[Oneshot] Destroyer Relationship

destroyer relationship

“Destroyer

Relationship”

Present By: Masunshine

Duration: Oneshot (4.074 Word)

Genre: Marriage Life, Hurt/Comfort, Angst, Romance

Rating: PG-15

Cast:

  • Byun Baekhyun [EXO] as CEO Byun
  • Irene / Kim Joohyeon [Red Velvet] as Nona Kim
  • Kim Joonmyeon / Suho [EXO] as Asisten Kim

Disclaimer:

Plagiat? Silahkan baca keterangan di bawah sendiri, Like & Comment Jusseyo~, Be A Good Reader, Sorry For Typo, Read Irene –Airin And.. Happy Reading..

.

.

.

 

“Aku tak sudi asisten ku lebih beruntung dari ku!

Memiliki seorang gadis cantik nan idaman sepertimu, Irene-ah

Maafkan aku, tapi Tuan yang kau bicarakan itu telah mati,

Menikahlah dengan ku..”

.

.

.

Baekhyun Mind

Kau datang mengenakan blouse putih dengan hiasan renda dan jahitan bunga, baju yang kau kenakan sangatlah norak dan sama sekali tak pantas di kenakan disaat menginjak kantor ku, namun jika kau yang mengenakannya.. rasanya aku melihat malaikat di depan mataku.

Kau tersenyum simpul padaku, manis dan menggetarkan hati.

Jika saja itu bukan kau, sudah pasti kau akan mendapat segudang masalah karena tak membungkuk kepada seorang CEO,  hanya memberikan seulas senyum ketika aku datang.

Dan kau, malah menunduk dengan anggun ketika Suho menatap mu, seharusnya kau mendapat pengadilan karena hal tersebut adalah salah satu bentuk penghinaan karena kau lebih menghormati asisten daripada boss-nya.

Dan ketika ulang tahun perusahaan, kau mengenakan dress hitam putih cantik menawan nan elegan, aku sesaat terpana melihat seorang malaikat dengan senyumnya yang mampu menerangi sisi gelap hati ku.

Namun seketika hatiku runtuh tuh mendapati mu mengapit lengan Asisten Kim,

Mereka yang menatap mu, memuji mu alangkah serasi dan harmonisnya dirimu dengan Asisten Kim, -yang mereka mengakuinya bahwa ia adalah suami mu.

Aku tak pernah mengakuinya Irene-ah, kau adalah seorang mempelai wanita yang nantinya berdiri di altar pernikahan dengan ku..

Cepat atau lambat kau akan menjadi istriku..

Tak peduli persetanan hubungan mu dengan dengan asisten ku, aku tak sudi asisten ku lebih beruntung dari ku!

Kau menari dengan anggun di saat pesta dansa di mulai, dan kau menjadi yang bersinar kala itu, lampu cahaya itu mengikuti gerak – gerik mu bersama lelaki budak ku.

Kalian saling tersenyum dan memancarkan pandangan yang menenangkan satu sama lain, orang buta sekalipun dapat merasakan hubungan manis kalian.

Ahniya..

Tentu saja kita..

Kau dan aku..

Akan lebih harmoni dan pantas jika kita berdansa bersama, dan dunia akan mengakui jika kita adalah pasangan yang manis sepanjang masa..

Sungguh, Irene-ah..

Di malam itu aku hanya menunggu kau berpisah dengan Kim Joonmyeon, dan aku akan berdiri di posisi dimana lelaki tersebut dapat menggenggam tangan mu dan menari bersama..

Namun, yang datang bukanlah dirimu, melainkan Noona Noona dengan mata duitan yang merayuku untuk berdansa bersama,

Irene-ah..

Kenapa kau berani sekali meruntuhkan hati seorang CEO Byun Baekhyun yang terkenal kedinginannya, ketampanannya, kesempurnannya, dan segala yang ia miliki?

Tidakkah kau tau? Seluruh gadis seantero jagad raya ini mendambakan seorang lelaki seperti ku untuk menjadi pendamping hidup?

Dan lelaki yang tengah berdansa dengan mu,

Aku hanya perlu menghilangkan nyawanya agar tak menghalangiku lebih dekat dengamu..

Irene-ah..

.

.

.

Author POV

“Kenapa mendadak sekali Tuan?”

Ucap gadis tersebut mendapati suaminya tengah mengemasi baju dan memasukkannya ke dalam koper hitam.

“Entahlah, sepertinya ini tugas penting, karena Tuan Byun sendiri yang akan mengantarkan ku ke bandara nanti,”

Jawab lelaki tersebut yang masih sibuk memindahkan setelan baju kedalam koper.

“Untuk berapa hari?”

Tanyanya kemudian duduk ikut merapikan baju yang hendak di bawa pergi suaminya.

“Entahlah, mungkin seminggu, mengingat ini proyek besar,”

Gadis tersebut menghela nafas berat.

“Ah.. kenapa lama sekali?”

Ucapnya lesu mendengar pernyataan tersebut.

Mendengar keluhan istrinya, Suho pun bersimpuh dan menangkup pipi hangat Irene dengan kedua tangannya.

Gwaenchana Irene-ah..,

Ucapnya dengan nada halus nan menenangkan.

Irene pun terdiam.

.

.

.

Baekhyun Mind.

Sekarat.

Kata itulah yang menggambarkan diriku sekarang yang berada dalam keadaan mabuk dengan para gadis di sekeliling ku.

Ini adalah aktivitas yang telah lama ku gandrungi, namun baru akhir – akhir ini aku menyadari jika ada seorang gadis yang lebih baik dan menawan di luar sana.

Padahal bertahun – tahun aku memandang rendah para gadis, namun dalam sekejap seorang gadis sederhana mengubah asumsi ku bertahun – tahun tersebut, gadis idaman, namun sayang dia telah dimiliki seseorang.

Bukan Byun Baekhyun namanya jika aku tak dapat memiliki segalanya.

Aku sedikit panas hari ini, walau aku sakit, aku tetap mendatangi tempat terkutuk ini.

Daripada berharap aku sembuh dirumah, lebih baik pergi dan menyembuhkan diri di tempat yang demikian.

Aku tau, Asisten ku pergi untuk seminggu menangani sebuah proyek kerja sama  di China.

Aku bergerak cepat dan segera menelponnya setibanya aku selesai mengantarkan asisten ku sendiri. Entah takdir atau diriku yang terlalu bernafsu mengejarnya?

“Apakah Nona Kim ada acara sore ini?”

“Tentu saja, orang yang barusan menelepon saya mengajak bertemu sore ini”

Hari pertama mengajaknya gagal.

“Bagaimana dengan besok atau lusa?”

“Maaf Tuan Byun, tetapi..,”

“Tetapi?”

“Aku sedang menangani beberapa upacara akhir – akhir ini, maaf”

“Kau benar – benar tak memiliki waktu seminggu ini? Aku yakin kau belum banyak mengetahui kota Seoul”

“Maaf Tuan, ajakan mu menarik, tapi aku benar – benar..,”

Aku memutuskan sambungan dengan membanting ponsel ku.

Tak ada gunanya menyuruh asisten Kim untuk pergi seminggu, gadis tersebut tak bisa di ajak pergi maupun kompromi.

Aku terkekeh pelan mengingat kejadian tersebut.

Sesaat kemudian aku kembali menyambar segelas alkohol dan menghabiskannya dalam sekali teguk.

.

.

.

Aku tersenyum melihat sebuah rumah mewah dengan dominasi cat berwarna putih di depan mataku.

Taman bunga yang tersusun rapi menambah nilai asri pada rumah tersebut hingga mengingatkan ku kepada kecantikan sang pemilik rumah.

Aku diam bersandar pada mobilku menahan sakit di sekujur tubuh ku. Demam tinggi yang kurasakan di tambah sensasi mabuk itu adalah rasa yang luar biasa.

Kau belum pernah mencobanya bukan?

Seseorang dari dalam rumah tersebut menggeser pintu pagar hingga menimbulkan decitan nyaring.

Dari langkahnya saja aku sudah mengetahui jika itu adalah Nona Kim. Ia menenteng dua kantung plastik hitam dan kemudian meletakkannya pada tong sampah di depan rumah.

Aku terkekeh pelan..

“Menantu idaman,” Ucapku.

Lantas kau pun menoleh dan menatap ku menyergai,

“Tuan Byun? Itukah kau?”

Bahkan aku mengetahui nada langkah mu, namun kau bertanya apakah ini aku dalam jarak kita kurang dari 15 kaki.

Aku sangat mengenal mu Irene-ah

Aku pun tersenyum mendapati seorang gadis dengan balutan sweater putih melangkah ke arahku.

“Kemarilah.. kemarilah.. mari kita menikah..,”

Seperti layaknya orang gila otaknya namun dapat mengausai dirinya, itulah aku saat melihatnya. Sesaat adegan klise drama muncul di otak ku, kau datang mengenakan gaun putih, kau berlari memeluk ku..

“Apa yang anda lakukan disini Tuan?”

“Menunggu mu sayang,”

Namun sebuah batuk malah mencelos dari mulutku,

Uhhuk uhukk uhhuk

“Gwaenchana?” Ucapnya memegangi tanganku.

“Ya Tuhan, anda panas sekali Tuan..,Kau harus pergi ke UGD,”

Ucapnya panik namun sepertinya batuk ku malah menghujam deras di kerongkongan ku.

Namun aku menepis tangannya yang memeriksa dahi ku.

“Aku phobia Rumah Sakit Nona..,”

Ucapku memegangi tangan hangatnya seraya tersenyum sumringah.

Di detik kemudian, aku menjatuhkan badan ku kepelukannya.

Nampaknya kontrol atas diriku sendiri mulai hilang dihadapannya.

.

.

.

Aku terbangun dari tidur ku, merasakan sakit kepala luar biasa.

Aku tak mengingat apapun selain..

Aku tadi malam mabuk..

Kemudian aku merasa sakit di sekujur tubuh ku,

dan malah mendatangi rumah sialan ini..

Kemudian aku batuk ketika seorang gadis mendekati ku, dan..

aku merasa tubuh ku lemas dan pandanganku berkunang – kunang.

Hanya itu,

Oh ya, tadi malam.. aku memeluk seorang gadis..

Tubuhnya mungil, dan enak di peluk tentunya..

Aku tersenyum kecil mengingatnya.

*Cklek

 “Ah iya, maaf, aku akan datang sebentar lagi, seorang tamu tiba – tiba datang dan aku harus menunggunya pulang maaf – maaf,”

Ucapnya pada gagang telepon yang ia apit dengan kepala dan pundaknya sedangkan kedua tangannya membawa sebuah nampan berisikan teh dan kue beras.

“Oh Tuan Byun, kau sudah bangun ternyata,”

Aku tersenyum sudut.

Sesaat kemudian ia meletakkan nampan tersebut di meja kecil di dekat lampu tidur.

“Panas mu sudah turun Tuan? Anda kemarin datang di tengah malam, beruntung aku melihatmu ketika aku membuang sampah,” Ocehnya seraya menempelkan punggung tangannya pada dahi ku.

“Oh, masih panas, tapi tidak sepanas kemarin,” Ucapnya kemudian menurunkan tangannya.

Aku sedari tadi diam tak bergeming menatapnya.

Sebenarnya aku tersenyum hebat mendapati dirinya datang, namun senyum ku memudar setelah mendengar percakapan teleponnya barusan.

Yah, kalian tau, yang benar saja.. menunggu tamu pulang

Sesaat kemudian ia mengambil cangkir teh dan menyuapkannya padaku sesendok demi sesendok, mengetahui aku sama sekali tak menyentuh nampan tersebut.

Tentu saja, tak peduli aku dianggap tamu kurangajar karena meminta disuapi istri orang, toh keempatan tidak datang dua kali.

Jadi, manfaatkan baik – baik

“Aku, sejujurnya harus pergi hari ini, tetapi aku menunggu anda bangun dulu,”

“Lalu kau pergi?” Ketus ku malas

“Emm, begitulah, a-aku..,”

“Bagaimana kalau aku mati setelah kau pergi? Kalau aku sekarat setelah kau pergi? Kau harus bertanggung jawab atas nyawa Boss dari Tuan mu Nona,”

Ucapku kemudian setelah menelan suapan kue beras darinya.

Gadis tersebut nampak tercengang dengan kata – kata yang barusan ku lontarkan

Ahniya, aku akan mengundang pera..,”

“Ahniya..,”

Potong ku cepat dan menahan pergelangan tangannya seraya menatapnya dalam.

“Kau tega membuat Boss dari Tuan mu kesakitan sendiri disini? Nona?”

Gadis tersebut pun terpaku.

.

.

.

“Aku ingin melihat kota Seoul bersama mu,”

Ucapku ketika ia menempelkan kompres dingin ke jidatku.

“Ku yakin kau juga belum terlalu mengenal kota Seoul, kan?” Imbuhku menatapnya yanga agaknya lebih sibuk memperhatikan panasku daripada diriku sendiri.

“Tapi anda sedang sakit Tuan,” Jawabnya.

“Aku akan sembuh, jika kau menuruti permintaan ku,”

 “Bagaimana bisa?” Tanyanya heran menatapku

“Percayalah padaku Nona, kau memiliki kekuatan penyembuh yang unik,”

Aku mencoba meyakinkannya dengan ucapan ku

“A-aku harus meminta izin terlebih dahulu pada Tuan-ku,”

Ia pun merogoh ponselnya namun dengan cepat aku menahan tangannya yang hampir saja menyentuh tombol calling pada Asisten ku.

Ahniya, aku sudah meminta izin,” Ucapku kemudian menujuk kan pesan singkat ponsel ku pada gadis tersebut.

Sesaat kemudian ia pun mengangguk pelan melihatnya.

Berhasil.

Asal kau tau saja, semua pesan itu hanyalah buatan.

.

.

.

Meniti pantai di Busan dengan senyumnya yang cerah, bermain ombak laut dan tertawa bersama.

Aku tak ingin kebahagiaan ini direngut hanya karena mengingat bahwa ia sah milik orang lain.

“Foto aku foto aku,”

Ucapnya kemudian memberikan ponselnya dan berpose dengan dua jari membentuk v sign dan tersenyum secerah aku melihat mentari.

Aku ikut tersenyum melihati mu tertawa dan senang.

“Aku akan melihatkan hasil fotonya pada Tuan ku,”

*Jdeerr

Bak disambar petir disiang bolong lantas senyum ku pun memudar.

“Lihat lihat,”

Ucap gadis tersebut merebut ponselnya dari tangan ku.
Dirinya sibuk melihat foto hasil jepretan ku

Aku pun berjalan untuk menguasai diriku dan meninggalkan ia asyik melihat hasil foto.

“Tuan Byun, kita pulang kapan?”

Tanyanya padaku, namun aku malah membisu.

“Kita akan melihat sunset dulu, baru pulang..,”

Jawabku dengan nada lembut, selembut angin yang berdesir.

Aku hanya pernah berkata lembut dengan dua orang gadis, Kau dan Ibu ku.

Jadi kumohon jadilah milik ku, karena aku menghargai mu lebih dari seluruh gadis di dunia ini.

Aku merogoh ponsel ku dan menggesernya, kemudian mengetikkan deretan huruf disana dan memencet tombol kirim.

To: Mr. Xian

Im done transfers the Money, so you can kill him now.

From: Mr. Byun

Aku pun langsung menekan tombol hapus pesan dan kembali memasukkan ponsel ku kedalam saku.

 “Ayo makan dulu,”

Ucapku kemudian menarik pergelangan tangannya melihat sebuah kedai seafood di ujung jalan.

.

.

.

“Aku tak ingat kapan melihat sunset di tepi pantai, tapi aku berterima kasih Tuan Byun sudah mau mengantar ku kemari,”

Ucapnya seraya menangkup lututnya.

“Hmm,” Jawab ku singkat nan dingin.

“Emm, sepertinya kita harus pulang Tuan, sebelum malam tiba,” Ucapnya kemudian mengambil topi putih yang aku belikan ketika melihatnya di restaurant seafood tadi.

Ia pun memakainya dan tampak, manis.

“Sebentar lagi, mataharinya akan tenggelam setelah ini,”

Ucapku menunda waktu.

Ia pun kemudian kembali duduk.

Setelah Matahari benar – benar tenggelam, beberapa saat kemudian ponselku berdenting menandakan sebuah pesan masuk.

From: Mr.Xian

[Mr.Xian sent a photo]

Aku mengerutkan dahi ku.

“Nona, kita tidur di hotel saja,” Ucap ku kemudian berdiri.

“Kenapa? Bukankah masih cukup waktu untuk pulang?”

Aku berpikir sejenak.

“Sepertinya aku kelelahan menyetir Nona,”

“Oh, baiklah,”

Aku pun menggapai tangan Nona Kim dan membantunya berdiri.

Kemudian berjalan menuju hotel bintang 5 yang berada tepat di sebelah timur pantai.

Sebenarnya, itu penginapan milik ku sendiri, perusahaan ku mendirikannya sekitar 8 tahun yang lalu.

.

.

.

“Nona silahkan naik dulu, pilih kamar yang kau suka Nona,” Ucapku kemudian berjalan menuju meja resepsionis

“Eoh? Kenapa bisa begitu?”

Aku mengabaikannya dan menyuruh seorang pelayan agar mengantarkannya ke kamar yang ia mau.

“Layani dia dengan baik, jika ada apa – apa kalian harus sudah siap siaga, Arraseo?” Ucapku dengan nada menekan

“Nde,” Jawab mereka serempak

Aku pun menatap layar pemantau CCTV

Terlihat Irene setengah berbincang kepada pelayan yang menemaninya dan kemudian membuka sebuah pintu kamar

Aku pun berjalan ke menuju lift menyusulnya.

.

.

.

Irene Mind

Tentu saja, dia kan seorang CEO.

Pasti uangnya banyak, maka dari itu jangan heran kalau ia menyuruh ku memilih kamar yang ku suka.

Jadi, aku memutuskan untuk memilih kamar di lantai atas agar besok pagi dapat melihat matahari terbit.

Aku pun merebahkan tubuh ku pada kasur putih empuk, sesaat kemudian aku teringat sesuatu.

Lantas aku mengambil ponsel ku dan menggeser layarnya, dengan cepat aku pun menelpon nomor yang sudah ku atur di tombol cepat.

Calling…

Aku masih setia menempelkannya pada telinga ku walaupun hanya terdengar bunyi tut-tut-tut sejak tadi

Maaf, nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan suara setelah pesan berikut

“Apakah anda baik – baik saja?

Emm..Tuan Byun mengajak ku keliling kota Seoul seharian ini, ia mengajakku ke Mall, aku tidak memintanya untuk membelikan baju, tapi ia sendiri yang membawanya ke kasir.

Kemudian kami ke Taman Hiburan sebentar, ia memainkan pistol berhadiah boneka dengan handal, aku menyukai boneka yang ia dapatkan, namun kemudian aku memberikannya kepada seorang anak kecil.

Di sore hari, kami melihat matahari tenggelam, aku mengambil beberapa foto, cepatlah pulang untuk melihatnya!

Ah, dia lelah menyetir, jadi kami bermalam di hotel di sebelah timur pantai, ia menyuruhku memilih kamar yang ku suka

Tapi aku tidak tau dia tidur di kamar yang mana,

Emm..

Cepatlah pulang, aku merindukan mu..,”

Aku pun menghentikan pesan suara tersebut dan menghela nafas.

Sesaat kemudian terdengar suara ketukan dari arah pintu

Lantas aku pun bangkit dan berjalan hendak membuka pintu

*Cklek Cklek

Putar ku memasukkan kunci.

“Ada apa Tuan Byun?” Ucapku mendapati seorang lelaki berperawakan tinggi di depan ku.

“Apa kau sudah mandi?” Tanyanya pada ku.

“Belum,” jawab ku menggeleng pelan.

“Setelah mandi, kita akan makan malam di bawah,”

“Tapi aku masih kenyang makan seafood tadi,” Sanggah ku cepat karena aku sendiri benar – benar masih kenyang.

Yah.. aku bukan gadis yang makannya banyak, bukannya aku diet tapi ini memang aku.

“Oh, Baiklah, Handuknya ada di almari, tidur yang nyenyak,” Ucapnya kemudian tersenyum padaku, lantas aku pun kembali menutup pintu dan menguncinya.

10.23 PM

“Aku tidak bisa tidur..,”

“Apa kau sudah tidur?”

“Kau pasti sangat sibuk hari ini, kan?”

“Apa kau sudah mendengar pesan suara yang ku kirim?”

“Cepatlah pulang,”

Aku terus mengiriminya pesan, namun tak satupun yang terbalas.

*Tok tok

“Nee???!” Jawab ku cepat.

Aku pun turun dari kasur dan berjalan menuju pintu.

Namun, ketika aku membukanya, tidak ada siapapun disana.

Aku terpaku..

“Kamar Tuan Byun dimana ya?”

Gigau ku kemudian keluar dari pintu, karena sepertinya aku mulai ketakutan.

Namun setelah beberapa langkah, aku pun kembali masuk pintu karena sepertinya aku salah mendengar.

01:00 AM

*Cklek Cklek

Sekitar 15 Menit yang lalu aku mulai tertidur, namun sayang suara tersebut membangunkan ku.

Aku sensitif dengan suara apapun ketika tidur, begitu pula Tuan Kim, kami sama – sama orang yang sensitif terhadap suara.

Aku pun membuka mata ku perlahan, ku dapati sesosok bayangan tinggi besar tengah di ambang pintu.

Aku kembali memejamkan mataku.

Bayangan tersebut semakin mendekat.. mendekat..

Aku merasakan suara nafas di dekat kepala ku

Kemudian perlahan – lahan sesuatu terjadi pada selimut ku, hingga kini benar – benar terasa seseorang menarik selimut putih ku perlahan.

“Tuan Byun, apa yang anda lakukan?”

.

.

.

Baekhyun Mind

“Di sore hari, kami melihat matahari tenggelam, aku mengambil beberapa foto, cepatlah pulang untuk melihatnya!

Ah, dia lelah menyetir, jadi kami bermalam di hotel di sebelah timur pantai, ia menyuruhku memilih kamar yang ku suka,”

Hendak ku ketuk pintu di depan ku, namun sejenak aku mendengar sebuah pembicaraan di balik pintu, hingga aku memutuskan untuk menunggunya hingga selesai.

‘Tapi aku tidak tau dia tidur di kamar yang mana,

Emm..

Cepatlah pulang, aku merindukan mu..,”

*Tok tok

Sesaat kemudian sosok gadis dengan tinggi 161 cm keluar dari balik pintu setelah membuka kunci pintu.

Bahkan ia menguncinya

“Nona Kim sudah mandi?”

Ucapku menanyainya karena hendak ku ajak makan malam di bawah.

“Belum,” jawabnya menggeleng pelan.

“Setelah mandi, kita akan makan malam di bawah,”

“Tapi aku masih kenyang makan seafood tadi”

“Oh, Baiklah, Handuknya ada di almari, tidur yang nyenyak,”

Ucapku tersenyum miris kemudian pergi.

Kubuka pintu kulkas setinggi kepala ku di dapur hotel.

Aku pun mengambil dua botol alkohol yang tersampir disana.

Aku pun menghabiskan satu botol dalam sekali teguk.

Aku pun melangkah menuju balkon untuk sekedar mencari udara segar

10.20 PM

Ada hasrat aneh yang meracau di pikiran ku.

Aku berdiam di depan pintu ini hampir 20 menit yang lalu.

Aku menghela nafas,

“Irene-ah..,”

Ucapku pelan.. sangat pelan

Lantas aku pun mengetuk pintu perlahan.

*Tok tok

“Neeeee!??”

Terdengar suara sahutan melengking dari balik pintu.

Astaga, dia belum tidur ternyata.

Cepat – cepat aku bersembunyi di balik pintu salah satu kamar.

.

Aku pun menghela nafas setelah terdengar suara pintu kembali tertutup

“Apa yang kau pikirkan bodoh!” Rutuk ku pada diriku sendiri , lantas aku pun merebahkan diri dan memilih tidur di kamar kosong tersebut.

12.00 AM

Aku mengganti channel TV entah untuk ke berapa kalinya. Mengganti Channel satu ke channel yang lain, dan seterusnya hingga kembali lagi ke channel awal.

Jam menunjukkan pukul 12 malam namun aku belum juga merasakan kantuk, aku terhenyak sejenak dan meletakkan remote TV di sebelahku.

Sesaat kemudian aku bangkit dan berjalan menuju ke arah pintu untuk keluar.

Tak lama aku menaiki lift dan sampai di lantai bawah, aku pun langsung menuju meja resepsionis.

Tanpa kata – kata aku membuka meja bundar tersebut dan mengambil kunci cadangan, tak peduli satpam dan pelayan yang berjaga disana.

Toh, hotel ini milik ku.

Aku pun berjalan menuju lift dan kembali naik menggunakannya.

*Ting

Lift berhenti aku pun keluar dengan mudah,

Kemudian aku berjalan di koridor yang sepi nan remang – remang, ya memang ini tengah malam, wajar kalau seperti ini.

Tanpa basa – basi aku pun memasukkan kunci tersebut pada lubang yang ada.

*Cklek Cklek

Perlahan kubuka pintu tersebut.

Gelap.

Beruntung cahaya sinar bulan masuk dari jendela, sehingga aku masih dapat melihat.

Ku dapati gadis tersebut tengah tertidur pulas dengan selimut yang menutupinya.

Aku senang kau terlihat tidur dengan nyenyak.

Aku pun menarik selimutnya perlahan.

“Apa yang kau lakukan Tuan Byun?”

Ucapnya bersamaan dengan ia menghidupkan lampu.

“Hanya ingin bersama mu..,”

Bisik ku dalam hati..

Kemudian menariknya dan mendekapnya

 “Untuk sebentar saja, sebentar Irene-ah,”

Ucap ku berbisik halus pada telinganya dan mengurai rambutnya halus dengan tangan ku.

Aku pun menatapnya yang memasang wajah kebingungan.

Kudekatkan wajahku perlahan.

Aku pun mencium lembut keningnya.

“Apa yang anda lakukan Tuan?” Ucapnya kemudian mendorong ku dan terpaksa pelukan ku terlepas.

Aku tersenyum dan menggeleng pelan.

“Apakah Tuan gila?! Apa yang akan Tuan Kim lakukan jika Tuan-ku tahu!!”

Ucapnya dengan nada marah.

“Ada dua orang wanita yang pernah ku cintai, Kau dan Ibu ku

Kau tidak tau betapa sintingnya aku melakukan segalanya untukmu

Tertawa sendiri mengingat mu, namun kau datang dan mendeklarasikan dirimu sebagai istri asisten ku,

Aku benci asisten ku lebih beruntung dari ku”

Gadis tersebut terlihat gemetar, aku pun melangkah selangkah lebih dekat dengannya.

Ahniya.., Jangan mendekat Tuan Byun..,”

Ucapnya gemetaran dan mundur satu langkah, tangannya tampak meraba – raba ke belakang.

“Menikahlah dengan ku, Irene-ah”

Aku pun memberikan uluran tanganku yang berisi sebuah cincin putih

Ahniya.., Aku sangat mencintai Tuan-ku, tidak mungkin aku menikah dengan kau Tuan,”

Aku pun tersenyum simpul, dengan tenang aku merogoh ponsel ku dan membuka galeri foto.

Aku pu mengarahkan layar ponsel ku ke arahnya.

“Maaf Nona, Tapi Tuan yang kau bicarakan itu telah mati,”

Ucapku memperlihatkan foto penggalan kepala Suho yang di kirimkan pembunuh bayaran ku.

Gadis tersebut menarik nafasnya panjang dan terlihat sangat shock,

“Ahniya..

ahniya.. ahniya..,”

 Bibirnya berucap nan gemetar

Aku pun kembali mendekat padanya yang semakin menjauh selangkah demi selangkah mundur.

Kini air matanya jatuh dan membasahi pipinya yang putih.

“Maaf Irene-ah, tapi kau tidak cocok dengan asisten ku, harusnya kau hidup bahagia dengan CEO seperti ku, menikahlah dengan ku Irene-ah”

Ahniya!!”

Sebuah vas bunga sukses melayang ke arah ku, beruntung lemparan gadis tersebut meleset sehingga hanya ada suara pecahan kaca menghantam tembok.

Ia menangis tersedu – sedu seraya menjauh dari ku dan melempari ku dengan benda apapun yang ia gapai.

“Tuan ku tidak mati,”

Aku menggeleng pelan,

“Kim Joonmyeon sudah mati, Asisten Kim sudah mati, Suho sudah mati..

Tuan mu sudah mati,”

“Tuan, selamat kan aku dari iblis di depan ku!”

Ia kembali melempari ku dengan sebuah gelas yang ada di genggamannya.

Haha, ilblis katanya. Lalu kau sebut apa aku yang telah menaruh hati padamu?

“Tuan.., Datanglah dan buktikan jika kau masih hidup Tuan!!”

Ucapnya berteriak dan melempari ku sepatu yang ia gunakan tadi ketika di pantai.

Hap.

Aku menangkap sepatu tersebut dengan tepat.

“Tuhan menakdirkan mu sebagai pasangan hidup ku,

Kumohon tenanglah,” Ucapku

Sesaat kemudian ia menodong ku dengan gunting yang ia dapatkan di laci meja.

Sial.

*Cess

Dan kakinya kini menginjak serpihan kaca, ia terus menangis dan masih setia menodongkan guntingnya.

Aku pun diam dan menarik nafas.

“Menjauhlah sayang, kaki mu terluka,”

Ucap ku menatapnya seraya memberikan uluran tangan.

Namun ia menggelengkan kepalanya pelan seraya menangis.

Gadis tersebut kini beralih mengambil serpihan kaca dan mendekatkan potongan kaca seukuran telapak tangan tersebut ke arah pergelangan tangannya.

“Andwaee!!!”

Bentak ku, sontak aku pun mendekat ke arahnya cepat dan menahan tangannya kirinya menggores ke pergelangan tangan kanannya.

Dan kini.. kaki pun ikut terluka karenanya.

“YYA!!”

Bentak ku marah.

Ku rasakan tangannya yang dingin dan gemetar hebat.

“Gwaenchana Irene-ah,”

Ucapku kembali menguasai diri dan menariknya ke pelukan ku.

Ia pun menangis tersedu – sedu.

.

.

.

Irene Mind

Pembunuh ini memeluk ku Tuan

Iblis ini memeluk ku Tuan

Ia memerintahkan ku untuk tenang namun engkau disana mati mengenaskan

Bagaimana aku bisa tenang?

Setan, sinting, tak waras, apalagi ungkapan yang dapat mengungkapkan orang di depan ku ini?

Aku tak habis pikir bagaimana ia tega membunuh mu padahal kita sudah menganggapnya seperti saudara kita sendiri Tuan.

Tapi ia malah menyukai ku dan menawarkan pernikahan padaku setelah ia membunuh mu.

Dimana letak otak orang di depan ku ini??!!

Jam menunjukkan angka 3 pagi, rembulan masih bersinar terang di balik jendela..

Sesuatu terlintas dipikiran ku.

Lantas aku pun mendorongnya sekuat tenaga dan meloncat ke arah jendela putar yang di bawahnya adalah trotoar dengan jarak 100 kaki dari tempat ku berdiri.

Ya, yang ku pikirkan saat ini adalah menyusul Tuan ku ke alam baka.

.

.

Baekhyun Mind

“Jika kau loncat, nyawamu akan hilang sayang,”

Ucapku geram mendapatinya berdiri di ambang jendela.

Aku benci, jika orang yang kucintai sakit, jika orang yang kusayang sakit, dan apapun itu, yang menghilangkan senyum dari orang kucintai.

“Itulah yang ku mau, aku akan menyusul Tuan Kim,”

*Jddeerr

“Jangan lakukan hal bodoh! Turunlah!”

“Jangan mendekat!!”

Kini ia hanya bertumpu pada satu kaki.

Baiklah, aku harus sabar, sabar.

“Irene-ah..”

Ucap ku halus membujuknya dan mengulurkan tangan ku.

“Maaf Tuan, aku tidak bisa menikah dengan mu,”

“Andwaeeeeeeeeee!!!!!!”

Teriak ku sekencang – kencangnya mendapati Irene melepas pegangannya pada engsel jendela.

Aku pun melihat ke bawah, kudapati darah mengalir deras dari punggungnya.

 “Irene-ah..,”

Ucapku kini mengeluarkan air mata.

“Aaaarrrrrrrggghhh!!!!”

Teriakku sekencang – kencangnya

Kecewa.

.

.

.

Aku terbangun di sebuah ruang dengan dominasi warna putih dan biru.

Bau obat – obatan menyeruak masuk kedalam indra penciuman ku.

Rumah Sakit?

Sedetik kemudian aku menyadari bahwa tangan dan mulutku di tempeli benda aneh, sebuah infus dan alat bantu pernafasan.

Aku pun menoleh menatap sekeliling ku.

Aku benci rumah sakit..

Kudapati seorang gadis tengah lelap tertidur disampingku, rambutnya tergerai hingga menutupi wajahnya, aku pun penasaran dan mengurai rambut tersebut hingga tak sadar membangunkannya.

“Hmmm??” Ucapnya perlahan menaikkan kepalanya.

Aku memicingkan mata ku, rasanya aku pernah melihatnya..

“Eoh? Oppa? Kau sudah bangun!??” Ucapnya, terlihat mimik girang terukir di wajahnya.

“Oppa?”

Ucapku dalam hati.

“Eomma!! Baekhyun Oppa sudah bangun!!!” Teriaknya

Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang dengan membawa kotak makanan.

“Eoh? Baekhyun-ah,” Wanita tersebut meletakkan rantangnya dan memelukku

“Ibu.., k-kau masih hidup? Bukankah kau sudah mati ketika aku masih kecil?”

Sesaat kemudian aku merasakan nyeri di kepala ku, dan aku baru sadar jika kini kepala ku di perban.

“Eoh? Baekhyun Oppa sepertinya ingin bicara Eomma,”

Ucap gadis berambut pirang tersebut, ia pun kemudian melepas benda berwarna biru bening yang menggangu ini.

“Nugusseyo?”

Ucap ku setelah ia melepas benda tersebut.

“Eh? Oppa tidak mengenalku?

Yah, berarti benar kata dokter, Oppa akan hilang ingatan setelah ia sadar,” Ucapnya kemudian bersungut masam

“Yah.. padahal banyak kenangan manis di antara kita,” Ia pun menyedekapkan tangannya.

Aku mengerutkan dahi ku.

“Manis?”

“Bagaimana dengan ku, nak?” Ucap wanita paruh baya tersebut kemudian.

“Ibu? Bukan kah ibu sudah mati sejak aku masih kecil?” Ucapku jujur, itulah yang ku ingat tentang ibu ku

“Astaga Oppa, Ibu masih sehat bugar waras begini kenapa kau katai mati –eoh??” Gadis tersebut terbelalak dan menatapku.

Namun wanita paruh baya tersebut malah tertawa kecil.

“Ya ampun Eomma, sepertinya inggatan Oppa benar – benar tertinggal di trotoar hahaha,” kedua orang tersebut pun menertawai ku.

“Oppa benar – benar tak mengingat ku?” Ucapnya kembali seraya kemudian menunjuk dirinya.

Senyumnya, sekilas mirip dengan Nona Kim

“Nona.. Kim?” Ucapku kembali.

“Ya ampun, sejak kapan aku punya marga Kim, Ah Oppa ini tambah lucu setelah ia sembuh,”

Tak lama kemudian datang seorang pria paruh baya dengan setelan baju santai.

“Ayah?” Ucapku ketika ia datang.

“Aigoo, uri Baekki sudah sadar Aigoo..,” Ucapnya kemudian memeluk ku

“Kenapa anda memakai baju santai? Bukankah biasanya memakai jas dan anda sibuk dengan pekerjaan?” Ucapku.

Aku semakin bertanya – tanya dengan keadaan ku, bagaimana mereka bisa hidup kembali? Oh Tuhan? Apakah aku sedang di surga?

Lantas ketiga orang yang mengelilingiku tersebut tertawa terbahak – bahak mendengar ucapan ku.

Kenapa mereka malah tertawa? Aku serius, heiii!!

“Oppa, ini foto pernikahan kita 3 tahun yang lalu,”

Gadis tersebut pun menunjukkan sebuah foto di dompetnya.

Ya, itu memang aku, dan wajah gadis di sebelahku memang ia.

Namun aku heran, aku tidak mengerti dengan semua ini, yang ada malah kepala ku semakin nyeri.

Aku pun mendesah pelan dan gadis yang mengaku istri ku ini memakaikan kembali alat bantu nafas.

.

.

.

Setelah hampir seminggu aku sadar, akhirnya dokter pun mengizinkan ku pulang setelah aku benar – benar dinyatakan sehat.

Dan wanita yang mengaku sebagai istri ku ini, ia dengan setia menunggui ku dan membantu ku setiap hari.

Dan akhirnya aku tau, namanya adalah..

Bae Joohyeon.

Dia gadis yang manis nan lucu, walaupun aku tak ingat bagaimana dulu aku bisa jatuh cinta dengannya dan menikah dengannya, namun kini aku mulai menerima jika ia adalah istri ku.

“Apakah kau mengenal Asisten Kim?” Celetuk ku ketika kami berjalan bersama melewati koridor rumah sakit.

Namun tawa malah lepas dari bibirnya.

“Sejak kapan Oppa punya asisten? Hebat sekali Oppa? Kita hanya memiliki kedai mini market butut bisa – bisanya memiliki seorang asisten? Astaga..,” Jawabnya malah menertawaiku.

Aku pun kembali mengerutkan dahi ku.

Dan memutuskan untuk diam saja, dari pada gadis ini menertawaiku lebih keras.

.

.

.

“Selamat datang selamat belanja,”

Ucapku ketika seorang pelanggan datang.

Oh, sepasang suami istri ternyata..

Mereka sejenak berkeliling toko dan mengambil beberapa barang, walaupun berputar – putar, kedua insan tersebut tak berpisah sama sekali.

“Ku rasa aku belum terlalu mengenal kota Seoul, Tuan

Kapan – kapan bisakah kita pergi ke pantai Busan? Ada hotel bintang 5 disana, dan juga sepertinya restoran Seafoodnya terlihat enak,”

Aku pun lantas menoleh ke arah gadis tersebut yang tengah menyodorkan sejumlah barang belanjaan nya.

Gadis tersebut bicara kepada lelaki disampingnya.

“Entahlah, aku tak yakin Minggu ini, mungkin sekitar bulan depan, Irene-ah,”

*Jdeerrrr

‘Irene-ah’

Tak sengaja aku menjatuhkan salah satu barang mereka ketika menghitungnya.

“Joeseonghamnida,”

Ucapku meminta maaf dan kembali memungut barang tersebut.

Aku pun mengemasi barang tersebut dan memasukkan nya kedalam kantong plastik, sesekali aku melirik mereka yang tengah berbincang – bincang.

Ya, mereka nampak serasi dan harmonis.

Gadis yang kudengar bernama Irene tersebut memakai jaket hitam, sedangkan sang pria mengenakan setelan kemeja.

“Berapa totalnya?” Ucap gadis tersebut padaku.

“Kalian adalah pelanggan ke seratus kami, jadi aku memberikannya gratis,”

Ucapku dusta, walaupun sebenarnya aku tak tau mereka pelanggan ke berapa.

“Woaah, Gamshamnidaa,” Ucap sang gadis tersenyum kemudian membungkuk kecil.

Mereka pun berjalan keluar dan kembali saling berbincang, sesaat kemudian aku menyadari jika..

Gadis tersebut mengenalan blouse putih dengan hiasan bunga dan renda di tepinya yang tertutup jaket hitam.

Seketika jantung ku berdetak kencang.

Sesaat kemudian seseorang mengendap – endap di belakang ku

“Joohyeon-ah..,”

Ucapku malas kemudian menoleh, aku tau gadis itu hendak mengagetkan ku.

“Yah.. gagal,” Ucapnya kemudian bersungut.

“Oppa kenal mereka? Mereka kelihatan serasi dan manis sekali ya?” Ucap Joohyeon kemudian menatap ke arah pintu.

Aku menggeleng pelan..

“Entah, aku tak mengenalnya, lagi pun kita kan lebih serasi dan harmonis dari siapapun,” Ucapku kemudian memeluk pundaknya dan mendekatkannnya ke arah ku.

Seperti biasa, Joohyeon malah menertawaiku keras..

 

Yang lalu.. biarlah berlalu..

 

 

“Irene-ah..”

.

.

.

“Say.. something.. im givin’ up on you..

Say something.. im givin up.. on you

And I.. feeling so small.. Its was over my head

I know nothing at all

And I.. will stumble and fall

I’m still learning to love, Just starting to crawl..”

Dawon x Seola – Say Something [Cover]

Ada yang mau remake ff ini? Silahkan silahkan, ngga ngelarang buat plagiat sih, walau ide ini muncul sendiri di otak ku ketika temen – temen aku tuh ribut dengan yang namanya PHO /?

Yah, disini aku nyeritain dari sudut pandangnya PHO sendiri sih, ngga bermaksud jahat sih.

Sebenernya ff ini mau aku buat berchapter, jadi Irene tuh cenayang yang tersisa di Korea gitu/? Kan kayaknya keren tuh aku ceritain cenayang yang muncul di abad 21, dan harusnya dia nikah sama Baekhyun, tugasnya si Irene tuh jagain keturunan Putra Mahkota Baekhyun/? Tapi si Baekhyun ini ngundurin diri dari segala bentuk urusan kerajaan blah blah, dan milih tinggal di Seoul, dia nyerahin semua pangkat harta martabatnya dan tahtanya asal si Irene ngga boleh ikut di serahin, dan itu di setujuin dan besoknya mereka tunangan dan si Irene malah ilang, dan si Suho abdinya keluarga Byun kan ngikutin Baekhyun terus, ayahnya Suho tuh abdi kerajaan juga, dan ternyata diem – diem nyembunyiin Irene buat dinikahin ma Suho, mereka tertarik ama si Irene karena bakat sihirnya yang hebat.

Emm, dan suatu hari mereka ketemu.. dan jeng jeng jeng ._.

Kontak aku kalau sekiranya ada author berminat nulis itu cerita receh, cast nya bukan Irene ngga papa sih, tapi aku ngga terlalu suka sama OC:

Line ID: kyeopta. (pakai titik)

Hastag Pencarian

#Irene #Baekhyun #Suho #KimJoonmyeon #BaeJoohyeon #Byun #BaekRene #SuhoIrene #BaekhyunIrene #RedVelvet #EXO #Angst

 

2 thoughts on “[Oneshot] Destroyer Relationship”

  1. hi there!

    lo apa apaan ini? jadi itu mimpi selama koma apa sih? terus Baekhyun kenapa? kecelakaan? padahal aku mau sebelin Baekhyun mati matian soalnya kaya psikopat gitu.
    jeng jeng kemudian ngetwist waktu Baekhyun amnesia T.T
    meskipun waktu ada nama Irene juga ada sesuatu (?) dih kok aku penasaran :;

    fict ini berhenti dengan sukses membuat banyak pertanyaan muncul :”D

    ngetwist ini jadi gagal bikin sebelin Baekhyun deh wkwkwk

    see ya~

    Suka

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s