The Vow Part 1

the vow

Title: The Vow | Scriptwriter: nchuhae | Main Cast: Jessica Jung, Kim Heechul

Support Cast: Lee Donghae, Krystal Jung, Im Yoona |  Genre: Drama, Romance, Family

Duration: Chaptered | Rating: PG-15

***

I vow to love you.

And no matter what challenges might carry us apart,

we will always find a way to get back to each other.

***

  1. BEAUTIFUL BRIDE

Heechul tidak tahu bagaimana cara yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya sendiri melihat pemandangan di depannya. Akhirnya hari ini tiba juga, hari yang sudah lama ditunggu oleh banyak orang, termasuk dirinya.

Pria itu sedang menimbang, apakah perlu berterima kasih kepada perias pengantin yang sudah begitu lihai menyapukan make-up ke wajah gadis di depannya hingga wajah yang sehari-hari dianggapnya sudah begitu mempesona meski tanpa polesan make-up, ternyata bisa tampak lebih mempesona lagi. Ataukah rasa terima kasih itu lebih patut dia sampaikan kepada perancang gaun berwarna gading yang kemewahan detailnya berhasil membuat gadis itu tampak glamor?

Oppa!” Soojung, adik sekaligus penata rias gadis itu melonjak kaget mendapati Heechul bersandar di ambang pintu. Dia sama sekali tidak menyangka pria itu bisa ada di tempatnya sekarang berdiri. “Sejak kapan kau ada di sini?”

“Baru beberapa saat yang lalu,” pria itu menjawab santai, sama sekali tidak berniat mengindahkan tatapan Soojung yang seolah ingin menyeretnya keluar dari ruangan saat itu juga.

“Kau tidak seharusnya berada di sini,” gadis muda itu memberitahu. Atau dia sedang mengusir? Ah, Heechul tidak peduli.

“Aku hanya tidak sabar ingin melihat sang calon pengantin.”

Soojung memutar bola matanya, berpikir apakah semua orang di rumah ini berbagi rasa penasaran yang sama seperti pria itu, ataukah memang hanya Heechul saja yang sedang berada dalam masa di mana kata sabar menghilang dari kamus hidupnya. “Kau kan bisa melihatnya nanti saat pemberkatan,” ujarnya.

“Kau tahu adegan di kebanyakan film drama di mana pintu gereja dibuka dan sang gadis melangkah pelan melintasi jalan kecil di antara deretan tamu undangan menuju tempat pendeta dan calon mempelainya berdiri, sementara sang pria menatapnya dengan pandangan yang seolah memperlihatkan ekspresi terkejut di detik pertama dan dilanjutkan dengan tatapan memuja di detik-detik setelahnya?” Heechul bertanya sambil menatap Soojung yang terlihat menyimak perkataannya dengan wajah tidak sabar. Setelah mendapat sebuah anggukan malas dari gadis itu, Heechul melanjutkan, “Aku tidak akan membiarkan diriku menunjukkan wajah bodoh seperti itu. Itu sangat tidak keren!”

Kali ini Soojung mendengus. Alasan macam apa yang baru saja didengarnya? “Oppa, kalau kau hanya ingin melihat penampilan Sooyeon unnie, bukankah beberapa menit lalu aku sudah mengirimimu fotonya segera setelah dia selesai kudandani? Apa itu masih belum cukup?”

Perkataan itu membuat Heechul meraih ponsel yang dia simpan di saku celananya. Dia memang tidak terlalu memperhatikan benda itu sejak pagi. Urusan pernikahan ini terlalu menyita waktunya.

Pria itu menekan tombol kecil di sisi ponselnya. Ketika layar benda tipis berwarna putih itu menyala, notifikasi dari sebuah social messenger langsung menyapanya. Heechul membuka aplikasi itu demi mencari foto yang disebutkan Soojung barusan. Benar saja, ada foto seorang calon pengantin yang diterimanya beberapa belas menit lalu.

Dia memperhatikan foto itu selama beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah cermin di dalam ruangan. Benda itu memantulkan bayangan Sooyeon, sang objek foto, yang duduk membelakangi pintu dengan senyum tersungging tipis di bibirnya. Mereka saling menatap melalui benda itu, bertukar pesan-pesan tersirat melalui tatapan diam, nyaris lupa bahwa ada seorang gadis lain yang lebih muda sedang berada di ruangan yang sama dan memperhatikan mereka. Ketika akhirnya gadis itu berdeham pelan untuk menunjukkan eksistensinya, Heechul mengakhiri kegiatan saling tatapnya dengan Sooyeon dan melemparkan senyum tipis kepada Soojung. “Tidak, foto ini sama sekali tidak cukup,” ujarnya menjawab pertanyaan yang dilontarkan Soojung beberapa saat lalu.

“Lalu, karena sekarang kau sudah melihat langsung hasil kerjaku,” gadis yang lebih muda itu melipat tangannya di depan dada dan menatap Heechul dengan pandangan menantang, “kenapa kau tidak mengatakan padaku pendapatmu?”

Heechul menatap Sooyeon sekali lagi. Dengan senyum kekanakan terlukis di wajahnya, dia menjawab, “Tidak buruk.”

Sooyeon, sang pengantin yang sejak Heechul datang hanya diam membelakangi pria itu akhirnya bangkit dari duduknya demi menghadap langsung ke arah Heechul. Gadis itu tersenyum sinis. “Bahkan di hari pernikahanku sekalipun, kau tetap tidak bersedia mengakui kalau aku cantik?”

“Bukankah kita pernah sepakat bahwa kalau aku berdandan seperti wanita, aku bisa tampil lebih cantik darimu?” Heechul menjawab, tidak mau kalah.

Soojung mendengus untuk yang kedua kalinya pagi ini karena ulah Heechul. Dia tahu betul bahwa dengan narsisme akut yang diderita pria itu, adalah sebuah hal mustahil mendengar dia memuji orang lain. Tapi bukankah ini adalah hari pernikahan Sooyeon? Semua pengantin berhak menerima pujian bahwa dia cantik di hari seistimewa ini.

Gadis berusia 22 tahun itu membuka mulut, hendak mendahului Sooyeon yang juga ingin membalas ucapan Heechul, tapi telepon genggamnya berdering saat kata pertama bahkan belum sempat terucap. Gadis itu berbicara beberapa saat di telepon, sementara Sooyeon dan Heechul memilih diam, tidak ingin mengganggu Soojung yang sepertinya terlibat pembicaraan serius dengan lawan bicaranya.

Soojung menutup telepon itu beberapa menit kemudian demi berpamitan pada dua orang di dekatnya. “Oppa, Unnie, aku harus pergi ke ruang resepsi. Ada sesuatu yang harus kuurus,” beritahunya.

Dua orang yang dipanggil Soojung dengan sebutan oppa dan unnie itu serempak mengangguk. Dari pembicaraan yang mereka dengar tadi, keduanya bisa mengetahui bahwa ada masalah dengan dekorasi yang seharusnya sudah rampung sekarang.

“Pergilah. Selesaikan semuanya dengan baik, jangan sampai tamu-tamu yang datang nanti mencela dekorasi ruang resepsi pernikahan unnie kesayanganmu,” ujar Heechul yang disambung tawa kecil Sooyeon.

Soojung memang memegang peran sebagai seksi sibuk di pernikahan kakaknya ini. Bukan karena mereka tidak bisa menyewa jasa wedding organizer ternama, tapi gadis itu sendiri yang menawarkan diri untuk diberi kepercayaan mengurus semuanya. Sooyeon adalah satu-satunya saudara yang dia miliki. Dan baginya, memastikan hari bahagia kakaknya berlangsung sesempurna mungkin adalah kado terbaik yang bisa dia berikan. “Ya Tuhan, kenapa segala sesuatu harus aku yang mengurus? Harusnya saat ini aku sudah mendandani diriku sendiri agar tampil cantik dan bisa memukau banyak pria lajang yang akan datang di acaramu nanti, Unnie,” candanya sembari berjalan meninggalkan ruangan.

Sooyeon menunggu adiknya benar-benar pergi untuk melontarkan cibiran yang sudah sejak beberapa menit lalu ingin dilontarkannya kepada Heechul. “Kau benar-benar bangga pada kecantikan wajahmu, huh?”

Heechul memutuskan menutup pintu setelah Soojung keluar ruangan. Dia lalu berjalan ke arah Sooyeon dan hanya mengangkat bahu serta tersenyum jahil untuk menanggapi ucapan gadis itu.

“Dengan sikap seperti itu, aku yakin hanya gadis bodoh yang sudi menikahimu.”

Pria itu berhenti tepat di depan Sooyeon. Dia mengganti senyum jahilnya dengan tatapan hangat lalu membelai sisi wajah Sooyeon dengan tangan kanan dan menghentikan pergerakannya di dagu gadis itu. “Kau benar, hanya gadis bodoh yang sudi melakukannya,” ujar Heechul.

Heechul masih sempat melihat Sooyeon menanggapi perkataannya dengan senyum mengejek sebelum akhirnya dia mengangkat dagu gadis itu dan mempertemukan bibir mereka dalam satu kecupan singkat.

Mencuri-curi waktu untuk sekedar berbagi sebuah kecupan seperti itu adalah kegiatan favorit mereka. Atau kalau ada yang mau menyebutnya sebagai sebuah keahlian, itu juga tidak ada salahnya.

“Sampai bertemu di depan pendeta,” bisik Heechul sebelum meninggalkan Sooyeon sendirian di dalam ruang riasnya.

  1. FIRST LOVE

Jika ditanya sejak kapan Sooyeon mencintai pria itu, dia juga tidak bisa benar-benar memastikannya.

Mungkin perasaan itu berawal ketika Heechul datang pertama kali di hadapan Sooyeon sebagai seorang asing yang dengan heroik membantunya saat dipalak oleh geng siswa sekolah sebelah. Sooyeon kemudian mengenali Heechul sebagai tetangga yang tinggal beberapa blok dari rumahnya. Dan bagai sebuah kebetulan, Heechul juga ternyata adalah anak dari salah seorang teman kerja ibunya. Fakta itulah yang membawa mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya di mana pada satu kesempatan, Heechul dengan bossy meminta gadis itu memanggilnya Oppa.

Mungkin itu terjadi di sebuah malam saat usianya 16 tahun, ketika dia masuk rumah sakit untuk operasi usus buntu ringan dan Heechul sengaja tidak pulang ke rumah demi bisa menemaninya semalaman, mengklaim diri sedang melakukan kewajibannya sebagai seorang kakak yang baik. Heechul melakukan banyak hal dalam ruangan putih berukuran 3 x 4 meter itu, mulai dari menceritakan hal-hal lucu tentang orang-orang yang mereka kenal sampai menirukan gerakan dance lagu-lagu dari girlband terkenal, membuat Sooyeon tertawa terpingkal-pingkal hingga gadis itu lupa pada rasa sakit yang dialaminya.

Mungkin itu saat usianya 18 tahun, ketika kedua orang tuanya terlalu sibuk bekerja dan Soojung juga sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian kenaikan tingkat, hingga Heechul menjadi satu-satunya orang yang ingat untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Pria yang lebih tua 6 tahun darinya itu rela melewatkan kuliah siangnya dan menempuh jarak sejauh belasan kilometer dari kampus menuju sekolah tempat Sooyeon belajar demi bisa memberikan ucapan selamat ulang tahun tepat di jam kelahiran gadis itu: jam 1.16 siang. Sooyeon sempat bertanya dari mana Heechul mengetahui detail seperti itu, tapi yang didaparkannya bukan jawaban, melainkan hanya sebuah seringaian kau-tidak-perlu-tahu yang dikamuflasekan Heechul dengan kalimat, “Karena aku Kim Heechul. Aku tahu semua hal.” Sebagai kado, pria itu memberikan sebuah kalung dengan liontin berbentuk huruf S yang dibelinya dari hasil bekerja sambilan sebagai pelayan sebuah pusat perbelanjaan selama setengah tahun, yang dipakaikannya dengan canggung di depan sekerumunan siswa tingkat akhir yang kebetulan lewat, yang kemudian tidak pernah lepas sedetik pun dari leher Sooyeon.

Sooyeon juga pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa perasaan itu mulai tumbuh ketika Heechul menemuinya pada suatu siang di depan kampus dengan seragam tentara lengkap membungkus tubuhnya, hanya demi memenuhi sebuah janji yang dia ucapkan sebelum memasuki camp wajib militer, bahwa ketika gadis itu lulus kuliah, dia akan datang memberikan selamat, tanpa peduli bahwa ketika kembali ke barak pelatihannya, pria itu pasti mendapat hukuman berat atas tindakan indisipliner yang dilakukannya.

Terlalu banyak hal menyenangkan yang dilakukan pria itu untuknya, hingga suatu hari, Sooyeon memutuskan; perasaan itu muncul tanpa disadari, tumbuh pelan-pelan, sedikit demi sedikit, bertunas dari rasa terima kasih dan berujung pada apa yang terjadi sekarang.

  1. THREE SIMPLE WORDS

Sooyeon menyatakannya lebih dulu. Dia sepenuhnya sadar betapa gila hal itu, tapi itu bukan masalah baginya.

Itu terjadi pada suatu malam di penghujung musim semi ketika Heechul mengantarnya pulang setelah mereka selesai makan malam dalam rangka perayaan diterimanya pria itu bekerja di sebuah kantor periklanan ternama. Heechul menemani Sooyeon berjalan dari perhentian bus terdekat sampai ke depan pintu rumahnya sambil menceritakan hal-hal menarik tentang orang-orang yang dia kenal di kantor barunya.

Sooyeon tidak memperhatikan cerita pria itu sedikitpun. Dalam hati, dia sibuk berbantah sendiri, bingung ingin mengutarakan isi hatinya. Iya atau tidak? Sekarang atau nanti?

Pada akhirnya, ketika pintu rumahnya hanya berjarak beberapa meter lagi dari tempatnya berdiri, kalimat itu lolos dari bibirnya.

Oppa, aku menyukaimu.”

Heechul yang sama sekali tidak menyangka cerita tentang betapa seorang hyung yang disebutkannya barusan memperlakukan dia dengan baik, yang disampaikannya dengan begitu antusias, malah ditanggapi dengan sebuah pernyataan mengejutkan oleh gadis itu. Dia menghentikan langkah dan berbalik demi memandang Sooyeon yang berdiri beberapa langkah di belakangnya. Di bawah remang lampu jalan, dia mendapati gadis berambut panjang itu menatapnya, menunggu jawabannya.

Pria itu mungkin tidak begitu cemerlang dalam banyak hal, tapi memang tidak butuh otak sejenius Einstein untuk bisa membaca keseriusan gadis di depannya itu. Meski demikian, Heechul memilih menanggapinya dengan sebuah senyum jenaka, berharap dia hanya salah mengartikan moment ini. Dia menarik Sooyeon mendekat dan mempermainkan rambut gadis itu dengan mengacaknya pelan sambil berseru, “Aigoo, Dongsaeng-ah… aku juga begitu menyukaimu!”

Sooyeon menghentikan pergerakan tangan pria itu di kepalanya bahkan sebelum Heechul benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Selain karena tidak suka rambutnya dibuat berantakan, dia juga tidak suka pada cara pria itu menjawab dengan menekankan kalimatnya pada kata dongsaeng. Dia membenci kata itu.

“Kau tahu aku tidak pernah suka kau memanggilku seperti itu.”

Heechul pelan-pelan menarik tangannya dari kepala gadis di depannya dan ganti memasukkannya ke dalam saku jaket abu-abu yang dia kenakan, sadar bahwa gadis itu sedang tidak bisa diajak bercanda saat ini. Menirukan keseriusan Sooyeon dalam berbicara, dia berujar, “Aku yakin kau juga tahu bahwa perkataanmu tadi mempertaruhkan sebuah hal besar. Apapun jawabanku, akan ada hal yang berakhir karenanya.”

Hubungan kakak beradik yang mereka jalin sejak usia begitu muda? Sooyeon sudah mempertimbangkannya, dan dia tidak peduli. Justru, satu-satunya hal yang paling dia inginkan sekarang adalah menghancurkan hubungan bodoh itu.

“Aku lelah menjadi adikmu.”

Gadis itu bukannya bertindak tanpa pertimbangan matang. Dia tahu bahwa ada kemungkinan Heechul akan menjauhinya setelah ini. Pernyataan cintanya mungkin akan ditolak. Tapi setidaknya dia tidak lagi harus terperangkap dalam keingintahuannya dan menghabiskan hari dengan sibuk menerka-nerka apakah pria di depannya berbagi perasaan yang sama dengannya.

Entah sejak kapan, harapan itu muncul. Bahwa diam-diam, perasaan yang sama seperti yang dirasakannya juga tumbuh di hati pria itu. Bahwa selama ini hubungan mereka berkutat pada hal yang itu-itu saja karena pria itu bimbang menentukan langkah. Bahwa jika dia menyatakan perasaannya terlebih dulu, semua akan terbalas. Dan bahwa dengan mengesampingkan semua ketidakmungkinan yang ada, mereka bisa bersatu.

Detik berlalu begitu lambat, tapi Sooyeon tetap menunggu dengan sabar, tahu bahwa ada pergolakan batin yang besar di dalam diri Heechul saat ini. Dia memilih menghabiskan waktu dengan menghitung detik-detik yang dia lewati berdiri di sana; bermain tebak-tebakan dengan dirinya sendiri mengenai jawaban yang akan diberikan pria di depannya. Dia akan menghitung sampai pria itu berbicara, dan jika hitungannya kebetulan berhenti di angka ganjil, tidak peduli apapun yang dikatakan pria itu, Sooyeon memutuskan akan percaya bahwa mereka berbagi perasaan yang sama. Sebaliknya, jika hitungannya berhenti di angka genap, dia akan mengartikannya sebagai tanda bahwa dia hanya perlu berusaha sedikit lebih keras untuk membuat pria itu percaya bahwa perasaan di antara mereka selama ini layak mendapat nama yang lebih baik dari sekedar kasih sayang oppa dan dongsaeng.

“Sooyeon-ah,” ujar Heechul, mematahkan hening yang untuk beberapa saat hadir di antara mereka.

Gadis yang disebut namanya itu mendongak setelah menghentikan hitungannya di angka 53. Ganjil!

Heechul menghela napas panjang sebelum menghadiahi Sooyeon dengan sebuah senyum hambar. “Kau sudah dewasa, rupanya.”

Sooyeon diam, tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu hanya bisa menatap Heechul yang untuk sesaat kembali kehilangan kemampuan berbicara. Tatapan diam yang lagi-lagi menghiasi mata pria di depannya membuat rasa menyesal karena telah menyatakan perasaannya tiba-tiba hadir dan perlahan menelusup ke dalam pikirannya.

“Masuklah,” Heechul berujar pelan. “Aku tidak bisa mengantarmu sampai ke pintu kali ini.”

Perkataan itu membuat Sooyeon tahu dia telah mendapatkan jawaban atas penyataan cintanya. Dia sama sekali tidak menyukai hal itu, tapi pada akhirnya, dia tetap tersenyum seolah tidak ada hal istimewa yang baru saja terjadi.

“Sampai jumpa besok,” kata Sooyeon sebelum membalik badan dan berlari kecil menuju rumahnya, meninggalkan Heechul yang memandang punggungnya menjauh dengan banyak hal berkecamuk di pikirannya.

to be continued…

A/N: Pernah dipublish di blog pribadi author dengan judul dan cast yang sama.

6 thoughts on “The Vow Part 1”

  1. hi there!

    karakter Heechulnya Heechul sekali nyebelin nyebelin gimana gitu ya

    uwow! mutusnya ngegantung sekaleee. bikin penasaran ae~~

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s