[Ficlet] Loser

Processed with VSCO with c1 preset

LOSER

starring :

Seventeen’s Kwon Soonyoung & OC’s Jung, Slight!OC’s Sha | Fluff | Ficlet | PG-15 | rae (@fahrazzahra)

|

“Jung baru tahu bahwa kekalahan dapat membuatnya sebahagia ini.”

 

|

 

+++++++++++++++++++++++

 

Kejadian pagi itu membuat Jung benar-benar linglung.

Bagaimana tidak?

Seorang Kwon Soonyoung yang tak pernah muncul di sekolah selama lebih dari dua bulan lamanya, akhirnya menunjukkan batang hidungnya kembali. Kwon Soonyoung bukannya bolos tanpa alasan— namun ia memang telah dipilih untuk mewakili pihak sekolah di ajang turnamen taekwondo nasional.

Seseantero kelas menjadi ricuh di kala Soonyoung menarik daun pintu, lalu masuk ke dalam ruangan kelas dengan sebuah piala besar di tangannya. “Aku pemenang utama!” Seruan bangganya kemudian disambut oleh ucapan selamat dari kubu perempuan, serta ajakan high-five dari kubu lelaki. Kata-kata ‘aku merindukanmu’ atau ‘kenapa tidak ada kabar darimu’ mendominasi atmosfer kelas 2-3 pagi itu.

Jung berbohong jika ia berkata bahwa ia tak merindukan Soonyoung— namun harga dirinya menanjak terlampau tinggi saat Soonyoung menjalin benang transparan antara fokus miliknya dan milik Jung. Alih-alih mendaratkan ransel, piala, serta bokong ke atas meja dan bangku miliknya, Soonyoung segera menghampiri Jung yang tengah berpura-pura membaca buku Biologi di hadapannya.

“Hei,” panggilnya. Jung mengangkat kepalanya demi seorang sosok yang kedatangannya diam-diam telah ia tunggu, namun yang menyambutnya malah sebuah piala raksasa yang menjulang tinggi tepat di depan ujung hidungnya.

“Apa-apaa-“

“Aku menang, lho,” potong Soonyoung. “Aku sudah dengar,” sahut Jung, kemudian kembali menjatuhkan pandang ke arah buku Biologinya. Soonyoung kemudian mengerutkan kening, lalu memutuskan untuk duduk di sebelah kanan Jung sebelum menyingkirkan piala dari meja.

“Itu saja? Kau tak mau mengucapkan selamat kepadaku?” Kata Soonyoung, lalu menopang dagunya tanpa menghentikan aktivitasnya ; menatap Jung lekat-lekat. “Well, ucapan selamat tak akan berarti apa-apa. Jika aku berikan kau ucapan selamat, tak akan ada yang berubah, kan?” Balas Jung.

“Ah, sudahlah. Lupakan. Kau semakin menyebalkan saja saat kutinggal pergi,” tandas Soonyoung. Jung mengulum senyumnya. Misinya untuk mempertahankan harga diri telah berhasil ia jalankan. Jung mengira bahwa Soonyoung akan segera angkat kaki dari sisinya, namun asumsi gadis itu ternyata salah total.

Soonyoung, dengan nyamannya, masih duduk di sana, tanpa memedulikan lonceng tanda dimulainya pelajaran yang tengah berbunyi serta eksistensi Sha, sahabat dekat sekaligus teman sebangku Jung, telah berdiri di sana, menyilangkan kedua tangan di dada, merasa kesal.

Jung lantas memanggil Soonyoung, yang disahuti oleh gumaman dari pemuda itu. “Pindahlah ke bangkumu. Sha sudah datang. Guru juga akan segera masuk kelas,” tilik Jung. Iris milik Soonyoung bergulir ke arah tempat Sha berdiri, kemudian mencibir gadis berkaca mata itu tanpa suara— membuat yang dicibir mendaratkan pukulan ringan ke bahu Soonyoung. “Cepatlah kau pergi. Aku lelah terus-terusan berdiri,” protes Sha. “Kau, kan, bisa duduk di sebelah kekasihmu,” balas Soonyoung.

“Kekasihku? Siapa?” Sanggah Sha, panik. “Siapa lagi kalau bukan Seokmin?” Sudut Soonyoung. Senyum Soonyoung kemudian muncul ke permukaan kala wajah Sha bersemu merah. “Sialan kau, Soonyoung,” umpat Sha, kemudian berlalu sambil menutupi kedua belah pipinya yang merona.

Jung kemudian berdehem. “Cepatlah pindah ke bangkumu,” pinta Jung. “Kalau aku tak mau, bagaimana?” Lanjut Soonyoung, seraya memainkan sebatang pensil yang entah kapan dicurinya dari kotak pensil milik Jung. Jung mengerang pelan, kesal. Soonyoung tertawa kecil.

“Aku akan pindah jika kau melakukan apa yang kuminta,” kata Soonyoung. Jung belum sempat mengeluarkan suara, namun Soonyoung telah menimpali kalimatnya. “Oh, dan kau juga harus mengakui bahwa dirimu memang benar-benar menyebalkan,”

Jung menghela nafas panjang, merutuki sikap kekanak-kanakkan pemuda yang telah menjadi temannya sejak sekolah dasar. Masa bodoh soal harga dirinya, ia memang sudah kalah telak jika Soonyoung menggunakan ancaman sebagai senjata utamanya. Jung menghela nafasnya, lagi, sebelum membuka mulutnya.

“Baiklah, baiklah. Aku menyebalkan. Aku memang benar-benar menyebalkan. Karena kau sudah meraih juara pertama nasional, aku memberimu kesempatan untuk hari ini saja. Sudah puas?” Ujar Jung dengan tempo cepat. Soonyoung terkekeh. “Sekarang, kau mau aku melakukan apa?” Desak Jung, masih dengan intonasi ketus.

Soonyoung kemudian meraih buku tulis milik Jung, menuliskan sesuatu di sana, kemudian merobek dan meremukkan kertas tersebut dengan cepat. Dan sebelum Jung sempat memprotes, gumpalan kertas mirip sampah itu telah berada dalam genggaman Jung.

“Bukanya nanti saja, ya. Saat aku sudah duduk di sana,” ujar Soonyoung. Ia kemudian angkat kaki dengan riangnya, lalu beranjak menuju bangkunya yang berada di ujung kiri belakang kelas.

Jung memutar bola matanya, kemudian mengawasi langkah ringan Soonyoung menuju habitat asalnya.

Tangan Jung membuka gumpalan kertas dalam genggamannya, lalu sekali lagi memastikan bahwa bokong Soonyoung telah mencium permukaan halus bangkunya, kemudian membaca tulisan tak rapi ala Soonyoung di atas kertas kusut itu.

Kalimat yang tertulis di sana mungkin akan sukses membuat Jung tersedak jika ia sedang makan, membuat Jung terbatuk jika ia sedang minum, atau membuat Jung tersandung jika ia sedang berjalan. Jung menutup mulutnya yang terbuka, sebelum menjalin koneksi di antara iris miliknya dan iris milik Soonyoung di sudut kelas. Soonyoung tersenyum miring sembari mengedikkan bahunya, membuat frekuensi detak jantung Jung semakin cepat saja.

Kalimat yang tertulis di sana benar-benar membuat Jung tak dapat menyerap ilmu apapun yang diajarkan gurunya hari itu. Jung memang benar-benar kalah telak melawan Soonyoung. Dan, Jung baru tahu bahwa kekalahan dapat membuatnya sebahagia ini. Demi Tuhan, Jung rela jadi pengecut jika Soonyoung memenangkan pertandingan dengan cara seperti ini.

Gadis itu menyadari bahwa sesungguhnya seorang Kwon Soonyoung tak hanya ahli dalam memenangkan kejuaraan taekwondo nasional, namun juga ahli dalam memenangkan hatinya.

Kau memang menyebalkan, sih. Tapi aku suka. Mau jadi kekasihku?

 

P.S : Aku tidak menerima penolakan, ya.

-fin-

 

Soonyoung emang bikin baper.

Aku bikin ff ini gara-gara doi yang notabene masuk timnas/ehem/ juga baru balik ke sekolah dari turnamen basket nasional. Cuma, berhubung Soonyoung itu ban hitam di taekwondo, jadi aku ubah deh turnamen basket jadi turnamen taekwondo.

Udah cukup curhatnya. Gapenting banget ya?

Okedeh.

Review juseyooooo~~~

Love,

-rae.

2 thoughts on “[Ficlet] Loser”

  1. hi there!

    eyaaa eyaaaa~~~
    jangan jangan nembaknya begitu juga aw aw awwww wkwkwk
    Soonyoung emang beda ya~ aw aw aw (?) hahha

    see ya

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s