauh lebih baik dari dua rekannya yang lain, rumah Seungkwan bahkan sampai dibakar dan Seungkwan mengalami luka bakar berat di kaki kanannya.

“Kau harus bertindak lebih cepat lagi, Jisoo.”

Mata Jeonghan menerawang ke luar jendela. Hatinya terasa ditusuk puluhan benda tajam saat melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Perkelahian, pertikaian, debat kusir, sampai pembakaran rumah-rumah. Dunia bagai terkena perang dunia ketiga dan Jeonghan sungguh berharap kalau yang ia lihat saat ini hanyalah khayalannya, imajinya, atau film yang diputar di layar seukuran gedung pencakar langit.

Namun sayang, yang dilihatnya itu adalah kenyataan.

Warga kota tempat tinggalnya saat ini tengah dilanda virus berbahaya yang bahkan di google pun tidak ditemukan namanya. Virus itu adalah mutasi dari debu limbah pabrik gadget dan sampai saat ini belum ada yang menemukan obatnya. Virus itu membuat seseorang kehilangan minat membaca di stage yang paling ringan dan untuk stage yang paling berat akan mengalami perubahan sikap ekstrim yaitu menjadi anarkis dan main bunuh karena hilangnya kesabaran.

Intinya, penderita akan menjadi malas membaca. Bahkan melihat barisan huruf pun mereka bisa pusing.

Jisoo mengikuti arah pandang Jeonghan, kemudian menghela nafas panjang. Masyarakat di kota mereka saat ini jauh dari kata tata krama. Mereka tak lagi menjadi pribadi yang sopan dan berbudaya. Anak-anak sekolah tak lagi sungkan membuang seragamnya karena sudah kehilangan minat, kantor-kantor banyak yang tutup karena kemalasan pegawai, dan perpustakaan bagaikan kastil berhantu karena tak ada lagi yang datang berkunjung.

“Rasanya aku sudah kehabisan akal, Jeonghan.”

“Jangan, Jisoo! Hanya kita yang tidak terinfeksi di sini dan teman-teman kita yang ada di kapsul itu membutuhkan kita!”

Seokmin, Jihoon, dan Seungkwan yang sengaja ditidurkan oleh Jisoo adalah teman satu komunitasnya seperti Jeonghan. Mereka berlima tergabung dalam reading squad, salah satu komunitas membaca di kalangan pekerja muda berusia di atas dua puluh tahun. Kegemaran mereka membaca buku yang di atas rata-rata membuat mereka menjadi bersahabat, bahkan Seungkwan yang terkenal sebagai MC di TV juga menjadi reviewer di sebuah blog buku ternama.

Poin terpentingnya adalah, mereka berlima jadi duta buku untuk negara mereka sendiri. Namun semua menjadi kacau saat virus itu hinggap di tubuh mereka bertiga saat ketiganya tengah minum-minum di sebuah kedai. Seokmin menjadi yang pertama terserang virus itu, diikuti oleh Jihoon dan Seungkwan. Jisoo dan Jeonghan pada saat itu tidak ikut berkumpul sehingga mereka tidak terjangkit.

“Ayolah, Hong Jisoo! Satu serum saja darimu, maka akan menyelamatkan bangsa kita! Kita berlima sudah ditunjuk menjadi duta buku dan hanya kau yang bisa meracik bahan-bahan kimia itu!”

Lamat-lamat Jisoo menatap Jeonghan, lalu menatap persediaan bahan kimianya yang mulai menipis karena terlalu sering percobaan. Ia tidak bisa menambah pasokan lagi karena toko bahan kimia juga tutup akibat tidak ada lagi laborat yang mau berjaga di sana. Dalam hatinya, ia ragu kalau ia bisa menyelamatkan teman-temannya. Namun tatapan penuh kesungguhan dari Jeonghan yang berlendir akhirnya mampu membuat hatinya tergerak.

“Baiklah. Kau bersihkan dulu tubuhmu, istirahat, lalu kita mulai lagi.”

.

.

Jisoo mulai kembali bekerja di laboratoriumnya sementara Jeonghan tengah tidur siang di sofa yang membelakangi Jisoo. Kacamata tebalnya beberapa kali merosot dari hidungnya yang mancung dan sebanyak itu pula Jisoo membetulkannya. Keringat yang meleleh di pelipis tak diacuhkannya, bahkan hasrat untuk buang air kecil pun sengaja ditundanya saat ia menambahkan elemen terakhir yaitu secret mineral , bahan pamungkas pembuat serum kutu buku. Saat Jisoo menuangkannya, terdengar bunyi ‘cesss’ yang nyaring sampai-sampai bisa membangunkan Jeonghan.

“Apa itu, Jisoo? Kebakaran?” Jeonghan mengangkat kepalanya dari lengan sofa.

“Bukan. Hanya suara percampuran zat kimia,” sahut Jisoo dengan nada santai, namun tidak dengan ekspresinya. Ia harap-harap cemas karena cairan yang ia campurkan tidak kunjung berubah warna seperti warna laut. Masih konsisten dengan warna abu-abu dengan gelegak kecil yang terjadi terus-menerus.

“Kenapa warnanya seperti lahar dingin?” tanya Jeonghan yang tiba-tiba sudah berada di samping Jisoo.

“Entahlah. Harusnya warnanya biru laut, kenapa jadi abu-abu lahar begini?”

Jisoo membaca lagi resep serum kutu buku yang tertulis di agendanya. Resep serum itu sebenarnya ia sendiri yang membuatnya, namun tentu saja didukung oleh bukti empiris dari peneliti-peneliti dunia ternama.

“Kurasa sudah benar.”

Jeonghan ikut membaca resep itu, jaga-jaga kalau seandainya Jisoo salah langkah atau kurang memasukkan bahan. Ada satu nama bahan yang menarik perhatian Jeonghan.

“Esens Kutu Buku? Apa itu?”

“Kurasa itu buku yang diblender. Aku melakukan hal itu tadi.”

Jeonghan menoleh pada Jisoo disertai tatapan yang sulit diartikan. Antara heran, tak percaya, sekaligus mengumpat.

“Jisoo, mungkin kau terlalu keras bekerja. Kurasa Esens Kutu Buku yang sebenarnya bukan buku yang diblender.”

“Lalu apa?”

Pria berambut sebahu itu menggulirkan bola matanya, “aku juga tidak yakin. Mungkin seperti air mata atau darah dari seorang kutu buku, kurasa itu lebih mendekati.”

Spontan Jisoo menepuk keras-keras dahinya sesaat setelah Jeonghan menyelesaikan kalimatnya.

“Kenapa tidak terpikir olehku? Aduh, kurasa aku sudah mulai bodoh.”

“Kalau kau bodoh, lalu aku apa? Ayo jangan buang waktu, kau buat saja lagi!”

Jisoo kembali mengambil perangkat alat-alat yang sudah ia bersihkan dari lemari kaca di sudut ruangan. Ia mengulang langkah-langkah pembuatan serum itu dari awal, sampai pada penambahan Esens Kutu Buku, ia mengiris ujung jari kelingkingnya dengan pisau bedah kemudian menambahkan darahnya sendiri ke dalam serum racikannya.

Cesss

Serum itu berubah warna menjadi biru terang. Mata Jisoo lantas berbinar karena percobaannya kali ini di ambang keberhasilan. Sebagai langkah terakhir, ia menambahkan secret mineral sebanyak dua tetes dan bunyi ‘cesss’ itu kembali terdengar. Kini warna serum itu menjadi biru laut.

“Jeonghan! Sepertinya berhasil!!!”

“Ayo sini coba padaku!”

Jisoo menyedot serum yang telah ia buat dengan jarum suntik baru, lalu tanpa ragu menyuntikkannya ke Jeonghan yang kini berada di dalam kapsul kaca milik Jisoo. Setelah menyuntikkan cairan itu, Jisoo menutup kapsulnya lalu menangkupkan kedua telapak tangannya seraya memejamkan mata.

“Ya Tuhan, semoga kali ini berhasil.”

Usai melafalkan doa yang diucapkannya dengan berbisik, Jisoo perlahan membuka mata. Ia melihat Junghan juga melakukan hal yang sama dengannya dan sekarang mereka berdua saling bertukar tatap.

“Jeonghan, bagaimana?” tanya Jisoo dengan bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Jeonghan menggeleng seraya mengendikkan bahu.

“Entahlah. Tiba-tiba aku merasa seperti, uhm, bodoh?”

“Bodoh?” Alis Jisoo berkerut rapat.

“Atau mungkin bosan? Kurasa bosan lebih pas.”

“Bosan?”

Jisoo mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna apa yang sudah ditangkap oleh indera pendengarannya sendiri. Tangannya bersedekap sembari otaknya berputar bak gasing.

“Hei, Bung, apa melamunnya masih lama? Setidaknya beri aku buku bacaan agar aku tidak mati bosan di dalam sini.”

Seakan tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, dengan satu gerakan cepat Jisoo membuka pintu kapsul Jeonghan.

“Apa katamu barusan?”

“Beri aku buku bacaan, Bung Jisoo.”

Jisoo melepaskan jeritannya. Teriakan bahagia itu kini memenuhi laboratorium dan sang pemilik langsung memeluk tubuh Jeonghan erat-erat.

“Yoon Jeonghan, kita berhasil! KITA – BERHASIL!!!”

Jeonghan ikut serta dalam euphoria kebahagiaan Jisoo karena dirinya juga merasa bahagia. Bahagia karena keberhasilan Jisoo dan bangga karena ia memiliki teman yang jenius.

“Aku akan membuatnya lagi agar kita bisa menolong tiga teman kita.”

“Setelah itu kita selamatkan kota kita.”

“Ayo lakukan!”

.

.

Setelah beberapa jam berkutat tanpa makan dan istirahat (Jisoo hanya minum susu yang juga paksaan dari Jeonghan), akhirnya mereka berhasil membuat kurang lebih dua ratus ampul dari darah Jisoo dan Jeonghan. Mereka mendonorkannya masing-masing satu kantong dan hasilnya melebihi ekspektasi mereka.

“Kalau tiga teman kita sembuh, kurasa kita bisa membuat lebih banyak,” Jisoo berujar sambil meregangkan otot tangannya.

“Suntikkan saja dulu ke Seokmin, Jihoon, dan Seungkwan. Setelah itu aku yang melakukan sisanya. Kau istirahatlah.”

“Aku akan bantu – “

“Bolehkah kuingatkan kalau kau sudah hampir seminggu tidak tidur, Hong Jisoo?”

Satu kalimat sarkastik milik Jeonghan berhasil membungkam Jisoo. Ia akhirnya memilih menurut karena tiba-tiba ia didera rasa kantuk sambil menguap, ia menyuntikkan serumnya ke tubuh Seokmin. Lalu beralih ke Jihoon, selanjutnya ke Seungkwan.

“Sudah,” Jisoo melemparkan suntikan terakhirnya ke tempat sampah, “Jeonghan, bangunkan saja aku kalau ada apa-apa.”

Jeonghan mengacungkan jempolnya tanpa mengeluarkan suara. Jisoo pun masuk keluar dari laboratorium dan masuk ke kamarnya yang berada di seberang laboratorium. Tanpa sempat menutup pintu, Jisoo langsung merebahkan diri di kasurnya dan terlelap dalam hitungan detik. Jeonghan bahkan bisa melihat bagaimana sahabat baiknya itu melemparkan dirinya sendiri ke atas kasur.

“Jeonghan!”

Jeonghan menoleh ke sumber suara. Ada Seokmin yang pertama sadar di antara yang lain sedang mengetuk-ngetuk kapsul kaca dengan telapak tangannya. Jeonghan berjalan mendekati kapsul Seokmin dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.

“Ada apa memanggilku?”

“Kau punya sesuatu untuk dibaca? Rasanya aku bisa mati bosan di sini.”

Mendengus kecil, Junghan membuka pintu kapsul milik Seokmin. Pria berbahu lebar itu lantas melompat keluar dan menghirup nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata.

“Rasanya aku seperti hidup kembali–AWW!!!”

Sebuah jitakan kasar dihadiahkan Jeonghan untuk Seokmin. Sejak ia tahu kalau Seokmin yang mengajak Jihoon dan Seungkwan minum-minum di kedai malam itu sampai mereka ikut terinfeksi–padahal sebelumnya Jisoo sudah memperingatkan Seokmin untuk tetap bertahan di dalam rumah–Jeonghan bersumpah ia akan memukuli Seokmin kalau ia sudah sembuh.

“Kenapa menjitakku? Kan sakit!”

“Jadi kau lebih memilih kuhajar sampai babak belur daripada dijitak seperti itu? Baiklah kalau kau–“

“Tidak! Sudah cukup!” Seokmin menghalangi kepalanya agar tidak kena pukul Jeonghan lagi. Jeonghan mengembuskan nafas keras, lalu fokus mengisi serum ke ampul lagi.

“Di balik pintu besi di ujung ruangan ini ada ruang baca milik Jisoo. Tinggallah di situ untuk sementara sampai Jisoo bangun.”

“Memangnya Jisoo kenapa?”

“Tidur.”

“Tidur?”

Jeonghan berdecak kesal karena Seokmin terus-terusan bertanya. Baru saja Jeonghan akan membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba terdengar ketukan dari dua kapsul yang masih berpenghuni. Jihoon dan Seungkwan sudah sadarkan diri dan cerocos protes langsung keluar dari bibir Seungkwan.

“Hah? Aku di mana ini? Kenapa aku dikurung di kapsul seperti ini? Memangnya aku serbuk? Siapa yang melakukan ini semua? Siapa? Hah? Hah?”

“Diamlah!” teriak Jeonghan frustasi. Ia lalu membuka pintu kapsul milik Jihoon dan Seungkwan dengan wajah ditekuk.

“Di mana Jisoo?” tanya Jihoon setelah rilis dari dalam kapsul. Jeonghan menunjuk pintu dengan gerakan kepalanya.

“Dia baru saja istirahat setelah membuat kalian sembuh.”

“Kalau bukan karena si Seokmin sok mengajak minum-minum, mungkin kita semua tidak akan terinfeksi seperti ini. Dasar labil! Kurang hiburan! Kurang piknik!” Seungkwan menghujani Seokmin dengan pukulannya yang tidak seberapa untuk Seokmin dan segera dihentikan Jeonghan dengan memukul sebuah buku tebal ke kepala Seungkwan.

“Masuk ke perpustakaan Jisoo atau kulempar kau ke jalan!”

Seungkwan yang ketakutan pada Jeonghan segera berlari ke perpustakaan milik Jisoo yang ada di ruangan lain lewat pintu tembusan laboratorium, disusul oleh Seokmin dan Jihoon setelahnya. Namun baru saja mereka bertiga melangkah masuk ke perpustakaan, kobaran api yang besar menyambut mereka.

“Astaga! Ya ampun! Ya ampuuun!!!” pekik Seungkwan panik saat netranya bertemu nyala api.

“Lari, Seungkwan! Jangan teriak saja!” Seokmin lekas menarik lengan Seungkwan dan berlari menyusul Jihoon yang sudah lebih dulu melarikan diri. Berhasil mengeluarkan Seungkwan, Seokmin menutup perpustakaan Jisoo yang pintunya terbuat dari besi.

“Ada apa?” tanya Jeonghan yang kebingungan melihat tiga temannya panik.

“Jeonghan, bereskan barang-barang apa  saja yang diperlukan! Aku akan membangunkan Jisoo!” Usul Jihoon yang berlari melewatinya menuju ke kamar Jisoo. Jeonghan yang masih bingung melempar tatapan bertanya pada Seokmin yang sedang menyeret Seungkwan.

“Perpustakaan Jisoo terbakar! Kurasa para bibliophobia itu yang membakarnya karena aku melihat salah satu dari mereka melompat keluar jendela!”

Sebuah umpatan keluar dari bibir Jeonghan. Tangannya kini bergerak gesit memasukkan ampul berisi serum buatan Jisoo ke dalam tas besar yang ia raih dari dalam lemari laboratorium. Jisoo yang sudah berhasil dibangunkan oleh Jihoon berlari sempoyongan ke arah Jeonghan dengan rambut acak-acakan dan mata yang merah. Jeonghan menatapnya iba.

“Maaf mengganggu tidurmu, tapi ini darurat.”

“Apa ini waktunya minta maaf?” tanya Jisoo dengan nada panik, “aku sudah mengaktifkan pemadam api otomatis, tapi kita tidak tahu apa yang telah mereka lakukan di dalam sana. Mungkin saja mereka meletakkan bom.”

“Kurasa semua orang berubah jadi monster,” timpal Jihoon yang melihat ke luar jendela. Terlihat olehnya pemandangan orang-orang yang tengah mengamuk dan saling baku hantam. Ada juga yang membawa obor ke sebuah gedung besar yang dulu dikenal Jihoon sebagai toko buku langganannya dulu.

“Kita masih punya sedikit waktu karena laboratorium ini dilapisi dinding tahan api, tapi aku tak bisa menjamin kalau dinding ini juga tahan bom. Rumahku akan runtuh kalau sampai ada yang meledak. Masih sempat untuk mengumpulkan lebih banyak darah untuk membuat serum karena kalian bertiga sudah dipastikan sembuh.”

Jisoo mengeluarkan peralatan donor darah yang ia simpan di laci bertingkat delapan dekat jendela. Dengan cekatan ia mengikat lengan Seokmin, lalu menusukkan jarum besar ke pembuluh darahnya. Seungkwan yang ada di sebelah Seokmin menggeleng keras saat Jisoo akan melakukan hal yang sama padanya.

“Jisoo, aku takut jarum suntik!”

“Seungkwan, kita harus menyelamatkan orang-orang di luar sana! Mungkin juga sekarang keluargamu jadi salah satu korban, kita tidak pernah tahu! Mereka butuh keberanian kita semua!”

“Lempar saja dia ke jalan!” timpal Jeonghan yang masih sibuk membereskan barang-barang bersama dengan Jihoon.

“Seungkwan, tolonglah. Jangan manja di saat seperti ini,” Jihoon ikut membujuk.

Seungkwan menggigit bibir, matanya sudah mulai mengeluarkan likuid bening. Ia benar-benar takut dengan hal-hal berbau jarum suntik sejak kecil. Namun belum selesai ia mengatasi ketakutannya, Jisoo dengan cepat menarik lengan Seungkwan, mengikatnya dengan karet, lalu menusukkan jarum ke pembuluh darahnya.

“ADUH SAKIT!!!”

“Maaf,” Jisoo menepuk pundak temannya yang kini pucat seperti mayat itu. Kini ia beralih ke Jihoon yang sudah lebih siap dari Seungkwan. Kurang dari dua menit, darah Jihoon sudah mengalir ke kantung yang disiapkan oleh Jisoo.

“Jeonghan, pindahkan saja isi ampul itu ke jarum suntik agar bisa lebih cepat.”

“Baik.”

Jisoo membuka laci yang lain di sisi ruang laboratoriumnya. Ia mengeluarkan seratus jarum suntik dan menyerahkannya pada Jeonghan. Sang teman bagaikan perawat terlatih, dalam sekejap sepuluh ampul sudah berpindah isi ke dalam suntikan.

“Jisoo, kalau kurang bagaimana?”

Langkah Jisoo terhenti. Alisnya berkerut lantaran ia tidak memiliki cadangan jarum suntik lagi di lacinya.

“Kurasa water gun bisa membantu,” ucap Seungkwan tiba-tiba, yang disambut Jisoo dengan ekspresi cerah.

“Ide bagus!”

.

.

Lima orang pria itu kini berdiri tegak di belakang gerbang rumah Jisoo, namun tatapan mereka pada keadaan sekitar yang saat ini kacau balau tak setegar kedua kaki mereka.

“Sudah berapa lama aku tidak keluar rumah sampai aku tidak tahu keadaan rumahku sendiri?”

Pertanyaan retoris Jisoo mengacu pada tembok yang mengelilingi rumahnya. Semua penuh dengan coretan bernada umpatan kotor yang bahkan Jisoo tidak pernah gunakan meskipun ia lama berada di luar negeri. Udara yang mereka hirup kini pun terasa menyesakkan, secara implisit maupun eksplisit. Seokmin yang berada di sebelahnya sampai meneteskan air mata.

“Belum terlalu lama,Jisoo. Kerusakan yang terjadi lebih cepat dari dugaan kita,” Jihoon berujar sembari menepuk pundak Seokmin guna menenangkannya.

“Karena itulah mereka butuh kita,” Seungkwan ikut menimpali.

“Kita berpencar. Seokmin dan Seungkwan ikut aku dengan water gun, sementara Jeonghan dan Jihoon dengan suntikan,” Jisoo memberi komando pada teman-temannya, “suntik siapa saja yang kalian lihat.”

Jeonghan dan Jihoon mengangguk.

“Seungkwan dan aku akan memasukkan cairan ini lewat mulut menggunakan water gun.”

“Lalu aku?” tunjuk Seokmin pada dirinya sendiri yang tidak memegang apa-apa saat yang lain memiliki amunisi masing-masing.

“Kau ikut aku,” ucap Jisoo, “gunakan tubuh kekarmu untuk membuka mulut mereka, jaga-jaga kalau mereka berontak.”

“Siap!”

Mereka pun berpencar. Tim Jisoo menuju ke arah kiri sementara tim Jeonghan ke arah kanan. Belum ada sepuluh meter mereka melangkahkan kaki, sudah ada beberapa orang yang yang mereka temui. Dengan gesit Jeonghan dan Jihoon menancapkan suntikan berisi serum kutu buku ciptaan Jisoo. Ada yang memberontak dan berusaha mencabutnya, namun Jihoon dan Jeonghan bertahan dengan memberikan perlawanan.

Sementara di sisi Jisoo juga tak kalah pelik. Belum apa-apa, orang pertama yang akan mereka beri ‘minum’ sudah melawan. Seokmin sampai harus memiting satu persatu orang yang mereka tuju agar mau meminum serum itu. Begitu pun dengan Seungkwan yang entah dari mana kemampuan yang ia dapat sampai bisa melakukannya sendirian.

Selama beberapa jam, pertarungan mereka berlima membuahkan hasil yang signifikan. Banyak orang yang akhirnya bisa sembuh dari penyakit anti-membaca dan yang anarkis menghentikan tindakannya. Mereka berlima berkumpul di sebuah lapangan untuk istirahat sejenak.

“Amunisi kami sudah habis,” Jeonghan mengangkat ranselnya, “kalian bagaimana?”

“Kami masih ada,” jawab Jisoo, “kalau hari ini tidak bisa selesai dan laboratoriumku tidak meledak, kita bisa mengumpulkan pendonor dan membuatnya secara massal.”

Usai Jisoo berujar, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Bunyi ‘krak’ yang sangat keras terdengar beberapa kali dalam frekuensi yang sama. Semakin lama getaran itu semakin dahsyat dan bunyi ‘krak’ pun juga semakin nyaring terdengar.

“Jisoo, di belakangmu …”

Keempat pria itu mengikuti arah telunjuk Jeonghan. Sebuah benda yang sangat besar dengan tinggi melebihi tiang listrik tengah berjalan menuju ke arah mereka berlima. Benda itu serupa pipa saluran air, namun terbuat dari besi dan memiliki tangan, kaki, dan kepala. Bukannya terlihat ketakutan seperti yang lainnya, Jisoo justru tersenyum.

Guys, finally our real enemy appears in front of us.”

“Jadi, dia dalang penyebar virus itu?” Jeonghan yang mendadak kehilangan rasa takutnya setelah melihat senyum Jisoo, ikut tersenyum pongah. Seungkwan dan Seokmin menatap dua temannya itu heran.

“Dia lebih besar daripada kita! Kenapa kalian berdua justru tersenyum-senyum seperti itu?” tanya Seungkwan sambil bergidik ngeri.

“Tapi dia sendirian dan kita berlima,” jawab Jihoon santai. Jawaban Jihoon diamini Jeonghan dengan anggukan dua kali.

“Karena dia terbuat dari besi, kurasa kita hanya perlu membuatnya korosi. Benar begitu bukan, Hong Jisoo?”

“Benar sekali, Yoon Jeonghan. Dan kita perlu Seokmin untuk menyelesaikannya.”

“Hah? Aku?”

Belum selesai kebingungannya karena Jisoo mendadak menunjuk dirinya untuk melakukan eksekusi, Jisoo menyerahkan water gun miliknya yang berisi serum cukup banyak.

“Lempar sekuat-kuatnya. Aku sudah memasukkan bubuk bom di dalamnya yang sensitif akan logam.”

“Wah, Jisoo, kau benar-benar – “

“Lempar saja, Seokmin! Tidak usah dramatis!” teriak Jeonghan diikuti tawa yang nyaring. Seokmin pun mengambil ancang-ancang, lalu mengerahkan segenap tenaganya melempar water gun  pada makhluk berwujud pipa itu.

“Rasakan ini!”

Water gun berhasil dilempar dan mengenai kepala pipa itu. Lemparan jitu karena water gun itu langsung pecah dan cairan serum Jisoo melumuri kepala pipa.

“Sekarang … LARI!!!”

Kelima pria itu lari dengan kecepatan penuh. Cukup jauh mereka berlari sampai akhirnya terdengar suara ledakan besar dan tanah yang mereka pijaki kembali bergetar hebat. Tercium aroma hangus yang begitu kuat di hidung yang disambut dengan tawa pecah dari mereka berlima.

Case closed!

FIN

 

A/N:

Also posted in my personal blog theladyjoie.wordpress.com

Fanfic ini abis dilombakan di salah satu OA Line dan Alhamdulillah masuk jejeran juara dan hadiahnya lumayan lah dapat 20 gambar kecebong unofficial😄

10 thoughts on “[Oneshot] Reading Squad”

  1. Apa musuhnya itu gadget ya??? Wah aku termasuk korban berarti dong??? Walaupun kutu buku jga sih, apa lagi klo liat perpus yg isinya buku menarik semua, bisa ijo mgkin mataku… Hahaha ide ceritanya menarik, pantes klo jadi juara… Congrats…

    Suka

    1. Gadget in bad way sih. Hehe.
      Trima kasih. Ini bikinnya buru-buru dan ga sempet ngoreksi kalau ada dua nama Junghan di sana (Junghan dan Jeonghan) *haha maapkan aku yang tidak konsisten ini*

      Suka

  2. gimana ga juara atuh kak nisjoo
    idenya beneran pecah, kereeeen! dystopia yg kyk gini tidak pernah terpikir sebelumnya olehku (walaupun ya agak ngakak gimana gitu ya virusnya) ! mana friendshipnya pun kenak, dan sci-finya bolehlah, komedinya pun ada krn ada seok-seungkwan ya terus piye😄 love thisssss aku ga tau harus ngomong apa pantaslah dapet genre comedy buat challenge lain *kedip sebelah
    keep writing!

    Suka

    1. Hai Lianaaaaa😀 maaf ya aku bikin nama virusnya jadi agak2 mirip sesuatu hahaha. dan maafkan lagi soal typo yang bikin nama Jeonghan jadi dua karena fanfic ini lupa kuedit HAHAHAHA *dasar*
      .
      ‘.
      .
      Lianaaa argh kau membahas itu di sini duh aku malu😄

      Suka

  3. Ya pantes lah dapet juara,orang cerita+diksi+castnya ntap gini😄
    Idenya ko bisa wow gini yha kak,mana tentang virus kecanduan gadget yang udah merajalela disampaikan dgn cara yg unik (dlm ff scifi dystophia) dan bahkan bisa nyindir reader tipis tipis nih haha.

    Friendship dan advntrnya juga dapet bgt.
    Lucuk lah pokonya.
    Keep writing kaaa nis thalanghee wkwk.

    Suka

    1. Bukan juara 1 sih sebenernya tapi yah layak lah soalnya ini typonya parah😄
      yah nyindir kalau buat kebaikan kan ga apa apa ya? hehehe
      yuhuuu na do thalanghae😄

      Suka

  4. hi there!

    woooaaahh! sugooiii!
    suka banget sama idenya xD how could penyakit malas membaca -yang kayaknya udah banyak yg terjangkit- menimbulkan efek yang merusak peradaban.
    and yeah Jisoo emang jenius gitu ya, pingin seret dia ke sini aja rasanya wkwkwk xD

    and
    see ya^^

    Suka

  5. Yaampun jisoo kok jenius banget ya pengen aku karungin terus bawa pulang😄

    Aku suka jalan ceritanyaaaaa:3 Nggak bosenin. Padahal 3,5k words. :3

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s