[Vignette] Guardian Angel

Guardian Angel

Guardian Angel

Scriptwriter: Lee Uchida

Cast: Lee Junho | Bae Suzy

Genre: Life, Romance

Sinar kuning keemasan menembus dicelah-celah ranting pohon rindang yang menggelayut tenang. Hamparan air laut bernyanyi riang sambil sesekali membawa pasir-pasir putih pantai yang tak berdosa.

Di sudut pantai terdapat rumah indah yang berdiri tegap. Pemiliknya masih betah berjelajah dalam mimpi masing-masing.

Tirai putih bermotif bunga transparan melambai-lambai dengan senang hati. Beberapa kali angin sepoi-sepoi menarik poni cokelat gadis yang tidur di dekatnya. Gadis itu, masih enggan membuka mata. Bola matanya masih ia simpan rapat-rapat dan akan terbuka jika seseorang di sampingnya sudah tiada.

Suzy mengerjapkan matanya akibat sinar emas yang semakin siang semakin tinggi. Sedikit membenarkan otot-ototnya, dan mulai membuka matanya.

Pandangan yang pertama ia lihat adalah seorang namja yang masih tertidur pulas. Suzy menyunggingkan senyum. Mengingat apa yang telah terjadi kemarin. Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya dan membelai pipinya sebentar.

Namja itu sadar akan perlakuan Suzy baru saja, maka ia ikut terbangun. “Selamat pagi chagi..” sapa sang namja ramah.

“Selamat pagi oppa.” Jawab Suzy dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Kau tahu, wajah yeoja yang paling natural itu, ketika dirinya bangun tidur.” Suzy merasa pipinya memerah.

Mereka masih enggan untuk bangun, masih ingin melanjutkan beberapa bagian mimpi mereka yang tertinggal.

**

Udara pagi terasa segar dan hangat. Junho masih betah menghadapkan badannya ke arah laut dan menghirup sebanyak-banyaknya udara yang diberikan Tuhan.

Lain halnya dengan udara yang melambai-lambai dari arah dapur. Wanginya sangat khas. Apalagi kalau bukan makanan?

Baru saja kemarin Suzy dan Junho melangsungkan pernikahan di Seoul, lalu sorenya, Junho mengajak istrinya untuk pergi ke Jeju.

Inilah kehidupan mereka setelah menikah.

 HAPPY READING ^^^

**

Langit sore mulai terlihat. Matahari mulai lelah untuk bersinar dan bergantilah rembulan yang cahaya tak pernah padam saat malam. Pesawat baru saja mendarat di Incheon Airport dan penumpangnya bersiap untuk turun.

“Annyeong haseyo, eomma appa, aku pulang.” Ujar Junho membuka pintu rumah disusul dengan Suzy di belakangnya.

“Oh, kalian sudah pulang? Kalian pasti lelah kan? Yasudah, kalian cepat mandi dan makan malam bersama kami.” Ujar Ny. Lee.

“Kenapa kalian datangnya malam seperti ini? Bukankah waktu itu kalian bilang sore sudah sampai?”

“Ne, tapi cuaca di sana tiba-tiba buruk, jadi penerbangan terpaksa di tunda.” Ujar Junho memakan nasinya.

Setelah makan malam selesai, Suzy membantu Ny. Lee membereskan piring dan gelas yang tadi digunakan mereka makan malam. “Aih, Suzy, biar eomma saja yang mencucinya, kau istirahat saja.”

“Gwaenchana eomma, Suzy belum terlalu lelah.” Elaknya. Akhirnya Ny. Lee mengizinkan Suzy membantu mencuci piring.

“Eomma, boleh aku bertanya?” ujar Suzy di sela mereka mencuci piring.

“Apa?”

“Apa makanan kesukaan Junho oppa,  eomma?”

“Oh, dia suka semuanya, tapi yang paling dia suka adalah kimchi dan galbi barbeque. Dia sangat suka dimasakan galbi bersamaan dengan pesta kembang api tahun baru di halaman belakang rumah. Huuh.. dia bisa menghabiskan galbi sangat banyak. Tapi, dia juga tidak terlalu suka pedas.”

“Ada apa kau bertanya seperti itu?”

“Aniya eomma, hanya ingin tahu saja.” Senyum Suzy.

“Yasudah, ini sudah larut, sebaiknya kau istirahat.” Suzy mengangguk.

Usai membantu eomma, Suzy menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Masih kosong. Jendela kamar masih terbuka lebar, membuat angin semilir berganti bebas.

Pintu yang mengarah ke balkon juga masih terbuka sedikit. Suzy bisa menebak bahwa suaminya itu berada di sana. Sedikit senyum menghiasi wajah naturalnya itu, dia berjalan menghampiri Junho.

Di lihatnya Junho sedang asyik memandang langit berjajaran bintang di atasnya. Sambil sesekali menyesap kopi yang ia bawa dari dapur. Rambut pirangnya, terbang tersapu angin malam yang kencang.

Junho berbalik bermaksud ingin masuk ke kamar. Tapi, langkahnya terhenti ketika melihat Suzy yang sudah lama berada di sana.

“Sudah lamakah kau berdiri di sana chagi?” ujar Junho.

“Belum lama oppa.” Senyum Suzy kembali menghias wajah emasnya itu. “Oppa belum tidur?”

“Aku masih enggan untuk menutup mata. Karena, jika aku menutup mata, dan membuka mata saat keesokan harinya, aku akan melihat wajah natural istriku. Aku masih ingin memandang wajah istriku bermake up seperti ini.” Junho menghampiri Suzy mengelus pelan pipi merahnya.

“Chagi, apa kau keturunan malaikat?”

“Eh?” Suzy memandang Junho.

“Kau manis seperti arum manis, kau cantik seperti malaikat, kau putih seperti susu, kulitmu lembut seperti sutera. Aku merasa, mendapatkan istri yang sempurna.” Junho masih enggan melepas tangannya dari pipi Suzy.

“Oppa, kajja kita tidur. Ini sudah larut.” Suzy mengambil cangkir kopi Junho dan meletakkannya di meja dekat mereka berdiri.

“Ayo oppa?” ajak Suzy. Suzy berjalan lebih dulu dari Junho.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Junho memeluk Suzy dari belakang. Menghirup dalam aroma tubuh Suzy yang tidak pernah berubah sejak mereka berpacaran. Suzy juga bisa merasakan aroma mint Junho dan maskulin yang menyeruak indera penciuman Suzy. Wangi harum ini yang paling disukai Suzy.

Cukup lama. Hampir Suzy tidak bisa menopang tubuhnya dan ambruk bersama di lantai. Suzy memandang Junho yang di atasnya.

“Oppa, aku lelah. Aku mohon biarkan aku tidur.” Pinta Suzy.

Seketika senyum nafsu menghilang dari wajah Junho. Senyum paling manis dan lembut ia berikan pada istri tercintanya dan membantunya berdiri menuju ranjang.

“Mianhae, aku terlalu egois chagi.”

“Aniya oppa, aku tahu.” Junho berbaring di samping Suzy. Masih memandang wajah bermake up istrinya. Takut esok hari ia lupa bagaimana wajah istrinya jika bermake up.

**

Junho menggeliat sambil meraba-raba orang di sampingnya. Matanya terbuka karena orang yang dicarinya sudah tidak ada di sampingnya. Bukannya bangun, ia kembali mengeratkan selimutnya dan kembali tidur.

Aroma harum dari dapur sudah tercium hingga ruang makan. Beberapa masakan telah terhidang di meja. Kurang beberapa lauk dan minuman yang belum ada di sana.

Seperti biasa, Tn. Lee selalu membaca Koran paginya di ruang tamu dengan memakai kaca mata. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.45 KST, tidak bisanya keluarga ini melaksanakan sarapan sepagi ini.

Suzy masih mengenakan celemek dan membawa beberapa mangkuk masakan meletakkannya di meja makan, menatanya, dan kembali ke dapur mengambil masakan yang lain.

Junho menuruni tangga dengan waajah yang masih mengantuk dan rambut yang acak-acakkan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursinya.

“Oppa, kau sudah bangun?”

“Ne…” jawab Junho dengan senyum dan kembali menguap.

“Oppa, mandilah lalu makan.”

“Mandikan..” manja Junho mulai muncul lagi.

“Oppa..” Tn. Lee yang mendengar hanya mengulum senyum. Tn. Lee meletakkan korannya dan ikut bergabung di meja makan.

“Hmm.. enak sekali eomma, masakan siapa ini?”

“Masakan menantu kita appa, dia pandai memasak.”

“Kamsahamnida eomma, appa..”

Junho tak bergeming. Menikmati masakan Suzy yang sangat lezat.

“Oppa, kita mau kemana?”

“Kita mau jalan-jalan.”

“Aku tahu oppa, kita memang sedang jalan-jalan, tapi kemana?”

“Nanti kau akan tahu.” Junho melanjutkan jalan kakinya di pejalan kaki Seoul.

Mereka berhenti di sebuah kebun buah dengan macam-macam buah di sana. Suzy terpenganga. “Di Seoul ada tempat seperti ini oppa? Bagus sekali?” Suzy berjalan melihat-lihat kebun buah itu.

“Kau memang selalu berpikir bahwa Seoul itu kota berdebu dan banyak asap kendaraan. Tapi lihatlah, adakan kebun secantik ini?” maki Junho.

“Lihatlah, ada strawberry dan jeruk di sana.” Tunjuk Suzy. Junho membiarkan Suzy berlari mengampiri buah-buah yang masih menyatu dengan tangkainya.

Senyum Junho selalu mengembang ketika melihat istinya ceria dan bahagia. Ia selalu senang melihat istrinya tersenyum walau sinar matahari membakar kulit putihnya.

“Hmm, manis sekali.” Suzy mencoba strawberry merah.

“Ahjussi, kebun ini milik siapakah?” Tanya Suzy pada pria yang merawat kebun ini.

“Kebun ini milik Lee Corp, tapi sekarang kepemilikkannya telah jatuh ke orang lain.”

“Jadi, kebun ini milik siapa?”

“Seperti yang dikatakan Tn. Lee, kebun ini milik Ny. Bae Suzy.” Suzy terkejut.

“Bae Suzy? Anda tidak salah bicara kan? Aku Bae Suzy sendiri.”

“Oh, maafkan saya Ny. Bae Suzy.” Pria itu membungkuk meminta maaf.

Suzy merasa heran dan kembali menghampiri Junho yang sedang duduk di bawah pohon maple. “Oppa, orang-orang itu aneh.”

“Aneh bagaimana?” Junho bangkit dari duduknya dan melepas kaca mata hitamnya.

“Mereka mengatakan bahwa kebun ini milikku.”

“Kebun ini milikmu?”

“Ne, oppa.  Mereka aneh.”

“Memang kebun ini milikmu.” Suzy tak berkedip.

“Chagi, kebun ini memang milikmu. Aku yang mengembangkannya selama tahunan hanya untukmu.”

“Kenapa oppa memberikan padaku?”

“Itu adalah tanda cintaku padamu, kau adalah guardian angelku.” Junho memegang bahu istrinya menyakinkan.

“Oppa, jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda. Apa aku terlihat bercanda?” Suzy menggeleng.

“Maka dari itu, kebun ini memang milikmu. Pemberian dariku.”

“Gomawo oppa,” Suzy memeluk suaminya erat.

“Sudah puaskah makan strawberrynya?”

“Tentu belum oppa. Aku belum menocba jeruk di paling sana.” Tunjuk Suzy.

“Kajja, oppa temani.”

Sorot matahari mulai meninggi dan semakin tinggi. Membakar setiap kulit manusia yang berada di bawahnya. Tak terkecuali dua manusia yang asyik bermain kejar-kejaran di lorong-lorong kebun buah mereka.

Terlihat seringai tawa yang mendominasi keadaan. Banyak orang di sekitarnya tidak membuat mereka malu. Untuk apa malu? Ini milik mereka sendiri.

Panasnya matahri sudah mulai memudar. Tapi tidak dengan keceriaan mereka. Masih tetap sama. Berganti dengan hembusan angin dingin yang mengilukan tulang.

Awan cerah mulai berganti dengan mendung. Awan berubah menjadi hitam dan kelabu. Rintikan air mulai terdengar dan mereka kembali berlari mencari tempat berteduh.

“Oppa, hujan.” Ucap Suzy.

**

“Ya Tuhan, kalian darimana saja? Kenapa basah seperti ini?”

“Kami dari kebun eomma.”

“Ya Tuhan, cepat kalian ganti baju. Suzy sudah terlihat pucat.”

Junho membawa Suzy ke kamarnya. Wajah Suzy sudah pucat dan membiru.

“Chagi, gwaenchana?” Junho memakai kaos berwarna hitam bermotif abstrak. Suzy tak menjawab.

“Chagi … Chagi, badanmu panas!” Junho panik.

Segera ia turun ke dapur mengambil baskom, handuk, air hangat, dan selimut tebal di lemari pakaian bawah dan kembali naik ke kamarnya.

Junho mengganti kompresan Suzy untuk yang ke sekian kali. Panasnya belum surut juga. Suhu Suzy sekarang 38,23oC.

“Junho, mana Suzy?” Tanya eommanya saat makan malam berlangsung.

“Badan Suzy panas, dia sedang ada di kamar. Nanti akan aku bawakan makan malamnya ke kamar.”

“Pasti karena kehujana tadi kan?”

“Memang kalian kemana, sampai kehujanan?” Tanya appanya.

“Kami ke kebun buah appa. Tadinya aku sengaja tidak membawa mobil, karena aku pikir cuaca baik-baik saja. Tapi ternyata..”

“Yasudah, kau cepat habiskan makanmu dan bawakan makan malam Suzy.”

Junho membuka pelan pintu kamar mereka. Terlihat Suzy masih terlelap dengan handuk di dahinya. Junho meletakkan makan malam Suzy di atas meja.

“Suzy, maafkan aku. Seharusnya tadi aku membawa mobil agar kau tidak seperti ini.” Junho duduk di samping ranjang.

“Chagi, cepatlah sembuh… aku ingin melihat senyum dan tawamu lagi. Aku ingin melihat guardian angelku lagi. Kau takkan memilik wajah natural saat ini, karena kau sedang sakit. Cepat sembuh chagi..” Junho mengelus pelan punggung tangan Suzy.

**

Pelan-pelan, kelopak mata Suzy mulai terbuka. Terbuka lebar menatap sekelilingnya. Tidak asing, ini adalah kamarnya sendiri. Suzy melihat Junho tidur di sampingnya dengan posisi duduk. Dia juga bisa melihat makanan yang terletak di atas meja lengkap dengan susu dan buahnya.

Suzy menatap Junho mengingat peristiwa apa yang terjadi kemarin. Iya, dia kehujanan dan badannya panas. Itu saja yang mampu diingatnya.

“Oppa, bangun.” Panggil Suzy lemah.

Junho menggeliat pelan dan mengangkat kepalanya. “Chagi, kau sudah bangun? Kau sudah sembuh kah?”

“Ne oppa, aku sudah sedikit lebih baik.”

Junho langsung memeluk istrinya. Menangis di bahu sitrinya.

“Oppa, wae?”

“Aniyo, karena oppa kau jadi sakit.”

“Aniyo oppa, mungkin karena kondisi badanku tidak baik.”

“Saranghae Suzy.”

“Nado saranghae Junho oppa. Kenapa oppa mengatakan itu?”

“Wae? Apa tidak boleh?”

“Tentu saja boleh.”

Mereka berciuman lembut tanpa ada nafsu di dalamnya. Suzy melepas sebentar ciuman mereka, “Oppa, you’re my guardian angel.”

Junho menjawab dengan seringai senyum hangat.

“Nado chagi.” Junho memeluk Suzy erat.

Seakan waktu terhenti ketika melihatmu di ujung sana. Bae Suzy, kau telah menghipnotisku hingga aku tergoda untuk memilikimu seutuhnya. Tidak pernah terlintas di otakku untuk membuatmu sakit seperti ini, tapi ini karena kecerobohanku. Chagi, you’re my guardian angel.

END

3 thoughts on “[Vignette] Guardian Angel”

  1. hi there again! wah kayanya rajin banget ngirin fict yaa xD

    apabanget Junho gombalannya wkwkwkwk xD
    tapi… hmmm kok ngerasa alur fict ini kurang gereget gitu ya (?) wkwkwk
    gapapa sih~ atau akunya aja yg mau sok sokan geregetan (?) wkwkwk owkay lupakan saja hahha xD

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s