[Vignette] Almost Losing You

1468462410361

A gift-fic from @andditaa special for ayshry

[NCT] Ji Hansol | [OC] Yoon Jooeun (ayshry’s oc)

[NCT] Taeyong | slight![17] Junghan

.Action. Semi-Dark. Fluff. PG-17. Vignette.

·

“Omong-omong, kau tadi keren, Kak. Serius.”

·

·

Baiklah, kita bermain secara rasional saja sekarang.

Jadi jelas bukan radar kasat mata, ataupun ilmu telepati, apalagi chip kecil pelacak lokasi yang digunakan Hansol untuk memburu seorang Yoon Jooeun di bumi ini. Selain ia sudah curiga semenjak dihubungi Junghan, kakak kembar Jooeun (menanyakan keberadaan si gadis di malam yang terlampau larut begini), beberapa menit lalu Hansol sempat menerima panggilan langsung dari kekasihnya itu, namun tak ada bunyi. Alih-alih, hanya terdengar deru napas pendek diselipi gedebuk-gedebuk yang tentu Hansol sangsi suara itu dihasilkan oleh apa. Tambahan, ponsel Jooeun mati ketika coba ditelepon kembali.

Maka bermodalkan informasi dari kakak Jooeun—lepas sore gadis itu izin pergi mengerjakan tugas di perpustakaan kota—Hansol sambar jaket dan menilik jalan sepanjang jalur menuju lokasi. Sayang, Jooeun sudah nihil di tempat. Kalau macam ini, bagaimana kerisauan tak merundung Hansol layaknya bocah menyemuti gulali?

Separuh berlari Hansol mengayun kaki. Mengulang lagi tindakan awal sebelum tiba di pusat pustaka, bahkan nama Jooeun ia seru-seru sampai kering kerongkongannya. Memang tak berbuah hasil, namun rungu Hansol samar-samar mendengar keributan yang datang dari gang gelap di sebelah kiri.

Tanpa banyak pikir, Hansol kerahkan seluruh raga pun atensi; bergerak buat menyelidiki. Padamnya lampu jalan membuat Hansol mengandalkan rembulan sembari memaksimalkan daya akomodasi. Dan betapa, amat, sangat lebar mata Hansol membelalak karena menemukan Yoon Jooeun, gadisnya, tersudut oleh segelintir pria asing.

“Oi, kalian!”

Percayalah. Hansol cuma manusia normal yang bisa grogi karena dipelototi. Kendati demikian, diupayakannya agar lutut tak gemetar tatkala kerumunan lelaki tersebut berbalik, sementara jarak ia kikis sedikit-sedikit.

Jangankan sempat bertanya apa yang terjadi, Hansol langsung disambut tinjuan bebas dari salah satu pria pirang yang beruntung dihindari dengan ciamik.

Sialan. Hansol membatin. Degup jantung pun kadar peluh tak keruan kini. Ia ambil langkah mundur sementara lawannya terkekeh sarkatis.

Jooeun tampak meringkuk takut di pojok dinding, dengan penampilan semrawut; pakaian agak kotor, tatanan rambut acak-acakan, plus wajahnya sembab. Membuat Hansol bahkan ogah berspekulasi aneh-aneh soal apa yang telah ia lewatkan.

“Kau Ji Hansol, ‘kan?”

Kok … dia tahu? Kelopak Hansol mengerjap cepat. Dua kali dalam sesekon. “Apa jika kubilang ‘ya’, gadis itu bebas?”

Lantas Hansol bergegas memasang kuda-kuda sebab dua pria gempal rekan si pria pirang berjajar di belakang. Satu menggenggam bat bisbol, satu lainnya memamerkan sebilah pisau. Tak ayal Hansol berulang meneguk gugup saliva.

“Bagus, bagus.” Si pria pirang menggeleng-geleng, tanganya bertepuk-tepuk puas. “Umpan kita ada gunanya juga.”

“Umpan?” Kemam Hansol.

Mendadak dua lelaki gempal bergerak maju. Serempak menyerang. Hansol kelabakan mundur menghindari belati. Lalu merendahkan tubuh ketika pemukul bisbol melayang kencang. Hansol baru bisa nyaman mengais oksigen ketika serangan-serangan tersebut mengambil jeda.

Ritme tersengal mereka bersahut-sahutan.

Anyway, Ji Hansol,” si pria pirang mendekati Jooeun. Menjambak surai gadis itu sampai erangan kesakitan menguar.

Hansol terkejut. Hendak maju tapi logika mencegahnya. “Baiklah, apa mau kalian? Jangan sakiti gadis itu kalau aku yang kalian cari.” Tantang Hansol. Gelisah hatinya melihat Jooeun, yang ternyata terikat tangannya, tengah mencoba berontak.

Tidak ada yang minat menyahuti Hansol. Mereka bungkam; sekedar bertukar tatap, menyengir, lalu menyeringai tajam. Yang akhirnya membuang keraguan Hansol, mendorongnya menerjang maju. Berteriak nyaring, lalu merunduk saat bat bisbol melayang. Refleks menangkap lengan lelaki berpisau, memelintirnya ke belakang, merebut logam tajam tersebut. Sedangkan si lelaki gempal merintih tertahan menyusul kerkak tulang.

Detik berikutnya Hansol tendang rusuk si gempal lain yang hendak memukul. Membuat sang lawan mundur meringkuk kesakitan, berusaha menstabilkan tubuh supaya tegak.

Si pria pirang memaksa Jooeun buat berdiri. Merubah si gadis jadi sandera, melekatkan mata belati di pipinya. Sementara lengan memiting lehernya.

“Kurasa kau sudah lupa denganku, ya.”

Masih mencengkram erat pergelangan tangan si gempal, Hansol memusatkan tiap sekon miliknya untuk mengawasi si pirang. Tentu yang utama kondisi Jooeun; musti ia bawa pulang si gadis dengan selamat. Apalagi jika baku hantam ini seyogianya tidak berkorelasi pada selain dirinya.

“Aku Taeyong, Ji Hansol.”

“Taeyong?”

“Taeyong?”

Nyaris serempak Hansol-Jooeun menyebut nama itu. Lantas si pirang sontak mengerang. Tendangan tumit Jooeun yang mendadak, sukses menghantam tulang kering Taeyong.

Tak mau tertinggal, Hansol refleks menodongkan pisau rampasan pada si gempal pemegang bat bisbol. Namun sayang, Hansol lengah dengan si gempal lain yang ia tawan. Tendangan keras didapat Hansol.

Jooeun menggigit tanpa ampun lengan Taeyong, membuat si pirang itu cepat-cepat membebaskan pitingannya. Mengambil kesempatan, Jooeun impulsif menghambur pada Hansol. Tanpa repot menanyakan keadaan kaki kekasihnya itu, ia ambil pisau di tangan Hansol. Mengarahkannya pada duo gempal secara defensif walau pergelangan masih dililit.

“Joo—”

“Telepon polisi, Kak, cepat!” Desis Jooeun panik. Maniknya masih fokus ke depan. Sesekali menyudut ke ekor mata lantaran si Taeyong sudah tegak di kedua tungkai.

“Lekas, Kak Hansol!” Jooeun sampai menyikut-nyikut pelan kekasihnya yang masih saja merapati tubuh acak-acakan gadis itu tanpa lekas mengambil handphone.

Kelabakan, Hansol menggenggam ponsel. Sekadar menekan dua digit satu dan satu digit dua, jempolnya gemetar. Sebanding dengan pisau di tangan Jooeun yang kentara berguncang begitu Taeyong berdiri sempurna di hadapan. Menyorot dengan binar mata bak menyala di kegelapan.

“Joo,” bisik Hansol.

Jooeun mencuri kesempatan menoleh. Mendelik geram.

“Ponselku mati; aku belum sempat bicara.”

Ya Tuhan. Ingin rasanya Jooeun membacok Hansol sekon ini juga. Kenapa sekarang jadi ia yang sibuk, padahal tadi ia korbanny—

“Sungguh kisah yang manis, Ji Hansol.”Sarkasme Taeyong memecah kegaduhan. Lambat laun siluetnya terang di bawah sang rembulan.

Tapi bukan itu fokus Hansol pun Jooeun. Bukan soal betapa seram muka Taeyong kini. Melainkan sesuatu berkilap-kilap samar yang sedang diacung ke arah mereka.

Sekelibat kilat yang tiba-tiba memancar dari angkasa menerangi visi Hansol-Jooeun. Membuka luas-luas pengelihatan mereka.

“Joo–Jooeun!” Hansol mencengkeram kedua lengan Jooeun sejurus ia sadar. Pisaulah yang ada di tangan Taeyong.

Tapi benda lembek dalam tengkorak Jooeun bekerja lamban. Gadis itu mematung kala Taeyong menyerbu. Menancapkan belatinya namun sayang. Sayang beribu sayang, bukan menancap pada Jooeun.

“KAK HANSOL!” Gadis itu menyalang kaget lantaran Hansol mendadak memunggungi. Sepersekon sebelum senjata benar-benar mendarat, menusuk belikat kanan lelaki di depan wajahnya.

Lelaki itu yang kini mengerang tertahan, merasakan sensasi perih bukan kepalang. Berjuta-juta kali lipat lebih sakit ketimbang teriris pedang. Kepala Hansol dikitari kunang-kunang berwajah Yoon Jooeun. Lantas rebah; dipangkuan Jooeun, kekasihnya, ia pun pingsan.

“Yoon Jooeun,”

Dari kelopaknya, kentara mata bola Hansol bergerak-gerak gelisah.

“Tidurlah di sofa.”

“Iya, nanti aku pindah, Kak Jung.”

Kemudian lapisan kulit tersebut terbuka. Sejemang menyipit, menyesuaikan intensitas cahaya. Iris pekatnya mengedar ke segala penjuru ruang. Tampak putih, bersih, beraroma karbol juga ob—

“Hansol?”

Menengoklah Hansol. Mengolah informasi dari indera pengelihatannya terhadap seorang bersurai panjang di sisi.

Tunggu dulu. Baru jelas kini Hansol memahami kondisi diri. Rumah sakit? Punggungnya menyandar jungkitan kasur empuk yang, “Joo?”

Ada gadis itu di sebelah, di satu ranjang serupa. Merapat, menyandar di pundak kiri dan memeluk erat lengannya. Lalu siuman Hansol kembali pada si surai panjang yang melenggang lega keluar ruangan—itu Junghan—sementara ia coba menegakkan badan. Namun malah mengaduh sakit, merasakan nyeri luar biasa di belikat kanan.

Tentu Jooeun bangun. “Jangan banyak bergerak, Kak.” Tuturnya lembut, menahan Hansol berkutik.

Tarikan napas Hansol terdengar berat, tapi terselip kelegaan. “Jadi aku betulan tertusuk?”

Jooeun mengangguk secukupnya. Menjaga agar puncak kepala tak membentur dagu Hansol. “Sudah, balik tidur lagi.”

Alih-alih menurut, Hansol justru memberi sedikit jarak dari gelayutan lengan Jooeun. Mengobservasi lamat-lamat raut gadisnya. “Joo,”

Sssh, aku mau tidur, Kak.” Jooeun masa bodoh. Kepalanya kembali bersandar nyaman di dalam rangkulan lengan kiri Hansol.

“Kenapa kau masih menggemaskan, sih, meskipun wajahmu lecet?”

Mendapat tatapan dingin, Hansol justru mengusak surai hitam Jooeun. Lalu memekik kesakitan sebab tak sadar yang ia pakai adalah lengan kanannya; notabene organ sambungan dari titik tancapan senjata tajam.

“Makanya, tidur sudah. Aku tidak diapa-apakan, kok, oleh Taeyong.” Jooeun mengeratkan pelukannya. “Aku sungguh rindu suasana damai begini.”

Hansol mengulas kurva positifnya. Bagaimanapun, ia mengamini ucapan Jooeun. Peduli apa pada alur cerita saat setelah dirinya pingsan. Terlebih pada lelaki asing yang mengaku Taeyong. Yang jelas, ya, yang sekarang.

“Omong-omong, kau tadi keren, Kak. Serius.”

Informasi saja, Taeyong itu sejatinya sepupu Hansol. Nyatanya seorang buronan yang diketahui lima tahun lalu kabur ke Alaska. Jadi biarkan kebingungan Hansol juga dirimu tersimpan rapat dalam mimpi semata.

Begitu mengecup singkat kening Jooeun yang, well, memang terdapat luka gores di sana, Hansol ikut-ikutan memejam mata.

Menikmati ketenangan yang bahkan belum pasti, apakah esok masih bisa ia jumpai selayaknya detik-detik di sisa hari ini.

fin.

.

.

a/n:

Alhamdulillah. Kelar. Auk ah certinya, lame plot rite. Auk ah karakter Hansol. Auk ah Taeyong. Auk ah.

Yuk sama-sama belajar dengan memberikan kritik dan saran :))

lots ♥

dita-xxline

5 thoughts on “[Vignette] Almost Losing You”

  1. Taeyong ada dendam apaan emg sama si hansol??? Pnasaran kok mreka bsa bawa si hansol k rumah sakit n kabur dari si taeyeong. Itu ceritanya mereka lagi dikejar” gtu ya??? Habis, jooeunnya bilang rindu suasana tenang kayak di rumah sakit… Penasaran nih…

    Suka

  2. “Ponselku mati; aku belum sempat bicara.”

    Pas baca itu aku ngebayangin muka polos hansol yang super cute itu.

    Duh, bang kapan debut? :’) /plak/

    Hansol disini keren, tapi lebih ke cute. Mungkin karena emang aslinya dia polos datar lucu gitu ya jadinya ngebayangin HAHA.

    Yosh! Buat Hansol lagi ya!

    p.s. btw Taeyong serem ya!

    Suka

  3. KADIT MBAAY DATENG KYA

    OLOLOLO HIDUP JOOSOL KYA JOOSOL IS REAL KYA MBAAY SAYANG JOOSOL KYA

    Sik mau ngakak lagi haha ini asli manis banget (meskipun ada mztiwai yg serem) mbaay suka oi haha karakter ddjoo dan mzhansol yg dududu pas banget pokoknya kya mbaay cinta mzhansol kyaaa

    PS 1; mzhansol lain kali kalo mau soksok nolongin latihan silat dulu sana bhak
    PS 2; ddjoo kamu kok mainan pisau ih di sini biasanya juga mainan di kasur sama mzhansol /plak
    PS 3; mztaeyong kalo mau kabur mbok ya ojo ke alaska, ke indonesia sini tempat mbaay sekalian bisa dipastikan kamu akan aman damai tentram nyaman yuk kita bikin 13 anak kyaaa

    AH SUDAHLAH KADIT ENTAR MBAAY MAKIN NGAWUR INI KALO LANJUT TEROS KYAA SAYANG JOOSOL SAYANG KADIT MAKASIH BANGET FIC KETJEHNYA KYAAA

    ILOVEYOU❤

    Suka

  4. hi there!
    lo lo lo kenapa Taeyong beringas (?) gitu yaa :”

    kirain Hansol jadi ksatria yang akan menyelamatkan putri (?) awalnya ksatria sih, tapi kudu ngakak yg baterai ponsel abis terus kaya bingung mau ngapain. omaygat pliss Hansol hahha xD

    ya untunglah ceritanya tak berakhir mati😀 yokatta~ hahhha

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s