[Vignette] Be Yours

Be Yours

By Goo Mara

Starring BTS Suga as Min Yoongi, and Goo Mara OC as you

vignette/17 /romance-angst/

Warning!! Jika terjadi reaksi kebingungan dalam menelaah cerita harap dibaca ulang. Karena cerita ini mengandung unsur membolak-balikkan pikiran. Untuk anak dibawah 17 tahun diharapkan untuk didampingi orang dewasa saat membaca karena cerita ini juga mengandung percikan-sensor- karena akan terdapat –beberapa- kosa kata yang membingungkan. Jika terjadi typo saat membaca harap maklum. Selamat membaca

–Goo Mara bow

 

BE YOURS

 

            Aku terus memandangi dia sepanjang rapat berlangsung. Aku sudah berusaha melepas perasaan yang sudah hadir sejak aku pertama kali mengenalnya saat semester satu di bangku kuliah. 2 tahun sudah kami menjadi rekan kerja, di total hampir 6 tahun aku memendam rasa ini. Senyumnya yang begitu manis melebihi gula dan glukosa itu membuat hatiku tidak bisa sinkron dengan anggota tubuhku. Seperti sekarang. Baru saja dia tersenyum kepadaku dan berhasil membuat kerja hati dan anggota tubuhku bertabrakan. Aku selalu saja melambaikan tangan ketika dia tersenyum ke arahku. Walau terkadang aku sadar dia tidak sepenuhnya tersenyum kearahku. Aku modal muka baja tetap saja membalas senyumannya itu dengan lambaian tangan, meskipun rapat sedang berlangsung.

Apakah suatu saat aku bisa jadi milikmu?

Berapa lama kah kira-kira?

                                                                        ***

Jepret!!

            Dia lagi-lagi memotretku ketika aku sedang konsenterasi menyelesaikan pekerjaanku. Maafkan aku. Aku tau kau berusaha menarik perhatianku disaat kau butuh hiburan karena lelah menatap layar komputermu. Min Yoongi, kapan kau akan berhenti memotretku? Kepalaku pusing juga mendengar suara dari kamera pocket digital mu itu.

“Apa pekerjaanmu sudah selesai?”

“Belum” katanya sembari memangku dagunya dan memperhatikan aku yang sedang menatap layar komputerku.

“Terus sedang apa kau memandangiku dari tadi? Selesaikan sana pekerjaanmu.” Aku masih focus menatap layar computer dengan mata empatku.

“Ini sedang aku selesaikan.”

“Bicara apa kau ini, Yoongi-ah?”

“Pekerjaanku adalah mencari tau hal apa yang membuatku menyukaimu.”

“Mwo?”

Jepret!

            Dia berhasil menarik perhatianku dan membuatku bermimik wajah layaknya valak.

“Hahaha lihat wajah menyeramkanmu itu, Mara. Sungguh mengerikan. Kau seperti valak dengan ekspresi seperti itu. Akan aku cuci foto ini.”

            Dia puas karena akhirnya terhibur dengan ekspresiku yang seperti humburger busuk itu. Apakah dia tidak pernah berpikir kalau dia terus-terus menarik perhatianku dengan kalimat seperti tadi bisa membuatku gagal jantung dan juga overdosis.

“Kau masih lama?”

“Sebentar lagi, kenapa? Kau ingin menggangguku lagi?”

“Kali ini aku ingin membicarakan sesuatu padamu.”

“Dan pembicaraan itu pasti berakhir dengan sebuah ejekan untukku.”

“Tidak Goo Mara-ah yang cantik, kali ini aku serius.”

            Dia menghambur ria rambut lurusku yang tengah terurai. Andai aku tidak memiliki perasaan terhadapmu, sudah aku pastikan aku akan mengikatmu dikandang babi agar kau jadi pakan ternak babi-babi.

“Selesai. Kali ini lelucon kotor apalagi yang akan kau hibahkan kepadaku?”

“Mara-ah… “

            Dia mengambil kedua tanganku lalu mengenggamnya.

“Kau tau aku tak suka basa-basi dan juga tak pandai berpuisi seperti atasanmu yang selalu mengejar-ngejarmu itu. Aku mau bilang kalau aku menyukaimu.”

             Aku hanya terdiam karena syok mendengarnya. Aku yakin kali ini dia serius karena dari tatapannya yang menunjukkan kedewasaan.

“Aku belum siap untuk menjalin hubungan denganmu. Aku takut membuatmu menangis. Jadi aku hanya ingin mengutarakannya dan bertanya padamu satu hal. Apa kau juga menyukaiku?”

            Terkejut setengah mati dan dengan bodohnya aku menggeleng ria seperti aku menolak ajakan ahjussi-ahjussi mesum yang mengajakku –sensor-. Aku bisa melihat ekspresi kecewa di mata sipitnya itu. Kenapa aku bodoh sekali? Selalu saja disaat genting reflek ku selalu sebuah penolakan? Ini adalah saat yang kau tunggu-tunggu Goo Mara. Aku sepertinya memang cocok jadi valak yang hanya bisa menakuti orang.

“Tidak ya.”

“Yoongi-ah..”

“Tak apa, kau tak perlu merasa bersalah. Yang penting aku tenang karena telah menyatakannya padamu. Terima kasih sudah mendengarkanku kali ini. Aku pergi dulu.”

            Aku pun terdiam melihatnya berlalu dan hilang dari pandanganku pergi meninggalkanku yang seperti valak terpuruk karena menyesali dirinya yang menjadi hantu.

                                                                        ***

            Aku begitu menikmati sensasi birahi ketika Min Yoongi mencium mesra bibirku walaupun keadaannya sangat lemah saat ini. Setelah dia selesai menyalurkan hasrat terpendamnya, dia terus saja memandangi wajahku. Aku takut sekaligus sedih melihat mata sayu dan bibir Yoongi yang sedang sekarat sekarang. Aku menangis dan mengaku menyesal telah mengatakan bahwa aku tidak menyukainya. Dia sudah menebaknya bahwa aku bilang tidak dikarenakan reaksi absurdku. Aku masih saja menangis di atas tubuhnya. Sekujur tubuhnya nampak pucat, sudah kulitnya kelewatan putih ditambah lagi dia pucat dan semakin terlihat seperti zombie.

“Kenapa kau masih menangis, sayangku? Bukankah aku sudah berikan ciuman pertamaku padamu? Ini yang aku takutkan, melihatmu menangis karena aku. Berhentilah menangis valakku.”

            Aku tetap saja menangis sedangkan dia memuaskan dirinya memandangi wajahku.

“Kau pasti pakai lipstick rasa jeruk. Aku bisa merasakannya tadi, haha. Lihat, lipstickmu tidak luntur. Aku memang belum berpengalaman dalam hal melunturkan lipstick wanita.”

            Dia mengecup ria wajahku dan sekitarnya. Disaat sedih seperti ini dia masih saja bisa bercanda serta memuaskan nafsunya itu. Namun semua berubah ketika darah segar mengalir dari hidungnya. Dia mendorongku menjauh darinya, suster dan dokterpun berdatangan. Aku terhisap kekuatan magnetic dinding yang membuatku tertempel kuat di dinding. Yang sekarat Yoongi tetapi kenapa malah tubuhku yang berguncang dahsyat? Kepalaku rasanya lepas dan melayang ria mengelilingi kamar pasien milik Yoongi. Yoongi yang tengah sekarat memandangi kepalaku yang tengah berkeliaran di langit-langit. Kepalaku pun kembali ke tubuhku. Mataku dipenuhi semut dan aku menyaksikan gambaran aneh. Aku melihat sosok berjubah hitam dan tinggi di antara para suster dan dokter yang sedang menangani Yoongii yang tengah sekarat. Sosok berjubah itu menoleh kearahku dan menatapku dengan matanya yang seperti biji selasi dengan begitu seram. Sejak kapan valak beralih profesi menjadi malaikat pencabut nyawa?

            Sejurus dinyatakan meninggalnya Yoongi, hati dan anggota tubuhku kembali tidak singkron. Terakhir kali aku melihat sosok berjubah itu membututi suster yang menghampiriku. Gelap. Semuanya gelap. Lalu sesuatu menamparku dan menyadarkan pandanganku yang sedang terombang-ambing hanyut di pipa pembuangan kota bawah tanah. Aku melihat valak-valak berterbangan dengan ekspresi mengejek. Entah mereka menertawakanku yang sedang tercampur aduk dengan tinja atau mereka sedang menyambutku kembali kedalam komunitas mereka. Hingga salah satu dari mereka perlahan mendekatiku lalu tiba-tiba mendorong kuat tubuh sehingga aku terhempas kuat ke dasar genangan tinja-tinja kuning.

            Aku membuka mataku dan kepalaku sangat pusing yang membuat pandanganku seperti tengah berenang riang di padang Syahara. Hingga akhirnya pandanganku focus melihat kursi-kursi kosong didepanku. Penampilan layar mataku ini benar-benar membuatku bingung. Ku lirik paha seseorang yang duduk disebelahku. Aku membangunkan kepalaku dan melihat kearah orang tersebut yang ternyata adalah Min Yoongi.

“Kau sudah bangun, yeobo. Pasti kau sangat pusing. Sebentar lagi busnya akan berhenti. Aku tak sabar besok akan membawa mobil kita sendiri. Aku juga tak sabar ingin menggendong jagoan kecil kita.”

            Yoongi mengelus perutku yang ternyata bervolume besar lalu mengecup keningku. Busnya pun sampai. Dia turun lebih dahulu daripada aku.

“Tanahnya aman. Ayo naik ke pungguku. Kemarilah, istriku.”

            Dia menyodorkan punggungnya kepadaku. Saat aku hendak turun dari pintu bus dan naik ke punggungnya. Sebuah mobil sedan berwarna gelap menghempas keras tubuh Yoongi dan menyeretnya jauh. Supir bus terkejut apalagi diriku. Aku terduduk lemas didepan pintu bus.

Ternyata aku telah menjadi milikmu hingga sejauh ini, suamiku….

 

THE END

2 thoughts on “[Vignette] Be Yours”

  1. hi there!

    owkay benar sekali notenya. buat yg kapasitas pikirnya agak lama kayak aku, bikin bolak balik baca dan hmmm masih agak sedikit bingung :”

    sebenernya cerita kematian sebelum tabrakan itu mimpi atau bukan sih? atau apa sih? aaaahhh auk ah :”” pusying aing ._. wkwkwkwk

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s