[Vignette] Jealousy

Jealousy

Jealousy

Alienorsky’s present

Cast:

Jeon Jungkook as Jungkook

Girl as You.

Genre: Romance,Married life, Fluff, AU.

Duration: Vignette.

Rating: PG-17

Dislclaimer: Jungkook milik Tuhan, OC sama alur cerita milik saya. Diharapkan tidak memplagiat  yang belum seberapa ini, terima kasih sebelumnya ^^

.

Aku fikir kamu sudah percaya. Ternyata belum ya..”

.

.

.

.

            “Sayang? Aku pulang..”

            Jungkook yang baru pulang dari lokasi shootingnya sejenak melepas lelah dan segera mencarimu yang sekarang sudah resmi bermarga sama dengannya, serta mengandung ‘jeon kecil’ yang mulai menghiasi rahimmu.

            Namun, batang hidungmu belum terlihat saat itu juga. Sudah pukul 10:00 malam, namun kamu belum menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman seperti biasa.

            Mungkin ia kelelahan, jadi tidur. pikir Jungkook saat itu.

            Jungkook menuju kamarnya denganmu dan membuka dengan pelan alih alih mengira takut kamu terbangun nanti. Namun, saat ia membuka pintu, alangkah terkejutnya ia melihat kamu duduk ditepi kasur, dan diam. Tidak melakukan apa apa. Namun, wajahmu yang sembab, mata yang berkantung tidak mendukung bahwa kamu baik baik saja.

            “Hey, kamu baik baik saja?“

            Kamu masih diam.

            “Sayang, aku bertanya..”

            “Kamu menjijikkan, pergi.” Jawabmu judes.

            “Hey, kemarin kita baik baik saja kok, kok kamu jadi judes begini?” tanya Jungkook heran, ingin mendekat namun,

            Tanpa diminta, kamu datang dan melayangkan tamparan di pipi kiri Jungkook. Saking kerasnya, bibir laki laki itu sedikit robek. Yah, sekedar info, kamu adalah atlet taekwondo yang sedang hiatus karena kehamilan yang sedang kamu alami.

            “Sudah aku bilang kamu menjijikkan!! Sana pergi!” teriakmu, sambil melempar bantal yang berada didekatmu pada Jungkook. Sebenarnya, kamu merasa bersalah sudah menampar Jungkook keras dan mengusirnya secara tidak manusiawi, namun, kamu benar benar kalap, kehilangan kesabaran.

            Jungkook terkejut. Sudah pernah sih,  ditampar sekeras ini sebelumnya, namun karena ia lelah, itu membuatnya sedikit melambung. Namun bukan itu yang ia kejutkan. Melainkan, sikapmu yang sebelumnya tidak pernah seperti ini.

“Kau ke—“

            “Brengsek! Kan sudah aku bilang, pergi! Pergi dengan Saeron, istri barumu itu! Sudah berciuman berapa kali kalian, hah?! Menyebalkan!”  bentakmu bertubi tubi, sambil memukul dada Jungkook berkali kali. Secara tak langsung, mengungkapkan alasannya sudah bertingkah berbeda dengan sebelumnya hari ini.

            Jungkook terdiam. Ia sendiri baru mengingat jika dramanya mempunyai sedikit adegan vulgar, dengan Saeron, lawan mainnya. Namun, ia kembali menyadari bahwa dadanya sakit sekarang. Bukan, bukan karena pukulanmu, namun perasaannya sekarang.

“Hey, dengarkan aku sebentar!”

            Kamu masih memukul Jungkook dengan emosi, membuat laki laki itu kehabisan kesabaran.

            “HEY!!!” bentak Jungkook yang sukses membuat gerakanmu mendadak berhenti. Kamu speechless, karena baru kali ini kamu dibentak sekeras itu dengan suamimu.

            Melihat gerakanmu berhenti, Jungkook mencoba merengkuhmu dalam pelukan, menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, membiarkan bibirnya mencumbu dilehermu sejenak, dan menghirup parfum aroma peach yang khas darimu.

            “Dengar…” bisik Jungkook di telingamu yang masih dalam pelukannya.

            “Kamu tidak boleh cemburu dengan Saeron. Saeron kan, hanya lawan mainku, bukan siapa siapa. Adegan yang kau lihat itu kan, diatur skenario.

            Sedangkan apa yang kuberikan untukmu, it from my heart. Kenapa kamu harus cemburu? Kita kan sudah melakukan yang ‘lebih’ dari itu, ingat?” lanjut Jungkook yang membuat wajahmu bersemu merah. Tentu saja kamu ingat. Karena hampir setiap hari Jungkook ‘meminta’.

            “Aku tidak akan pernah melupakan istriku dan calon bayiku. Kalau aku tidak mengingatmu dan calon bayi kita, pasti adegan ranjang itu akan terjadi”

            “Hah? Ranjang?…” ulangmu lemas.

            “Ya, drama itu seharusnya memiliki rating dewasa. Namun aku menentang keras, sampai harus perang mulut dengan sutradara untuk memotong adegan itu. Bahkan aku rela gaji ku dipotong, tahu” terang Jungkook memberi kejelasan. Kamu masih diam.

            “Aku fikir kamu percaya denganku seutuhnya, ternyata belum ya.” Jungkook hanya tersenyum miris, melepas pelukannya. Selain luka disudut bibirnya, dalam hatinya, ia juga kecewa.

            Kamu benar benar bungkam. Tidak tahu ingin bicara apa lagi. Kamu melihat luka di sudut bibirnya tertimbul rasa bersalah. Kamu segera pergi mencari kotak obat dan mengeluarkan obat obat antiseptik dan perekat luka.

            “Duduk.” Perintahmu sambil menunjuk tepi ranjang. Jungkook menurut, dan menatap kamu lekat. Kamu mencoba tidak peduli dan masih sibuk  meneteskan obat antiseptik pada kapas.

            Namun, kamu tidak bisa. Tanpa sadar, selapis air dari pelupuk mulai mengaburkan pandanganmu. Merasa bersalah dengan apa yang kamu lakukan barusan.

            “Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulutmu.

            Jungkook tersenyum, Jungkook tahu persis tabiatmu. Sangat jarang mengeluarkan air mata hanya untuk sekedar kata maaf. Jika kamu melakukannya, kamu memang benar benar merasa bersalah. Tidak perlu banyak banyak kalimat pembantu untuk permintaan maaf, namun Jungkook tahu, kamu tulus mengucapkannya.

            “Aku juga, sayang. Maaf, kalau adegan itu menyakitimu. Maaf jika aku belum mengerti dirimu. Jangan menangis lagi, okay? jeon kecil ini akan benci dengan ayahnya karena sudah membuat Ibunya yang cantik menangis.”

            Biasanya, kamu akan tertawa mendengar gombalan receh dari Jungkook, namun, kamu hanya tersenyum tipis. Merindukan momen indah ini dengan suaminya, selain Jungkook sibuk dengan shootingnya, Jungkook juga mulai sering pulang larut malam. Itu membuat waktumu dengannya perlahan terkikis.

            “Aku hanya takut Jungkook-ah.”

            “Takut apa?”

            “Waktu kebersamaan kita semakin menipis… Aku takut, perasaanmu padaku juga ikut menipis. Aku takut perempuan perempuan yang menjadi lawan main mu itu menggantikan posisiku menjadi istrimu. Aku–”

            “It never happens, babe. Only you, and our children that I have. Jangan pernah berfikir seperti itu, mengerti?

            Kamu tersenyum lega, mencoba percaya. Meski ada setitik keraguan dihati, kamu mencoba mengabaikan. Kamu percaya, Jungkook bukan aktor yang dimana sering bermain dengan perempuan lain, sehingga mengakibatkan perceraian yang sering ditampilkan di acara gossip.

            “Dan yang perlu kamu tahu hanya satu.”

            “Apa?” tanyamu penasaran, sambil mengobati luka Jungkook dengan hati hati.

            “Aku mencintaimu”

            Sukses, wajahmu merona yang kedua kalinya. Jungkook menatapmu gemas.

            “Sayang, tolong percayakan semuanya padaku”

            “Yes. I will

Kamu mengangguk dan berakhir tersenyum manis. Senyum semanis gula kapas yang membuat mulai Jungkook candu.

            Jungkook merengkuh tengkukmu, ingin mempertemukan bibirnya dengan bibirmu yang sudah membuatnya candu. Namun, belum sampai mereka bertemu, kamu meringis sambil memegang perutmu.

            “Ah!”

            “Eh, kenapa!?” tanya Jungkook panik.

            “Hahaha.. Tidak apa apa… sikecil tadi menendang keras sekali” ucapmu dengan senyum manisnya, sambil mengelus perutmu yang mulai membesar itu.

            Jungkook tersenyum, ikut mengelus perutmu dan saat tangan kalian berdua bertemu, Jungkook mengaitkan jari jari tangannya dengan jari jarimu.

            “Dia tidak suka kalau aku menciummu, ya?” tanya Jungkook jahil.

            “Tidak tahu.” Jawabmu asal. Jungkook hanya menanggapinya dengan tertawa kecil.

            Kamu sendiri masih mengingat pertemuanmu dengan Jungkook pertama kali. Dimana kamu sengaja memukul Jungkook karena mengira laki laki itu adalah pencuri. Dimana Jungkook berlari menjauhi kerumunan yang terus mengejarnya. Dengan bodoh dan sok tahu, kamu mencegat Jungkook dan memukulnya dengan seruan yang terus tertera,

 “Dasar pencuri!!!”

Kamu tersenyum kikuk, menyadari kebodohanmu dimasa lalu. Bisa bisanya kamu tidak tahu artis tampan pendatang baru, Jeon Jungkook. Wajar, jangankan untuk menonton, untuk tidur saja sudah sangat bersyukur karena padatnya jadwal latihan dan juga tugas yang menumpuk.

Kamu juga tidak menyangka, pertemuan bodoh nan heboh itu bisa membuatmu menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini. selain wajahmu yang tertera di televisi,koran dan majalah, kamu juga menjadi pelengkap tulang rusuknya. Menjadi sebuah keluarga yang banyak diidamkan kalangan wanita.

Ketidak sengajaan itu membuat Jungkook jatuh. Jatuh dalam pesona dan keperawakanmu. Tidak peduli kamu berasal dari keluarga mana,malam itu ia benar benar mencari tahu tentangmu.

Kamu mengingat, saat itu kamu masih speechless saat ia menyatakan cinta padamu, yang dimana kalian baru saling mengenal satu minggu. Disusul 5 bulan kemudian dengan lamaran super romantis disebuah café. Menyenangkan, bukan

            Kamu melihat Jungkook sekali lagi. Lelah menghiasi wajah tampannya membuat kamu jatuh. Tak kuasa ingin memeluk, namun rasa gengsi agak mengganggu. Tidak dengan gerakan, namun cukup dengan lisan.

            “Jungkook-ah, sebelumnya aku juga mau mengatakan sesuatu” ucapmu sebelum meninggalkan percakapan.

            “Apa, sayang?” tanyanya penasaran.

            “Aku juga mencintaimu.”

            FIN

N/B: Hi, Nata here, 98L^^ Please be good readers everyone!>-< Ini apaan sih jijikin banget wkwkwk. Sebenarnya mau coba fluff fluff tapi ini gatot. Jadi gak tau ah TT. aku juga belum pandai nulis diksi mahadahsyat seperti yang lain , ya seadanya aja T.T jadi, tolong berikan review kalian ya ><

 

4 thoughts on “[Vignette] Jealousy”

  1. hi there!

    gitu ya resiko suaminya artis huhuhu, harus nyiapin hati *apa sih*
    gombalannya jungkook apalah itu wkwkwk

    iya sih, menyetujui ini kurang fluffy (?) tapi ini romantis kok wehehehe xD

    see ya~

    Disukai oleh 1 orang

Leave Your Review Here!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s